PEMULUNG SUKSES

PEMULUNG SUKSES
Mendapatkan panen


__ADS_3

Selama tiga hari berada dirumah, Zen selalu menghabiskan waktunya untuk mempersiapkan model bisnis rongsokan yang telah dimimpikannya.


Kehidupan didesa juga semakin ramai terkait pembicaraan mengenai tiga pemuda yang mendapati kunti tertawa ketika melewati rumah Zen.


Tanpa Zen sadari dirinya sudah menjadi buah bibir diseluruh desa.


“..anak itu apa tidak takut ya tinggal sendirian, mana serem banged lho kalo malam hari!”


“..ihhh, jika mengingat kapan hari itu, rasanya merinding lagi!”


Pembicaraan warung kopi itu tidak ada habisnya, masih saja membahas kunti tertawa renyah saat mereka berjalan didepan gubug reot milik kakek Zen.


“..ah, kalian bertiga saja yang penakut! Mana ada kunti jam 10 malam coba!” ujar salah satu senior didesa yang terlihat ikutan nimbrung sambil menyeduh kopi hitam tanpa gula kesukaannya.


Melihat sosok tua yang memakai blangkon penutup kepala, lengkap dengan baju warna hitam serta bawahan juga hitam, kemudian kumis tebal menggelantung bersuara.


“..eh ada senior Waja!”


“..ada angin apa ini senior keluar dari padepokannya?!”


Sosok yang dipanggil senior itu bukan tanpa alasan, selain umurnya yang sudah kepala 7, sendirinya adalah pemilik padepokan beladiri lereng gunung belimbing yang tersohor.


“..biasalah jang, ada kebutuhan dikota, mau naik keatas sudah kesorean, jadi mampir ngaso disini!” jawab senior yang menikmati sore dengan seruputan kopi hitamnya.


Sudah pada paham, senior desa yang bernama panggilan ki Waja ini memang memiliki satu buah rumah yang terletak diujung desa, jika rumah Zen ada disebelah ujung barat, maka rumah ki Waja ada disebelah ujung selatan desa.


“..ia ki, kita bertiga beberapa hari yang lalu mendapati kunti tertawa cekikikan lho disekitar halaman rumah si Zen, itu rumah gubug milik almarhum Wardi pasti ki Waja taukan?!”


“..euhmmm!”


“..terus mau kalian bagaimana?!”


“..namanya mahkluk begitu kan alamnya sendiri-sendiri, mungkin kalian saja yang iseng, jadi si kuntinya langsung menakuti kalian bertiga!” jawab ki Waja dengan santai sambil memasukkan tahu petis panas kedalam mulutnya.


Pembicaraan absurb sore hari setelah bedug magrib itu terhenti ketika masjid telah mengumandangkan tanda ibadah sholat isya’ telah dimulai.


Sejak kejadian yang dikembangkan ceritanya oleh ketiga pemuda desa, setelah jam 8 malam, desa terlihat sepi layaknya tanpa ada penghuninya.


***


Hari ini adalah hari ketujuh atau seminggu semenjak Zen melakukan aksi pembelian all in di platform perdagangan Cripto.


Jam dinding menunjukkan pukul 8 pagi.


Setelah memulai hari dengan membuat beberapa sekat ruangan dihalaman belakang, sekat ruangan yang akan dipergunakan Zen nantinya untuk mengelompokkan tipe tipe limbah plastik sesuai kelasnya, terlihat sudah berdiri dengan kokoh, meskipun sekatnya hanya berupa dinding triplek bekas dengan tiang menggunakan potongan bambu.


Total ada 8 sekat ruangan dengan masing-masing ukuran 10x10m2.


8 sekat ruangan itu antara lain :


Satu sekat untuk menerima dan menimbang barang,


kemudian sekat untuk menumpuk barang setelah ditimbang,


kemudian sekat untuk mengelompokkan jenis limbah plastiknya, mulai dari limbah plastik jenis kode 1 dengan 2 sekat,


kemudian limbah plastik jenis kode 2 juga ada 2 sekat,


kemudian sekat terakhir adalah sekat untuk menempatkan mesin press kapasitas 20Hp dengan ukuran 100x90x60cm3 sebanyak 1 unit.


Bisnis rongsokan limbah plastik Zen, nantinya akan menjadi satu-satunya pengepul yang memiliki mesin press dengan kapasitas besar.


Hasil pres-presannya nanti akan langsung dikirimkan menuju pabrik recycle yang ada diperbatasan kota kabupaten dengan kota besar.


Zen sudah mematangkan rencana kerjanya, meskipun sampai saat ini dirinya belum mendapatkan tenaga kerja sama sekali.


“..tenang saja, saat ini semua berjalan, pasti akan ada yang melamar kerja! Aku yakin itu!”


Ujar Zen bergumam dengan dirinya sendiri ketika melihat rencana kerjanya yang sudah berjalan satu langkah yaitu mematangkan persiapan.


Dihalaman depan gubugnya, Zen mulai melihat hape yang sejak tadi malam tidak disentuh sama sekali.


“..apa ini?!”

__ADS_1


Zen melihat banyak sekali missed call dan pesan wea dari Ziva.


{tuuuttt}


Panggilan keluar lewat wea itu mulai tersambung.


“..halo Ziva! Ada apa ya?!” tanya Zen ketika sambungan jarak jauhnya telah tersambung.


Ziva langsung membombardir Zen dengan beribu pertanyaannya.


Lebih pada khawatir sebenarnya!


Setelah menjadi pendengar budiman, Zen dan Ziva menyudahi sambungan jarak jauh itu karena hape milik Zen sudah terlalu panas.


Ziva yang diseberang sana terlihat ogah untuk udahan hanya bisa mengiyakan saja permintaan Zen.


“..hiuuuuffff”


“..wanita memang menyebalkan!” gumam Zen setelah menutup sambungan teleponnya.


{cliinggg}


Zen yang setelah memutus jalur teleponnya, segera melakukan WD atas perdagangan Criptonya.


Total dirinya mendapatkan 572jt lebih dari hasil perdagangan tersebut.


Cripto yang tadinya hanya bernilai 1 rupiah per lotnya sekarang sudah bernilai ratusan ribu rupiah jika dikonversikan.


Jumlah itu langsung masuk kedalam rekening digital milik Zen secara langsung.


Rencananya Zen akan melakukan perdagangan saham besok senin pagi, dengan melakukan plotting sebanyak 200jt secara all in kesebuah saham yang saat ini sedang berada diposisi terendahnya untuk beli.


Dua ratus juta akan dipergunakan Zen untuk membeli mesin press sesuai dengan rencana kerjanya, kemudian timbangan digital dengan kapasitas 10 tons yang kesemuanya sudah Zen hunting melalui grup tukang rongsok.


Untuk modal dasarnya sendiri Zen akan menyiapkan 100jt, guna membeli barang rongsokan hasil pemulung serta pengepul yang ada disekitar kabupatennya.


Hari ini Zen terlihat sangat sibuk dengan persiapan bisnisnya, mulai dari menghubungi pihak-pihak yang berkaitan dengan bisnisnya, hingga menunggu kedatangan mesin press yang telah dibeli dengan konsep COD.


“..listrik sudah naik 33.000 watt!”


“..beberapa supplier besar juga sudah berdatangan barang-barangnya!”


“..timbangan juga sudah terpasang dan siap kerja!”


“..material pendukung seperti tali plastik, pisau listrik, juga sudah!”


Sore hari itu sambil menikmati hangatnya jahe madu bikinannya, Zen mulai melakukan check list terkait persiapan kerjanya!


“...ah, kenapa aku jadi bodoh yaa!”


“..dengan kemampuan paranormalku, aku bisa membuat para makhluk astral menjadi bawahan kerjaku dibisnis ini!”


“..Mana mereka cuman butuh apel energi kan untuk makannya, sehari satu buah!”


Zen mulai teringat ide gila untuk menjadikan makhluk astral menjadi sosok manusia, tentunya dirinya akan membutuhkan boneka karet layaknya boneka pelampiasan nafsu buatan negeri tirai bambu sebagai inangnya.


Tangan Zen terlihat menekan ruas jarinya seolah sedang berhitung.


“..jika tidak salah malam jumuah ini adalah waktu yang tepat!”


Zen segera membuat cek list kebutuhan boneka karet laki-laki dan perempuan yang dibutuhkannya, kemudian jarinya mulai melakukan aktivitas ketik mengetik mencari supplier dinegara ini yang memiliki produk boneka karet dewasa.


Selain boneka karet Zen juga membutuhkan puluhan ayam cemani jantan, darah mereka akan dipergunakan untuk menyuplai kebutuhan jantung si boneka karet agar bisa hidup layaknya manusia pada umumnya.


Malam itu Zen terlihat sibuk sekali membuat cek list persiapan untuk menghidupkan boneka karet dengan bantuan roh makhluk astral penghuni pegunungan blimbing.


Zen memanggil kunti dan kedua bawahan lainnya.


Ketiganya setuju dengan rencana Zen, termasuk kunti, dirinya akan masuk kedalam salah satu boneka karet perempuan nantinya.


Ada sekitar 10 boneka karet yang akan dihidupkan layaknya manusia pada umumnya. 2 cewek dan 8 laki-laki.


Genderuwo tidak ambil bagian karena Zen hanya membutuhkan makhluk astral dengan perut lempeng bukan seperti dirinya yang melebar kemana-mana.

__ADS_1


Tuyul purba juga tidak ikutan, karena Zen hanya membutuhkan sosok makhluk astral dengan tinggi badan yang normal, sehingga tidak kesusahan jika menghuni fisik manusia karet nantinya.


Setelah mempersiapkan semuanya, pembagian tugas untuk mengumpulkan roh gentayangan yang sesuai kriteria diserahkan pada genderuwo, semuanya lalu berpisah, karena Zen akan beristirahat.


{kukuruyuuuuukkkk}


Keesokan paginya Zen yang terbangun dari posisi kultivasinya segera bersiap untuk melakukan aktivitasnya.


Jam menunjukkan pukul 05:45, Zen sudah meninggalkan rumahnya, dengan tujuan kota besar disebelah.


Berdasarkan chattingan dia semalam, Zen akan menemui supplier yang menjual boneka karet sesuai dengan spek yang diinginkan.


Boneka karet ini adalah boneka bekas yang memang tadinya dipakai untuk pameran seni.


Pastinya harga yang didapatkan Zen sangatlah murah.


“..woi Zen, buru-buru amat mau kemana itu?!” tanya salah satu warga yang melihat Zen berjalan cepat sekali menuju gerbang desa untuk menunggu angkot.


“..mau kekota sebelah pak udin! Ada yang mau dibeli!” jawab Zen dengan berhenti sebentar.


Setelah bertukar beberapa puluh kalimat, Zen langsung pamit undur diri karena takut kesiangan, keburu macet jalanan dikotanya.


Zen adalah pribadi yang sangat disiplin, apalagi terkait janji dengan orang lain, sebisa mungkin dirinya harus datang duluan minimal 30 menit sebelum jam yang ditentukan.


Perjalanan ketujuan ditempuh Zen dalam jangka waktu dua jam lebih lima belas menit.


{krieeett}


Pintu restoran terbuka dari arah luar.


“..Pak Budi?!” sapa Zen ketika terlihat sosok paruh baya memasuki ruangan sebuah restoran cepat saji dikota sebelah.


Mereka berdua langsung berdiskusi lebih lanjut terkait rencana pembelian boneka karet sebanyak 10 buah dengan gender 2 perempuan sisanya laki-laki.


“..mari Zen, kita lihat barangnya dulu di gudang saya! Tidak jauh dari sini!” ajak pak budi.


“..baik bapak, silahkan, saya ikut dari belakang saja!”


Keduanya terlihat berjalan kaki karena memang lokasi gudang yang dimaksud tidak jauh dari lokasi restoran cepat saji tempat mereka berdiskusi.


Sepuluh menit berselang keduanya sudah sampai dilokasi gudang yang dimaksudkan.


{kriiieeettt}


Pintu gudang terbuka dan langsung terlihat 10 boneka karet dengan wajah tampan dan cantik berjejer.


Zen yang melihat pesanannya sudah sesuai dengan harapannya langsung menyetujui harga dan langsung mentransfer dana yang telah disepakati.


Dana yang tersisa masih seratus dua puluh juta, dana itu langsung Zen depositkan kedalam akun RDN sekuritasnya.


“..maaf ini nak Zen, bapak mau pamit dulu ya, lima belas menit bapak kembali, ini rencananya anak Zen mau membawa boneka karet ini menggunakan apa ?!”


“..ooh, baik pak Budi, saya tunggu disini saja, silahkan ditutup gudangnya, saya pakai jasa angkutan online, tenang saja!” jawab Zen dengan sopan.


Padahal dirinya memang berharap pak budi pergi, sehingga semua boneka bisa dimasukkan didalam ruang dimensinya.


Setelah melihat situasi aman, Zen segera mengibaskan tangannya, seketika 10 boneka karet yang tadinya bersender langsung lenyap begitu saja.


Tidak ingin berlama-lama, Zen segera berjalan menjauh dari lokasi sambil mengirimkan pesan chat pada pak Budi, yang menginformasikan jika dirinya telah pergi dari lokasi.


Didalam bus kota yang akan mengantarkan Zen keperbatasan kota dengan kabupaten, Zen mulai menjalankan aksinya untuk membeli saham yang telah ditargetkannya.


{tinggg}


Transaksi 120jt untuk pembelian saham yang Zen inginkan sudah terlaksana.


Sebelum pulang ke rumah, Zen ingin mampir kepasar besar, Zen hendak memesan lima puluh ayam cemani sebagai pelengkap ritualnya nanti.


Pedagang ayam cemani yang mendengar pesanan Zen hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Karena jumlah 50 ekor ayam cemani itu sama halnya menguras kandang ayamnya.


Setelah berdiskusi terkait harga dengan penjual ayam Cemani, Zen langsung diajak naik motor menuju lokasi peternakan ayam cemani milik sang pedagang.


Zen beralasan jikalau dirinya disuruh pengurus partai dikabupaten untuk mengadakan 50 ekor ayam cemani.

__ADS_1


Alasan yang masuk akal karena menjelang pemilu daerah banyak yang membutuhkan ayam cemani katanya.


__ADS_2