
Seminggu sudah Zen berdiam diri tinggal di desa tempat kelahirannya, dan dalam seminggu itu pula Zen banyak membantu warga desa sekitar lereng gunung belimbing dengan berbagai terobosan pengobatan alternatif.
Pak sukarta sendiri sudah memberikan informasi bahkan sempat main kerumahnya Zen bersama istrinya, ucapan terima kasih tiada henti dilontarnya pak sukarta beserta istrinya.
Lain pak sukarta dan istri lain pula dengan putri, anak gadis semata wayang mereka, putri yang mengetahui Zen sudah menikah dan memiliki delapan orang istri, dua diantaranya ada bersamanya dan enam lainnya sedang ada diluar kota, membuat Putri patah hati dan mengurung diri didalam kamar.
Dalam satu minggu itu juga Zen telah mencuci otak Andri, pensiunan militer yang telah dirubahnya menjadi abdi setianya.
Zen mengubah Andri menjadi ahli beladiri yang memiliki kemampuan setara dengan anak buahnya yang lain di negeri gingseng dan negeri sakura.
Salah satu keahlian Andri adalah kekuatan fisiknya, jika ikut lomba tarik tambang, Andri bisa mengalahkan 1000 gajah Afrika hanya dengan menggunakan kekuatan fisiknya.
Keahlian sniper bawaannya juga semakin meningkat, jika sebelumnya paling jauh 12 kilometer bisa menembak sasaran dengan tepat pada organ vitalnya, dengan kecerdasan Andri yang mengotak-atik senjata miliknya ditambah saran-saran dari Zen terkait meterial yang dipergunakan didalam senapan laras panjangnya, kini target terbuka dalam rasiua 22 kilometer sanggup dibunuhnya.
Andri diberi tugas Zen untuk segera merebut kekuasaan para gangster dunia bawah di kota megapolitan, dan mengubah tatanan dunia bawah Konoha dibawah kekuasaan Andri.
Beberapa kawan seangkatan yang tidak sejalan dengan para pimpinan militer mereka karena hanya dipergunakan sebagai alat kebusukan mereka pun bergabung dengan kelompak Andri yang diberi nama Panthera.
Bersama dengan Andri dalam satu minggu berjalan sudah ada 200 anggota dan mereka sudah melegalkan legalitas usaha dibidang pengamanan super VVIP.
Panthera menjadi momok paling menakutkan didunia bawah dan pasar gelap konoha.
Berbagai perusahaan keamanan malah bersinergi dengan Panthera dalam hal pelatihan serta sertifikasi pengamanan, karena kekuatan Phantera yang sangat mendominasi meski hanya satu minggu umurnya.
“..apakah tuan muda berminat datang untuk acara nanti malam?!” tanya Andri ketika menghadap Zen dan ditemui dihalaman belakang rumahnya sambil menikmati angin sore sepoi-sepoi.
“..apakah aku harus ikut? Bukankah kekuatanmu sudah cukup untuk menghadapi para gacoan dunia bawah!”
“..hehehe..” Andri nyengir kuda ketika Zen meledeknya.
“..baiklah, aku akan ikut! Jangan sampai mengecewakanku nanti!”
“..siapp tuan muda!”
Nanti malam adalah acara puncak dari kegundahan dunia bawah, dua hari yang lalu para praktisi beladiri dunia bawah di konoha terlihat kurang puas dengan sepak terjang Phantera yang merasa paling pantas menjadi pimpinan dunia bawah dinegara Konoha.
Sebuah acara yang dihelat disebuah gudang dekat pelabuhan terbesar dikonoha dan hanya orang-orang tertentu yang bisa mendapatkan akses masuk kedalamnya menjadi tempat diadakannya acara pertarungan para gacoan dunia bawah di konoha.
Para jagoan-jagoan beladiri yang memang menjadi gacoan dari masing-masing kelompok yang selama ini menguasai wilayahnya masing-masing akan hadir dan membuktikan diri.
Andri yang sudah mendapatkan lampu hijau dari tuan mudanya langsung menghubungi anggota kelompoknya, guna mempersiapkan tempat duduk super vvip.
Jam pun berlalu dengan cepatnya, hingga waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, Zen yang berada dikursi penumpang dengan Andri serta seorang sopir alumni militer pilihan, sopir yang juga merupakan anggota Phantera, kini telah berada dijalanan tol yang mengarahkan mobil mereka menuju pelabuhan internasional terbesar di konoha.
Dari wilayah selatan kota megapolitan, dibutuhkan waktu satu jam setengah untuk mencapai lokasi yang dimaksudkan.
*dilokasi acara*
“..apakah pemilik Phantera akan hadir malam ini?!”
“..aku penasaran siapa pemilik Phantera ini, bagaimana bisa kelompok kemarin sore memiliki kekuatan beladiri yang sungguh luar biasa!”
“..kita meski berkawan dengan pemilik Phantera, jangan sampai kedepannya bisnis kita menjadi terganggu dengan urusan para preman dunia bawah!”
“..jangan dulu berpihak, kita belum tentu tahu kekuatan yang sebenanrnya malam ini, jangan sampai kita salah langkah!”
“..yap, benar juga katamu, lebih baik kita wait and see dulu kalo begitu!”
“..lihatlah..itu mobil dari pemilik Phantera!”
{ckiiittt}
Rem mobil yang sangat pakem memberhentikan kendaraan yang didalamnya ada Zen dan Andri tepat diparkiran yang telah dikawal oleh anggota Phantera.
{dapp}
Pintu mobil dibuka dari arah luar, setelah Zen dan Andri keluar, pintu mobil kembali ditutup.
Kharisma Zen sangat mendominasi, bahkan auranya sudah membuat penekanan disekitar tempat acara, sebuah fenomena yang tentunya tidak bisa dipungkiri keberadaanya oleh para praktisi beladiri disekitar parkiran.
“..tekanan ini! Inikah pemilik Phantera!”
“..untuk sesaat aku sampai lupa dimana aku berada!”
“..ini sungguh berbahaya, aku tidak mau menyetorkan nyawa malam ini!”
“..aku juga, lebih baik aku mengundurkan diri dari sekarang!”
Beragam komentar dari peserta yang telah berkumpul menyeruak, hanya dengan tekanan aura milik Zen saja semuanya sudah pada bergidik ngeri, hampir seratus lebih peserta yang mewakili dari berbagai wilayah, mengundurkan diri secara bersama-sama.
“..woi..kenapa kalian mengundurkan diri beramai-ramai! Pengecut!” teriak salah seorang ketua gangster yang memang merasa memiliki kemampuan dengan berbekal sebuah token yang didapatkannya dari pelelangan dunia bawah dieropa.
Token berbentuk kayu yang terlihat memiliki ukiran bergambar tameng dengan tulisan aneh diatasnya.
Jika orang praktisi melihat, tubuh pemilik token sedang dilindungi sebuah kubah energi transparan yang berasal dari mantra token yang ada didalamnya.
Zen yang melihat kepercayaan diri berlebih dari orang yang memandangnya dengan sinis, langsung menjentikkan gelembung udara.
{siuuuttt}
Gelembung udara tak kasat mata itu langsung meluncur seperti kelereng yang dilempar memakai ketapel.
{duarrr}
Ketua kelompok yang merasa dirinya hebat itu langsung terpental jauh ratusan meter dari parkiran gedung tempat diadakannya pertarungan praktisi beladiri dunia bawah.
“..kenapa?!’
“..apa yang terjadi?”
“..bagaimana bisa dia terpental jauh sekali?!”
Anggota phantera yang sudah tahu jikalau itu ulah dari tuan muda mereka hanya tersenyum sinis sambil terus melangkah memasuki pintu gudang super tinggi layaknya hanggar pesawat terbang.
“..tuan muda kita memang hebat!”
“..makan itu kesombongan kalian sampe kembung!”
“..sudah-sudah, kalian bisa diam tidak? Jangan sampai tuan muda tahu kalian berisik!”
__ADS_1
Tidak ada yang berani melawan teguran dari Andri.
Zen dan Andri terlihat berjalan menuju kesebuah bilik khusus bagi para pemegang kartu super VVIP, sebuah kartu yang harus ditebus dengan angka yang lumayan besar untuk mendapatkannya.
“..nanti jika kalian bertanding, pancing semuanya agar mau mempertaruhkan semua yang mereka miliki dulu, selain bilik bandar yang secara resmi membuka taruhan, kalian paham!” ucap Zen memberikan arahan setelah mereka berada didalam ruangan super VVIP.
“..baik tuan muda!”
“..ini ambillah kartu ini, didalamnya ada 10 trilyun! Pergunakan sebagai taruhan kalian, dan jangan berlama-lama bermainnya, satu menit! Jika lebih, kalian akan aku hukum!” tegas Zen memberikan perintah.
“..siap tuan muda!” kompak semua yang akan turun kedalam arena pertarungan memberikan jawaban dengan penuh ketegasan dan keyakinan.
Andri dan kelompoknya terheran dengan sikap Zen yang memberikan kartu berisi 10 trilyun layaknya memberikan kartu bermain wahana saja.
Acara pertarungan pun mulai dibuka dengan sambutan panita, Phantera dan kelompok yang lainnya dipersilahkan untuk mempersiapkan diri dibawah arena.
Total tersisa hanya ada 5 kelompok yang mewakili wilayah barat-timur-utara-selatan-pusat.
Terlihat para petarung mereka adalah para praktisi yang sudah membuka jalur energi spiritual mereka, namun masih kalah jauh dengan para petarung phantera yang terlihat tenang tanpa terprovokasi.
“..sebelum bertarung, kami kelompok Phantera, ingin membuat taruhan mandiri, diluar taruhan yang diberlakukan oleh bandar dipojokan sana!” ujar Andri terlihat sangat mendominasi.
“..didalam kartu ini ada 10 trilyun!, yang tidak berani memberikan taruhan, jangan pernah menginjakkan kakinya didalam arena!” Andri mulai mengeluarkan provokasinya.
Kasak kusuk para peserta serta penonton yang hadir langsung menyeruak.
“..10 Trilyun! Apa ketua kelompok Phantera sudah gila!”
“..benar itu, bandar saja tidak berani dengan angka yang sebegitu besarnya!”
“..ini sangat menarik”
Komentar beragam pun mulai membanjiri ruangan gedung yang dijadikan tempat pertarungan.
“..kami siapp, tapi kami harus menggabungkan dengan wilayah yang lain? Apakah kelompok Phantera sanggup melawan gabungan wilayah yang ada?” tanya ketua kelompok yang mewakili bagian kelompok di wilayah yang lainnya.
“..kami sanggup!”
Setelah Andri berucap sanggup, semua penonton yang hadir langsung ramai, ada yang merendahkan Phantera, ada yang bingung dengan sikap Phantera, dan ada juga yang secara diam-diam mengukur kekuatan dari kelompok phantera.
Posisi taruhan pun mulai berubah, banyak yang memandang sinis phantera karena berani melawan para praktisi ahli beladiri yang namanya sudah banyak malang melintang didunia bawah, bahkan nama-nama mereka ditakuti oleh para sindikat luar negri.
Setelah pihak wasit mengamankan taruhan mandiri dari phantera dengan pihak yang lain, pertandingan pun dimulai.
Satu perwakilan phantera naik keatas arena, kemudian dari sisi musuh phantera juga naik keatas arena pertandingan.
Wasit terlihat memberikan aba-aba terkait aturan pertandingan, karena dalam pertandingan ini dilarang membunuh, namun diperbolehkan membuat lawan cacat seumur hidup.
“..jangan salahkan kami jika nama kalian hancur malam ini karena kesombongan kalian!” ucap musuh mereka yang menggunakan seragam beladiri.
Kuda-kuda penyerangan dibuka, beda dengan anggota kelompok Phantera yang masih terlihat tenang tanpa ada tekanan sama sekali.
Banyak yang mencibir kelompok phantera yang terlihat masih tenang tanpa terprovokasi musuhnya.
“..sudah gila memang itu Phantera!”
“..yap, kamu benar kawan, ahli beladiri yang pertama ini pemegang juara beladiri se Konoha beberapa waktu yang lalu!”
*arena pertandingan*
“..matilah!”
Serangan pukulan cepat yang diluncurkan oleh musuh kelompok phantera terlihat sangat mematikan.
Gelombang energi spiritual dengan kekuatan yang diluar nalar menimbulkan angin yang lumayan besar.
{tapp}
Anggota kelompok phantera yang mendapat kesempatan pertama kali bertarung langsung menangkap tangan dari musuhnya.
{brakkk}
Dengan gerakan supercepat musuh itu langsung dibanting kelantai arena.
“..huekkk”
Musuh yang dibanting langsung memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya.
Pingsan!
Bisa dipastikan bantingan yang dilakukan oleh anggota kelompok Phantera membuatnya langsung mengalami luka dalam, semua organnya didalam tubuhnya telah hancur.
Pentonton langsung terlihat hening, bahkan detik jam yang menjadi pengingat waktu pertandingan terasa sangat berat bergulir.
“..wasit!” teriak Andri.
“..eh..” wasit pertandingan langsung melihat kondisi peserta yang tergolek pingsan diatas lantai arena.
“..pemenangnya kelompok Phantera!” seru wasit mengumumkan.
{tenggg}
Angka satu mulai terlihat dipapan skor.
Tidak ada yang bertepuk tangan dengan pertarungan singkat kurang dari satu menit yang telah tersaji didepan mereka.
“..horee!! aku menang taruhan!!” keheningan itu langsung terbuyarkan oleh sebuah ekspresi kegembiraan dipojok ujung yang memenangkan taruhan, dirinya yang nampaknya sendirian memasang kelompok Phantera sebagai juara langsung berlari kegirangan menuju bilik bandar.
“..wasit lanjutkan!” perintah Andri ketika melihat medik sudah mengambil tubuh peserta yang terlihat mengenaskan.
“..lima puluh dua detik, lumayan! Artinya target tuan muda masih terpenuhi!” ucap Andri memberhentikan jam digitalnya yang disetting mode stopwatch.
“..kamu 02! Majulah, ingat satu menit!” ujar Andri yang memberikan gestur jari telunjuk diangkat kearah atas.
“..siap ketua!” anggota phantera yang ditunjuk Andri langsung bersiap keatas arena.
Semua anggota kelompok Phantera memiliki sandi penomoran, sehingga semua identitasnya sangat rapat disembunyikan.
Kali ini Musuhnya merupakan ahli beladiri dengan kemampuan fisik yang luar biasa, bobot 120 kilogram tinggi badan dua meter lebih, ototnya yang terlihat bergerumul layaknya parkiran motor di supermarket membuat kesan garang.
__ADS_1
“...bersiap!” wasit memberikan aba-aba.
{tengggg}
Suara lonceng pertandingan pun terdengar.
“..hiyaat...” sebuah pukulan menyasar organ vital milik anggota phantera langsung diarahnya dengan kekuatan penuh.
{tas}
Dengan sangat lihai anggota phantera mengibaskan tangannya menghindari pukulan dari musuhnya.
{dasshh}
Kembali lagi anggota phantera menangkis dengan menggunakan kombinasi tangan dan kakinya.
Pertarungan jarak dekat itu terlihat berat sebelah, karena musuh terus membombardir anggota phantera dengan kombinasi pukulan dan tendangan yang tidak ada berhentinya.
Sampai pada akhirnya..
{buuummm}
Hanya dengan satu kali tendangan, musuh bisa dijatuhkan.
Sebuah pertarungan jarak dekat akan memaksa siapapun untuk memilih bertahan atau menyerang, namun yang perlu digaris bawahi disini, penglihatan mata yang akan menentukan.
Melihat musuhnya memiliki kelemahan ketika mengayunkan tangannya, anggota phantera dengan kecepatan tendangan yang sangat diluar nalar langsung menyasar sisi leher dari musuhnya yang terbuka.
{krakkk}
Terdengar suara retakan keras ketika tendangan itu mengarah pada leher musuhnya.
{buggghhh}
Tubuh tinggi dempal itupun langsung terjatuh tak sadarkan diri.
“..wooooaaa!!”
“..ini luar biasa!!”
“..siapa yang menyangka kelompok phantera memiliki keahlian beladiri yang sangat tinggi!”
“..apakah kalian melihat kejadian tadi?”
Tidak ada yang bisa menduga serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh peserta yang mewakili wilayah gabungan bisa dengan mudahnya dikalahkan, hanya dengan sekali tendangan sidekick yang mengarah tepat pada leher lawannya.
{treenggg}
Skor pertandinganpun bertambah menjadi angka 2.
Setelah dua pertandingan, arah taruhanpun mulai berubah, bandar kelabakan, yang jelas bandar malam ini mengalami kerugian yang sangat besar untuk dua pertandingan pertama.
Keringat tegang bercucuran disisi kelompok gabungan, 10 trilyun adalah kekayaan mereka yang dihimpun dalam kurun waktu sangat lama, pastinya mereka tidak ingin mengalami kegagalan.
Pertandingan selanjutnya adalah pertandingan paling menentukan, karena jika mereka kalah, bisa dipastikan kelompok phantera akan menguasai seluruh dunia bawah dan pasar gelap yang menjadi kekuasaan mereka selama ini.
Andri terlihat mulai bersiap, karena dirinya sudah sangat gatal untuk menunjukkan kemampuannya.
“..bukankah itu Andri?!”
“..yap benar! Dialah sang eksekutor!”
Sebuah julukan yang sudah tersemat dalam diri Andri ketika menjadi sniper andalan yang disegani oleh semua pihak.
Dengan langkah mantabnya Andri berjalan memasuki arena pertandingan.
Ada ketenangan diraut wajahnya, sementara itu dirinya menunggu siapa yang akan menjadi lawannya.
Dari sisi petarung gabungan, melihat Andri yang maju, tidak ada yang berani menunjukkan diri.
“..gila, anak buahnya saja sudah seperti itu tadi kemampuannya, apalagi ketuanya!”
“..aku tidak mau celaka hanya karena melawannya!”
“..aku juga!”
“..aku juga!!”
Ketua kelompok wilayah gabungan langsung stress melihat para petarung yang mulai membubarkan diri keluar dari sudut tempat mereka berkumpul.
“..kami menyerah! Tolong kami menyerah!”
“..ya benar, kami mengakui kekuatan dari phantera! Tolong mari kita bicara baik-baik untuk kedepannya!”
Secara bergantian ketua kelompok yang mewakili setiap wilayah kekuasaan langsung berbicara.
“..waaah, phantera memang hebat!”
“..iya bahkan para petarung ahli beladiri dari setiap wilayah mengundurkan diri!”
“..kita harus segera mendekat pada kelompok phantera!”
“..kan bener aku bilang, phantera memang tidak ada tandingannya!”
Beberapa pengusaha yang melihat pertarungan berakhir dengan antiklimaks langsung berusaha untuk membuat kerjasama dengan pihak kelompok Phantera.
Andri melihat situasi ini tidak menguntungkan baginya, karena malam ini dirinya gagal menunjukkan kemampuan terbarunya pada semua orang.
“...haisss, kalian ini, belum juga aku berkeringat sudah pada menyerah!” ujarnya bisa terdengar oleh semua yang hadir.
“..ampun tuan Andri, tolong berikan muka pada kami semua!”
“..ya benar tuan Andri, kami semua tunduk dengan pengaturan Phantera kedepannya!”
“..benar tuan Andri, kami siap menerima perintah Phantera mulai saat ini!”
Kelima penguasa wilayah langsung memberikan nota kesepakatan pada andri terkait pembagian wilayah kekuasaan serta pengaturan setoran yang sudah dipersiapkan dengan sangat cepat oleh mereka.
Disudut ruangan, bandar pertarungan terlihat lemas, karena pertandingan yang harapannya bisa memberikan banyak keuantungan baginya, malah berbalik memberikan kerugian besar.
__ADS_1
Zen yang melihat dari awal hingga akhir sangat puas dengan kinerja kelompok phantera yang digawangi oleh Andri.
Setelah menganggukan kepala ditujukan ke Andri, Zen menghilang begitu saja dari lokasi pertarungan.