
Zen pulang diantar mang Diman dengan menaiki bentor kesayangan mang Diman.
“..terima kasih mang Diman, jika saya memiliki banyak uang, mang Diman adalah orang pertama yang akan saya bagi!”
“..aaah, sudahlah Zen, kamu juga sudah banyak membantu mang Diman sekeluarga beberapa kali, mengantarkan kamu dengan kondisimu seperti sekarang ini, sudah menjadi kewajiban mang Diman, jadi jangan dibikin engga enakan begitu ya Zen!”
“..baiklah mang Diman, sekali lagi terima kasih!"
Zen lantas memasuki gubuk reot miliknya yang terlihat gelap gulita, karena dirinya lupa menyalakan lampu minyak.
Biasanya sebelum matahari tenggelam Zen sudah langsung menyalakan lampu parafin yang bahan bakunya selalu dibeli dari toko dipasar tempatnya bekerja.
{zeessshhh}
Lampu parafin itu langsung menyala dengan terangnya, karena Zen rajin membersihkan sekat – sekat kacanya.
“...aduuuh...issshhh!” Zen merintih kesakitan melihat kondisi tubuhnya sekarang.
Dengan terseok-seok Zen berusaha berjalan kebelakang rumah, dengan membawa lampu parafin ditangannya yang tidak parah lukanya.
{brukkk}
Tiba-tiba Zen tersandung sesuatu.
{glumpaaaanggg...}
Lampu parafin langsung terjatuh, kemudian bergulir ditanah dan mati.
“..aduh...!!”
Zen sedikit berteriak karena luka ditubuhnya yang tadinya setengah tertutup dibagian lututnya, kini kembali terbuka.
Yang tidak Zen sadari, darahnya terjatuh tepat di benda pejal runcing ujungnya, yang membuatnya tadi sampai tersandung.
{criiinggggg!}
Benda itu langsung bergetar hebat!!
Benda itu terus bergetar sambil mengeluarkan cahaya yang sangat terang sekali, bahkan cahayanya membuat halaman belakang rumah Zen seperti stadion bola dengan lampu berskala 200 lux!.
Setelah terang berderang, tiba-tiba cahaya itu langsung masuk dengan paksa kedalam kening Zen.
“..aaakhhhhh!!!”
Zen berteriak kencang sekali, dirinya yang sudah sakit badannya, kini ditambah lagi kepalanya seperti ditusuk jutaan jarum kecil.
Tubuh Zen bergetar hebat selama puluhan menit dalam posisi duduk ditanah sambil kakinya selonjoran kedepan.
“...wadooooowww!!!”
Kembali Zen berteriak kencang, milyaran informasi memasuki otaknya hingga memaksakan memori otaknya penuh dan menambah kembali kapasitas ruang memorinya secara instan didalam tengkoraknya.
Tangan Zen terlihat memegangi kepalanya secara terus menerus.
Setelah satu jam lebih, Zen akhirnya tidak kuat dan langsung pingsan!
“..hohoho...ternyata keturunan darah murni milikku sangat menderita selama ini!”
Sosok sepuh dengan janggut putih memanjang hingga menyentuh tanah, terlihat melihat Zen yang tengah Pingsan.
“..mulai besok, tidak adalagi yang bisa memandang remeh dirimu cucuku!”
“..pergunakan semua keahlian yang telah aku berikan untuk berjalan dijalan yang benar, membantu yang lemah, dan memerangi ketidakadilan dimuka bumi ini!”
{dbuuussss}
Sosok sepuh berjenggot putih itu kemudian menghilang, menjadi kepulan asap yang tidak bisa diketahui kemana arah perginya.
{kukuruyuuuuukkkkk!!!}
Suara ayam berkokok terdengar begitu nyaring ditelinga Zen.
Jika manusia normal memiliki 5 indera, Zen kini memiliki 9 Indera! Dengan 9 indera inilah yang akan mendukung Ilmu pengobatan Kuno, beladiri Kuno dan keahlian Paranormal yang sekarang sudah bersemayam didalam memory otak Zen cara penggunaannya.
“..uughhhh!”
Zen terlihat memegangi kepalanya kembali.
“..ternyata aku pingsan semalaman!”
__ADS_1
“..cahaya apa itu semalam!! sampai-sampai membuat kepalaku terasa ditusuk jutaan jarum kecil”
“..terus ini apa! Kenapa banyak daki ditubuhku!!”
“..huekkk..cuihhhh!”
“..mana bau lagi!”
Buru-buru Zen berdiri dan segera lari kedalam kamar mandi dibelakang rumahnya.
{byuuurrrr....}
Keliatannya Zen terlihat bersemangat mandi pagi hari ini!. Bergayung – gayung air terdengar diambil oleh Zen guna membersihkan dirinya.
Setelah belasan menit Zen beraktivitas mandi membersihkan badannya yang super lengket.
“..aaahh segaaaarnya!”
Zen terlihat menggunakan handuk kusamnya untuk membersihkan badannya dari air kamar mandi yang masih terlihat menempel dibadannya.
“..ii-iniii!!”
Zen kaget bukan main ketika melihat cermin yang menempel dilemari kayu peninggalan kakeknya.
Tubuh Zen terlihat mirip atlit bina raga dengan tinggi 182cm, kulitnya putih bersih, wajahnya sudah mirip dengan oppa-oppa korea.
“..bagaimana mungkin?!”
Zen meraba bagian perutnya yang kini terdapat 8 sobekan roti, terlihat semakin menambah kegagahannya.
Karena dirinya kesiangan Zen tidak berangkat kesekolah hari ini.
“..sebaiknya aku segera menjual rongsokan yang telah aku kumpulkan beberapa waktu dulu sebelum kakek meninggal” ucap Zen ketika melihat salah satu sudut pekarangan belakangnya kini sudah penuh dengan tumpukan botol air mineral bekas dan berbagai macam botol tipe HDPE.
Setelah berganti baju compang – camping dan celana pendek, Zen mulai memunguti dan memilah botol rongsokan yang telah dikumpulkan.
Botol air mineral bekas merupakan golongan PET (polyethylene terephthalate) dengan kode angka 1 didalam segitiga lingkaran.
Botol botol dengan ujung bagian bawah dimana terdapat garis lurus dan biasanya terdapat kode angka 2 didalam lingkaran segitiga adalah material HDPE (High Density Poly Ethylene).
Seorang Zen sangat hafal betul berapa nilai tukar harta benda rongsokannya itu.
Dengan perhitungan detailnya setelah beberapa lama dirinya bergelut untuk mengelompokkan sesuai tipenya, Zen terlihat tersenyum.
Harga rongsokan PET sendiri jika dipengepul akan dihargai 3500 per kilo sedangkan HDPE akan dihargai 4500 per kilo.
Artinya untuk dua jenis rongsokan yang telah dikumpulkan Zen selama beberapa waktu kemarin, akan terkumpul 5000 kilo x 3500/kilo + 8000 kilo x 4500/kilo \= 17.500.000 + 36.000.000 \= 53.500.000
“..waaah, ternyata selama ini kakek telah menyimpan harta karun dibelakang rumah!”
Zen terlihat memandang langit biru dibelakang rumahnya sambil tersenyum penuh makna.
“..Dengan menjual semua, mungkin permasalahan SPP disekolah bakal selesai!”
“..tapi, aku harus mencari cara, agar apa yang telah dikumpulkan oleh kakek ini bisa berlipat ganda kedepannya!”
“..baiklah sudah aku putuskan, aku akan menjual 2 ton saja untuk PET dengan hasil 7jt sudah cukup untuk membayar lunas SPP sekolahku dan sisanya akan kupergunakan untuk modal membuka pengepulan botol rongsokan!”
Zen mulai meneguhkan dirinya dan bertekad untuk lebih lagi fokus dalam dunia rongsokan yang telah ditekuni oleh kakeknya.
Yang tidak Zen sadari adalah, sosok pribadi Zen sudah jauh berubah, mulai dari fisik dan kemampuannya. Akan banyak perubahan dalam hidup Zen kedepannya.
“..eh, tapi kenapa tubuhku tidak ada merasa lelah dan lapar padahal aktivitas ini sudah memakan banyak tenaga! semenjak perubahan fisikku! apakah?”
Zen menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“..ah bodo amat, mungkin cahaya semalam hanyalah ilusiku semata!”
“..lebih baik aku segera mempersiapkan botol PET sebanyak 2 Tons dan segera menjualnya kelokasi pak Burhan” ujar Zen memberi semangat dirinya untuk kembali fokus.
Dengan gerakan yang sangat cepat tak kasat mata, Zen mampu mengumpulkan botol rongsokan sebanyak 2 tons hanya dalam kurun waktu 1 menit saja.
“..ini sungguh luar biasa!!”
Zen bersorak kegirangan ketika melihat kemampuan gerak cepatnya.
“..aku harus menguji kekuatan baruku, tapi dimana?!”
“..ah, nanti sajalah! Fokus Zen...!”
__ADS_1
Setelah itu Zen mulai mengangkat jumbo bag dengan dimensi 1 meter x 1 meter x 1 meter sebanyak dua buah dibagian kiri dan kanannya secara langsung.
Zen mulai berjalan perlahan, dirinya tentu saja bisa langsung berlari kencang, namun jalanan yang dilalui sekarang, adalah jalanan desa yang banyak orang mempergunakannya, mereka tentunya akan kaget jika Zen mengeluarkan kekuatannya.
“..woi Zen! Kuat banget angkat dua karung besar sendirian!”
Warga desa yang melihat Zen berjalan dengan santai menenteng dua jumbo bag dikiri dan kanannya terlihat gatal untuk tidak berkomentar.
Zen hanya menanggapi dengan senyuman khasnya.
“..ngomong-ngomong kenapa dengan wajahmu Zen?!”
“..kamu keliatan lebih tampan, meski banyak noda hitam kusam dimukamu!”
Ujar warga yang mengamati wajah Zen secara seksama.
Mungkin warga akan kaget jika Zen tidak dalam mode pemulungnya, tapi kembali lagi Zen hanya tersenyum saja menanggapi para warga yang berkomentar.
“..serius ini Zen! Kamu pakai skin care ya ? kok sampai bisa begitu wajahmu!” kembali warga bertanya.
“..aah, bisa saja pak edo!”
Zen kembali berjalan sementara orang yang dipanggil dengan nama Edo mengendarai motornya disamping Zen sambil terus saja mengcoceh tidak karuan.
“..akhirnya sampai!” ujar Zen ketika dirinya sudah sampai dilokasi pengepul barang rongsok milik pak burhan.
“..eh Zen! Lama tidak kelihatan!” pak Burhan terlihat bersikap baik kepada Zen yang membawa rongsokan bakal harta karun miliknya.
“..iya pak Burhan, bapak tahu sendiri sejak kakek meninggal saya belum sempat kembali mulung, ini saja hasil kakek yang ngumpulin, mau dijual buat bayar kewajiban sekolah biar bisa ikut ujian kelulusan nanti!”
“..ooh begitu, ya sudah langsung timbang saja!”
“..cemong! sini elunya! Bantuin timbang barang punya Zen ini buruan!”
“..siap bos!”
Kesibukan dilokasi pengepul milik pak burhan ini sangat ramai, karena satu-satunya pengepul didesa Zen tinggal.
“..semuanya 2 ton seratus bos!” ujar cemong menunjukkan hasil penimbangannya.
Pak Burhan yang melihat hasil timbangan Zen hingga mencapai 2 tons lebih langsung manggut-manggut tersenyum iblis.
“..harga lagi turun ini Zen!” ujar pak burhan.
“..nah khaaan!” batin Zen sudah menduganya.
“..Jadi semuanya 7jt ya Zen!” kembali pak burhan berbicara.
Zen yang melihat pak burhan bersikap culas, hanya menghela nafas saja.
“..karena bapak tidak ada duit cash segitu besarnya, bagaimana kalo bapak transfer! Tapi masalahnya kamu ada rekening kah Zen?!” tanya pak burhan dengan sarkasme.
“..ada pak.. ini!” Zen langsung menyebutkan angka beserta nama bank miliknya.
Zen yang sudah 17 tahun lebih sudah memiliki KTP dan telah membuat akun bank di bank swasta terbesar dinegara ini.
Kembali pak burhan memutar otak culasnya ketika mengetahui Zen memiliki nomor rekening, kemudian..
“..karena bank bapak dibank pemerintah, kena biaya ya Zen, dipotong satu persen! Antar bank soalnya!”
“..waah gila ini pak burhan!” ujar Zen dalam hati.
Dirinya semakin bertekad untuk membuat pengepul sendiri dan mencari jalur penjualan langsung ke pabrik, sehingga dirinya bisa membantu warga yang berprofesi sebagai pemulung, agar tidak terkena lintah darat seperti pak burhan ini.
“..baiklah pak burhan, silahkan saja dipotong langsung!”
“..naah, kalo gini kan enak Zen!”
{cliinggg}
“..udah masuk ya Zen. Totalnya 6.930.000 yang kamu terima!” ujar pak burhan menunjukkan layar hapenya.
“..terima kasih pak burhan, saya mau ambil jumbo bag milik saya kemudian sekalian pamit undur diri!” ujar Zen sopan.
“..kirain jumbo bag kamu kasihkan kesaya Zen!”
“..kan kamu sudah jadi orang kaya sekarang!”
“..hehehehe!”
__ADS_1
Zen tidak ambil pusing, segera mengeluarkan semua botolnya dilokasi pengepulan pak burhan dan langsung bergerak cepat melipat jumbo bag miliknya.
Tanpa sepengetahuan Zen, saat dirinya mengosongkan jumbo bagnya, pak burhan sudah menginstruksikan anak buah premannya untuk bergerak mengikuti Zen.