
“..jadi kemana kita sekarang?!” Tanya Clara yang sudah bersiap bersama ketiga wanita yang lainnya.
“..terserah saja, bukannya kalian berempat sudah punya agenda?!” ujar Zen yang menatap curiga.
“..suami tahu saja iih,..”
“..iyaa suami kita memang jago, bisa membaca pikiran kita-kita!”
Sofia dan Evelyn terlihat lebih kalem karena mereka masih berusaha untuk mempelajari karakter suami mereka.
Clara langsung mengeluarkan secarik kertas yang berisi destinasi yang akan dikunjungi selama berada di Amerika.
Mulai dari berkeliling kota LA dan NY belum lagi melihat universal studio serta times square, wanita memang kalo sudah berkumpul ada saja jadwal yang bisa bikin puyeng lelakinya.
Dengan sabar Zen mengikuti jadwal mereka berempat yang terlihat cengar-cengir tanpa memikirkan suami mereka yang tangannya sudah penuh dengan barang-barang belanjaan mereka berempat.
Zen selalu mencari tempat sepi untuk memindahkan barang-barang pembelian keempat wanitanya, namun sudah 10x pemberhentian, mereka berempat terlihat tidak ada selesainya untuk acara belanja.
Sofia dan Evelyn terlihat mengeringkan keringat yang terlihat bercucuran dipelipis Zen, ini adalah acara ke 21, dimana keempat wanitanya tidak kunjung selesai keluar masuk butik disekitaran time square.
Banyak lalu lalang orang yang memperhatikan Zen berjalan sambil membawa barang belanjaan dibelakang keempat wanita yang tertawa riang.
Jika bukan tempat umum, pastinya Zen sudah menghilangkan semua barang belanjaan yang terlihat sudah kembali menumpuk dikedua lengannya.
Evelyn yang baru melihat kemampuan Zen dalam menghilangkan barang-barang sesuai keinginannya terlihat bengong saat pertama kali ikut.
Setelah beberapa kali, akhirnya Evelyn bisa menerima hal yang diluar nalarnya tersebut.
Bahkan diantara keempatnya, evelynlah yang paling terus-terusan nempel bersama Zen, membuat yang lainnya iri hati.
“..adik! sini, kenapa juga mesti nempel terus sama pak suami?!” Clara memprotes Evelyn yang tidak bersama mereka bertiga malah lebih nempel pada Zen.
“..eh kakak, kasihan kak suami kita sendirian, ntar kalo ada yang godain buat jadi nomor 5 bagaimana?! Hayoo!” jawab Evelyn berkilah.
“..eh, benar juga!”
“..secara kan, lihat dari tadi suami kita banyak bawa barang, tahu-tahu barangnya lenyap, bisa-bisa kan ada cewek yang ngelihat terus terpikat bagaimana? Hayoo!”
Zen yang melihat perdebatan mereka hanya senyam senyum sendiri.
“..lihat tuuh, suami kita senyum-senyum sendiri, jangan-jangan sudah ada itu tadi, beneran kamu nempel terus dari tadi evelyn?!”
“..euuhmmnnn!!” anggukan kepala Evelyn tanda mengiyakan.
“..ya sudah, kita cari restoran saja, lagian sudah banyak belanjaan kita bukan?!” tanya Clara pada yang lainnya.
“..iya aku juga sudah lapar!” Ucap Ling-Ling.
“..kalo kamu?!”
“..sama, aku juga sudah lapar, cuman tadi sempat beli hotdog bareng suami, jadi yaa tidak sebegitu lapar siih!”
“..iih curaaaangg!!” Clara, Ling-ling dan Sofia langsung menyerang Evelyn dengan cubitan-cubitan bercyandyaaa.
Mereka berlima memasuki sebuah restoran internasional yang sering dimasuki oleh aktor dan aktris Hollywood.
“..berhenti!!” terdengar suara melarang didepan mereka.
“..apakah kalian sudah membuat reservasi?!” tanya petugas jaga dengan warna kulit gelap memakai jas warna gelap dengan dalaman dasi berwarna kuning terang.
“..apakah kalian tidak mengenal pemilik restoran ini?!” Zen terlihat dengan santai menundukkan kepalanya dibelakang keempat wanitanya yang terlihat mendapatkan masalah.
Kepala petugas jaga langsung bereaksi, ketika Zen bersuara dengan intonasi yang berat.
{jenggg..jenggg..jeeeeng}
Zen mendongakkan kepalanya, hingga wajahnya bisa dikenali.
“..tu-tuan muda Zen!” kepala petugas jaga langsung mengenali wajah Zen.
“..sudah-sudah, kalian ingat semua wajah keempat wanitaku ini! Informasikan ke jaringan restoran yang lain di negara ini, internasional kalo perlu, jangan sampai kejadian seperti ini terjadi!”
“..bb-baik tuan Muda Zen!” hormat para petugas jaga sambil menundukkan badan mereka dalam-dalam.
“..ayo masuk! laah malah diem-diem bae!” ujar Zen mengajak keempat wanitanya untuk masuk.
Setelah Zen dan keempat wanitanya memasuki restoran, kepala petugas jaga langsung menghukum anak buahnya karena tidak hati-hati dalam bekerja.
Restoran bergaya Amerika itu terlihat sangat mewah, semua tamu terlihat keheranan karena malam itu pelayan dan manajer restoran terlihat tidak seperti biasanya.
Semua masakan berkualitas dikirim didalam ruangan super VVIP yang dihuni oleh Zen dan keempat wanitanya.
“..koki disini pandai membuat masakan seluruh dunia?!”
“..benar, bahkan menu yang tidak ada didalam buku pun langsung dibuatkan!”
__ADS_1
“..semua karena suami kita ada disini!” jawab Clara dengan sumringah.
“..euuhmnnn!” Sofia menanggapi dengan anggukan kepala saja, karena mulutnya penuh dengan potongan bebek bakar yang sudah dua porsi dihabiskannya sendiri.
Zen yang melihat keempat wanitanya memesan menu yang beragam untuk menguji keahlian koki restorannya, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Mulut dan perut Zen menjadi sasaran masuknya makanan yang dipesan oleh keempat wanitanya.
Secara bergantian Zen disuapi oleh keempatnya.
“..ini sama saja aku yang makan semuanya?!” ujar Zen tidak puas.
Hampir dua jam lamanya aktivitas makan mereka berempat didalam restoran.
“..terima kasih atas kedatangannya tuan muda Zen!” barisan pelayan dan petugas yang berjaga malam itu langsung memberikan hormat saat Zen keluar dari pintu ruangannya.
Pemandangan yang membuat semua pengunjung restoran bertanya-tanya, karena jarang ada momen seperti yang mereka lihat barusan selama mereka berkunjung.
Zen dan keempat wanitanya terlihat berjalan santai sambil bersenda gurau satu sama lain, membuat iri pengguna jalan yang lainnya.
Hanya berjarak satu blok, hotel tempat mereka menginap malam ini sudah ada didepan mata.
Setelah menyelesaikan proses administrasi yang tanpa berbelit - belit karena hotel tersebut adalah bagian dari jaringan gurita bisnis Z grup dibidang property, mereka berlima langsung menuju kamar tempat mereka akan beristirahat.
Sebuah ruangan presidensial suite dengan lokasinya berada dilantai teratas dari bangunan hotel berlantai 65, menjadi tempat mereka berlima beristirahat.
Lain harapan lain kenyataan.
Harapannya Zen setelah tiba dirinya bisa merasakan enak-enaknya dunia, sayangnya..
“..suami, tolong dikeluarkan semua barang-barang yang kita beli tadi doong, kita-kita mau cek-cek ini!”
Mendengar instruksi dari Clara, Zen langsung mengeluarkan semua barang belanjaan mereka berempat hingga menggunung diruangan tengah.
“..ya sudah, aku harus menyelesaikan pekerjaan, jadi kalian jangan menggangguku dulu malam ini!”
“..baiklah!” kompak mereka berempat bersuara layaknya paduan suara tanpa melihat ekspresi Zen yang merana.
Keempatnya sudah tenggelam dengan aktivitas memilah-milah barang belanjaan mereka, sementara Zen sendiri juga sudah dalam posisi tenggelam berkultivasi, untuk menyelesaikan teknologi yang akan dikembangkannya dalam memenuhi kebutuhan bisnis Z energi.
Didalam dunia jiwanya, Zen terlihat sangat fokus dengan berbagai macam material yang dirakitnya, menjadi sebuah kotak berukuran 80x80x80cm3.
Kotak inilah yang nantinya akan menjadi motor penggerak reaksi Fusi setelah keberhasilannya memecahkan molekul hydrogen dari oksigen.
Didepannya sudah berdiri empat bidadari tanpa selendang bersiap untuk mandi bersama.
“..nah, karena suami sudah bangun! Mari kita segerakan bercocok tanam didalam kamar mandi!”
“..yuuukkk...mariii!!” kompak Ling-Ling, Sofia dan Evelyn ikutan menarik lengan tangan suami mereka untuk masuk kedalam kamar mandi.
Aktivitas didalam kamar mandi berjalan selama dua jam setengah, karena jam 2 siang waktu setempat, Zen akan mengadakan uji coba pelaksanaan ide gilanya didunia energi.
Meski hanya dua jam setengah, keempat wanita Zen terlihat sudah gemeteran lututnya, dan lebih memilih untuk tetap berada didalam kamar hotel guna beristirahat.
{cupp.. cupp.. cupp.. cupp..}
Setelah memberikan kecupan hangat di pipi dan dahi keempatnya, Zen pamitan untuk berangkat.
Adalah teleportasi yang dipilih Zen untuk berpindah lokasi di salah satu unit pembangkitan yang dulunya adalah pembangkit listrik tenaga batu bara terbesar di Amerika.
Para petugas lapangannya sudah melaksanakan semua instruksi dari Zen selama dua minggu lamanya, dimana jalur dengan boiler dan turbin telah dilepas, dan diganti dengan konsep jalur pembakaran layaknya ruang mesin kapal laut.
Ruangan berdimensi 8x8x8m3 itu terlihat sangat luas dengan ujung-ujung atapnya merupakan piston yang akan bekerja naik turun saat terjadi ledakan Fusi.
Zen meletakkan satu kotak yang berukuran 80x80x80cm3 ditengah-tengah ruangan pembakaran, dan satu kotak lagi dipintu masuk ruangan bekas boiler yang akan bertugas untuk memisahkan Hydrogen dan Oksigen.
Dengan sekali tekan, kotak yang tadinya kecil itu, langsung membesar dan memenuhi ruangan kosong yang sudah diminta oleh Zen.
“..sekarang kita siap!” ujar Zen sambil menepuk bahu belakang penanggung jawab operasi.
“..bb-baik tuan!” ujarnya gagap, karena tidak percaya dengan apa yang ditunjukkan oleh layar monitor, benda yang tadinya kecil bisa membesar bahkan sekarang bisa menutup seluruh dimensi ruangan dengan sempurna.
{jgreeeerrrr}
Air murni dengan pH 7 sudah mulai membanjiri ruangan bekas boiler dan turbine.
Kotak pertama langsung bekerja memisahkan molekul Hydrogen dan molekul Oksigen yang keduanya langsung dihubungkan dengan pipa gas bertekanan tinggi untuk masuk kedalam jalur kotak kedua.
Oksigen segera diekspor keluar setelah dipisahkan, sedangkan gas Hydrogen tetap melaju menuju kotak ruangan kedua.
{duummmm}
Ledakan pertama terjadi, ruang pembakaran mulai menunjukkan reaksinya, perlahan tekanan panas itu menggerakkan piston naik turun.
{duuummmm}
__ADS_1
Ledakan kedua menyusul, seiring dengan bertambahnya tekanan panas yang akhirnya piston bergerak naik turun dengan kecepatan yang bertambah.
“..tuan,..” Ujar sang kepala operasi menoleh kearah Zio menunjukkan layar monitor produksi yang sudah menghasilkan listrik keluarannya.
“..luar biasa tuan Zen! Berhasil”
“..selamat tuan muda Zen! Anda berhasil mengubah tatanan energi dunia!”
“..kami semua sebagai saksi apa yang tuan lakukan hari ini akan mengubah gaya hidup dunia tentang energi!”
Berbagai komentar dan pujian menyeruak diantara para tamu yang diundang untuk menyaksikan.
“..mesin bergerak dengan sempurna tuan!” Laporan operator ruangan.
{prokk.. prokk.. prokk.. prokk..}
Tepuk tangan meriah menggema didalam pembangkit listrik tua yang telah disulap oleh Zen menjadi pembangkitan listrik energi Hydrogen.
Dunia kembali mencatat prestasi yang sudah ditorehkan oleh Zen dengan gurita bisnisnya kali ini dibidang energi.
Berbagai media elektronik dan cetak, serta media digital, semua mengumumkan kesuksesan yang telah Zen dapat dalam pengembangan reaksi Fusi yang katanya mustahil dilakukan dipermukaan bumi karena keterbatasan teknologi.
Dengan keberhasilan Zen, Gebi terlihat sangat sibuk dengan teleponnya, berbagai lembaga dunia yang mengurusi masalah pembangkitan dan kelistrikan, langsung meminta kontrak eksklusif atas teknologi reaksi Fusi yang dapat mengubah air menjadi energi yang tidak bakalan habis dengan Zero emisi.
***
Dibelahan dunia lain, disebuah ruangan pertemuan yang penuh padat berisi ratusan pengusaha perminyakan dunia.
“..kalian sudah mendengar keberhasilan Z energi?”
“..euhmmnn!”
“..lantas apa langkah kita?!”
“..benar, kita sudah menginvestasikan trilyunan dolar, bahkan kita sudah membeli jasanya bocah itu untuk membersihkan masalah muntahan minyak mentah kita, sekarang dirinya muncul dengan energi terbarukan yang aah sudahlah, kalian sudah pada paham semua bukan!?”
“..sebaiknya kita mengundang kembali anak itu, mungkin anak itu memiliki solusi, jangan sampai harga minyak jatuh kejurang terdalam, hingga kita harus membakar semua kilang milik kita agar dibayar asuransi!”
Pertemuan antara pengusaha, pemilik dan operator perminyakan lepas pantai itu terlihat begitu serius menanggapi keberhasilan Zen didunia energi dengan teknologi reaksi Fusinya.
***
Sementara disebuah bangunan ditengah-tengah pertambangan baru bara berskala sangat besar, bahkan kebutuhan dunia diatur didalam lapangan pertambangan tersebut.
“..gila.. ini gila!! Saham batu bara dan minyak bumi semuanya melemah bersamaan!”
“..semua gegara penemuan teknologi dari Z Energi!”
“..benar itu, lantas bagaimana kita mesti menyikapinya?! Bahkan bank dunia langsung merapatkan barisannya untuk memproteksi teknologi yang dimiliki Z Energi!”
“..aku sudah mendengar berita terkait banyaknya kepala negara yang langsung mengajukan kontrak ekslusif penggantian PLTU mereka menjadi pembangkitan Hydrogen seperti yang diiklankan Z energi!”
“..tenang..kita harus tenaang, kita akan undang bocah itu, harus ada solusi, sementara kita sudah mengeluarkan dana trilyunan dollar untuk investasi didunia pertambangan, engga lucu jika kita harus gulung tikar!”
“..benar! segera kita minta meetingkan!”
“..setuju!!!” ratusan orang yang tergabung dalam asosiasi pertambangan batubara baik negara konoha maupun internasional, langsung membuat sikap, untuk duduk bersama mencari solusi terkait penemuan sumber energi baru yang lebih hijau dan lebih zero emisi.
***
Kehebohan dunia terus berlanjut, Z grup sahamnya melonjak drastis, bahkan karena kelangkaan saham di pasar saham internasional, saham – saham milik Z grup banyak diburu dengan harga negosiasi yang gila-gilaan.
Zen tersenyum puas melihat angka-angka dilayar monitornya yang terus bergerak dan bertambah angka nol dibelakangnya.
Gebi sebagai sekretaris Zen dibuat kalang kabut mengatur jadwal penandatanganan proyek strategis milik semua negara didunia dalam hal pemenuhan pembangkitan energi Hydrogen.
“..tuan muda bagaimana ini?!”
“..apa lagi Geb?” tanya Zen pada sekretarisnya yang terlihat kebingungan, sementara Zen masih enak-enakan dipijitin empat wanitanya yang terlihat tidak ingin jauh darinya.
“..iisshhh... semua negara mengajukan kontrak kerjasama pembangunan pembangkit listrik energi Hydrogen, tuan iisssshhh!”
“..kan sudah pernah aku bilang, pada nantinya semua akan datang memintamu untuk bekerjasama, ya sudah, tinggal kamu setujui saja, bukankah kekuatan kita sudah sangat sanggup untuk menanganinya?!” tanya Zen.
Z grup memiliki perusahaan konstruksi dan produksi yang sanggup untuk menyediakan segala kebutuhan pembangunan pembangkit listrik tenaga Hydrogen, tentunya pabrikannya tidak kasat mata, dan hanya Zen yang paham lokasinya.
“..tapi tuan, saya tidak pernah melihat bisnis tuan dibidang produksi seperti yang tuan muda informasikan!”
“..sudahlah, nanti akan aku ajak kamu berkunjung, sekarang kamu handle dulu sana, kasihan semua orang telah menunggu!” ujar Zen melambaikan tangannya terbalik agar Gebi bisa segera meninggalkan ruangannya.
“..kasihan Gebi!” ujar Clara yang melihat Gebi pontang panting kesana kemari.
“..kalian dulu juga begitu saat pertama kali, apa kalian engga ingat, sampai-sampai aku harus pergi menjauhi kalian semua biar tidak mengganggu kerjasama kalian bertiga!” ujar Zen sambil menutup matanya menikmati sentuhan pijatan keempat wanitanya.
Tidak ada yang memprotes omongan Zen, karena memang benar kenyataannya mereka bertiga sampai mengabaikan suami mereka berminggu-minggu ketika produk kecantikan mereka mulai dikenal dunia dan mendominasi.
__ADS_1