
{gludukkk.... gludukkk }
Suara ban pesawat terbang yang ditumpangi oleh Zen mendarat di bandara kawasan Seoul.
Penerbangan yang ditempuh dalam waktu 4 jam itu terlihat tidak ada gangguan cuaca selama masa penerbangannya.
“..terima kasih...”
“..datang kembali..”
“..selamat datang di Seoul”
Ucapan penyambutan disampaikan oleh crew pesawat terbang, sambil membungkukkan badannya ketika melihat Zen keluar dari badan pesawat.
Zen menanggapi dengan senyuman kecilnya yang khas.
Dengan berjalan santai Zen mencoba untuk menyalakan hapenya, bermaksud untuk mengabari utusan Mr. Lee yang telah menunggu didepan kedatangan bandara.
Setelah menyelesaikan proses imigrasi yang terbilang cepat, Zen langsung menuju pintu kedatangan.
Jika orang lain masih menunggu koper bawaan mereka, beda dengan Zen yang langsung berjalan santai tanpa harus repot dengan urusan perkoperan.
“..selamat datang di seoul Tuan muda Zen!”
Saat dirinya fokus dengan hapenya, ternyata didepannya sudah berdiri dengan tersenyum orang-orang dari bank swasta terbesar di konoha.
“..waaah, jadi merepotkan ini!” Zen yang bisa membaca situasi, jikalau orang-orang suruhan bos besar mereka sudah ada bersiap menyambutnya, artinya bos besar mereka ada diseoul juga.
Zen tidak mempermasalahkan darimana mereka bisa mengetahui tujuan negara yang Zen tuju, pastilah sindikat mereka sudah benar teruji.
“..sebentar ya, saya harus menghubungi pihak yang telah menjemput saya, tidak enak kalo langsung main tinggal saja!” ucap Zen.
“..baik tuan muda Zen!”
Setelah melakukan serangkaian komunikasi untuk membatalkan pihak yang menjemputnya, Zen segera ikut rombongan mobil milik tuan besar yang sudah siap didepan pintu kedatangan.
Didalam perjalanan menuju hotel.
“..dinegara ini bank kita juga memikiki cabang usaha tuan Zen!”
“..tuan besar jangan terlalu sungkan, kita akan banyak berdiskusi kedepannya, jadi panggil saja Zen!” ujarnya.
“..maaf tidak bisa Tuan Zen, meskipun saya sudah senior, tapi sangat jauh jam terbangnya dibandingkan Tuan Zen, jadi minta izin biarkan saya tetap memanggil seperti sekarang” jawab sopan tuan besar.
“..aiissshhh, tuan besar bisa saja, baiklah jika itu keinginan tuan besar, silahkan saja!”
Yang tidak Zen ketahui, setelah penandatanganan berkas pengalihan kepemilikan bank swasta terbesar di konoha, wajah Zen sudah dipampang diseluruh bagian kantor dan anak usaha, sehingga jika karyawan mengetahui keberadaan Zen disekitar mereka, tidak akan lagi ada drama seperti novel-novel.
{dapp}...{dapp}
Pintu mobil terbuka dua-duanya, setelah penumpangnya keluar, kembali pintu tertutup rapat.
“..silahkan tuan Zen, saya harap tuan menikmati kamar hotel yang telah kami pilihkan, dan kamar ini bersifat open, jadi tuan Zen bisa tenang kapan saja tuan bisa tinggal selama tuan Zen inginkan!”
“..terima kasih banyak tuan besar sudah repot menyiapkannya untuk saya!”
Rombongan yang turut menyertai Zen terlihat memberikan waktu lebih pada Zen untuk beristirahat, karena waktu juga masih menunjukkan pukul 5 pagi waktu negeri gingseng.
“..besok pagi, jangan sampai ada yang telat bangun, kita harus siap lebih dulu di depan kamar tuan Zen, kita harus mengetahui rencana kerja dari tuan Zen dimulai dari agenda makan pagi!”
“..baik tuan besar! Segera kita atur tempat dan waktu untuk beberapa jam lagi!”
***
Disebuah gedung pabrik yang ukurannya 4 hektar lebih, terlihat persiapan penyambutan Zen sebagai pemilik baru pabrik recycle terbesar urutan ke 10 dinegeri gingseng telah selesai.
Mereka tinggal menunggu kedatangan Zen yang informasinya bersama rombongan.
“..siapa gerangan sosok pemuda ini, sampai pihak bank swasta terbesar dinegaranya turut bersama”
“..ah, sebaiknya aku tidak menyinggung pribadinya!”
Gumam sendiri Mr. Lee sambil melihat persiapan yang telah dilakukan.
“..tuan Lee, persiapan sudah selesai semua, kita tinggal menunggu kedatangan pemilik baru!” ucap staff manajemennya.
Mr. Lee juga sudah mengenalkan wajah dari Zen, dirinya juga tidak ingin terjadi satu dua hal yang nantinya bisa merusak agenda acaranya, hanya gegara staff atau karyawan pabrik tidak mengetahui wajah dari Zen.
Beberapa karyawan terlihat bingung, karena wajah zen sangat mirip dengan wajah idol K-pop negaranya.
Padahal informasi yang dibagikan, pemilik baru berasal dari negara konoha. Sebuah negara yang sangat gandrung dengan k-pop generasi mudanya, terutama yang bergender cewek.
***
Pukul 09 pagi waktu seoul.
__ADS_1
Zen terlihat tertawa ringan dengan jokes-jokes yang dilemparkan oleh tuan besar, mereka dan rombongan sudah berada disebuah ruangan VVIP untuk sarapan bersama.
Zen sangat bersyukur dengan kondisi yang dijalani sekarang, 180 derajat dibandingkan kondisi dia beberapa bulan yang lalu.
Dalam agenda makan pagi itu Zen menceritakan agendanya selama dinegeri gingseng.
Dimulai dari rencana akuisisi pabrik recycle terbesar nomor 10, kemudian rencana menemui beberapa vendor penyuplai pabriknya dikemudian hari, serta menemui pejabat terkait ekspor yang akan dilakukan oleh Zen kedepannya.
Beberapa orang yang ikut didalam rombongan kembali dibuat kagum dengan aktivitas anak muda didepan mereka.
Setelah satu jam, agenda makan pagi itu berakhir.
Kini rombongan yang berjumlah 4 mobil sudah meninggalkan pelataran hotel dan menuju kawasan pabrik yang ada dipesisir pantai negeri gingseng.
Satu jam kurang rombongan Zen telah tiba di lokasi pabrik, penyambutan dari pihak pabrik terlihat sangat meriah.
Semua karyawan pabrik berjejer dari pintu masuk pagar kawasan pabrik hingga menuju pintu masuk gedung.
Jajaran direksi dan pemilik saham terlihat sudah berjejer didepan pintu masuk gedung pabrik.
{dappp}..{dappp}
Zen dan tuan besar terlihat keluar dari mobil mewah yang mengantarkan mereka.
“..selamat datang tuan Zen!”
“..selamat datang rombongan!”
Setelah acara ramah tamah, zen beserta rombongan diajak berkeliling kawasan pabrik dengan menggunakan golf car.
Rombongan bank swasta terbesar di konoha itu terlihat terpukau dengan manajemen pabrik yang sedang diakuisisi oleh Zen.
Kedatangan mereka dilokasi pabrik sekaligus memberikan kenyamanan kepada pemilik pabrik yang mengira Zen akan menggunakan fasilitas kredit dibank tersebut.
“..ooh seperti itu!”
Mr. Lee terlihat begitu kagum ketika pihak bank menceritakan bahwasanya Zen baru saja mengakuisisi bank swasta terbesar di negara asalnya.
Waktu bergulir begitu cepat, setelah selama 3 jam kurang lebih Zen dan rombongan menyelesaikan proses akuisisi pabrik terbesar No. 10 dinegeri gingseng, kini Zen dan rombongan kembali ke hotel tempat mereka menginap.
Aktivitas pabrik kembali berjalan lancar dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan ekspor 100%.
Beberapa saat yang lalu Zen juga telah melakukan Zoom meeting dengan pihak pabrik pembuatan plastik yang ada konoha, total ada 20 pabrik besar yang menjalin kerjasama dengan pihak Zen secara bersamaan.
Mr. Lee dan rombongan tuan besar dibuat takjub dengan model kerja Zen yang langsung das des-sat set bergeraknya.
“..baru saja tuan Zen mengakuisisi pabrik dengan nilai yang wah, hari itu juga Tuan Zen mendapatkan kontrak jangka panjang pemenuhan biji plastik di 20 pabrik besar di konoha!”
“..benar tuan besar, sama halnya tuan Zen hanya memindahkan uang ke kantong kiri, kantong kanan terisi lagi, bahkan jumlahnya lebih luber dari yang dipindahkannya!” jawab sang asisten tuan besar.
Rombongan pihak bank yang terdiri dari tuan besar dan jajaran direksi terlihat melakukan meeting internal dan membahas terkait pemilik baru mereka.
“..siapa sangka! Bisnis barang bekas yang tidak pernah kita lihat, potensinya luar biasa besarnya!”
“..betul tuan besar, saya sendiri sejak datang kerumah tuan Zen sampai ikut dalam kunjungan kali ini menjadi terbuka pola berpikir saya!” jawab salah satu direksi yang gatal untuk ikut berkomentar.
***
“..jadi kapan rencananya kamu pulang?!” tanya Ziva yang terhubung dengan Zen melalui Vcal.
Ziva yang ngebet untuk melihat wajah Zen mau tidak mau Zen harus memenuhinya, meski dirinya merasa tidak nyaman.
“..rencananya minggu depan, setelah selesai dengan konsolidasi supplier disini!?”
“..terus kamu engga datang dong waktu kelulusan?!” tanya Ziva dengan ekspresi sedih.
“..yaa begitulah, namanya mengejar mimpi!”
“..mimpi apalagi siih Zen, bukannya kamu sekarang sudah meraih big dream kamu?!”
Pembicaraan beda jenis itu terus berlangsung hingga beberapa puluh menit lamanya.
Adalah Zen yang menyelesaikan komunikasi lebih awal, karena ada pesan chat dari beberapa calon supplier dinegeri gingseng sudah berada diloby hotel tempatnya menginap.
Malam itu Zen akan menemui 10 orang supplier besar yang akan menyuplai kebutuhan botol bekas serta pellet biji plastik yang sesuai dengan kriterianya.
Selama 4 jam lebih Zen menemui satu persatu calon suppliernya, dengan kemampuan paranormalnya Zen bisa melihat kapabilitas atau kemampuan dari masing-masing supplier yang datang.
Dari 10 supplier yang datang, hanya 4 supplier yang masuk kriteria.
Zen berencana untuk mengumpulkan kembali calon supplier keesokan harinya, karena waktu sudah menunjukkan tengah malam.
***
Disebuah club malam, tempat berkumpulnya para pengusaha recycle.
__ADS_1
“..apakah kalian sudah mendengar si Lee menjual pabriknya pada orang konoha?!”
“..apa yang tidak kita dengar!”
“..benar, terus bagaimana rencana selanjutnya, kita sudah menghasilkan banyak sumberdaya untuk mengisolasi bisnis si Lee, jangan sampai orang baru malah membuat kita rugi kedepannya!”
“..aku juga mendengar jika prioritas pemilik baru adalah 100%”
“..benar itu, dan gilanya, 20 pabrik besar dinegara hari itu juga mengajukan kontrak kerjasama dengan nilai yang sangat fantastis!”
“..barusan aku mendapatkan informasi, jika supplier yang sudah kita tekan malah berbalik mendukung pemilik baru!”
Diskusi yang diiringi musik bergenre EDM itu terus bergulir hingga mendapatkan kesimpulan, jika mereka akan melancarkan aksinya kembali.
Yang pertama mereka lakukan adalah menekan supplier agar tidak memberikan dukungan bahan baku bagi pabrik milik Zen.
Kedua, mereka akan melakukan sabotase mesin produksi dengan menyewa hacker terhebat.
Langkah terakhir, mereka akan membuat karyawan pabrik untuk memberontak dengan membuat beberapa aksi merugikan.
Jam 4 pagi diskusi mereka disudahi, beberapa preman bayaran sudah mulai bergerak menuju lokasi 4 supplier yang mendukung Zen.
empat orang supplier yang sudah bisa Zen baca pikirannya melalui kemampuan paranormalnya, sebelumnya mereka enggan untuk mendukung karena takut aksi kekerasan yang mengintai mereka.
Namun Zen yang bahkan belum mengenal mereka ber 4, langsung memotong cerita mereka.
Zen menceritakan jikalau dirinya akan membantu menyelesaikan aksi kekerasan yang mengintimidasi usaha mereka jika itu terjadi.
Sepertinya waktu menunjukkan pukul 5 pagi waktu setempat.
Zen yang sudah berada didepan pintu salah satu supplier yang mendukungnya, terlihat duduk santai diatas bongkahan batu besar.
Pandangannya menatap beberapa puluh meter didepannya, terlihat sekelompok orang dengan aura tidak baik menuju kearahnya.
Pihak supplier yang kedatangan Zen di pagi buta jam 5 semakin bingung.
Bagaimana Zen bisa mengetahui jikalau tempatnya akan menjadi sasaran preman yang bermaksud mengganggu usahanya.
Namun tidak ingin berpikir jauh, supplier yang sudah membuktikan jikalau Zen datang membantunya semakin percaya dengan semua isi kesepakatan yang telah terjalin tadi malam.
“..hei! sudah dibilang jangan mendukung pabrik itu, kamu masih saja bandel!”
“..yaa benar! Jangan sampai kalian menyesal telah melanggar kesepakatan!”
Suara teriakan ketua geng disauti anggotanya terdengar keras dan jelas membelah sunyinya pagi.
{siuuutttt}
Zen langsung menggerakkan tangannya, orang yang disasar adalah ketua geng preman didepannya.
“..tutu-turunkan aku!!” ketua geng preman itu terlihat panik dirinya tiba-tiba terangkat naik keatas. Kakinya menjejak-jekakkan kearah bawah namun tidak kunjung bisa turun.
“..jika kalian masih saja mengganggu para suplierku! Jangan salahkan aku, jika aku akan melemparmu ke bulan sana!”
Seluruh anggota geng preman itu terlihat gemetar badannya.
Jatuh terduduk lemas tak bertenaga, melihat ketua geng mereka diangkat tinggi diatas tanah,
“..kekuatan macam apa orang ini!”
Supplier yang mendukung Zen terlihat kagum dengan apa yang dilihatnya barusan.
“..ingat kata-kataku! Jika kalian masih saja mengganggu,jangan salahkan aku, nyawa kalian hanya seperti semut didepanku!”
Semua yang terduduk lemas menganggukkan kepalanya tanda persetujuan.
Setelah ini mereka harus segera menghilang dari kota besar dan tidak bakal kembali lagi.
{brukkkk}
Zen menjatuhkan begitu saja ketua geng preman, hingga pantatnya menghantam kerasnya permukaan tanah.
“..aaakkhhhh!!”
Teriak ketua geng preman kesakitan berguling-guling ditanah.
“..bawa ketua kalian pergi, dan ingat apa kataku!”
“..baik tuan!”
Segera anggota geng preman itu membopong ketua mereka yang kesakitan untuk dibawa pergi menjauh.
“..terima kasih tuan muda! Anda hebat sekali!”
“..seperti janjiku, segera kabari jika kalian berempat mendapatkan perundungan kedepannya!”
__ADS_1
“...tentu tuan muda, kami berempat akan bekerja keras untuk memberikan dukungan penuh pada pabrik tuan muda, sesuai dengan kesepakatan yang sudah terjalin!”
Setelah tidak ada lagi yang perlu dibahas, Zen kemudian berjalan mengarah keluar kawasan para supplier, dan menghilang dibelokan jalan.