
“..toloong tuan..hentikan siksaan ini!”
“..bb-benaar tuan, tolong hentikan siksaan petir ini!”
“..tuan saya sudah tidak sanggup, tolong tuan cabut kembali siksaan ini!”
Ketiga makhluk astral itu terlihat menyedihkan suaranya.
Sementara Zen sendiri terlihat masih menikmati makan malamnya, sambil mendengarkan lagu dari headset bluetoothnya, alhasil teriakan dan rintihan minta ampun dari ketiganya, tidak terdengar oleh Zen.
{glukkkk}...{glukkkk}...{glukkkk}...
“..aaahh”
“..nikmatnya!!”
Zen selesai dengan aktivitas makan malamnya, setelah meneguk air mineral yang selalu disiapkannya didalam kendi tanah liat.
{tap}..
Zen melepas headset dan meletakkannya dimeja, setelah itu, dirinya mulai merapikan bungkus nasi serta sate yang telah berpindah semua kedalam perutnya.
“...tuaan..tolooong kami !!”
“..tuan bebaskan Kami...!!”
“..tuan ampuni kami!!”
Zen yang terlihat kekenyangan menoleh kearah ketiganya, ingin tertawa ketika melihat ketiganya sudah acakadul bentuknya. Gosong yang jelas!!.
“..kalo aku melepaskan kalian, apa yang menjadi imbalan kalian!!”
Zen mulai melunak dengan membuat kesepakatan, sambil menghentikan hukuman petir untuk menyiksa mereka.
“..tuan, saya siap mengabdi pada tuan!”
“..tuan, saya akan memberikan mahkota penguasa gunung blimbing pada tuan!”
“..tuan, saya juga siap mengabdi pada tuan!”
Zen terlihat berpikir keras, terkait imbalan mereka.
“..bagaimana caranya agar kalian tidak berkhianat kepadaku?!”
Tanya Zen mengetes mereka, padahal Zen sudah tahu, tingkatan pengabdian makhluk astral itu berbeda dengan tingkatan kepercayaan manusia yang gampang berkhianat.
“..tuan, ini adalah kalung energi! Kalung ini jika tuan meneteskan darah tuan, maka selamanya kami akan mengabdi kepada tuan!”
“..jika sampai kami berkhianat, atau berniat mencelakai tuan, maka kalung ini akan langsung memutus leher kami selamanya!”
Terlihat sosok genderuwo memberikan penjelasan.
Zen manggut-manggut saja mendengar penjelasan yang diberikan.
“..baiklah, mendekatlah!” ucap Zen.
Tidak pakai lama, Zen langsung meneteskan darah dari ujung jemarinya yang sudah dilukai, diarahkan secara bergantian kearah tiga kalung energi yang melekat dileher mereka bertiga.
“..pelayan yang rendah ini siap mengabdi, tuan!!” ketiganya langsung bersimpuh didepan Zen.
“..sudahlah, kalian bangun!”
“..kalian boleh menempati bagian belakang halaman rumah ini!”
“..ingat jangan ada tukang intip ketika aku mandi!!”
Kunti yang merasa bersalah telah melakukan adegan pengintipan kamar mandi, langsung terlihat malu.
“..baik tuan, perintah tuan akan kami laksanakan!”
“..ya sudah, sana, aku ingin istirahat sudah malam ini, kalo bagi kalian jam segini kan masih sore saja!”
“..hehehe..tuan bisa saja!”
Genderuwo langsung pergi melesat kearah puncak gunung blimbing, untuk mengabarkan keberadaan tuan barunya.
Genderuwo ini tadinya hanya ingin main ketempat kunti buat SSI, sambil remes-remes dikit, tapi kenyataannya malah jadi budaknya Zen.
Sementara kunti yang sudah diingatkan untuk tidak lagi mengintip Zen waktu mandi, langsung mencari sarang baru lagi buat ditinggali, tapi masih disekitar halaman rumah Zen.
Sedangkan si Tuyul purba, terlihat mulai berjalan mengelilingi halaman rumah, karena dirinya mendapat giliran jaga duluan.
“...ihhh...”
“..kenapa buluku berdiri yaa!!”
Terdengar suara orang melintas didepan pagar rumah Zen.
“..iyaa, aku merasa disekitar sini ada yang aneh-aneh dah!”
{hihihihihi}
Tiba-tiba terdengar suara tertawa cekikikan ala kunti menggema.
“..lariiiiii!!!”
Warga yang melintas depan rumah Zen langsung lari terbirit-birit, tanpa menoleh kearah belakang.
Mungkin akan terjadi kegemparan keesokan harinya karena cerita mereka bertiga.
***
Sementara itu dirumah Ziva.
“..ziva, tadi ibuk dijambret !!”
“..eh! iyaakah bu!!”
“..siapa? siapa yang jambret kamu bu?!” suaminya langsung berdiri dari duduknya kemudian berjalan mendekat kearah ibu dan anak yang sedang nonton drakor ditelevisi ruangan tengah.
“..ah , si ayah ngagetin saja!”
“..jadi siapa pelaku jambretnya!”
__ADS_1
“..terus apa ada yang terluka?! Ada yang hilang?!” tanya suaminya dengan rentetan pertanyaan.
Akhirnya bu ike nurjanah, istri dari kolonel agus, menceritakan kejadian yang dialaminya siang tadi dipasar besar kabupaten dari awal hingga akhir.
“..jadi, apa kamu kenal pemuda yang ibu maksud Ziva?!” tanyanya setelah mengakhiri ceritanya.
Kolonel agus sendiri terlihat menggut-manggut mendengarkan cerita dari istrinya.
“..entah!” jawab Ziva singkat, namun raut wajahnya terlihat bahagia.
Dalam hati Ziva semakin meleleh karena aksi Zen membantu ibunya dari masalah jambret.
“..bu, Ziva mau kekamar dulu, besok pagi Ziva mau nyiapin bekal sebelum kesekolah!”
Ziva langsung ngacir kearah kamarnya untuk meluapkan kekagumannya pada Zen, sambil melihat wajah sang pujaan hatinya yang sudah lama disimpan dihape miliknya, dulu secara diam-diam, Ziva mengambil gambar Zen yang sedang membaca buku tebal tentang dunia kesehatan di perpustakaan.
“..mccuuuaaaah”
Ziva terlihat seperti orang gila menciumi wajah Zen yang ada didalam galeri khusus miliknya.
Aksi itu dilakukan hingga dirinya terlelap dalam mimpi indahnya malam itu.
***
{kukuruyuuukkkkkk}
Pagi mulai menjelang, semalaman Zen berkultivasi didalam dimensi jiwa miliknya.
Saat ini Zen sudah berada ditingkatan lanjut.
Kekuatannya setara dengan 1000 gajah afrika jika melakukan lomba tarik tambang.
“..segarnyaaa!!”
Zen yang menyadari jikalau tubuhnya akan selalu segar jika selesai melakukan kultivasi merasa girang.
Tubuh Zen menjadi semakin atletis dan kekuatannya terasa meningkat pesat.
Segera Zen menuju bilik kamar mandi dibagian belakang rumah untuk beraktivitas bersih bersih.
Jam dinding didalam kamarnya menunjukkan pukul 05:20 pagi.
Setelah sibuk dengan urusan pagi hari, Zen menitipkan rumah pada kunti dan beberapa makhluk astral yang terlihat mulai menjaga halaman rumahnya.
“..mungkin si genderuwo yang ngirim!” batin Zen, ketika melihat jumlah makhluk astral yang menjaga kediaman kakeknya semakin bertambah banyak.
Sambil memasang headset bluetooth dikedua telinganya, Zen mulai berjalan kaki menuju kesekolahnya yang berjarak 3 kilometer saja.
Beberapa cewek muda belia yang melihat Zen sedang berjalan dengan tas ransel ditaruh disebelah, kemudian dirinya memasang ekspresi yang dingindi sepanjang jalan, makin terlihat meleleh hatinya.
{bruakkk}
Tabrakan sepeda motor!
“..woi kalo bawa motor lihat jalan doong!”
“..maaf pak, saya buru-buru!” ujar cewek yang dari tadi terpaku dengan wajah Zen yang sedang jalan kaki.
“..dasar cewek jaman sekarang, kalo lihat cowok oppa korea saja, langsung meleleh engga karuan!”
Gerutu pemuda yang terlihat tidak suka dengan keberadaan Zen yang selalu dilihatin oleh cewek cewek seumurannya disepanjang jalan menuju kearah sekolah.
{sreettt}
Zen yang sudah berada didalam kelas langsung menarik bangku tempat duduknya.
“..pagi Zen!”
“..eh Ziva! Pagi bener!”
“..apaan itu?!” tanya Zen menyapa Ziva yang membawa kotak berwarna hitam keemasan.
“..aku tadi pagi masak bekel kebanyakan, ini buat kamu!”
“..mubazir kan kalo sampe terbuang! Jadi, tolong bantu habiskan ya Zen!”
“..waah, kebetulan, aku juga belum sarapan ini Ziva!” jawab Zen dengan cengengesan.
Setelah itu Zen dan Ziva terlihat akrab dengan makan bekal bersama-sama didalam kelas.
Banyak yang iri, apalagi kawan-kawan wanita sekelasnya yang mulai terlihat menyukai sosok Zen yang baru.
Tapi, karena adanya Ziva didekat Zen, mereka semua mundur alon-alon.
“..eh yud, elu kagak gerah itu, si gembel makin deket sama primadona sekolah!”
“..ga bahaya ta yud?!”
“..iya itu yud! Masak elu kalah sama si gembel!”
“..sikaat yud !!”
Yudi yang terlihat mulai kepanasan hatinya, mulai meneguhkan niatnya untuk menciderai Zen saat jam istirahat nanti.
“..tunggu saja elu gembel, istirahat nanti hari terakhir elu menghirup udara!” gumam yudi tapi bisa didengar kawan-kawannya.
Zen yang bisa merasakan adanya bahaya yang sedang mengancam dirinya dari gerombolan Yudi berusaha bersikap tenang tanpa terprovokasi.
“..kalian salah memilih lawan kali ini!” gumam Zen pelan.
{klonteng}...{klonteng}...{klonteng}
Jam istirahat pun mulai berbunyi.
“..eh Zen mau ke perpustakaan engaa?!” Ziva langsung menemui Zen yang terlihat masih duduk dibangkunya.
“..yuklah! aku juga mau cari beberapa referensi buat bisnisku!” ujar Zen mengiyakan ajakan Ziva.
Ziva senang sekali ketika ajakannya disetujui oleh Zen.
Mereka berdua mulai berjalan keluar dari kelas menuju perpustakaan yang terletak dibagian ujung blok.
“..ziva kamu nanti jalan dulu ya! Keliatannya ada gerombolan pengacau! Aku mau membereskan dulu!”
__ADS_1
“..engga! aku ga mau pergi duluan!” Ziva terlihat menghentak-hentakkan kakinya ketanah.
“..aiiisssh..kenapa juga ini cewek coba!” batin Zen
“..ya sudah, kamu agak minggiran ya, mereka keliatannya mereka tidak berniat baik ini!!” ujar Zen yang mencoba meminta ruang lebih ke Ziva.
“..engga!!’ Ziva bukannya minggir malah makin berani dengan merangkul lengan Zen, menunjukkan kemesraannya.
Ada empuk dan kenyal sedang menempel dan menekan nekan dibagian lengan sebelah kanan Zen.
“..eh!!” Zen yang tidak menyangka dengan sikap Ziva langsung kaget dibuatnya.
“..woi gembel!!”
“..beraninya elu merebut pacarnya bos kami!!”
“..yap benar!!”
“..udah sikaat yud!!”
Kawan-kawan yudi terlihat mulai memanas-manasin yudi untuk segera bertindak.
{siuuttt}
Yudi langsung mengarahkan pukulannya kearah wajah Zen.
{tapp}
Dengan gerakan santai Zen menangkap pukulan Yudi dengan menggunakan tangan sebelah kiri.
{kraaakkkk}
Genggaman Zen terlihat mulai mengeras!
“..aaakhhhhh”
Yudi merasakan jika kepalan tangannya remuk!
Melihat pimpinan mereka mengerang kesakitan, anak buahnya ketakutan.
“..kk-kamu!! Bb-bagaimana bisa!!”
Ziva terlihat terkejut dengan kekuatan Zen, meski dirinya sudah mendengar keahlian beladiri Zen dari ibunya semalam, tapi sekarang didepan matanya Zen terlihat lebih perkasa!.
“..sekarang bisa minggir dulu engga Ziva!’ tanya Zen kembali.
“..bb-baik!!”
Ziva segera memberi ruang lebih bagi Zen untuk menyelesaikan persoalan antara laki-laki.
{kriaaakkk}
Zen memlintir tangan yudi kearah belakang.
“..wadoooowwww!!!”
Yudi semakin mengerang kesakitan.
“..woi bangsssaat!! Bantuin gue napa?!” teriak yudi diantara kesakitannya.
{dashhh...dessshhh...}
{brakkk..brugghhh}
{dashhh...dessshhh...}
{brakkk..brugghhh}
Zen meladeni serangan demi serangan yang diarahkan kepadanya secara seporadis dengan cara keroyokan.
Namun pemandangan terbalik terlihat.
Gerombolan yudi semuanya terkapar karena tendangan kaki Zen.
Semuanya memegang dada mereka masing-masing, karena Zen langsung menyerang titik terlemah tubuh mereka dengan mempergunakan tendangan kakinya.
Zen yang hanya menggunakan kaki bukan tanpa alasan, karena tangannya masih memegang lengan yudi yang sedang diplintir dengan keras.
Bisa dipastikan Yudi harus melakukan rawat inap dirumah sakit dalam jangka waktu yang sangat lama.
“..berhentiii!!!”
Keramaian yang terjadi mengundang kepala sekolah untuk melihatnya.
“..Zen! apa yang sedang kamu lakukan?!”
“..kalian semua keruang BK sekarang!!” kepala sekolah langsung memarahi mereka yang terlibat.
Diruangan BK terlihat kepala sekolah sedang memarahi semua yang terlibat, tanpa terkecuali.
Keputusan kepala sekolah adalah memberikan skorsing kepada semuanya. Meski ada protes dari pihak Ziva yang menjadi saksi yang meringankan Zen.
“..lihat saja, saya akan laporkan ini ke ayah saya bu kelapa sekolah!” protes Ziva.
Kepala sekolah yang mendengar ancama Ziva terlihat goyang!.
“..eh..!”
Kepala sekolah mulai melunak akibat ancaman Ziva.
Langkah kepala sekolah selanjutnya adalah dengan mengurangi hukuman skorsing Zen, dari satu bulan menjadi cuman 3 hari saja.
Tentunya kepala sekolah tidak ingin masalah yang memang berat kepada gerombolan yudi dan kawan-kawannya akan terekspos dan membuat dirinya dipindahkan.
Meski Ziva masih keberatan, tapi karena Zen yang meminta untuk disudahi, Ziva hanya bisa menghela nafas saja dan berjanji tidak akan melaporkan hal ini kepada ayahnya.
Zen langsung mengambil tas ranselnya dan mulai meninggalkan kelas.
Minggu depan Zen baru bisa masuk kembali, karena skorsing berlaku mulai hari ini.
Yudi dan kawan-kawannya terlihat masih kesakitan menahan dada mereka yang terlihat sesak untuk bernafas.
Suara riuh ambulance terdengar keluar masuk halaman sekolah untuk mengangkut siswa IPS yang terlibat perkelahian dengan Zen.
__ADS_1
Zen yang sudah berjalan arah pulang tidak memperdulikannya.