
Pagi itu Zen masuk sekolah, dan hari itu adalah hari dimulainya serangkaian test ujian baik olah raga sebagai bobot masukan nilai akademik PJOK.
Zen yang sudah bersiap dengan seragam olahraganya, terlihat sangat keren dimata cewek cewek.
Badannya yang tinggi 182cm ditopang dengan ruang dada yang terlihat membusung, belum lagi kedua lengannya yang terlihat kekar membuat bajunya seperti full pressed body, menjadi tontonan tersendiri bagi para pemuja rahasia Zen disekolah.
Ziva yang melihat Zen banyak menjadi sorotan cewek cewek disekolahan, selalu memposisikan dirinya berada didekatnya.
“..kamu semalam kenapa engga balas wea chat aku sih Zen?!” tanya Ziva yang terlihat memulai pemanasan mandiri dengan berada didekat Zen.
Banyak yang iri melihat kedekatan Ziva dengan Zen pagi itu.
“..yaa ampyuun, meleleh gue!”
“..kenapa yaa ketidakadilan itu selalu ada!”
“..kenapa begitu?!”
“..tuh lihat saja, si cantik selalu bersama si tampan!”
“..kalo itu gue No. comment laah! Sudah jalannya begitu mungkin!”
“..iyaa, cuman engga adil saja tauu.. padahal kan gue juga ingin bersanding dengannyaaah!!”
“...woooo..wuuuuu!! ngaca elu...!”
“..dasar biji ketumbar!”
Beragam ghibahan terdengar meramaikan ujian olahraga pagi itu, semuanya berawal ketika melihat Zen dan Ziva bersama-sama melakukan pemanasan sebelum dilakukannya ujian atletik.
Zen yang mendengar ghibahan dengan pendengaran supernya, tidak mau ambil pusing, selama dirinya tetap seperti biasanya, maka tidak ada yang akan mempersalahkannya.
“..oh, nganu, aku sudah capek Ziva, tahu sendiri kan kerjaanku, mencari botol plastik bekas, pastinya butuh banyak energi, bukan begitu?!” jawab Zen sesuai kenyataan.
“..ooh, aku mau doong ikutan!”
“..hah..!! engga salah?! Kamu mau ikut cari botol plastik bekas begitu?!” tanya Zen memastikan.
“..euhmmnnn!”
Anggukan kepala Ziva yang sudah kegilaan dengan maskulinnya Zen mulai terlihat.
{tapp}
Zen tiba-tiba meletakkan telapak tangannya kedahi Ziva.
“..engga panas kok!”
“..idiiihhh.. apaan sih Zen! Aku engga sakit tauu!!”
“..boleh yaaa?? Boleh yaaa?? Zen..pliiissss!” Ziva memasang ekspresi permohonan yang sangat menggugah hati Zen.
“..sebaiknya kamu izin dulu sama kedua orang tua kamu!”
“..tenang saja, mereka pasti ngebolehin kok!” Ziva buru-buru mutusin sendiri terkait pertanyaan Zen.
“..masa’ siih?!” tatapan mata dan ekspresi tidak percayaan Zen, semakin membuat Ziva meleleh.
{priiiittttt}
Peluit tanda dimulainya ujian sudah dibunyikan guru olahraga.
Karena Zen dan Ziva ada diurutan belakang sesuai abjad, mereka masih melanjutkan acara pemanasan mandiri mereka, hingga tubuh mereka siap untuk melakukan aktivitas ujian atletik.
Semua murid yang sudah menyelesaikan tanggungan kewajiban SPP nya, terlihat mulai berjajar sesuai urutan abjad mereka masing-masing.
Ujian olahraga hari ini meliputi ; Lari, lempar lembing, tolak peluru, driblling bola, 2 point shoot basket, dan terakhir lompat jauh.
Cabang olah raga atletik memperagakan lari cepat 100m.
Setelah menunggu lebih dari 30 menit, kini giliran Zen dibagian putra, sebelum Zen tadi Ziva sudah menyelesaikan ujian larinya, dengan finish dibagian nomor urut lima.
“..ayo Zen semangaaat!!”
“..aku padamu Zen...!”
“..kalo Zen menang ini, aku rela jadi pacar Zen!!”
“..aku jugaaa!!!”
Berbagai teriakan semangat yang hanya ditujukan kepada Zen seorang, namun yang diteriaki terlihat fokus dengan posisinya untuk start lari cepat 100m.
Ziva yang mendengar teriakan para ciwi ciwi sekolah yang sedang melihat ujian olahraga, langsung memasang wajah ketidaksukaannya.
Bersedia...
__ADS_1
Siaaaappp....
{dorrrr}
Tembakan keatas tanda dimulai lomba lari cepat 100m itu membuat 10 pelari yang mengikuti ujian langsung menunjukkan performanya.
Zen yang ingin tampil maksimal segera berlari secepatnya, dirinya membatasi kemampuannya agar tidak terlalu mencolok.
{wuuuzzzz}
Zen berlari seperti dikejar anjing galak.
“...yeaayyy!!!!”
Adalah Zen yang mencapai garis finish pertama kali, dengan catatan waktu 8,98 detik.
Record dunia baru!!
Pada World Athletics Championship tahun 2009 di Berlin, Jerman, Usain Bolt mencetak rekor dunia baru dengan berlari 100 meter dalam 9,58 detik.
Perolehan milik Usain Bolt adalah rekor dunia yang masih belum terpecahkan hingga saat ini, telah dipecahkan oleh Zen.
“..ini...! Zen memecahkan record dunia!!!”
“..wow...Zen ganteng bangeedd!!”
“..issshh..issshh..issshh, bicara record dunia malah ngebahas ganteng bangeed,..”
“..tapi iya juga siih, keringetnyaaa!!”
“..mau doong jadi kaosnya, lengket teruus didadanya Zen!”
Omongan-omongan ciwi ciwi sekolah pemuja Zen terlihat panas sekali diterima telinga Ziva.
Buru-buru Ziva mendatangi Zen dan memberikan handuk putih serta air mineral dingin.
“..makasih Ziva!” ujar Zen dengan tulus.
“..euhmmm!!”
“..hebat kamu Zen, kamu memecahkan record dunia lho!”
“..masa’ sih? Perasaan aku cuman berusaha lari secepatnya saja!”
“..iiishhh, beneran, waktu lari kamu 1 detik lebih cepat dibandingkan usain Bolt tahu engga?!”
Jawab Zen dengan melihat kedua otot kakinya yang terlihat kekar.
Ziva yang berada dalam jarak begitu dekat dengan tubuh Zen, melihat sendiri, bagaimana kekarnya dada pemuda pujaan hatinya itu, belum lagi keringat yang membasahi kaos olahraganya terlihat memeluk erat kebagian perutnya yang terlihat kotak-kotak mirip roti sobek, membuat Ziva semakin tidak bisa berpaling.
Ujian olah raga itu berlangsung dalam 3 jam lamanya. Dan bisa ditebak, Zen menjadi pemuncak klasemen diberbagai cabang ujian olahraga.
Nilai yang sangat sempurna!
“..udah ganteng, perutnya uuughh, jago olah raga lagi!”
“..gue bangeed lah yaa si Zen ntuuu!”
“..mata loe!”
“..isssh, iyaa begitu, nyenengin teman itu dapat pahala tahu!!”
“..enak dielu doong, gue kan juga pengin!!”
Disepanjang koridor kelas, semua ciwi-ciwi tidak ada puasnya membahas tentang Zen dengan segudang prestasinya.
Lebih-lebih ini ya, sosok Zen yang berkeringat dan momen saat Zen mengangkat bagian bawah kaosnya, yang secara tidak langsung menunjukkan kekarnya otot perut pemuda ganteng itu.
Kegilaan dikalangan ciwi ciwi satu sekolah baik adik kelas maupun yang satu generasi, terlihat mulai menjamur.
***
Sementara itu disebuah markas komando militer.
“..kalian mendengar kasus penjambretan beberapa minggu lalu?!” tanya seorang petugas berbaju loreng yang terlihat sedang berbicara dengan kawan satu levelnya dikesatuan.
“..dengar! hebat bener pemuda itu! Videonya viral bukan?!”
“..iyaa bener yang itu! Lihat saja kalau sampai baju cokelat membuat gara-gara karena aksi pemuda itu dengan alasan apapun, kita bela si pemuda itu!”
“..benar, kalo perlu ini, satu kesatuan kita kerahkan untuk meminta keadilan si baju cokelat!”
“..korbannya kan nyonya komandan kita!”
“..untung ada pemuda itu, bisa-bisa jika terjadi sesuatu dengan istri beliau, bisa hancur ini satu kabupaten, semua karena kelalaian baju cokelat dalam bekerja!”
__ADS_1
Pembicaraan mereka bukannya tidak didengar oleh kolonel agus.
Aksi Zen yang melumpuhkan dua orang penjambret tas milik istrinya dengan keahlian beladiri yang sangat luarbiasa, belum lagi Videonya tengah viral sekabupaten, bahkan mungkin sudah skala nasional karena jumlah penontonnya kini sudah mencapai puluhan juta.
Beberapa hari yang lalu pihak kapolres juga sudah menghubungi kolonel agus, untuk mengkonfirmasi kejadian yang menjadikan istrinya sebagai korban penjambretan, dan secara jelas kolonel agus sudah menjelaskannya.
Kolonel agus sendiri berencana mengundang pemuda luar biasa yang bernama Zen untuk datang kekesatuan miliknya.
Dirinya ingin melakukan uji tanding beladiri dengan sosok Zen yang terlihat sangat mahir dalam ilmu beladiri.
Yang tidak diketahui oleh kolonel Agus adalah, anak kesayangannya juga sangat mengagumi pemuda yang sama.
***
Disebuah kamar wanita muda belia disore hari.
“..Zen!” terlihat putri yang tidak lain adalah anak bos beras Sukarta, tempat biasanya Zen dulu mengadu nasib dengan menjadi tukang panggul, terlihat hanya menggunakan tank topnya yang berwarna pink, kemudian dirinya terlihat tanpa menggunakan cup penyangga dua bongkahan 34b yang mulai terlihat ranum pucuk ujungnya.
Dirinya tanpa sadar terus meraba bagian sensitifnya sendiri, layaknya anak puber jaman now, aktivitas itu terus berlangsung sambil memandangi photo Zen dilayar hape miliknya.
“..ooohhhh! Zeen...lageee dooong” keluhnya pelan ketika jari jemarinya mulai gatal menggesek-gesek ujung runcing yang nongol dibagian sensitifnya, terlihat bagian sensitifnya mulai ditumbuhi bulu jagung yang lebat.
{dokkk...) {dokkk...) {dokkk...)
Suara gedoran pintu kamarnya dari arah luar.
“..issshhh...siapa sih yang ganggu ini!!” gumamnya sambil emosi, fantasi liarnya diganggu oleh orang rumah.
“..bentar!!!” ucap Putri yang terlihat merapikan kamarnya hanya dengan menutup kekacauan yang telah dibuatnya dengan menggunakan selimut saja.
{ceklekkkk}
Putri mengeluarkan kepalanya saja tanpa badannya.
“..ada apa siih buu??! “
“..kamu lagi apa putri didalam?!” tanya ibunya.
“..putri mau mandi buuk, tunggu kering keringatnya dulu!” alasan si putri.
“..ooh..ya sudah! Jangan mandi kesorean, pamali mandi magrib-magrib!” ucap sang ibu yang sangat mengerti tabiat anak perempuannya.
“..iyaaa...iyaaa iih..!” jawab putri sambil menghentak-hentakkan kakinya, karena dirinya masih saja dianggap anak kecil oleh ibunya.
{brukkk}
Putri menutup pintu kamarnya dengan perlahan, namun masih saja terdengar keras ditelinga ibunya.
“..anak itu sudah dewasa memang!” batin ibunya.
Secara tidak sengaja ibunya tadi menguping didepan kamar si Putri, tepat ketika anak perempuannya menyebut nama seorang cowok dengan intonasi yang mendesah manjalita.
Spontan saja, sang ibu langsung mengetuk pintu kamar anak perempuannya, takut jika anak perempuannya sampe kebablasan.
Setelah menutup pintu kamarnya, putri langsung mengambil handuk dan kembali keluar kamarnya menuju kamar mandi yang ada dibagian belakang rumahnya.
“..putri.. mandinya jangan lama-lama ingaat! Ntar bapakmu juga mau ambil air wudhlu soalnya!” tegur ibunya.
“..isshhh iyaaa buuk, baru juga masuk kamar mandi!”
Lagi-lagi ibunya bersikap protektif pada anak perempuan satu-satunya, karena dirinya tidak ingin putri sampai melakukan hal yang tadi tertunda dikamar mandi.
“..hehe..” ibunya terlihat tertawa penuh kemenangan saat anak perempuannya terlihat sudah berteriak tanda dirinya tidak nyaman dengan teguran yang diberikan.
“..anak jaman sekarang memang harus dipepet terus biar tidak melenceng jauh!” gumam ibunya sambil mempersiapkan makan malam keluarga.
***
“..jadi begitu Zen!”
Beberapa puluh menit yang lalu, lebih tepatnya 54 menit yang lalu, Ziva terlihat melakukan obrolan jarak jauh dengan Zen, dirinya menginformasikan jikalau ayahnya mengundang Zen untuk datang ke markas kesatuan yang dipimpin oleh ayahnya sabtu ini.
Zen yang tidak paham, ada apa dirinya diundang datang ke markas kesatuan militer yang ada dipinggir kabupaten tempatnya tinggal hanya mengiyakan saja.
Sesuai informasi Ziva, ada petugas yang akan menjemput Zen nantinya, bersama Ziva tentunya.
Meski Ziva sudah semakin dekat dengan Zen, namun dirinya belum juga pernah berkunjung kekediaman milik Zen.
Zen akan dijemput sabtu pagi jam 7 informasinya.
“..ya sudah Ziva, ini aku mau bersih-bersih dulu, dari sejak pulang sekolah sore tadi, belum sempat bersih-bersih ini!” ujar Zen dengan nada sopan untuk menyudahi sambungan komunikasi nirkabel.
“..diiih, cepet amat sih Zen,..” respon Ziva.
“..hah cepet! Perasaan hape gue sudah sampe panas ngedengerin itu cewek ngoceh deh!” keluh Zen dalam hati yang terlihat kurang nyaman berbicara lama dengan wanita.
__ADS_1
Bagi Zen yang memang tidak pernah mengenal kasih sayang dari lawan jenis sejak dirinya kecil, apa yang disampaikan oleh Ziva selalu dianggap biasa saja.
Dalam dirinya saat ini hanya fokus untuk segera merealisasikan mimpi bisnisnya.