
{brakkk}
Pintu sebuah ruangan dibanting dengan sangat keras sekali, pelakunya adalah laki-laki usia 40 tahun keatas dengan badan penuh dengan tatoo.
“..bangggsaattt!! siapa orang yang telah membunuh si Carlos!”
Carlos adalah salah satu ketua kelompok illuminati yang berasal dari negeri anggur di eropa.
“..tidak hanya itu, sekarang seluruh dunia memburu keberadaan kita!” ujar salah satu pentolan ketua kelompok yang terlihat mempergunakan wig dan kacamata lebar warna orange lensanya.
“..yap benar!” satu lagi mengiyakan.
Diruangan telah berkumpul 6 ketua tersisa dari kelompok illuminati yang melegenda.
Kelompok ini memiliki jaringan sindikat yang mampu memberikan data-data terbaru, sehingga mereka selalu lolos dari pihak imigrasi 200 negara.
“..sebaiknya kita segera memburu orang yang telah berhasil merampok semua harta di rekening kita yang ada di bank offshore!”
“..tanpa dana tersebut, kita tidak akan bisa lagi membayar biaya hidup!”
“..hacker milikku juga sudah tertangkap oleh interpol!”
“..jangan salah, orang interpol yang selama ini memback up kita juga sudah wassalam!”
Sesaat suasana kembali hening tanpa ada sepatah kata yang keluar dari keenamnya.
“..kita harus bersabar dengan keadaan!”
{klintiinggg}
Suara logam emas saling beradu.
“..untung aku sempat memindahkan beberapa aset dari akun bank offshore dengan membeli emas batangan ini!”
“..tangkap!!”
“..huppp”
{tappp}
Satu persatu mereka menerima satu buah emas batangan dengan berat 1 kilogram masing-masing. Jika dirupiahkan emas batangan itu senilai 1 Milyar.
Cukup untuk biaya hidup mereka berenam selama dalam masa pelarian.
“..aku akan berusaha untuk kembali melakukan screening, terkait ada tidaknya rekening kita yang lolos dari perampokan si hacker, dan ingat, aku tidak akan memberikan ampun jika sudah mengetahui pelakunya!”
“..baguslah edward, kamu adalah harapan kami berlima sekarang!”
“..euummmhnnn!!” anggukan orang yang dipanggil dengan nama edward.
Selama lebih dari ratusan tahun 7 keluarga itu telah turun – temurun membentuk kelompok illuminati, kelompok itu telah berhasil meraup keuntungan yang sangat luar biasa.
Adalah Zen yang telah memindahkan semua isi didalam rekening bank offshore mereka, tanpa menyisakan satu senpun.
***
Hari ini Zen dipanggil oleh ayahnya Clara untuk datang ke rumah sakit internasional.
“..jadi begitu nak Zen, apakah sekiranya nak Zen ini bisa membantu saya untuk segera berangkat ke negeri panda lusa?”
Siang itu ayahnya clara meminta Zen, atas nama rumah sakit internasional, untuk menghadiri seminar internasional di negeri panda.
“..baiklah senior, saya akan membantu senior untuk menjadi keynote speaker, terkait apa yang telah kita lakukan beberapa minggu yang lalu!”
“..waah,..terimakasih, banyak terima kasih!”
“..jangan khawatir, semua akomodasi dan biaya perjalanan semua ditanggung oleh rumah internasional!”
“..aah, baiklah senior, saya tidak akan sungkan nantinya!” jawab Zen.
“..aku ikut!” tiba-tiba Clara langsung mengajukan diri untuk ikut.
“..eumnnn!” ayahnya clara terlihat menggantungkan pembicaraannya sebentar.
“..boleh kan ayah, aku ikut Zen ke negeri panda lusa?!” tatapan Clara terlihat sangat memelas dan berharap.
“..yelaaah...yelaaah, kamu boleh ikut! Tapi, jangan sampai merepotkan nak Zen kamu selama disana!” ujar ayahnya Clara.
“..apaan sih ayah, sudah gede ini juga!” Clara merasa seperti di anak kecilkan dengan gaya bicara ayahnya.
“..euhmmmnn!!” anggukan kepala ayahnya clara menandakan izin diberikan.
“..yeay!!! asyiikkkk...jalan-jalan ke negeri panda!” clara terlihat bahagia sambil memeluk ayahnya didepan Zen.
Zen yang melihat kehangatan keluarga didepannya menjadi sangat iri, namun segera menguasai diri, karena langit sudah begitu baik membalikkan kondisi kehidupannya, jadi Zen sangat bersyukur dengan apa yang ada didirinya saat ini.
Zen dan Clara terlihat berjalan melewati koridor rumah sakit, disana banyak perawat dan dokter yang sedang bertugas terus menyapa mereka berdua, bahkan tidak jarang yang membicarakan keduanya.
“..kita mau kemana sekarang?!” tanya clara pada Zen.
“..mulung!”
“..hah!” Clara terkejut
“..iya, pekerjaanku kan mulung botol bekas! Kamu menyesal mengenal aku?!” tanya Zen dengan pandangan yang bertanya-tanya.
“..siapa takut! Yuk, kemana kita mulung?!” Clara terlihat langsung menanggalkan jas putihnya lanjut melipatnya dengan rapi bersiap untuk ikut Zen.
__ADS_1
“..hehehe..itu dulu sayang, sekarang itu yang mulung sudah ada bagiannya sendiri, jadi aku hanya mau lihat lapak terdekat disekitar sini, setelah itu, aku berencana pergi ke bank swasta terbesar di konoha ini” ucap Zen sambil membelai garis pipi dokter clara yang terlihat serius dengan omongan Zen barusan.
“..hiiiuuuff..huuu!”
Clara yang mengira jikalau Zen beneran sebagai pemulung langsung menghela nafas kasarnya.
{dappp}
Pintu mobil ditutup dari arah dalam saat keduanya sudah masuk kedalam mobil.
{vrooomm}
Mobil yang ditumpangi mereka mulai meninggalkan pelataran rumah sakit menuju lapak pengepul botol rongsok yang ada disekitar rumah sakit internasional.
Tidak lebih dari sepuluh menit perjalanan mereka, sehingga tidak ada banyak diskusi yang tercipta.
{dapp ...brakk}
Pintu mobil terbuka dan kembali tertutup ketika Zen telah tiba dilokasi yang cukup luas dan muat untuk parkiran ukuran 4 mobil yang sama.
“..ii-ini usahamu Zen?!” Clara terlihat tidak percaya melihat lahan yang luasnya hampir 1200m2 itu terlihat rapi, dengan 10 kontainter yang ditata rapi sebagai area penyimpanan serta banyaknya para pemulung yang berkumpul menyetorkan hasil kerjanya untuk ditimbang kemudian dibayar.
“..yuk masuk!” ujar Zen mengajak Clara masuk.
Mereka berdua pun masuk kewilayah kerja dengan diikuti tatapan mata dari berbagai pemulung yang menunggu untuk ditimbang barangnya.
“..benar kan kalo aku pemulung!” ungkap Zen ketika Clara melihat sekelilingnya.
“..iyaa pemulung dolar!” ujar Clara yang terlihat sewot karena Zen masih saja merendah meski didepannya.
“..tuan muda sudah datang?!” terlihat seorang wanita muda dengan kulit bersih kemudian rambutnya diikat dibelakang layaknya ikatan ekor kuda.
Yang membuat clara panas hatinya, Shella yang berpakaian kerja, namun terlihat sekali jika pakaiannya sudah tidak bisa menampung lingkar dadanya, hingga dua bongkahan gunung 36FF itu terlihat menyumbul.
“..siapa tuuuh?!” Clara berbicara dengan kesan cemburu.
“..oh ya, shella kenalkan ini pacar aku, namanya Clara, dia dokter sekaligus dosen dikampusku!” ucap Zen memperkenalkan Clara.
Clara yang mendengar omongan Zen langsung saja tidak jadi emosi, lanjut cengar cengir salah tingkah.
“..nona Clara saya shella, saya sekretaris tuan muda Zen untuk bisnis recycle ini!” sapa Shella dengan sopan.
“..hai,..salam kenal yaa!” Clara terlihat langsung nyetel dengan Shella.
Keduanya langsung pergi begitu saja, lebih tepatnya Clara yang menarik tangan Shella untuk menjauh dari lokasi.
“..wanita memang aneh, tadi saja keluar tanduknya, giliran sekarang main pergi saja, merepotkan memang!” ujar Zen bergumam dengan dirinya sendiri.
Zen langsung masuk kedalam ruangannya, disana dirinya mulai menyalakan monitor untuk melakukan pengecekan terkait system recycle yang katanya shella bermasalah.
Satu menit..
Sepuluh menit..
“..selesai!”
Akhirnya Zen telah menyelesaikan aktivitasnya, untuk memperbaiki kerusakan system dan memberikan beberapa bahasa pemrograman terbaru untuk menghindari hal serupa terjadi dikemudian hari.
{ceklek}
Pintu ruangannya terbuka dari arah luar.
“..naah kan tuan muda disini!” shella terlihat mengantarkan Clara untuk masuk kedalam ruangan Zen.
Dengan wajah ditekuk, wajah mode jutek, Clara duduk disofa depan meja kerja Zen, menyilangkan tangannya dibawah dadanya.
Zen yang melihat Clara sedang ngambek, dibiarkan saja dan tidak ingin mengganggunya.
Beberapa puluh menit lamanya Zen masih saja diam dengan melihat layar monitor laptopnya untuk melihat perkembangan bisnisnya lewat jaringan system yang telah dibuatnya ketika berada di negeri gingseng.
Zen juga sibuk membalas beberapa email serta chatting dari Toni yang memberitahukan jikalau dalam minggu ini dirinya akan berada di China dalam rangka turnamen gangster sedunia.
Toni yang sudah diberikan Zen pil pembuka kemacetan kultivasinya, saat ini, bisa dikatakan jikalau Toni adalah kekuatan terkuat di negeri Gingseng.
“..eheummnnn!” Clara terlihat berdehem memecah kesunyian.
Zen kemudian menoleh kearah Clara.
“..jadi, kapan kamu akan mulai terbuka dengan semua identitas pribadimu padaku Zen?!”
“..ada shella, shelli, Gebi,..terus siapa lagi setelah ini?!” Clara mulai berbicara.
{sreeekkk}
Zen terlihat menggeser tempat duduknya kebelakang, lantas mengambil minuman dingin vermentasi yang tinggi akan kandungan vitamin C yang baik bagi kesehatan kulit wanita.
“..ini minum dulu!”
Ucap Zen sambil menyodorkan minuman dingin digenggaman tangannya.
{cesss}
Penutup botol minuman vermentasi vitamin C dosis tinggi itu terbuka dan mulai mengeluarkan bulir – bulir dingin yang langsung naik keatas, pemandangan itu terlihat jelas dalam botol kaca beningnya.
“..aku dulu, bukanlah orang seperti yang kamu lihat sekarang, sayang!” ucap Zen sambil membelai rambut indah Clara.
Mulailah Zen bercerita tentang latar belakangnya, tidak ada yang ditutup-tutupi sama sekali, beberapa kali Clara terlihat meneteskan air mata, ternyata sosok Zen yang sekarang jauh bertolak belakang dengan sosok Zen dua tiga bulan yang lalu.
__ADS_1
{bukkk}
Clara langsung memeluk Zen dan tidak ingin melepaskannya.
Ada perasaan yang susah diungkapkan dengan kata-kata saat Clara memeluk Zen begitu erat.
“..hiks!..”
“..mulai sekarang, aku adalah keluargamu, kamu adalah calon suamiku! Mama dan ayahku adalah keluargamu juga!”
“..kamu tidak sendiri lagi!”
Dengan sesenggukan Clara terlihat mengeluarkan semua ungkapan isi hatinya dengan begitu tulus.
“..terimakasih!” Zen hanya memberikan jawaban singkatnya.
Setelah mereka berpelukan dan saling menumpahkan semua beban perasaan mereka masing-masing,
“..katanya mau ke bank! Sudah jam berapa ini!?” ujar Clara yang sudah merapikan kembali baju atasan dan bawahannya yang terlihat kucel.
“..iyaa, yuk, bukan masalah besar jika terlambat!” ucap Zen.
Keduanya langsung meninggalkan ruangan kerja Zen, dan menyempatkan diri untuk memberikan beberapa penjelasan pada Shella yang semakin hari, semakin terlihat cerdas dalam mengurus 1000 lapak yang tersebar diberbagai kota di negara konoha.
{vrooommm}
Suara klanpot mobil Clara membelah jalanan kota besar menuju kesebuah gedung berlantai 126meter tingginya.
“..selamat datang tuan Zen!” satpam yang membukakan pintu mobil Zen langsung terlihat memberikan sambutan.
“...hah!” Clara kembali terkejut dan meminta jawaban dari Zen lewat pandangan matanya.
“..udah, nanti aku jelaskan! Kita masuk dulu”
Dengan penyeranta radionya, satpam menginformasikan kedatangan Zen pada petugas yang berjaga didalam gedung.
Terlihat semua petugas keamanan dan para pegawai berjejer rapi layaknya memberikan penghormatan pada Zen.
“..selamat datang tuan muda Zen!” kompak mereka semua menundukkan badan mereka 90 derajat, setengah badannya membungkuk sempurna ketika Zen melewati lorong barisan mereka.
“..terima kasih!” dengan senyumnya Zen yang diikuti oleh rasa penasaran Clara Zen yang menggandeng lengannya, berjalan dengan sangat mantap menuju lift ruangan yang sudah bersiap mengantarkannya kelantai tertinggi.
“..kita mau kemana?! Dan kamu Zen, berhutang banyak penjelasan apalagi ini!” ujar Clara yang setengah mencubit pinggang Zen.
“..aduh, jangan dicubit doong!” Zen terlihat memasang aksi kesakitan sambil menoel hidung mancung Clara.
{tinggg}
Suara pemberitahuan jika mereka sudah tiba dilokasi lantai tujuan lift ruangan, membuat mereka bersikap profesional.
“..selamat datang tuan muda dan Nona” ucap sosok perempuan muda dengan umur yang hampir sama dengan Clara memakai seragam kebanggaan bank swasta terbesar dinegara konoha.
“..silahkan tuan muda!” sambil tangannya sopan menunjukkan arah ruangan.
{ceklek}
Pintu terbuka dari arah luar.
“..selamat datang Tuan Muda!” kompak satu ruangan berdiri dan membungkukkan badan mereka dalam 90 derajat guna memberikan penghormatan pada Zen.
Clara semakin merasa tidak enak dan tidak pantas, apalagi dengan pakaian yang melekat dibadannya ketika mendapati semua undangan yang membungkuk hormat pada diri Zen, semuanya berpakaian sangat rapi dan licin.
“..silahkan tuan muda, nona!”
Zen dan Clara terlihat duduk ditempat yang sudah dipersiapkan oleh pihak manajemen bank.
Keduanya mengikuti semua runtutan acara penyambutan Zen dan sekaligus memperkenalkan Zen kepada pemegang saham yang lainnya, bahwa Zen adalah pemilik mayoritas saham serta pemegang tertinggi kekuasaan dan kebijakan yang ada di bank swasta terbesar di konoha.
Acara penyambutan yang terlihat sederhana namun sangat kidmat adalah konsep acara yang diminta oleh Zen.
Tadinya tuan besar pemilik sebelumnya ingin memberikan kesan kemewahan, namun Zen dengan keras menolaknya dengan alasan pemborosan.
Tidak ada yang bisa menolak perintah dari pemilik saham terbesar.
Clara semakin malu berdiri disamping sosok Zen, dirinya merasa tidak mengenal Zen sama sekali, apalagi setelah mengetahui jatidiri Zen yang terbaru, yaitu, sebagai pemegang saham terbesar bank yang selama ini atmnya sering dipakai berbelanja.
“..terima kasih atas kedatangannya tuan muda Zen, tolong sering-sering datang ke gedung kita!” ucap berbagai pihak yang melihat Zen sudah ingin berpamitan.
Setelah bertukar beberapa puluh kata, Zen dan Clara terlihat meninggalkan ruangan dan kembali masuk kedalam lift ruangan yang khusus diisi mereka berdua.
“..kenapa begitu? kok diam dari tadi?!” tanya Zen sambil memegang dagu Clara.
“..kkamu! apalagi yang kamu sembunyikan Zen?! Bahkan identitas sebesar ini saja masih kamu sembunyikan ke aku!” Clara terlihat ingin meraung nangis sejadi jadinya, namun dirinya berusaha untuk tetap tegar.
“..nanti juga akan tahu sendiri, katanya mau jadi pasangan aku! Bersedia menerima apa adanya aku! Terus, sekarang sudah nyerah begitu ?”
“..ga!” dengan setengah melotot Clara langsung mencubit pinggang Zen dengan begitu lama.
“..addduuhhh duuuh..s-a-k-i-t!” Zen mengaduh kesakitan.
“..maaaf...!”melihat ekspresi Zen yang kesakitan, langsung Clara mengelus pinggang pemuda yang telah memberikan banyak kejutan padanya hari ini.
{tinggg}
Lift ruangan terlihat terbuka dan keduanya segera keluar.
Kembali penyambutan penghormatan barisan para karyawan dilantai bawah diberikan disepanjang jalan menuju mobil milik Clara yang terparkir rapi penuh dengan pengawalan petugas keamanan yang berjaga dikiri dan kanannya.
__ADS_1