PEMULUNG SUKSES

PEMULUNG SUKSES
Rejeki atau musibah


__ADS_3

“..sah!!!” teriakan para tamu yang hadir disebuah ruangan sedikit luas namun mampu menampung keluarga dekat yang turut hadir.


Zen telah menikahi kedua wanita beda usia secara bersama-sama dikediaman Tuan Hong yang sekarang sudah menjadi ayah mertuanya.


Yang menikahkan mereka adalah petugas sipil negara, secara otomatis Zen memiliki kewarganegaraan ganda.


Kedua keluarga terlihat bahagia dengan pencapaian bersama, seorang Zen dengan segudang keahlian tentu akan menjadikan dua keluarga yang disatukan oleh anak yatim piatu itu akan menjadi lebih cerah masa depannya.


Ucapan selamat terlihat bersaut-sautan dari tamu undangan yang memang dibatasi kehadirannya, karena permintaan Zen.


Semua kolega bisnis Zen hadir, baik dari negeri konoha, negeri gingseng maupun negeri Panda, semuanya datang mengucapkan selamat atas kebahagiaan Zen.


“..lelahnyaaa...!” ujar Ling Hong dan Clara bersamaan.


Zen yang melihat keduanya kelelahan tidak berani untuk menganggu.


Bahkan Zen mempergunakan ilmu paranormalnya untuk memberikan energi positif yang berguna untuk menidurkan mereka yang sedang kelelahan.


{horrrgggg}


{hooorrggg}


Kedua pengantin wanita itu kompak tidur dengan mendengkur.


Zen lantas mengabadikan lomba mendengkur spontan itu dengan kamera hape miliknya, untuk kemudian di kirimkan kedalam grup yang berisi Zen dan dua wanitanya.


Melihat keduanya tertidur Zen langsung melakukan konsentrasi untuk masuk kembali kedalam dunia jiwanya.


Beberapa waktu yang lalu Zen sudah menyuruh Hei Mao untuk masuk kedalam pintu inti bumi dan mengambil semua berlian yang terdapat didalamnya.


Bukan karena serakah, namun Zen tidak ingin berlian yang berjumlah kuadralliun Ton itu jatuh ketangan yang salah, karena jika bukan Zen, maka akan ada orang lain yang melakukannya dikemudian hari.


Semua berlian sudah dikumpulkan didalam ruang penyimpanan khususnya didunia jiwa miliknya.


Hei Mao terlihat bermanja dikaki Zen ketika melihat Zen ingin keluar dari dunia Jiwa.


“..kamu ingin ikut keluar Hei Mao?” Tanya Zen yang dijawab dengan anggukan kepala Hei Mao.


“..mungkin Clara dan Ling’er akan terbantu dengan keberadaanmu!” batin Zen.


Saat Zen membuka matanya kedua wanitanya masih tertidur lelap seperti orang pingsan.


Hei Mao bergegas menuju kearah dua wanita Zen dan langsung menggesek-gesekkan kepalanya pada kulit halus keduanya.


“..egghh!!” Clara terlihat bangun duluan, setelah Clara bangun Hei Mao berpindah ke Ling’er dengan cara yang sama menggosok-gosokkan kepalanya pada kulit halus Ling’er.


“..eekhh” merasakan ada yang menggosok wajahnya dengan bulu Ling’er pun terbangun.


“..ini?!” keduanya langsung kaget ketika ada kucing besar berwarna gelap dengan warna retina matanya keemasan bermanja diantara mereka.


“..namanya Hei Mao, dia adalah Harimau kegelapan, harimau yang memiliki warna VantaBlack, warna gelap yang mampu menghisap cahaya” jelas Zen.


“..lucunya!” keduanya langsung lupa dengan adanya Zen, mereka berdua berlomba-lomba untuk bermain bersama harimau muda dengan masih menggunakan pakaian semalam.


“..eeh, kenapa kita masih memakai pakaian ini?!” seketika Clara mulai tersadar.


“..zeeennnn!!!!” Clara langsung berteriak kencang ketika mendapati hapenya, ada video kedua wanitanya sedang lomba mendengkur tadi malam.


Zen sendiri sudah ada diluar ruangan karena merasa diabaikan setelah adanya Hei Mao.


“..eh nak Zen, kemana kedua wanitamu?” tanya tuan Hong.


“..biasa ayah, kalo sudah kumpul berdua, akunya dilupakan, semalam saja mereka langsung tidur pulas, jadi gagal deh acara malam pertamanya!”


“..bwakakakakak” tawa lepas tuan Hong ketika mendapati menantunya gagal panen dan belah durian semalam.


“..kok..ayah malah ngetawain Zen?!” ungkap Zen berekspresi merajuk.


“..hap...hap....wakakakakak...” bukan menjawab Zen, tuan Hong masih saja tertawa lepas dan tertawanya menular pada semua pegawai yang berada didekatnya.


Melihat semua yang ada disekitar Zen tertawa, Zen merasakan kehangatan keluarga yang telah lama hilang dalam dirinya.


Dia berjanji dalam hatinya untuk menjaga kebahagiaan keluarganya kedepan.


“..oh ya ayah, apakah berlian ini bisa laku dijual?!” tanya Zen sambil mengeluarkan berlian dengan ukuran panjang 30cm diameter 7cm.


“...ini?!!”


“..tuan muda, darimana tuan muda dapat berlian ini?! Ini berlian langka!” tangan kanan tuan Hong sangat takjub ketika Zen menunjukkan segenggam prisma bulat bening berkilauan.


“..tidak usah bertanya dimana mendapatkannya, pertanyaannya apakah berlian ini bisa laku dijual?” kembali Zen mempertegas.


Tuan Hong dan tangan kanannya langsung terdiam dan saling berpandangan satu sama lainnya, mereka berdua adalah seorang ahli perhiasan yang sudah berpengalaman puluhan tahun lamanya, tentu dengan sekali lihat bisa mengidentifikasi.


“..huuufftt, berlian di genggaman tanganmu itu jika masuk pelelangan bisa laku satu!” ucap tuan Hong sambil memberikan jari telunjukkan keatas.


Zen yang bingung dan tidak paham makna jari telunjuk tuan Hong terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“...satu? maksudnya?!” tanya Zen dengan polos.


“..haissshhh, hanya ada satu orang yang bisa membelinya, raja minyak diarab! Dan harganya bisa lebih dari 1 trilyun” ucap tuan Hong mencoba bersikap tenang.


“..ooww 1 trilyun rupiah cuman” Zen melihat-lihat genggaman tangannya.


{ctakkk}


Tuan Hong menjitak anak menantunya dengan pelan.


“..1 trilyun dollar harganya! Bocah gebleg!” Tuan Hong yang tidak sabar dengan sikap Zen yang terlalu polos dan kurang info.


“..benar tuan muda, 1 Trilyun USD, itu adalah harga berlian yang ada digenggaman tuan muda!’


Tangan kanan tuan Hong langsung memberikan penegasan kembali.


“..Cuma sat—apa?!!”


“..1 trilyun USD??” Zen malah terkejut sendiri ketika menyadari harga sesungguhnya.

__ADS_1


“..makanya kami tanya dari mana kamu mendapatkan bongkahan berlian itu, jika ada dalam jumlah sekitar 10 berlian yang sama, bisa dipastikan permasalahan bisnis perhiasan keluarga ini bisa diselesaikan!” Tuan Hong terlihat berbicara sambil menyeduh teh hijau kesukaanya.


“..maksud ayah segini?!”


{krunciingggg}


Dari kekosongan udara muncul lebih dari 10 buah bongkahan berlian dengan ukuran yang hampir sama dan tergeletak begitu saja disofa tempat duduk Zen.


“..ppffttttt!!”


Tuan Hong langsung menyemburkan teh hijau yang sudah didalam rongga mulutnya.


“..isssh..iiisssh...issssh... tak patut..!” Zen yang duduk didepan ayah mertuanya langsung terkena imbas semburan air teh.


“...maaaf, maaaf nak Zen!” Tuan Hong langsung sigap memakai sapu tangannya mengusap muka menantunya.


Tidak hanya tuan Hong, seluruh pegawai yang melihat bongkahan berlian muncul begitu saja didepan Zen dengan jumlah puluhan langsung menjatuhkan rahang mereka karena takjub.


{takkk...takkkk...takkk}


“..sudah-sudah, kalian jangan bengong begitu! Mau kesurupan ?!” ucap Zen memecahkan keheningan ruangan santai yang terlihat penuh dengan keheranan dengan menjentik-jentikkan jarinya.


“..segera pergunakan untuk membantu kondisi bisnis keluarga!” ucap Zen kemudian berdiri meninggalkan ruangan.


“..siapa sebenarnya tuan muda?! Sungguh luar biasa!” tangan kanan tuan Hong bergegas menghampiri tuan Hong yang masih takjub melihat puluhan bongkahan berlian didepannya.


“..langit begitu murah hati mengirimkan menantu yang sangat luar biasa!” gumam Tuan Hong yang bisa didengar oleh para pegawainya.


***


Zen yang keluar dari kediaman mertuanya, berencana untuk menikmati udara pegunungan dengan berjalan santai.


Beberapa pelayan urusan rumah tangga yang melihat Zen langsung menyapa dengan sopan.


Zen adalah pribadi yang tidak pernah memandang sebelah mata meski perbedaan status kehidupan mereka.


Zen terus berjalan, hingga tanpa sadar dirinya sudah jauh dari kawasan pribadi milik tuan Hong.


Batas wilayah yang hanya ditengarai dengan tugu beton kecil yang tertutup oleh semak belukar, membuat Zen tidak menyadari jikalau dirinya sudah berada diwilayah dalam hutan lindung.


{ggrrgggggg}


Suara erangan serigala berbadan besar terdengar menyeramkan.


“..waaah, keliatannya aku sudah salah masuk rumah orang ini!”


{klakk}


Suara ranting patah karena injakan kaki Zen ketika dirinya agak mundur kebelakang.


{ggrrgggggg}


{ggrrgggggg}


Erangan serigala itu terlihat semakin lama semakin banyak.


Tanpa Zen sadari sudah ada 10 lebih serigala yang berkumpul mengelilingi Zen.


{siuuuutt}


Salah satu serigala langsung menyerang Zen.


{ctasss}


Dengan mempergunakan ranting yang dialiri energi spiritual yang sudah sering dilatihnya,


{plukkk}


Kepala dan badan serigala itu langsung terpisah dan darah muncrat kemana-mana.


{ggrrgggggg}


Melihat kawanannya terbunuh dengan sangat mudah, pimpinan serigala terlihat mendekat kearah Zen.


{siuuut}


Kembali ada serangan dari arah belakang Zen, nampaknya, pimpinan serigala berusaha memecah konsentrasi Zen, dan kawanan dibelakang yang bertugas eksekusi.


{ctasss}


Lagi-lagi Zen mengibaskan ranting pohon yang dialiri dengan energi spritual, dengan mudahnya membelah kepala serigala yang menyerangnya.


{aouuuuwwww}


Pimpinan serigala terlihat melolong dengan keras.


Beberapa kawanan terlihat mulai mundur teratur, kelihatannya mereka menyadari kemampuan manusia didepan mereka tidaklah sederhana.


Pimpinan serigala menundukkan kepalanya sebentar kemudian mundur menjauh dari lokasi Zen.


{slappp}


Zen segera memasukkan bangkai serigala yang masih segar untuk dijadikan bahan makanan Hei Mao nantinya.


“..serigala ini sepertinya sedang menjaga sesuatu!” pikir Zen.


Dengan berjalan menyusuri jalan setapak yang terlihat sudah mulai menghilang karena adanya semak belukar liar, Zen terus maju.


{byuuuurrr}


Suara air terjun terdengar begitu deras.


Zen mencoba berjalan lebih dekat, dan benar saja, dalam jarak seratus meter kurang, terhampar pemandangan Indah Air terjun yang sangat indah.


Udara segar terasa masuk kedalam paru-paru Zen.


“..Energi alam disini sangat kuat” gumam Zen.

__ADS_1


Saat Zen menikmati segarnya udara disekitar air terjun, tiba-tiba tatapan Zen menyapu sebuah pemandangan yang tidak lazim.


“..serigala itu! Apa yang dilakukannya disana?!” Zen melihat pimpinan serigala yang terlihat sedang berjaga diselipan air terjun.


Karena penasaran Zen segera melompat dan berpindah tempat langsung didepan sang pimpinan serigala.


Pimpinan serigala yang melihat Zen langsung menundukkan kepalanya tidak berani menantang.


“..apa ini?!” Zen berjalan menyusuri lorong dibalik air terjun.


“..goa apa ini?!” Zen terus menyusuri Goa yang terlihat sangat panjang dengan ujung yang terlihat sangat terang.


Setibanya Zen diujung lorong goa, ternyata cahaya terang tadi adalah pantulan sebuah cermin yang melayang seperti melawan gravitasi.


{nguuuunggg}


Buku kehidupan berdengung kencang, muncul informasi yang memberitahukan Zen, jikalau Cermin yang ada didepannya adalah Cermin Nirwana.


Sebuah cermin milik dewa terdahulu, untuk dipergunakan sebagai alat peramal masa depan.


“..cermin yang luar biasa!” Zen lantas meneteskan darahnya dan seperti informasi yang telah dibagikan oleh buku kehidupan, cermin itu langsung masuk melesat kedalam kening Zen dan bersatu dengan alam pikirannya, kemampuan paranormalnya semakin meningkat.


“..uhuk-uhuk!” suara perempuan batuk.


“..ChaoXiang, kaukah itu?!” perempuan itu terlihat memanggil-manggil.


Zen segera menuju kearah sumber suara.


Didepannya tengah terbaring seorang perempuan seusia dengan Ling Hong,


“..buta!” gumam pelan Zen.


“..siapa disana?!”


“..chaoXiang!... chaoXiang!... chaoXiang!” teriak perempuan muda itu terlihat khawatir.


“..tenangnya nona muda, namaku Zen, aku tidak bermaksud jahat!”


“..apakah chaoXiang! Itu nama serigala yang ada diluar sana?!”


“..euhmmnn!”


“..eh, kamu apakan dia?!” perempuan muda itu langsung bersiap siaga.


“..tenang dia masih hidup, dan berjaga dengan setia didepan sana!” jawab Zen dengan intonasi yang menyejukkan.


Mereka berdua akhirnya terlibat pembicaraan serius, adalah Zen yang sering bertanya terkait pribadi dari perempuan muda yang terlihat kacau.


Perempuan muda itu menjelaskan semua runtutan hidupnya, hingga menyepi didalam goa air terjun.


Kedua orang tuanya meninggalkan dirinya yang buta sejak lahir didalam air terjun hanya dengan berteman serigala.


Perempuan muda itu sudah mendiami goa didalam air terjun dalam kurun waktu yang sangat lama, hampir 19 tahun, karena jika dilihat dari usia tulangnya, perempuan muda didepan Zen ini masih berusia 17-18 tahun.


“..jika aku bisa menyembuhkanmu, apa yang akan kamu lakukan setelahnya?!” tanya Zen ketika suasa terlihat hening.


Zen yang mendapat pencerahan dari buku kehidupan terkait perempuan muda yang ada didepannya yang memiliki kemampuan dibidang alkimia kuno, tidak ingin melewatkan kesempatan langka yang ada didepannya.


“..jika tuan muda bisa menyembuhkan mataku, maka hidupku sudah menjadi milik tuan muda!” jawabnya dengan tegas.


“...aaahh, itu!” Zen tidak bisa berkata-kata.


“..baiklah..bersiaplah, aku akan mulai mengobatimu!”


Sesuai petunjuk dari buku kehidupan, Zen hanya memerlukan air kehidupan yang dibasuhkan keseluruh bagian wajah, layaknya orang sedang cuci muka.


Dengan perlahan Zen mengusapkan air kehidupan yang sudah berada dicekungan telapak tangannya, kewajah perempuan muda didepannya.


{swiiinggg]


Ajaibnya, air kehidupan langsung berfungsi dengan baik.


Wajah perempuan didepan Zen itu kini terlihat telah berubah menjadi lebih cerah dengan kontur wajah mirip orang eropa timur, dengan hidungnya yang mancung dan kulit wajahnya putih bersih.


Retina mata berwarna biru cerah itu mulai terbuka perlahan.


“..apakah Anda tuan muda yang telah mengobati saya?!” tanya perempuan muda didepan Zen.


“..siapa lagi?! Jadi, siapa nama kamu?” Zen lantas bertanya.


Perempuan muda didepan Zen terlihat menggelengkan kepalanya.


“..apakah kamu mau aku beri nama?!” tanya Zen.


“..mau..mau tuan muda!”


“..baiklah, mulai sekarang nama kamu Sofia! Kamu suka?”


“..suka.. S-o-f-i-a! Suka banged tuan muda, terima kasih!” sofia langsung memeluk Zen begitu erat.


Dua bongkahan gunung yang lumayan kenyal milik sofia langsung menekan-nekan Zen dari arah depan.


Zen tidak mengganggu kebahagiaan sofia, dibiarkannya gadis muda itu meluapkan kegembiraanya dalam beberapa waktu lamanya, hingga..


“..maaf tuan muda,..saya sangat bahagia, bisa melihat dewa penolong saya, maafkan sikap sofia yang memeluk tuan muda!”


“..bukan masalah besar, tenang saja!”


“..ya sudah kita segera keluar dari goa ini!”


“..tunggu tuan muda, apakah saya boleh mengambil barang-barang saya?!”


“..sudah biarkan saja disini, nanti kamu bisa datang lagi kesini!”


{wussshhh}


Dengan sekali kibasan tangan ruangan goa tempat sofia berdiam diri langsung tertutup oleh kabut hitam yang menyamarkannya.

__ADS_1


“..waah tuan muda sangat hebat!” puji Sofia.


Mereka berdua segera meninggalkan Goa menuju ruang terbuka.


__ADS_2