
Zen dan Zavira terlihat berjalan bersama pagi itu disebuah taman hutan kota, agenda Zen jelas, karena week end, dirinya selalu meluangkan waktu untuk lari pagi menggerakkan badannya, beda dengan Zavira, setiap hari setiap saat kegiatannya lebih pada aktivitas menyapa para fansnya sambil melakukan beberapa gerakan senam pagi ringan.
Zen hanya tersenyum saja ketika melihat Zavira beraksi dengan hape serta kamera canggihnya, sebuah drone mini terbang melayang disekitar Zavira memberikan View 360 derajat keadaan disekitar Zavira saat melakukan live streaming.
“..waaah kak Zavira setelah menggunakan produk dari Z beauty jadi kinclong natural!”
“..kak Zavira memang luar biasa cantiknya natural!”
“..cantik, putih, bersih, super panas lagi, jadi ngefans bangeed!!”
“..mau doong yang seperti kak Zavira kalo ada satu lagi didunia ini!!”
Zavira pun mulai mempromosikan produk kecantikan dari Z beauty setelahnya.
Acara live streaming itupun disudahi dalam kurun waktu dua puluh menit kemudian.
“..udah acaranya?!” tanya Zen sambil menyodorkan air mineral dingin dengan bulir air yang mulai berjatuhan.
“..eeh! sudah kak, makasih!” jawab Zavira sambil mengambil air mineral pemberian Zen.
“..berkat drone mini super canggih dari kakak, aku bisa melakukan live streaming lebih bagus dibandingkan live streaming orang lain, makasih ya kak!” Zavira tidak tahan untuk tidak memeluk Zen yang penuh dengan keringat ditubuhnya.
Zen hanya membiarkannya saja, karena wanitanya yang satu ini memiliki fetis yang, aah sudahlah, dijalani saja, batin Zen.
“..apakah ada yang mengganggumu beberapa hari ini?!” tanya Zen.
“..engga itu kak! Kenapa memangnya?!” kembali Zavira balik bertanya.
“..ooh, syukurlah kalo engga ada yang mengganggumu!”
Zavira yang memang dasarnya tidak mau tahu terkait arah pertanyaan Zen, langsung membuka tutup botol air mineral dan meneguknya hingga tinggal separuh isinya.
“..haus?!”
“..heuummmnn!” anggukan kepala Zavira menandakan jawaban mengiyakan.
Saat mereka duduk dan bercerita satu sama lain, tiba-tiba dari arah belakang Zavira muncul tuan muda Dong bersama Kenji.
Keduanya yang baru saja pulang dari dunia malam dan langsung mengarah ke taman hutan kota, karena tuan muda Dong ingin menjumpai idolanya.
Tuan muda Dong yang sudah dalam pengaruh alkohol sengaja membawa Kenji yang sejak kemarin siang hingga pagi ini tidak lepas dari sampingnya.
“..halo nona Zavira!”
“..nona Zavira memang sangat luar biasa!”
“..eh!” zavira menoleh kearah belakang ketika pendengarannya mendapati suara yang sangat mengganggu.
“...apakah boleh saya temani berolah raga pagi nona Zavira?!” ujar tuan muda Dong sambil sedikit sempoyongan.
“..kamu! minggir! Aku ingin duduk dengan calon istriku!” ujar tuan muda Dong yang menunjuk kearah Zen.
Zen pun hendak berdiri, namun Zavira segera memegang tangannya dan memintanya untuk kembali duduk.
“..kak Zen! Pleasee!!”
Zavira menggeleng-gelengkan kepalanya tanda jikalau dirinya tidak ingin Zen pergi.
“..aku mau buang botol plastik ini ketempat sampah! Memangnya ada sampah lain yang harus dibuang?!” Zen berkata dengan sinis sambil tatapannya melihat tuan muda Dong.
Kenji yang melihat kearah pemuda yang dipanggil dengan nama Zen langsung melakukan screening dengan menggunakan energi spiritualnya, mencoba untuk menekan Zen.
Namun hal yang dia takutkan pun terjadi,
“..bb-bagaimana bisa? Kk-kekuatannya tidak bisa aku deteksi?!”
Kenji menatap Zen dengan berkeringat dingin.
“..seberapa kuat orang yang bernama Zen ini!!”
Kenji yang sadar dengan situasi didepannya, langsung menarik tuan muda Dong untuk mundur jangan terlalu mendekat.
“..jika kamu ingin keluarga tuan mudamu selamat, suruh dia segera sadar diri jangan lagi berurusan dengan calon istriku!” Zen memberikan serangan telepati langsung kearah Kenji.
{deghhh!!!}
“...te-telepati!! Kekuatan jiwa!” Kenji langsung tersadar dari lamunannya, sesaat yang lalu Kenji merasakan seolah waktu berhenti, dan dirinya berada didalam sebuah ruangan gelap gulita tanpa ada penerangan sama sekali.
Dalam ruangan itu suara Zen menggema dengan sangat mendominasi.
“..adik!” terdengar suara dari arah belakangnya.
Adalah trio Jepun dan Yuki yang juga tiba dilokasi pagi itu.
“..ka-kakak!!” Kenji langsung lemas ketika mendapati tiga orang saudara angkatnya, lebih tepatnya kakak angkat seperguruannya ada dibelakangnya.
“..bawahan melihat tuan muda!” trio Jepun itupun langsung memberikan penghormatan sangat dalam dengan posisi kepala didepan menatap tanah, tubuh membentuk sudut 90 derajat.
__ADS_1
“..selesaikanlah urusan kalin, Zavira, ayo kita pergi!” ujar Zen.
“..nona Zavira! Woi bangggsaat!! mau kamu kemanakan calon istriku!” teriak tuan muda Dong yang memang dalam kondisi dalam pengaruh alkohol.
“..tuan kenji, tolong hancurkan pemuda itu!!” tuan muda Dong masih tidak bisa berpikir dengan jernih, ketika ada tiga orang berperawakan negeri sakura yang menyapa Zen dengan hormat, namun dirinya masih saja ingin merebut Zavira.
{plakkkk}
Tamparan keras diberikan oleh Kenji
“..bangun!!”
{plaakkk}
“..sadar!!!”
Kiri dan kanan pipi tuan muda Dong langsung bengkak akibat ditampar dengan sangat keras oleh Kenji, tamparan yang membuat tuan muda Dong langsung pingsan.
“..bawa dia kembali kekediamannya!” Kenji memerintahkan pengawal keluarga yang berdiri tidak jauh darinya.
“..baik tuan kenji!” ucap kedua pengawal yang segera membawa tuan muda Dong dalam posisi pingsan.
“..untung saja kita tidak terlambat, coba kalo terlambat!” Kanazawa bersuara.
“..heumnn, apa yang kakak ucapkan benar!” Shimaguci menimpali.
“..sedikit saja kita terlambat datang, mau dikemanakan muka kita bertiga!” Kawaguci menimpali pernyataan saudaranya.
Setelah tuan muda Dong dibawa pergi dari lokasi, kelima saudara seperguruan itu akhirnya berkumpul dan berbicara panjang kali lebar.
Setengah percaya dan tidak , Yuki dan Kenji mencoba untuk menelaah semua kalimat yang dilontarkan oleh kakak seperguruannya.
“..aku rasa tuan muda memiliki kemampuan untuk mencari kebenaran atas kesalah pahaman ini!”
“..tunggulah beberapa hari ini, pasti tuan muda akan mengundang kita berlima dan memberikan penjelasan yang sebenarnya!”
“..benar kata kakak, tuan muda bukan tipe orang yang seperti kalian berdua ceritakan, meski kami baru mengikutinya sejak tiga bulan yang lalu, namun bagi kami, sosok tuan muda sudah seperti Leluhur sensei kehormatan bagi kami bertiga!”
“..kekuatan kalian berdua bukan lawan dari tuan muda, bahkan kalian berdua saja tidak bisa mengalahkan kami bertiga bukan?!” Kanazawa memberikan penekanan pada kalimat terakhir dengan mengeluarkan aura penindasan.
“..uugghhh!!” Kenji dan Yuki langsung tersungkur ketika kanazawa memberikan serangan aura penindasan.
Kenji dan yuki sama – sama merasakan tubuh mereka seperti ditekan telapak tangan raksasa yang memaksa mereka untuk tersungkur, mencium rerumputan taman hutan kota.
“..sudah - sudah!” Kawaguci sebagai yang tertua segera melerai.
Udara tak kasat mata terlihat langsung menyebar dari atas tubuh Kenji dan Yuki yang masih tersungkur diatas permukaan tanah.
“..ss-sungguh mengerikan kekuatan kakak!” Kenji membersihkan badannya yang penuh dengan kotoran tanah yang melekat dibajunya, ada sedikit darah terselip diujung bibirnya.
Yuki juga terlihat lebih parah, baju ketatnya langsung sobek dan mempertontonkan dua bongkahan 36FF miliknya yang tidak bisa lagi bersembunyi.
“..kami bertiga datang untuk menyelesaikan permasalahan kalian berdua, kami yakin, ini ada kesalah pahaman, tapi jika bukan juga kesalah pahaman, pastinya tuan muda mempunyai alasan tersendiri!”
“..jika kalian masih nekat untuk membuka jalur peperangan pada tuan muda, kalian berada dijalur yang salah, karena kami tidak mungkin mengkhianati tuan muda kami!”
“..benar, pikirkan baik-baik langkah kalian!”
Ketiganya langsung berdiri dan balik kanan, mereka bertiga langsung berjalan menjauh menuju titik lokasi yang sudah pernah diinformasikan oleh Zen saat mereka berada di Konoha.
Yuki dan Kenji melihat tiga sodaranya mulai menjauh, hanya bisa memandangi punggung ketiga kakaknya itu hingga menghilang dibelokan jalan protokol kota megapolitan.
“..lalu bagaimana ini kak?!” tanya Yuki pada Kenji.
“..kamu lihat sendiri perbedaan kekuatan kita! Sebaiknya kita jangan melawan kekuatan yang tidak bisa kita kalahkan, kita tunggu saja sesuai pembicaraan kakak tertua tadi!” ucap Kenji yang kemudian berjalan meninggalkan Yuki yang masih tertegun.
“..haisshhh, ditinggal! Kak tunggu aku!” Yuki langsung mengejar Kenji yang sudah jauh beberapa langkah didepan.
Keduanya lantas pulang kembali ke kediaman tuan Dong.
***
“..anak brengggsekkk!! Apalagi ini ulahmu?!” Tuan Dong langsung saja memarahi anaknya yang babak belur, menurut informasi dari pengawal, Kenjilah yang sudah menampar mukanya hingga mirip seperti celeng jadi-jadian nabrak dinding karena lupa jam pulang dan akhirnya digebukin warga kampung.
Tidak ada yang berani memberikan pembelaan pada tuan muda mereka, karena mereka lebih takut dengan hukuman Kenji yang notabene sebagai pimpinan pasukan berani mati keluarga Dong.
{bugghhh!!}
Tuan Dong kembali menendang perut anaknya hingga memuntahkan seteguk darah.
“..lihat saja, sampai nanti tuan Kenji memberikan penjelasannya, lebih baik keluarga kehilangan satu orang seperti dirimu, daripada kerajaan yang sudah susah payah aku bangun dari bawah, mesti lenyap karena ulahmu!”
“..jj-jangan ayah! Jangan usir aku dari keluarga ini!” tuan muda Dong penuh harap dengan muka yang sudah babak belur.
“..anak bodoh, sudah tahu dirimu tidak bisa hidup tanpa uang dariku, masih saja melawan arus!”
“..kalian semua, pastikan anak itu dihukum dalam ruang hukuman bawah tanah, jangan ada yang kasih makan sampai aku suruh! Paham!” tuan Dong langsung memberikan perintah dengan aura yang sangat mendominasi.
__ADS_1
“..dimengerti tuan besar!” jawab kompak semua pelayan rumah tuan Dong.
Tuan muda Dong pun diseret paksa oleh para anggota pasukan berani mati sesuai instruksi tuan besar mereka.
Tidak lama setelahnya, Yuki dan Kenji muncul dari arah luar kediaman tuan besar Dong.
“..tuan Kenji, Nona Yuki!” tuan Dong terlihat sangat hormat pada keduanya.
“..pasti kamu ingin bertanya, kenapa aku menampar anak kandungmu bukan?!” tanya Kenji langsung to the point, tanpa basa basi lagi.
“..tidak berani, saya tidak berani, pastilah tuan Kenji ada maksud sampai menampar anak brenggsekk itu! Saya yakin itu, tidak ada sedikitpun keraguan!” tuan Dong berusaha merendah.
“..hiuufffttt!!” Kenji menghela nafasnya sebentar,
“..ketahuilah anakmu pagi ini telah menyinggung orang yang tidak pantas untuk disinggung, bahkan dengan adanya aku dan Yuki disana tidak bisa berbuat apa-apa!”
“..ss-secepat itukah kita bertemu orang yang tuan Kenji maksud?!” tanya tuan Dong.
“..heummmnn!! sebab itulah aku menampar anakmu agar dia bisa sadar posisinya saat itu!” Kenji kembali menjelaskan.
“..lalu tuan kenji, bagaimana nasib keluarga kami selanjutnya?!” Tuan Dong langsung gemetar ketakutan, kekuatan kenji dan Yuki tidak bisa menghalangi orang yang telah disinggung oleh anaknya, mesti bagaimana lagi, batinnya berkecamuk.
“..kamu tenang saja, dalam dua tiga hari kedepan, orang itu akan mengundang kami, saat itulah akan aku tanyakan nasib keluarga kalian selanjutnya, sambil menunggu, kembali aku ingatkan, jangan pernah lagi menyinggung orang asing, karena kita tidak tahu kekuatan seperti apa yang ada dibelakangnya!” pesan Kenji yang kemudian melangkah masuk menyusuri lorong rumah diikuti Yuki, sebuah lorong yang mengarah ke bangunan tempat tinggal mereka berdua.
“..anak brenggsekk itu memang perlu di binasakan saja!” gumam tuan Dong yang masih tidak habis pikir dengan sifat anak kandungnya.
***
Zen dan Zavira setelah pergi meninggalkan taman hutan kota, mereka berjalan menuju kesebuah rumah makan yang menyediakan sarapan pagi dan ngopi-ngopi cantik berlatar belakang hutan kota yang terlihat estetik.
Lalu-lalang orang yang keluar masuk restoran pagi itu terlihat ramai.
“..selamat datang! Mau pesan apa pagi ini mas – mbak?!” sapa salam pelayan restoran yang terlihat sangat hangat dan tulus.
Zen dan Zavira memesan makanan dan minuman ringan untuk mengganjal perut mereka, setelah itu mereka segera mencari tempat duduk yang dirasa nyaman untuk menunggu menu pesanan mereka diantar.
“..terima kasih kak, mungkin kalo engga ada kakak tadi, itu tuan muda pasti sudah membawaku pergi, daan...hiks...!” Zavira yang duduk disamping Zen langsung saja menangis sesenggukan sambil menyandarkan dirinya dilengan kekar milik Zen.
“..sudah-sudah, kan sudah selesai masalahnya! Lain kali berhati-hatilah, jika tidak ada yang penting jangan keluar rumah dulu!”
“..euhmmmnn!” Zavira menganggukkan kepalanya tanda persetujuan.
Tak lama kemudian pesanan mereka pun telah lengkap disajikan diatas meja, keduanya langsung fokus untuk menghabiskan makanan serta minuman yang telah mereka pesan.
Zen dan Zavira kembali berbicara panjang kali lebar, terutama terkait rencana pernikahan mereka yang rencananya akan segera diadakan dalam waktu dekat.
Kakek Zavira setuju-setuju saja dengan keputusan Zavira, karena sang kakek merasa jikalau Zen adalah anak baik dan yakin bisa bersikap adil dengan para wanitanya.
Sepanjang perjalanan dari restoran menuju rumahnya, Zavira terlihat senyum salah tingkah.
Dalam diri Zavira sudah tidak sabar mau pulang ke rumah-masuk kamar, kemudian berteriak kegirangan saking senengnya.
Perasaan yang sudah tidak bisa dibendungnya lagi, mengingat Zavira ini sangat mengidolakan sosok Zen yang sudah mengubah hidupnya 180 derajat.
Lima belas menit lamanya mereka berjalan,
“..sampai!” ujar Zen.
“..lho kok! Issshhhh!” Zavira yang baru tersadar jika mereka berdua sudah sampai didepan pintu pagar rumahnya langsung kesal sendiri.
Zen yang melihat wanitanya kesal karena perjalanan mereka sangat singkat, hanya bisa geleng-geleng kepala sambil mengelus pucuk rambut Zavira dengan penuh ketulusan rasa sayangnya.
“..udah, besok-besok kita jalan lagi! Dan maaf, aku engga bisa mampir, karena ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan!” ucap Zen berpamitan.
Zavira yang menerima perlakuan hangat dari Zen langsung berubah sikapnya.
“..hati-hati ya kak!” Zavira mengambil telapak tangan Zen kemudian mencium punggung tangannya tanda hormatnya.
Setelah itu Zavira langsung masuk kedalam pagar rumahnya namun masih bisa melihat kepergian Zen.
Setelah Zen menghilang dari pandangannya, Zavira langsung masuk kedalam rumah dengan sedikit berlari menuju kamarnya.
{ceklek}
Pintu kamar terbuka dari arah luar.
{brakkk}
Dengan sedikit agak keras Zavira menutup pintu kamarnya.
“....horeeeee....”
“...kyaaaaa...”
Zavira meluapkan kegembiraannya sambil melompat-lompat diatas kasurnya.
Sebuah kebahagiaan yang dieskpresikan dengan begitu excited, hanya Zavira yang dapat merasakan tentunya.
__ADS_1