PEMULUNG SUKSES

PEMULUNG SUKSES
Rejeki jangan ditolak


__ADS_3

Mansion tuan Diego ini letaknya tidak jauh dari kota megapolitannya negeri Jiran.


Luasannya tidak main-main, hampir 2 hektar sendiri pagar mengelilingi bangunan dan komplek mansion milik tuan Diego.


Bangunan utama terletak dibagian ujung belakang, sedangkan letak pintu pagar utama dengan bangunan mansion utama berjarak 200 meter jauhnya.


Saat kendaraan MPV mewah memasuki pintu gerbang terlihat beberapa penjaga sudah memberikan hormat dengan membungkukkan badan mereka dalam-dalam.


Ornamen-ornamen vrindavan terlihat jelas menghiasi bangunan utama mansion.


{dapp}


Pintu mobil yang tadinya terbuka saat semua penumpangnya turun, kini terlihat telah ditutup kembali oleh para pelayan mansion yang turut menyambut kedatangan pemilik bangunan.


“..mari silahkan dokter Zen, lewat sebelah sini!” Tuan Diego langsung yang menyarankan Zen untuk menuju sebuah arah pintu masuk dimana sudah banyak para pelayan yang berbaris rapi memberikan penyambutan.


“..tunggu sebentar tuan Diego!”


“..sebaiknya kita mengarah langsung lewat sebelah lorong itu!” ujar Zen yang memiliki pemikirannya sendiri.


Tuan Diego pun sejenak berhenti dari langkahnya, tidak menunggu lama, tuan Diego pun menginstruksikan pada kedua anaknya untuk mengikuti langkah Zen.


“..ada apa dokter Zen! Kenapa kita lewat lorong ini!” tanya salah satu anak tuan Diego.


“..Arlan, lebih baik kamu diam dulu, jangan mengganggu dokter Zen!” Tuan Diego langsung menginterupsi pertanyaan salah satu anaknya yang bernama Arlan.


“..awas hati-hati, perhatikan langkah kalian! Ikuti kemana kaki saya melangkah! Jangan keluar dari jejak langkah saya!” Zen terlihat memperingatkan semua orang yang mengikutinya.


Untungnya mansion tuan Diego ini memiliki penerangan yang sangat cukup disemua sisinya, sehingga langkah semua orang yang berada dibelakang Zen bisa dengan tepat mengikuti langkahnya.


Zen kini telah sampai diarea paling belakang dari bangunan mansion, sebuah kolam renang berukuran besar terlihat dibagian belakang.


Kolam renang yang mampu menampung gajah berendam sebanyak 10 ekor tentunya.


“..dukun sakti telah menguasai seluruh isi rumah kalian, para pelayan yang tadi berbaris rapi menyambut didalam rumah, semuanya sudah bersiap dengan senjata tajam dibalik bajunya!”


“..ap-apaaa??” tuan Diego dan anak-anaknya yang memang semuanya diajak keluar dari mansion miliknya nampak terheran.


“..tidak bisa disalahkan, jiwa dari pelayan kalian telah dikuasai oleh kekuatan hitam dukun sakti itu!”


“..kalian semua aman disini! Ingat, jangan ada yang keluar dari lingkaran yang telah aku buat!” perintah Zen sambil menunjukkan lingkaran yang menyala saat semua anggota keluarga telah berkumpul.


“..se-sejak kapan ada lingkaran ini?!” Arlan kembali tertegun.


“..dokter Zen memang penuh dengan kejutan!” tuan Diego memuji kemampuan Zen.


Zen tidak memperdulikan pujian dari pemilik mansion, misinya saat ini hanya menyelesaikan dengan segera ulah dukun sakti yang sudah kelewat batas.


{srakk..grakk}


Langkah serempak terdengar keluar dari banguan mansion lewat pintu bagian belakang.


Samar-samar terlihat barisan pelayan yang memegang senjata tajam dengan pandangan mata yang terlihat kosong, karena jiwa mereka sudah dikuasai oleh ilmu hitam milik dukun Sakti, Mat Zin.


“..itu-itu kenapa dengan semua pelayan mansion ini?” Arlan berteriak histeris.


“..Arlan! tenangkan dirimu!” tuan Diego lantas berkata dengan keras untuk menyadarkan Arlan.


“..kita percayakan semua pada dokter Zen!” lanjutnya.


Adalah Tuan Diego, Arlan, Zulkarnaen, dan dua orang pengasuh Zulkarnaen yang memang masih berusia 5 tahun, semuanya berkumpul didalam lingkaran dengan saling menguatkan satu sama lain.


{clappp}


Zen merebut semua senjata tajam dari tangan semua pelayan mansion dengan begitu mudah.


{tap...tap..tap}


Dengan gerakan super cepat yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia normal, Zen menotok jalur jiwa para pelayan mansion.


{bruggkkk..}


Bersamaan dengan Zen kembali ke tempatnya semula, semua tubuh pelayan mansion langsung ambruk.


{swooosshhh}


Setelah Zen merapalkan beberapa mantra dan menyebarkan kertas formasi berwarna kuning dengan tulisan hruuf kuno, terlihat bayangan hitam yang tadinya berada didalam tubuh para pelayan mansion langsung keluar dengan sendirinya.


“..aakkkhhhggg”


“...aagggrrhhhhh”


Satu persatu iblis jiwa itupun terhisap kedalam pusaran kertas formasi yang terlihat berputar-putar membentuk corong penghisap.


{blaarrr}


Muncul kilatan dari kekosongan udara.


Sosok Mat Zin terlihat memegang tongkat saktinya, dengan berdiri setengah bungkuk karena ada punuk dibelakang lehernya.


“...kembalikan jiwa iblis milikku!!!” ucap Mat Zin mengintimidasi Zen.


“..woi dukun bengkok! Mau sampai kapan kamu menuruti perintah orang yang memakai jasamu itu! Ketahuilah, kekuatanmu tidak bisa menandingiku, bahkan makhluk penunggu goa itupun tidak bisa! Jadi menyerahlah!” Zen balik menyerang dukun Mat Zin dengan kata-kata sarkasme nya.


“..kurang ajar! Mulutmu memang tidak pernah disekolahkan anak muda! Aku dukun sakti negeri Jiran ini tidak bakal termakan omonganmu! Sini segera kembalikan jiwa iblis milikku!” teriak dukun Mat Zin kali ini sambil menggedor-gedorkan tongkatnya ketanah.


Nampak raut wajah kekesalan dari dukun Mat Zin,


“..eh,..kenapa ini? Kemana para lelembut yang aku panggil!” dukun Mat Zin terheran, sudah beberapa kali dirinya menghentak-hentakkan tongkat saktinya, namun tidak ada kunjung muncul makhluk penghuni neraka keluar.

__ADS_1


Semua karena ulah Voodo, dirinya menolak permintaan ijin dispensasi keluar dari pasukan bala bantuan iblis neraka yang ingin membantu si dukun Mat Zin, Voodo ini bukan makhluk sembarangan, sebagai penjaga palang pintu persimpangan neraka dengan dunia lelembut, tidak sembarang makhluk penghuni neraka bisa keluar masuk begitu saja tanpa izin darinya.


Jadilah dukun Mat Zin kesalnya bukan main,


“..mau sampai besok kamu memukul-mukul tongkatmu juga engga bakalan datang itu makhluk yang kamu panggil!” ujar Zen mengejeknya.


“..diam kamu pemuda sombong!!cuiihh..” Dukun Mat Zin mulai kehabisan energinya karena setiap kali dirinya menghentak-hentakkan tongkat saktinya, maka energi kehidupannya akan terhisap sebagai bayaran DePe atas pemanggilan para iblis penghuni neraka.


“..hah..hah,,,” nafas Dukun Mat Zin terlihat naik turun tidak beraturan, peluhnya sudah bercucuran, sementara energi kehidupannya semakin menipis.


“..kkamu! bb-bagaiamana kamu melakukannya anak muda?!” tanya dukun Mat Zin yang sudah mulai kalah mental.


{siuuutt}


Zen langsung mengambil paksa tongkat sakti milik dukun Mat Zin.


“..tongkatkuuu!!!” teriak dukun Mat Zin.


{blarrrr}


Zen meremukkan tongkat sakti milik dukun Mat Zin, tidak hanya remuk, tongkat itu langsung menjadi debu yang berterbangan begitu saja.


“...aaakhhhggg...tidaaakkk!!!” dukun Mat Zin sangat marah, dirinya sangat terhina dengan langkah yang dilakukan oleh Zen.


“..tunggu pembalasanku anak muda!” Dukun Mat Zin bermaksud untuk pergi meninggalkan lokasi.


{jedukkk}


{duunggg}


“...aduhhh!!” teriak kesakitan dukun Mat Zin ketika jidatnya merasa membentur seseuatu.


Tanpa disadari oleh dukun Mat Zin, disekitarnya sudah berdiri kubus transparan berukuran 3x3x3m3, sebuah kurungan yang akan terus menguras energi kehidupan miliknya.


“..tubuhku! kenapa dengan tubuhku!”


“...aakkkhhhh” jeritan kesakitan dukun Mat Zin terdengar sangat menyedihkan.


Tubuh yang tadinya terlihat sehat bugar, lama kelamaan langsung kisut bahkan tinggal tulang belulang dengan kulitnya saja.


Bola mata Dukun Mat Zin terlihat ingin lepas dari kerangka tengkoraknya.


{ceplukkk}


Benar saja, dua buah bola mata itu keluar setelah beberapa waktu kulit tengkoraknya tidak mampu lagi bertahan.


{duaarrrr}


Kerangka dukun Mat Zin langsung hancur lebur menjadi debu yang beterbangan.


Semua mata yang melihat adegan penyiksaan hidup-hidup tidak ada yang mampu melihat sampai habis, perut mereka mual dan bahkan ada yang langsung tergolek pingsan saking ketakutannya.


Sementara itu anaknya paling kecil dan dua orang pengasuhnya sudah pingsan sejak pertama kali, semua karena Zen yang telah menidurkan mereka lebih awal.


Arlan yang tadinya kuat untuk melihat adegan penyiksaan dukun Mat Zin, terlihat mual dan muntah-muntah, sebelum akhirnya tertidur karena pingsan.


“..bantu saya untuk meminumkan pil ini pada seluruh anggota keluarga tuan Diego!” ujar Zen memberikan butiran pil diatas telapak tangannya.


Dengan anggukan kepala tuan Diego lantas mengambil butiran Pil yang dibungkus dengan kertas formasi dan segera membantu meminumkan pil-pil tersebut pada semua anggota keluarganya.


Tanpa terkecuali, para pelayan yang pingsan tidak sadarkan diri juga telah dibantu untuk menelan pil dari Zen.


“..ini...!” satu persatu para pelayan mansion segera terbangun dengan penuh keheranan.


“..tuan...!” dengan sigap mereka segera merapikan pakaian mereka yang terlihat berantakan dan kotor karena tertidur diatas tanah merah.


Sementara tuan Diego masih fokus dengan anggota keluarganya, Zen sudah melesat jauh meninggalkan mansion mewah milik tuan Diego.


{tap}


Zen saat ini berdiri didepan sebuah dinding cadas pegunungan gunung berapi diwilayah negeri jiran.


“..keluarlah!” Zen berteriak dengan menyuntikkan energi spiritualnya.


{drrrrrggggggg}


Goa didepannya langsung berguncang hebat, suara Zen seperti gunung berapi yang ingin memuntahkan isinya, masyarakat disekitar gunung berapi terlihat panik dengan guncangan yang bisa dirasakan dalam radius 10 kilometer dari pusat pijakan Zen.


{drrrrrrr}


Perlahan pintu Goa terbuka.


{bruggghhh}


“..ampuuun tuan... ampuni saya...!”


Tubuh dempal dengan tinggi dua meter lebih itu langsung ambruk bersimpuh meminta ampunan.


Sejak Zen beraksi di mansion milik tuan Diego, Zen sudah memerintahkan Voodo untuk melacak dan langsung memberikan pelajaran pada raja Iblis penunggu gunung Johor.


Dari tubuh raja iblis, terlihat banyak sekali luka-luka sayatan.


“..aiishhh... Voodo memang kebangetan kalo sudah disuruh!”


“..penyakitnya suka kumat kalo sudah disuruh menyiksa tahanan!”


Zen bergumam pada dirinya sendiri.


Sebenarnya Zen kasihan, karena wajah dari Raja Iblis penunggu gunung johor itu sudah babak belur tidak lagi sempurna.

__ADS_1


Luka bekas cambukan, luka bekas hantaman keras dibagian muka semuanya terlihat sangat sempurna mengenai sasarannya.


“..hehehe... maaf tuan, kelepasan!” kata Voodo yang cengar cengir.


“..kalo masih kurang, bawa dia ke penjara lukisan! Lanjutkan lagi sampai kamu puas!!”


“..ampuuun tuaaan...ampuni sayaaa...!!” Raja Iblis penunggu gunung Johor itu lantas merangkak kearah Zen.


Seringai wajah Voodo terselip dalam topeng yang tidak pernah dibukanya selama ini, dan hanya Zen lah yang sudah melihat wajah asli Voodo.


“..ini tuan, semua sudah ada didalam cincing ruang!” Voodo menyerahkan dengan penuh hormat sebuah cincin ruang yang berisi semua harta yang ada didalam Goa gunung johor, tidak hanya harta didalam Goa, semua harta yang melekat didalam tubuh Raja Iblis gunung johor juga turut dirampas.


“..latih dia, dan ajari dia supaya kedepan bisa berguna buat kita!” ucap Zen memberikan perintah.


“..huuufftt!” raja iblis Gunung Johor yang mendengar perintah Zen pada makhluk tersadis yang ada disampingnya hanya bisa menghela nafas beratnya.


Dalam bayangan dirinya, sudah dipastikan badannya akan babak belur saat menjalani pelatihan keras ala Voodo, satu hal yang dia syukuri, tidak hanya dia saja yang akan menderita, semua anak buahnya juga akan turut ikut didalam pelatihan itu nantinya, jadi raja iblis gunung johor tidak sendirian saat mengalami penyiksaan.


{sslappp}


Zen lantas memasukkan Voodo beserta tawanan yang lain langsung kedalam penjara lukisan tempat dimana Voodo melakukan pelatihannya.


Dirasa tidak ada lagi sumber masalah yang bisa membuat kerusuhan dengan berlatar belakang dunia hitam dinegeri Jiran, Zen lantas berpindah kembali ke mansion milik tuan Diego dengan menggunakan teleportasi.


“..negeri ini seharusnya bisa seperti yang lainnya, terlalu banyak dukun hitam yang berkeliaran! Sebaiknya aku tinggal beberapa hari kedepan, siapa tahu ada bakat alam yang bisa aku ajak bergabung kedalam departemen khusus rumah sakit internasional” gumam Zen ketika tubuhnya sudah keluar dari gerbang teleportasi.


“..dokter Zen!” teriakan tuan Diego yang sengaja menunggu kedatangan Zen kembali.


Tuan Diego mengucapkan terima kasih, berkat Zen mansionnya menjadi terbebas dari segala bentuk ilmu hitam yang selama ini menggerogoti dari dalam.


Mereka kemudian bertukar kalimat hingga larut malam, dan pembicaraan itu diakhiri saat Zen ijin untuk istirahat.


Tuan Diego sudah menginstruksikan kepada pelayannya untuk mempersiapkan kamar tamu istimewa bagi Zen.


Tidak ada keraguan bagi Zen untuk menerima pelayanan yang diberikan oleh Tuan Diego.


“..aku harus memberikan sesuatu yang terbaik buat dokter Zen” gumam pribadi Tuan Diego ketika sudah bersiap untuk istirahat didalam kamarnya.


Malam itu tidak ada lagi gangguan supranatural didalam mansion, kecuali penjaga yang sedang bertugas, selebihnya sudah larut dalam mimpi mereka masing-masing.


*pagi hari kalender yang berbeda masih ditempat yang sama*


“..selamat pagi!” Zen menyapa semua orang yang sudah berada dimeja makan.


“..pagi dokter Zen!”


Raut wajah ceria dan segar terpancar pada semua wajah penghuni mansion mewah milik tuan Diego.


“..silahkan dokter Zen, pelayan sudah menyiapkan hidangan melayu ada, western juga ada, jadi silahkan, dan jangan sungkan!” sapa sopan pemilik mansion pada Zen.


Zen tidak merasa sungkan dengan jamuan yang diberikan oleh tuan Diego, selama tiga puluh menit lamanya mereka semua fokus dengan sarapan mereka masing-masing tanpa ada yang bersuara.


{kreeettt}


Zen menggeser kursinya, kemudian berdiri untuk meninggalkan lokasi meja makan.


Tidak hanya Zen, tuan Diego dan Arlan juga ikut bergerak.


“..suasana di mansion ini sangat sejuk, jauh dari penatnya kesibukan dipusat negeri Jiran!” sebuah rentetan kalimat yang langsung dianggukkan oleh pemilik mansion.


“..apa rencana dokter Zen selanjutnya?” tanya Tuan Diego.


“..kebetulan saya ada rencana mendatangi sebuah kuil disebelah selatan negeri ini!” ujar Zen sambil memandang jauh kedepan.


“..ooh saya tahu Kuil kuno yang menjadi perdebatan dengan negera perbatasan!” ujar tuan Diego Menimpali.


“..maksud Papa kuil Tao kah?” Arlan ikut bersuara.


“..iyaa..kuil yang sedang rame dengan pihak Vietkong itu!” jawab tuan Diego.


Mereka bertiga kemudian bertukar kalimat dengan pembahasan ringan sambil menikmati teh pagi hari.


“..naah itu sudah datang!” tuan Diego langsung bersuara ketika melihat tiga orang berjas rapi terlihat menuju kearah mereka duduk.


Karena Zen bukan orang yang suka ingin tahu urusan orang lain, kedatangan mereka bertiga tidak menjadi pertanyaan baginya.


“..ambil kursi disana, dan letak kemari!” perintah tuan Diego.


Ketiganya lantas bergerak mengikuti arah jari telunjuk tuan Diego.


“..dokter Zen, perkenalkan mereka bertiga adalah notaris dan lawyer internasional saya” kata tuan diego.


Zen langsung menyapa mereka satu persatu dengan berdiri.


“..tujuan mereka datang untuk memindahkan 60% saham mayoritas pertambangan dan sawit kami menjadi atas nama dokter Zen!”


“..dokter Zen sudah banyak membantu kami sekeluarga, sudah patutlah dokter Zen menerima ini semua!” ujar tuan Diego.


Zen ketika mendengar kalimat yang diucapkan tuan Diego sedikit terkejut, dirinya tentunya tidak ingin menampik pemberian orang, rejeki kok ditolak! Jangan nolak rejeki.


Acara serah terima kepemilikan saham mayoritas itupun berlangsung dengan penuh senyum, tuan Diego ingin menonjolkan nama dokter Zen didalam bisnisnya, sebab dirinya masih menyakini jikalau diluaran masih banyak pihak-pihak yang mengincar keluarganya.


Dengan nama dokter Zen sebagai mayoritas pemilik saham, secara tidak langsung orang-orang yang membencinya akan mulai berbalik arah.


Dalam pikiran tuan Diego, “siapapun yang akan mengganggu dokter Zen, pastilah akan menerima balasan yang lebih mengerikan”.


Zen bukannya tidak paham pola berpikir dari tuan Diego, namun baginya rejeki didepan matanya tidak mungkin ditolak.


“..baiklah tuan Diego, acara serah terima kepemilikan saham mayoritas sudah selesai, kedepannya kami akan segera mendaftarkannya secara internasional, sehingga nama dokter Zen dapat dilihat secara global” kalimat tersebut menjadi kalimat penutup dari pihak lawyer dan notaris internasional yang bekerja dibawah kuasa tuan Diego.

__ADS_1


__ADS_2