PEMULUNG SUKSES

PEMULUNG SUKSES
Beli Pabrik


__ADS_3

“..kamu kenapa siih Ziva?! Sejak pulang dari acara, muka ditekuuk terus!”


“..jangan-jangan anak ibu lagi jatuh cinta yaa sama siapa itu namanya..Zaid kah?!”


“..siapa zaid buuk?!” tanya kolonel Agus, sambil memegang bahu istrinya yang sedang asyik memasak didapur.


“..apaan sih ibuk ini, siapa juga Zaid coba!”


“..terus siapa doong itu yang tadi dapat bintang jasa kehormatan!” tanya ibunya terlihat usil.


“..Zen?!” bukannya Ziva yang menjawab, ini yang ada ayahnya keburu nyaut duluan.


“..naah, itu , Zen namanya!”


“..masa’ sih? Anak ayah jatuh cinta sama Zen?!” goda ayahnya Ziva yang melihat ada kode dari istrinya.


“..ayah sama ibu ga asyiiik! Ziva mau kekamar saja!”


Ziva langsung berlari kearah kamarnya.


“..yeee ngambekk?!” ayahnya semakin gencar menggoda anak perawannya.


Didalam kamar yang terlihat serba pink ornamennya.


{bukkkk}


Memukul bantal


“..sebel-sebel-sebel...Zen nyebeliiin!!”


Dengan sedikit berteriak Ziva memukul-mukul bantal yang tidak bersalah.


Memang sepulang dari acara tadi, Ziva yang melihat Zen mampu menunjukkan keahlian beladirinya, bahkan 10 anggota pasukan khusus militer baret merah, bisa dengan mudah dikalahkan, dan dikirim semuanya ke rumah sakit.


Aksi yang semakin membuat nama Zen dikenal oleh seluruh negara konoha ini.


Ditambah lagi ketika acara sudah selesai, Zen lebih memutuskan untuk pergi bersama semobil dengan bapak Bupati yang ketepatan datang bersama anak gadisnya juga.


Tidak hanya disitu letak kejengkelan Ziva, sepanjang perjalanan Ziva mencoba menghubungi Zen namun hapenya mati.


“..kebiasaaan iiihhh!!!”


Ziva yang sudah tahu kebiasaan buruk Zen, selalu lupa untuk mencharger hapenya saat malam hari, sudah sering mengalami masalah gagal koneksi.


Pernah Ziva sampai melihat sendiri hape milik Zen saat berada didalam kelas, dan memang baterainya kosong.


Zen sendiri cuma bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, saat dihadapkan dengan permasalahan dimana Ziva cemberut, menekuk wajahnya.


Sampai sekarang, Zen belum pernah menyatakan perasaannya kepada Ziva, sedangkan Ziva setiap hari selalu berusaha untuk mencari perhatian dan memperhatikan Zen.


Dalam hal ini Zen tidak salah, karena Zen memang belum ada perasaan layaknya perasaan suka kepada lawan jenisnya, karena Zen masih fokus dengan mengejar mimpinya.


Yang tidak Zen sadari, sikap dinginnya dalam membalas perhatian lawan jenisnya, membuat kesan tersendiri bagi lawan jenisnya.


“..pasti deh itu anak sedang haha-hihi sama anak bupati yang kecentilan itu, huftt!”


“..atau jangan – jangan Zen sudah dinikahkan sama anak bupati!”


“..aaakggghhhh!!!”


Ziva terlihat mengacak-acak rambutnya sendiri tanda kekesalannya.


“..Ziva..ayoo makan dulu!!” teriak ibunya dari luar pintu kamarnya.


“..nanti saja buu.. Ziva lagi malas makan..!” jawab Ziva tidak bergeming dari tempat tidurnya.


{tok..tok}


{ceklekkk}


Pintu diketuk kemudian terbuka.


“..yaah ibuu, Ziva masih belum mau makan buu...”Ziva terlihat kembali tidak bergeming dengan ajakan ibunya untuk makan.


“..tidak baik menunda makan, lihatlah ayahmu sudah siap dimeja makan!”


“..bukannya kebiasaan kita selalu makan bersama!”


“..ada apa sih anak kesayangan ibu ini?!”


“..jangan-jangan bener ini, kamu lagi jatuh cinta ya sama Zen?!”


Ibunya terlihat membombardir Ziva dengan segala hipotesisnya.


“..eeuuhmmm!!” Ziva terlihat menganggukkan kepalanya, tanda setuju dengan hipotesis ibunya.


Sejak kecil Ziva paling tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari ibunya.


Hal sekecil apapun selalu dirinya bagi dan ceritakan dengan ibunya.


“...owalaah!”


“..wajar siih, apalagi Zen kan multi talenta!”

__ADS_1


“..udah ganteng, pinter, beladirinya jago, badannya tinggi, wajahnya mirip oppa korea lagi!”


Ibunya Ziva terlihat semakin meninggikan status Zen dimata Ziva.


“..ibuuu...iiihhhh!”


Ziva terlihat malu mendengar semua yang dibicarakan oleh ibunya.


“..tapi kamu mesti berlapang dada, banyak ibu-ibu tadi yang mau menjadikan Zen menjadi menantunya lho!”


“..hah!!”


“..kamu siap engga kalo nantinya Zen punya banyak istri!”


“..hah!!!”


Ziva semakin dibuat terkejut dengan pernyataan terakhir ibunya.


“..sudah-sudah, nanti dibahas lagi, ayah sudah nungguin makan itu lho!”


“..euhmmm”


Akhirnya Ziva mau beranjak dari tempat tidurnya yang sudah terlihat acak-acakan, akibat pelampiasan Ziva yang sedang kesal.


Dengan bergelayut manja, Ziva membawa Hapenya berjalan menuju meja makan, disana ayahnya sudah menunggu untuk makan bersama.


Ibunya memberikan kode kepada ayahnya Ziva secara sepintas.


Kedua orang tua yang memang dibesarkan dengan rasa disiplin dan kekeluargaan tinggi itu saling mengerti permasalahan anak mereka.


Baru juga Ziva mau mengambil nasi, tiba-tiba hapenya bergetar dan langsung memunculkan wajah Zen sedang membaca buku tebal tentang dunia medis, berlatar belakang rak buku perpustakaan.


“..eh!”


Ziva buru-buru mengambil hapenya dan langsung berlari kearah kamarnya.


“..anak muda ya buu!” ujar ayahnya Ziva berkomentar.


“..issh.. emang ayah engga pernah muda saja?! Sama tuuh!!”


“..hehehe!”


Lima menit berselang, Ziva sudah kembali kemeja makan dengan wajah yang berseri-seri, meski hanya lima menit, cukup bagi Ziva yang sedang kegilaan dengan sosok Zen.


“..ciyeee... ada yang engga ngambeg lagi niih?!”


Ayah Ziva mencoba menggoda anak perempuannya.


Ziva yang kini terlihat bahagia, segera mengambil makanan dengan jumlah yang sangat banyak.


“..eeh..eee! habis nrima telp apa habis nguras sumur tuuh! Makan sampe sebegitunya!”


Tegur sang ayah lagi.


“..apaan sih ayah, Ziva kan lagi masa pertumbuhan yah, jadi harus banyak makan!”


“..pertumbuhan atau pertumbuhan?! Tumbuh yang mana niih?! Bisa ya ? Ruang hatinya yang sedang berbunga, tapi makannya seperti habis nguras sumur saja!”


Kembali sang ayah usil menggoda Ziva yang terlihat masa bodoh, Ziva langsung saja memakan pilihan menu yang telah diambilnya sambil sesekali tersenyum sendiri.


***


Zen yang sudah tiba didalam rumahnya, beberapa waktu yang lalu dirinya menyempatkan diri untuk menghubungi Ziva, Zen yang mendapat jawaban jikalau Ziva lagi makan bersama kedua orang tuanya langsung saja memutuskan sambungan jarak jauhnya, namun berpesan.


“..makan yang banyak yaa! Kamu cantik kalo banyak makan!”


Pernyataan yang langsung membuat Ziva kalap dan ingin makan banyak!


Begitulah Zen, sendirinya tidak paham terkait bahasa perempuan, ditambah sang perempuan sedang menaruh hati kepadanya.


Setiap apa yang dikatakan Zen langsung menjadikan sebuah perintah mutlak untuk dikerjakan.


Saat pulang dari acara Zen diantarkan oleh bapak Bupati yang ingin melihat kediaman Zen. Karena menurut informasi yang telah dikumpulkan dari staffnya, Zen memiliki tempat usaha mandiri dibidang recyle atau waste management.


Selama satu jam lamanya bapak Bupati dan beberapa anggota dewan yang ikut melihat usaha milik Zen dibuat kagum, hampir mirip dengan kunjungan bos besar pabrik recycle beberapa hari yang lalu.


Tidak saja bapak Bupati, putri semata wayangnya juga terlihat semakin ingin kenal dekat dengan Zen.


“..tambah lagi...” gumam Zen ketika anak gadis bapak bupati secara pribadi meminta nomor kontak Zen, dengan alasan ingin belajar bisnis!


Karena kunjungan tadi adalah kunjungan tidak resmi, nantinya pihak kantor pemerintahan akan kembali berkunjung guna melihat-lihat proses bisnis Zen secara lebih detail lagi.


setelah Zen menyetujui terkait waktu yang akan disediakan, rombongan kemudian pamit undur diri.


“..tuan muda!”


Shelli terlihat memanggil Zen yang terlihat fokus dengan monitor laptopnya.


“..ada apa shelli?!” Zen terlihat masih tidak menoleh kearah shelli, karena dirinya sedang mengutak-atik laptop miliknya guna melihat laporan kinerja 1000 lapaknya.


“..tuan muda sibuk sekali! ya? Ada yang perlu shelli siapkan?!”


“..makan malam? Juice? Minuman dingin?” kembali shelli bertanya

__ADS_1


“..oh, ini kebetulan lagi memeriksa laporan dari 1000 lapak shelli, masalah makan nanti dulu ya! Lagian masih kenyang saya!” jawab Zen dengan masih melihat layar laptopnya.


“..padahal sudah memakai pakaian minim bangeed, eeh masih juga engga tergoda!” gumam shelli.


Shelli yang sangat digandrungi oleh para pekerja Zen, yang notabene adalah makhluk sefrekuensinya, terlihat masih berusaha untuk berharap bisa dibuahi oleh Zen.


Semakin hari pakaian maid Shelli beraneka ragam.


Kadang hanya menggunakan penutup selotip warna hitam saja untuk menutupi dua pucuk gunungnya serta area sensitifnya tepat digaris tengahnya, bisa dibayangkan pepaya gantung 36FF itu terlihat bebas bergerak kesana kemari saat dirinya mengelap meja-kursi tempat Zen bekerja.


Belum lagi bemper yang memang terlihat begitu bohai itu selalu bergoyang saat dirinya bekerja.


Zen yang sudah tahu godaan imron dari shelli, namun tidak pernah menanggapi.


Shelli tadinya adalah korban bunuh diri yang pada akhirnya rohnya bergentayangan.


Shelli bunuh diri karena menghindari para penjahat yang hendak memerkosanya.


Adapun shelli dulu semasa hidupnya, sangat tergila – gila dengan yang namanya drakor oppa korea, karena tuan mudanya sekarang memiliki paras yang sebelas dua belas, mirip dengan oppa korea, maka shelli ngebet banged ingin segera dibuahi oleh tuannya sendiri.


Malam ini Zen ada undangan disebuah hotel berbintang dikota sebelah.


Undangan yang diberikan oleh salah satu pabrik yang ada diluar negri, pabrik yang bergerak dibidang yang sama dengan Zen, waste management!


Si bule berencana untuk menjual pabriknya karena alasan sudah tua, dan tidak ada memiliki penerus.


Zen sendiri mendapatkan kontak nomornya dari salah satu suppliernya diluar negri.


“..tuan muda mau keluar rumah?!” sapa shelli yang melihat Zen sudah menggunakan baju jumper trendi yang semakin menambah kegantengannya.


“..iya, ada pertemuan dengan rekan bisnis dikota sebelah!” jawab Zen singkat dan langsung berjalan keluar rumah.


“..hati-hati tuan muda!” teriak shelli dari dalam rumah.


“..euhmm!” ujar Zen sambil menganggukkan kepala.


Zen yang berjalan keluar rumah, belum satu langkah sudah menghilang.


“..tuan muda memang pribadi yang luar biasa!”


“..ayo shelli semangaat!! Besok pagi goda lagi imron tuan muda!!” tekad shelli sambil mengepalkan tangannya menyemangati dirinya sendiri.


Shelli sudah membeli bermacam kostum secara online lewat aplikasi orange di hape yang dibelikan Zen minggu lalu.


Adalah kostum perawat minim, kostum aparat minis, kostum dosen minim, kostum BeDeEsEm minim, dan berbagai macam kostum yang bertujuan mempertontonkan semua aset tubuhnya.


Shelli hanya menggunakan kostum-kostum minim itu didalam rumah saja, hanya untuk menggoda Zen, dan tidak berlaku untuk keluar bangunan rumah.


Bener-bener niat ini si shelli!!


{zlappp}


Zen yang sudah tiba dilokasi tujuan dengan mempergunakan kemampuan teleportasinya, langsung mencari tempat pertemuan yang sudah ditentukan.


“..stopp!”


“..ini adik mau kemana?!”


Tanya satpam yang terlihat memberhentikan Zen ketika hendak masuk kedalam ruangan khusus hotel.


“..maaf pak, saya ada tamu didalam sudah ditunggu beliau ini!”


Dan akhirnya drama tarik ulur yang sangat klasik pun terjadi, hanya karena Zen terlihat seumuran anak SMA yang belum boleh memasuki ruangan khusus hotel.


Setelah tamu Zen dipanggil melalui panggilan hape dan keluar menyambut Zen, barulah satpam hotel memperbolehkan Zen untuk masuk kedalam.


“..maaf tuan muda Zen atas permasalahan tadi?!”


“..tidak masalah tuan Lee!” ujar Zen dengan sopan.


Pabrik recycle yang ingin dibeli Zen berada di negara oppa gangnam style.


Dengan keberadaan pabrik yang masih berjalan, namun minim pendapatannya, karena pangsa pasar negaranya yang sangat tidak adil dalam pengaturannya.


Zen tertarik karena nantinya pabrik itu akan menghasilkan biji plastik yang akan dibeli oleh pabrik dalam negri dengan harga yang relatif mahal.


Setelah lama berdiskusi, akhirnya kedua orang beda usia itu terlihat sudah sepakat dan saling menuangkan tanda tangannya kedalam kertas perjanjian jual beli kepemilikan pabrik.


Rencananya dua minggu lagi Zen akan pergi kenegara gingseng untuk diperkenalkan dengan para karyawan serta staff yang bekerja.


Kenapa Zen pergi dua minggu kedepan? Karena minggu depan Zen akan melakukan WD rekening RDN nya, target perdagangan sahamnya sudah terpenuhi.


“..anda masih sangat muda, tapi luar biasa !”


Kalimat penutup yang dilontarkan oleh Mr. Lee guna menyanjung Zen yang sudah berada diluar pintu utama hotel hendak berpamitan.


“..tuan lee bisa saja, saya masih harus banyak belajar sama Mr. Lee, jadi mohon bimbingannya!” jawab Zen sambil menundukkan badannya 90 derajat.


Tidak ada lagi diskusi yang diperlukan, sampai Zen berjalan kaki meninggalkan pelataran hotel dengan begitu santainya.


“..anak muda yang sungguh luar biasa!” gumam Mr. Lee pada dirinya sendiri.


Zen pun terlihat sudah hilang dari pandangan Mr. Lee yang memiliki permasalahan Rabun Jauh.

__ADS_1


__ADS_2