PEMULUNG SUKSES

PEMULUNG SUKSES
Penguasa sesungguhnya


__ADS_3

3 jam lebih 30 menit perjalanan Zen menuju lokasi yang telah ditentukan.


Deretan mobil mahal berjejer dengan sangat ramai.


Zen dan rombongan yang hanya menggunakan 3 mobil, terlihat sudah memasuki area parkir dan menempatkan mobil mereka ditempat yang sudah disediakan.


{dappp}


Pintu mobil kembali ditutup ketika Zen dan rombongan sudah keluar dari dalam mobil.


Total ada 6 orang yang hadir dari kubu harimau emas.


Saat Zen dan rombongan berjalan memasuki arena pertandingan, terlihat beberapa pasang mata yang tidak suka, berusaha untuk mengintimidasi Zen.


Zen yang terlihat tidak ambil pusing dengan ratusan pasang mata yang memandangi dirinya sejak keluar dari mobil, memilih untuk segera duduk diruangan VVIP yang telah disediakan.


“..lihatlah penguasa, itu disana adalah 10 orang pemberontak!?” ujar Toni sambil mengarahkan pandangan matanya kearah kerumunan kelompok 10, yang memang berencana melakukan kudeta kekuasaan secara terang-terangan dengan salah satunya mengadakan agenda pertarungan malam ini.


“..euumnnn!” Zen hanya menanggapi sekenanya saja.


{klontengggg}...{klontengggg}..{klontengggg}


Suara lonceng penanda acara utama telah dibunyikan.


Didalam bangunan ini, selain para penguasa dunia bawah, terlihat pengusaha dalam dan luar negeri, juga turut hadir, untuk menyaksikan pertandingan yang akan menentukan peta kekuasaan dari kekuatan bawah tanah negeri Gingseng.


“..karena semua peserta yang akan bertanding sudah datang!”


“..tanpa menunggu lama lagi, kita mulai acara ini!”


“..sesuai aturan, pembunuhan diperbolehkan!”


“..juara pertama akan menjadi penguasa seutuhnya dari kekuatan bawah tanah negeri gingseng kedepannya!”


Sorak-sorai para penonton yang hadir terdengar memekakkan telinga.


{tokk}..{tokk},,..{tokk}


Suara pintu VVIP tempat Zen berdiam diri terlihat sudah diketuk dari luar.


{jeglekkk}


Suara pintu terbuka dari handle bagian dalam.


“..maaf tuan, untuk peserta silahkan bersiap-siap! Karena aturan dalam pertandingan kali ini, semua peserta bebas menentukan lawan mereka, siapa yang tersisa diatas arena dalam keadaan hidup, maka dialah yang akan menjadi pemenangnya!”


Terlihat wasit pertandingan yang berada dibelakang pintu, memberikan penjelasan terkait peraturan pertandingan.


“..penguasa, Bagaimana?! Biar saya saja yang meladeni mereka penguasa!” ucap Toni berusaha untuk mengorbankan dirinya.


{settt}


Zen langsung berdiri dari kursi tempat duduknya.


“..tunjukkan jalannya!” jawab Zen dengan sangat tenang.


“...buuuuu...wuuuuuu...huuuuu”


Suara -suara sumbang terdengar merendahkan seorang Zen yang terlihat begitu tenang menghadapi hinaan verbal yang dilontarkan oleh penonton.


Hanya enam puluh langkah lamanya Zen berjalan, akhirnya dirinya berada tepat dibawah arena pertandingan.


Terlihat sepuluh peserta yang lainnya mulai memberikan intimidasi pada Zen.


“..bagaimana ini wakil ketua?!” tanya tangan kananya dengan perasaan grogi.


“..percaya, penguasa kita yang baru akan mengalahkan mereka semua!”


“..tapi...?!!”


“..ssshhhhttt!!”


“..lebih baik kamu segera memastikan arahan penguasa tadi, segera atur pertaruhan, taruh semua harta benda yang kita miliki dalam setiap pertarungan penguasa!”


Ujar Toni segera memerintahkan kepada tangan kanannya untuk mendatangi ruangan bandar judi, guna memasang taruhan dengan jumlah yang sangat fantastis.


Zen yang notabene masih muda belia, akan melawan para jago-jago petarung dari berbagai belahan dunia, bandar terlihat meremehkan Zen dengan perbandingan 1:1000.


Zen terlihat memandang kearah Toni sebelum dirinya memutuskan menaiki arena pertarungan.


“..euuhmmnnn!” anggukan kepala Toni sudah cukup menjadi jawaban bagi Zen.


{siuuuuttt}


Zen melompat tinggi dari tempatnya dibawah arena.


{jduuuummmnnnn}


Suara hentakan kaki Zen ketika menyentuh lantai arena pertandingan.


Beberapa orang terlihat langsung diam dengan aksi yang dibuat oleh Zen, beberapanya lagi terlihat tidak tertarik karena sudah termakan omongan dari 10 pemberontak, jikalau Zen adalah pemuda belia yang tidak memiliki kekuatan apa-apa!


“..bunuh pemuda itu!”


“..hapus namanya dari dunia ini!!”


Berbagai sorakan menghina dan merendahkan Zen terdengar kencang dari sudut-sudut bangku penonton.


{sreettt}


Zen mengambil mikrofon yang terlihat menggantung didepannya.


“..test..!”


{nguuuiiinggg}


Bunyi echo mikrofon terdengar merusak suasana.


“..sebelum bertarung, secara pribadi aku ingin bertaruh, beda dengan pertaruhan bandar judi disana!”


“..aku bertaruh dengan 4 kartu hitam milikku ini, kartu ini berisi total 10 trilyun won!”


Sontak seluruh pengunjung yang hadir langsung dibuat kaget, karena Zen membuat pertaruhan yang begitu besar untuk pertandingan dirinya sendiri.


“..aaiisssh, tuan muda memang beda!”


“..kasihan para penonton yang hadir, mereka bisa pulang pakai kolor saja yang ada!”


Suara toni dan beberapa jajaran pemimpin harian geng harimau emas terdengar riuh didalam ruangan VVIP.


“..baik, kami juga bertaruh yang sama denganmu!”

__ADS_1


Terdengar suara dari 10 pemberontak yang tidak ingin kehilangan muka, mereka sangat percaya diri jikalau petarung tangguh mereka bisa mengalahkan Zen dengan sangat mudah.


“..siapa lagi yang ingin bertaruh denganku?!” ucap Zen kembali bersuara lewat mikrofon.


“..anak gila! Aku ikut pertaruhanmu!”


“..aku juga!”


“..ya kami juga!”


Pada akhirnya toni yang dibuat kelimpungan, karena dirinya mesti mengumpulkan pertaruhan tersebut dan diletakkan didekat arena pertandingan untuk dijaga ketat.


Setelah semua harta pertaruhan diletakkan, kebanyakan adalah kunci mobil mewah yang berjejer didepan lapangan parkir, dengan percaya diri mereka pertaruhkan.


“..untuk mempersingkat waktu, bagaimana jika kalian semua bersepuluh naik keatas arena dan kita melakukannya secara langsung bersamaan!”


Langsung suara gaduh terjadi lagi.


“..isshh..isssh...issshh”


Toni kembali menggeleng-gelengkan kepalanya melihat aksi provokasi yang dilakukan oleh Zen.


“..woi pemuda gila! Apa benar kamu menginginkan kami bersepuluh ini langsung menyerangmu bersamaan?!”


“..gila betul!?”


“..sudah tidak waras keliatannya pemuda ini!”


“..waaah, keliatannya aku bakal kaya sebentar lagi!”


Beberapa komentar baik yang datang dari 10 petarung yang ada dibawah arena, maupun para penonton yang terlihat tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Zen barusan terlihat gaduh.


“..kemarilah! dan kita segera selesaikan pertarungan ini secepatnya!” kembali Zen memprovokasi lawan tadingnya dengan melambai-lambaikan telapak tangannya memanggil.


{siuut}..{siuut}..{siuut}..{siuut}


Secara bergantian, 10 petarung yang tadinya melakukan aksi pemanasan dibawah langsung naik secera bergantian keatas arena.


Di atas arena, kini terlihat 10 petarung menghadap kearah Zen dengan tampang penuh emosi.


“..hei nak! Jangan salahkan kami jika kamu akhirnya pulang tinggal nama!”


“..yap benar!”


“..kamu terlalu sombong anak muda!?”


Berbagai komentar dari 10 petarung terdengar berusaha merendahkan Zen yang terlalu sembrono bagi mereka.


Bukannya takut, Zen kemudian berbicara dengan nada yang dilapisi energi spiritual.


“..aku ingatkan sekali lagi! Siapa yang ingin turun dari arena aku persilahkan, karena dengan berakhirnya hitunganku..”


Zen langsung mengangkat 3 jarinya keatas.


“..sudah tidak ada lagi ampunan bagi kalian semua yang masih keras kepala melanjutkan pertarungan!”


“...satu!!!” Zen mulai berhitung.


Suasana penonton di bangku mereka terlihat mulai sepi dan sunyi!


Bahkan jika ada cicak kepleset pasti akan terdengar.


“..dua!!!” Zen terlihat sudah menurunkan dua jarinya.


Tiba-tiba sosok petarung berdarah jepang mengangkat tangannya meminta turun.


“..apaa!!? bagaimana mungkin?!” kawannya berteriak tidak percaya.


“..aku juga!!”


Kali ini petarung mata sipit juga meminta turun dari arena!


“..tidak mungkin, apa yang dilakukan pemuda itu, kenapa petarung-petarung itu turun dari arena?!”


“..kekuatan macam apa yang dimiliki oleh pemuda itu!”


Total ada 6 petarung yang memantabkan dirinya untuk turun.


“..aku peringatkan kalian, didepan kalian ini sudah bukan manusia normal!”


“..kekuatan kalian hanyalah semut baginya!”


“..benar kata mata sipit!! Kami berbicara karena kami yang sudah berada dilevel tertinggi pembudidaya sejak ratusan tahun lalu, merasakan bahaya jika kami melanjutkan pertarungan!”


Empat petarung saling menoleh satu sama lain, ada perasaan tidak percaya, ada juga perasaan takut, semua campur-campur!


“..tiga!!”


Zen sudah menurunkan tangannya, dan empat orang petarung yang tersisa terlihat tidak bergeming dengan ucapan kawan mereka yang memilih mengundurkan diri.


“..baiklah, kalian berenam, setelah pertandingan ini, temuilah aku! Ada hadiah buat kalian berenam yang sudah bijak menentukan pilihan”


“..untuk kalian berempat yang masih ingin bertarung! Jangan salahkan aku jika kalian sudah tidak bisa lagi merasakan arti hidup!! ”


{swooosshhh!!”


Bersamaan dengan kalimat terakhirnya, Zen melesat kearah keempat petarung yang tidak sadar jikalau Zen sudah selesai menotok semua jalur kehidupannya dengan gerakan super cepat.


{gabruukkkk!}... {gabruukkkk!}..


{gabruukkkk!}.. {gabruukkkk!}


Tiba-tiba saja keempatnya sudah terjatuh tidak sadarkan diri.


“..cc-cepat sekali!!”


“..apa kalian melihatnya bergerak!!?”


“..sungguh luar biasa!!”


“..pp-pemuda itu masih manusia kah?!!”


Komentar dari enam petarung yang sudah turun duluan, terdengar mendominasi suara heningnya arena pertandingan.


Penonton yang hadir menjatuhkan rahangnya semua.


Raut wajah ketidakpercayaan mereka terlihat sangat dominan.


“..untung naluriku berkata benar, coba kita ikut diatas, bisa-bisa sisa hidup kita akan sepeti sampah!”


“..benar, feelingku juga mengatakan jika pemuda yang tadinya akan menjadi lawan kita, bukanlah manusia biasa!”

__ADS_1


“..pemenangnya adalah penguasa harimau Emas!!!”


Wasit pertandingan terdengar mengumumkan hasil pertarungan super singkat, yang terjadi hanya dalam hitungan dibawah 1 detik.


“..aah tidaaak, hartaku!!!”


“..amsyooong!!!”


“..bandar bangkrut!!!”


Mulailah kegaduhan terjadi.


Semua penonton yang notabene adalah pengusaha segera melihat kearah 10 pemimpin geng bawah tanah yang sedari tadi terlihat ketakutan.


“..kembalikan uang kami!!”


“..yaa! kalian harus tanggung jawab!!”


“..Karena kalian yang telah memprovokasi pilihan kami!”


Keributan pun terjadi, anggota gangster yang tadinya menjadi bawahan 10 pimpinan kekuatan dunia bawah, langsung berkumpul merapatkan barisan guna mendukung harimau emas.


“..bagus-bagus! Pilihan kalian memang benar! Untuk kedepannya kita akan menjadi penguasa satu-satunya dunia bawah dinegeri gingseng ini!”


Zen terlihat manggut-manggut ketika mendapati sikap semua bawahan yang memilih memihak pada dirinya.


“..bawahan siap menunggu perintah!!”


Kompak semuanya menundukkan diri mereka menghormati Zen sebagai penguasa mereka.


“..tuan , terimalah hormat bawahan ini!”


Tidak hanya anggota dari 10 gangster yang menyerahkan diri mereka bergabung bersama Zen.


Adalah 6 petarung ahli tingkat tinggi, juga merendahkan badan mereka bersikap hormat pada Zen.


“..ini, ambillah! Cari tempat yang sepi dari keramaian mahkluk hidup, dan segera naikkan tingkatan kalian!”


Zen melemparkan satu persatu pil berwarna bening dengan garis emas sebanyak 7 buah secara bergantian pada keenam pembudidaya didepannya.


“..Pil langit!!”


Keenam pembudidaya bukannya orang bodoh!


Ratusan tahun mereka sudah hidup dengan berbagai cerita turun-temurun terkait kehebatan pil langit yang dapat meningkatkan kekuatan mereka lebih tinggi dan juga menghilangkan penghambat dalam tubuh mereka.


Pil yang sekaligus dapat menambah energi kehidupan mereka menjadi ribuan tahun lamanya.


“..hormat bawahan pada penguasa!”


Kompak mereka berenam memberikan penghormatan tertinggi mereka pada Zen.


“..mulai hari ini nyawa kami berenam menjadi milik penguasa!” ujar mereka kembali kompak paduan suara.


“..Toni, Pastikan 10 pemberontak itu mendapatkan hukuman yang setimpal!” teriak keras Zen memberikan perintah.


“..dan segera urus kekacauan yang terjadi akibat acara malam ini!”


{zlappp}


Zen menghilang begitu saja dari tengah arena, tanpa ada yang mengetahui kemana perginya.


Yang jelas harta yang telah dipertaruhkan juga sudah lenyap tak bersisa.


Toni yang bertugas menyelesaikan kekacauan pada malam itu hanya bisa menghela nafas kasarnya.


“..kamu, kamu dan kamu! Segera bereskan 10 pemberontak itu! Sekap didalam ruang penyiksaan kita!” ujar toni memerintah.


“..mana bandarnya?! Bawa sini!”


“..Pastikan dana ditransfer malam ini juga! Tidak ada negosiasi, jika tidak, pastikan dimana keluarganya!”


“..ampuun tuan, saya akan langsung kerjakan semua malam ini, jangan sentuh keluarga saya tuan!”


Sang bandar terlihat ketakutan.


toal ada 10 kuadriliyun won yang menjadi kemenangan Zen malam ini didapat dari bandar judi, dana itu langsung berpindah kedalam rekening induk harimau emas yang telah dibawa Zen kartunya.


“..tuan Toni, kami dari kumpulan pengusaha ingin mengajukan kontrak kerjasama kedepannya terkait peta kekuatan yang baru!”


“..euhmmnn!”


“..datanglah besok pagi jam 9 tepat, jangan sampai telat, kalo sampe telat, terima akibatnya!” suara toni penuh dengan penegasan dan dominasi.


“..baik tuan Toni, kami akan hadir semua besok!”


Setelah itu sekumpulan pengusaha segera membubarkan diri dengan penuh rasa kekesalan mereka.


Tadinya niatan mereka datang karena dijanjikan menang taruhan, kenyataannya mereka pulang hanya dengan berjalan kaki karena semua mobil mereka telah dipertaruhkan tadi.


***


Didalam kamarnya Zen yang sudah berpindah lokasi terlihat bahagia.


“..hasil panen yang lumayan!” ujarnya.


Jika orang lain tahu Zen telah memenangkan pertaruhan senilai 25 kuadraliyun hanya dalam hitungan detik dan dibilang lumayan, mungkin orang itu akan menangis sejadi-jadinya.


“..tinggal memastikan besok pagi, jika semuanya sudah beres, aku bisa kembali ke konoha hari itu juga” ujar Zen yang melihat hasil pertaruhannya dengan bandar judi lewat layar monitor di laptopnya, nolnya berderet 18 dibelakang angka utamanya!.


{tuuutttt!!!}


Suara dering telpon hapenya terdengar jika ada pangggilan masuk melalui media wea.


{ceklek}


“..hai Zen! Lagi apa?!” kalimat pembukaan yang terdengar begitu antusias, saat sambungannya tersambung.


“..eh Ziva belum tidur?!” Zen melihat jam dilayar laptopnya menunjukkan pukul 8 malam waktu konoha.


Mereka berdua akhirnya terlibat percakapan lama hampir satu jam.


Ziva banyak bercerita terkait rencana kepindahan ayahnya, ke markas besar di kota besar.


Dalam pembicaraannya, Ziva juga menjelaskan jikalau dirinya sudah diterima lewat jalur prestasi di fakultas hukum bagian dari salah satu universitas ternama di kota besar.


Zen hanya menjadi pendengar yang budiman dalam hal ini.


Sambungan jarak jauh itu akhirnya terputus, karena Ziva sudah diingatkan orang tuanya untuk tidur, sebab besok mereka akan mulai bangun lebih awal, guna memulai acara pindahannya.


Zen sendiri juga sudah mulai berkonsentrasi untuk masuk kedalam dimensi dunia jiwanya, guna mendalami ilmu yang sudah diturunkan langsung oleh leluhurnya.

__ADS_1


Tidak menunggu lama, Zen mulai tenggelam dengan aktivitas kultivasinya.


__ADS_2