
Sepuluh hari berlalu sejak para wanitanya Zen meminum pil hasil ekstraksi inti pohon siberian yang digabungkan dengan bahan herbal kualitas super miliknya, benar saja, semua wanita Zen selain shella dan shelli selalu bisa menangkal radikal bebas yang bergentayangan diudara.
Bahkan beberapa waktu yang lalu, Clara sempat mencoba dengan meminum sianida campur kopi, katanya untuk mengikuti tren yang lage ramai di platform film langganan berbayar miliknya, dan ternyata hasilnya sungguh luar biasa, racun sianida itu tidak bisa membunuh Clara.
Zen geleng-geleng kepala ketika melihat kenekatan wanitanya yang ingin membuktikan khasiat pil yang sudah mereka minum.
Dan selama sepuluh hari itupun keinginan bercocok tanam semua wanitanya Zen yang telah meminum pil pemberiannya langsung meningkat tinggi, meski mereka tetap mendapatkan hasil yang sama, namun durasi bercocok tanam menjadi bertambah lama, sebuah hal yang sudah membuat mereka menjadi lebih percaya diri untuk bisa mengalahkan suami mereka diatas ranjang.
Sementara para wanitanya sibuk dengan berbagai urusan dunia bisnisnya, Zen memilih untuk kembali menetap di lereng gunung belimbing bersama shella dan shelli.
“..kalian kerjakan seperti biasa, aku harus menemui pak kades sekalian ingin melihat kondisi disekitar, siapa tahu ada yang mesti dibantu!” ujar Zen memberikan pengarahan pada kedua wanitanya.
Shella dan shelli hanya menjawab dengan anggukan kepalanya tanda persetujuan, mereka sangat paham dengan tanggung jawabnya masing-masing.
Zen dengan outfit santainya berjalan menyusuri jalan desa yang sudah dibantu pelebarannya dengan semua biaya ditanggung olehnya.
“..woi Zen!” dari arah depan terdengar teriakan yang memang khas getaran suaranya, siapa lagi kalo bukan pak Edo.
“..eh pak Edo, lagi mau kemana ini?” sapa Zen sopan.
“..kamu kemana saja? Sejak lulus, aku baru lihat kamu lagi, sedangkan semua pekerjaanmu didesa ini dihandle oleh sekretaris yang merangkap sebagai istrimu si Shella!” ujar pak Edo nyerocos tanpa jeda nafas.
“..hehehe..biasa pak Edo, Zen kuliah di kota megapolitan sana, dapat beasiswa!” jawab Zen merendah.
“..waah kamu memang pintar Zen, pintar pelajaran juga pintar cari bini, engga tanggung-tanggung delapan bini langsung!, engga kaya’ bapak! Ini lihat Jadi BB!” ujar pak edo.
“..apaan itu BB pak edo?” tanya Zen penuh keingintahuan.
“..budak Bini.. ini liat saja, pagi-pagi sudah disuruh gentayangan sana-sini cari kebutuhannya, waktu buat sebat saja susahnya minta ampun!”
“...bwakakakakak!” Zen tertawa lepas mendengar curhatan aki-aki lupa daratan didepannya.
{kriinggg}
Belum pak edo melanjutkan bicaranya, mendadak hapenya berbunyi.
“..yaa bune.. iyaa... ini bentar lagi sampai...”
“..iyaaa....”
Zen yang melihat ekspresi melas pak edo ditelp istrinya merasa kasihan, namun juga ingin ketawa.
“..udah sana pak Edo, entar kebanyakan ngobrol yang ada engga dapat jatah lagi malam nanti!”
Zen meledek pak Edo yang terlihat manyun muncung bibirnya.
Pak edo yang merasa panggilan alamnya sudah sangat penting langsung menstarter motor butut dua tak yang langsung ngebul mirip tukang sate, semenit kemudian pak Edo sudah meninggalkan posisi Zen.
Kembali Zen menyusuri jalan desa menuju balai desa.
“..Zen...!! woi..Zen!!” suara melengking bak penyanyi seriosa yang bakatnya memang mesti dipendam dalam-dalam terdengar nyaring.
“..apalagi ini?!” gumam Zen melihat kesebarang jalan, didepan sebuah warung berdiri wanita MILF yang memang selama ini menjanda, dialah Desi pemilik warung yang sudah dibantu Zen melalui program CSR perusahaannya.
Dulunya Desi ini adalah LC karaoke di kota pinggiran, setelah mengetahui Zen berhasil, dirinya pulang kampung bermaksud untuk meminta kerjaan, namun Zen berpikir lain, dirinya lebih memilih memberikan pendanaan lunak baginya untuk mendirikan warung makan, daripada mengajaknya bekerja, karena Shella dan Shelli tidak setuju.
Dengan terpaksa Zen menyeberang jalan dan mendekat.
Warung Desi ini menjual berbagai macam masakan sehari-hari yang paling terkenal adalah sambal ijonya.
Mulustrasi desi ini mirip dengan @xomissbecca (cek ige sendiri yaa), cuman versi kampungnya, dengan dandanan ala-ala orang kota coret, desi berusaha mengedepankan fisiknya untuk mengaet kustomer.
Tidak jarang bapak-bapak mata keranjang sering berlama – lama diwarungnya desi sejak buka hingga tutup, hanya untuk melihat sosok Desi yang bohai abiis.
“..eeh mbak Desi,...gimana warungnya mbak? Rame?” Zen langsung menusuk dengan pertanyaan yang seolah-olah meminta pertanggung jawaban atas dana CSR yang sudah diterimanya.
“..kamu ini Zen, belum juga tanya kabar, main langsung minta SPJ saja!” gerutu Desi yang pagi itu menggunakan hotpant dengan tanktop terbuka yang memperlihatkan semburat dua buah bongkahan gunung 38D miliknya.
Rambutnya yang dicat warna ala-ala harajuku membuat dirinya sangat kontras dengan gaya wanita desa dilereng gunung belimbing.
“..jam segini belum rame Zen, masih pagi ini, bentar lagi, pas jam ngopinya para perangkat desa, barulah berjibun ini warung, sampe perlu perluasan tahu engga seeeh!” sombong desi menjelaskan.
“..oow.. baguslah, berarti mbak Desi sukses doong!” seru Zen.
“..aku dengar istri kamu ada delapan ya Zen! Rame tahu engga seeh, kamu itu sedang diomongin warga pas pada nongkrong dimari!” ujar mbak Desi yang berusaha bikin heboh.
__ADS_1
“..namanya rejeki mbak, mesti disyukuri!” jawab singkat Zen.
“..apa engga ada rencana tambah begitu?” tanya Desi dengan gestur tubuh yang digerak-gerakkan genit mencoba keberuntungannya.
“..hehehe...” Zen hanya ketawa saja.
Setelah bertukar beberapa ratus kalimat, Zen akhirnya pamit undur diri, karena selain warung sudah mulai ramai, Zen juga ada keperluan dengan kepala desa, pak Suyitno.
Terlihat wajah kegagalan Desi yang sudah berusaha keras untuk bisa mengaet Zen.
“..yaah gagal lagi.. dasar itu dukun cabul, awas saja!”
“..katanya peletnya ampuh, mana sudah main tusuk dua kali lagi itu dukun buat bayarannya, aku mesti minta pertanggung jawabnnya nanti!” Desi menggerutu dengan kegagalan usahanya menggaet Zen dengan bantuan ilmu pelet yang diperolehnya dari dukun sebelah.
Zen ketawa – ketiwi saat pergi menjauh dari warungnya Desi.
Lima menit dirinya melangkah dengan sesekali melihat kanan dan kiri, Zen sampai didepan balai desa tempat pak kades dan perangkat desa menunggu dirinya.
“..naah itu orangnya!” seru pak Suyitno-Kades yang terlihat gusar sedari tadi berdiri mondar-mandir didepan balai desa.
“..pagi pak kades!” ujar Zen sopan langsung mengambil punggung tangan pak kades dan memberikan penghormatan ala adat ketimuran.
“..pagi-pagi Zen, kamu sudah ditungguin ini, maaf yaa undangannya mendadak soalnya!” ujar pak kades yang langsung mengarahkan Zen masuk kedalam ruangan rapat tertutup dibalai desa.
{ceklek}
Pintu ruangan balai desa dibuka dari arah luar.
{sreetttt}
Semua tamu yang hadir didalam ruang rapat tertutup balai desa langsung berdiri.
“..perkenalkan ini adalah Zen, pengusaha sukses rongsokan di desa ini!” ujar pak Kades memperkenalkan Zen kepada peserta rapat yang sudah terlihat frustasi menunggu lama.
“..mari silahkan duduk!” pak kades kembali mempersilahkan tamu rapatnya untuk duduk kembali.
Zen mengamati satu persatu tamu yang datang, beberapa orang terlihat memiliki aura negatif yang sangat pekat.
“..mereka ini rombongan dari pengusaha kota sebelah Zen, ingin mendirikan pabrik tekstil di tanah lereng gunung yang bersebelahan dengan tanah milikmu, karena mereka kesusahan menghubungimu, mereka meminta bapak untuk mengundangmu ikut dalam rapat!”
“..saat ini mereka sudah memiliki izin untuk mempergunakan lahan perhutani yang berbatasan langsung dengan lahan milikmu, hanya saja, untuk jalan akses membuka wilayahnya, mereka mesti melewati lahan pertanianmu, jadi kedatangan mereka untuk meminta izin dan membicarakan biaya yang akan dibutuhkan untuk membuka lahan pertanian milikmu itu” ujar pak kades kembali menjelaskan duduk perkaranya.
“..aku tidak mengizinkannya, karena lahan pertanianku juga penting, beberapa klien kelas dunia sudah menunggu panennya, tidak mungkin aku mengorbankan tanah pertanianku untuk akses jalan pabrik tekstil mereka, jadi sebaiknya mereka memikirkan lagi ulang desain pabrik tekstil mereka pak Kades!” Zen berbicara dengan tegas.
“..haiisshh... sudah kuduga sebelumnya,...” ujar pak kades langsung bersuara.
“..jadi bapak-bapak sekalian..—“
“..seratus juta!”
“..kami siap memberikan kompensasi seratus juta untuk lahan yang akan kami pakai guna membuka akses jalan!” ujar seorang utusan yang memakai dasi serta jas lengkap.
Kades dan perangkat desa yang mendengar langsung tersenyum,
“..kalian salah orang jika mnggertak!” batin mereka yang sudah tahu siapa Zen.
“..sekali lagi aku tekankan, tanah pertanianku lebih berharga dari proyek pabrik tekstil kalian, jadi saya rasa pertemuan ini sudah selesai pak Kades! Tolong dicatat, saya tidak akan pernah memberikan/menjual tanah pertanian saya untuk dibuka menjadi pabrik tekstil! permisi” Zen langsung mengambil punggung tangan pak kades dan berpamitan.
Saat Zen berdiri dari kursi yang didudukinya, berbagai tatapan mata mengiringinya, terutama tatapan mata dari utusan orang kota yang ingin mendirikan pabrik tekstil.
Pak kades yang melihat reaksi Zen memang sudah menduganya, satu sisi pihak orang kota memang menduduki tanah milik pemerintah, entah bagaimana cara mereka melobi pemerintah hingga mau memberikan luas tanah sesuai kebutuhan mereka yang saat ini masih dalam kondisi hutan rimbun.
Sisi yang lain, Zen adalah warga lokal yang memang menguasai tanah desa 90%, bisa dikatakan desa yang sekarang ditinggali adalah desa milik Zen.
Banyak warga yang sudah ditolong oleh Zen, meski banyak juga tanah mereka yang dibeli oleh Zen dengan harga yang memuaskan.
Yang tertinggal hanyalah para penduduk desa yang lokasi tanahnya berseberangan jalan dengan hamparan tanah milik Zen yang sangat melekat dengan lereng gunung Belimbing.
Zen berjalan dengan santai meninggalkan balai desa, sesekali dirinya menyapa dan berdialog dengan warga desa yang banyak berkeluh kesah tentang masalah hape yang sudah membuat anak-anak mereka kecanduan dan menjadi malas.
Zen berencana untuk mengumpulkan semua anak-anak yang kecanduan hape dibalai desa dan akan melakukan hipnoterapi.
Apa yang Zen katakan langsung disetujui oleh para warga desa, dengan hipnoterapi diharapkan anak-anak desa bisa lepas dari yang namanya kecanduan gadget.
Setelah selesai berdialog, Zen kembali berjalan mengarah kepasar, tempat dirinya dulu mengadu nasib menjadi tukang angkut diwaktu subuh hingga jam menjelang berangkat sekolah.
__ADS_1
“..woi Zen!!” teriak seorang laki-laki berumur yang berdiri dipojok toko berasnya.
“..pak Sukarta!” Zen langsung menemuinya.
“..hebat kamu Zen, anak yang dulu selalu panggul-panggulin beras setiap subuh, sekarang sudah menjadi sukses! Bapak bangga padamu!” ujar pak Sukarta yang menepuk-nepuk pundak Zen dengan tertawa puas.
“..semua berkat bantuan pak Sukarta juga, kalo saja dulu bapak tidak menerima saya kerja dibapak, mungkin saya tidak bisa seperti sekarang!”
“..kamu terlalu merendah Zen, memang begitulah hidup, semua ada masanya, kalo dulu kamu ada dibawah, sekarang kamu bahkan sudah lebih jauh diatas bapak, tetaplah menjadi Zen yang dulu bapak kenal, banyak warga desa yang sudah tertolong dengan semua program-program dan bantuanmu Zen!” pak Sukarta terlihat berkaca-kaca ketika berbicara.
“..ada apa pak ? kelihatannya bapak begitu tertekan!” tanya Zen penuh dengan selidik.
“..yaa begitulah Zen, dua tahun ini ujian berat bagi bapak, jatuh bangun usaha beras ini bapak kerjakan, bapak juga sudah mengajukan pinjaman ke sana-sini tapi belum ada jawaban, hutang menggunung, sampai istri bapak jatuh sakit karena tertekan!” ujar pak Sukarta dengan ekspresi ditekuk mukanya.
“..owalaah! bapak butuh berapa, mana sini, nomor rekening bapak!”
“..yang bener kamu Zen!” pak Sukarta langsung sumringah.
Selama ini pak Sukarta hanya mendengar Zen berbisnis pengepul saja, bahkan dirinya tidak mengetahui jikalau tanah Zen berderet dari gerbang pintu masuk desa sampai keujung paling belakang desa.
Pak Sukarta sendiri adalah tipe orang yang tidak mau tahu urusan orang lain, cukup dirinya mendengar jikalau Zen sudah sukses dengan bisnis pengepul botol oli bekas dan ramai didatangi oleh para pemulung itu sudah membuatnya paham kesuksesan Zen.
Yang tidak dirinya ketahui jikalau harga botol pelumas bekas yang dibeli oleh Zen dari para pemulung memiliki nilai tambah yang sungguh diluar nalarnya, karena kekurangan informasi.
{clinggg}
Suara notifikasi jikalau transfer dana dari Zen ke pak Sukarta sudah masuk.
“..ini..sungguhan Zen! Satu...satuu Milyar!” pak Sukarta langsung menutup mulutnya setelah mengucapkan kalimat terakhir.
“..bapak pergunakan sebaik-baiknya, dan anggap saja itu ucapan terima kasih saya, karena dulu bapak pernah menerima saya bekerja ditempat bapak, jangan berpikir untuk dikembalikan!” ucap Zen dengan sangat pelan dan sopan.
“..kk-kamu baik banget Zen, ini benar-benar pertolongan buat bapak, setelah ini bapak akan segera melunasi semua hutang-hutang bapak, terimakasih lho Zen, terimakasih sekali!” pak Sukarta langsung menangis haru dengan apa yang telah diterimanya.
Sebuah jawaban atas do’a-do’anya selama ini.
“..kalau saya boleh tahu, istri bapak sakit apa? Siapa tahu saya bisa membantu menyembuhkan” ucap Zen.
“..ss-serius kamu Zen!”
“..heummmnn” Zen menganggukkan kepalanya.
“..kalo begitu, mari Zen, ikut bapak, tolong kamu lihat, sekiranya memang dari tanganmulah istri bapak bisa disembuhkan!” pak Sukarta begitu antusias ketika Zen menganggukkan kepalanya.
Baginya sudah cukup bukti Zen mengirimkan satu milyar hanya dengan hapenya, ini Zen mengajukan diri untuk menyembuhkan istrinya, tentunya pak Sukarta tidak ingin kehilangan momentum berharganya.
{vrooommmm}
Dengan menaiki motor tahun 2000an Zen dibonceng oleh pak Sukarta menuju rumahnya yang terletak di pinggiran pasar dan bersebelahan dengan desa yang Zen tempati.
“..buuk.. put... bapak pulaang!!” sapa pak Sukarta dari depan pintu rumah miliknya.
Rumah pak Sukarta ini sebenarnya sangat luas, sekitar 300m2, dengan gaya bangunan lama yang belum pernah direnovasi total.
“..bapak?!” sapa Putri anak dari pak Sukarta.
“..ii-ini kak Zen bukan?!” Putri langsung terbata karena melihat sang pujaan hatinya waktu berseragam SMA.
“..apa kabar Putri! Lama tidak bertemu!” sapa Zen.
“..bb-baik kak Zen!” Putri terlihat salah tingkah.
“..eh!” Putri yang sadar jika dirinya sedang dalam mode Inem segera berlari menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan berdandan ala-ala abegeh jaman now.
Pak Sukarta yang melihat gelagat anak gadisnya hanya bisa senyum-senyum sendiri.
“..mari Zen, kita masuk kedalam kamar, istri bapak tidak bisa berdiri sejak dua tahun yang lalu, sejak bapak mulai terlilit hutang!”
Zen kemudian mengikuti pak Sukarta dari belakangnya.
Pemandangan sebuah kamar bergaya jaman dulu lengkap dengan kayu ulin yang di furnis rapi mengisi kamar pribadi milik pak Sukarta dan istri.
Diatas tempat tidur tergolek lemas seorang wanita yang merupakan istri dari pak Sukarta.
Sepintas Zen bisa mengetahui jikalau istri pak Sukarta ini sudah terkena permainan perdukunan, mungkin ada orang yang tidak suka dengan kesuksesan usaha pak Sukarta.
__ADS_1
“..tolong sediakan daun sirih yang berwarna hijau tua 5 lembar dan air didalam baskom!” Zen meminta pak Sukarta untuk segera menyiapkan permintaannya.