
“..jadi bagaimana ki ? sudah menyerah?! Tahu batas kemampuanmu?” Zen nampaknya kembali berusaha mengingatkan dukun yang selama ini menjadi langganan juragan tarna untuk melakukan perbuatan kotornya.
Sudah satu jam lamanya Zen dan dukun yang bernama Ki Ajat bertukar jurus ilmu, dan selama satu jam itulah Zen selalu mempermainkan Ki Ajat, hingga energi ilmu hitamnya habis terkuras.
“..hah..hah...hoossshh!” nafas ki Ajat terlihat naik turun tidak beraturan.
“..siapa kamu sebenarnya anak muda?! Dan bagaimana bisa kamu meredam semua serangan ilmu hitam pamungkas milikku?!”
“..siapa saya aki tidak perlu tahu, karena sudah saatnya aki berkumpul dengan jiwa-jiwa yang aki permainkan selama ini!”
“...hahahaha... sombong sekali kamu anak muda!”
“..aki tahu pepatah, barang siapa yang menabur maka dia pula yang akan menuainya!” ujar Zen segera menjalankan rencananya.
{duuuaaarrr!!}
Ledakan pertama terjadi, adalah kaki sebelah kiri dari ki Ajat yang meledak.
Selama pertempuran tadi, Zen dengan sangat cepat menempelkan kertas mantra peledak diseluruh bagian anggota tubuh ki Ajat dari kaki hingga kepala.
Sebuah kertas mantra yang tidak bisa dilihat oleh kasat mata musuhnya.
“...aaaakhhhh!!”
“..breenggggseeekk!! bb-bagaimana kamu melakukannya?!” teriak kemarahan Ki Ajat melihat kaki kirinya hancur dan dirinya langsung oleng terjatuh.
“..masih tidak mau menyerah?!” ucap Zen santai duduk diatas batu besar yang tergeletak didepan kediaman dukun yang kata orang dusun sakti mandraguna.
Ki Ajat yang melihat dirinya sudah mengalami kehancuran satu kaki sebelah kiri, terlihat kembali berusaha untuk berdiri dengan susah payah.
Dengan ludah yang sudah dijampe-jampe, dirinya berusaha untuk menghentikan pendarahannya.
“..jika aku diharuskan mati, maka bukan aku saja yang akan mati, kamu dan orang-orang pengguna jasaku selama ini harus ikut mati! Hahahahahaha!”
Zen yang mendengar omongan dukun pincang didepannya itu tanpa sepengetahuannya sudah memasang kubus transparan dengan menggunakan kertas mantra.
Kubus itu mengurung ki Ajat sendirian dan menghindarkan semua yang ada sekitarnya terkena dampak ledakan bunuh diri yang akan dilakukannya.
“..tunggu apalagi? Mau dibantu buat meledakkan dirimu ki?!” tanya Zen.
“..kk-kamu! bagaimana bisa kamu memiliki kepercayaan diri seperti itu!”
{duarrrr}
Kali ini Zen kembali tidak bisa sabar, dirinya langsung meledakkan kaki sebelah kanan milik ki Ajat.
“..aaakkkkhhhh....setan alas!! Berani-beraninya!” cacian dukun yang sudah kehilangan kedua belah kakinya terdengar sangat keras.
Ki Ajat langsung komat kamit merapalkan mantra peledakan dirinya!
Sebuah mantra yang memang diharuskan untuk mendapatkan energi dari sekitarnya itu tidak kunjung bekerja, dan ki Ajatpun mulai frustasi.
Sudah berbuih mulutnya ki Ajat merapalkan mantra peledakan diri, namun tetap saja mantranya tidak dapat bekerja, semua karena kubus transparan yang tidak terlihat.
{duarrr}
Zen meledakkan kembali anggota tubuh ki Ajat, kali ini kedua tangannya.
“..aaakhhhh....iblis!! kk-kamu benar-benar iblis!!” teriak ki Ajat kesakitan sambil memaki.
“..Terserah kata Ki Ajat saja, sekarang mana kekuatan ki Ajat?” provokasi Zen.
Kondisi ki Ajat sendiri sudah sangat memprihatinkan, tubuhnya tinggal kepala dan badannya saja, jangankan untuk berjalan, menggelinding saja diirnya sudah kesusahan.
“..bunuh aku!! Bunuh saja aku!” teriak dukun langganan juragan tarna meminta Zen untuk segera membunuhnya.
“..bukan aku yang akan membunuhmu! Para serigala hutan inilah yang akan membunuhmu ki, jadi, nikmatilah waktumu selagi masih bisa bernafas” ucap Zen langsung meninggalkan tubuh menyedihkan dari ki Ajat.
Ki ajat hanya bisa menangis sekencang kencangnya, karena tubuhnya yang tidak bisa bergerak itupun mesti menerima takdirnya karena dimakan hewan buas malam hari, hewan yang selama ini selalu diburu untuk diambil darahnya sebagai syarat ilmu hitamnya.
Tragis memang, dukun yang terkenal sakti itu mati dengan cara dicabik serigala hutan.
Zen membakar bangunan yang selama ini dipergunakan aktivitas perdukunan oleh Ki Ajat.
Asap kebakarannya tidak sampai meluas, karena Zen sudah memberikan pelindung transparan, sehingga potensi kebakaran layaknya kasus prewedding yang menghebohkan tidak terjadi.
Karena ki Ajat sudah meninggoy, otomatis semua pengguna jasanya langsung menuai apa yang mereka sudah tanam selama ini.
Dirumah juragan tarna terlihat bola api menyala-nyala mulai berdatangan, jumlahnya sejumlah juragan tarna menggunakan jasa ki Ajat.
“..to-tolooonggg!! Siapapun itu toolooonnggg!!” istri muda juragan tarna terlihat berlari kesana kemari meminta pertolongan.
Mang Diman dan para warga yang melihat dari kejauhan hanya diam saja, sesuai instruksi dan Zen.
Para warga melihat rumah gedong milik juragan Tarna terbakar dengan hebat, tidak ada yang selamat, istri mudanya yang berlari kesana kemari meminta tolong pun juga terkena serangan bola api yang menyala, karena dirinya juga ikut andil dalam pelayanan dukun sakti Ki Ajat.
Malam itu, warga desa melihat dengan mata kepala mereka sendiri, semua pengguna jasa pelayanan dukun sakti Ki Ajat meregang nyawa dengan cara yang sangat menyedihkan, tubuhnya terbakar bola api.
__ADS_1
Desa Welangi malam itu terlihat sangat mencekam, tercatat ada lima belas orang yang meninggoy dengan cara terbakar tubuhnya.
Pihak warga tidak ada yang mau membantu untuk menguburkan, karena mereka sudah sangat marah selama ini atas aksi ke lima belas korban semasa hidupnya.
Pak kuwu memberikan arahannya, hingga pada akhirnya semua jenazah dikuburkan tanpa ada yang dimandikan keesokan harinya.
***
“..sadis juga itu dukun ya Zen, dan bagaimana kamu tahu, jikalau semua pengguna layanan dari ki Ajat akan meninggoy dimalam yang sama?!” selidik mang Diman pada Zen yang terlihat sudah segar habis mandi disindang selepas ikut serta acara penguburan.
“..yang namanya ilmu hitam mang, sewaktu mengontrak jasa itu dukun, mereka sudah dikasih tahu resikonya! Dasar manusianya saja sudah ketutup pintu hatinya, ya begitu itu!” jelas Zen sambil menyeruput teh Welangi yang kini menjadi kesukaannya.
“..terus bagaimana selanjutnya mang?” tanya Zen.
Mang Diman tahu arah pertanyaan Zen, namun berusaha untuk menarik nafas terlebih dahulu, kemudian nyeruput kopi paginya.
“..juragan Tarna ini dengar-dengar hanya perpanjangan tangan orang kota, semua tanah yang juragan Tarna kelola, ternyata atas nama orang kota itu! Kalo engga salah namanya tuan tanah Jalu, dipanggilnya Bos Jalu” ujar Mang Diman.
“..oooww!!”
“..kata pak kuwu sih, rencana bos Jalu, tidak berubah, meski juragan Tarna sudah meninggoy!”
“..besok katanya para preman kota itu datang, meminta warga yang sudah menerima uang untuk meninggalkan lokasinya!”
“..kalo mamang sendiri?!” tanya Zen
“..tanah milik orang tuaku ini juga masuk hitungan Zen, cuman sampai sekarang aku belum menerima dana yang dibicarakan sih! Jadi yaa mesti ngotot juga keliatannya!” jawab mang Diman pasrah.
“..tenang saja mang, serahkan semua pada Zen!”
Mang Diman yang mendengar optimisme Zen segera menoleh dan tidak menanggapi serius.
Zen yang melihat mang Diman tidak menanggapi serius hanya bisa diam saja tidak berkomentar, namanya juga orang jadul, pastinya kolot kalo anak muda yang ngebilangin.
Jika saja mang Diman tahu sosok Zen yang sebenarnya, mungkin dirinya bakalan malu dengan dirinya sendiri.
Tidak ada yang istimewa disepanjang hari, karena desa Welangi juga sudah mulai beraktivitas normal dimalam hari tanpa ada ketakutan lagi terkait gangguan memedi kiriman dukun ki Ajat.
“..kukuruyuuuuukkkk.........”
Lolongan suara ayam jantan berkokok membangunkan para warga Welangi yang sangat lelap istirahat mereka malam kemarin.
Zen sendiri sudah mulai berlari mengelilingi desa sambil mencoba mencari data total keseluruhan lahan kebun teh didesa Welangi yang sangat terkenal.
Total ada 130.000 hektar lahan kebun teh yang tumbuh sejak jaman penjajahan, dengan total sebesar itu, tercatat bos Jalu memiliki 75% kepemilikan, selebihnya adalah lahan warga yang terkapling-kapling dibawah 2000m2.
Dengan disaksikan warga sekitar, utusan bos Jalu memberikan penjelasan pagi itu.
Warga yang sudah menerima uang dari juragan Tarna, langsung marah dengan kondisi tersebut, sempat terjadi kehebohan diruangan balai desa.
Karena bos Jalu sudah merasa memberikan dana yang sesuai, maka terjadi kebuntuan disana, disisi lain bos Jalu juga tidak ingin mengalami kerugian, sedangkan warga bersikeras ingin menuntut kekurangan dana mereka.
Masalah sepertinya tidak bisa diselesaikan, hingga Zen yang sedari tadi mengikuti jalannya musyawarah didesa mengangkat tangannya.
“..silahkan nak Zen!” pak kuwu sudah dua hari selalu ngobrol dengan Zen diwarung Entin, jadi pak kuwu tahu sosok Zen.
“..bagaimana jika saya yang mengganti dananya bos Jalu! Tentunya tanpa ada mencari keuntungan, begitu juga dengan warga!”
“..saya akan membeli seluruh tanah perkebunan teh kepemilikan bos Jalu! Karena saya ingin membuat produk teh Welangi ini lebih mendunia lagi!”
Ucapan Zen langsung membuat heboh seluruh warga yang hadir.
“..kami setuju!!!”
“..yaaa, kami setuju dengan ide Zen!”
Semua warga langsung berteriak mendukung, karena ada harapan mereka akan bisa bekerja kembali ditanah kelahiran mereka, beda jika fungsi lahan dirubah menjadi pabrik garmen atau pabrik tekstil.
Pak Kuwu segera meminta jawaban dari pihak utusan bos Jalu, karena warga sudah setuju dengan usul yang Zen berikan.
Mang Diman sendiri masih tidak percaya dengan omongan Zen, dirinya menatap Zen penuh dengan tanda tanya, beda dengan Zen yang ditatap, dirinya hanya mengangkat bahunya saja.
“..mang Diman lihat saja, nantinya mang Diman yang akan mengerjakannya, sesuai dengan keahlian mang Diman selama ini bukan?!”
“..tapi 130.000 hektar ini bukan dana yang sedikit Zen?!”
“..tenang saja..Zen mampu!”
Dengan penuh percaya diri Zen meyakinkan mang Diman yang duduk disebelahnya.
Setelah menunggu lama, utusan bos Jalu kembali masuk kedalam ruangan musyawarah desa.
“..bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, Bos Jalu setuju jika uangnya dikembalikan 2x lipat dari yang sudah dikeluarkan.”
“..wooooo....huuuuu”
Sorakan dari warga yang terlihat kecewa dengan utusan bos jalu yang terlihat semena-mena pada warga.
__ADS_1
Berbagai cacian dan makian warga mengutuk omongan utusan bos Jalu yang tidak bisa berkutik.
Pak kuwu dan aparat keamanan desa segera mengamankan utusan bos Jalu dari amukan warga yang kecewa.
Zen dan mang Diman menggelengkan kepalanya melihat reaksi warga desa Welangi.
Utusan bos jalu kemudian pulang dengan dikawal aparat kepolisian untuk mengamankannya dari amukan warga.
“..jadi bagaimana selanjutnya Zen?!” tanya mang Diman.
“..mang Diman tenang saja, urusan kecil ini, paling tidak minggu ini semua sudah terselesaikan!”
“..sambil menunggu, sebaiknya saya tunjukkan mang Diman sebuah teknik berkebun teh yang bisa menghasilkan teh andalan dengan fungsinya sebagai pencuci darah!”
“..apaaa!!!” Mang Diman langsung berteriak terkejut.
“..lihat saja nanti mang! Setelah saya ajari mang Diman, selanjutnya tugas mang Diman harus mengatur lahan yang akan menghasilkan teh khusus pencuci darah dan teh konsumsi lain yang bermanfaat untuk melancarkan penyumbatan pembuluh darah akibat lemak berlebih” jelas Zen sambil keduanya berjalan mengarah kediaman mang Diman.
Tidak ingin merusak suasana dengan berbagai pertanyaan yang ada dikepalanya, mang Diman memilih untuk diam dalam sisa perjalanannya.
***
{brakkkkk}
Bunyi meja digebrak dengan sangat keras.
“..siapa yang sudah berani ingin membeli semua lahan perkebunan teh milikku?!” ucap bos Jalu yang terlihat sedang indehoi dengan tiga selebgram kota megapolitan dengan tarif yang tidaklah murah.
“..apakah dia belum tahu siapa Jalu?! Berani-beraninya dia mau membayar semua lahan perkebunan teh yang akan aku jual kepada investor asing!” ucapnya kembali.
Tiga selebgram yang mendengar pembicaraan orang yang sudah membookingnya terus memberikan rangsangan tanpa henti sesuai permintaannya.
Tubuh dempal dengan bobot ratusan kilogram itu terus dipijat dan diraba oleh ketiga selebgram yang sedang bertugas, sementara bos Jalu sendiri terlihat merem melek dibuatnya.
“..pokoknya aku tidak mau tahu, yang sudah nerima duit dari Tarna, harus segera angkat kaki, bayar pihak-pihak terkait untuk membantu pengosongannya!”
{klik}
Sambungan telepon jarak jauh itupun disudahi sepihak oleh bos Jalu.
“..bisa-bisanya ada orang sok-sok an mau ngebayarin semua lahan milikku, sudah merasa kaya dia! Lihat saja, aku akan buat perhitungan dengannya!”
“..Bos Jalu jangan marah-marah doong, nanti lekas tua...!” hibur salah satu selebgram sambil menggoyang goyangkan anggota tubuhnya yang menonjol didepan mata bos Jalu, yang lainnya juga tidak ingin ketinggalan, bos Jalu terlihat seperti juragan minyak dari arab yang dikerubuti oleh para selirnya.
“..sini maniizzz... kita main kuda kudaan yuklaah...” seru bos Jalu yang mulai merangkul dan memulai melancarkan SSI (speak speak iblis)nya.
Ketiga selebgram yang memang dibayar untuk memuaskan nafsu bejad bos Jalu, segera melayani klien mereka dengan sangat profesional.
Kejadian bercocok tanam tiga some itu berlangsung tidak lama, bisa ditebak, bos Jalu sebagai poros penyerangan gagal menjebol gawang ketiganya, karena sudah kelelahan diacara foreplay.
Ketiga selebgram yang merasa sudah melakukan pekerjaannya segera bersih-bersih dan mengambil jatah amplop mereka masing-masing.
Dengan penuh dongkol ketiganya pergi keluar kamar bos Jalu yang sudah pingsan karena kelelahan.
Bos Jalu sendiri terbangun ketika kamarnya diketuk dengan sangat keras dari arah luar.
Dengan sempoyongan dirinya berdiri kemudian membukakan pintu.
“..siapa kamu?!” tanya Bos Jalu yang terlihat masih belum sadar.
Zen yang sudah berhasil melacak keberadaan bos Jalu di kota megapolitan segera menemuinya.
Dengan mencekoki pil pengontrak jiwa, bos jalu tidak bisa berkutik, dirinya sambil di pandu oleh Zen, mulai menandatangani surat kesepakatan jual beli lahan perkebunan miliknya sambil di videokan oleh Zen.
Bos Jalu juga menunjukkan bukti rekeningnya didalam video, jikalau dana yang telah disepakati sesuai besaran NJOP sudah diterimanya.
Runtutan bukti yang sudah secara hukum sah dan tidak bisa diganggu gugat lagi keberadaanya.
***
Sesuai janji Zen pada mang Diman, belum genap satu minggu 130.000 hektar lahan perkebunan sudah berpindah tangan menjadi milik Zen, dan mang Diman yang berikan tugas untuk mengembangkan varietas pohon teh baru segera menjalankan pekerjaannya.
Bangunan dengan konsep knock down, langsung dibangun oleh Zen, hanya dalam kurun waktu 5 hari saja, laboratorium sekaligus rumah produksi Teh Welangi sudah terbangun dengan sangat cepat dengan dibantu alat berat Crane dan sejenisnya.
Warga desa yang sudah menjual lahan mereka juga ikut menikmati hasilnya kembali, karena Zen dan Mang Diman mempercayakan operasional kebun teh mereka dengan gaji yang tidak kecil.
Kehidupan ekonomi desa Welangi terlihat mulai menanjak, warga yang tadinya keluar merantau kekota besar, mulai berbondong – bondong balik ke desa.
Teh Welangi sendiri langsung mendunia dengan khasiatnya yang mampu menggantikan alat pencuci darah yang ada dirumah sakit.
Hanya dengan mengkonsumsi teh Welangi varietas terbaru, pasien yang tadinya rutin harus melakukan cuci darah kerumah sakit, langsung sembuh kembali setelah mengkonsumsi rutin seduhan teh Welangi selama tiga hari berturut-turut, dan semuanya sudah dibuktikan dengan adanya uji lab medis.
Teh Welangi varietas baru juga mempunyai khasiat untuk melancarkan pembuluh darah, dengan sasarannya adalah para pasien yang memang sudah divonis stroke.
Nilai teh Welangi dikalangan dunia medis semakin meningkat drastis, sebuah prestasi tersendiri tentunya bagi desa Welangi, karena varietas baru hanya bisa ditumbuhkan ditanah perkebunan desa Welangi.
Kuncinya ada pada batu purba yang ada didalam sindang, karena dari air yang bersumber di sindang, semua perkebunan didesa Welangi mendapatkan limpahan air untuk pengairannya.
__ADS_1
Sebuah rahasia yang hanya Zen saja yang mengetahui.