PEMULUNG SUKSES

PEMULUNG SUKSES
Dugong langsing


__ADS_3

“..waaah, rumah mang Diman Indah bangeed pemandangannya dibelakangnya!” Zen berseru kegirangan, karena rumah mang Diman ini berada diujung dataran tinggi yang masih satu level dengan warung Entin.


Jarak rumah mang Diman dengan warung Entin hanya sebatas mata memandang saja, pantas saja mang Diman selalu menjagokan warung Entin untuk beli kebutuhan hariannya, termasuk masak-memasak.


“..ah kamu bisa saja Zen! Ini rumah peninggalan orang tua mang Diman, istri mang Diman sendiri orang perantauan, ketemunya yaa pas jadi penjaga SMA kamu itu Zen!”


“..ooh..!”


{sluurrppp}


Zen kembali menyeruput teh Welangi yang masih segar dengan asapnya yang mengepul naik.


“..jadi apa rencana mang Diman setelah ini?!” tanya Zen lebih serius sambil duduk dibale-bale bambu yang didesain memanjang bisa untuk rebahan tidur siang.


Halaman belakang rumah mang Diman sendiri, banyak sekali pohon pinus tinggi menjulang.


Luasan rumah peninggalan orang tua mang Diman sendiri hanya 300m2, dan masuk kedalam rencana juragan Tarna untuk pembangunan pabrik tekstil internasional rumornya.


“..yang jelas mang Diman tunggu 40 harian istri mang Diman dulu!” ujarnya.


{slurrrpppp}


Kedua laki-laki beda usia itu kembali menyeruput minuman hangat mereka masing-masing.


“..setelah itu?!” Zen kembali bertanya.


“..mungkin mang Diman akan fokus untuk berkebun teh saja Zen!”


“..seperti layaknya orang asli dusun Welangi, mereka semua bekerja diperkebunan milik juragan Tarna, yaa meski upahnya tidak seberapa, tapi cukuplah buat hidup sehari-hari!” mang Diman menjelaskan dengan nada penuh kepasrahan.


“..memangnya mang Diman mau ngurusin perkebunan teh?!” tanya Zen.


Mang Diman tidak langsung menjawab, namun dirinya melihat Zen dengan penuh selidik.


“..yaa pasti mau lah Zen! Gini-gini mang Diman kan memang punya keahlian dalam bidang perkebunan Teh, dari cara pembibitan, penanaman, panen, hingga regenerasi tanaman teh agar selalu berkesinambungan kedepannya!” jelas mang Diman dengan menggebu-gebu.


“..yaa..yaaa..yaa...!” Zen hanya mengganggukkan kepalanya saja.


Kedua laki-laki beda usia itu terus berdiskusi hingga waktu sudah menjelang senja.


Matahari terlihat sudah mulai menghilang disebelah barat, langit yang kemerahan menandakan malam akan segera menggantikan waktu terang.


“..kalo mandi paling enak disebelah sindang sana Zen! Banyak pemandangan yahud!!” goda mang Diman pada Zen.


Dasar Zen juga sedikit gesrek isi kepalanya, dirinya segera berjalan menuju sindang tempat berkumpulkan para warga untuk mandi sore.


Jalan yang berkelok dengan lebar yang hanya muat untuk dua orang dewasa berpapasan, menjadi lintasan yang mesti dilewati siapa saja yang ingin pergi ke sindang (tempat mandi).


Tawa riang pemuda-pemudi desa terdengar mulai ramai terdengar dengan ciprakan air yang terdengar seperti alunan musik alam.


Sindang sendiri dibagi dalam dua wilayah, dengan pembatasnya sebuah batu gunung besar yang memisahkan antara wilayah sindang laki-laki dan perempuan.


“suit..suit...!” terdengar siulan dari para remaja dan bapak-bapak ketika melihat Entin jahe mulai masuk kedalam sindang hanya dengan menggunakan sarung yang menutupi tubuh putih mulusnya.


Jadwal sindang sendiri terlihat sangat ramai apabila ada Entin Jahe yang mau beraktivitas didalam sindang, terutama di sore hari.


Para remaja dan bapak-bapak penggemar Wifu selalu mencari celah agar bisa mandi dijam-jam yang ada Entin jahe sedang beraktivitas mandi dan cuci baju, alasannya airnya lebih hangat.


Zen yang sudah mulai menceburkan diri didalam air, terlihat mulai menjauh dari kerumunan warga yang terlihat asyik mencari momentum pemandangan mereka.


Sebuah momen saat Entin jahe keluar dari dalam air sindang dalam kebasahannya, dan secara slow motion mengibaskan rambut panjangnya kearah belakang.


Pada momen itulah, akan terlihat pemandangan dua bongkahan gede 36HH yang nyeplak dikain sarungnya dengan dua ujung runcing yang terlihat begitu menggoda imron kaum adam.


Setelah adegan itu terlewatkan, para pemuda dan bapak-bapak lebih memilih untuk meninggalkan tempat mandi sindang, karena sudah bisa dipastikan hari sudah mulai gelap.


Zen ternyata belum menyudahi aktivitas mandinya, karena dirinya terlihat berada dikedalaman air untuk melakukan kultivasi.


Air sindang yang dipakai oleh warga desa ternyata memiliki keunggulan yang tidak terlihat.


Kehangatan suhu air yang semakin beranjak naik ketika malam hari, ternyata berasal dari sebuah batuan purba yang tertimbun dikedalaman 10 meter lebih dibawah ceruk sindang itu sendiri.


Sebuah batu purba yang sebelas dua belas dengan batuan yang dicari oleh takashi Uemura.


Sementara itu dibagian sindang wanita, ternyata masih ada Entin jahe yang entah bagaimana dirinya belum juga selesai dengan adegan mencuci pakaiannya.

__ADS_1


Karena merasa sindang sudah sepi, Entin jahe langsung membuka sarung yang menutupi tubuh mulusnya, bak dugong langsing, Entin Jahe mulai meliuk-liuk masuk kedalam air sindang lebih dalam.


Entah disengaja atau tidak, pergerakan Entin jahe membawanya kedalam wilayah Dimana Zen sedang melakukan kultivasi dikedalaman air sindang.


Tubuhnya yang putih mulus itupun menjadi pembeda diantara gelapnya malam yang mulai menyapa.


Tanpa Entin jahe sadari, Zen yang berada didalam dasar sindang melihat semua pemandangan indah yang dipertontonkan oleh Entin jahe, benar-benar suguhan eksklusif tanpa harus top up biaya subscribe, layaknya nonton aksi para selebgram VIP berbayar.


Lebih dari sepuluh menit lamanya Entin jahe terus beratraksi didalam air, tanpa menggunakan atribut yang menutupi tubuhnya, dan selama itu pula, Zen dapat melihat setiap detail adegan dugong langsing meliuk-liuk tanpa mengedipkan matanya.


Setelah dirasa cukup eratraksi, Entin jahe langsung muncul kembali kepermukaan dan bergegas merapikan hasil cuci-mencuci pakaiannya.


“..sepertinya ada orang didalam sindang? Apa Cuma perasaanku saja ya?!” Entin jahe bergumam sambil mulai menggendong buntalan cuciannya untuk segera menapaki jalanan naik kearah atas.


Zen sebenarnya ingin memunculkan dirinya, namun dirinya berusaha untuk menahan nafasnya hingga Entin jahe benar-benar meninggalkan sindang.


Dengan menggunakan teleportasi Zen sudah berpindah langsung kehalaman belakang rumah mang Diman.


{brakkk}


Pintu rumah mang Diman bagian belakang terbuka.


“..eh Zen, kemana saja? Pikir kamu tadi mandi disindang, mamang cari engga ketemu!” sapa Mang Diman yang tiba-tiba saja nongol dari arah dalam rumah.


“..eh mang Diman, iya, saya mandi disindang tadi, karena ramai saya ambil tempat yang agak dalam airnya, sekalian latihan nahan nafas!” ujar Zen yang terlihat sedang menggunakan handuk untuk mengeringkan kepalanya.


“..ooh, pantes, ya sudah! Itu makan malam sudah siap, tapi yaa seadanya ya Zen, namanya juga rumah kampung!” ujar mang Diman yang memperingati Zen agar tidak kaget.


“..ah, mang Diman bisa saja! Zen juga orang kampung kali mang, santuy!” jawab Zen yang langsung menggunakan kaos putih V neck dengan bawahan celana training warna abu kesukaanya.


Sebenarnya mang Diman ini curiga bagaimana Zen bisa mempunyai setelan baju yang sudah siap, padahal sejak tadi pagi Zen tidak terlihat membawa tas ransel, tapi dasar mang Diman orangnya tidak kepo an, jadi dirinya membiarkan saja, dalam benaknya, mungkin Zen sudah membawa buntalan plastik atau apalah, yang ditempatkan dibagian dalam rumahnya.


Adalah menu nasi ditambah sambal tomat dengan lalapan ada timun, kemangi, terong bakar, lauknya ikan asin dan tempe goreng.


Menu andalan yang bisa dimasak oleh mang Diman tentunya untuk menjamu tamu jauhnya.


“..mang Diman pinter masak ya ternyata!?” puji Zen ketika semua makanan sudah habis berpindah kedalam perut mereka berdua.


“..namanya juga hidup dikampung Zen, mesti pinter ngolah apa yang ada dihalaman, noh liat, disebelah belakang bagian sana, ada kacang, ada kangkung, tomat, cabe, terong bulat, timun!”


“..aah, mang Diman bisa saja!” Zen mencoba menyela ucapan mang Diman yang terlihat bakalan lebih jauh melangkahnya.


Setelah menata kembali bekas makan malam mereka berdua, keduanya kembali keluar ke bale-bale untuk berdiskusi terkait rencana malam ini.


“..bentar-bentar Zen!” Mang Diman terlihat mencoba mendekati perapian, yang entah kapan mang Diman sudah membuatnya.


Sebuah gundukan berisikan sampah kering dari bambu dan ranting kayu yang banyak dikumpulkan, terlihat menyala mengeluarkan asap warna putih yang mengepul.


Bara apinya terlihat masih menyala dengan konsisten.


Mang Diman sendiri mencoba mencari-cari sesuatu didalam bara api tersebut.


“..naah, dapat!” seru mang Diman yang mengeluarkan buntalan agak gosong dari dalam bara api.


“..kita makan ubi bakar dan singkong bakar Zen, teman buat ngopi dan ngeteh malam ini!” dengan sedikit kepanasan mang Diman menyerahkan buntalan yang sudah dibuka berisikan ubi dan singkong bakar yang terlihat merekah mengeluarkan asap disertai bau harum yang menggoda selera.


“..hemm...nyammm..” Zen menikmati ubi dan singkong bakar yang disajikan oleh mang Diman.


“..manis ya mang,..lembut lagi dagingnya, tanpa serat!” ujar Zen.


“..kalo ditanamnya dengan benar, pasti hasilnya bagus Zen, semua ilmu ini, mamang dapat dari orang tua mamang, resep turun menurun!” respon mang Diman.


Keduanya kembali terlibat dalam diskusi serius sambil menghabiskan teh Welangi dan kopi yang menjadi teman diskusi.


“..jadi begitu mang, malam ini, biarkan Zen yang berkeliling didesa ini!”


“..aaah, mamang takut kamu kenapa- kenapa Zen, apalagi ini Zen, dukun juragan tarna ini kelewat sakti kalo kata orang sini maah!”


“..sudahlah mang, tenang saja, Zen mampu kok! Jadi engga usah khawatir” ucap Zen menyakinkan mang Diman yang terlihat masih ragu.


“..ada tugas yang lebih penting buat mang Diman, segera hubungi warga dan pihak pejabat desa yang mamang bisa percaya, kumpulkan mereka untuk melihat kediaman juragan tarna, karena jika benar juragan tarna yang melakukan teror, pastinya si dukun sakti kata mamang itu tidak akan mau ilmu hitamnya mengambil nyawanya sendiri, juragan tarna akan ikut menjadi tumbalnya!”


Mendengar penjelasan Zen, mang Diman akhirnya luluh, dan mau mengikuti saran Zen.


“..ya sudah mang, Zen pamit dulu, mau mulai keliling dimulai dari ujung desa sebelah hutan sana, karena kata mamang tadi, para memedi banyakan dari arah sana!”

__ADS_1


“..iya-iya, kamu hati-hati Zen! Mamang juga mau ngumpulin warga sesuai rencana kamu!”


Keduanya lantas keluar dari halaman rumah dengan tujuan yang berbeda, Zen mengarah ke bagian barat desa sedangkan mang Diman segera berjalan kearah rumah pak kuwu.


Kuwu adalah sebutan yang lazim digunakan untuk kepala desa di wilayah bekas Kesultanan Cirebon, seperti Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Kuningan.


Namun, di beberapa tempat di lingkungan Kabupaten Cirebon sudah digunakan istilah kepala desa.


Jadi, pada dasarnya Kuwu sama saja dengan kepala desa.


Hanya dalam sekali nafas Zen sudah tiba dilokasi yang dimaksud oleh mang Diman.


Dengan sangat tenang, sambil mengeluarkan bungkus kwaci tanpa biji, Zen duduk diatas batu besar.


Satu menit berlalu...


Sepuluh menit berlalu...


Tiga puluh menit berlalu..


Jam digitalnya menunjukkan pukul 21 malam lebih.


{srakkk...dumm...sraakkk...dummm}


Terdengar suara layaknya ada yang ngesot dan lompat-lompat.


“..lama bener kalian keluarnya!” Zen berbicara sambil masih fokus dengan bungkus kwaci tanpa bijinya.


Makhluk astral yang merupakan kiriman dari dukun sakti didalam hutan itu terlihat berhenti tiga sampai lima meter didepan Zen.


Mereka sadar jikalau orang didepannya ini bukan orang sembarangan, auranya terlihat jelas bisa menekan kekuatan para memedi jadi-jadian kiriman sang dukun.


“..jadi kalian mau lepas kontrak kalian dengan dukun itu, atau mau dihapus dari buku alam?!” Zen memberikan pilihan dengan terus mengeluarkan auranya sebagai penguasa makhluk astral gunung blimbing.


Layaknya kentongan siskampling, semua makhluk astral yang tadinya berbaris rapi mau menjalankan tugas menakuti warga, langsung terdiam membeku tidak bisa bergerak.


“..buto ijo!”


{slappp}


Dari kekosongan udara langsung muncul sosok mirip arca Joko dolog dengan kulit berwarna hijau stabilo dan rambut serta jenggot berwarna merah lava yang menyala-nyala sama seperti mahkota diatas kepala botaknya.


“..bawahan menunggu perintah!” ucapnya memberikan hormat pada zen.


“..kamu karungin mereka, dan segera kasih hukuman yang setimpal, karena sudah berani membuat kontrak untuk mengganggu warga desa disekitar lereng gunung blimbing bagian selatan ini!” perintah Zen pada Buto Ijo.


Mendengar perintah dari tuannya, Buto ijo langsung menatap memedi yang terdiam membeku tidak bisa bergerak.


“..pasukan!!, sesuai perintah yang mulia Zen, karungin semua makhluk itu! Masukkan dalam penjara paling bawah, siksa dengan setrum 1jt volt, sampai perintah selanjutnya!” ucap buto Ijo memerintahkan para pasukannya yang sudah memperlihatkan diri mereka.


“..apes-apes! Perasaan tadi kita semua rombongan disuruh pawai dijalanan desa, eeh malah kena ciduk satpol!!”


“..iyaa, perasaan itu dukun cuman ngasih kita menyan pahit sekepel buat uang saku kita! Nasib banged daah!”


“..kapok, guwe kapok diajak kerja itu dukun!”


“..mana disetrum 1jt volt lagi, ga kebayang rambut gue cong!” ujar genderuwo yang ikut dalam rombongan.


“..dahlah, nasib banged gue, baru juga mau ikutan meramaikan karnaval, sudah kena ciduk saja!” pocong lima belas hari itu terlihat pasrah ketika digelandang pergi oleh pasukan buto ijo bersama dengan rombongan yang lain.


Berbagai keluh kesah makhluk memedi yang sudah mulai diangkut oleh pasukan buto ijo terdengar sangat iba.


“..tuan, apakah ada tugas lagi?!” tanya Buto Ijo pada Zen.


“..kenapa?? kamu lagi mau pacaran ya sama kunti?!”


“..hehehe..tuan tahu saja, malam minggu ini tuan!”


“..laah bukannya dikalender hari kamis - malam jum’at, kok malam minggu sih?” tanya Zen penuh selidik.


“..ah, tuan seperti lupa – lupa ingat, kalo manusia malam jum’at malam serem, bagi kami ini kan malam minggu tuan, saatnya ajojing! Ajeb -ajeb begitu!” buto ijo terlihat goyang goyang kesana kemari perut buncitnya.


“..ya sudah sana!” seru Zen mengabulkan permintaan buto Ijo.


Tanpa berpamitan lagi, buto ijo langsung menghilang begitu saja, sudah kebelet mojok sama kunti keliatannya dia.

__ADS_1


__ADS_2