
Selama satu minggu penuh Zen berjibaku dengan keinginan pemerintah konoha untuk menjalankan kontrak kerja dengan subjek rekayasa cuaca.
Dari ujung pulau terbarat hingga ujung pulau bagian timur semua sudah kebagian derasnya hujan dalam kurun waktu satu minggu penuh.
Waduk dan bendungan yang kering mulai kembali terisi oleh air yang melimpah ruah, sebuah pemandangan yang sangat kontra dengan negara tetangga yang lainnya.
Dalam kurun waktu satu minggu itu pula , apa yang terjadi didalam negara konoha menjadi trending topik seantero media sosial dan pertelevisian.
Pihak istana negara hanya menginformasikan jikalau fenomena hujan lebat dalam kurun satu minggu berturut dan rata diseluruh wilayah Konoha merupakan berkah dari setiap elemen masyarakat yang turut mendo’akan negara dari bencana kekeringan.
Pihak istana negara sebelumnya sudah memberikan pengumuman yang dimuatkan dalam media sosial dan televisi, agar masyarakat turut membantu dengan berdo’a bersama agar usaha pemerintah yang sedang melakukan upaya rekayasa cuaca bisa berhasil.
Pemerintah negara konoha sangat puas dengan hasil kerja Zen yang menjawab semua isi klausul kontrak dengan sangat baik.
“..terima kasih nak Zen! Berkat bantuannya, negara ini bisa terbebas dari bencana kekeringan layaknya negara sebelah!”
“..sama-sama bapak Presiden, sebagai warga negara yang baik tentunya sudah menjadi tanggung jawab saya juga bisa membantu, toh saya juga sudah diberikan hak imbal baliknya oleh negara ini!”
Setelah Zen dan ayah mertuanya yang kembali hadir dalam rapat penutupan kerjasama rekayasa cuaca bersama pemerintah negara konoha selesai, keduanya terlihat segera meninggalkan ruangan rapat dengan didampingi oleh kepala negara konoha hingga keduanya masuk kedalam mobil.
Setelah masa satu minggu hujan lebat tanpa ditambahi dengan bencana banjir yang melanda, negara konoha kembali menjalani kehidupannya seperti biasa.
***
Hari ini adalah akhir pekan, seperti biasa, Zen melakukan agenda jogging di lintasan taman hutan kota yang mulai terlihat menghijau kembali rerumputannya.
Terhitung sudah 21 kali Zen mengelilingi lintasan lari yang memiliki panjang 2.4 kilometer dari sebelum matahari keluar sinarnya.
Semua wanita Zen masih terkapar didalam kamar mansion miliknya yang ada di bagian selatan kota megapolitan, setelah seharian mereka berusaha menakhlukkan sang naga perkasa, namun kembali lagi gagal.
{gluukk..}
“..aahhhh...segarnya!”
Zen meneguk air mineral yang dibelinya dari pedagang keliling sambil menikmati momen cahaya matahari yang mulai menguning, tanda dimulainya pagi.
“..satu...dua...sepuluh..” Zen melakukan beberapa gerakan pendinginan sambil mengatur nafasnya kembali.
Berlari sebanyak 21 putaran menurut Zen masih belumlah cukup untuk membuat tubuhnya kelelahan.
Setelah selesai melakukan gerakan pendinginan, Zen segera melangkahkan kakinya kembali menyusuri lintasan lari guna menuju lapangan parkir kendaraan.
Meski Zen tidak mengendarai mobil saat menuju taman hutan kota, namun dirinya berusaha untuk tidak membuat orang curiga dengan kemampuan teleportasinya.
Dengan menyasar toilet yang berada didepan lahan parkir kendaraan pengguna fasilitas taman hutan kota, Zen bisa menyamarkan aksinya.
{duggg}
“..aaaduhh duuuh” suara perempuan yang terlihat menabrak Zen yang sedang berjalan sambil melihat hape.
Wanita itu langsung jatuh terduduk ditanah dan meringis memegangi pantatnya yang langsung menimpa tanah.
“..punya ma---“ suara wanita yang tadinya ingin memarahi, langsung terhenti ketika menoleh keatas dalam posisinya yang ada dibawah kaki Zen.
“..ganteng!” gumam wanita itu.
Tidak ingin menunggu hingga wanita itu berdiri, Zen langsung pergi begitu saja, semua karena di layar hapenya muncul notifikasi dari kakeknya Zavira yang menginformasikan jikalau ada sesuatu yang penting mesti dibicarakan.
Wanita yang menabrak Zen langsung tertegun dalam beberapa saat, kelihatannya dia sudah hilang kesadarannya dan pikirannya sudah melayang-layang entah kemana, sampai Zen pergi menghilang dari pandangannya, sang wanita masih saja duduk ditanah.
“..eeh..!” lima menit berselang sang wanita pun tersadar.
“..laaah, kemana itu cowgan?! Ups!” ucapnya sambil menutup mulutnya karena tidak bisa direm.
“..awas saja kalo nanti ketemu, aku bakalan minta pertanggung jawaban, enak saja main pergi!”ucapnya penuh dengan emosi yang meledak-ledak.
Wanita itupun kembali berdiri, setelah melihat kiri-kanan tidak menemukan keberadaan Zen, dirinya langsung pergi dari lokasi terakhirnya menuju taman hutan kota bagian inti.
***
Tidak sampai lima menit, Zen sudah tiba di rumah Zavira,
“..salam hormatku kakek” ucap Zen sambil mengambil telapak tangan kakek Zavira kemudian mencium punggung tangannya.
“..anak baik, anak baik..”
“..maaf ya Zen, kakek memanggil kamu kemari!” ujar pria sepuh yang terlihat dibantu duduknya oleh Zen.
“..tidak apa-apa kek, kebetulan Zen juga sudah selesai berolahraganya” jawab Zen dengan penuh kesopanan.
“..apakah kakek merasakan sakit lagi?!” Zen terlihat khawatir.
__ADS_1
“..ooh tidak! Kakek bahkan merasa jikalau penyakit jantung kakek sudah menghilang, orang tua ini sehat dan bugar, tenang saja!” jawabnya.
“..lalu?!” Zen terlihat menjeda ucapannya.
“..begini Zen, kawannya kakek ini punya anak perempuan, sudah berumur kepala 4, tapi sampai sekarang dirinya belum dikaruniai anak, kakek ingin membantunya, itung-itung balas budi, dulu kawan kakek ini baik sekali sama kakek ketika kakek dalam posisi kesusahan, dia juga sering membantu kakek saat kakek membutuhkannya!”
“..ooh, kirain apa.. anak dari teman kakek ini laki-laki atau perempuan?!” tanya Zen ingin memperjelas situasi.
“..perempuan! suaminya beda umur 5 tahun lebih tua darinya, tapi, sama-sama masih kepala 4 umurnya”
“..kalo bisa ini, kamu tolonglah dia, kalau tidak salah, suami dari anak kawannya kakek ini merupakan pejabat pemerintahan disebelah timur kota megapolitan ini! Katanya!”
“..ooow” ucap Zen singkat.
Tidak ingin berspekulasi, Zen kemudian meminta agar dipertemukan oleh pasangan yang memiliki permasalahan keturunan seperti yang diceritakan oleh kakeknya Zavira.
“..haloo Hendra?” terdengar suara perempuan dari pengeras suara hape milik kakeknya Zavira.
“..Halo Esti, ini cucu menantuku setuju untuk membantu anakmu! Kapan sekiranya kamu bisa kesini ?” tanya kakeknya Zavira
Diskusi dua arah yang di masukkan dalam mode pengeras suara itu didengarkan oleh Zen sampai selesai.
Kesimpulannya, Esti teman kakeknya Zavira ini akan membawa anaknya segera meluncur kerumah, jadi kakeknya zavira meminta Zen untuk menunggu, sebab rumah mereka tidak jauh dari rumah kakeknya Zavira tinggal.
Zen dan kakeknya Zavira pun melanjutkan pembicaraan mereka, sebuah diskusi laki-laki berbeda umur jauh yang pada akhirnya lebih banyak didominasi oleh nasehat-nasehat bijak dari pria paruh baya yang sekarang sudah berstatus sebagai kakek mertuanya.
“..maaf tuan, didepan ada tamu katanya!” saat enak-enak berdiskusi, pembicaraan Zen dan kakeknya Zavira disela oleh pelayan rumah tangga yang menginformasikan jikalau ada tamu ingin bertemu dengan kakeknya Zavira.
“..ayo Zen kita temui di luar, kemungkinan itu si Esti kawan kakek yang tadi!” ucap kakek Zavira yang ingin beranjak berdiri dari tempat duduk nyamannya.
Dengan sigap Zen membantu kakeknya berdiri, setelah itu keduanya berjalan menuju teras halaman depan rumah mereka, tempat yang paling menyenangkan buat menyapa tamu.
Teras halaman depan milik kakeknya Zavira ini sangat luas, dan banyak didominasi oleh tanaman bonsai dengan alas rumput hijau serta kolam ikan koi berukuran super lebar.
“...Hendra!” sapa tamunya ternyata sosok perempuan yang terlihat disampingnya berdiri wanita yang jika ditebak berumur 41 an.
“..waah elu tambah cakep saja Esti!” sapa genit kakeknya Zavira, Zen yang mendengar hanya cengengesan saja, begitu pula dengan anak perempuan dari si wanita yang bernama Esti.
“... ah elu Hendra, kagak berubah, tetap saja playboy dari dulu!”
“..hahahaha...” Kakeknya Zavira yang dikatain playboy sama kawan lamanya langsung tertawa puas.
“..pelayan, tolong disiapkan jamuannya buat tamu besar saya!” perintah kakeknya Zavira pada pelayan rumah tangga yang biasa mengurusinya.
“..duduk-duduk Esti, daan..” ucap kakek Zavira seperti menahan kalimatnya.
“..namanya Mirna, Hendra.. ini anak yang aku ceritakan!” ucap tamunya kakek Zavira.
“..oh ya, perkenalkan ini cucu menantuku, namanya Zen!” ujar kakek Zavira memperkenalkan Zen.
“..waah kamu sudah sukses ya Hendra!” ucap kawannya dengan melihat sekelilingnya.
“..yaa begitulah Esti, semua karena Zavira , cucuku yang berhasil dan sukses, semua yaa berkat menantuku ini! Tanpa bantuannya, kami berdua pasti bukan siapa-siapa disisa umurku!” lanjutnya penuh dengan membanggakan Zen didepan kawannya.
“..silahkan tuan,..” saat mereka sedang berdiskusi ringan, pelayan datang menghidangkan jamuan yang dimaksudkan oleh tuan rumah.
“..mari-mari Esti, Mirna silahkan dinikmati, seadanya!” ucap kakeknya Zavira dengan sangat sopan mempersilahkan tamunya untuk menikmati jamuan yang diberikan.
Terlihat tamu yang datang tidak sungkan untuk menikmati hidangan yang telah disajikan untuk menyambut kedatangan mereka berdua.
“..jadi bagaimana Hendra?!” tanya neneknya Mirna.
“..Zen?!” tanya kakeknya Zavira sambil melihat kearahnya.
“..boleh saya permisi memegang tangannya nyonya Mirna?” tanya Zen dengan sangat sopan.
Meskipun Zen sudah bisa melihat secara langsung dengan kemampuan mata super paranormalnya, namun Zen tidak ingin membuat kesan sebagai manusia super didepan kawan kakeknya Zavira.
Dengan perlahan Zen mencoba mendeteksi lewat jalur nadi yang secara langsung mata super paranormalnya bisa melihat ada permasalahan apa terkait sistem reproduksi dalam tubuh wanita berusia 41 tahun didepannya.
“..tubuh ibu ini tidak ada masalah sama sekali! Dan bahkan sangat sehat!subur bahkan!” ucap Zen setelah memeriksa dengan sangat detail.
“..tuuuh kan ma, aku ini sehat, subur lagi! aku curiga yang tidak sehat itu mas Hadinya!” ujar perempuan yang bernama Mirna memprotes mamanya.
Hadisuyitno adalah nama pembesar pemerintahan di sebelah timur kota megapolitan, aktivitasnya sebagai kepala daerah membuatnya harus sering meninggalkan rumah dan menyapa masyarakatnya, dan tahun ini adalah tahun keduanya menjabat.
“..ya sudah, yasudah, nanti kita atur mas Hadimu buat ketemu cucunya Hendra, biar dicek juga sekalian!” ujar mamanya Mirna memberitahukan.
“..paling mas Hadinya ogah kesini, itu orang kan gila hormat mama! Tahu sendiri perangainya!” ujar Mirna malah berdiskusi dengan nada meninggi.
Zen dan kakeknya Zavira saling berpandangan satu sama lain, secara garis besar mereka sudah mengerti jikalau 10 tahun lebih usia pernikahan perempuan bernama Mirna ini sangatlah berat.
__ADS_1
“..maaf ya Hendra, terima kasih sudah berkenan membantu, jangan kapok ya hendra kalo kedepan aku meminta pertolonganmu lagi!” ujar Esti kawannya yang terlihat tidak enakan sama tuan rumah karena cekcok dengan anaknya.
“..kapanpun kamu membutuhkan bantuanku, aku akan berusaha untuk membantu Esti, kita kan berkawan baik sejak dulu!” jawab kakeknya Zavira.
Tidak ingin membuat malu, Esti yang jika ditebak memilik umur hanya beda satu tahun dari kakeknya Zavira itupun segera berdiri menarik lengan anaknya, untuk segera undur diri karena malu.
{dappp}
Suara pintu mobil ditutup.
“..hati-hati dijalan Esti!” sapa kakeknya Zavira ketika mereka sudah masuk kedalam mobil mereka yang terparkir dihalaman rumah.
{teennn}
Suara klakson sebagai tanda jikalau mereka pamit undur diri dengan tergesa-gesa.
“..ada-ada saja.. maaf ya Zen, jadi mengganggu waktu kamu!” ucap kakeknya Zavira dengan perasaan tidak enak.
“..tidak apa-apa kek, toh saya juga lagi senggang!”
“..jika tidak ada lagi yang perlu saya bantu, saya izin pamit dulu, ada beberapa pekerjaan yang mesti dilihat soalnya” Zen berpamitan dengan sangat sopan pada kakeknya Zavira.
“..iyaa Zen, silahkan, anak baik - anak baik” ucap kakeknya Zavira yang punggung tangan kanannya dicium oleh Zen dengan penuh penghormatan, tak lupa tangan kirinya menepuk-nepuk pundak Zen.
Setelah menghilang dari pandangan kakeknya Zavira, Zen langsung menggunakan teleportasi untuk berpindah tempat.
***
Sementara itu disebuah bangunan rumah dinas pejabat kepala daerah terlihat jikalau kepala rumah tangga sedang dalam diskusi hebat dengan istrinya.
“..apa maksudnya ini? Kamu menuduhku mandul begitu?!” ucap sang kepala rumah tangga yang tidak lain adalah kepala daerah diwilayah sebelah timur kota megapolitan.
“..bukan begitu mas, aku sendiri sudah diperiksa dan dinyatakan sehat dan subur! Sekarang giliran mas Hadi, namanya juga ikhtiar mas” ucap istrinya yang terlihat putus asa, karena akan selalu seperti ini kejadiannya jika berdiskusi dengan suaminya.
Benar dugaan Zen dan kakeknya Zavira, kehidupan mereka jauh dari kata bahagia layaknya momen yang dibagikan pada media.
Sudah lebih dari sepuluh tahun lamanya mereka berdua belum dikaruniai keturunan, dan kondisi perdebatan yang memicu pertengkaran rumah tangga itu selalu hadir sudah sepuluh tahun berjalan, terhitung sejak suaminya menjadi kepala daerah selama dua periode.
Kehidupan suaminya Mirna berubah 180 derajat sejak dilantik menjadi kepala daerah.
Satu hal yang selalu diperjuangkan oleh Mirna adalah kondisi keluarganya, sudah sepuluh tahun lamanya, Mirna sangat jarang bercocok tanam dengan suaminya, sebuah penolakan dengan berbagai alasan.
Padahal dulu, suaminya Mirna sangat rutin melakukan aksi bercocok tanam saat mereka baru saja menikah.
Dua tahun usia pernikahan mereka, suami Mirna langsung bergabung dengan partai politik dan sejak saat itu karirnya menanjak, dengan puncaknya menjadi kepala daerah selama 2x berturut-turut.
“..mau ya mas diperiksa, kita ini tidak pergi kedokter kok, cucunya kawan mama bisa mengobati kita berdua jika kita berdua ada masalah, dan jaminan kerahasiaannya!” ucap Mirna mencoba merayu.
Melihat istrinya yang sudah lebih dari 12 tahun lebih menemaninya, ada sisi terdalam yang merasa kasihan.
“..haiisshh” dengan menghela nafas sebentar.
“..baiklah, kapan dia bisa datang kesini?! Aku malas kalo pergi kerumahnya! Capek!” suami Mirna langsung memberikan persetujuan namun dengan syarat.
Melihat suaminya sudah mau untuk diperiksa, Mirna segera menghubungi mamanya lewat aplikasi chat.
{tinggg}
[iya mama kabari kawan mama, biar cucunya segera datang kerumah kamu sekarang!]
Begitulah bunyi balasan pesan yang dikirim oleh mamanya Mirna.
Mirna langsung tersenyum sendiri ketika melihat balasan pesan dari mamanya, artinya akan ada perubahan dalam rumah tangganya.
{tok..tok}
Ketukan pintu ruangan dari arah luar terdengar.
“..lapor bapak, diluar ada tamu katanya mau bertemu tuan dan ibu!” ajudan kepala daerah terlihat masuk dengan sopan.
“..kamu sudah tanya namanya?!” jawab sang tuan rumah.
“..sudah bapak, namanya Zen!” jawab sang ajudan.
Kepala rumah tangga yang diinformasikan jikalau ada tamu bernama Zen, langsung mengernyitkan dahinya.
“...itu cucunya kawan mama, tapi kok cepet banged ya?!” Mirna buru-buru menyerobot menjawab.
Mirnapun heran dibuatnya, karena jeda antara kedatangan Zen dengan balasan chat mamanya kurang dari lima menit lamanya.
Tidak ingin menduga-duga, Mirna segera menyuruh ajudan suaminya untuk membawa Zen masuk kedalam ruangan penerimaan tamu.
__ADS_1