
Bisnis Z Beauty semakin menggila diseluruh penjuru dunia, bahkan dunia medis sangat terbantu dengan adanya krim regenerasi maupun pil kecantikan yang menjadi kecintaan para wanita diseluruh dunia untuk tampil lebih muda lima tahun.
Kegiatan bisnis yang tentunya membuat iri banyak orang, apalagi para pesaing bisnis mereka.
Clara, Ling-ling dan Sofia ketiganya tidak takut dengan ancaman-ancaman yang mendatangi mereka, karena liontin Phoenix yang mereka kenakan telah terbukti dapat melindungi mereka dari dunia kejahatan fisik maupun metafisika.
Zen sendiri sedang melakukan perjalanan bisnis di eropa terkait produk nano partikel gas yang sedang dikembangkannya.
Ada beberapa kelompok orang yang terlihat mengawasi Zen sejak dirinya tiba di eropa.
Zen yang memiliki kesadaran diatas manusia normal dapat mendeteksi keberadaan kelompok yang sejak dirinya turun dari pesawat, hingga naik taxi bandara menuju lokasi pertemuan, segera mengarahkan taxi bandara untuk masuk kesebuah jalanan buntu.
{ciittt}
Taxi terlihat berhenti saat jalan sudah mentok.
Zen sudah menjelaskan kepada sopir taxi, jika apa yang akan dilakukannya adalah pembelaan diri dan meminta pengemudi taxi untuk tetap tenang.
Seolah terhipnotis, pengemudi taxi hanya mengikuti arahan Zen.
{dog..dog..}
Body mobil digedor dari arah luar.
“..keluar!!”
Teriak salah satu kelompok preman dengan suara memaksa.
{dappp}
Pintu taxi kembali tertutup rapat setelah Zen keluar.
“..kalian tidak salah orang bukan?!” tanya Zen.
“..kamu Zen, orang yang sudah merampok uang kelompok kami!” ujar ketua preman menjelaskan.
Ternyata kelompok yang menghadangnya adalah salah satu dari enam ketua kelompok illuminati pimpinan Edward.
“..keliatannya kalian sudah menyadarinya!”
Zen sebenarnya dengan sengaja meninggalkan pesan diemail mereka saat Zen membelanjakan habis uang mereka untuk membeli maskapai penerbangan multinasional atas nama dirinya.
“...bajinnngaan!! cepat bunuh orang itu!” Edward segera memerintahkan kelompok preman bayarannya untuk menyerang Zen.
{wuuuttt}
Pukulan keras mengarah kebagian vital tubuh Zen. Namun meleset!!
“..bagaimana bisa?!”
Preman yang mengira pukulannya akan dengan mudah mengenai Zen, bahkan membuatnya terlempar jauh, tidak habis pikir, karena pukulannya hanya mengenai udara kosong.
“..disini!” ujar Zen sambil menoel pundak preman yang tadi memukulnya.
{wuuuttt}{wuuuttt}{wuuuttt}{wuuuttt}
Puluhan kali preman yang ahli beladiri lulusan militer itu berusaha menyarangkan pukulannya, namun berkali-kali Zen dapat menghindarinya dengan mudah.
“..bagaimana kamu melakukannya?! Hah..hah..hah,.” preman lulusan militer itu menahan nafasnya yang naik turun tidak beraturan.
“..jatuh!”
Ujar Zen sedikit agak keras suaranya.
{gubrakkkk}
Tubuh dempal ala militer eropa itu langsung tersungkur begitu saja setelah Zen mengucapkan kata jatuh.
Preman yang tersisa tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Sosok yang tersungkur itu adalah sosok terkuat dikelompok mereka.
“...lari...!! orang ini monster!!” teriak sisa preman yang mundur teratur kebelakang meninggalkan Edward yang masih tertegun ditempatnya sambil badannya gemeteran merasakan ketakutan.
“..Edward bukan namamu!”
“..euhmmnnn!” Edward hanya menganggukkan kepalanya saja, bibirnya kelu, tubuhnya seperti sudah kehilangan kesadaran saking ketakutannya.
{gubrakkkk}
Edward Pingsan!
“..laah malah turu!” ucap Zen.
{slappp}
Zen langsung memasukkan Edward dalam penjara lukisan yang ada didalam dunia jiwanya.
“..satu sudah, tinggal lima lagi!” ungkap Zen.
Setelah memastikan tidak ada kamera yang merekam aktivitasnya, Zen lantas masuk kembali kedalam taxi dan membiarkan preman yang tersungkur pingsan begitu saja.
Pengemudi Taxi kembali menjalankan kendaraannya menuju lokasi tujuan pertemuan Zen layaknya tidak terjadi sesuatu.
Tiga puluh menit lamanya perjalanan Zen dari lokasi terakhirnya, akhirnya taxi itu tiba dilokasi tujuan.
“..selamat datang tuan Zen!” sapa lelaki yang jika ditebak berumur 45 tahun.
“..terima kasih sambutannya tuan Sergei!”
Zen tidak sembarang menjual teknologi partikel nano gas miliknya, karena dirinya sangat sadar, teknologi miliknya dapat dijadikan senjata tidak terlihat yang bisa memusnahkan umat manusia jika mereka melakukan peningkatan muatan atom partikelnya.
Untungnya teknologi didunia ini belum sampai ketingkat tersebut.
__ADS_1
Selama dua jam Zen melakukan presentasi, tujuan utama kedatangannya adalah untuk menyelesaikan masalah polusi nuklir yang telah terjadi didalam kawasan yang sudah puluhan tahun ditinggalkan sejak kejadian yang merenggut jutaan jiwa.
Dengan teknologi milik Zen, diharapkan partikel nano gas milik Zen, bisa mengikat polusi nuklir yang telah tersebar dikawasan reaktor yang meledak sebelumnya.
Zen mendapatkan kontrak yang sangat fantastis untuk penanganan limbah polusi nuklir, adalah 700 milyar euro bayaran yang didapatkan Zen.
Setelah kesepakatan dicapai, Zen dan Sergei terlihat meninggalkan lokasi pertemuan dengan tujuannya masing-masing.
Zen memiliki waktu satu bulan kedepan untuk melakukan persiapan pekerjaannya.
Meskipun Zen sudah menerima lebih dari 50% pembayaran diawal sebagai tanda jadi kontrak kerjasama.
Zen tidak ingin menunda-nunda waktu, dengan perpindahan instannya, Zen berteleportasi langsung ke gunung blimbing, tempat Zen dan para pegawai astralnya bekerja.
Tidak ada yang menyangka jika gunung tinggi menjulang itu didalamnya terdapat laboratorium serta pabrik terbesar dan terluas untuk memproduksi partikel gas nano milik Zen.
Dengan pegawai yang tanpa ikatan kerja dan tanpa gaji yang harus pusing dengan aturan disnakertrans, pabrik partikel gas nano milik Zen dapat memproduksi milyaran tabung partikel gas nano setiap harinya, untuk memenuhi kontrak kerja yang sudah Zen terima pembayarannya.
***
Zen terlihat bersama Clara, Ling-ling dan Sofia yang menyusul suami mereka ke konoha dengan mempergunakan pintu penyintas jarak.
Konsep pintu yang tinggal dibuka langsung berpindah tempat itu diletakkan didalam rumah Zen yang ada di belahan selatan kota megapolitan di negara konoha.
“..kita belanja dulu boleh?” tanya Clara sambil melihat kearah Zen dan yang lain.
“..yuk kak, keliatannya baju-baju kita juga sudah perlu diganti!” Ling-ling dengan jiwa mudanya mulai meledak-ledak ketika mereka berempat berjalan santai didalam mall besar kota megapolitan.
Sofia lebih memilih kalem, karena dirinya memang tidak suka dengan hingar bingarnya dunia.
“..bayarin yaa suami?! Yaa..yaaa...?!” dengan tatapan penuh harap.
“..issh...ishhh..isshh, kalian ini kan sudah punya rekening unlimited, masiih saja minta!” canda Zen.
“..beda doong, duit istri duit istri, duit suami duit istri!!” jawab Clara yang dijawab dengan anggukan kepala Ling-ling, sedang Sofia hanya tertawa terkekeh.
Keempatnya masuk kesebuah gerai butik skala internasional dengan logo huruf H.
Pelayan butik terlihat sangat antusias ketika kedatangan mereka berempat, wajah Clara, Ling-Ling dan Sofia sudah banyak bertebaran didunia medsos dan televisi internasional sebagai pemilik Z Beauty.
Tidak jarang ketiganya mesti melayani photo bersama sepanjang perjalanan didalam Mall.
Zen terlihat seperti tukang panggul belanjaan dibagian belakang ketiga wanitanya yang ketawa-ketiwi cekikikan, lengan tangannya penuh dengan belanjaan Clara, Ling-ling dan Sofia.
“..lihat itu, laki-laki macam apa coba, bisa-bisanya lelaki ganteng itu jadi parasit!”
“..percuma ganteng, tapi kacung!”
“..yap, kamu benar! Makan uang perempuan saja lah tuu!!”
Beberapa cibiran terlihat berkomentar saat melihat tangan Zen penuh dengan belanjaan serta kesusahan untuk berjalan.
Zen yang tidak ingin salah paham, lantas berjalan kesebuah lorong Mall yang terlihat sepi dan jauh dari pantauan kamera CCTV.
{slappp}
Zen lantas kembali berjalan keluar dari lokasi amannya.
“..sayaang!! darimana?!” Clara dan Ling-Ling langsung berhambur kedalam pelukan Zen, Sofia terlihat malu-malu dibelakang Zen.
“..biasalah, mengamankan barang belanjaan kalian yang menggunung, biar orang engga salah paham!”
“..maksudnyaa??!!”
“..kalo kosong begini kan bisa cuci mata!”
{siuutt}
Cubitan kiri kanan dibagian pinggang Zen langsung dilancarkan oleh Clara dan Ling-Ling bersamaan, Sofia yang melihat kebersamaan ketiganya langsung tertawa terkekeh.
“..Sofia, kamu bantuin doong, engga denger apa barusan, suami kita ganjen!” Clara melotot kearah Sofia.
“..engga-engga kak,..aku engga mau nyakitin tuan muda!”
“..kamu engga asyiik Sofia!” Clara langsung mengambil tangan Ling-Ling dan kembali mencari butik sasarannya.
“..sakit tuan muda?!” tanya Sofia yang terlihat mendekati Zen sambil mengelus pinggangnya.
“..hehehe.. biasalah ...canda!” Zen menjawab sambil mengelus pucuk ubun-ubun Sofia.
Sofia yang mendapatkan perlakuan Zen menjadi malu.
“..tuuuh kan malah pacaran sendiri,!!” Clara menghentak-hentakkan kakinya didepan butik sambil melihat kearah Zen dan Sofia.
Zen yang menyadari Clara sedang merajuk langsung saja menggandeng Sofia untuk masuk kedalam butik.
Setelah itu, didalam butik Zen menciumi semua dahi ketiganya bergantian, barulah acara ngambeknya Clara usai.
Para pelayan butik yang melihat sosok pemuda super tampan menciumi tiga wanita yang sedang naik daun beritanya secara internasional langsung kaget.
Banyak kasak kusuk berkomentar positif terkait mereka berempat.
Butik sendiri sangat girang dengan belanjaan ketiga wanita yang terlihat memborong produk terbaru mereka, hingga kembali lagi lengan tangan Zen penuh dengan belanjaan.
“..udahan kali, sudah 4x lho begini terus!” ujar Zen yang memasang wajah melasnya.
“..iyaaa...iyaaa...duuuch kasihaaan...”
Bergantian ketiganya menciumi Zen memberikan semangat.
Sama seperti sebelumnya, Zen langsung mencari lorong kosong untuk memindahkan semua barang belanjaannya kedalam ruang penyimpanan dalam jiwanya.
Mereka berempat segera berjalan beriringan, membuat lorong mall menjadi penuh oleh barisan mereka berempat.
__ADS_1
“..kita makan disini saja yaa suami?!” ujar Clara memilih tempat makan bagi mereka berempat.
Meja makan yang memang sangat mendukung untuk aktivitas makan BBQ-an itu dipilih Clara untuk bisa makan beramai-ramai.
Nampak beberapa kali keempatnya saling tertawa bercanda membuat iri pengunjung yang lainnya.
Beberapa pengunjung yang menyadari jikalau 3 wanita yang sedang duduk dengan seorang pria tampan adalah pemilik dari Z Beauty yang sedang viral, tidak ingin menghilangkan kesempatannya untuk berfoto bersama.
Alih-alih foto berempat bersama Zen, para fans meminta Zen untuk memotokan mereka bersama Clara, Ling-ling dan Sofia.
“..sudah ya, kami ingin melanjutkan aktivitas makan kami!” jawab sopan Clara.
Pengunjung yang menghormati kesopanan Clara langsung membubarkan diri.
“..resiko selebriti memang!” ucap Zen sambil memakan daging bakaran yang sudah matang memakai sumpit kayu.
“..hehehhe..yaa..maaf.., kan kita engga boleh sombong, mereka konsumen kita lho!” jawab Clara dibalas dengan anggukan kepala kedua wanita yang lainnya.
Clara, ling-ling dan Sofia secara bergantian menyuapi Zen dengan daging bakar yang sudah matang dan bisa dimakan.
Pemandangan yang membuat pengunjung lainnya menjadi iri hati, terutama kaum adam.
Aktivitas makan bersama mereka sudahi setelah 90 menit waktu yang ditetapkan oleh restauran sudah terpenuhi.
“..sekarang kita kemana?” tanya Ling-Ling.
“..mau kemana lagi?! Pulang pastinya, apa kalian engga capek?!” tanya Zen.
“..engga!” ketiganya menjawab kompak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya bersamaan.
“..isssh..isssh..issshhh...”
“..hehehe... namanya juga perempuan, Mall adalah tempat refreshing paling pas untuk melepas penat!” jawab Clara layaknya pemain sinetron.
“...yelaaah...yelaaaah!” Zen hanya menimpali sekenanya.
“..kita ngopi cantik yukk, tuuuh diujung! mumpung sepi!” Clara menunjuk cofee shop internasional yang terlihat sepi pengunjung.
Setelah melakukan pemesanan mereka berempat kembali bercanda gurau membahas apa saja, yang jelas bahasan mereka tidak jauh dari masalah keintiman mereka berempat yang engga ada habisnya untuk dibahas.
“..silahkan pesanannya!” ujar pelayan sambil menata pesanan mereka berempat diatas meja.
“..stop!!” Zen menghalangi pelayan untuk kembali.
Pelayan yang diberhentikan oleh Zen langsung gemeteran.
“..sebaiknya kamu segera bicara, siapa yang menyuruhmu menaruh racun didalam minuman ketiga wanitaku?!”
Suara Zen terlihat keras terdengar seisi ruangan.
“..apa racun?!”
“..siapa yang sudah berani menaruh racun?!”
“..wah cari mati itu pelayan!”
{brukkk}
“..maaf kan saya tuan!” pelayan itu langsung menjatuhkan diri.
“..mana manager yang bertugas?!” teriak Zen.
Petugas keamanan Mall pun mulai berdatangan kelokasi.
Pelayan yang menyerahkan minuman terlihat lemas tak bertenaga.
“..ini adalah alat canggih milik kami yang dapat mendeteksi adanya racun didalam minuman yang disajikan!”
{bipp}
Zen menyalakan alat dan langsung saja alat mulai bekerja mendeteksi.
Tiga wanita Zen terlihat begitu santai melihat aksi suami mereka.
“..sianida 98%!” suara Zen membaca hasil yang ditunjukkan oleh alat canggih buatannya.
“...whaatttt!!!” beberapa pengunjung langsung terkejut dengan informasi Zen.
Pada akhirnya pelayan yang bertugas beserta manager coffeshop langsung dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan pasti, terkait siapa otak yang mendalangi rencana pembunuhan yang digagalkan oleh Zen.
Zen dan ketiga wanitanya sendiri selama satu jam dimintai keterangan oleh pihak kepolisian dan akhirnya meninggalkan kantor polisi larut malam.
Berita tentang rencana pembunuhan menggunakan racun sianida di salah satu coffeshop internasional, langsung menghebohkan media sosial dan pertelevisian.
Tidak tanggung-tanggung calon korbannya adalah 3 wanita pemilik Z Beauty yang sedang menikmati acara ngemall bersama suami mereka bertiga.
Media juga dihebohkan karena status pria tampan yang ada disamping mereka bertiga, adalah suami bersama mereka.
“..beruntung suaminya bisa mengetahui adanya racun ya!”
“..iyaa, sudah tampan, pintar lagi!”
“..mau doong kalo ada satu lagi!”
Komentar berterbangan dikolom medsos pemberitaan secara besar-besaran.
Banyak yang menduga motif yang direncanakan adalah alasan saingan bisnis, mengingat Z Beauty sedang naik daun secara internasional, hingga banyak pesaing yang ingin menjatuhkan bisnis ketiganya.
Hanya Zen dan ketiga wanitanya yang tahu motif sebenarnya, yaitu kelompok Iluminati yang tersisa.
“..sebaiknya kalian hati-hati kedepannya, jangan ada perjalanan bisnis dulu, sampai aku bisa mendapatkan kelima sisa ketua kelompok illuminati!” ujar Zen ketika mereka sudah berada didalam kamar pribadi mereka.
Anggukan kepala mereka tanda persetujuan dengan usul suami mereka.
__ADS_1
Malam itu Zen tidak mendapatkan pelayanan dinas malam, karena ketiganya sibuk untuk memilah belanjaan mereka yang terlihat sudah menggunung didalam kamar.
Tidak ingin mengganggu aktivitas ketiganya Zen memilih untuk kembali berkonsentrasi memasuki dunia jiwanya.