
“..Clara! bukannya kamu harus segera ke rumah sakit!” ucap wina yang terlihat ingin melerai suasana yang mulai terlihat canggung.
Bagi wina, apa yang dilakukan oleh Zen sudah merupakan dasar SOP teknik pengobatan pijat dan urut, jadi menurutnya Zen tidak salah.
Terlepas cangcut Clara yang keliatan karena roknya terangkat keatas, kemudian jempol Zen yang menekan ujung pangkal dalam paha milik Clara, bahkan sampai jari jemari Zen menyenggol bagian tepi luar dari bibir bawah milik Clara, semua itu adalah bagian yang tidak bisa disalahkan tentunya.
“..aduh bagaimana ini? Mana aku masih ragu untuk bawa mobil lagi!”
“..memang siih, kakiku sudah tidak sakit lagi, bahkan merasa seperti tidak pernah terkilir, cuman kan mentalku sudah down duluan win, sakitnya itu pijat urut tadi masih membekas!” jawab Clara gelisah.
“..gimana kalo kamu diantar Zen saja! Benar kan namamu Zen?!” tanya Wina.
“..euhmmnn!” anggukan kepala Zen tanda setuju dengan pertanyaan dari wina.
“..emang kamu ada kelas win?!”
“..ini malah sudah telat 30 menit!” jawab Wina sambil menunjukkan jam digital dengan merek buah apel kegigit.
“..kamu bisa bawa mobil?!” tanya Clara dengan memasang wajah juteknya.
“..buat ibu,eummnnnn... engga bisa!” ungkap Zen terlihat menggoda dosennya.
“..tuuuh kaan win, dia saja engga bisa bawa mobil!”
“..kenapa engga naik motor saja?!” kembali Zen berbicara.
“..tuuh, Zen bawa motor! Malah makin cepet doong nyampai ke rumah sakit!”
“..udah, buruan sana..!” jelas wina memberi dukungan.
“..ya sudah deh!” Clara menjawab dengan ogah-ogahan, namun ikut kearah Zen pergi.
Ketiganya langsung keluar dari ruangan dosen dimana Zen dengan dokter Clara menuju parkiran motor, sedangkan wina yang melihat dari kejauhan terlihat jari jemarinya aktif sekali mengetik di hapenya.
{klutikkkk}
[peluk yang erat yaa..jangan sampe engga!]
Text chat yang dikirim wina masuk kelayar hape milik Clara.
{klutikkkk}
[apaan sih wina!!]
{klutikkkk}
[yang habis enak-enak, dipijit plus-plus duuuh..bikin iri dech]
{klutikkkk}
[WINAAA!!!]
“..mari buu dosen!” ucap Zen yang mengarahkan tangannya untuk membantu dosen Clara naik keatas motor sport miliknya.
Alasan Zen terlambat dihari pertama kuliahnya, karena dirinya ingin mencoba motor sport barunya yang merupakan paket hadiah dari bank swasta terbesar dinegaranya, bersamaan dengan rumah serta mobil sport seri terbaru yang semua terparkir rapi didalam garasinya.
“..ini!”
“..bagaimana aku bisa naik?!” tanya Clara setengah tidak percaya.
Motor sport Ducati Desmosedici D16RR NCR M16, yang dipasaran konoha dihargai 3.5 milyar itu terlihat mentereng dengan warna merah menyalanya.
Tidak ingin berlama-lama Zen langsung memegang bemper belakang Clara, kemudian dengan setengah memeluk tubuh Clara, Zen mengangkatnya agar naik keatas jok penumpang yang terlihat lebih tinggi dibagian belakang.
“..kk-kamu!!” wajah Clara bersemu merah, karena seumur hidupnya baru sekarang bempernya dipegang cowok.
{vrommmm}
Suara knalpot motor Zen terdengar garang sesaat setelah Clara dan Zen berada diatas motor.
“..jangan lupa pegangan!”
{ciitttttt}
Ban bagian belakang motor Zen terlihat sedikit naik dan berputar membuat asap putih mengepul diaspal, sedangkan ban bagian depan masih direm.
{begggg}
Sesaat setelah ban bagian belakang kembali menginjak di aspal jalanan, motor sport itu sudah melaju dengan sangat kencang.
“..Zeeeeen!!! Bisa pelan engaaa!!”
“..apaaa??!”
Clara mendekatkan tubuhnya kearah Zen dengan menempel erat, hingga bibirnya bisa sangat dekat dengan helm yang dipakai oleh Zen.
Zen bisa merasakan punggungnya ada yang menekan-nekan namun empuk dan nyaman.
Saat speed motor mulai menurun karena mendekati lampu merah,
“..kamu ini ya.., apa kamu tahu kita harus pergi kemana?” ucap Clara sambil menepuk punggung Zen.
“..tau, Rumah Sakit internasional kan?!”
“..kk-kok kamu tahu?!”
“..bu dosen ini bagaimana sih, kan jaket putih bu dosen ada tulisannya, pastilah disitu bu dosen mau perginya!”
“..eh,..iya kah?”
“..hehehe”
Wanita itu kini terlihat malu sendiri.
__ADS_1
{vrooommm}
Setelah lampu menunjukkan signal boleh berjalan kembali, motor Zen segera kembali membelah jalanan kota besar dengan sangat lihai.
Clara terlihat begitu pasrah dengan gaya bermotor Zen yang Zig Zag sana sini, kedua tangannya memeluk erat pinggang Zen, muka yang ketakutan dibenamkan dalam-dalam dipunggung pria muda yang baginya sangat menyebalkan.
Dengan aksi motoran yang dilakukan oleh Zen, Clara akhirnya sampai tepat waktu di rumah sakit internasional.
{klekkk}
Zen memarkirkan motornya dibagian VVIP sesuai perintah Clara.
“..huppp”
Zen menangkap tubuh Clara yang terkesan melompat sesuai perintah Zen.
Pipi Clara bersemu merah ketika pemuda didepannya menangkap tubuhnya layaknya memeluk, kemudian menurunkannya dengan perlahan.
Clara sempat terdiam menikmati wangi parfum mint tubuh Zen, dirinya serasa melayang tinggi saat berada dalam pelukan pemuda beda usia 10 tahun itu.
“..bu dosen?! Hallooo”
“..eh,?”
Clara langsung kembali kealam nyata setelah beberapa puluh detik lamanya dirinya terlihat melayang entah kemana.
“..ma-makasih!” ujarnya bersemu merah, tanda malu.
“..katanya acaranya penting, mesti buru-buru, ini sudah beberapa menit lho terbuang waktunya disini!” ungkap Zen yang terlihat kalem dengan semua runtutan peristiwa yang melibatkan mereka berdua selama perjalanan hingga sampai di rumah sakit.
{plokk}
Clara langsung menepok jidatnya sendiri.
“..ayo Zen!” Clara tanpa sadar langsung menggandeng tangan Zen untuk ikut masuk kedalam rumah sakit
“..eh,..” Zen yang tidak ingin protes terus mengikuti tarikan tangan Clara sampai berada didepan ruang operasi VVIP.
Banyak petugas rumah sakit internasional yang melihat adegan dokter Clara menarik tangan pemuda beda usia dengan setengah memaksa untuk ikut masuk kedalam ruangan operasi VVIP.
Dokter cantik yang terkenal dingin dengan pria mana saja, dan bahkan banyak sekali dokter-dokter single yang mencoba menggaet hatinya selama ini tidak pernah direspons, tapi ini berbalik, dokter Clara terlihat tidak ingin jauh dari sosok pemuda yang bahkan tidak dikenal oleh para petugas rumah sakit internasional.
“..Clara!!” muncul suara memanggil namanya.
“..ayah!!”
“..siapa itu Clara?!” tanya ayahnya yang penasaran dengan sikap anaknya, sampai tidak mau melepaskan tarikan tangannya pada pergelangan tangan pemuda beda usia yang terlihat menggaruk kepala bagian belakangnya.
“..eh,..!” Clara yang baru tersadar, kini mulai terlihat bingung.
Bisa-bisanya dirinya tidak menyadari jikalau tangannya menarik pergelangan tangan Zen sampai masuk kedalam ruangan operasi.
Mungkin jika itu dokter lain pasti sudah ditegur, berhubung Clara adalah salah satu dokter spesialis kebanggan rumah sakit yang dipimpin oleh ayahnya sendiri, maka tidak ada petugas yang berani menegurnya.
Ucap Zen sambil mengarahkan tangannya untuk berjabat tangan.
Ayah Clara terlihat mengangkat kedua tangannya yang telah terbungkus sarung tangan medis.
Zen yang tidak merasa sakit hati karena sikap ayahnya Clara yang menolak jabat tangannya, berpikir positif didalam hatinya.
“..segera kamu bersiap Clara!” tegur ayahnya.
“..bb-baik ayah!”
Perawat yang sudah dari tadi mempersiapkan perlengkapan dan kebutuhan dokter Clara segera mulai memakaikan pakaian operasi serta berbagai kelengkapan lainnya yang dibutuhkan.
Zen sendiri, entah kenapa juga ikut dipakaikan perlengkapan operasi yang sama.
{bippp}..
Suara alat EKG terdengar memecahkan kesunyian ruangan operasi yang terlihat sudah puluhan menit sangat serius.
Beberapa kali perawat yang ada didekat Clara dan ayahnya memberitahukan kondisi pasien.
{tiiiiiiiiittttttt}
Panikk!!! EKG hanya berupa garis lurus.
“..ayah?! bagaimana ini?! Jantung mendadak tidak merespon” tanya Clara bingung.
“..apakah kamu sudah berusaha yang terbaik tadi?!” tanya ayahnya yang terlihat kurang paham dengan hal spesialis perjantungan.
“..semua sudah aku kerjakan ayah, sesuai dengan pengalaman yang aku punyai ayah!”
“..berarti kasus langka ini, belum bisa terselesaikan secara medis!” jawab ayahnya coba untuk menyemangati clara.
“..coba kamu cari tahu kembali, mungkin ada beberapa kerusakan minor dibagian pembuluh yang sudah kamu sambung barusan!”
Percakapan demi percakapan terdengar, wajah keputusasaan terlihat jelas dimuka Clara.
“..boleh saya membantu masalah ini?!” tiba-tiba Zen berbicara dari arah belakang.
“..kk-kamu!” Clara sedikit tidak percaya, disaat genting seperti ini, seorang maba malah mengajukan diri untuk membantu.
Dirinya yang sudah merasa paling berpengalaman saja tidak bisa menyelesaikan, apalagi seorang Maba dikampusnya.
Tidak ingin Zen terlibat masalah kedepannya, Clara terlihat tidak setuju..
“..Zen kamu jangan main-main, pasien sudah diputuskan secara medis, jika jantungnya tidak berdetak 3 menit yang lalu! Tahu kamu artinya!?” Clara terlihat sedikit emosi.
“..masih ada 8 menit!, jika diizinkan, saya bisa membantu!”
“..delapan menit katamu!! Darimana kamu tahu masih ada 8 menit untuk menghidupkan dia kembali?!” ucap clara sambil menunjuk kearah pasien.
__ADS_1
“..tinggal 6 menit sekian detik! Silahkan diputuskan!”
Ayah Clara melihat raut wajah Zen yang terlihat tenang, menangkap ada kesan keyakinan yang sangat tinggi, sedangkan dirinya ketika menoleh kearah Clara anaknya sendiri yang sudah sangat berpengalaman, raut wajahnya begitu kacau penuh dengan ekspresi kegagalan.
“..anak muda! Silahkan! Giliranmu!”
Entah kenapa ayahnya Clara langsung menginstruksikan kepada Zen untuk ambil alih.
“..Clara kamu turun, biarkan anak muda ini yang menangani selanjutnya!”
“..ta-tapi ayah!”
“..Clara waktu sudah mepet, jangan berdebat!!”
Suasana ruang operasi terlihat sangat mencekam. Ayah dan anak terlihat adu pendapat, meski pada akhirnya sang anak harus tergeser dengan keputusan sang ayah.
“..tolong ambilkan jarum perak 9 buah!”
“..jarum perak 9 buah tersedia!” perawat yang sudah sering mengikuti kegiatan operasi terdengar membeo suaranya.
“..turunkan supply oksigen hingga 1 skala dibawah standart!”
“..iniii!!”
“..psssttt!!!” belum selesai Clara berbicara, ayahnya sudah menyuruhnya untuk diam.
“..euhmmmn!” anggukan kepala dari ayah Clara tanda jikalau dirinya memberikan persetujuan pada perawat yang memberikan support untuk operasi.
{tap}..{tap}..{tap}..{tap}
Rentetan jarum perak 9 buah itu diletakkan pada titik-titik jantung sesuai dengan keilmuan yang Zen miliki.
Jarum yang sudah dialiri energi spiritual itu terlihat seperti bergetar dengan frekeunsi yang sama.
{bippp}
Alat EKG bereaksi!!
“..apaa!!!”
“..bb-bagaimana bisa?!!”
Ruang operasi kembali gaduh.
“..tenaang, harap tenang, ini belum berakhir!! Jangan menggangu konsentrasi pemuda itu!”
Pesan ayah Clara yang terlihat menguasai keadaan ruang operasi agar kembali tenang.
“..Zen.. siapa kamu sebenarnya?!” gumam pelan Clara yang semakin terobsesi dengan sosok Zen yang super misterius baginya.
Zen sendiri masih berusaha agar teknik yang dilakukannya barusan bekerja dengan maksimal.
Buliran keringat terlihat mulai keluar didahinya.
“..sini saya saja!” Clara mengajukan diri untuk mengelap butiran keringat dari pemuda yang telah menyelamatkan mukanya didepan sang Ayah, meski awalnya dia sendiri menentang.
Zen menoleh sebentar kearah Clara, kemudian menganggukkan kepalanya tanda terima kasih.
{bippp}...{bippp}..{bippp}
“..detak jantung pasien normal, tekanan darah menuju normal” teriakan perawat yang bertugas memantau pergerakan digital dari alat pendukung kegiatan operasi.
“..bagaimana dokter? apakah kita bisa menormalkan injeksi oksigennya?!”
“..jangan dulu, tunggu aba-aba dari saya!”
Para perawat bingung, sementara semua indikator sudah menyatakan normal namun Zen masih belum juga memasukkan kadar oksigen lebih banyak dari yang biasa dilakukan oleh para dokter lain.
“..dengarkan kata pemuda itu! Jangan ada yang membantah!” ayah Clara terlihat sangat tegas memberikan perintah.
Tidak ada yang berani membantah, kembali semua petugas berkonsentrasi pada tugasnya masing-masing.
“..dalam hitungan tiga, masukkan oksigen 1 skala diatas standart!”
Perintah Zen membuat keheningan ruangan operasi terpecahkan.
“..satu!”
“..dua!”
“..tiga!”
“..sekarang!”
{jdukkkk}
Tiba-tiba saja, tubuh pasien menghentak kearah atas, layaknya pasien yang diberikan tindakan alat pacu jantung dengan skala beberapa joule, hentakan tubuh yang bersamaan dengan aktivitas Zen mencabut sembilan jarum perak secara bersamaan, sangat cepat!!
{bippp}...{bippp}..{bippp}
Suara digital dari alat pendeteksi kehidupan terdengar bersaut-sautan.
“..jantung normal, paru-paru normal, aliran darah normal, operasi sukses!”
“..yeaayyy...!!!”
Setelah terlibat dalam suasana yang mencekam selama beberapa puluh menit lamanya, semua petugas jaga dan dokter yang terlibat dalam kegiatan operasi yang bisa dikatakan mustahil itu kini terlihat sangat bahagia raut wajah mereka.
Sejak awal memang pihak rumah sakit sudah menginformasikan kepada keluarga jika kemungkinan suksesnya sangat kecil, namun tanpa mendahulukan takdir yang mahakuasa, pihak rumah sakit tetap minta pihak keluarga untuk selalu berdoa disaat tim rumah sakit bekerja keras diruangan operasi.
Yang tidak diketahui oleh Zen, bahwasanya kegiatan operasi yang telah diselesaikannya barusan, ternyata disiarkan secara langsung kebeberapa negara yang memiliki jaringan rumah sakit internasional sebagai induk mereka, bukan kenapa-kenapa, karena kasus yang sedang mereka tangani kali ini adalah kasus langka, satu-satunya didunia.
Dunia kesehatan melihat keberhasilan operasi yang dilakukan oleh Zen, semakin membuka wacana pengetahuan baru didunia medis, dengan cara mengkombinasikan medis tradisional dengan medis modern adalah solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi penyakit langka dibidang perjantungan.
__ADS_1
Nama rumah sakit internasional di kota besar itu kini semakin melambung tinggi berkat Zen.