PEMULUNG SUKSES

PEMULUNG SUKSES
Zen Mulai berbisnis


__ADS_3

Setelah melewati jam belajar mengajar disekolahnya, Zen melangkahkan kakinya menuju sebuah konter hape yang ada di kota.


Dengan jarak 12 kilometer, Zen memilih angkot pedesaan sebagai sarana transportasinya.


“..kiri bang!” ujar Zen menghentikan angkot yang dinaikinya sejak keluar pintu sekolahnya.


Setelah membayar ongkos yang ditarifkan khusus untuk pelajar, Zen segera mencari konter penjualan Hape.


“..jambreeet!!!”


Tiba-tiba terdengar teriakan ibu-ibu dengan berpakaian dinas berwarna pink terang dari arah depannya.


Sementara itu ada dua orang berboncengan naik motor, terlihat ugal-ugalan menuju kearahnya.


Zen berdiri ditengah jalan dan tidak bergeming untuk minggir.


“..woi minggir elu bego!!”


“..minggir woi!!”


“..yaah mau mati itu anak muda!”


Berbagai komentar jalanan terdengar mengomeli Zen yang berdiri ditengah jalan, guna menghadang dua orang jambret yang sedang menuju kearahnya.


{ngeeeengggg!!}


Motor jambret bukannya dipelankan, malah digass kencang!


{jbreeeettt}


Zen melancarkan tendangan berbalik yang langsung mengenai dada pengemudi motor yang ugal-ugalan.


{bruaaakkkk}


Motor penjambret itu langsung jatuh terseret dan akhirnya menabrak pinggiran jalan dengan keadaan masih menyala.


“...aduuuh!!”


Kedua orang jambret itu langsung jatuh dari motornya dengan posisi pantat mereka menghantam aspal jalanan.


“..woi anak setan!! Berani elu sama gue!!” kata salah seorang penjambret yang sudah mengeluarkan senjata tajam jenis lipat.


“..tusuk saja itu bocah! Sudah mengganggu kita saja!” satu lagi berkomentar sambil menepuk – nepuk pantatnya yang terlihat kesakitan sambil berusaha untuk berdiri.


Zen masih dengan ekspresi dinginnya menanggapi omongan dua orang penjambret didepannya.


“..pak tolong, dua orang itu menjambret tas saya!” ujar seorang ibu muda berumuran 30 tahun lebih sedikit berbicara dengan warga yang mulai berkerumun.


“..maaf bu, saya engga berani!”


“..iya bu, mereka pakai senjata tajam tuuh lihat!!”


Beberapa warga yang melihat, tidak berani untuk menolong sang ibu yang menjadi korban penjambretan.


“..kasihan dong pak anak muda itu!”


“..iya ini bapak-bapak, masak kalah sama yang lebih muda!”


“..yang lebih muda saja berani melawan dua orang jambret, semoga saja anak muda itu tidak kenapa-kenapa!”


Golongan ibu-ibu yang melihat warga terutama yang laki-laki hanya berdiri melihat segera berbicara lantang.


{sreeettt!!}


Senjata tajam itu hanya lewat saja disamping Zen, namun naas, baju seragam barunya terkena sodetan senjata tajam.


Zen terlihat langsung emosi ketika melihat seragam yang baru dibeli tadi pagi, sobek terkena sodetan senjata tajam dari penjambret didepannya.


{tap}


Zen menangkap sabetan senjata tajam yang diarahkan ketubuhnya,


{brughhh}


tidak ingin berlama-lama Zen langsung menyerang dada si penjambret dengan pukulan dari arah bawah.


“..aaahhkkk”


Teriakan kesakitan dirasakan oleh si penjambret.


Dadanya seperti patah tulang rusuknya! Setelah itu penjambret langsung terkapar tidak sadarkan diri karena menahan sakit yang luar biasa.


“..sini maju kamu!” ujar Zen yang memprovokasi penjambret satu lagi dengan tangannya melambai lambai.


“..anak setan!! Hyaaatttt!!!”


Penjambret satu lagi maju dengan mengarahkan senjata tajamnya kearah Zen.


{slappp}


Sabetan senjata tajam menargetkan Zen!


Zen terlihat begitu lincah berkelit kesana kemari, menghindari sabetan senjata tajam yang diarahkan langsung kearah badannya.


{bukkk}


Hingga saat yang tepat, Zen melancarkan kepalan tinju yang diarahkan keperut si penjambret.


“...uugghhh!!”


Penjambret itu langsung terangkat keatas,


“..huekkk!!”


organ dalamnya langsung rusak, dari mulutnya langsung mengeluarkan segumpal darah.

__ADS_1


{brukkk}


Penjambret itu langsung tertunduk kesakitan memegangi perutnya, sementara mulutnya masih mengeluarkan darah segar.


Dua orang penjambret itu tidak ada lagi yang berdiri.


“..kita hajar mereka!!!”


“..benar kita bakar saja sekalian!!!”


“..sampah masyarakat harus dimusnahkan!!”


Nada-nada provokasi mulai terdengar dari arah warga yang berkerumun ketika Zen sudah mengalahkan kedua orang penjambret.


“..bapak-bapak harap tenang!”


“..tolong jangan main hakim sendiri!”


Zen langsung mengeluarkan kalimatnya dengan suara yang terdengar keras.


“..lah, adik saja main hakim sendiri tadi! Kenapa kita tidak boleh!”


“..eh!!”


Zen langsung bingung untuk sementara waktu blank pikirannya.


“..yang dilakukan adik ini bukan main hakim sendiri!” ibu korban penjambretan langsung muncul ditengah kerumunan.


“..kalau adik ini tidak membela dirinya, yang ada adik ini sudah ditusuk sama dua orang penjambret itu!”


Kerumunan warga langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan kalimat yang dilontarkan oleh ibu korban penjambretan.


“..ini tas ibu! Tolong dilihat dan diperiksa!” ucap Zen sambil menyerahkan tas wanita dengan tali slempangan yang sudah terputus.


“..terima kasih ya nak, kamu jago banget tadi beladirinya!”


“..sudah menjadi kewajiban saya menolong yang membutuhkan bu, kalo begitu saya pamit!” ucap Zen yang langsung ingin pergi.


Warga sudah ada yang menghubungi polisi untuk meringkus dua penjambret yang kini masih tertunduk kesakitan memegangi perut dan dadanya.


“..sebentar nak, kamu sekolah di SMA negeri ya!” tanya ibu korban penjambretan.


“..iya bu, benar!”


“..waah seragam kamu sobek itu! Pasti karena senjata tajam tadi ya!?”


Zen terlihat memeriksa seragamnya diposisi yang dipegang si ibu korban penjambretan.


“..hehe..iya bu.. sudah engga apa – apa bu! Risiko saya!’ jawab Zen bijaksana.


“..ini ada sedikit uang buat beli seragam baru ya!” ujar si ibu korban penjambretan memberikan dua lembar pecahan 100rb pada Zen.


“..maaf bu, saya ikhlas.. tidak usah, nanti saya jahit sendiri saja, lebih murah, tidak usah repot-repot!” jawab Zen tidak mau menerima uang yang disodorkan kepadanya.


“..saya permisi!”


“..anak muda yang baik!”


“..oh ya, jika melihat seragamnya, mirip sekolahnya Ziva!”


“..coba nanti aku tanyakan Ziva pas dirumah, mungkin Ziva tahu siapa pemuda itu!” gumam ibu korban penjambretan menatap kepergian Zen yang terlihat sangat cepat.


***


Setelah beberapa ratus langkah, Zen akhirnya menemukan satu konter besar dengan penjualan produk smartphone yang lengkap dipinggir jalan.


“..mari mas, silahkan mampir dibeli hape keluaran terbarunya!”


“..disini banyak yang murah mas, mari mampir!”


“..produk kami lebih terkenal dan harga lebih murah, mari mampir!”


“..mari kak mampir, mau cari hape apa?!”


Berbagai kalimat penyambutan menggema dikepala Zen ketika para SPG hape mulai melancarkan aksinya melihat calon pembeli.


“..mau cari hape apa mas?” tanya seorang spg disaat Zen memutuskan untuk mendekat kearah konternya.


“..maaf mbak, saya cari hape dengan ram 16Gb kemudian memory minimal 256 ada fitur NFCnya!” jawab Zen.


“..ada mas, sini duduk dulu silahkan!”


Sejurus kemudian berbagai hape canggih sesuai spek kebutuhan Zen dikeluarkan oleh SPG penjualnya.


Setelah melihat dan melakukan pengecekan fitur hape yang sesuai keinginannya Zen langsung melakukan transaksi.


Zen mencoba mendownload aplikasi bank digitalnya, untuk mempermudah transaksinya kedepan.


Tidak hanya aplikasi bank digital yang Zen sasar, dirinya juga langsung melakukan instalasi aplikasi dunia Saham dan dunia Forex.


Dengan kemampuan paranormalnya, Zen bermaksud untuk menjadikan dunia saham, dunia forex, dunia trading komoditi dan trading crypto sebagai mesin penghasil pundi-pundi rupiahnya.


“..mbak, boleh pesan makan?!”


Zen masuk kedalam sebuah gerai makan yang ada dipingiran toko konter hape.


“..mau makan apa mas?!”


Zen kemudian memberikan informasi menu apa saja yang ingin dipesan.


Sambil menunggu makanan disajikan, Zen mengutak atik hapenya lagi.


Sisa uang setelah bayar spp dan beli seragam barunya, masih ada 4jt bersih.


Zen memulai aksi pembelian pertamanya di dunia Cripto.

__ADS_1


Dengan pemahaman paranormalnya Zen mendapatkan penglihatan jikalau ada satu cripto baru lahir dan harga masih diangka 1 namun memiliki prospek besar dalam tujuh hari kedepan.


Segera Zen membeli Crypto tersebut dengan cara All in 4jt.


Setelah selesai melakukan transaksi didunia Cripto, Zen langsug fokus dengan makanan yang sudah dipesannya.


Tiga puluh menit lamanya Zen berdiam diri didalam warung makan, setelah selesai aktivitas makan dan surfing internet guna mengumpulkan informasi terkait link pabrik plastik recycle yang ada disekitar kabupaten dan propinsinya, Zen langsung keluar warung makan.


Angkot pedesaan menjadi sarana transportasi yang dipilih Zen untuk kembali menuju rumah.


Didalam angkot, Zen mencoba melihat-lihat grub medsos yang berisikan para pemilik lapak pengepulan maupun para kolektor barang rongsokan plastik bekas, baik itu skala kecil, menengah maupun besar.


Beberapa informasi penting, Zen telah kantongi dan ditulis didalam notes hape canggihnya.


“..kiri bang!”


Tidak terasa perjalanan Zen telah sampai dibatas desa yang merupakan jarak terdekat angkot pedesaan dengan rumahnya.


“..woi Zen! Darimana kok naik angkot tumben!”


Pak Edo orang yang sering menegur Zen terlihat membonceng istrinya keluar dari balik angkot.


“..eh ada pak Edo! Tadi habis beli seragam pak di pasar besar, biar murah begitu maksudnya!” jawab Zen memberikan jawaban.


“..oh kirain kamu lagi belanja, secara kan kemarin habis jualan banyak di tempat pak Burhan!” canda pak Edo.


Zen hanya menanggapi dengan senyuman, sedangkan istri pak edo langsung memukul punggungnya tanda minta buru jalan.


“..ya sudah Zen, saya duluan ya..”


{tin..tiiin}


Motor yang pak Edo tumpangi melaju membelah jalan pedesaan meninggalkan asap dibelakang.


Tidak ada yang spesial sepanjang perjalanan Zen kerumahnya dari gerbang desa.


“..waaah, hari sudah sore saja!”


Ucap Zen ketika melihat matahari sudah condong kearah barat agak dalam dengan langit yang sudah menguning.


Zen segera melakukan rutinitas mempersiapkan lampu minyaknya.


{gumbraanggg}


Sedang asyik mempersiapkan lampu minyak, tiba-tiba dibagian belakang rumahnya terdengar suara berisik seperti alat masak yang jatuh.


Zen segera mengedarkan persepsi kesadarannya untuk beberapa saat.


“..kalian mau tetap bersembunyi atau keluar!”


Tanya Zen, karena dirinya menyadari adanya makhluk astral yang sedang ingin mengganggunya.


Kemampuan paranormalnya langsung bereaksi ketika ada makhluk astral yang sedang iseng didekatnya.


{sreekkkk...}


Dari balik dapur muncul beberapa makhluk yang terlihat menyeramkan, ada tuyul ada kunti ada genderuwo.


Zen masih terlihat tenang dengan kemunculan mereka pada jam-jam menjelang magrib.


“..siapa yang menyuruh kalian!”


Tanya Zen dengan santai tanpa terintimidasi dengan penampakan menyeramkan yang mereka bertiga tunjukkan.


“..hookk-kamu manusia rendahan! Sebaiknya segera pergi dari rumah ini-hookkk!!”


{ziingggg}


Tanpa menoleh Zen langsung sat set sat set memunculkan perisai berupa ruangan bola energi transparan yang langsung mengunci tiga makhluk astral tersebut.


{jdaarrrr}...{jdaarrrr}...


Kilatan petir lokal terlihat menghantam tiga makhluk astral yang terkunci didalam ruangan bola transparan secara bersama-sama.


“..ssaakiiit!!!”


“..totooloong!!”


“..heennntikaaan siksaaan iniii!!”


Ketiga makhluk astral itu terus meronta – ronta minta dikeluarkan dari bola ruangan tempat mereka disiksa.


“..itulah kalian, sudah ditanya baik-baik malah ngusir yang punya lapak!”


“..sudah, kalian disitu saja terus, sampai kalian menyadari kesalahan kalian!”


“..aku mau beli makan malam dulu diluar!”


Zen terlihat bodo amatan dengan tiga makhluk astral yang terus meronta minta tolong untuk dibebaskan, dirinya terlihat langsung meninggalkan rumah untuk pergi mencari makan malam diujung desa, disana biasanya banyak tukang penjual nasi goreng dan sate dadakan yang mangkal nunggu pembeli.


Jalanan yang sepi dan sangat minim penerangan dilalui Zen menuju lokasi tempat mangkalnya tukang nasi goreng dan sate dadakan.


Dulu Zen jarang sekali makan malam, padahal aktivitas sehariannya menuntut dirinya untuk memperbanyak makan agar tidak cepat jatuh sakit.


Karena alasan keterbatasan dana lah, Zen yang dulu, selalu menahan lapar sampai esok pagi hari, saat dirinya menjadi kuli panggul di pasar besar.


“..bang nasi goreng satu!” ujar Zen yang sudah tiba dilokasi, dan duduk disebuah kursi plastik yang disediakan oleh penjualnya.


“..nasi goreng saja ini Zen! Sate enga?!” ucap penjual sate yang mencoba merayu Zen agar dibeli juga.


“..ya sudah bakarkan satenya saja yaa, seporsi!” jawab Zen sambil tersenyum.


“..nah begitu..kan jadi enak saya nya..!” jawab penjual sate cengengesan.


{sraanggg...sreengggg....sranggg...srenggg}

__ADS_1


Penjual nasi goreng terlihat memulai aksinya, membuatkan pesanan Zen dengan cekatan.


Begitu pula dengan tukang sate yang juga sudah mulai membuat asap tebal dengan semerbak bau harum sambal kacang yang ikutan dibakar.


__ADS_2