PEMULUNG SUKSES

PEMULUNG SUKSES
Talent baru


__ADS_3

Zen sudah kembali dari dunia jiwanya, selama didalam dunia Jiwa Zen telah melakukan pencucian otak sekaligus mengorek semua informasi terkait keberadaan 5 ketua kelompok Illuminati yang lainnya.


Dengan kemampuan Zen dibidang hacker, kelima ketua kelompok Illuminati yang meresahkan bagi semua negara dapat ditangkap, dan dijebloskan kedalam penjara menunggu hukuman eksekusi internasional.


Dari informasi yang dibagikan oleh Edward saat dirinya menelan pil kejujuran, Zen segera melakukan pengalihan semua harta benda yang masih tersisa dan tersimpan sebelum dikuasai oleh tiap-tiap negara.


Semua dikuras hingga tidak menyisakan sepeserpun dana simpanan di rekening keenamnya, dan semua transaksi sangat rapi.


Kehebohan dunia karena kelompok Illuminati akhirnya terselesaikan.


Pagi itu Zen menikmati pagi harinya dengan sendiri, ketiga wanitanya terlihat sibuk dengan beberapa kepentingan perusahaan Z Beauty yang sepertinya kewalahan dengan berbagai macam permintaan produk kecantikan.


Sofia seperti dugaan sebelumnya, resep terbarunya adalah suplemen penghancur lemak, suplemen yang bisa memberikan efek hilangnya lemak dalam tubuh tanpa memerlukan olah raga berlebih.


Hanya berselang 5 menit setelah produk dibuka jalur orderan online sudah mencapai 3 milyar pemesanan.


Banyak testimoni yang berkomentar jikalau produk Z beauty tidak pernah gagal, hingga produk belum diluncurkan secara massal saja, pihak Z beauty sudah kebanjiran order pemesanan.


Dengan kebanjiran order pemesanan itulah ketiga wanita Zen seperti tidak ada hari tanpa meeting pemasaran dan produksi.


Zen yang memahami kondisi mereka bertiga memilih untuk melakukan jogging pagi disebuah hutan kota.


Tidak terhitung sudah berapa kali Zen melakukan jogging mengelilingi lintasan melingkar hutan kota yang berjarak 10 kilometer.


Jam tangan digitalnya menunjukkan pukul 06:40 diwaktu pagi.


Karena hari sabtu, hutan kota yang biasanya sepi menjadi ramai sejak pagi, karena banyak orang berlalu lalang beraktivitas olah raga, setelah selama senin sampai jum’at mereka sibuk dalam bekerja.


“..adduhhh!!” tiba-tiba ada suara mengerang kesakitan dari seorang pria paruh baya.


“..kakeeekkk!!”


Orang tua yang jika ditebak berusia lanjut itu terlihat memegangi dada bagian kirinya, sementara ada seorang gadis muda belia, terlihat memapahnya perlahan mencari tempat duduk.


“...saya dokter! Saya bisa membantu!” ujar Zen yang memang berada tidak jauh dari teriakan gadis muda yang saat ini terlihat sudah memposisikan kakeknya berbaring di bangku taman yang datar.


“..tolong kak! Tolong kakek saya!” ujar gadis muda belia sambil memohon kearah Zen.


Zen segera mengecek pergelangan tangan pria paruh baya yang terlihat sudah kembang kempis nafasnya.


“..kakekmu terkena serangan jantung!”


“..mesti segera dibawa ke rumah sakit untuk pengobatan!” ujar Zen.


“..tapi kak, kami engga ada biaya! Sudah dua bulan kakek bertahan dengan penyakitnya!” jawab gadis muda belia yang terlihat menatap nanar Zen.


“..saya bisa mengobati kakek kamu, tapi tidak disini, begini saja, dimana rumah kamu?! Sementara aku hanya bisa membantu menekan rasa sakitnya saja dalam 30 menit, setelahnya kakek kamu akan kejang!” ungkap Zen menjelaskan dengan details.


“..disana kak, hanya 100 meter dari sini, masuk gang kecil itu!” ujar Gadis belia jika ditaksir berumur 17 tahun, satu tahun lebih muda dari Zen.


{tapp...tappp}


Dengan gerakan sangat cepat Zen menotok jalur pusat syaraf jantung pasien yang sakit, hal ini untuk memberikan relaksasi otot jantungnya agar tidak bekerja terlalu cepat mengalirkan darah.


“..hupp!”


Zen menggendong pria paruh baya dibelakang punggungnya.


Dengan sedikit berlari Zen membawa kakek usia lanjut itu untuk segera menuju rumahnya, meskipun Zen berlari, namun karena kemampuan teknik beladiri kuno milik Zen, kakek usia lanjut yang ada dibelakang punggungnya seperti tertidur pulas diatas kasur empuk.


{brakkk}


Suara pintu rumah terbuka dengan kencang.


“..disini kak!” gadis muda belia itu menuntun Zen untuk meletakkan kakeknya disebuah kasur tipis tanpa alas sama sekali.


“..te-terima kasih anak muda!”


“..kakek tenang saja ya, saya akan mencoba mengobati kakek, tolong kakek percaya pada saya!’ ucap Zen memberikan penjelasan pada pasien didepannya.


“..tolong ambilkan saya air hangat! Jangan terlalu panas” ujar Zen meminta gadis muda belia yang terlihat panik.


Setelah gadis itu pergi kearah belakang, Zen segera mengeluarkan jarum perak dan memberikan pil penyembuh pada kakek usia lanjut yang terbaring lemas di depannya.


Zen bisa merasakan kesulitan gadis muda belia yang sudah datang dengan membawa air hangat dalam sebuah gelas bening.


“..kakek aku diapain kak?!” gadis muda belia itu terlihat bingung karena sekujur dada bidang kakeknya penuh dengan jarum berwarna perak berdiri.


“..ini namanya akupunktur, makanya tadi aku bilang, aku tidak bisa menyembuhkan jika di tempat jogging tadi!” ujar Zen.


“..apakah kakek aku bisa sembuh kak?! Hanya dia yang aku punya! Kedua orang tuaku sudah meninggal karena penyakit yang sama dua tahun yang lalu!” tatapan nanar kembali terlihat diwajahnya.


“..berarti dua tahun lalu kedua orang tua kamu meninggal karena terpapar covid-19?!” tanya Zen.


“..benar kak, kata dokter penyakit jantung sih, kedua orang tuaku bertambah parah setelah terkena virus yang mengerikan itu kak!” dengan sesenggukan gadis muda belia itu bercerita.


Zen saat ini hanya perlu menunggu jarum perak berhenti bergetar, dengan begitu pasiennya bisa kembali sehat.


Zen sendiri tidak menyarankan untuk satu kali pengobatan, meski dirinya yakin 90% penyakit yang telah disembuhkannya tidak kembali lagi, hanya saja Zen bukanlah pencipta langit dan bumi yang bisa dengan mudah mengadakan dan mengambil apa yang dimau.


“..kakekmu hanya perlu meminum obat herbal ini secara rutin! Ingat pagi-siang-malam sebelum tidur!” ujar Zen berdiri sambil menyodorkan satu bungkus obat dalam kemasan gelas porcelain.


“..terima kasih kak! Maaf aku tidak bisa membayar kakak!” ucap gadis muda belia didepannya sambil menundukkan kepala.

__ADS_1


“..namaku Zen, kita mungkin hanya beda satu tahun saja!” ujar Zen sambil menjulurkan tangannya.


“..aku Zavira kak!” ucapnya sambil malu-malu menerima uluran tangan Zen.


{brakkk}


“..woii.. kakek tua!! Keluar!!”


Saat Zen dan Zavira berkenalan tiba-tiba pagar reot rumah mereka digedor preman dengan berteriak keras.


“..kak, tolong jangan keluar! Mereka preman yang mau menggusur rumah ini, karena katanya pemukiman disini mau dipakai untuk lahan parkir milik bos mereka..” ujar Zavira sambil tetap memegang pergelangan tangan Zen dengan erat.


“..eh,..maaf!” Zavira segera menguasai keadaan.


“..tidak apa-apa, biar aku temui!” jawab Zen sambil melangkah keluar ruangan.


“..kakak,..iissshhh.. bandel bangedd kakak ini!” gumam Zavira pelan.


Zen yang sudah ada didepan rumah Zavira dihadapkan dengan puluhan preman yang terlihat sangat garang dengan badan penuh tatoo bergambar kapak merah dilengan kanan mereka.


“..kamu siapa anak muda! Mana si tua bangka?!” ujar pentolan preman kapak Merah.


“..kalian ini siapa? Ada keperluan apa ? datang pakai acara teriak – teriak!” jawab Zen mencoba mencari identitas preman didepannya.


“..hahaha...!” gelak tawa meledak


“..laah malah jadi gila! Ketawa sama – sama!” ujar Zen bisa didengar oleh mereka semua yang spontan langsung terdiam ketika dikatain gila.


“...anak monyet!! Berani yaa ngatain kami gila! Kamu tahu geng kapak merah!?”


“..entah!” Zen hanya mengangkat bahunya saja ketika ditanya.


“..udah bang, kita hajar saja, kasih pelajaran bocah udik ini, biar tahu rasa!”


“..bener juga katamu, kalian semua, segera habisi anak ini, buang bangkainya kelaut sana!” perintah pentolan preman kapak merah yang terlihat badannya lebih dempal.


“..kalian ini bukan lawanku, begini saja, aku kasih kalian kesempatan dalam hitungan 3, jika kalian tidak ada yang pergi, jangan salahkan aku, jika semua tangan dan kaki kalian patah dan tidak bisa lagi dipakai s-e-u-m-u-r --h-i-dup!” Zen memberikan penekanan dalam kata terakhirnya.


“..hahaha,,, banyak baaccottt!! Seraaang!!”


“..hyaaaatttt!!!”


{sriinggg}


Empat orang preman langsung maju kedepan dan menyerang Zen dengan menggunakan senjata tajam jenis parang.


{traanggg}


Benda logam beradu dengan benda logam.


{praaanggg}


Keempat preman yang menyerang Zen dengan senjata tajam langsung kaget, senjata mereka berempat seperti saling beradu sendiri dan patah.


{ctassshhh}


{kraaakkkk}


“...adduuuhhh..aaakkkgghhh!!”


Teriakan keempat preman yang menyerang Zen terdengar memilukan.


Tangan dan kaki mereka terjuntai lemas, patah!!


“..kamu!! berani dengan geng kapak merah!!”


{wuuuttt....wuuutttt...wuuuttt}


Dengan gerakan super cepat Zen bergerak lebih dulu.


{ctassshhh}


{kraaakkkk}


“...akkkgghhh..aaakkkgghhh!!”


Teriakan demi teriakan menggema membuat banyak orang berdatangan melihat.


Lebih dari dua puluh preman kapak merah kini berjatuhan ditanah merah dengan berteriak kesakitan, karena tangan dan kaki mereka patah, lepas dari engsel tubuh mereka masing-masing.


“...aaakhhh...ampuuun tuaan....!!” pentolan preman langsung sadar diri dengan keadaan mereka.


Para warga yang melihat dua puluh lebih preman yang selalu mengganggu mereka dengan intimidasi dan provokasi untuk mengosongkan wilayah pemukiman selama ini langsung tersenyum bahagia.


“..mampus kleaaan!”


“..makan tuuuh patah kaki!”


“..rasain, mana keberanian kalian selama ini hah?! Beraninya sama rakyat kecil”


“..terus saja den, hancurkan sekalian ******** mereka, sudah sering itu mereka memperkosa gadis kampung sini bahkan ada yang sampai hamil!!”


“’..benar den, hanjurkan sekalian saja ***********! Sudah banyak korbannya”

__ADS_1


Sontak saja, karena teriakan warga, para preman segera menutup masa depan mereka masing-masing, takut Zen melakukan kekerasan pada senjata mereka.


“..orang seperti mereka tidak bisa dimaafkan Den!”


Warga akhirnya beramai – ramai menghakimi para preman yang sudah tidak bisa berdiri, ada yang menggunakan tongkat baseball ada yang menggunakan bambu petik mangga, macam-macam mereka melampiaskan kekesalan mereka selama ini, sampai-sampai raut wajah para preman sudah penuh dengan darah akibat kepala mereka yang bocor.


Beberapa ibu-ibu yang geram juga menginjak-injak ******** para preman beramai-ramai, hingga berbunyi pletak, endog mereka pecah keliatannya!


“..sudah-sudah! Ibu -bapak sekalian, sudah!” suara Zen menggelegar seperti petir penuh dengan intimidasi.


Warga yang tadinya masih mengeroyok para preman, langsung mundur teratur seperti terhipnotis.


Zen yang menggunakan kemampuan paranormalnya, langsung menginstruksikan perewangan tak kasat mata untuk merasuki semua warga dan mengarahkan untuk kembali masuk kedalam rumah mereka masing-masing.


Warga yang tadinya beramai-ramai berkerumun, dalam hitungan detik sudah menjauh dari rumah kakek Zavira, menyisakan dua puluh preman yang terlihat mengenaskan.


{zlapppp}


Zen segera memindahkan semuanya kedalam penjara lukisan didalam alam jiwanya.


“..kemana semua orang kak?!” tiba-tiba Zavira keluar dari dalam rumah dengan memapah kakeknya yang sudah sadarkan diri.


“..ooh, mereka sudah pada pergi tadi!” Zen menjawab dengan sekenanya.


“..anak muda, orang tua ini mengucapkan banyak terima kasih padamu!”


Zen langsung menghampiri keduanya yang sudah duduk di bale-bale depan rumahnya.


“...sudah menjadi tanggung jawab seorang dokter untuk membantu menyembuhkan penyakit, kakek tidak usah sungkan!”


“..anak baik- anak baik!”


“..ira, kamu bikinkan minum dulu, bagaimana sih kamu ini?!” kakek Zavira menegurnya karena membiarkan ada tamu yang sudah baik datang mengobati malah tidak ada perjamuan, meski sekedar teh atau air putih saja.


Kakek Zavira kemudian bertukar kata dengan Zen sambil menunggu kedatangan cucunya.


“..kasihan Zavira, selama ini dia sudah banyak berusaha, namun sepertinya langit belum membuka pintu rejeki buatnya, sering kali dirinya mendapatkan pelecehan dengan berkedok interview, untungnya langit masih melindungi anak itu!” pria paruh baya itu menceritakan details masalah yang dihadapi cucunya.


Zavira sendiri adalah gadis muda belia dengan paras tropis, bulu mata yang lentik panjang, kulitnya yang putih bersih didapat dari keturunan ibunya yang ada darah keturunan belanda.


Tubuhnya yang lumayan tinggi 174cm, membuatnya cocok untuk bekerja sebagai model, karena ditopang postur tubuh sintal dan bohai.


Pantas saja setiap kali menjalani walking interview banyak yang berusaha melecehkannya.


Satu hal yang membuat fisik Zavira kurang pas adalah berat badannya yang terlihat over.


Zen yang melihat potensi dalam diri Zavira dan sesuai dengan kemunculan produk baru dari Z beauty yaitu suplemen penghancur lemak, langsung bergerak cepat.


“..apakah Zavira mau pekerjaan?!” ucap Zen ketika Zavira sudah duduk disamping kakeknya.


“..mau kak! Kerjaan apa saja yang penting tidak kriminal!” ucapnya bersemangat.


“..sebentar ya!”


Zen segera mengeluarkan hape dari sakunya dan menekan tombol angka 1 yang langsung mengarah ke nomor Clara.


{tuuuttt}


Suara telepon tersambung.


“..ada apa sayang?!” tanya Clara yang telah tersambung.


Zen langsung menceritakan keadaannya, dan potensi calon pengguna pertama dari suplemen peluntur lemak produk baru dari Z beauty.


Clara langsung melayangkan permintaan mode video call dan langsung disetujui oleh Zen.


{klik}


Sambungan video call terkoneksi.


“..coba tolong, kamu berdiri dan memutar!” ujar Clara yang suaranya bisa didengar oleh Zavira dan kakeknya.


Zavira segera menuruti perintah Clara yang terlihat sedang bersama Ling-ling dan Sofia yang ikut memperhatikannya lewat sambungan Video jarak jauh.


“..waah, kamu cocok sekali untuk jadi model produk kami!”


“..sayaang!, aku akan segera mengatur orang disana untuk mempersiapkan tempat presentasi dan live streamingnya! Tolong kamu bantu talent baru kita untuk datang kelokasi besok ya!” terlihat Clara sangat tertarik dengan pribadi Zavira.


{ceklek!}


Setelah beberapa kata, Clara dan Zen menyudahi sambungan telepon mereka.


“..naah Zavira, persiapkan diri kamu ya, jaga kesehatan dan jangan makan macam-macam, ini adalah uang muka pembayaranmu, sesuai yang sudah diinformasikan tadi!” Zen menyerahkan satu bundel uang pecahan proklamator yang diambil dari sakunya.


“..ini, beneran kak?!”


“..laah pakai segala tanya lage, ya bener lah, simpan baik-baik, belilah hape untuk berkomunikasi, dan ini kartu nama ketiga istriku!”


“..jangan lupa besok jam 8 pagi sudah ada dilokasi yaa! Jangan telat!..”ujar Zen menyerahkan kertas kecil berisi tulisan nomor telepon ketiga wanitanya.


“..simpan baik-baik nomor itu, jangan pernah dibagikan kepada pihak lain!”


“..bb-baik kak, terima kasih!”

__ADS_1


“..kakek! Zavira kerja kek!” dengan gembira Zavira memeluk kakeknya yang disambut dengan tatapan haru yang mengucapkan terima kasih pada Zen.


Zen segera pamit undur diri setelah tidak ada lagi pertanyaan dari keduanya, baik terkait penyakit yang diderita kakek Zavira maupun urusan Zavira nantinya dengan presentasi produk terbaru dari Z beauty.


__ADS_2