PEMULUNG SUKSES

PEMULUNG SUKSES
Kemalangan


__ADS_3

“..woi gembel, elu masih berani masuk sekolah!?”


“..iya, bukannya kakek kesayangannya sudah meninggoi!”


“..mau bayar pakai apa itu spp sekolah kamuu! Dasar gembel!”


Suara bullyan itu selalu terdengar ditelinga Zen saat dirinya masuk kedalam ruang kelas sekolahnya.


Bajunya yang lusuh,menguning dengan celana yang sudah hampir robek dibagian depan dan belakang ditutupinya dengan kain beda warna, bahkan reslitingnya sudah amburadul dan hanya diikat dengan menggunakan tali rafia saja oleh Zen.


Bajunya yang terlihat kekecilan menambah kesan menyedihkan dimata teman-temannya.


Zen terlihat tidak mengindahkan cacian dan makian dari kawan-kawannya, dan langsung duduk dikursi tempat duduknya yang sengaja di setting terpencil disudut kelas.


“..Zen! kamu dipanggil kepala sekolah diruang BK!” tiba-tiba salah satu kawan kelasnya bergender perempuan memanggil Zen untuk menghadap kepala sekolah segera.


“..tee-terima kasih!” Zen terlihat sedikit gagap ketika berhadapan dengan perempuan, karena sepanjang hidupnya dirinya besar dengan didikan kakeknya tanpa pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.


Tidak ingin menunda waktu, Zen langsung berjalan keluar kelasnya menuju ruangan BK yang berada tidak jauh dari ruangan kepala sekolahnya.


{tok...} {tok...} {tok...}


Suara ketukan pintu dari arah luar!


“..masuuk!” terdengar suara keras dari dalam ruangan.


{krieeettt...}


Pintu ruangan BK terbuka dari handle sebelah luar.


Zen terlihat memperlihatkan mukanya kedalam ruangan sambil celingukan kesana kemari melihat situasi dalam ruangan.


“..masuk Zen! Sini duduk!” ujar kepala sekolah yang terlihat baik.


Setelah Zen duduk disebuah kursi yang diposisikan seperti seorang terdakwa dipersidangan.


“..jadi begini Zen, langsung saja!” kepala sekolah langsung to the point.


“..kami selaku guru-guru disekolah ini sangat memahami kondisimu yang beberapa hari yang lalu ditinggal kakekmu!”


“..setelah kami melakukan rapat bersama, kami memutuskan untuk memberikan kamu tenggat waktu dua bulan kedepan guna kamu bisa melunasi kewajiban kamu disekolah ini!”


Dan begitulah, Zen yang sudah merasakan jikalau panggilan kali ini adalah penekanan atas tunggakan kewajiban dirinya disekolah hanya bisa menahan diri.


Setelah beberapa puluh menit lamanya dirinya dihadapkan dalam persidangan kecil sekolah, Zen diperbolehkan untuk masuk kembali kedalam kelas.


“..lihatlah kawan-kawan, Zen sang penunggak SPP masuk kekelas!”


“..huuuuu”


Berbagai cibiran mulai terdengar dan menyudutkan posisi Zen.


Diantara cibiran itu ada satu orang perempuan yang begitu mengkhawatirkan keadaan Zen.


“..sudah-sudah! Zen silahkan duduk dikursi kamu, dan kita lanjutkan pelajaran pagi hari ini!” ujar guru yang sudah mulai mengajar saat Zen dipanggil kepala sekolah.


Zen pada dasarnya anak yang cerdas lagi pintar, semua matapelajaran bisa dikuasai dengan sempurna karena otaknya yang jenius.


Beberapa kali Zen memecahkan soal yang diberikan oleh guru mata pelajarannya dengan jawaban sempurna, namun lagi lagi, kawannya membuly dengan sarkasme karena dirinya yang lusuh dan nunggak pembayaran spp.


SPP yang dimaksud disini adalah pembayaran Sumbangan Pembinaan Pendidikan yang ditagihkan secara berkala sejak seorang siswa masuk kesebuah sekolah. Dan, Zen sudah menunggak sejak kelas 2, lebih tepatnya sejak kakek Zen sakit, sehingga tidak ada lagi yang menjadi tulang punggung keluarga.


Nilai tunggakan Zen sendiri saat ini senilai satu juta lima ratus ribu rupiah, sebuah angka yang sangat besar bagi Zen yang hidup dengan serba kekurangan.


{tenggg}... {tenggg}...{tenggg}...{tenggg}...


Suara bunyi lonceng istirahatpun berbunyi.


Semua siswa berhamburan keluar kelas untuk menargetkan kantin sekolah.


Beda dengan Zen, dirinya keluar kelas dan menargetkan perpustakaan sekolah untuk kembali bergelut dengan aktivitasnya.


{kruuuukkkk}


Suara perut Zen!


Dirinya yang kembali menahan lapar terus berjalan menuju ke perpustakaan.


“..lihatlah si miskin!”


“..woi Zen, kenapa elu engga keluar dari sekolah ini sih?!”


“..iya bikin sakit mata gue saja!”


Adalah geng sekolah antara lain; yudi, bagas, doni, irwan, nando.


Mereka berlima adalah para senior kelas 12 sama seperti Zen namun beda kelas. Zen yang otaknya jenius masuk dalam kelas IPA dan mereka berlima penghuni kelas IPS.


“..woi!! songong ini bocah!”

__ADS_1


“..ditanya main melengos saja!”


Kelimanya semakin sewot ketika Zen tidak memperdulikan keberadaan mereka berlima.


Bagi Zen bullyan mereka sudah membuatnya kenyang setiap hari.


Tidak jarang Zen menjadi samsak hidup bagi kelimanya ketika pulang sekolah. Namun anehnya setiap Zen babak belur, tubuhnya akan kembali seperti semula keesokan harinya.


Bahkan Zen sempat diomongin memakai dukun desa yang membantu pemulihan dirinya.


“..udah, nanti pulang sekolah kita kerjain lagi bagaimana!?”


“..lagian tanganku sudah gatal sudah berapa hari tidak mukul orang ini!”


“..hahaha...boleh..boleh..boleh gass kuy!”


Kelimanya segera kembali berjalan kesudut sekolah untuk melanjutkan aktivitas merokok mereka.


Didalam ruangan perpustakaan yang memang terlihat nyaman dan sepi, Zen duduk disebuah bangku perpustakaan dengan buku tebal berisikan keilmuan dunia kesehatan dan kedokteran yang setiap hari dirinya baca.


Total sudah puluhan kali dirinya membaca buku dengan jumlah halaman 678 sampai selesai.


{klotakkk}


Tiba-tiba didepan Zen ada kotak makan berwarna pinky.


“..eh...” Zen terkejut.


“..makanlah, jangan biarkan perutmu kosong ketika sedang belajar!”


Zen terlihat ragu untuk mengambil bekal makanan milik perempuan yang ada didepannya.


“..ayoo!! buka!!”


“..apa perlu aku suapin?!”


“..tii-tidak perlu Ziva!” jawab Zen terbata.


Wanita muda itu bernama Ziva, satu-satunya kawan sekelas beda gender, yang selalu memberinya makanan meski tidak setiap hari, namun bisa dibilang dalam seminggu 3 hari Ziva membagikan kotak makannya untuk Zen makan.


{ehmmm...nyammm}


Zen terlihat sangat rakus menghabiskan roti lapis milik Ziva.


“..uhuk!” saking rakusnya Zen sampai tersedak.


“..nih air! Minum!” ujar Ziva sambil menyodorkan air minum.


Zen tidak ingin menunda lagi seperti saat menerima makanan, karena tenggorokannya perlu ada air untuk menyodok masuk kedalam mesin pencacahnya.


“..terimakasih Ziva!”


“..euhmmm!” respon Ziva dengan dingin.


Ziva sendiri sangat menyukai Zen, dengan alasan yang sederhana, karena Zen pintar. Namun Ziva sangat pandai menutupi rasa kagumnya.


Pendidikan keluarganya yang disiplin dan tidak memandang rendah orang lain membuat Ziva dengan mudah bisa berteman dengan Zen yang notabene anaknya lusuh dan kumuh. Tapi pintar!


Beberapa kali Ziva dan Zen terlibat dalam lomba olimpiade sekolah dan berhasil membawa piala dan prestasi bagi sekolah mereka.


Lain prestasi lain pula kewajiban pembayaran, begitulah konsep yang dikedepankan oleh kepala sekolah.


Meski Zen telah memberikan banyak piala, namun tetap kepala sekolah selalu memposisikan tekanan bayar kewajiban SPP pada diri Zen.


{klonteeeeng}...{klonteeeeng)...


Jam istirahatpun telah usai, Ziva dan Zen terlihat sama – sama keluar dari pintu perpustakaan untuk kembali kedalam kelas yang sama.


“..lihatlah, primadona sekolah sedang bersama si lusuh!”


“..eh iya!! Yudi, lihat targetmu diambil sama si gembel Zen tuh!”


“..ga bahaya ta yudi?!!”


Kawan kawan yudi terlihat memanas-manasi Yudi, karena dirinya kalah start sama Zen.


“..awas saja si lusuh! Bakalan aku habisi dia! Berani-beraninya dirinya mendekati primadona sekolah ini!”


Ujar Yudi sambil memandangi Ziva dan Zen yang berjalan beriringan masuk kedalam kelasnya.


Didalam kelas sendiri kawan – kawan Zen terlihat memandang iri khususnya yang laki-laki, karena primadona kelas mereka berjalan beriringan dengan Zen.


“..woi lusuh! Mana pantas dirimu bersanding dengan sang primadona sekolah kita!”


“..iya niih! Ngaca woi..ngacaaa!!”


“..maklum digubuknya kan engga ada kaca!!”


“..huuuuu”

__ADS_1


Berbagai cibiran terdengar memojokkan Zen yang segera bersikap menjauh dari Ziva.


“..apa sih kalian! Mending Zen yang pintar daripada kalian! Otak dungu dipelihara” sergah Ziva yang mulai terbakar emosi.


Setelah itu kondisi kelas langsung sunyi.


Bukan karena apa, kawan sekelas mereka sangat paham siapa Ziva dan orang tuanya.


Seorang kolonel disebuah kabupaten dengan photonya yang terpampang mentereng disemua pojokan kabupaten, membuat kawan-kawan Ziva tidak ada yang berani bersinggungan dengan Ziva.


Banyak yang memendam rasa kepada Ziva, namun takut untuk mendekati Ziva, karena beberapa kali kawan-kawannya memergoki Ziva dijemput oleh pasukan militer yang lengkap berseragam.


Kegiatan belajar dikelaspun mulai kembali berjalan dengan lancar setelah guru pelajaran mulai masuk kedalam kelas.


Setelah tiga jam kemudian.


{teenggg}...{teenggg}...{teenggg}...


Lonceng bunyi kegiatan belajar mengajar telah selesai, para murid segera berhamburan keluar ruangan kelas tanpa terkecuali Zen, yang keluar kelas paling akhir.


{bugghhh!!}


Tiba-tiba bogem mentah dan keras langsung masuk keperut Zen.


{brukkk}


Zen terlihat langsung jatuh ketanah sambil memegangi perutnya yang sakit.


“..kamu ya Zen...!”


“..sudah di kasih tahu jangan dekat dekat Ziva, masih saja bandel!!”


Terlihat Zen dikerubungi lima orang berandalan kelas IPS yang sudah menunggu Zen keluar dari kelasnya.


{banggg!!!}


Zen langsung ditendang mukanya oleh yudi saking keselnya.


“...aaagghhh” Zen meringis kesakitan


Terlihat pelipisnya mengeluarkan darah segar karena terkena pinggiran sepatu milik Yudi.


{bak..bughh...bak...bugghh}


Berbagai bogem mentah diarahkan keseluruh tubuh Zen hingga pemuda itu tersungkur bersimbah darah.


Suasana sekolah yang sudah terlihat sepi membuat kelimanya dengan mudah memberikan pukulan dan tendangan pada Zen.


“..uhuk”


Zen terbatuk dengan mengeluarkan darah dimulutnya.


“..udah yud! Tinggal pergi yuk!”


“..iyaa, takut mati anak orang!”


Kelimanya langsung pergi begitu saja tanpa melihat kondisi Zen yang meringkuk pingsan.


Tubuh Zen masih meringkuk direrumputan halaman sekolah hingga..


{kriiik... kriiik... kriiik... kriiik...}


Suara jangkrik terdengar nyaring.


“..uuugghhhh”


Zen terlihat melengkuh, kemudian mengedarkan pandangannya.


“..sudah gelap ternyata!” gumam Zen.


“..aduuh!!”


Zen merasakan tubuhnya seperti remuk disetiap sendi tulangnya.


Dengan susah payah, Zen mencoba untuk berdiri dan menggapai tiang yang ada didekatnya.


Zen tertatih berjalan keluar dari lingkungan sekolahnya.


“..eh Zen! Habis darimana?!” tanya satpam penjaga sekolah yang sangat kenal betul siapa seorang Zen.


“..mang Diman, bisa bantu saya kah untuk pulang?!”


“..kamu habis digebukin lagi sama yudi dan gengnya?!”


“..euhmmm!” Zen hanya mengganggukkan kepalanya saja.


“..dasar bocah berandalan mereka ! kenapa kamu tidak lapor kepala sekolah saja Zen, lihat itu badan kamu sampai parah begitu digebukin!” ujar mang Diman yang terlihat perhatian dengan keadaan Zen.


“..tenang saja mang diman, nanti Zen olesin minyak kakek, juga sembuh!” jawab Zen penuh percaya diri.

__ADS_1


Mang diman yang melihat kondisi Zen langsung membantunya duduk diatas becak motor bututnya dan langsung mengantarkan Zen pulang.


Mang diman adalah sosok penjaga sekolah yang hanya bertugas malam hari dan menjadi tukang ojek becak motor untuk esok harinya.


__ADS_2