PEMULUNG SUKSES

PEMULUNG SUKSES
Zen yang berubah


__ADS_3

Setelah menerima hasil penjualannya Zen langsung kembali kearah gubug reotnya.


Beberapa waktu yang lalu gubug reot milik kakek Zen ini sudah ikut didalam proses sertifikasi yang digalakkan oleh negara secara beramai-ramai, sehingga lahan gubug reot yang berukuran 300x400meter persegi itu kini sudah ada surat tanahnya dengan status hak milik atas nama kakek Zen.


Suasana sepi dan gelap membuat perjalanan Zen ekstra hati-hati.


“..berhenti!!”


Tiba-tiba saja dari arah depan Zen, muncul lima orang bertopeng menghadang perjalanannya.


“..apa mau kalian?!” tanya Zen dengan lantang.


“..bocah! sini serahkan atm dan sebutkan pin mu!”


“..kalo tidak! Nyawamu bakal melayang!”


{sriiiingggg}


Lima gerombolan perampok itu terlihat mulai melancarkan aksinya dengan menggesekkan celurit diatas aspal jalan desa, sehingga percikan api terlihat sekelebatan.


Tidak ada rasa takut dalam diri Zen dengan pola intimidasi yang dilakukan kelima perampok didepannya.


“..ini aneh! Kenapa tubuhku ini merespon positif dengan kejadian perampokan ini!”


“..dan apa ini!?”


Zen merasakan tubuhnya menghangat, ada aliran memori terkait keahlian beladiri kuno yang langsung bersliweran didalam ingatannya, seolah-olah dirinya adalah seorang ahli beladiri kuno tersebut.


“..udah malih, jangan banyak bacot, keburu ada warga yang melihat!!”


“..hyaaaatttt!!"


{craaanggggg}...{pyaarrrr}


Senjata tajam berupa parang dan celurit itu terlihat langsung menargetkan bagian tubuh Zen.


Namun yang tidak diduga, benturan senjata tajam dengan tubuh Zen mengakibatkan senjata tajam itu langsung hancur berkeping-keping.


Layaknya kaca jendela yang pecah karena dihantam benda keras.


“..bb-bagaimana bisa!!”


Kelima perampok langsung terpaku ditempatnya karena tidak bisa bergerak.


Tubuh mereka seperti ditindih pemberat dari arah atas.


{bugggkkk}


Pukulan dilayangkan Zen langsung mengenai perut salah satu perampok yang posisinya paling dekat dengan dirinya.


{tuiiiingggg}


Tubuhnya langsung terlempar jauh keatas langit seperti menendang bola sepak.


“...aaaakhhhhh”


Lolongan teriakan terdengar melengking keras lalu lama kelamaan hilang.


{brukkkk}


Bersimpuh!!


“..ampuuun tuan.. tolong ampuni kami!!!”


Mereka berempat yang tersisa langsung menyembah Zen dengan sangat ketakutan, hingga kencing dicelana.


{bugggkkkk}....{tuiiingggg}


{bugggkkkk}....{tuiiingggg}


{bugggkkkk}....{tuiiingggg}


{bugggkkkk}....{tuiiingggg}


Dengan bergerak cepat Zen bisa langsung berpindah dibelakang mereka berempat yang masih menyembah dirinya, satu persatu langsung ditendang oleh Zen dengan sangat keras dibagian pantatnya,


“...aaaakhhhh!”


Pantat mereka seperti dipukul benda tajam dengan sangat kuat, bahkan tulang ekor mereka dipastikan hancur remuk hingga tidak bisa berjalan lagi.


“..sampah masyarakat seperti kalian memang harus dihapus keberadaaanya!” ujar Zen yang gemas melihat kelimanya.


{plok...plok..plok..}


Zen menepuk kedua telapak tangannya seolah – olah sedang membersihkan diri dari kotoran yang menempel ditelapak tangannya.

__ADS_1


“..lumayan dapat motor 2 biji !!”


“..mana motor Rx King lagi!” ujar Zen yang kemudian dengan mudahnya menggotong dua motor dikedua lengan bahunya.


Melihat kanan kiri aman tidak ada orang.


{wuuuzzz}


Zen langsung bergerak dengan sangat cepat menuju gubug reotnya.


Dua buah motor RX king itu Zen tutupi terpal yang sama dengan botol botol bekas miliknya.


Sambil bersiul riang, Zen segera masuk kedalam rumah dan membersihkan tubuhnya yang sudah terlihat penuh dengan keringat.


***


Sementara itu disebuah ruangan, terlihat sosok paruh baya mondar mandir kesana kemari gelisah menunggu berita.


“..kemana ini lima preman bahlul! Lama amat mengerjakan tugas yang sederhana!”


“..siapa pi?! Keliatannya papi gelisah bener dari tadi!” istri pak burhan terlihat curiga dengan gelagat suaminya yang mondar-mandir didepan rumahnya.


“..isssh, apaan sih mi, ini si lima bloon belom balik juga, papi kasih tugas dari tadi, mana engga ada kabar beritanya lagi sampai jam segini!” ujar pak burhan penuh curiga.


“..ow kirain papi sedang tunggu telepon janda bahenol kampung sebelah yang lagi viral itu!” jawab ketus istrinya pak burhan yang masih curiga dengan tabiat lakinya.


“..ada saja mi..mi..! sudah sana masuk, urusan laki – laki ini, mami engga boleh ikutan! Husssh...sana-sana!!” ujar pak burhan mengusir istrinya pergi masuk kedalam rumah.


“..awas ya papi kalo main gila sama janda sebelah, aku potong habis itu torpedo, bodo amatan!!” ancam istrinya pak burhan yang masih saja sewot, namun patuh masuk kedalam rumah.


***


“..dimana ini?!”


Tiba-tiba Zen berada disebuah ruangan serba putih dan terang. Dirinya celingukan kesana kemari melihat situasi.


“..selamat datang cucuku!” sosok sepuh dengan jenggot putih panjang menjuntai hingga menyentuh tanah terlihat berjalan dengan kedua tangan disembunyikan dibagian punggungnya.


“..maaf kakek ini siapa ya?! Kenapa manggil saya cucu?!” dengan sopan Zen bertanya.


“..anak baik...anak baik..”


“..kamu adalah keturunanku langsung, keturunan dari keluarga kuno Zen!”


Dan orang tua sepuh itu mulai bercerita siapa dirinya dan siapa sosok Zen sebenarnya.


{brukkkk}


Zen langsung bersimpuh dan menyembah hormat kakek leluhurnya.


“..anak baik... anak baik..”


“..mulai sekarang pergunakanlah ruangan dimensi jiwa ini untuk melatih kemampuanmu hingga ketingkat mahir!”


“..tapi kek, pastinya akan membutuhkan waktu yang sangat lama bukan untuk menguasai ketiga ilmu yang kakek telah turunkan!?”


“...hohoho... jangan khawatir cucuku, waktu didalam dimensi jiwa ini lebih cepat dibandingkan waktu normalmu diluaran sana!”


“..disini kamu juga bisa membawa semua benda mati dan hidup untuk mengisi dunia dimensi jiwa milikmu!”


“..benarkah itu kakek!?” Zen mulai kembali bertanya penuh harap.


“..euhmmm! 1 jam didunia luar sana, sama dengan 10 tahun didalam dunia dimensi jiwa milikmu ini!”


“..waaah, hebaaat!!!"


Zen berteriak kegirangan ketika kakek leluhurnya menginformasikan perbedaan waktu yang ada antara dunia luar dengan dunia dimensi jiwa miliknya.


Setelah berdiskusi hingga Zen merasa tidak ada lagi yang perlu ditanyakan, kesadaran Zen langsung dipindahkan kembali oleh leluhurnya.


{kukuruyuuuuukkkkk}


Suara ayam jantan berteriak dipagi fajar. Sekitar pukul 4 dini hari.


Karena Zen merasa sudah punya tabungan, dirinya sudah tidak perlu lagi berangkat kepasar untuk menjadi kuli panggul seperti biasa dirinya kerjakan.


Setelah bersih-bersih Zen mulai berolah raga olah pernafasan, seperti yang diajarkan oleh leluhurnya tadi malam.


“..hiuufff...huuuu!!”


Hembusan nafas kasar Zen mengakhiri prosesi kultivasinya.


“..energi dihalaman ini sangatlah tipis, aku mesti segera mencari bahan-bahan untuk membuat formasi pengumpul energi langit dan bumi, sehingga aku bisa segera meningkatkan tingkatan kultivasiku sesuai harapan leluhur”.


Terlihat Zen sudah mulai memahami tiga ilmu utama yang telah diturunkan kepadanya, tingkatan otak Zen yang super jenius membuat pemahaman atas tiga ilmu kuno kini sudah mendarah daging didalam memori otaknya.

__ADS_1


“..sebaiknya aku segera bersiap untuk pergi kesekolah! Nanti siang mampir ke toko hape untuk membeli hape smartphone biar bisa segera melipat gandakan uangku!” ujar Zen bersemangat.


Dengan kemampuan paranormal miliknya, Zen bisa melakukan cheat untuk melihat kejadian dalam kurun waktu seminggu kebelakang dan seminggu kedepan.


Tidak ada yang istimewa dengan aktivitas anak muda mandi dan berganti baju seragam sekolah.


Zen sengaja berangkat lebih pagi kesekolah, untuk membeli seragam di koperasi sekolahnya sekalian melunasi tunggakan spp nya.


Dengan menggunakan kemampuan teleportasi, Zen hanya perlu membayangkan ruang kelasnya saja..


{zlappp}


Zen secara instan sudah berpindah kedalam ruangan kelas miliknya. Jam dinding dikelasnya menunjukkan pukul 6 lewat dua menit dipagi hari.


{braakkkk}


Terlihat pintu kelas terbuka dari arah dalam, adalah Zen yang membuka dengan cara paksa hingga membuat lubang kunci menjadi rusak.


Zen segera berlari kecil menuju koperasi yang selalu buka lebih awal.


“..pagi bu..saya mau beli seragam sekalian membayar tunggakan spp saya!”


“..eh busyeeetttt!!!”


“..ngagetin saja ini bocah pagi-pagi!”


Ibu penjaga koperasi terlihat kaget sekali, sampai dirinya terjatuh dari kursi tempat duduknya.


“..maaf, maaf buuk, saya mengagetkan!”


Setelah melakukan transaksi dan Zen menerima tanda terima serta seragam baru yang sesuai ukuran badannya, Zen pamit undur diri.


“..dari mana munculnya itu bocah ya, tiba-tiba saja nongol!” gumam pelan ibu-ibu penjaga koperasi sekolah masih bingung memahami.


Jam 6 lewat 30 menit Zen sudah berganti baju seragam sekolah dan sudah duduk rapi di kursi tempat duduknya.


“..eh tahu engga! Ada murid baru yang duduk dibangku milik si gembel!”


“..siapa?!”


“..mukanya mirip oppa korea!! Ganteng bangeedd!!”


Beberapa murid perempuan terlihat saling melempar issue dipagi hari, membuat banyak cewek cewek yang langsung mengerubuti jendela kelas Zen.


Zen yang terlihat cool dan tidak bereaksi malah membuat penggemar dadakannya meleleh.


{klonteengg...} {klonteengg...} {klonteengg...}


Bel bunyi masuk kelas terdengar, para murid yang tadinya mengerubungi kelas Zen langsung bubar dengan masih membawa rasa penasaran mereka masing-masing.


“..kamu siapa!?” tanya bu Riska guru Fisika yang pagi itu akan mengajar kelas Zen.


“..saya Zen buuk!” jawabnya dengan lantang!


Langsung seisi kelas menjadi gaduh, karena cowok keren yang mereka bicarakan adalah Zen yang selalu mereka cemooh sebagai si gembel dan si lusuh.


“..diaammm!!”


Buguru Riska langsung mengamankan kegaduhan kelas.


“..apakah kamu melakukan operasi plastik Zen! Kenapa wajahmu bisa berubah? Kulitmu juga terlihat lebih bersih!” kali ini buguru Riska tidak sabar bertanya mewakili rasa penasaran seisi kelas.


“..saya hanya mempraktekkan hidup bersih saja buguru! Karena saya sudah memiliki sedikit uang untuk mengubah diri, itu saja!” jawab Zen dengan sopan dan bijak.


“..ooowwh, baguslah kalo begitu! Pertahankan perubahanmu Zen, karena banyak yang mulai menggemarimu sekarang!” ujar buguru Riska.


Pembelajaran dikelas pagi itu mulai berlangsung aktif, bukti jikalau sosok pemuda yang ada dibangku memanglah Zen juga sudah dibuktikan ketika buguru Riska memberikan soal kepada Zen dan seperti biasa Zen bisa langsung menyelesaikan dengan jawaban sempurnya.


Saat jam istirahat, Zen yang biasanya keperpustakaan kini mulai mencoba untuk duduk dikantin.


Selama dirinya duduk sudah puluhan cewek cewek yang bersliweran didepannya sambil mengagumi ketampanan wajahnya yang sangat mirip dengan oppa korea.


{bukkk}


Tiba-tiba didepan meja Zen ada tumpukan buku tebal ditaruh.


“..oh sekarang, kantin tempat tongkronganmu!” tanya perempuan yang memang selalu ada didekat Zen ketika jam istirahat.


“..hai Ziva! Kebetulan tadi aku belum sarapan, dan aku punya uang walaupun tidak banyak, jadi aku jajan deh dikantin!” jawab Zen


“..heummmm!”


“..jajan apa jelalatan lihatin cewek cewek dikantin! Hah!” Ziva terlihat bersuara agak tinggi.


“..eh..” Zen langsung tersentak kaget.

__ADS_1


“..ini cewek kenapa ya? Tiba-tiba datang marah-marah ga jelas!” batin Zen.


__ADS_2