
Zen saat ini berada disebuah kawasan bagian selatan negeri Jiran, tepatnya diperbatasan antara wilayah Jiran dengan Vietkong, berdiri sebuah kuil kuno berusia lebih dari 2000 tahun lamanya.
Hari ini turis terlihat sangat ramai, mungkin karena malam nanti terjadi gerhana bulan separo yang menjadikan banyak sekali pengunjung berdatangan.
Para biksu terlihat sibuk mengarahkan para wisatawan yang ingin beribadah dan yang ingin berswa photo.
Tidak hanya itu, para biksu yang lain juga terlihat sedang mempersiapkan ritual do’a untuk acara nanti malam.
“..apakah kamu akan hadir nanti malam?”
“..pastilaaah, sudah puluhan tahun aku menunggu momen malam ini! Jangan sampai kita lewatkan”
“..iya aku juga, bahkan, momen tahun ini sudah ada didalam kalenderku 15 tahun yang lalu, sudah susah payah aku datang ketempat ini, pastinya aku tidak mau melewatkan kesempatan yang hanya datang setiap seratus tahun sekali!”
Berbagai perbincangan sesama wisatawan yang datang terdengar pelan, namun sangat jelas bagi indera pendengaran Zen yang memang sangat sensitif.
Zen terlihat menjelajahi semua wilayah kuil kuno itu dengan berjalan kaki, perawakannya yang memang sangat asia banged, membuat Zen bisa dengan gampang keluar masuk bangunan.
Terkadang Zen tersenyum sendiri dengan apa saja yang telah dijelajahi, baik itu ruangan sembahyang, ruangan bersemedi, ruangan berlatih beladiri hingga ruangan khusus yang tidak bisa dijelajahi oleh wisatawan asing.
“..anak muda! Apakah kita bisa berbicara diruanganku!” tiba-tiba terdengar suara menyapa dari arah belakang Zen.
Zen yang memang menyadari sedari tadi biksu senior dibelakangnya berusaha untuk mengukur tingkatan kekuatannya, tidak ambil pusing, dengan menganggukkan kepalanya Zen setuju untuk ikut dengan biksu senior tersebut.
{tap..tap..tapp}
Langkah biksu senior terlihat sangat mantab didepan Zen.
Jika orang awam hanya melihat langkah yang biasa, tidak dengan Zen, saat satu kaki biksu senior menjejak permukaan lantai, adalah sebuah energi dengan kekuatan intimidasi tingkay tinggi namun sangat halus ditekankan kepermukaan lantai.
Energi itu bermaksud untuk mengirimkan penekanan pada lawan bicaranya, sebuah gelombang udara yang sangat halus, namun menusuk tulang dari biksu senior itu dikirimkan setiap kali jejakkan kakinya mengenai permukaan lantai.
“..hehehe..” Biksu senior itu tertawa terkekeh ketika Zen dan dirinya sudah tiba diruangan khusus yang hanya diisi oleh mereka berdua.
{slaaapppp}
Tiba-tiba latar belakang ruangan berubah,
Zen berada disebuah gurun tandus yang sangat luas sekali didepannya ratusan meter berdiri biksu senior dengan pakaian kebesarannya berwarna kuning emas dengan tongkat gemerincingnya.
“..serangan jiwa!”
“..ilusi!”
Zen bergumam pada dirinya sendiri.
“..bersiaplah anak muda! Aku tidak akan berbelas kasih!” seru biksu senior yang mengarahkan tongkang gemerincingnya kearah Zen.
{siuut..siuut...siuut}
Muncul bilah pisau energi yang sangat panjang layaknya pisau atlet wushu, pisau itu dalam jumlah yang sangat banyak.
{happp}
Belum juga bilah pisau energi mengenai tubuh Zen, muncul lubang hitam dalam jarak lima meter didepan Zen, semua bilah pisau energi ditelan begitu saja.
“..ii-ini!! Bagaimana bisa?!” Biksu senior terlihat kaget, tubuhnya gemeteran, muncul ketakutan yang sangat besar didalam hatinya.
“..bahaya!!!” Biksu senior merasakan jikalau dirinya terancam, namun posisi asal penyerangan tidak diketahuinya.
{jlabb.. jlabb.. jlabb.. jlabb..}
Rentetan kemunculan pisau bilah energi miliknya sendiri dari segala arah tidak bisa lagi dibendungnya.
“..uukkhhgggg!!!” Biksu senior itupun mengalami luka dalam.
{bruughhhh}
Tubuhnya langsung ambruk seketika,
“...hueekk” mulut biksu senior memuntahkan seteguk darah merah segar yang menggumpal.
“..aku menyerah!!” lambaian tangannya pada Zen terlihat penuh ekspresi meminta ampunan.
“..haiissshhh..orang tua nakal ini ...iisshh..iisshhh...iiiiiissshh!” Zen mendekati biksu senior yang terluka dalam parah, dirinya membantu sang biksu untuk berdiri.
“..ini! minumlah Pil penyembuhan, kedepan jangan suka usil biksu tuan!” pesan Zen sambil membantu biksu senior didepannya untuk menelan pil penyembuh buatannya.
{swoooosshh}
Hembusan angin langsung menyeruak keluar dari dalam tubuh biksu senior kelita pil penyembuh buatan Zen sudah lumer masuk kedalam tenggorokannya.
“..luar biasa..luaar biasa... langit memberkati..langit memberkati!!”
__ADS_1
Biksu senior yang terlihat kembali sembuh langsung memberikan penghormatan setinggi-tingginya pada Zen.
“..bangunlah pak tua! aku tidak pantas menerima hormatmu!” ucap Zen dengan sopan sambil berusaha membangunkan biksu senior yang terus memberikan penghormatannya.
Setelah biksu senior kembali berdiri dan menempatkan dirinya disebuah kursi porselain tebal, kemudian biksu senior menuangkan Teh tradisional untuk menjamu Zen.
{slruuppppp}
Zen meminum teh seduhan biksu senior itu dengan penuh penghayatan.
Meski rasanya masih enakan teh welangi, namun Zen tidak ingin merusak suasana yang sedang dibangun oleh biksu senior.
“..maafkan atas penyeranganku tadi anak muda?! Semua dikarenakan catatan kuno ini!” ucap biksu senior yang mengeluarkan sebuah buku usang dengan halaman depan terbuat dari kayu kuno.
“..catatan kuno?” Zen semakin mengernyitkan dahinya penuh tanya.
“..dalam buku catatan kuno ini, kami sudah 1200 an lebih generasi menjaga kuil kuno ini! Sampai tiba waktunya, kami harus memberikan catatan kuno ini pada orang yang mampu mengalahkan sang penjaga buku, dalam hal ini adalah aku sendiri!”
Zen terlihat kembali tidak paham arah pembicaraannya.
“..pasti kamu kebingungan! Jadi begini anak muda!” selanjutnya biksu senior menceritakan asal usul catatan kuno yang dipegangnya, dan bagaimana tatacara untuk mendapatkan orang yang tepat untuk diberikan warisan kuno yang selama ini telah dijaga ribuan generasi.
Zen menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ternyata kekuatan yang dimilikinya ini bukan hanya sekedar kekuatan tanpa ada tanggung jawab besar.
Dalam catatan kuno tersebut ternyata memuat sebuah gambaran peristiwa besar yang akan dihadapi oleh umat manusia kedepannya, sebuah kenyataan datangnya kekuatan super besar yang akan mengganggu ketentraman dunia, dengan taruhannya adalah pemusnahan masal penghuni bumi.
Zen berpikir, apakah hal ini sama halnya dengan cerita kultivator kuno yang barang-barang peninggalannya telah diketemukan di islandia kapan hari?.
Tidak ingin terlalu banyak berpikir, Zen menerima catatan kuno setebal 500 halaman itu dengan sangat hati-hati.
{claappp}
Zen langsung mengamankannya didalam ruang penyimpanan dimensi jiwanya.
“..luar biasa..luar biasa..” Biksu senior didepannya langsung kaget dan segera menguasai diri ketika melihat buku setebal 500 halaman hilang dalam sekali ayunan tangan Zen.
“..nanti malam adalah malam yang dinantikan oleh semua orang penghuni kuil kuno ini! Karena bertepan nanti malam gerhana bulan separo, benih bunga surga akan mekar dari kuncupnya setelah seratus tahun lamanya!” ujar biksu senior.
Zen bukannya tidak paham apa yang diceritakan oleh biksu senior dan bahkan sudah menjadi buah bibir semua wisatawan yang turut hadir memenuhi halaman kuil.
Sebuah bunga layaknya bunga matahari bentuknya, posisinya saat ini masih menguncup, dan nanti malamlah puncaknya kuncup itu akan mekar dan mengeluarkan aura surgawi yang dipercaya bisa memberikan keberuntungan bagi semua yang terkena bulir serbuk sari energinya.
Bunga surgawi itu sendiri posisinya ada dibagian puncak menara dari kuil kuno, sebuah bangunan kuno yang seolah seperti gunung bertebing cadas yang direkayasa sedemikian rupa hingga membentuk bangunan kuil.
“..terima kasih atas bukunya, kemungkinan saya tidak bisa ikut hadir nanti malam, karena saya mesti segera kembali ke negara saya malam ini, dan juga, 500 halaman buku kuno ini harus segera saya pelajari bukan?!” ujar Zen.
“..apakah kamu bisa membawa dua orang Biksu kami anak muda? Mereka berdua memiliki kemampuan alam yang mungkin bisa membantumu kedepan!” ujar Biksu senior yang melambaikan tangan kepada biksu lain yang sangat jauh posisinya.
Ruangan tempat mereka berdua bertemu sebenarnya tidaklah tertutup rapat, ada beberapa daun jendela yang terbuka lebar sehingga pihak luar masih bisa melihat kondisi yang ada didalam ruangan.
Dengan setengah berlari ada dua orang biksu terlihat seperti baru masuk pelatihan beberapa tahun saja, keduanya langsung menghadap penuh hormat pada biksu senior didepannya.
“..perkenalkan nama kalian semua pada Tuan muda Zen!” ujar Biksu senior langsung memberikan perintah.
“..tuan muda Zen nama saya Xian Bing”
“..tuan muda Zen nama saya Xian Qin”
Kedua biksu didepan Zen ini semuanya adalah wanita.
“..ii-ini..? apakah tidak apa-apa jikalau mereka akan ikut bersamaku?” raut wajah Zen terlihat khawatir.
“..anak muda tidak usah khawatir, mereka tidak sama seperti kami, hanya saja selama pendidikan mereka harus menyamakan segala atributnya dengan kami!”
“..aku menemukannya disaat perjalanku kenegeri seberang, keduanya aku temukan sedang dianiaya dan meminta perlindunganku! Sudah dua tahun mereka mengikutiku di kuil ini!”
“..dan, tentunya anak muda ini kan sangat paham betul kemampuan mereka berdua bukan begitu?!” biksu senior seperti memberikan tes pada Zen.
Zen hanya menganggukkan kepalanya saja, menurut penglihatan super paranormalnya, kedua orang ini memang memiliki bakat alam masing-masing, sebuah bakat yang terlihat masih samar dan perlu untuk dibuka secara perlahan.
Xian Bing, memiliki kemampuan elemen Air, dengan kemampuan itu dirinya bisa menyembuhkan segala macam cidera dipermukaan kulit, selama jaringan kulitnya masih ada, maka kemampuan Xian Bing bisa kembali melakukan recovery secara instan.
Xian Qin, dirinya memiliki kemampuan elemen angin yang spesial, dengan kemampuan hisapannya, Xian Qin bisa menghisap semua virus dan bakteri yang berada didalam tubuh seorang pasien, hingga nantinya bisa menjadi sumber kekuatan baginya.
“..baiklah biksu tua, jika begitu aku mohon diri, kapanpun kuil ini membutuhkan bantuanku, jangan sungkan untuk segera menghubungiku, sampai bertemu kembali!!” Zen terlihat langsung membuka pintu gerbang teleportasi didepannya.
{ziinggg}
Biksu senior terlihat tertegun dengan kemampuan Zen dalam hal teleportasi, matanya tidak bisa lepas dari pandangannya kesebuah pusaran energi yang terlihat meluap-luap dengan kekosongan berada dibagian tengahnya.
“..llu-luar biasa!!” gumam pelan biksu senior.
Zen segera menyelubungi dua biksu yang ada disampingnya dengan pembungkus energi, kemudian bersamaan dengan mereka, Zen memasuki gerbang teleportasi dan membiarkan biksu tua yang masih bengong melihat kejadian didepannya.
__ADS_1
{zriiinggg}
Gerbang teleportasi itu muncul bangunan mansion mewah milik Zen di kota megapolitan bagian selatan yang sore itu diliputi mendung hitam.
“..tuan.. tuan sudah sampai?!” sapa Shelli dengan begitu ramah layaknya melihat suaminya pulang.
“..eh...!” Shelli terkejut ketika tuannya membawa dua orang berpakaian biksu, namun insting wanitanya mengatakan jikalau keduanya adalah biksu bergender wanita.
Zen melihat kemana arah mata Shelli,
“..dua orang ini adalah dokter yang nantinya akan membantuku di rumah sakit ayahnya Clara!, tolong kamu bantu mereka berdua untuk memilih pakaian ganti dan tunjukkan dimana kamar mereka untuk beristirahat nantinya!” ujar Zen yang langsung main naik kelantai atas.
Shelli yang sudah mendapatkan penjelasan terkait dua orang biksu didepannya langsung mengajak mereka berdua untuk masuk kedalam kamar pribadi miliknya.
Meskipun Shelli adalah bagian dari wanitanya zen, tapi Shelli lebih memilih untuk tinggal dikamarnya sendiri, dengan alasan dirinya lebih nyaman saja.
“..kamu bukan manusia ??” Xian Qin langsung memberikan pertanyaan yang menusuk pada Shelli.
“..benar! aku adalah roh yang dimasukkan kedalam tubuh manusia karet sintesis oleh tuan muda Zen, dan aku salah satu wanitanya tuan Zen! Total ada 9 wanitanya tuan muda Zen!” Shelli bukannya sakit hati, namun dirinya langsung menjelaskan asal-usul dirinya yang tadinya hanya sebatas roh gentayangan, dengan kemampuan tuan mudanya, Shelli bisa kembali menjadi wujud manusia, meskipun dirinya tidak bisa memiliki jaringan yang sama seperti DNA manusia.
“..ooh!pantas !!” Xian Bing dan Xian Qin bersamaan meluapkan ekspresinya.
{kriieett}
Pintu kamar Shelli dibuka dengan perlahan dari handle bagian luar.
“..silahkan, ini adalah kamarku, dilemari itu adalah semua pakaianku, jadi silahkan dipilih dulu, mungkin nanti malam kita bisa belanja bersama ke Mall dekat sini jika masih ada yang kurang!”
“..kamar mandi ada disebelah sana, mari aku tunjukkan!” Shelli dengan sangat sopan membimbing duo Xian masuk kedalam kamar mandi, kemudian menjelaskan fitur apa saja yang ada didalam kamar mandi agar mereka berdua tidak menghabiskan waktu lama didalam kamar mandi dikarenakan bingung kemana cara ngeluarin air atau dimana sabun mandinya.
Setelah puas untuk menjelajah isi kamar mandi, duo Xian lantas mendekati lemari pakaian milik Shelli.
Sementara mereka sedang memilih pakain, Shelli keluar dari kamarnya untuk mempersiapkan makan malam.
“..apakah mereka sudah berganti pakaian?” tanya Zen yang sudah berada dikursi meja makan.
“..sebentar tuan muda, saya cek dulu!”
{kriieeet}
Belum juga shelli pergi kekamarnya, mendadak pintunya dibuka dari dalam.
Muncul duo wanita super panas dengan pakaian maid yang hanya menutupi bagian kewanitaan mereka bagian depan itupun hanya bagian yang utama saja, sementara bagian belakang sepenuhnya terbuka lebar, pembedanya hanyalah kepala yang botak!
{plokkk}
Shelli menepuk jidatnya.
“..hehehe” dengan cengar cengir shelli malu-malu.
Shelli lupa, jikalau semua set pakaiannya adalah pakaian maid super panas yang selalu dipakainya jika berada didalam rumah, seperti saat ini.
Jadilah dua biksu yang bentuk lekuk tubuhnya juga tidak kalah panas dari shelli keluar dari kamar dengan menggunakan set pakaian maid yang super panas juga.
Dua bongkahan melon berukuran 36FF itupun melebar kemana-mana hanya ujung pucuknya yang ditutupi pakaian maid, belum lagi area segitiga bawahnya bisa dikatakan layaknya selotip yang menutup pintu gerbang gua basah mereka.
Zen tidak habis pikir, sekarang didepannya ada 3 orang maid dengan baju super panas yang menonjolkan bagian kewanitaan mereka semua dan bersiap untuk makan malam bersamanya.
“..sudah-sudah! Kalian berdua, pakai saja lagi baju biksu kalian nanti, setelah makan kita pergi ke mall terdekat untuk membeli pakaian kalian!” ucap Zen yang terlihat sesekali mengintip pakaian super panas dari kedua wanita botak disamping shelli.
Duo Xian merasa jikalau dirinya tidak melakukan kesalahan, karena cara berpakaian Shelli lah yang menjadi acuan keduanya, meski malu-malu, mereka berdua juga tetap memakainya.
“..bukankah ini kostum untuk tinggal disini?” begitulah gumam mereka dalam hati.
Ketiganya lantas duduk dikursi yang kosong dan menikmati semua hasil karya shelli tanpa ada yang bersuara.
{hooookkkkk}
Dua wanita botak super panas terlihat bersendawa keras setelah menghabiskan semua porsi makanan yang dihidangkan diatas meja makan.
“..keliatannya duo botak ini tidak pernah diajari tata krama oleh para biksu! Apa bagaimana ?”gumam Zen dalam hati.
“..masakan kakak sungguh lezaat!” ucap duo botak bersamaan sambil memberikan empat buah jempol tangan mereka.
Shelli terlihat senang dengan pujian mereka,
“..jangan heran, mereka ini bukan biksu sungguhan, hanya menjalani ikut-ikutan magang saja di kuil!” Zen berusaha memberikan jawaban atas kebingungan shelli, karena semua menu daging habis masuk kedalam perut duo botak itu.
“..bersiaplah! kita akan ke mall terdekat!” ujar Zen yang sudah berdiri dari kursi meja makannya.
Duo botak juga ikut berdiri namun langsung tanggap dengan membereskan peralatan makan yang telah mereka pergunakan, sebuah tradisi yang memang diajarkan dengan sangat baik ketika berada didalam lingkungan kuil.
Zen masih menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tiga orang wanita berpakaian maid super panas, melenggak-lenggokkan pinggul dan bemper belakang mereka yang tidak ditutupi kain sama sekali.
__ADS_1
“..semua gara-gara virus Shelli memang!” gumam Zen.