PEMULUNG SUKSES

PEMULUNG SUKSES
Luar Biasa


__ADS_3

“..ayo cepat, nanti keburu telat!” Clara terlihat sangat bawel sekali ketika menarik-narik lengan Zen yang terlihat masih membalas beberapa email dan chat penting terkait bisnisnya.


Sejak diresmikannya Zen sebagai pemilik saham mayoritas bank swasta terbesar di konoha, Zen sering disibukkan dengan pertanyaan serta saran kebijakan yang mesti di setujuinya.


Untuk memudahkan kinerja dari top level hingga bagian bawah, kemudian dari kantor pusat hingga ke cabang mikro didaerah Zen sedang membuat system blockchain untuk nantinya bisa di implementasikan diseluruh jajaran dalam kinerjanya sehari hari.


“..tenang saja, maskapai tidak akan meninggalkan customer seperti kita!” ucap Zen menghibur Clara yang terlihat tergesa-gesa ingin masuk kedalam pesawat.


“..issshh.. memang kamu yang punya pesawat apa?!”


Tanpa Clara ketahui Zen yang berencana pergi ke negeri panda dengan mempergunakan maskapai penerbangan dari eropa yang sedang transit di konoha, kepemilikan saham terbesarnya juga sudah menjadi milik Zen.


Zen mengakuisisinya ketika berada di vrindafan dengan mempergunakan dana bank offshore milik ke tujuh kelompok illuminati.


Maskapai penerbangan dengan logo sayap hijau tegak berdiri itu 98% sahamnya sudah menjadi milik Zen.


“..selamat datang tuan muda Zen!” salam sapa sambutan dari pegawai yang bekerja.


Sama halnya seperti bank swasta terbesar dikonoha, para manajemen lama tidak ingin para pegawainya sampai salah menyapa orang, terlebih yang disapa adalah pemilik maskapai yang berada di negera konoha.


“..ini...!! jangan bilang kalo--!”


“..udah, yuk katanya buru-buru ntar takut ketinggalan pesawat!” ujar Zen sambil merangkul Clara untuk segera masuk kedalam lorong garbarata.


Sementara petugas penerbangan yang mendengar hanya tersenyum ramah, dalam hatinya,


“..siapa yang berani memberangkatkan pesawat saat pemilik maskapai ada dalam list daftar penumpang!”


Disepanjang lorong banyak petugas penerbangan hingga pilot dan beberapa pramugari menyambut kedatangan Zen sama seperti sambutan ketika masuk kedalam gedung bank swasta terbesar konoha, mereka semua membungkukkan diri sangat dalam tanda penghormatan pada Zen.


“..zen,!!” Clara terlihat melotot melihat suasana yang dejavu baginya.


“..hehehhe” Zen hanya tersenyum saja.


“..silahkan tuan muda Zen!” terlihat pramugari senior mengarahkan Zen untuk masuk kedalam bilik kursi super VVIP yang memang hanya ada 2 buah tepat dibelakang ruangan pilot dan co pilot.


Sambutan lewat pengeras suara juga diinformasikan kepada seluruh penumpang, jikalau pada penerbangan kali ini, pesawat akan membawa tamu kehormatan yaitu pemilik maskapai penerbangan yang memiliki jadwal penerbangan terpadat diseluruh dunia.


“..haiissshhh!! lage lage, ..” Clara menghela nafasnya sambil melotot kearah Zen.


“..sabaar, pelan-pelan akan tahu semuanya kok!”


“..yelaah tuu!” Clara langsung menjawab sekenanya.


Tidak lama setelah Zen duduk, pesawat langsung menginformasikan untuk lepas landas.


Perjalanan dari konoha ke bandara internasional di negri panda berjalan sangat lancar, pilot dengan sangat baik membawa penerbangan untuk menjauhi semua cuaca buruk dan awan yang telah terdeteksi didalam monitornya.


Selama 5 jam kurang lebih penerbangan itu kini telah diselesaikan.


Selama 5 jam Zen dan Clara lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bercanda, bermain kartu dan beraktivitas yang lain hingga Clara tertidur dipangkuan Zen satu setengah jam sebelum mendarat.


Para pramugari yang melihat kedekatan pemilik maskapai dengan nona muda yang cantik bak artis k-pop itu terlihat saling bergunjing.


“..dunia benar tidak adil, selalu si tampan milik si cantik!”


“..hussh, awas kalo sampai terdengar sama tuan muda lho!”


“..biarin, kenyataan memang kan, tuan muda Zen super tampan, nona Clara super cantik, bagaimana tidak bikin iri?!”


Pembicaraan mereka didengar oleh Zen dan terlihat Zen hanya senyum simpul tidak ingin menanggapi celotehan karyawannya.


“..senang tuan muda bisa terbang bersama kami!” ucapan selamat jalan disampaikan oleh tim penerbangan yang telah selesai menyelesaikan tugas mereka mengantarkan Zen dari konoha sampai ke bandara internasional negeri panda.


“..terima kasih sudah bertugas dengan baik, sampai jumpa lagi!” ucap Zen sambil melambaikan tangannya yang kemudian dijawab dengan para karyawan yang bertugas dengan membungkukkan badan mereka tanda hormat.


Clara terlihat menggandeng Zen dengan sangat erat dilenganya, suhu digarbarata sangat dingin, kebetulan di negeri panda saat ini lagi musim dingin.


“..kok kamu engga pakai jaket lebih sih sayang?!”


“..gpp, badanku sudah terbiasa dengan suhu dingin!” jawab Zen yang terlihat hanya mempergunakan kaos oblong V neck warna putih dengan set jumper berwarna biru dongker.


Clara yang mengira jikalau Zen sudah terbiasa dengan suhu dingin terlebih saat dirinya memulung botol dari pagi hingga malam tidak ingin mempertanyakannya lagi.


Didalam ruang tunggu ternyata koper Zen dan petugas imigrasi sudah menunggu dijalur super VVIP.


Tidak pakai menunggu lama orang yang menjemput mereka langsung membawa Zen dan Clara ke hotel tempat mereka akan menginap selama perjalanan di negeri panda.


Zen dan Clara menginap disebuah hotel berskala internasional dengan lambang huruf H sangat besar di taruh diketinggian.

__ADS_1


“..kita satu kamar apa dua kamar?!”


“..satu! plissss!”


Karena rengekan Clara Zen hanya memesan satu kamar president suite.


Kamar dengan luasan mirip rumah tipe 120 itu terlihat sangat luas lengkap dengan segala fasilitas pendukung kerja sang penyewanya.


“..mau mandi dulu apa langsung tidur lagi? Masih ada empat jam sebelum jam sarapan pagi, acara kita juga nanti siang!” ucap Zen bertanya


“..mau mandi bareng! Boleh?!”


“..isssh...isssh...ntar kalo kejadian bagaimana?!” kembali Zen bertanya.


“..hayuklah kejadian! Biar cepet dinikahin kita” tantang Clara.


Pada akhirnya Zen dan Clara mandi bersama dengan aktivitas paling banyak adalah berendam bersama.


Mereka berdua berpelukan sangat didalam jacuzzi super mewah yang ukurannya muat untuk delapan orang.


Kulit itu bertemu dengan kulit dan bulu itu bertemu dengan bulu, clara yang sudah tidak sabar terus memaksa Zen untuk melakukan aktivitas bercocok tanam, namun Zen menghalanginya dan menggantinya dengan permainan jari yang membuat Clara kelojotan hingga terkulai lemas.


Zen menggendong clara keluar dari kamar mandi dan meletakkannya dengan begitu hati-hati ditempat tidur.


Tubuhnya yang polos tanpa memakai sehelai kain ditutupi dengan selimut tebal tempat tidur super premium.


Dengkuran nafas Clara terdengar sangat keras, Zen yang iseng segera merekamnya, kemudian mengirim pesan multimedia ditujukan ke akun wea milik Clara.


“..pasti ini orang bakalan marah besok! Hehehe” Zen membayangkan kemarahan Clara karena ulah keisengannya.


Waktu terus bergulir, Zen yang tidur disebelah Clara tidak bisa beranjak pergi, tangan Clara terlihat mengikat tubuhnya dengan sangat erat.


“..mau sampai kapan males bangun begitu diiih?!” tanya Zen yang sudah melihat clara menyipitkan pandangannya.


“..kok kamu tahu sih kalo aku sudah bangun!”


Mereka berdua sudah layaknya suami istri tidur bersama dalam kondisi tanpa mengenakan pakaian hanya tertutup satu selimut yang dibagi bersama.


“..udah yuk bangun, kita sarapan pagi terus siap-siap, sudah siang sih sebenarnya, sudah jam 9 waktu negeri panda!” ujar Zen sambil menunjukkan jam dihape miliknya.


Zen yang berdiri lebih dulu tanpa malu-malu dirinya berjalan kearah kamar mandi.


“..ikuuuttt!!” Clara langsung melompat dari tempat tidur dan nemplok dipunggung Zen layaknya bayi panda minta gendong.


Tidak ada adegan spesial untuk aktivitas kamar mandi mereka berdua, setelah rapi-rapi mereka menuju ruangan sarapan pagi yang hanya diisi oleh mereka berdua sebagai bagian dari fasilitas presiden suite room yang telah disewa.


“..makan bareng sudah, tidur bareng sudah, mandi bareng sudah, yang belum apa ya?!” tiba-tiba Clara berbicara sambil menggerakkan bola matanya kearah Zen.


“..yang belum itu menua bareng!” jawab Zen sambil memberikan tatapan yang bisa melelehkan hati wanita didepannya.


“..jangan menatapku seperti itu sih sayaang, engga luat akunyaa, meleleh bangeed tahu ga siih?!” Clara menjadi salah tingkah.


“..ya sudah yuk, kita mesti siap-siap untuk menghadiri seminar, tinggal dua jam lagi waktunya, kamu sih banyak dandannya tadi, jadi telat sarapannya!” goda Zen.


“..yaa sudah sih, namanya juga perempuan, maklumi doong!” jawab Clara yang juga ikutan berdiri kemudian merangkul lengan Zen.


Tatapan mata para petugas dan pelayan sarapan pagi terlihat mengiringi kepergian Zen dan Clara keluar dari ruangan.


Zen dan Clara tiba dilokasi seminar tiga puluh menit sebelum acara dimulai.


Sambutan hangat dari panitia yang mengadakan seminar terus mengalir.


Acara seminar berlangsung dalam durasi dua jam lamanya. Sesi paling lama adalah tanya jawab, dan Zen berhasil menjawab semua pertanyaan yang ditanyakan dengan respon sangat memuaskan.


“..dokter Zen, apakah dokter ada waktu untuk berkunjung ke rumah sakit kami, ada pasien anak kecil dengan kelangkaan penyakit bawaan yang tidak bisa kami tangani!” ujar kepala rumah sakit internasional di Beijing.


“..baik, saya akan bantu!” ucap Zen setuju.


“..aaah... terima kasih, banyak terima kasih dokter Zen!”


“..anak kecil ini adalah anak pengusaha terbesar dinegeri panda, orang tuanya pemilik pelabuhan terbesar, dengan segala fasilitas pendukung bisnisnya diseluruh dunia yang berbasis di negeri panda!” ucap kepala rumah sakit memberikan penjelasan.


“..oooh, seperti itu!” Zen terlihat sangat tenang dan tidak terpengaruh sama sekali.


“..mari dokter Zen, rumah sakit kami tidak jauh dari tempat ini, bahkan jika kita berjalan kaki hanya membutuhkan waktu 10 menit saja.


“..sangat dekat ya! Bagaimana jika kita jalan kaki saja, sekalian menikmati musim dingin dinegeri Anda senior!” tawar Zen yang langsung diiyakan dengan anggukkan kepala oleh direktur rumah sakit.


Dan terjadilah rombongan pegawai rumah sakit dengan mempergunakan jaket tebal musim dingin bergerombol jalan kaki dari lokasi seminar menuju rumah sakit.

__ADS_1


Pemandangan yang membuat heran semua mata pejalan kaki yang melihat kelompok para dokter rela berjalan kaki beramai-ramai dalam keadaan jalanan super dingin.


“..apakah dingin?!” tanya Zen kepada Clara yang terlihat menggigil meski sudah memakai jaket tebal.


“..kok kamu engga kedinginan?!” Clara yang berbicara dengan keluar asap mengepul menandakan dinginnya udara diluar.


Banyak dokter yang membicarakan Zen karena tidak mempergunakan jaket tebal disaat yang lain menggunakan jaket berlapis-lapis untuk melawan dinginnya udara.


Yang tidak mereka ketahui adalah Zen mempergunakan olah seni pernafasannya sehingga cuaca dingin tidak berpengaruh pada tubuhnya.


{ceklek}


Pintu ruangan rumah sakit terbuka dari luar.


Rombongan langsung menuju kesebuah ruangan super VVIP yang terdapat dilantai paling atas rumah sakit internasional dengan mempergunakan lift ruangan.


“..sore dokter!” sapa pengawal yang memang bertugas untuk mengawal ruangan anak dari pengusaha super tajir negeri Panda.


“..silahkan masuk dokter Zen!” ujar direktur rumah sakit.


“..eummmnn!” Zen dan clara langsung masuk kedalam ruangan super vvip untuk melihat pasien yang dimaksud.


“..eh ada dokter!” sosok pria berumur 50 tahunan terlihat berdiri ketika melihat direktur rumah sakit mendatangi ruangan.


“..Tuan Liu, perkenalkan ini adalah dokter Zen dari konoha, kemungkinan besar dokter Zen bisa menyembuhkan penyakit langka putri tuan!” ucap direktur rumah sakit sambil memperkenalkan keberadaan Zen.


Sepintas pria yang dipanggil tuan Liu itu memandang Zen dari atas kebawah.


“..masih sangat muda!?” ujarnya spontan


“..benar tuan Liu, namun jangan salah, kemampuan medisnya bahkan saya tidak bisa dibandingkan dengannya!”


“...waaah, hebat..hebat!” ucap tuan Liu sambil mengangguk anggukkan kepalanya.


“..dokter Zen, Saya Liu ayah dari anak yang terbaring ditempat tidur itu sejak berumur 5 tahun!” sapa tuan Liu dengan mengulurkan tangannya.


“..saya Zen! Salam kenal! Dan ini calon istri saya namanya Clara! Dokter juga!” jawab Zen yang memperkenalkan clara yang berdiri disampingnya.


Setelah acara singkat perkenalan.


“..boleh saya melihat keadaan pasien?!”


“..boleh-boleh, silahkan dokter Zen!”


“..tolong kasih ruang lebih buat dokter Zen memeriksa kondisi pasien!” ucap direktur rumah sakit memberikan perintahnya.


Ada lebih dari lima dokter yang ikut hadir untuk menyaksikan keahlian Zen menyembuhkan penyakit langka yang bahkan secara medis sudah divonis tidak memiliki kesempatan hidup.


Zen terlihat memegang telapak tangan, garis nadi dan memeriksa detak jantung pasien dengan menggunakan stetoskop.


Mata super paranormalnya sebenarnya bisa mendeteksi langsung, namun Zen lebih memilih untuk memeriksa kondisi fisik pasien yang sudah terbaring lebih dari 7 tahun lamanya.


“..pasien mengalami tidur abadi!” ucap Zen.


“..apa?!! tidur abadi?!” serempak semua dokter bersuara.


“..tolong dijelaskan dokter Zen!” sang direktur rumah sakit bertanya.


“..pasien telah terkena racun bunga teratai yin yang tumbuh di pegunungan tibet dan berbunga setiap seratus tahun lamanya!”


“..siapa orang yang menghirup serbuk bunga tersebut maka akan otomatis tertidur abadi!”


“..pelakunya yang jelas adalah orang yang tidak suka dengan bisnis tuan Liu!”


Zen menjelaskan langsung duduk perkaranya.


“..kejam!” Clara secara spontan bersuara.


“..apakah bisa disembuhkan dokter Zen?!” tanya kembali direktur rumah sakit.


“..tenang, bisa, namun membutuhkan racikan bahan herbal yang harganya sangat mahal!” ujar Zen sambil menatap kearah tuan Liu.


“..dokter Zen, sebutkan saja harganya, saya akan membayar semuanya! Bahkan saya sudah berjanji, siapa saja yang bisa menyembuhkan penyakit anak saya, saya akan memberikan semua saham bisnis saya sebesar 90%!” ujar tuan Liu bersuara sedikit emosional.


“..tenang tuan Liu, tolong kertas!” ucap Zen


Buru-buru direktur memberikan pena dan kertas resep yang selalu berada dikantongnya.


Semua yang berada didalam ruangan tidak ada yang berani bertanya ketika melihat Zen tenggelam dalam konsentrasinya menulis.

__ADS_1


__ADS_2