
Seminggu pun berlalu, dalam berjalannya waktu seminggu tidak ada yang spesial karena Zen juga sudah menyelesaikan semua ujian kelas 12 nya disekolah, dan mulai hari ini Zen sudah resmi tidak perlu masuk sekolah lagi.
Nilai ujian dan status kelulusan akan diinformasikan dalam kurun waktu dua minggu kedepan, tentunya pada saat itu Zen mungkin tidak berada di negeri konoha ini.
Selama satu minggu, banyak cewek-cewek yang terlihat mulai berani memberikan hadiah pada Zen, ada yang menunggu Zen didepan kelasnya, ada juga yang menunggu digerbang sekolah, karena mereka bukan bagian siswa dari sekolah Zen berada.
Ziva yang melihat banyaknya cewek yang mengerubungi Zen terlihat mulai terbiasa, karena Zen sudah memberitahu Ziva, jikalau dirinya hanya menghormati orang lain tanpa ada melibatkan perasaan disana.
Beberapa menit yang lalu Zen sudah melakukan penjualan perdagangan saham miliknya.
Harga saham yang tadinya senilai 100 per lembarnya, kini telah menjadi 3.500 per lembarnya.
Kenaikan harta Zen dari saham saja, melonjak 3500%. Yang tadinya Zen belanja saham diharga total 300 milyar, kini nilai total sahamnya menjadi 10.800.000.000.000 (sepuluh trilyun delapan ratus milyar rupiah).
Zen segera menjual seluruh sahamnya, hari itu juga.
Dari total dana di RDN miliknya, dirinya segera memindahkan 10 trilyun kerekening bank digitalnya dan akan diterima dua hari kerja setelahnya.
Dengan RDN berisikan 800 Milyar, Zen segera meletakkan pembelian selanjutnya pada saham yang berpotensi mengalami kenaikan dalam 7 hari kedepan.
{triingggg}
Transaksi pembelian saham telah berhasil dilakukan dengan pembelian total 800 Milyar di harga 200 per lembarnya.
Selain melakukan perdagangan saham, hari itu Zen juga melakukan close order untuk MT4 nya. Tercatat warna biru dengan delapan belas digit angka warna putih dibagian saldo, langsung Zen eksekusi untuk di tarik.
Rekening digitalnya bertambah gendut dengan masuknya delapan belas digit, tepatnya 899.000.000.000.000.000 (delapan ratus sembilan puluh sembilan kuadriliun rupiah).
{drrrttttt}
Hape milik Zen bergetar dengan nomor kantor exclusive.
“..halo!” jawab Zen.
“..benar dengan tuan Zen?!”
“..ya, saya sendiri!”
“..ada dana masuk 889 kuadrilliun rupiah direkening bapak barusan, apakah betul?!”
“..ya benar!”
“..apakah tuan Zen ada waktu, pemilik bank ingin berjumpa dengan tuan Zen!”
“..kapan?!”
“..kami mengikuti jadwal tuan saja!”
“..baiklah, saya ada waktu sore ini jam 7 malam”
“..dimengerti tuan Zen, dipastikan kami akan tiba di kediaman tuan tepat waktu!”
“..terima kasih atas kesediaannya menerima kami”
“..baiklah, tolong jangan sampai terlambat ya, karena saya ada jadwal keluar negeri nanti malam!”
“..dimengerti tuan Zen”
{tuuutttt}
Panggilan jarak jauh itupun selesai.
***
“..apakah kita sudah bisa bertemu pemilik rekening ?” tanya sosok paruh baya yang terlihat menunggu jawaban asistennya.
“..tuan Zen ada waktu jam 7 malam ini tuan besar!”
“..informasinya tuan Zen ada jadwal penerbangan keluar negri malam ini!”
“..kalo begitu tunggu apalagi, segera persiapkan hilicopter, jangan sampai kita kena macet parah di jalan nanti” ujar tuan besar pemilik bank swasta terbesar di negeri konoha, dengan Market Cap (MC) nya 1.146 trilyun.
Satu-satunya bank swasta bahkan satu-satunya bank dinegeri ini yang memiliki MC diatas 1000 trilyun adalah bank dengan logo tiga huruf abjad awal.
Seluruh dewan direksi terlihat langsung tergopoh untuk mempersiapkan keperluan tuan besar. pemilik bank swasta terbesar di negeri konoha.
Helicopter terdengar sudah meraung-raung diatas gedung bertingkat 76, helicopter pribadi yang dipesan khusus untuk melayani rute tuan besar mereka.
Bank cabang terdekat juga sudah diinformasikan untuk mempersiapkan oleh-oleh yang nantinya akan diserahkan pada tuan Zen.
__ADS_1
Setelah helicopter dinaiki tuan besar dan petinggi bank, selanjutnya helicopter akan terbang menuju tempat pendaratan terdekat, yaitu lapangan sepakbola kabupaten tempat Zen tinggal, mobil-mobil mewah turut serta bersiap dilapangan sepakbola tersebut.
Kolonel agus yang mendengar jikalau bos besar pemilik bank swasta terbesar dinegeri konoha sedang meminta izin mendaratkan helicopternya dilapangan sepakbola, yang notabene dekat dengan markas militernya, menjadi bertanya – tanya.
“..bos besar mana dikabupaten ini, sampai-sampai pemilik bank swasta terbesar dinegara ini datang mengunjunginya?!” gumam kolonel agus.
Tidak ingin ambil pusing, segera kolonel agus menuju lapangan sepakbola untuk turut menyambut, karena bank swasta terbesar itu sudah banyak memberikan dana CSR nya bagi markas militernya.
Raungan helicopter terdengar menderu-deru.
Secara perlahan helicopter pribadi itu turun, dan mendarat dengan sangat mulus tanpa ada gangguan.
Dari dalam helicopter keluar pria paruh baya dengan membawa tongkat kesayangannya, lima menit kemudian dirinya disambut oleh beberapa pejabat penting dan kolonel Agus tentunya.
“..selamat datang di kabupaten kami tuan besar!”
Beberapa penjilat terlihat mulai mengambil hati tuan besar pemilik bank swasta terbesar dinegara ini, tanpa rasa malu.
Tuan besar segera menyalami mereka semua dan mengucapkan terima kasih sudah menyambutnya.
Saat tuan besar melihat kolonel Agus.
“..Hei Agus! Lama kita tidak jumpa?!”
“..salam tuan besar, 2 tahunan kah saya tidak bertemu tuan besar!”
“..yaa...yaaa...yaaa”
Setelah bertukar beberapa ratus kalimat dengan para tokoh yang menyambutnya, akhirnya tuan besar pamit undur diri dengan memasuki mobil mewahnya.
Mobil itu langsung meluncur kearah rumah Zen.
Kolonel agus tidak ikut mengantar, karena tuan besar hanya meminta motor pengawalan saja, untuk membuka jalan dan mengamankan lalu lintas.
Jam 6:30 tepat, rombongan pemilik bank swasta terbesar dinegeri ini tiba didepan pintu halaman Zen.
{dapppp}
Pintu mobil terbuka, setelah tuan besar keluar, pintu mobil itu langsung ditutup kembali oleh sopirnya.
“..waaah, benar-benar sejuk udara disini!” terdengar tuan besar bersuara sambil mengedarkan pandangannya.
“..kalo boleh tahu adik ini siapa?!” sapa sopan tuan besar.
“..perkenalkan, nama saya Zen! Apakah bapak yang akan menemui saya di jam 7 malam?!”
Shock!!
“..iini serius! Anda tuan Zen?!” tanya pria paruh baya kembali.
Sang asisten terlihat membisikkan informasi ditelinga tuan besar.
Zen yang bisa mendengarkan dengan pendengaran supernya, hanya tersenyum simpul.
“...oh, maafkan orang tua ini tuan Zen, orang tua ini kurang pendidikan, jadi tidak mengetahui informasi terupdate!” ucapnya merendah.
Jika priaparuh baya didepannya ini kurang pendidikan, bagaimana dengan yang lebih pendidikannya, batin Zen.
“..anda terlalu merendah tuan besar!”
“..aah, tolong jangan panggil saya Tuan Besar! Tidak pantas-tidak pantas” sergahnya.
Rombongan itu akhirnya masuk kedalam rumah Zen.
Dengan kursi tamu yang memang dikonsep untuk menerima tamu eksklusif, para rombongan akhirnya duduk.
Shelli yang sudah dipesan oleh Zen agar berkostum yang sopan, langsung menyajikan makanan ringan serta minuman panas dan dingin.
Diruang tamu Zen sendiri ada mini bar, sehingga tamu bisa langsung memesan minuman yang diinginkan, kecuali alkohol.
“..jadi maksud kedatangan kami kemari ini ingin berterima kasih karena tuan Zen masih percaya dengan bank kami, bahkan hari ini ada dana masuk sangat besar sekali”
“..yang kedua kami ingin menawarkan kesepakatan, terkait kepemilikan saham di bank kami, karena jujur kami sedang dalam permasalahan pelik yang harus segera diselesaikan!”
Zen terlihat menjadi pendengar yang sangat sopan, dengan menajamkan pendengarannya untuk menangkap informasi apa yang ingin disampaikan oleh tuan besar pemilik bank swasta tempat Zen menaruh dananya.
Inti pembicaraan pihak bank, ingin meminta kepada Zen agar dana senilai 800 kuadrilliun bisa dikonversikan menjadi saham kepemilikan atas nama Zen di bank swasta tersebut.
Dengan nilai konversi sebesar 90% kepemilikan.
__ADS_1
Penawaran yang diberikan kepada Zen akan dilengkapi nantinya oleh pihak bank dengan memberikan fasilitas rumah mewah dikota besar, lengkap dengan fasilitas teknologi yang melekat.
Belum lagi mobil sport terbaru seharga 200milyar juga akan diberikan kepada Zen.
Plus, Zen akan menerima bunga sebesar 8% pertahun untuk uang yang disetorkan.
Zen sendiri tidak ada masalah dengan proposal yang diutarakan, karena nantinya dirinya masih memegang 99kuadrilliun direkeningnya.
Angka itu sudah cukup untuk membayar akuisisi pabrik di negara gingseng yang akan dibayar keesokan harinya.
Ada perasaan lega dalam diri setiap tamu yang berkunjung dikediaman Zen.
Karena masalah internal mereka terselesaikan dengan masuknya dana dari Zen.
Harga saham bank swasta terbesar saat ini adalah 9200 per lembarnya.
Dalam kontrak disebutkan jikalau kepemilikan mayoritas akan berakhir saat harga saham menyentuh angka 35.000 per lembar sahamnya.
Karena tidak ada yang dirugikan dari sisi Zen, maka perjanjian kerjasama serta perpindahan kepemilikan saham mayoritas dapat dilaksanakan saat itu juga.
“..kalo boleh tahu tuan Zen ini rencana mau kemana?!”
“..kami ada fasilitas jet pribadi, dan kapanpun siap jika tuan Zen memerlukannya”
Terlihat sang asisten dari tuan besar menginformasikan niat baik pihak bank pada Zen.
“..tidak perlu, saya naik pesawat biasa saja, karena tidak terlalu jauh juga perjalanannya”
“..maaf tuan Zen, dengan telah disepakatinya perjanjian kerjasama ini, maka tuan Zen berhak mendapatkan fasilitas pelayanan bepergian dari bank kami” ujar tuan besar yang terlihat tidak ingin terkesan kurang baik dimata Zen.
“..sekali lagi terima kasih tuan besar, saya baik-baik saja!”
Semua yang hadir langsung menekukkan kepala mereka, karena penolakan yang dilakukan oleh Zen barusan secara langsung sudah membuat tuan besar langsung menoleh kearah mereka semua.
Dalam tatapan matanya terbesit niatan untuk merayu Zen agar mau memakai jet pribadi milik bank.
“..tuan Zen, rumah ini sangat estetik sekali ya?! udara disini juga sangat sejuk dan segar sekali, jadi ingin punya rumah disekitar sini!”
“..apa tuan Zen mengetahui, siapa pemilik lahan disamping, depan dan bagian belakang dari kediaman tuan Zen ini?!”
“..siapa tahu saya bisa menjadi tetangga tuan Zen begitu, karena saya rindu suasana seperti kediaman tuan Zen ini”
Tuan besar terlihat masih berusaha untuk mengambil hati Zen, karena dirinya merasa tidak enak, Zen sudah membantu dirinya, namun dari sisi dirinya belum menunjukkan bantuan yang significant.
“..maaf tuan besar, tanah yang tuan besar tunjuk tidak dijual” jawab Zen sopan.
“..jangan bilang semua tanah ini sudah menjadi hak milik tuan Zen?!” tuan besar bertanya dengan was-was.
Zen hanya menganggukkan kepalanya saja tanda mengiyakan.
“..luar biasa!”
Semua yang hadir hampir tidak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar secara langsung.
Anak umur belum genap 18 tahun sudah memiliki harta yang luar biasa.
“..mohon maaf, ini sekiranya jika sudah tidak ada lagi yang ingin disampaikan, saya ijin pamit, karena jam penerbangan saya sudah terlalu mepet!”
Semua yang hadir semakin bingung, penerbangan mepet, tapi jarak rumah ke bandara internasional bukannya butuh 3 jam perjalanan pikir mereka saling bertanya.
Karena tidak ingin menyinggung perasaan Zen, mereka segera berdiri dan saling berpamitan.
Zen berjanji setelah pulang dari perjalanannya, dirinya akan mampir ke kantor pusat dikota besar sana.
Rombongan itu terlihat langsung meninggalkan halaman rumah milik Zen, dengan kembali dikawal patwal militer untuk membuka jalan.
“..apakah kalian percaya jika tuan Zen akan melakukan perjalanan keluar negri malam ini?!”
“..tenang saja tuan besar, link imigrasi kita dibandara nanti akan menginformasikan pada kita, kemana tujuan tuan Zen!”
“..bagus-bagus, kerja bagus, segera kabari, aku masih penasaran dengan sosoknya, kalo perlu kita datangi negara tujuan tuan Zen itu, jika benar dirinya pergi malam ini, persiapkan segera jet pribadi kita untuk mengejar penerbangannya, kita berikan pelayanan yang paling baik dari yang terbaik selama Tuan Zen ada diluar negeri sana! Ingat itu!”
“..baik tuan besar, laksanakan!”
Zen yang sudah menghilang dari kediamannya kini sudah berpindah disebuah toilet bandara internasional, segera dirinya keluar dari bilik toiler dan menuju meja check in.
Tidak ada drama yang terjadi ketika Zen melakukan cek in, semuanya lancar, dan dirinya kini sudah berada didalam ruang tunggu keberangkatan internasional.
Setelah menunggu beberapa saat, Zen yang kini sudah berada didalam kabin kelas super premium dari pesawat yang akan menerbangkan Zen menuju negeri gingseng, terlihat pesawat sudah mulai ditarik keluar meninggalkan garbarata.
__ADS_1