
Sepuluh anak buah pimpinan dari gengster pistol kembar terlihat ketakutan, dari jauh sama sekali tidak terlihat kondisi kawan mereka secara jelas, baru setelah mereka mendekat, mereka melihat bagaimana tubuh kawan-kawannya melepuh akibat garukan kuku-kuku mereka sendiri, selain itu kutu pasir juga telah masuk dan menghancurkan semua jaringan kulit para anggota gengster.
“...aakkhhhhh” teriakan demi teriakan keluar dari mulut anggota gengster dan terdengar sangat menyedihkan.
“..apa ini?..apa ini? Aaakkhhhh” sepuluh anggota gengster yang baru saja bergabung juga merasakan ada yang merayap di permukaan kulitnya.
Total sekarang ada 30 anggota gengster pistol kembar yang kondisinya memprihatinkan, seluruh tubuhnya penuh dengan lelehan darah akibat garukan kuku mereka yang terlalu dalam masuk kejaringan kulit.
“..kita pindah saja! Sudah engga menarik disini!” ujar Zen yang memerintahkan semua wanitanya untuk membereskan barang bawaan mereka.
Sembilan wanita super panas itu langsung berdiri dan berjalan berdampingan dengan Zen sebagai poros tengahnya.
Semua orang yang melihat pemandangan itu langsung memberikan ruang bagi Zen dan 9 wanitanya untuk melenggang pergi.
Petugas pantai tidak ada yang berani untuk memberikan bantuan pertolongan layaknya orang biasa, semua orang masih mengerubungi 30 anggota pistol kembali yang terlihat sudah tewas dengan mata melotot dan tubuh penuh dengan luka garukan.
Pemandangan yang tentunya membuat heboh pengunjung pantai kala itu.
Ketua gengster pistol kembar bergidik ngeri dengan kondisi anak buahnya yang tewas mengenaskan.
Sebuah tamparan keras baginya, sementara tamu dari gengster pistol kembar nampak membicarakan kapasitas dari gengster pistol kembar.
“..diam!! kalian semua akan aku hancurkan jika tidak bisa diam!” teriak ketua gengster pistol kembar yang memberikan ancaman serius.
Tidak ingin menanggapi serius ancaman dari ketua gengster pistol kembar, para tamu terlihat membubarkan diri dan kembali. saling menggunjingkan dirinya.
Hari ini gengster pistol kembar mendapatkan karmanya, begitulah tajuk berita yang ramai diperbincangkan di medsos dan beberapa siaran digital negeri samba.
Tidak ingin menjadi pusat pembicaraan ketua gengster pistol kembar langsung pergi meninggalkan area pantai tanpa memperdulikan nasib tubuh para anak buahnya.
{siuuttt..siuuuttt}
{kwaakkkk...}
Ratusan burung pemakan bangkai tiba-tiba menukik keras kearah pantai.
Semua pengunjung menyingkir ketakutan.
Hanya dalam hitungan 60 detik jasad dari 30 anggota gengster pistol kembar langsung lenyap menjadi santapan ratusan burung pemakan bangkai yang datang entah darimana asal usulnya.
“..cukup Yuki! Suruh yang lain segera membereskan kekacauan diatas pasir pantai!” ucap Zen yang masih memandangi wilayah pantai dari ketinggian coffeshop bersama sembilan wanitanya.
“..baik tuan muda!”
Dengan gerakan telepati Yuki memerintahkan hewan hewan pantai untuk segera membereskan bekas bekas noda darah yang tersebar, dan pantaipun kembali bersih seperti sedia kala.
Pemandangan tersebut tidak luput dari para pengunjung, mereka semua mengabadikan bagaimana banyak sekali hewan pantai yang membersihkan ceceran darah bekas jasad 30 anggota gengster pistol kembar dengan sangat cepat, setelah itu semua makhluk pantai menghilang kembali masuk kedalam rongga-rongga pasir pantai.
{tuuuttt}
Suara hape evelyn terdengar bersuara,
“..ayahku menelepon!” ujarnya memberitahu.
{klik}
Sambungan komunikasi via telepon itu tersambungkan.
“..iyaa ayah, kami tidak apa-apa, tenang saja, kana ada suami disini!”
“..iyaa, ayah tenang saja dirumah!”
“..iyaaa”
Evelyn terdengar menjawab dengan santai kekhawatiran ayahnya, sebab ayahnya mendapatkan informasi dari orang lapangannya, dipantai tempat evelyn sedang menghabiskan waktu bersama suami dan saudarinya terjadi kerusuhan dengan melibatkan gengster pistol kembar.
Setelah mendapatkan jawaban dari putri kesayangannya, sang ayah merasa lega dan tidak lagi khawatir.
“..namanya juga orang tua, pastinya khawatir dengan anak-anaknya!” ucap Zen sambil mengelus kepala Evelyn.
Aksi Zen langsung mengundang wanitanya yang lain untuk meminta hal yang sama secara bergantian, pada akhirnya pemandangan yang membuat para pengunjung coffeshop yang lain iri itu selesai ketika pelayan coffeshop membawakan pesanan Zen dan para wanitanya.
Hampir satu jam lamanya zen dan wanitanya menikmati momen senja sambil tertawa membahas apa saja terkait keluarga besar mereka.
“..kita kekamar dulu, ganti baju baru jalan ke supermall yang kalian maksudkan!”
“..yeay!!” kompak sembilan wanitanya Zen langsung memeluk dan menciumi Zen secara bergantian.
Tempat penginapan mereka sendiri masih satu atap dengan coffeeshop yang instagramable viewnya waktu senja.
Elevator ruangan yang memang didesain untuk memuat 15 orang pun menjadi penuh sesak oleh Zen dan para wanitanya.
Momen yang dimanfaatkan untuk bercengkrama dan melakukan pertukaran ludah antara Zen dan para sembilan wanitanya.
{tinggg}
Bunyi Elevator telah sampai pada lantai yang mereka tuju.
Zen dan para wanitanya tinggal di roof top dengan layanan kamar semalamnya jika dikurskan ke rupiah senilai 350juta.
Sebuah angka yang tentunya sangat sebanding dengan isi dompet Zen tentunya.
*Sementara itu disebuah markas gengster*
“..kalian semua, cari itu orang sampai dapat, dimana itu laki-laki dan sembilan wanitanya menginap!”
Teriak ketua gengster pistol kembar.
“..tapi bos! Apakah kita tidak perlu menyelidiki dulu bos! Takutnya nasib kami sama seperti 30 anggota yang lainnya!” jawab anggota gengsternya.
__ADS_1
{plakkk}
Tamparan keras langsung tunai membelai pipi bagian kanannya.
“..adduuhh!! sakiiit” teriak anggotanya yang langsung copot gigi gerahamnya.
“..kalian memang pengecut, selama ini kalian sudah makan gaji buta bukan! Sekaranglah saatnya kalian bekerja!”
“..aku tidak mau tahu, malam ini, sembilan wanita itu mesti menjadi penghangat ranjangku!”
“..pergi sana...cepaaaattt!!”
Tidak ada yang berani melawan perintah ketua gengster pistol kembar, semuanya langsung bergerak mencari tahu keberadaan Zen dan para wanitanya.
Semua jaringan di negeri samba mereka pergunakan, hingga muncul sebuah informasi jikalau Zen dan sembilan wanitanya tengah berada disebuah supermall internasional.
Berbekal informasi yang diberikan oleh informan yang bisa dipercaya, semua anggota gengster termasuk ketuanya langsung bergerak menuju supermall yang dimaksudkan.
Keramaian langsung terjadi, iring-iringan mobil mewah berwarna hitam terlihat meraung-raung dijalan besar negeri samba menuju supermall internasional.
{ciiittt}
Iring-iringan mobil itu berhenti tepat didepan pintu masuk supermall internasional.
{dapp...dappp}
Pintu mobil terbuka, saat ketua gengster pistol kembar telah keluar dari dalam mobil, kembali pintu mobil ditutup oleh anak buahnya.
“..kalian semua, segera kosongkan supermall ini!” perintah ketua gengster.
“..siappp bosss!”
Manajer mall terlihat tergopoh-gopoh lari mendatangi lokasi ketua gengster pistol kembar.
“..tuan Vom..!” dengan menunduk sangat dalam sang manajer menyapa Vom Detta sang ketua gengster pistol kembar.
“..kosongkan mall mu, ada orang yang sedang aku cari didalam mall mu!” ucap tegas Vom Deta.
“..maafkan saya tuan, mall sedang ramai-ramainya, tolonglah bantu saya kali ini, bisakah tuan menunggu dulu hingga target tuan keluar dari mall, saya akan mengarahkan tuan kedalam ruangan CCTV untuk memeriksa target tuan sedang berada dimana” rayu sang manajer supermall.
“..saya berjanji, akan mengirimkan bidadari super panas malam ini buat tuan Vom tentunya!” kembali sang manajer supermall berusaha untuk merayunya.
Mendengar kalimat terakhir dari sang manajer supermall, Vom detta langsung saja tergoda.
“..aiisshh... baiklah-baiklah kalo begitu! Tunjukkan aku tempat perekaman CCTVnya !” dengan bergegas masuk Vom Detta mendahului manajer supermall.
“..mari tuan Vom , ikuti langkah saya saja!” ucap sang manajer yang sudah berhasil mengejar ketertinggalan langkahnya dengan ketua gengster pistol kembar.
“..kalian semua! Tunggu aba-aba dari saya, nyalakan radio komunikasi kalian!” ucap Vom Detta memberikan arahan sebelum kembali meneruskan langkahnya masuk kedalam supermall.
“..siapp bos!” jawab kompak anak buahnya.
{kriiieet}
Pintu sebuah ruangan terbuka dari arah luar.
“..mari tuan Vom, silahkan masuk, didalam ruangan ini tuan bisa melihat semua rekaman aktivitas CCTV yang sudah terpasang!”
“..ya sudah! Jangan lupa siapkan makanan juga untukku, tadi aku lupa belum makan!” ucapnya dengan penuh arogan.
Sang manajer supermall tidak bisa memungkiri, hatinya sangat dongkol sekali, namun dirinya menyadari orang didepannya yang sekarang dalam posisi duduk dikursi empuk sambil melihat ratusan layar monitor adalah sosok yang tidak bisa disinggungnya.
“..baik tuan Vom, saya akan segera menghidangkan masakan kesukaan tuan Vom!”
“..jangan lupa anggur merahnya sekalian! Jangan pelit kamu!” sergah Vom Detta sebelum sang manajer supermall pergi keluar ruangan.
Sementara Vom detta sibuk melihat satu demi satu layar monitor yang menunjukkan aktivitas didalam supermall yang direkam oleh CCTV, Zen dan sembilan wanitanya terus keluar masuk gerai fashion internasional.
Berbagai macam baju pilihan mereka beli, tentunya memakai kartu milik Zen, tidak hanya itu sudah puluhan kali kedua lengan Zen digantungi goodiebag super banyak yang pada akhirnya membuat Zen harus keluar masuk toilet untuk memindahkannya kedalam ruang penyimpanan jiwa miliknya.
Zen bukannya tidak mengetahui kondisi kegaduhan yang ada di luar supermall, saat ini supermall tempat para wanitanya berbelanja telah dikepung oleh ratusan anggota gengster pistol kembar dengan kekuatan penuhnya.
Kamera CCTV supermall tidak akan bisa mendeteksi keberadaan dari Zen dan sembilan wanitanya, karena kalung yang melingkar dileher semua wanitanya Zen, selalu memproteksi diri mereka dari aktivitas perekaman dunia digital dimanapun mereka berada.
Dengan kata lain, mata manusia bisa melihat keberadaan Zen dan sembilan wanitanya, namun teknologi CCTV didunia ini tidak bisa merekam keberadaannya.
*kembali kedalam ruangan CCTV*
“..sudah semua layar monitor aku pandangi, kemana orang itu! Tidak mungkin informanku memberikan informasi yang salah!” Vom detta terlihat kesal dengan aktivitasnya didalam ruangan CCTV.
Sang manajer supermall yang melihat kegundahan hati ketua gengster pistol kembar menjadi panas dingin.
“..bagaimana ini, kenapa tidak ada muncul didalam rekaman CCTV!” gumam batin sang manajer supermall.
“..aaah...sudahlah, aku masuk saja! Bosan aku disini terus!” dengan setengah berteriak Vom detta beranjak dari kursi empuknya.
“..tuan Vom, apakah tidak ada cara lain tuan! Maafkan saya tuan, supermall sedang ramai-ramainya!” cegah sang manajer supermall menghalangi jalan keluar.
“..kamu minggirlah, jangan membuatku marah, atau aku hancurkan supermall ini!” ucap Vom detta tegas.
“..maaf tuan!” sang manajer supermall terlihat pasrah dengan keadaannya.
“..makanan dan minumannya sudah habis ratusan juta, masih saja bersikap begitu..huffftt” keluh kesah sang manajer supermall melihat ketua gengster pistol kembar pergi keluar dari ruangan perekaman CCTV.
Vom detta sudah memerintahkan anak buahnya untuk menyebar keseluruh lantai supermall dan mencari keberadaan zen beserta sembilan wanitanya.
“..bos mereka ada dilantai dua, dibutik fashion internasional” terdengar suara radio komunikasi dari anak buahnya yang menginformasikan keberadaan Zen dan sembilan wanitanya.
“..semua kelantai 2, jangan sampai ada akses keluar dari butik itu!” perintah Vom detta.
__ADS_1
“..siapp boss, bergerak!” anak buahnya langsung bergerak cepat kelantai 2 supermall.
Sambil menunggu hasil kerja anak buahnya Vom detta memilih menghabiskan waktu didalam mobil miliknya.
Didalam Butik Zen dan kelima wanitanya terlihat sedang melakukan proses pembayaran set pakaian yang mereka sudah mereka pilih.
“..kelihatannya kita perlu memakai ruang ganti setelah ini!” ujar Zen pada sembilan wanitanya.
Paham dengan kalimat yang Zen ucapkan, kesembilan wanitanya langsung menuju ruang ganti butik sambil membawa pakaian yang telah mereka bayar.
Para pegawai butik yang berjaga tidak ada yang curiga dengan aktivitas zen dan sembilan wanitanya, karena mereka sudah membayar angka yang luar biasa besarnya barusan.
Didalam ruang ganti, zen dan sembilan wanitanya langsung mengaktifkan teleportasi, mereka berpindah langsung dengan tujuan kamar milik evelyn di mansion milik ayahnya.
Sebuah teknologi perpindahan yang sangat berguna bagi mereka dari saren sang peri trinity.
{zlappp}
Zen dan sembilan wanitanya muncul didalam kamar luas milik Evelyn didalam mansion milik ayahnya.
“..suami, kenapa kita tidak memusnahkan kecoa itu?!” tanya Clara.
“..jangan membuat kegaduhan di supermall, kasihan orang yang tidak bersalah!” jawab Zen bijak.
“..aah benar juga! Yaa sudah cepat keluarkan belanjaan kami!” rengek Clara yang didukung oleh tatapan mata delapan wanita yang lainnya.
“..isssh..isssh..iiiiiiisssh, kalian ini bener-bener yaaa.. engga ada capeknya kalo sudah urusan fashion!”
{swoooosshh}
Dari kekosongan udara langsung muncul ratusan goodiebag belanjaan dari sembilan wanitanya Zen.
Dengan bersuka cita mereka langsung mengumpulkan ratusan goodiebag dan mulai tenggelam dengan aktivitas mereka sendiri.
Sementara para wanitanya tenggelam dengan ratusan goodiebag, Zen pergi menghilang menuju supermall.
{zlaappp}
Zen langsung muncul didalam mobil milik Vom Detta.
“..eeh!!”
Betapa terkejutnya Vom detta, disaat dirinya sedang berkonsentrasi memonitor lewat radio komunikasi miliknya, mendadak muncul orang yang sedang ditargetnya begitu saja didalam mobilnya.
Sosok yang menjadi targetnya langsung muncul dari kekosongan udara dikursi penumpang sebelahnya.
Keringat dingin Vom Detta langsung bercucuran.
“..segera kamu suruh anak buahmu meninggalkan supermall itu!” Zen berbicara tanpa menatap wajah Vom Detta.
Tubuh Vom Detta gemeteran, beberapa kali dirinya menjatuhkan radio komunikasi ditangannya, sementara keringat terus bercucuran membasahi raut wajahnya.
“..ss-se-semuaa..mu-munduuur!” dengan gagap Vom Detta memberikan perintah.
“..tapi bos! Target kita belum ditemukan!!”
“..bodoh!! cepat mundur!” perintah tegas Vom Detta.
Anak buahnya yang mendengar suara perintah dari bos mereka langsung menjadi bingung.
“..aak-aakuu bii-bilaang.... muu-munduur!!” kembali lagi Vom Detta memberikan perintahnya.
{bruugghhh}
Radio komunikasi digenggaman tangannya langsung terjatuh setelah memberikan perintah.
Vom Detta masih ketakutan, baru kali ini dirinya merasakan ketakutan terbesarnya.
“..telan pil ini! Dan berikan sisanya pada semua anak buahmu!” Zen memberikan satu buah pil digenggaman tangannya dan satu botol besar yang berisi ratusan pil pengikat jiwa.
{glukkkk}
Tanpa menggunakan air minum, Vom Detta langsung menelan pil yang diberikan oleh Zen.
Pil itu langsung lumer ketika mengenai kerongkongan Vom detta, muncul sinar terang dari dalam tubuh Vom Detta dalam beberapa saat, hingga sinar itu kembali redup seolah terhisap masuk kedalam tubuhnya.
“..mulai hari ini Jiwamu sudah terikat kontrak denganku, pun begitu juga dengan semua anak buahmu, setelah mereka menelan pil pengikat jiwa yang ada didalam botol itu!” perintah Zen.
Kondisi Vom Detta sudah seperti robot hanya mengganggukkan kepalanya saja sedangkan tubuhnya kaku untuk digerakkan.
“..setelah ini, segera kumpulkan semua anak buahmu dan suruh mereka menelan pil pengikat jiwa tanpa terkecuali!”
“..baik tuan! Bawahan akan menjalankan perintah tuan!”
Sopir yang mengemudikan mobil heran, perasaan dibelakang tidak ada orang lain selain bosnya, kenapa bosnya seperti berbicara dengan seseorang.
{zlappp}
Zen segera kembali menghilang dari tempat duduk penumpang disamping Vom Detta.
Benar saja, setelah Zen pergi, Vom detta mengumpulkan semua anak buahnya, dan membagikan semua pil pengikat jiwa untuk mereka telan bersama-sama.
{swoooosshhhh}
Hembusan angin kencang keluar dari tubuh mereka yang sudah mendapatkan khasiat dari pil pengikat jiwa, tidak seperti tubuh Vom detta yang bersinar terang, tubuh dari anak buahnya hanya mengirimkan hembusan angin kencang saja.
Didalam otak Vom detta kini sudah tertanam apa saja yang mesti dilakukannya dan apa yang harus dihentikan.
Sebuah program kerja yang akan membuat negeri samba menjadi lebih nyaman untuk ditinggali para wisatawan yang datang.
__ADS_1
Dan perubahan itu dimulai dari aktivitas gengster Pistol kembar.