
“..hoaaammm!!!” Evelyn menguap.
Jam dinding kamar yang diletakkan tepat menghadap kearah tempat tidur menunjukkan pukul 10 pagi waktu setempat.
“..eeh!” Evelyn kaget karena tubuh polosnya terlihat sudah berada didalam selimut tebal berwarna putih.
“..dimana ini?!” ujarnya pelan.
Tersadar dengan kondisinya, Evelyn segera mengecek lubang sempitnya.
“..tidak ada darah!”
“..masih segel!” gumamnya.
Dirinya kembali mengingat kejadian sebelumnya, dimana dirinya sudah tidak bisa lagi menguasai tubuhnya sendiri yang mengalami gelombang kenikmatan berulang-ulang kali.
{blussshh}
Mukanya langsung memerah tanda malu ketika mengingatnya.
Dengan celingukan kanan kiri Eve berusaha untuk mencari sesuatu.
Karena dirasa aman, Evelyn langsung bangun dari tempat tidur.
{brakkk}
Pintu ruangan mendadak terbuka.
“..kyaaaa!!!”
Evelyn terkejut melihat Zen yang hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya, keluar dari sudut ruangan kamar mandi dengan rambutnya yang masih basah.
Dengan posisi yang canggung Evelyn berusaha untuk menutupi bagian sensitifnya dengan kedua telapak tangannya, hingga dirinya lupa untuk menutup dua bongkahan melon 36FF miliknya.
“..bukankah aku sudah melihat semuanya kemarin?!”
“..tidakkah kamu lihat hapemu lebih dulu?!” ucap Zen yang terlihat dingin berganti pakaian didepan Evelyn.
Buru-buru Evelyn melihat hapenya.
“...Kyaaaa!!! apakah ini aku??!!!!” Evelyn langsung berteriak ketika membuka file video yang dikirimkan Zen.
Video yang mempertontonkan Evelyn yang sedang merancau-mengerang-mendesah keenakan saat sedang diobati dengan durasi satu jam lebih lamanya.
{bukkk}
{brakkk}
Evelyn lantas berlari kearah kamar mandi, lanjut menutup pintu kamar mandi dengan keras, karena malu melihat dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol sikapnya saat menjalani pengobatan.
Harga diri seorang Evelyn terlihat sudah jatuh didalam jurang yang terdalam, ketika melihat aksi dirinya sendiri yang lebih mirip disebut sebagai artis ‘Vvip-only-fans’.
Zen yang melihat sikap Evelyn hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja.
“..keliatannya bakalan ada nomor empat ini!”
“..issssh...issssh..issshhhh!”
Zen lantas berjalan kearah ruangan kerjanya, untuk melanjutkan aktivitas bekerjanya.
Jari jemari Zen terlihat menari-nari diatas keyboard laptopnya, sementara layar monitor menunjukkan progress pekerjaan pembersihan pesisir pantai dari muntahan minyak mentah.
Progress bar menunjukkan angka 90% artinya tinggal 10% lagi pekerjaannya akan selesai.
Beberapa email juga Zen jawab terkait pekerjaan bisnisnya yang lain.
{krieeett}
Pintu ruangan tempatnya beristirahat terbuka.
Keluar sosok Evelyn dengan rambut basahnya memakai sweater Zen yang terlihat kebesaran.
“...aku engga ada baju, jadi maaf, aku lancang memakai bajumu!” ujar Evelyn sambil malu malu.
Pakaian Zen terlihat kebesaran, namun terlihat panas jika dipergunakan Evelyn, jika tidak kuat imron bakalan sering senam lima jari.
Evelyn duduk dengan mengangkat kedua kakinya, sebuah pemandangan yang kontan bisa membuat sang naga perkasa bangun dari tidurnya, karena melihat camel-toe itu terselip dan mengintip ingin dilihat.
“..apakah aku sudah sembuh?!” tanya Evelyn yang terlihat ragu-ragu.
“..euhmmnn!!” anggukan kepala Zen memberikan konfirmasi.
“..aah...begitu ya!” ada perasaan bahagia namun juga ada perasaan yang susah diungkapkan dengan kata-kata.
“..kamu bisa kembali beraktivitas seperti semula dan tidak takut lagi, akan mendapat serangan yang sama!”
“..sudah tahu nomorku bukan, jadi kapanpun kamu ada masalah yang sama, bisa menghubungiku!” Zen berbicara dengan tanpa melihat kearah Evelyn yang sedang duduk, entah sengaja atau tidak posisi duduknya sangat memancing Zen untuk mengintip godaan yang diberikannya.
“..kamu mesti tanggung jawab!!” tiba-tiba Evelyn berbicara spontan.
{jdeeeerrr!!}
Kilat langsung menyambar.
“..kyaaaa!!”
Evelyn yang duduk sangat dekat dengan Zen langsung melompat kedalam pelukan Zen, karena sejak kecil dirinya sangat takut dengan suara petir.
Negera Samba sendiri berada di wilayah tropis, namun petir kerap kali menyambar disiang hari, karena dampak angin topan samudera Atlantik bagian selatan.
Masih dengan menggigil ketakutan Evelyn tidak melepaskan pelukannya dari badan Zen, Evelyn merasakan kenyamanan dengan bau menthol mint badan Zen.
{cuppp}
__ADS_1
Entah dapat keberanian darimana Evelyn langsung spontan mencium dan ******* bibir Zen dengan sangat menghayati.
Zen membalasnya dengan penuh penghayatan juga, bukan karena apa, tekanan melon 36FF itu membuatnya menjadi lupa daratan, ada sensasi tersendiri ketika dada bidangnya dipijat empuk.
“..tapi aku sudah punya 3 istri!” ujar Zen berbicara dengan jujur.
“..bodo amat! Mau tiga, sepuluh, tiga puluh! Aku yakin kamu pria bertanggung jawab dan adil!” kembali Evelyn dibutakan oleh cinta, dan tidak mau kehilangan pria yang sudah melihat tubuh polosnya dan bahkan sudah menyembuhkannya.
“..ini photo ketiga istriku!” Zen mengarahkan Evelyn untuk melihat photo wallpaper laptopnya.
“..Z Beauty! 3 istrimu adalah pemilik Z beauty!?” betapa kagetnya Evelyn ketika dirinya melihat tiga sosok yang menginspirasi hidupnya beberapa akhir ini.
“..euhmmm! bagaimana?!” tanya Zen kembali.
“..siapa takut! Mereka pasti menerimaku! Aku yakin!” jawab Evelyn.
Keduanya lantas membuka jalur video call untuk menghubungi Clara, Ling-Ling dan Sofia.
Pertama kali ketiganya terkejut, kemudian Laptop diambil oleh Evelyn, dan disitulah Evelyn bercerita sesama wanita, dirinya sangat berharap bisa menjadi bagian dari ketiganya untuk memiliki Zen secara bersama-sama.
Zen seperti badut pesta yang sudah tidak dilihat ketika pestanya sudah usai.
Dirinya berdiri dipojokan sudut ruangan hotel, dengan posisinya Zen, dirinya bisa melihat pemandangan sekitar pusat kota negara samba yang langsung terhubung dengan laut.
Sudah sejam lebih Evelyn berbicara dengan Clara, Ling-Ling dan Sofia, bahkan tidak jarang mereka tertawa riang tanpa mengindahkan keberadaan Zen.
“..sayaang, bawa Evelyn kemari, kami bertiga setuju dengan Evelyn menjadi nomor 4!” Clara terdengar bersuara lewat video Call.
“.euuhmmmnn!” anggukan kepala Zen menandakan persetujuan.
{klik}
Panggilan Video lewat laptop itu langsung terputus.
{cupp}
“..kamu harus bisa mengalahkan semua bodyguard ayahku, karena itu syaratnya ayah bisa menyetujui hubungan kita!” Evelyn mengingatkan Zen.
“..laah, kok jadi aku?! Bukannya kamu sendiri tadi yang mau, sekarang kenapa jadi aku yang harus berjuang keras?!” ucap Zen sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“..sayyyaaanggg!! kamu iiissshhhh!!” Evelyn merajuk manja.
“..plisssss.... kata ketiga saudariku, kamu pasti mampu kok!!” rengeknya sambil bergelayut manja.
“..iyaaa,..iyaa..!” Zen yang melihat tatapan Evelyn menjadi luluh seketika.
Setelah keduanya sarapan pagi sekaligus makan siang karena jam sudah menunjukkan pukul 13:15 waktu setempat, keduanya lantas pergi meninggalkan hotel menuju kediaman orang tua Evelyn.
Tidak sampai satu jam, mobil taxi yang membawa mereka berdua tiba dikediaman orang tua Evelyn.
Melihat taxi bergerak memasuki pagar, ayah Evelyn langsung turun dengan terburu – buru.
{dappp}
Sekelompok pengawal keluarga langsung mengerubungi Zen.
“...iisshh... iisshh... iiiiisshh, belum juga kenalan sudah disambut hangat!!”
“...hihihihi...” Evelyn tertawa cekikikan melihat respon Zen.
“..semangaat sayangku!!”
{cuppp}
Setelah memberikan kecupan dipipi sebelah kanan Zen, Evelyn langsung masuk kedalam rumah, tanpa mengindahkan ayahnya yang menatap bengong anak perempuan satu-satunya berani mencium pipi pemuda yang saat ini sedang dikerubungi para pengawal militer milik ayahnya.
“..hyaaattt!!!”
Setelah mendapatkan anggukan kepala dari ayahnya Evelyn, tiga pengawal langsung bergerak melompat menerjang Zen yang masih terlihat santai.
{brakkk}
Hanya dengan mengibaskan tangannya, Zen melempar tiga pengawal ayahnya Evelyn sangat jauh hingga menabrak tembok dinding rumah.
“..seraaang!!”
Melihat ketiga kawannya terlempar jauh, semua pengawal yang tersisa merangsek masuk lebih dekat.
{bassshh}
{buuugggg}
{daaagg}
{duuuuggg}
Kepalan tangan bertemu kepalan tangan!
Tendangan bertemu tendangan!
Benturan kepala bertemu dengan benturan kepala!
{braaakkk...brakkkk...brakkkk}
Semua pengawal keluarga Evelyn terlempar sangat jauh hingga menabrak pohon, menabrak tembok, mengenai tiang garasi.
Dan semuanya berakhir dengan tergolek lemas karena cidera tulang, cidera organ dalam, macam-macam cidera fisiknya.
“..apa ini saja kemampuan pengawal keluarganya Evelyn?!” Zen mulai memprovokasi para pengawal yang dipastikan bisa sebulan lebih akan tidur diranjang rumah sakit untuk pemulihannya.
{prok..prok..prok}
Ayah Evelyn terlihat bersuka cita dengan pencapaian Zen.
__ADS_1
“..selamat datang dikediamanku anak muda!”
bukannya tidak senang, semua penjaganya tergolek cidera karena aksi Zen, ayah Evelyn malah tersenyum puas.
“..mulai sekarang, kamu harus memanggilku ayah!” ayah Evelyn langsung merangkul Zen untuk masuk kedalam rumahnya.
“..kalian, urus para pengawal lemah itu!” ujarnya sambil menunjuk pengawal tersisa yang terlihat gemeteran ketika ditatap oleh Zen.
“..bb-baik tuan besar!” semuanya lantas bergerak mengangkat kawan-kawannya yang terlihat tidak mampu untuk berdiri.
Badan keras-dempal ala-ala militer tidak menjamin sebuah kekuatan fisik yang kuat, itulah kenyataan yang bisa dipetik dari pembelajaran yang Zen berikan.
“..apes bangeed gue!”
“..iya mimpi apa gue semalam sampe begini!”
Semuanya mengeluh karena baru kali ini mereka dikalahkan, bahkan oleh seorang pemuda yang mereka anggap sebagai orang yang lemah.
Ayah Evelyn yang menjamu Zen dibagian belakang rumah terlihat sangat gembira, dirinya seperti menemukan sosok idaman yang diharapkannya selama ini.
Evelyn sendiri memilih bergelayut manja dilengan Zen, tanpa malu mempertontonkan sikap manjanya didepan ayahnya.
“..ayah titip anak ayah, jaga dia, karena sejak kecil dia sudah ditinggal ibunya ketika melahirkannya!’
“..udah deeh, mulai kaan..kaaaan...!” Evelyn berusaha mencegah ayahnya bercerita masa lalunya.
“..isssh, kamu engga boleh begitu sama orang tua kamu, bersyukur kamu masih punya orang tua, aku sejak kecil sudah ditinggal kedua orang tuaku!” Zen mulai menceritakan masa lalunya yang suram.
“..hiksss” tiba-tiba Evelyn langsung berlari memeluk ayahnya yang duduk diseberang meja.
Selama ini Evelyn selalu tidak menganggap ayahnya, dan lebih suka membantah semua perintahnya, karena dirinya tidak ingin dikekang, namun setelah mendengar cerita masa lalu Zen, Evelyn langsung tersadar, betapa dirinya sudah menyia-nyiakan ayah yang sudah berjuang mati-matian baginya hingga menjadi pribadi seperti sekarang.
“..sudah-sudah, sebaiknya kita segera meresmikan hubungan kalian, bagaimana?!” tanya Ayahnya Evelyn.
Zen kemudian kembali menceritakan keadaannya dengan sejujur-jujurnya, tanpa ada yang ditutupi, tentang 3 wanitanya dan tentang bisnis yang dikerjakannya.
Beberapa kali raut wajah ayahnya Evelyn terlihat kisut berpikir, namun kemudian dirinya sadar, sosok Zen memang tidak bisa hanya dengan satu dua wanita, dan dirinya memakluminya.
“..karena anak ayah sudah memilih, tolong mulai sekarang, ayah titipkan anak ayah padamu nak Zen!”
“..pasti ayah!” jawab Zen dengan mantap.
Ayah Zen sendiri sangat bangga dengan menantunya, tidak disangka menantunya adalah orang penting yang dunia cari untuk menyelesaikan permasalahan pollutan disuatu negara dengan teknologi super nano miliknya.
Beberapa kali Ayah Evelyn mencuri pandang kearah Zen karena bentuk kagumnya.
“..lalu apa rencanamu nak Zen?!” tanya Ayah Evelyn.
Zen mulai menceritakan progress pekerjaannya yang tinggal 10% lagi, diperkirakan lusa dirinya sudah bisa kembali ke negaranya.
Mendengar penjelasan menantunya, ayah Evelyn hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda mengerti dan paham situasi yang saat ini terjadi, karena dirinya juga seorang pebisnis yang sudah lama berkecimpung didunianya.
Evelyn sendiri sudah sibuk dengan komunikasi jarak jauhnya bersama ketiga saudarinya yang lain, dirinya menceritakan betapa perkasa dan tangguhnya Zen mengalahkan puluhan pengawal khusus keluarganya.
Tiga saudarinya terlihat antusias dengan cerita yang dibagikan oleh Evelyn, hingga mereka melakukan komunikasi video call dalam waktu yang sangat lama.
Zen sendiri sudah meninggalkan kediaman Evelyn tanpa berpamitan, karena ada hal penting yang harus segera diselesaikannya.
Sebelum pergi Zen membagikan pil penyembuh untuk dibagikan pada pengawal khusus keluarga Evelyn.
Tadinya ayah Evelyn tidak percaya dengan penjelasan Zen, namun setelah dirinya melihat sendiri efek pil penyembuh buatan Zen, pandangannya langsung takjub.
Ajaib!!
Pil penyembuh itu langsung bekerja instan menyembuhkan cidera semua pengawal khusus yang telah menelannya.
Satu lagi poin special Zen dimata ayah Evelyn, yang semakin tidak bisa melepaskan Zen, dan harus segera meresmikan hubungannya dengan putri semata wayangnya.
“..ayah Zen mana?!” tanya Evelyn ketika dirinya keluar dari kamarnya dan tidak mendapati calon suami masa depannya.
“..kamu sih keasyikan nelpon, Zennya pergi deh!” Goda sang ayah.
“..isssh, ayah, kenapa engga ditahan Zennya lama – lama sih!” Evelyn merajuk dengan menjejak-jejakkan kakinya kelantai.
“..sudah-sudah, Zen tadi ada urusan penting terkait bisnisnya, kamu jangan terlalu manja dengan calon suamimu, kamu harus ingat, pekerjaan Zen itu banyak dan dia salah satu tokoh penting dunia yang identitasnya sangat tersembunyi!” ujarnya sambil mengelus pelan ubun-ubun Evelyn.
“..iya sih! Tapi...”
“...isssh...isssh...iiiisssh, sudah-sudah, lebih baik kamu bersiap-siap, sana pergi manicure kek, pedicure kek, spa perawatan kulit kek, lihat itu kulit kamu sudah kusam begitu?!” sergah ayahnya.
“..afa hiyaaa??!” Evelyn spontan melihat kearah kulit putihnya yang memang terlihat sedikit kurang segar.
“..tenang ayah, ketiga saudariku sudah mengirimkan produk mereka secara eksklusif kemari, jadi sebentar lagi aku akan melakukan perawatan ekstra dengan produk-produk Z beauty!”
“..apa kamu bilang? Z Beauty?!”
“..heuuummm!” anggukan kepala Evelyn.
“..jadi, tiga saudari kamu yang lain itu pemilik Z Beauty?!”
“..iyaaa Ayahkuu...!” sambil Evelyn memegang dagu ayahnya.
Ayah Evelyn langsung menggeleng-gelengkan kepalanya tanda ketakjubannya.
“..luar biasa memang Zen!” gumamnya pelan.
Pastinyalah, dibalik kesuksesan wanita yang berkarir, ada ramuan rahasia dari laki-laki dibelakangnya.
Keduanya lantas bercanda gurau layaknya keluarga yang lama tidak bertemu, sebuah suasana yang memang sudah sangat lama hilang didalam keluarga.
Pemandangan ayah dan anak itu dilihat oleh semua pegawai dan pelayan rumah tangga yang bekerja, mereka turut berbahagia melihat kebersamaan ayah dan anaknya, kebahagiaan yang sudah lama hilang, dan berkat kemunculan Zen, suasana kehangatan sebuah keluarga itu kembali hadir.
Ayahnya Zen mengadahkan pandangannya keatas langit, sambil bersyukur didalam hatinya atas apa yang diperolehnya hari ini.
__ADS_1
Semua berkat kehadiran malaikat yang bernama Zen, begitulah suara hati ayahnya Evelyn.