PEMULUNG SUKSES

PEMULUNG SUKSES
Gila


__ADS_3

{klunting.. klunting..}


{klunting..klunting..}


Suara gemericik berbagai logam kecil memenuhi baskom berbahan logam yang dipegangi oleh pak Sukarta.


“..iini--?” pak Sukarta tidak bisa berkata-kata lagi.


Ada jarum konde, ada jarum jahit, ada paku kecil ada kawat berduri yang terpotong kecil, semuanya keluar dari ujung jari jemari istri pak Sukarta saat Zen memberikan dorongan tenaga spiritual dari ujung kepala istrinya.


Putri yang turut membantu memegangi ibunya dari arah depan dengan ekspresi memeluk ibunya, bisa melihat semua bahan-bahan santet itu keluar dengan mudahnya dari dalam tubuh ibunya.


“..huekkkk” ibunya Putri memuntahkan darah berwarna hitam dan membuat baju yang Putri kenakan langsung menjadi kotor.


“..semuanya tahan sebentar lagi, bagian utamanya masih dalam perjalanan!” Zen menyerukan kalimat pada Putri dan pak Sukarta untuk bisa menahan diri dengan bau yang sangat menyengat.


{brooootttt}


Istri pak Sukarta mengeluarkan kotoran dengan diiringi suara kentut yang sangat besar, bahkan bau busuk yang semerbak langsung memenuhi kamar pribadi pak Sukarta.


Ada perasaan eneg, malu, senang, sedih semuanya berperang dalam jiwa kedua pribadi anak dan bapak ketika melihat proses pengobatan yang Zen lakukan.


“..tahapan mengeluarkan benda-benda berbahayanya sudah selesai, silahkan dibantu beliaunya untuk membersihkan diri, saya akan menunggu diluar rumah!” ucap Zen setelah membantu Putri untuk membaringkan ibunya ditempat tidur tanpa rasa jijik melihat kacaunya kondisi didalam ruangan kamar.


Tidak ada yang bersuara, baik Putri maupun pak Sukarta semuanya langsung bergerak membersihkan kekacauan yang telah terjadi.


Putri sempat merekam semua adegan yang dilakukan oleh Zen sesuai dengan arahan, sebagai bukti yang akan ditunjukkan kepada ibunya saat sudah sadar nanti.


Zen yang sudah berada diluar rumah pak Sukarta langsung melebarkan kesadarannya, mencari sesuatu yang tidak beres.


Sebenarnya mudah bagi Zen untuk memanggil buto ijo dan menyuruhnya untuk membereskan masalah yang sedang terjadi, namun dirinya mengurungkan niatnya, karena hal receh yang ada didepannya bukanlah porsi buto ijo.


“..ketemu!” ujar Zen yang sudah berada dibawah pohon sirsak.


“..apa itu Zen?!” tanya pak Sukarta.


“..ini yang namanya buhul pak Sukarta, lihatlah!” ujar Zen menunjukkan benda mirip buntalan pocong namun seukuran telapak tangan panjangnya, didalamnya berisi rambut target, kemudian paku, jarum, dan benda-benda lain yang tentunya masuk kedalam tubuh sang target.


“..siapa-siapa yang sudah melakukan ini semua!?” pak Sukarta tidak henti-hentinya memaki.


“..pak Sukarta harus sabar, saya sudah mengembalikan semua kiriman mereka dengan bunganya sekalian, esok hari pak Sukarta bisa melihatnya dipasar! Mungkin ini semua saingan bisnis pak Sukarta!” ujar Zen menjelaskan.


“..saya akan memberikan kertas ini, tolong tanam disetiap pojok halaman rumah pak Sukarta!” Zen memberikan kertas berwarna kuning dengan tulisan aneh yang hanya Zen saja yang tahu kegunaannya.


“..baiklah.. bapak terima dan bapak akan kerjakan sesuai saranmu!”


“..kondisi istri pak Sukarta masih sangat lemah, biasanya butuh 1-3 hari paling cepat istri pak Sukarta akan kembali sehat, selama itu, jangan lupa sering menjaganya, saya mau pulang dulu karena ada urusan tadi sudah janji dengan warga desa!” ujar Zen yang meminta ijin pamit undur diri.


Pak Sukarta yang tidak enak hati pada Zen hanya bisa mengiyakan pamitannya, dirinya sebenarnya masih ingin berbicara banyak dengan Zen terkait dengan apa yang menimpa keluarganya.


“..pak Sukarta tenang saja, setelah ini, keluarga pak Sukarta akan kembali baik-baik saja, percaya! Semua karena do’a yang pak Sukarta panjatkan setiap malam, inilah jawabannya!” Zen berbicara dengan penuh kesopanan ketika mengetahui kegundahan hati orang yang pernah membantunya dulu sewaktu susah.


Setelah berpamitan, Zen langsung menuju balai desa, karena Zen sudah berjanji pada warga untuk melakukan hipnoterapi bagi semua anak yang kecanduan gadget.


Tanpa Zen sadari, tidak hanya anak-anak, bahkan orang dewasa yang seumuran SMP dan SMA juga didaftarkan oleh orang tua mereka semua.


Jadilah balai desa penuh dengan warga yang sudah berjibun menunggu kedatangan Zen.


Pak kades yang melihat warga berdatangan tanpa ada undangan hanya bisa mengelus dada,


“..lagi-lagi Zen!” gumamnya dalam hati.


“..selamat siang semuanya!” Zen menyapa dari belakang kerumunan.


“..siaaaangggg!!” kompak semua warga desa menjawab dengan penuh semangat.


Kerumunan warga langsung terbelah saat Zen meminta ruang untuk berjalan kearah depan.


“..Pak Kades, saya datang lagi!” Sapa Zen sopan yang dijawab dengan anggukan kepala oleh pak kades yang sudah tahu maksud tujuan dari para warga yang berdatangan kebalai desa, layaknya ada pembagian bantuan pemerintah.


“..langsung saja, yang ingin dihipnoterapi segera maju dan duduk lesehan didepan saya sambil memegang hapenya!” ujar Zen bersuara.


{krusak-krusuk..}


Suara keributan pun terjadi, orang tua dari anak-anak langsung memposisikan anak-anak mereka duduk lesehan didepan Zen, tidak hanya anak kecil, yang dewasa pun didorong-dorong orang tua mereka untuk duduk lesehan didepan Zen meski dalam keadaan malunya setengah mati.


“..bagi orang tua, silahkan menepi, dan sedikit menjauh, karena ini dampaknya bisa meluas!” Zen memberikan peringatan pada orang tua yang terlihat berdesak-desakan tidak ingin jauh dari anak mereka.


Mendengar perintah Zen, semua orang tua langsung mengambil jarak aman.


{swooosshhh}


Tiba-tiba muncul asap putih diruangan balai desa, asap yang semakin lama makin tebal itu menyelimuti semua anak-anak berbagai umur yang sedang duduk lesehan didepannya.


Asap yang hanya bergerumul disekitar kumpulan anak-anak berbagai umur itu terus menerus menebal.


“..mulai hari ini, kalian semua yang menghirup udara dari asap putih ini, akan ketakutan jika melihat hape, dan kalian semua akan menjadi sangat kecanduan untuk belajar dan meraih prestasi disekolah kalian masing-masing, sampai kalian semua lulus SMA!”


Suara Zen penuh dengan intonasi yang mendominasi, menggelegar dan membuat penekanan pada pendengaran semua orang yang hadir dibalai desa.


“..bagaimana bisa Zen memiliki kemampuan hebat seperti ini!”


“..apakah ini sihir?!”


“..apapun itu, yang jelas anakku sudah tidak kecanduan hape lagi!”


“..iya bener jeng, aku juga begitu! Capek kita !”


“..dulu engga ada internet engga begini kan kita!”


Berbagai komentar berterbangan diantara kerumunan para orang tua yang mengamati proses hipnoterapi yang dilakukan oleh Zen.


Bahkan pak kades yang sudah mengenal Zen sejak lama menjadi terheran dan takjub dengan apa yang dlihatnya barusan.


{wuuusshhhh}


Saat dirasa sudah cukup, Zen segera kembali menghilangkan asap putih tebal yang menyelimuti anak-anak berbagai umur didepannya.

__ADS_1


“..mama!!”


“..ibuuukkk!!”


“...hiiiiihhh!!!”


Saat mereka tersadar, semuanya berteriak histeris sambil melempar jauh-jauh hape milik mereka masing-masing.


Orang tua yang melihat reaksi anak-anak mereka terlihat sangat puas, mereka langsung mendekati anak mereka masing-masing dan memungut hape yang dilempar oleh mereka.


Dengan sombongnya para orang tua menakut-nakuti anak mereka masing-masing menggunakan hape yang sudah dipungutnya.


“..terima kasih nak Zen!!”


“..terima kasih Zen!!”


Berbagai ucapan terima kasih diiringi bubarnya kerumunan warga dibalai desa terdengar silih berganti.


{prok.. prok.. prok.. prok..}


“..luar biasa! Sungguh luar biasa!” pak kades langsung menyalami Zen dengan ekspresi puasnya.


“..bapak bangga padamu Zen, bahkan semua warga desa yang tinggal dilereng gunung belimbing ini bangga memiliki sosok mu!”


“..lihatlah mereka semua, raut wajah optimisme tergambar jelas saat anak-anak mereka ketakutan melihat hape yang selalu melekat ditangan anak-anaknya, sampai lupa waktu dan tujuan hidup!”


“..kamu sudah membuat perubahan yang luar biasa bagi desa ini!”


Ungkapan bangga dan terima kasih terus dilontarkan oleh kepala desa pada diri Zen.


“..semua hanya titipan pak kades! Kemampuan saya yaa begitu saja, semoga saja ada perubahan signifikan kedepannya bagi warga desa!” Zen menjawab semua sorotan yang ditujukan kepadanya.


Dirasa tidak ada lagi yang perlu dikerjakan Zen pamit undur diri.


Selama perjalanan kearah rumah, persepsinya Zen menangkap beberapa orang yang memiliki niatan jelek untuk mencelakaianya.


“...keluarlah!” Zen berbicara kencang.


{krusak-krusuk!}


Dari dalam rimbunnya pohon bambu, muncul beberapa puluh orang preman bertatoo.


“..apakah orang kota itu yang menyuruh kalian?!”


“..hahaha..bocah! jangan sok kamu, kenalkan aku ilham codet! Jawara kota sebelah, siang ini, adalah siang terakhirmu bocah sialan!”


“..seraaanggg!!” sosok yang mengenalkan diri sebagai ilham codet itupun memerintahkan anak buahnya untuk menyerang Zen.


“...wooii seraaang!!!” Ilham codet masih belum melihat anak buahnya menyerang dari arah belakang.


Dengan slow motion ilham codet menggerakkan kepalanya 180 derajat kearah belakangnya.


“..lho kok ilang!!” kaget!


“..laah..pada kemana?” Ilham codet kebingungan sendiri.


“..kalian bereskan si codet, tanganku malas menyentuhnya!” Zen berbicara pada pasukan buto ijo yang sudah mengepung ilham codet.


{sraattt}


Tiba-tiba saja baju ilham codet sobek dan lepas dari tubuhnya.


“..ii-ini!!” ilham codet langsung down mentalnya, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba bajunya robek dan lepas sendiri.


{sraattt}


Kali ini celana belel nya juga terlepas paksa dari tubuhnya.


“..siapa...siapa yang melakukan!” ilham codet makin ngeri dan ketakutan.


“...apakah ini se-setaan?!” ilham codet pun mulai merancu bicaranya.


“..hahahaa... aku kesurupan.... hahahaha....!” pasukan buto ijo yang diperintah oleh Zen membuat perhitungan dengan masuk menyusup kedalam tubuh ilham codet membuatnya menjadi gila.


Dengan hanya memakai semvak engga utuh, ilham codet berteriak mirip orang gila kesana kemari.


Tubuhnya dipaksa lompat kesebuah kerumunan tanaman rawe, tanaman yang rimbun namun gatal.


Bisa dibayangkan, sudah telanjang lalu berguling di rimbunnya tanaman perdu gatal.


Tangan ilham codet tidak berhenti menggaruk seluruh badannya, kulitnya mengelupas karena kukunya terlalu dalam menggaruk.


Pikirannya setengah sadar melihat aksinya sendiri, namun batinnya meronta-ronta karena ada kekuatan tak kasat mata yang mengambil alih tubuhnya dan membuatnya menjadi gila dan gatal-gatal penuh luka cakaran kukunya sendiri.


Warga desa yang melihat ada orang gila baru lantas memukul dan menendangnya karena sudah berani bertindak asusila dengan mempertontonkan cacing kreminya didepan warga desa.


Tidak ada yang menaruh kasihan pada aksi ilham codet, anak-anak malah mengerjai ilham codet sampai dirinya keluar dari batas desa.


Tubuh ilham codet tergolek lemas, penuh bekas cakaran kukunya sendiri.


Luka yang terbuka terlihat mulai bernanah, kondisi kesadarannya bisa melihat itu semua, namun dirinya tidak memiliki kuasa untuk mengontrol tubuhnya.


Ada perasaan penyesalan dalam dirinya karena telah mengambil pekerjaan yang pada akhirnya membuat dirinya sendiri terlihat mengenaskan.


Nasi sudah menjadi bubur, ilham codet yang terkenal garang dan kejam kini hanyalah sesosok orang gila yang tubuhnya penuh darah dan nanah basah karena luka yang tidak kunjung kering.


Tidak diketahui kemana para pasukan buto ijo membawa puluhan anak buah ilham codet, yang jelas nasibnya tidak akan jauh beda dengan bosnya yang menjadi gila.


***


{brakkk}


Pintu ruangan dibuka dengan sangat keras dari arah luar.


Didalam ruangan semua anak buah si bos sudah berkumpul sambil memegang kertas putih.


“..apakah kalian sudah mendengar kabar, jikalau Ilham codet orang suruhan kita ditemukan menjadi orang gila penuh dengan nanah dan darah tubuhnya?!”

__ADS_1


“..belum lagi anak buahnya tidak diketemukan sampai sekarang?!”


“..ini sungguh gila?! Ilham codet yang terkenal garang dan kejam saja bisa menjadi seperti itu!”


Suara bos yang menggelar mengisi ruangan terdengar sangat keras sekali dengan tatapan yang penuh dengan emosi.


“..maaf bos, aku sudah mengungsikan keluargaku, dan ini surat pengunduran diriku bos!”


“..aku juga bos! Minta maaf, kami ingin selamat!”


Beberapa anak buah yang biasa menemaninya langsung mengundurkan diri, mereka langsung pergi begitu saja meninggalkan bos mereka dengan pandangan yang tidak percaya.


{srattt}


Kertas pengunduran diri mereka disobek-sobek.


“..brenggseeekkk!!!” si bos itu melempar serpihan kertas pengunduran diri anak buahnya sesaat ketika semua anak buahnya sudah keluar dari ruangan.


“..siapa sebenarnya anak itu?, seberapa kuat bekingannya!”


“..aku tidak boleh gagal lagi, karena investor akan marah besar dengan kinerjaku yang sudah gagal berkali-kali!” ujarnya.


{klik}


Suara sambungan jarak jauh melalui perantara hape milik si bos terdengar tersambungkan.


“..halo... Andri!”


“..aku mau memakai jasamu kali ini!”


“..yap benar, angka dan datanya akan aku kirimkan segera !”


{klik}


Sambungan komunikasi jarak jauh itupun disudahi.


{tringgg}


Notifikasi jikalau si bos sudah mengirimkan sejumlah dana pada pihak ketiga yang telah dihubunginya beberapa saat yang lalu telah muncul.


{tringgg}


Notifikasi jikalau pesan sudah terkirim.


“..tunggu saja, Andri seorang tim buru sergap militer pasti akan bisa membunuhmu bocah tengik!” senyuman setan tergambar disudut bibirnya, membayangkan pundi-pundi uang akan segera meluncur kedalam rekeningnya.


Andri adalah seorang tentara bayaran yang sudah keluar dari kesatuan, dengan berbagai kasus, terutama berselisih paham dengan atasan.


Didunia militer Andri ini terkenal dengan kemampuannya hidup dialam liar selama satu bulan penuh tanpa makan, ilmu survivalnya sangat tinggi ditingkatan militer.


Kemampuan beladirinya pun tidak dipungkiri lagi, apalagi kemampuan tembak jarak jauhnya, target sejauh 12 kilometer bisa dihandlenya dengan sangat bersih.


Bayaran yang harus dikeluarkan oleh pengguna jasa Andri terbilang sangat mahal, sembilan digit adalah angka yang diminta dirinya dalam menyelesaikan suatu persoalan dengan sangat bersih.


Banyak pejabat korup yang menggunakan jasa Andri selama ini, hingga dirinya menjadi terkenal seantero pengusaha dan pejabat korup dikota megapolitan.


***


{srakk...srakkk..srakkk}


Suara lompatan kesana kemari terdengar dari hutan bambu.


Sosok dengan pakaian loreng gelap dengan body painting yang mayoritas gelap juga, membuat dirinya tidak bisa dideteksi oleh kamera malam hari yang tanpa menggunakan infra red.


Setelah menerima bayarannya, Andri langsung bergerak dengan cepat mempersiapkan segala kebutuhan untuk menghabisi target yang diinginkan.


Dirinya menyusuri hutan bambu yang berada dilereng gunung belimbing dengan sangat cekatan, seolah-olah hutan itu adalah rumahnya setiap hari.


Yang tidak diketahui oleh Andri adalah, setiap pergerakan Andri, selalu direkam dan dilaporkan pada Zen.


Tidak ada langkah yang diambil oleh Zen, karena dirinya tertarik untuk mengambil Andri sebagai anak buahnya.


Entah tugas apa yang nanti diberikan, yang jelas kemampuan Andri sangat diperlukan Zen kedepannya.


{klik}


Suara senapan laras panjang Andri telah siap diposisinya.


Dengan menggunakan teropong senjata laras panjangnya, Andri langsung menargetkan kepala Zen yang sedang melihat kearah laptop pribadinya.


{klak}


Tiba-tiba senapan Andri mengalami stuck, gagal mengeluarkan peluru.


Semua karena pasukan goib buto ijo yang mengerjai si Andri.


“..eh.. bisa – bisanya ini senapan ngadat!” keluh Andri.


“..issh...apa ini?!” Andri merasa jikalau tubuhnya ada yang meraba-raba meski tidak ada fisik yang terlihat.


Bulu kuduknya berdiri, darahnya berdesir, Andri diliputi ketakutan.


“..siapapun itu, aku tidak takut! Tidak ada hantu didunia ini!” teriak pelan Andri yang tidak ingin targetnya mengetahui lokasinya.


“..kik..kiik..kiiik”


“...hohohohoho....”


“....maaassss....”


Suara-suara ghoib pun keluar mengganggu genderang telinga Andri yang masih berusaha tegar tidak takut dengan provokasi hantu yang mulai menampakkan diri bergentayangan didepan, samping dan belakangnya.


“..ii-ini...bbagaimana mungkin ada banyak hantu disini...!” Andri terlihat sangat ketakutan.


Sebuah peristiwa yang sangat memalukan bagi korp militer jika sampai mengetahui pentolan terbaiknya kencing dicelana karena ketakutan sama hantu yang bergentayangan.


“..halah cemen!” tiba-tiba muncul suara laki-laki didepan Andri.

__ADS_1


__ADS_2