
Zen terlihat berada disebuah ruangan pemerintahan, beberapa hari ini Zen dihadapkan permasalahan dengan ketatnya departemen lingkungan hidup yang sedang mendata serta mewawancarai semua aktivitas bisnis yang berhubungan dengan manajemen perlimbahan.
Usaha Zen dibidang waste bottle recycle juga tidak luput dari inspeksi.
Dari 1000 lapak Zen semuanya clean and clear, tidak ada yang menyebabkan penambahan dampak pencemaran udara disekitar.
Kalo ditanyakan kembali, bagaimana bisa usaha botol bekas mencemarkan udara, yang ada botol bekas mencemarkan tanah atau air.
Terkadang memang aneh pemerintahan ini.
Pabrik-pabrik recycle yang menjadi tempat Zen mendulang rupiah juga terkena imbas, karena aktivitas produksi pabrik membutuhkan energi, energi ini yang diaudit.
Untungnya 90% pabrik-pabrik tempat Zen menyetorkan botol-botol bekas yang sudah di press dengan menggunakan mesin pressure bertekanan tinggi, mayoritas menggunakan jasa perusahaan listrik negara konoha untuk pemenuhan kebutuhan energinya.
Hanya 10% yang menggunakan kelistrikan sendiri melalui PLTS mandiri.
Selama beberapa hari ini Zen absen dari perkuliahan.
Dalam beberapa hari itu pula, Zen terlihat berkutat dengan salah satu eksperimennya dibidang lingkungan, dengan menciptakan penemuan produk yang berisi sebuah kelompok partikel gas ringan yang dapat mengikat CO dan CO2 jika dilepaskan keudara.
Konsep bekerjanya kelompok partikel gas ini lebih mirip seperti terjadinya fotosintesis, tujuan utamanya untuk mengikat gas CO dan CO2 dengan mempergunakan partikel gas senyawa lainnya yang lebih ringan, dengan bantuan sinar matahari proses itu akan mengubah CO dan CO2 menjadi oksigen murni dengan residu karbon yang akan berjatuhan layaknya bulir salju tipis.
Zen sekarang ini sedang melakukan presentasi terkait hasil eksperimennya didepan kementerian LHK.
Setelah empat jam lamanya Zen melakukan presentasinya didepan tim LHK negeri konoha, hasilnya banyak pro dan kontra, terlebih terkait jatuhnya unsur carbon dari udara bebas langsung meluncur ke permukaan bumi dalam jumlah besar.
Kejadian yang bisa dikatakan akan mirip seperti proses meletusnya gunung berapi.
Pihak -pihak yang berseberangan dalam hal ini yang kontra dengan produk penemuan Zen, menitik beratkan residu Carbon, yang nantinya akan membanjiri jalanan dan gedung serta rumah-rumah penduduk layaknya abu vulkanik yang dalam jumlah besar, hal ini akan menjadi permasalahan kembali.
Sedangkan dari sisi pihak yang PRO, ini adalah risiko yang harus diterima, suruh siapa memperbanyak pollutan diudara, giliran sekarang ada solusi dan bisa secara instan menghilangkan polusi udara, bukan disetujui malah dipermasalahkan, hanya karena adanya residu karbon yang jatuh kepermukaan bumi dalam jumlah besar, layaknya sedang terjadi gunung meletus.
Dari sisi Zen sendiri telah memberikan ide dan solusinya yang memang harus diikuti dengan rekayasa cuaca, untuk menurunkan hujan.
Karena hanya dengan hujan lebatlah, residu carbon bisa dihilangkan dan kembali masuk kedalam tanah melalui pori-pori tanah.
Carbon sendiri adalah filter terbaik untuk menghasilkan air yang jernih, sehingga Carbon sangat dibutuhkan oleh tanah dalam jumlah yang besar untuk memfilter air hujan, agar bisa kembali menghasilkan air tanah dengan kualitas yang baik bagi kesinambungan makhluk hidup di permukaan bumi.
{brakk}
Zen langsung keluar dari ruangan tempatnya mengadakan presentasi dengan perasaan campur aduk.
Baginya tanggung jawab sebagai umat manusia yang sudah tinggal dan numpang hidup dibumi sudah dikerjakan, kedepannya silahkan pemerintah konoha yang memutuskan.
Tanpa pemerintah konoha ketahui, esok hari Zen harus memberikan presentasi pada pemerintah neegri vrindafan yang juga memiliki permasalahan yang sama.
Setelah itu dirinya juga harus mengutarakan idenya didepan para pebisnsis di negeri minyak timur tengah yang juga sudah mengirimkan proposal tertulisnya untuk mengundang Zen datang kenegaranya minggu yang sama setelah dirinya melakukan perjalanan bisnis di vrindafan.
Perjalanan bisnis yang tidak hanya untuk mempresentasikan, namun untuk penandatanganan kontrak pelaksanaan pekerjaanya.
***
{brakkk}
“..kalian gila!! Bocah itu sudah datang memberikan solusi yang nyata dan sangat cepat, kalian tolak mentah-mentah proposalnya!”
“..asal kalian tahu, intelejen negara sudah mengumpulkan data-data terkait itu bocah!”
“..dalam beberapa puluh hari kedepan paling lambat kalian semua yang duduk disini akan menyesal, karena teknologi itu akan menjadi sangat mahal!”
Beberapa orang yang duduk dikursi mereka tercengang mendengar informasi barusan.
“..bagaimana bisa!?”
Tanya salah satunya.
“..kalian benar-benar boddoh!”
“..bocah itu besok akan jalan ke Vrindafan, pemerintah mereka melalui pebisnis waste manajemen sudah mengontrak teknologinya untuk menyelesaikan permasalahan yang sama! Kalian tahu nilai kontraknya, 12 milyar US$..!”
“..belum lagi pebisnis di negeri minyak timur tengah sana lebih gila lagi, 180 milyar US$!”
“..dan beberapa puluh negara yang memiliki permasalahan yang sama dengan negara ini!”
“..ingat bisnis is bisnis, jangan salahkan aku jika bocah itu menaikkan harganya kedepan!”
{brakkkk}
Pintu di tutup dengan sangat keras.
Kasak kusuk pun terjadi,
Beberapa orang menyalahkan pihak yang kontra, sedangkan pihak yang kontra terlihat tersudutkan melihat fakta yang mencengangkan mereka.
{tuuuttt}
suara telepon ruangan berbunyi memecahkan keheningan.
{klekk}
“..siapa penanggung jawab presentasi pagi ini?!”
“..ss-saya bapak presiden!”
Suara terbata panitia penanggung jawab presentasi antara Zen dengan tim LKH pagi itu.
“..saya tidak mau tahu, dalam satu dua hari harus sudah terjalin kerjasama dengan pemuda yang barusan kalian buat tidak nyaman!”
“..jika tidak ada realisasi dengan harga proposal penawaran yang sesuai dengan penawaran diawal karena harga sudah melambung tinggi, maka gaji dan tunjangan kalian semua yang dipertaruhkan!”
“..bb-baik bapak presiden”
__ADS_1
{klekkk}
{tuuuuutttt}
Suara sambungan telah terputus dan terlihat ketua panitia pertemuan LKH pagi itu berkeringat dingin karena semua terjadi karena kelalaiannya dalam bekerja.
“..segera susul pemuda tadi, atau gaji dan tunjangan kalian dipertaruhkan untuk membayar kelebihan bayar atas kontrak kerjasama kedepannya!”
“..apaaa?!!”
“..mampuss... rasain..kalo sampai terjadi awas saja keluargaku engga bisa makan, semua karena kesalahan kalian yang tidak berpikir jernih, Cuma gegara residu karbon, kalian menolak proposal super jenius!”
“..sudah-sudah! Bukan saatnya kita berdebat, ini instruksi presiden secara langsung, jadi kita segera susul dia!”
“..ketua, pertanyaannya ini, menyusul dia kemana coba?”
“..iya ketua!”
“..boddohnya tim kerjaku, minta bantu imigrasi, mungkin dia naik pesawat tujuan negara mana, lacak!!”
Kericuhan pun terjadi pagi itu.
Yang tidak mereka ketahui Zen sudah berpindah tempat ke negara vrindafan melalui teknik teleportasinya yang sudah semakin tinggi tingkatannya.
***
“..selamat datang di vrindafan tuan Zen!”
“..pemerintah kami sudah melihat presentasi visual yang tuan kirim, dan pemerintah kami sudah setuju dengan proposal harga yang disampaikan, bahkan pemerintah kami ingin produk tuan Zen segera bisa dijalankan secepatnya untuk menunjukkan kepada dunia jika negara kamilah yang pertama mempergunakan teknologi yang tuan Zen kembangkan, jika diperbolehkan, negara kami ingin membiayai semua penelitian tuan Zen kedepannya!”
Zen yang melihat ketulusan mereka dalam menerima serta tingginya rasa percaya mereka langsung tersenyum dengan ramah.
“..tidak perlu membiayai, dengan negara vrindafan sebagai yang pertama mempergunakan teknologi dari saya guna menyelesaikan permasalahan polusi udara dinegara ini, sudah menjadi hal yang baik bagi produk ini kedepannya!”
“..aaah, seperti itu!” ada nada kekecewaan didalamnya.
Zen memasuki ruangan yang sudah dipenuhi dengan semua pejabat pemerintahan yang sedang menunggunya.
Berbagai sambutan diberikan layaknya dewa penolong telah datang.
Zen melakukan presentasinya dengan sangat lancar.
Bahkan presentasi Zen disiarkan langsung melalui platform resmi milik pemerintah negara vrindafan.
“..terima kasih tuan Zen, negara ini berhutang banyak dengan tuan Zen, saya yakin dengan teknologi ini, negara ini bisa segera terbebas dari polusi karbon yang menjadi momok negara kami selama puluhan tahun lamanya”
“..betul tuan Zen!”
Berbagai sambutan baik dari para pejabat negara vrindafan maupun para pengusaha yang hadir terlihat sangat hangat setelah Zen menyelesaikan presentasinya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan kontrak kerjasama long durasi terkait instalasi serta pemenuhan sumber partikel serta pengirimannya.
{bugggh}
“..capeknyaaa”
Zen terlihat membenamkan dirinya diatas kasur super empuk dihotel mewah negara vrindafan.
Pemerintah negara vrindafan terlihat sangat memperlakukan Zen dengan baik.
***
“..apakah kalian sudah mendengar,?”
“..tentang?!”
“..bocah yang menemukan partikel udara yang bisa mengikat gas karbon dilangit!”
“..aah, ada itu ramai di internet, memang kenapa?!”
“..dasar bodoh!, bocah itu bisa merusak rencana tuan besar dengan iluminatinya, paham!”
“..aaah, aku baru ingat!”
Disebuah ruangan terlihat sekelompok orang lagi berdiskusi dengan sangat serius, mereka adalah kelompok yang bertujuan untuk mengurangi populasi dipermukaan bumi agar bisa seperti rencana mereka, tidak jarang mereka membuat issu dan beberapa virus mematikan yang belum ada obatnya, dengan tujuan untuk mengurangi jumlah populasi manusia dibumi.
Salah satu aliran didunia yang berpendapat, jumlah bahan makanan dan minuman di permukaan bumi hanya bisa dipergunakan untuk 3-4 milyar penduduk bumi saja demi keberlangsungan kedepan.
Dengan jumlah penduduk bumi yang sudah menyentuh angka 8 milyar lebih seluruh dunia, maka kelompok iluminati ini gencar sekali dalam melancarkan serangannya keseluruh penjuru dunia.
Serangan yang tidak disadari secara langsung dapat membunuh umat manusia.
“..lalu apa yang mesti kita lakukan sekarang!?”
“..kerahkan agen yang ada di vrindafan, bunuh bocah itu!”
“..benar, aku sudah mengumpulkan data, jika tidak ada bodyguard yang menjaganya, bocah itu free to go statusnya!”
“..euhmmmnnn!”
Anggukan ketua kelompok iluminati itu memberikan persetujuan untuk segera melaksanakan aksi mereka secepatnya.
***
{tok}..{tok}..{tok}
Suara ketukan pintu kamar hotel Zen dari arah luar terdengar membangunkannya.
{ceklek!}
Handle pintu dibuka dari bagian dalam kamar.
__ADS_1
“..hoaam!”
Zen terlihat menguas sopan setelah membuka pintu.
“..saya tidak memesan sesuatu!”
“..maaf tuan!”
Tiba-tiba muncul wanita berambut pirang dengan menggunakan pakaian berbahan PVC yang sangat ketat dengan mempertontonkan dua bongkahan 38DD yang dibiar menonjol tanpa ditutupi pakaian dalam.
Lekuk tubuhnya terlihat sangat disengaja untuk bisa menggaet Zen.
Zen yang baru bangun tidur segera memainkan dramanya.
“..apakah nona ini yang menjadi tamu saya?!”
Bukannya bodoh, Zen segera menangkap jikalau ada yang ingin mencari gara-gara dengan dirinya.
Wanita mata-mata yang memang bertugas untuk menghabisi Zen dikamar hotelnya itu terlihat langsung menguasai keadaan.
“..benar tuan, saya utusan dari negara anggur untuk menemui tuan, setelah melihat presentasi tuan Viral dinegara ini!”
“..boleh saya masuk tuan?!” tanya nona muda jika ditebak usianya sekitar 27 tahun.
“..oh, maaf, silahkan!”
Zen mengedarkan padangannya untuk memastikan tidak ada yang melihatnya. Dengan senyuman iblisnya Zen mulai memainkan dramanya.
“..silahkan duduk nona..?” dengan sedikit menahan intonasi untuk bertanya.
“..saya Gebi tuan Zen!”
“..euumn..!” anggukan Zen ketika nona muda didepannya mulai menyebutkan nama.
Kursi yang menjadi bagian kamar hotel milik Zen adalah Sofa pendek yang akan mendukung aksi tamunya Zen.
Dengan menggunakan rok minim berbahan PVC otomatis nona muda berambut pirang berkulit putih khas eropa itu kini terlihat kesulitan untuk duduk.
Kakinya tidak bisa ditekuk, hingga roknya terbuka dengan bebas mempertontonkan isi didalamnya.
Zen yang disuguhi pemandangan indah didalam lorong rok yang terbuka lebar tidak ingin menyia-nyiakannya.
“..mau minum apa ini nona Gebi?!” tawaran Zen.
“..apa saja, mungkin alkohol jika ada!” ucapnya kembali.
Setelah Zen mengambilkan minuman dari koleksi kamar hotelnya,
“..jadi bagaimana nona Gebi? Pastinya nona Gebi sudah membawa penawaran bukan?!” tanya Zen secara profesional, meski dirinya selalu digoda dengan gesture tubuh yang meliuk sana sini karena tidak nyaman dengan kursi tamu dalam ruangan Zen yang terlihat lebih rendah.
Dua bongkahan 38DD itu terlihat sering kali mleyot sana sini ingin memberontak keluar, sedangkan isi didalam roknya juga terlihat tidak bisa ditutupi karena susahnya duduk.
Zen terus bertanya hal-hal terkait komercial yang terlihat bisa dijawab dengan baik oleh si agen mata-mata ini.
“..jadi, sebenarnya nona Gebi ini suruhan siapa?” Zen langsung to the point bertanya.
“..apakah nona gebi tidak takut saya lecehkan?!”
Zen mulai mendekat kearah Gebi dan Zen bisa merasakan jikalau anting dan liontin gebi adalah alat pelacak serta perekam yang memang sengaja dipasang untuk merekam pertemuan gebi dengan Zen.
{sattttt}
{tuuukkk}
Dengan gerak cepat Zen langsung menotok anggota tubuh Gebi terutama dahi dan dua titik yang terletak dibagian dadanya.
“..ii-ini!!”
Gebi terkejut karena tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali.
“..ini alat perekam!” ujar Zen ketika mulai mencabut liontin Gebi
“..ini juga!” Zen mencopot antingnya
“..ughhh!” Gebi terlihat melengkuh ketika Zen dengan sengaja meremas salah satu bongkahan 38DD.
“..sebelah sini bukan!” ujar Zen ketika sudah selesai *******-***** bagian kiri
“..uughh!” kembali gebi melengkuh
“..sebelah sini juga bukan ternyata!” keisengan Zen mulai menjadi.
“..uughh!!” kembali gebi dibuat Zen melengkuh ketika tangan Zen mulai mengobok-obok isi dalam rok Gebi yang terlihat selalu diarahkan kearahnya saat berbicara.
“..ooh, ditaruh sini ternyata!” ucap Zen sambil mengambil piercing yang ditanamkan dibagian lonceng pintu dari mulut bawah gebi.
“..huppp”
Zen membantu Gebi untuk Berdiri, kemudian,
{sratttt}
Zen langsung membongkar paksa set baju PVC yang Gebi pergunakan, dan tidak ada perlawanan sama sekali dari Gebi yang terlihat dilecehkan oleh Zen.
Tubuhnya terlihat putih mulus polosan tanpa ada penutup kain PVC kesukaannya.
{tuinggg}
Melon 38DD itu terlihat mulai bergelayut bebas tanpa ada yang menahan.
Zen meletakkan semua temuannya diatas meja yang mengarahkan visual perekamannya ke tubuh Gebi yang sudah polosan layaknya patung manusia bergender wanita dalam peragaan anatomi tubuh.
__ADS_1