PEMULUNG SUKSES

PEMULUNG SUKSES
JAHE


__ADS_3

Zen akhirnya bisa bernafas lega, setelah komputer utama yang selalu dipergunakan oleh Steven beserta kawanannya sudah berada ditangannya.


Jendral Lim Fang berterima kasih sekali atas usaha yang Zen lakukan, sehingga dirinya bisa bertanggung jawab penuh terkait kesalahan yang sudah dilakukan.


Karena Zen adalah pihak yang telah menghancurkan Takashi Grup dan semua teknologinya, pemerintah negeri panda juga tidak bisa mengambil hak atas kepemilikan alat yang mereka pesan dari Takashi Grup, selain karena kesepakatan yang telah diambil oleh Jendral Lim Fang, mereka juga sangat takut dengan keberadaan sosok Zen yang sangat mendominasi.


Zen meminta kesepuluh hacker kepada Jendral Lim Fang, sepuluh hacker nantinya akan dijadikan anak buahnya, tentunya setelah mereka menelan pil pengontrak jiwa, sehingga mereka tidak bisa lagi berkhianat.


Sebagai kompensasi, Zen memberikan ratusan juta pil pengontrak jiwa kepada pihak militer, pil yang akan dipergunakan sang jendral untuk menjaga loyalitas dari semua anggota militer di negara tiongkok.


Sang jendral pun kembali dikejutkan dengan Zen yang langsung mengeluarkan jutaan botol kemasan khusus yang berisikan masing-masing 10 buah pil kontrak jiwa.


Setelah peristiwa itu, dunia pun kembali damai, para pimpinan negara yang bekerja sama dengan kelompok steven juga telah Zen atasi, pilihannya mengundurkan diri dan menyepi bersama keluarganya atau kesalahannya dibuka secara umum dan keluarganya akan mendapatkan masalah dikemudian hari.


Ke sepuluh kepala negara yang berkomplot itu memilih untuk mengundurkan diri.


Flash back (on).


Zen sedang mengumpulkan semua kepala negara, jumlahnya ada 10 orang dan semua dikumpulkan didalam satu ruangan.


Didalam ruangan itu, mereka diperlihatkan kekuatan dari Zen yang mampu membawa mereka kedalam titik kelemahan terendahnya.


Sebuah serangan alam bawah sadar, yang ditujukan untuk menargetkan titik ketakutan tertinggi mereka, yaitu disiksanya anggota keluarga mereka.


Berbagai jeritan dan lolongan minta tolong diteriakkan oleh kesepuluh kepala negara, karena merasa tidak kuat lagi melihat penyiksaan anggota keluarganya, akhirnya mereka menyerah dan mereka berjanji untuk ikut semua arahan dari Zen.


Flash back (off)


Zen menguras semua isi rekening mereka bersepuluh dan hanya menyisakan beberapa dollar saja untuk mereka dan keluarga mereka memulai kehidupan yang baru.


Melihat kekuatan dan kemampuan yang sangat mengerikan dari sosok Zen, kesepuluh kepala negara itu tidak ingin lagi bersinggungan dengan sosok Zen.


Hidup tenang tanpa ada gangguan mental dan psikologis adalah pilihan terbaik.


Zen sendiri berjanji untuk menyembunyikan semua kesalahan mereka dan tidak akan melaporkan pada pihak dunia internasional, berbeda jikalau mereka atau keluarga mereka melakukan kesalahan yang sama dikemudian hari, karena tidak akan ada lagi kesempatan.


Berita tentang mundurnya 10 kepala negara di belahan eropa buntut dari bencana nasional yang melanda negara mereka masing-masing langsung mendapatkan panggung media sosial.


Banyak yang angkat topi tanda hormat mereka, ada pula yang mencari-cari kesalahan kepala negara yang mengundurkan diri karena dianggap aneh, pada saat muncul bencana nasional, kepala negara malah mengundurkan diri.


Selama sepekan berita terkait pengunduran diri 10 kepala negara terus diperbincangkan setiap hari, namun sekuat apapun mereka mencari tahu kelemahan dan kebusukan kepala negara yang mengundurkan diri, para netizen yang serba benar tidak dapat menemukan jejak digitalnya, karena Zen sudah memerintahkan pada 10 orang hacker yang kini menjadi anak buah terbarunya.


Sepuluh orang hacker bekas anak buah steven itu bergabung dibawah naungan divisi cyber security dari Z technology, mereka bertugas untuk mengamankan jejak digital.


***


Pagi itu Zen terlihat sedang berlari pagi dengan menggunakan pakaian set hoodie yang cocok dengan warna kulitnya.


Bertempat disebuah wilayah yang mayoritas terhampar kebun teh dengan sangat luas disepanjang mata memandang, tepatnya disebelah selatan gunung belimbing, sebuah area yang bertolak belakang dengan lokasi rumah Zen serta desanya.


Wilayah yang Zen lalui pagi itu merupakan desa lain dibalik gunung belimbing.


Desa yang dinamakan desa Welangi oleh para penduduk aslinya.


Tak terhitung berapa puluh kilometer Zen sudah berlari pagi, hingga dirinya berhenti disebuah aliran sungai yang sangat jernih, karena airnya langsung berasal dari mata air pegunungan belimbing.


“..samupurasuuun... aduh pagi-pagi aden kasep mau kamana ini?.” warga desa terlihat sedang berusaha menyapa Zen yang sedang menikmati jernihnya air sungai yang mengalir.


“...waah ada... Mamang...bibi!” Zen balik menjawab sapaan pasangan yang sudah berusia lanjut dengan sangat ramah.


“..saya lihat aden ini orang baru ya didusun sini?! Baru lihat mamang mah den!”


“..iya mang, saya dari desa dibalik gunung belimbing sebelah utara sana!” ujar Zen menjawab.


“..lagi olah raga pagi saja! Sambil melihat hamparan kebun teh!” lanjut Zen.


“..ooh... cuman sayangnya den, kebun teh yang aden lihat ini bakalan hilang sebentar lagi!”


“..loh, kok bisa?!” Zen terkejut.


“.. para warga dipaksa menjual pada juragan Tarna, katanya mau dibuat pabrik garmen atau apalah!” ujar sang lelaki paruh baya didepannya.


“...ooow...!” Zen terlihat mengernyitkan dahinya ketika mendengar berita dari mulut salah satu warga desa Welangi.


“...bahkan gini ya den, warga yang tidak mau menjualnya, diancam rumahnya akan dibakar, tanpa ada yang mengetahui siapa yang sudah membakarnya!”


“..masak sih mang?!” Zen terlihat mulai tertarik dengan berita yang dikabarkan.


“..iiiisshhh isshhh..issshh... Si aden, saya kan yang warga disini, semua bapak-bapak disini sering bercerita di bawah pohon jambu monyet sana itu den! Tempatnya janda kembang didesa ini jualan!”


“..addduhh!” suara mengaduh kesakitan dari si mamang yang dicubit dengan sangat keras oleh istrinya.


“...hehehe...coba nanti saya kesana mang!” ujar Zen yang melihat arah telunjuk jari dari orang yang mengajaknya berbicara.

__ADS_1


“..ya sudah den, saya pamit dulu, mau antar ibu negara ini ke pasar dibawah sana!” pamitnya.


“..ooh, silahkan bapak, ibu.. saya juga mau meneruskan lari pagi saya setelah selesai menikmati segarnya air sungai disini!”


“..sok atuh den, dinikmati!”


{vrooommmm}


Sepasang sejoli usia lanjut itu terlihat mulai meninggalkan tempat Zen menggunakan motor butut tahun kemerdekaan yang masih terlihat gagah.


“..pyuuuuhhhh....”


{kasak kusuk kasak kusuk}


Zen membasuh wajahnya dengan menggunakan aliran air sungai yang terlihat dingin namun sangat menyejukkan.


Matahari terlihat sudah menunjukkan batang hidungnya, sinarnya mulai menerangi wilayah desa yang tadinya terlihat berkabut menjadi lebih terang.


Lalu-lalang warga desa Welangi mulai memadati jalan perkampungan yang sudah diaspal, tanda pembangunan desa sudah terlaksana.


Disebuah pojok desa dimana terdapat pohon rindang dengan latar belakang perkebunan teh yang terhampar luas, ada sebuah pohon jambu monyet yang sudah berusia sangat tua.


Dibawah pohon jambu monyet itulah tempat tongkrongan bapak-bapak yang sekedar ingin ngopi sambil berceloteh.


Warung Entin, begitulah nama yang disematkan oleh warga disana, selain karena pemilik warungnya adalah janda ditinggal mati suaminya, seorang janda yang mulustrasinya sangat semlohai (@ai.chaebol-silahkan cek sendiri di IG masing-masing).


Janda itu bernama Surtini, namun nama bekennya dipanggil warga sekitar ‘Entin’.


Physical appearancenya sangat menggoda imron, membuat pengunjung warungnya yang rata-rata adalah bapak-bapak penggemar cosplay Anime meneteskan air liur keliatannya.


Kalo kata orang sih, para aliran penggemar wifu ini kalo engga golongan cabul, ya golongan IQ jongkok, entahlah, netizen konoha memang paling benar.


Tidak jarang ibu-ibu dusun pergi kewarungnya Entin kemudian menjewer suami mereka untuk diajak paksa pulang kerumah.


Entin sendiri tidak mempermasalahkannya, karena dirinya merasa hanya berjualan saja, adapun mata bapak-bapak yang melihat tubuh semlohai miliknya, adalah bonus menurutnya.


Mau bagaimana lagi, perawakan Entin sendiri adalah keturunan Negeri Kincir angin kakeknya, sedangkan emaknya ada keturunan Arab, Entin adalah hasil persilangan ke 13 secara turun menurun.


Tubuh semlohai miliknya merupakan anugerah tersendiri.


Tidak jarang pak lurah yang notabene banyak istrinya, sering juga ikut nongkrong di warung tersebut.


“..mmpok boleh teh spesialnya satu!” ujar Zen yang terlihat duduk dibagian pojok.


Warung Entin sendiri sudah mirip dengan kafe ala-ala.


Ada bangku yang nempel dengan etalase makanan warung, dengan konsep layar sentuh, pembeli bisa meminta jenis makanan apa saja yang ingin disajikan untuknya.


Selain bangku diatas, ada bangku khusus model taman, yang konsep mejanya dibuat mengelilingi pohon jambu monyet.


Dari sisi desain sangat estetik, karena lokasi warung Entin ini terlihat berada didataran tinggi, sedangkan dibagian bawahnya adalah kebun teh yang terhampar luas.


“..kok masih sepi mpook?!” Zen bertanya pada pemilik warung, ketika mendapati warungnya sepi.


Entin pagi itu memakai pakaian yang terlihat mbeletot sana sini, bongkahan melon berukuran 36HH terlihat seperti brutal ingin memberontak keluar.


Bawahan Entin sendiri memilih memakai jarik lurik khas orang pasundan, kemudian rambut hitamnya digelung kebelakang, membuat janda berusia 20 tahunan itu makin terdepan pesonanya.


“..iya 'A,.... eh maaf Den!” Entin langsung terkejut saat Zen yang tadinya membelakangi dirinya malah berbalik bersamaan dengan tudung hoodienya dilepas.


Sosok tampan Zen langsung membuat Entin terpesona.


“..halooo...mpokk....halooooww!!” Zen mengibas – ngibaskan tangannya, karena melihat pemilik warung didepannya mendadak bengong seperti orang kesurupan.


Jika saja Zen tahu kemana otak janda muda itu bertravelling, pastinya bakal ada kasus viral video mesum ditengah kebun teh edisi ke 3, tentu pemainnya adalah dua sosok yang pagi itu sedang berinteraksi disebuah sudut warung berlatar belakang kebun teh desa Welangi.


“..eh, maaf den! Aden ganteng bangeed soalnya!”


“..eh!!” sadar dengan mulutnya yang tidak bisa direm, Entin langsung salah tingkah.


“..jadi, kenapa begitu mpook, kok sepi!” kembali Zen bertanya.


“..nganu den, semalam ada kejadian! Rumah warga didatangi sosok makhluk gentayangan yang menggedor pintu rumah mereka!” ujar Entin dengan serius menceritakan.


“..anehnya rumah saya kok engga ya den!” tanya Entin pada Zen


“..entah!” Zen hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak paham juga.


Keduanya kemudian terlihat dalam pembicaraan yang serius, meski Zen bisa menangkap kemana arah mata Entin melihat.


Dengan kostum joggingnya, praktis naga perkasa milik Zen terlihat nyeplak mempertontonkan posisi tidurnya yang terlihat mengsle mengiwa.


Naga perkasa yang tertidur, mirip lontong dengan diameter lingkar delapan centimeter, membuat sesak celana jogging milik Zen.

__ADS_1


Beberapa kali Entin meneguk salivanya sendiri, membayangkan pikirannya yang travelling entah kemana, meski mulutnya berbicara menjelaskan semua keadaan desa Welangi.


Memanglah benar kata orang, wanita itu memiliki dua mulut, dan keduanya bisa berjalan berbeda arah dalam satu waktu.


“..lalu, saat ini para penduduk desa pada kemana Mpokk!!”


“..panggil entin ajaa atuh ‘A..gini – gini entin punya julukan JaHe atuh ‘A!”


“..Jahe?” Zen bertanya kembali


“..Janda Herang... ‘A a ini orang sunda bukan?!”


“..kalo engga panggil saja Ceu Entin saja ‘A, singkatan dari CeuCeu Entin!”


“..panggil Teteh juga bisa ‘A !”


“..jangan mpokk atuh ‘A.. kan masih muda, masih 21 tahun, masih ngegrip jepitannya!!”


Dengan sedikit centil penuh gesture menggoda, sambil menggoyang-goyangkan dua bongkahan 36HH yang terlihat bergetar, Entin mencoba mencari perhatian pelanggan pertamanya pagi itu.


“..Ceu Entin kenal mang Diman?!” tanya Zen


“..mang Diman yang dulu kerja di SMA belakang gunung sana?!”


“..euhmmmnn” Zen menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.


“..kenal atuh ‘A, kapan hari kan istrinya meninggal, katanya sakit mendadak! Biasanya sih dia kesini untuk sekedar beli lauk, karena nasi kan dapat jatah dari balai desa!” jawab Entin.


“...emang ada apa atuh ‘A?” tanya Entin kembali kepo.


“..engga ada apa-apa kok ceu, saya ini kawan lama mang Diman, jadi yaa..saya tunggu sajalah disini!” ujar Zen.


“..Entin Jahe.... belanja doong!” terdengar teriakan pelanggan warung Entin yang terlihat berteriak, karena posisi pemilik warung yang jauh dari etalase warungnya.


“..ya sudah ‘A. Entin mau ngelayanin pelanggan dulu, nanti kalau mang Dimannya ada, Entin suruh deh ketempat ‘A A !”


“..makasih ya ceu Entin... mangga dilanjut!”


Zen kemudian melanjutkan aktivitasnya menikmati pagi dengan menyeruput teh khas desa Welangi yang sudah mendunia.


Jika para netizen mengetahui es teh pinggir jalan yang sekarang menjamur dengan banner UMKM, tehnya berasal dari desa Welangi.


Saat Zen sedang menikmati nikmatnya tehnya, tiba-tiba..


“..maaf den, katanya aden mencari saya?!” terdengar suara berat namun sangat familiar di telinga Zen.


Dengan slow motion Zen membalik badannya.


“...mang Diman !”


“..Zen! benar ini Zen?!”


Kedua lelaki beda usia itu segera berpelukan melepas kangen mereka, sudah lebih dari satu tahun lamanya Zen tidak pernah bertemu dengan sosok mang Diman, penjaga sekolah yang merangkap sebagai tukang bentor langganannya.


“..kok bisa sampai sini?! Kenapa engga langsung saja mampir?!”


“..laah mang Diman aneh, mana ada mang Diman kasih saya alamat lengkap? Mang Diman cuma bilang tinggal diWelangi saja, itu yang mang Diman infoin ke Zen kan!”


“..hehehe.. iyaa ...yaa!”


“..terus ini mau kemana? Olah raga pagi acaranya ini? Jauh amat Zen!” cecar mang Diman bertanya.


“..biasalah mang mencari udara segar, didesa sebelah memang segar, tapi keliatannya disini lebih segar, tuuh! Sampai bapak-bapak pada ngerubutin!” ujar Zen yang mengarahkan pandangannya pada salah satu pojok bangunan warung, dimana sang janda herang sudah dikerubuti para pelanggannya.


“..hehehe...biasalah bapak-bapak, nonton pemandangan gratis!”


Mang Diman dan Zen kemudian bertukar ribuan kalimat, Zen mencoba mencari tahu kondisi sebenarnya dari Welangi itu sendiri, tentunya dari sudut pandang mang Diman sebagai warga desa asli Welangi.


Lebih dari tiga puluh menit Zen menjadi pendengar yang baik, tanpa menyela semua cerita yang keluar dari mulut mang Diman, seorang warga asli Welangi.


“..jadi begitulah Zen, warga mulai resah karena aksi juragan Tarna yang sudah semena-mena meminta warga asli sini untuk menjual tanah-tanah kebun teh mereka, bahkan teror kuntilanak, genderuwo dan memedi lainnya mulai merebak setiap malam untuk menakut-nakuti warga”.


“..bahkan didesa ini setelah magrib tidak ada yang berani lho Zen pada keluar rumah!” lanjut mang Diman memberikan penjelasannya.


“..bagaimana jika hari ini aku menginap di rumah mang Diman?!” tanya Zen


“..waah.. boleh, boleh! Cuman yaa begitulah keadaan rumahku Zen, apalagi seminggu yang lalu istriku baru saja meninggal karena penyakit yang aneh, kata warga sih istriku kena guna-guna dukun juragan tarna, cuman aku sendiri tidak percaya, dan lebih pada mengikhlaskan kepergiannya” jawab Mang Diman bercerita dengan ekspresi kesedihannya.


“..tenang saja mang Diman, kita cari tahu semuanya nanti, mang Diman jangan khawatir!” ujar Zen sambil menyeruput habis teh dalam gelas blurik warna hijau.


“..ah kamu Zen, suka bener bikin mamang kepikiran, tapi apapun yang akan kamu lakukan, sebaiknya jangan mengganggu juragan Tarna, takutnya nyawa kamu malah yang menjadi taruhannya!” khawatir Mang Diman pada Zen.


Setelah membayar pada Entin, mang Diman dan Zen pergi meninggalkan warung dengan tatapan sinis dari sekelompok orang yang berada disebuat sudut halaman warung.

__ADS_1


__ADS_2