
{tiin..tiiinnn}
Pagi itu pukul 7 kurang sedikit, sebuah mobil berwarna hijau dongker terparkir didepan rumah Zen.
Zen yang sudah mengirimkan sharelok rumahnya pada Ziva tadi malam, terlihat membukakan pintu halaman rumahnya!
“..waah ini beneran rumah kamu Zen?!” tanya Ziva yang terlihat takjub dengan desain dan keindahan latar belakang rumah yang langsung mempertontonkan gagahnya gunung blimbing.
Latar belakang hijau menjadi mayoritas pemandangan yang bisa dilihat oleh setiap orang yang mengunjungi rumah Zen.
Luasan tanah 300x400m2 itu terlihat layaknya istana ditengah persawahan.
Sebenarnya Zen sudah membeli sawah yang ada di sebelah kiri dan dikanan rumahnya, dengan total luasan hingga 100 hektar, semua dibeli secara tunai dengan mempergunakan hasil dagang sahamnya.
Saham yang tadinya ada diangka 50per lembarnya saat Zen beli senilai 1,5 milyar, kini sudah menjadi 14.550 per lembarnya. Kenaikan hingga 21.900%.
amaziiing!!
Tabungan Zen kini ada 330 milyar! Wow bangeed bukan!
Dari hasil perdagangannya itu, Zen membeli lagi saham perusahaan yang baru IPO dengan nilai 300 milyar secara all in diharga penawaran 100 per lembar sahamnya, karena kondisi saham memang lagi banyak beredar ditambah harganya lagi super diskon.
Dari pemahaman paranormalnya, saham itu akan naik hingga ketinggian yang tidak bakalan orang mengiranya.
Duit ditabungan bank digital milik Zen sekarang sudah mulai menipis lagi, karena sampai sekarang Zen belum kunjung melakukan close order, untuk perdagangan digitalnya dipasar forex dan komoditi.
Meski aplikasi perdagangan MT4 nya menunjukkan nilai 15 digit sampai sekarang, namun Zen tetap belum mau untuk melakukan close order, karena dari visual paranormalnya, angka saat ini belum merupakan angka target akhirnya.
Sedangkan dari sisa 30 milyar dari hasil dagang sahamnya, 28 milyar lebih untuk membayar tanah persawahan disamping kiri kanan serta belakang rumahnya.
Persawahan yang mengelilingi rumahnya juga dikerjakan oleh para boneka karet yang telah diisi oleh roh pasukan dari genderuwo, sehingga mereka sanggup bekerja siang dalam malam tanpa beristirahat.
Zen selalu mengatakan jikalau dirinya mendapatkan karyawan dari desa lain yang letaknya ada dibelakang gunung blimbing saat dirinya mendaftarkan identitas pekerjanya kebalai desa.
Bisnis Zen juga sudah mulai menyebar di 1000 titik sesuai impiannya.
Diseluruh pulau jawa saja, usaha yang Zen miliki terlihat sudah mengepung wilayah pabrik recycle setempat.
Dengan total sampah plastik bekas kondisi press sebanyak 1.000.000 ton setiap bulannya, berhasil disetorkan oleh Zen secara konsisten.
Zen juga melakukan import botol plastik bekas dari luar negri. Ilmu yang dipelajarinya ketika dirinya sering berada didalam perpustakaan dulu kini telah dipraktekkannya.
Pendapatan dari hasil bisnis botol bekas rongsokannya setiap bulan jika dihitung; 1.000.000 ton \= 1.000.000.000 kilo x 7000 rupiah per kilo \= 7 trilyun kurang lebih.
Tidak ada yang menyangka sosok pemuda yang belum lulus SMA itu mimiliki rekening yang berputar setiap bulannya senilai 7 trilyun rupiah.
Tidak ada yang menyangka jika bisnis botol bekas rongsokan, bisa mendapatkan uang senilai trilyunan rupiah setiap bulannya.
Nama Zen grub sendiri sebagai Waste Management Company sudah terkenal diluar negri. Khususnya dinegara Asean dan negara Asia yang merupakan supplier tetap Zen untuk mencukupi kebutuhan botol bekasnya.
****
Kita kembali ke Zen dan Ziva.
“..sini masuk Ziva!” ujar Zen membukakan pintu halaman rumahnya.
“..eh iya!” Ziva masih terlihat shock! tidak habis pikir dengan desain rumah, serta view yang dilihat oleh matanya sendiri.
“..rumah kamu bagus banged Zen!”
“..hehehe...” Zen hanya menanggapi dengan tertawa kecil.
“..mari duduk dulu!” kembali Zen mempersilahkan tamunya dengan sopan.
“..shelli, tolong bawakan minuman dingin dulu!” ujar Zen sambil setengah teriak.
“..siapa shelli Zen?!” Ziva langsung merengut ketika mendengar nama wanita didalam rumah Zen.
Zen tidak menjawab pertanyaan Ziva, karena sosok yang dipanggil terlihat berjalan kearahnya menggunakan baju seragam maid, baju seragam itu terlihat sangat minim menggoda iman.
Shelli adalah boneka karet yang berhasil Zen hidupkan dan bertugas untuk bersih-bersih didalam rumahnya.
Seragam yang sekarang dipakai memang sesuai dengan keinginannya sendiri, entah darimana si shelli belajar. Hanya shelli yang tau!
Seragam yang mayoritas berwarna hitam dengan renda berwarna putih itu terlihat kekecilan karena sosok shelli ini memiliki tinggi 178cm, dengan lingkar dada 36, cup dada ukuran FF besar-kenceng-buled-sekel dengan kulit yang putih bersih, ala-ala orang eropa karena berambut pirang, ditambah retina matanya berwarna hijau emerald.
Ziva yang melihat maid yang sedang mengantarkan minuman sangat cantik dan luar biasa menggoda iman itu menjadi salah tingkah.
Shelli yang memang sengaja tidak memakai stocking kaki, ditambah roknya yang terlalu mini, terlihat sekilas, warna hitam cangcutnya mengintip, kejadian itu terlihat saat dirinya menundukkan tubuhnya 90 derajat, guna meletakkan minuman dingin diatas meja yang agak rendah posisinya.
Zen tentu dibuat panas dingin, karena posisi bongkahan hitam nyelip diantara dua paha mulus shelli itu tepat berada didepan mukanya.
“..eh busyeeet... orang secantik ini jadi pelayannya Zen!”
“..Pantas saja Zen tidak pernah menoleh kepadaku!” bathin Ziva yang mulai merendahkan dirinya sendiri.
“..ada lagi tuan yang bisa saya bantu!” senyum shelli menggoda Zen.
“...euhmmm!” Zen menjawab dengan mengibaskan tangannya.
Shelli yang tahu jika godaannya masih belum bisa manjur, segera masuk lagi kedalam rumah.
“..silahkan Ziva diminum!”
“..sebentar ya, aku mau memberikan beberapa informasi pada pekerjaku dibelakang rumah! Setelah itu kita bisa mulai jalan!”
__ADS_1
Biasanya setiap pagi jam 6 sebelum berangkat kesekolah, Zen selalu melakukan morning meeting dengan para pekerjanya, karena dengan 1000 lapak pengepul yang Zen miliki sekarang, tentu semuanya dituntut dengan performa yang sama disetiap cabangnya.
“..aku boleh liat engga?!” tanya Ziva.
“..oh, kamu mau lihat, boleh, yuk...!”
Ziva mengikuti langkah Zen kearah pintu yang ada dibagian samping rumahnya.
“...waaah...!” Ziva terkejut dengan lokasi kerja Zen.
Memang banyak sekali botol-botol bekas, tapi karena Zen memiliki ilmu manajemen yang bagus, tempat kerja dibelakang rumah Zen yang menjadi sekaligus kantor pusat dari 1000 cabang yang dimiliki oleh Zen, terlihat sangat rapi dan bersih.
Ziva melihat banyak sekali para pemulung yang sudah antri untuk menyetorkan barang hasil kerja keras mereka, dan semua berjalan dengan sangat disiplin dan rapi sekali.
“..ini...luar biasa Zen!” ujar Ziva.
“..hehehe..” Zen hanya menggaruk belakang kepalanya saja.
“..waah juragan Zen, ini pacarnya yaa?!” tanya beberapa orang pemulung hampir bersamaan, ketika melihat Ziva pagi itu ada didekat Zen.
Ziva yang disebut sebagai pacar oleh para pemulung, terlihat memerah pipinya karena malu.
“..sudah-sudah, bapak-bapak, silahkan dilanjutkan proses timbangnya ya..permisi, saya mau keruangan kerja dulu!” ujar Zen melangkahkan kakinya menuju ruangan kerjanya.
Ziva terlihat mengekor dibelakang Zen dengan malu-malu.
{ceklekkk}
Pintu ruangan terbuka dari arah luar.
“..widiiiwww!!” Ziva kembali dibuat kagum, karena ruangan kerja milik Zen lebih mirip seperti ruangan server canggih, disebelah dindingnya terdapat monitor super lebar layaknya layar XXI.
{bippp}
Terdengar suara komputer dinyalakan.
Tidak menunggu lama, layar yang super lebar itu kini mempertontonkan 1000 wajah yang berbeda – beda dengan perawakan orang asia.
Tidak lama, Zen langsung memulai Zoom meeting pagi dengan para karyawannya yang ada di 1000 lokasi yang berbeda.
Secara singkat acara zoom meeting itu berjalan selama tiga puluh menit, dengan Zen sebagai key not speakernya.
“..kamu hebat ya Zen ternyata! Jadi minder aku sekarang!” ujar Ziva ketika sudah ada didalam mobil dan meluncur kearah tempat undangan yang dimaksudkan.
“..apaan sih Ziva!”
“..yang ada semua orang itu mindernya sama kamu, secara kamu itu kan anak dari seorang pimpinan militer tertinggi dikabupaten ini..”
“..huh!” Ziva terlihat tidak suka dengan jawaban Zen.
Perjalanan menuju markas besar militer kabupaten itu terlihat sangat cepat, karena adanya pengawalan motor militer yang berada dibagian depan.
{bakkk}
Pintu mobil dibuka dari arah luar sesaat setelah mobil tiba dilokasi.
“..siapp..hormat..grakkk!!”
Zen mendapatkan penghormatan militer dan membalasnya seperti yang telah diajarkan saat penerimaan siswa baru 3 tahun yang lalu.
“..maaf nona Ziva, ayah nona sudah menunggu di lapangan markas, mari saya antarkan!” ujar ajudan yang terlihat begitu hormat.
Beberapa puluh langkah mereka memutari gedung penerimaan tamu, setelah itu terlihat tenda besar yang sudah disetting dengan tempat duduk dan banyak tamu yang sudah hadir.
“..ini kita tidak terlambat kan?!” tanya Zen pada Ziva.
“..entah!” Ziva yang masih sebel dengan Zen karena omongannya saat didalam mobil, hanya mengangkat bahunya.
“..ziva! sini!” teriakan ayahnya terlihat keras hingga bisa didengar oleh semua orang.
Seorang ayah pastinya akan tetap menjadi orang tua yang selalu sayang dengan anaknya, meski dirinya memiliki pangkat yang tinggi.
“..itu Ziva ayah kamu manggil itu!” ujar Zen memberikan kode.
Ziva terlihat tambah sebel dengan sikap Zen yang seolah-olah tidak tahu jika dirinya sedang ngambeg perihal status ayahnya yang selalu dikait-kaitkan dengan dirinya.
“..Zen! benar kan namanu Zen, kesini sekalian!” kali ini panggilan juga ditujukan kepada Zen.
Mau tidak mau Zen juga ikut jalan dibelakang Ziva.
“..duduk sini anak muda!” ayah Ziva menunjukkan tempat duduk yang sudah di setting sedemikian rupa sehingga Zen akan duduk tepat disamping ayah Ziva!.
Acara pagi itu ternyata sudah dimulai tepat jam 7 pagi.
Setelah beberapa puluh menit, satu persatu acara sukses dilalui, hingga tiba acara puncak, yaitu penyerahan bintang Jasa yang ditujukan untuk Zen karena dirinya telah membuat pihak pemerintah kabupaten memiliki nama tersendiri ditingkat Nasional.
Penyematan bintang Jasa itu diberikan langsung oleh Bupati yang turut hadir dalam kesempatan itu.
Zen sendiri tidak menyangka, jikalau dirinya adalah tokoh penting dalam acara tersebut.
“..nah anak muda! Sudilah kiranya dirimu menunjukkan aksi beladiri dengan melawan para prajurit andalan militer yang telah bersiap dilapangan itu!” ujar ayah Ziva yang terlihat meminta Zen untuk unjuk kebolehan.
Zen terlihat tersenyum dan mengiyakan permintaan ayahnya Ziva.
Zen berjalan kearah lapangan dimana sudah ada 10 orang pasukan khusus baret merah berbaris rapi menyamping.
__ADS_1
“..mohon bimbingannya para senior sekalian!”
Ucap Zen sambil menundukkan dirinya 90 derajat lebih rendah tanda kesopanannya.
“..hyaaatttt!!”
Pasukan militer itu langsung mengerubungi Zen.
Aksi pertunjukan adu ilmu beladiri telah dimulai.
“..tunjukkan kemampuan terbaikmu anak muda! Karena pasukanku tidak akan segan melukaimu!!’ teriakan kolonel Agus dari arah tribun.
“..waah! benarkah!”
“..waah gila ini! Pemuda 17 tahunan melawan 10 anggota pasukan khusus militer!”
“..cepat rekam ...cepat viralkan!!”
Beberapa penonton segera menyalakan kamera hape mereka dan langsung melakukan live streaming.
“...hyaaatttt”
{wuuusshhhh}
Salah seorang pasukan baret merah langsung melompat dengan tendangannya mengarah ketubuh Zen.
{tappp}
Pasukan itu hanya menyerang udara kosong.
“..waaahhh!!!”
Penonton terkejut ketika Zen tidak bergerak sama sekali, dan serangan itu hanya lewat begitu saja.
“..kapan pemuda itu bergerak menghindar!?”
“..waaah..hebat!!”
{wuuut}...{wuuut}..{wuuut}..
Bergantian seluruh pasukan mulai menyerang Zen, namun Zen tetap tidak berpindah tempat, semua serangan hanya melewati tubuh Zen begitu saja.
“..hai anak muda!! Jangan Cuman menghindar!! Tunjukkan atraksi terbaikmu!” teriakan ayahnya Ziva terdengar keras dan menginginkan Zen untuk serius memberikan perlawanan.
“..euhmmm!” anggukan kepala Zen menandakan persetujuannya.
“..hyaatttt!!!”
Dua orang pasukan baret merah terlihat langsung melakukan kombinasi serangan bersamaan.
{dassshh!!}... {dassshh!!}....
{gubrakkkk}...
Keduanya langsung terpental jauh dari tempatnya semula, lanjut meringkuk menahan kesakitan yang luar biasa karena efek tendangan side kick dari Zen yang terlihat sangat keras menghantam dada mereka berdua.
“..inii...! luar biasa!!”
“..waaah...pemuda itu hebat!!”
“..patutlaah dua penjambret kapan hari terkapar hanya dengan satu kali tendangan!’
“.iya benar...lihat saja pasukan baret merah saja sampai terpental karena terkena seranganya!”
Berbagai komentar online terlihat membanjiri akun resmi milik kemiliteran kabupaten yang melakukan live streaming.
“..segera tarik yang terluka!’ perintah kolonel agus ketika melihat dua orang anggota pasukan baret merah sudah terkapar.
“..boleh juga pemuda ini!” sisa 8 orang terlihat waspada.
“..kita serang bersama-sama!!”
“..siap!!”
Kedelapan orang pasukan baret merah langsung mengeroyok Zen secara bersama-sama!
{wuussshhhh}...{wuussshhhh}
{dasshh}..{dasshh}..{dasshhh}
{gubraakkk}........
Belum juga serangan mereka mengenai Zen, kedelapan orang anggota pasukan baret merah itu sudah terhempas jauh puluhan meter dan terkapar pingsan.
“..bb-bagaimana bisa!!"
Bupati, muspida, kolonel Agus, kapolres dan para tamu yang diundang langsung berdiri dari tempat duduknya sambil membuka mulutnya saking terkejutnya.
Live streaming akun resmi militer langsung dibanjiri dengan berjuta komentar yang menyanjung sosok Zen.
Bahkan banyak orang tua yang rela ingin mendatangi kabupaten tempat Zen tinggal dengan tujuan untuk memberikan anak gadisnya secara sukarela.
“..dasar tukang pamer!!!”
Ziva semakin merajuk! Sambil menghentak-hentakkan kakinya.
__ADS_1