
Di kaki bukit cubung, membentang sebuah danau yang indah pada senja hari. Danau cubung, permukaan airnya tenang, bias cahaya matahari sore dari ufuk barat, memantulkan warna keperakan. hanya ada satu jalan menuju danau itu.
sepanjang kaki bukit sebelah timur danau terdapat jurang yang lebar dan dalam bernama lembah bangkai.
Pemandangannya memang indah, namun jika malam telah menjelang, tak seorangpun yang berani melintasi kawasan itu, selain bau bangkai yang selalu menyengat pada tiap malam, jurang itu seakan-akan menyimpan misteri yang sulit di ungkapkan.
sebuah kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda putih, meluncur di bawah siraman matahari sore membelah jalan di antara danau dan jurang, di belakangnya menyusul pasukan berseragam diatas kuda yang berjumlah sekitar duapuluh ekor itu.
Dari umbul yang dibawa menandakan bahwa mereka adalah rombongan kadipaten karang setra.
di dalam kereta, duduk adipati karang setra dan seorang wanita cantik bernama tunjung mulur yang tengah memangku bocah laki-laki berusia sekitar lima tahun.
"sudah hampir malam, kang mas," Tunjung Mulur bergumam. matanya menatap arah lurus ke danau.
tangannya yang putih halus memeluk putra tunggalnya.
"ya sebentar lagi tempat ini terlewati " sahut Adipati Karang Setra. matanya menatap iba pada istrinya.
"adakah jalan lain selain jalan ini" tanya Tunjung Mulur
"ada tapi harus memutari bukit cubung, paling tidak bisa memakan waktu satu minggu perjalanan"
Tunjung Mulur mendesah pelan. matanya menatap Rangga Pati, anaknya. hatinya merasa gelisah, keangkeran bukit cubung dengan lembah bangkainya, menghantui pikirannya.
telah banyak orang yang melintasi jalan ini, namun hilang tak kembali bagai di telan bumi.
Senja terus merayap menjelang malam, matahari mengintip takut-takut di antara pepohonan kaki bukit. sinar keemasan itu mulai redup, memberi kesempatan pada embun dan kabut menampakkan diri. rombongan Kadipaten Karang Setra terus melaju menuju arah terbenamnya matahari.
"mestinya kang mas sendiri aja yang menemui ayahanda prabu" Tunjung Mulur sedikit bergumam
"ayahanda prabu sudah rindu ingin bertemu cucu pertamanya" sahut Adipati Karang Setra
kembali Tunjung Mulur mendesah, dia tau bukan ayahanda prabu yang rindu cucunya, tapi suaminyalah yang rindu dengan ayahandanya.
Memang, sejak mereka menikah dan dikaruniai seorang putra, tak pernah sekalipun mengunjungi orang tua Adipati Karang Setra itu.
Seorang penunggang kuda hitam yang semula berada didepan, menghampiri kereta.
di seragam nya terdapat sulaman bunga karang berjumlah lima. tingkat dan kedudukan prajurit Kadipaten Karang Setra memang dilihat dari sulaman bunga yang adabdi bagian dada.
makin banyak jumlah, makin tinggi tingkat dan kedudukannya. penunggang kuda itu membungkukkan badan dan menoleh kedalam kereta, Adipati Karang Setra mengulurkan kepalanya
"Ada apa gagak lodra" tanya Adipati Karang Setra
"Jalan kita terhalang, gusti Adipati " jawab Gagak Lodra
"Maksudmu" Adipati belum menangkap maknanya
Gagak Lodra belum sempat menjawab, tiba-tiba saja kereta terhenti. Adipati Karang Setra melongokan kepalanya menatap kedepan. dia mendapatkan sebuah pohon besar tumbang menghalangi jalan.
Adipati Karang Setra keluar dari kereta. dengan langkah ringan, dihampiri pohon tumbang itu, Gagak Lodra melompat dari kudanya. diikuti oleh prajurit lainnya. dihampirinya Adipati Karang Setra yang ternyata sudah didampingi Gajah Rimang yang juga memiliki lima sulaman bunga karang.
Langkah Gagak Lodra belum sampai di tempat itu. namun tiba-tiba Adipati Karang Setra mundur tiga langkah, kepalanya agak dimiringkan sedikit, wajahnya tegang. pohon besar yang merintangi jalan itu jelas kesengajaan. meski tumbang berikut akarnya, tetapi terasa ada keganjilan. jika karena bencana alam, mestinya pohon lain sekitarnya pasti ikut rusak. tapi mengapa hanya pohon besar itu saja yang rusak?
"Hemmm, ada tamu tak diundang" gumam Adipati
"Tampaknya jumlah mereka cukup banyak, gusti" sahut Gagak Lodra yang juga menangkap suara kecil yang mencurigakan disekitarnya.
"Mereka sepertinya tidak bermaksud baik, gusti" sambung Gajah Rimang
"Ya mereka bukan orang sembarangan, nafas dan gerakannya terlatih sempurna" kata Adipati, matanya tak lepas menatap sekelilingnya, suasana jadi hening.
"Perintahkan semua prajurit untuk bersiap-siap" sambung Adipati Karang Setra seketika.
"Siap gusti" seru Gajah Rimang seraya melompat menghampiri para prajurit yang juga sudah bersiaga.
"Dan kau..." Adipati belum lagi meneruskan perintahnya, mendadak dari rimbunan semak dan pohon bermunculan segerombolan orang berpakaian serba hitam dangan senjata terhunus.
Gajah Rimang yang baru saja memberi aba-aba pada prajurit, terkejut sekali.
Dalam sekejap gerombolan itu mengepung, Adipati menatap satu persatu para pengepungnya, hatinya terkesiap ketika matanya tertumbuk pada seseorang laki-laki tinggi tegap berkulit kuning.
wajahnya kasar penuh brewok sambil memegang tongkat berkepala tengkorak manusia.
Adipati tahu siapa laki-laki itu.
"Iblis Lembah Tengkorak" desis Adipati bergetar
Gajah Rimang dan Gagak Lodra terkejut pula mendengar desisan Adipati. mereka tahu bahwa Iblis Lembah Tengkorak adalah seorang tokoh dari golongan hitam yang sulit dicari tandingannya.
Ilmu Tongkat Samber Nyawa yang dimilikinya. sangat hebat belum lagi ilmu andalannya, yakni Bayangan Setan Neraka benar-benar tak tertandingi. banyak tokoh aliran putih yang tewas ditangan iblis ini. dan kini dia muncul tiba-tiba.
"He he he..." Iblis itu terkekeh. tawanya disertai tenaga dalam yang sempurna hingga menggema ke seluruh penjuru
seketika itu juga seluruh prajurit Karang Setra tergetar hatinya
"Tak kusangka, Adipati Karang Setra mengantarkan upeti hari ini" sambung Iblis Lembah Tengkorak
suaranya menggelegar mesti diucapkan dengan tenang
"Hhhh....!" Adipati Karang Setra mendesah panjang mencoba menenangkan diri.
meskipun dia seorang Adipati dan memiliki kepandaian cukup tinggi. tapi ilmunya masih jauh jika dibandingkan dengan iblis berwajah kasar itu.
sepuluh orang yang memiliki kepandaian setingkat dengannya belum tentu mampu mengalahkannya.
Didalam kereta, wajah cantik Tunjung Mulur berubah pucat pasi, tubuhnya gemetar tangannya erat memeluk Rangga Pati.
Tunjung Mulur memang belum mendengar nama Iblis Lembah Tengkorak namun nalurinya mengatakan bahwa gerombolan itu tidak bermaksud baik.
"Ibu..." Rangga memandang wajah ibunya. sepertinya dia menangkap kegelisahan ibunya
Sinar mata polos yang memandangi Tunjung Mulur itu hanya membuat hatinya gelisah.
Dia hanya mampu memeluk dan memohon keselamatan pada yang kuasa.
Tunjung Mulur hanyalah seorang wanita yang dilahirkan dan dibesarkan dilingkungan kaum bangsawan, yang tak mengerti dunia kependekaran.
"Serang...!" tiba-tiba suara itu menyentak hati Tunjung Mulur, disusul suara teriakan dan berdentingan senjata beradu.
"Ohh!" pekik Tunjung Mulur ketika para prajurit yang mengawalnya sudah terlibat pertempuran sengit dengan gerombolan itu.
"Gagak Lodra! bawa istri dan anakku pergi" teriak Adipati Karang Setra
Adipati telah sibuk melayani lima orang yang mengeroyoknya dengan ganas, terpaksa dikeluarkan pandangnya , dengan menggerakkan ilmu Bayu Mega diputar putarnya pedang itu dengan gerakan yang sangat cepat. dengan ilmu andalan itu, pedangnya hanya terlihat berkelebat bagai titik-titik air jatuh dari awan.
Gagak Lodra bergegas menghampiri kereta ketika mendengar perintah junjungannya itu, namun ketika sampai diatas kereta, dia disambut oleh sebuah kelebatan bayangan hitam.
__ADS_1
dengan tangkas, Gagak Lodra berkelit menjatuhkan diri ke tanah, bayangan hitam itu terus menyerang Gagak Lodra walau dia masih bergulingan di tanah, dan betapa terkejutnya Gagak Lodra ketika tahu si penyerang adalah Iblis Lembah Tengkorak.
"Utss" Gagak Lodra berkelit dan melompat bangkit
Tongkat berkepala manusia itu menyambar bagian kosong disisi Gagak Lodra, iblis itu terkekeh saat serangannya terelakkan, kembali Gagak Lodra bersiap dengan pedang menyilang didada, matanya tajam memandang Iblis Lembah Tengkorak yang tegak di depannya.
"Traakkk" benturan senjata tajam terjadi lagi
Iblis Lembah Tengkorak dengan tenang menangkis serangan pedang yang begitu cepat dari Gagak Lodra, seketika itu Gagak Lodra melompat mundur sejauh dua tombak, tangannya seperti kesemutan saat pedangnya berbenturan dengan tongkat berkepala tengkorak.
Dan alangkah terkejutnya Gagak Lodra ketika melihat pedangnya patah jadi dua, rasa terkejutnya belum lagi hilang tiba-tiba ujung tongkat iblis itu meluruk deras kearah lehernya, Gagak Lodra berusaha berkelit dengan menarik kepalanya ke belakang namun... "Aaaachh.."
kebutan yang tiba tiba itu tak sempat terhindari, ujung tongkat yang seperti bernyawa itu menebas leher Gagak Lodra, hanya sebentar Gagak Lodra mampu berdiri selanjutnya ambruk ke tanah, darah segera menyembur dari leher yang tak berkepala itu.
Itulah keistimewaan Tongkat Iblis Lembah Tengkorak, meskipun bentuknya bulat namun keampuhan untuk memenggal kepala manusia tak kalah dengan mata pedang yang tajam.
"He...he...he..." kembali Iblis Lembah Tengkorak itu terkekeh
Adipati Karang Setra yang sibuk menghadapi serangan anak buah Iblis Lembah Tengkorak, masih sempat mendengar jeritan Gagak Lodra, betapa terkejutnya Adipati melirik Gagak Lodra telah membujur kaku bersimbah darah dengan kepala terpisah.
Pertempuran terus berlangsung, banyak prajurit Karang Setra yang terjungkal mandi darah, kemampuan ilmu silat orang Iblis Lembah Tengkorak memang jauh diatas prajurit Karang Setra, hanya Gagak Lodra, Gajah Rimang, dan Adipati sendiri yang memiliki kepandaian cukup tinggi.
Adipati Karang Setra menggenjot tubuhnya, dan dalam sekejap melayang di udara, lalu meluruk kearah Iblis Lembah Tengkorak, dengan ringan di jejekan kakinya didepan pemimpin gerombolan yang sudah dekat dengan kereta.
"Ayah...." teriak Rangga ketika melihat ayahnya sudah berdiri disamping kereta
Bocah kecil segera melompat keluar dari jendela dan berdiri di samping ayahnya, meskipun masih bocah, gerakannya lincah dan ringan menandakan dirinya telah dilatih dengan baik dasar-dasar ilmu kanuragan dan ilmu meringankan tubuh.
Betapa terkejutnya Tunjung Mulur melihat tingkah anaknya dengan cepat dia keluar dari dalam kereta, dengan wajah diliputi rasa ketakutan, Tunjung Mulur menghampiri putranya, ditarik bocah itu dan di gendongnya, bergegas dia menjauhi tempat itu.
"He..he.. rupanya ada bidadari disini" Iblis Lembah Tengkorak terkekeh matanya menatap Tunjung Mulur yang ketakutan.
Gajah Rimang yang melihat keadaan junjungannya tak menguntungkan, segera melompat kearah Adipati Karang Setra. tiga orang yang mencoba menghadangnya dengan cepat dibabat oleh pedangnya. ambruklah tiga orang itu dengan perut terbelah.
"Bawa istri dan anakku pergi" perintah Adipati Karang Setra pada Gajah Rimang, pandangannya tetap pada iblis itu.
"Tapi gusti..."
"Tak ada waktu lagi, Gajah Rimang selamatkan mereka" sentak Adipati cepat memotong.
Belum sempat Gajah Rimang bicara kembali, Adipati telah lebih dulu melompat dan menyerang Iblis Lembah Tengkorak, meski disadari lawannya jauh diatas kepandaiannya, Adipati tidak peduli lagi, harapannya Gajah Rimang secepatnya membawa Tunjung Mulur dan Rangga Pati lari menyingkir dari tempat ini.
Belum sempat Gajah Rimang melaksanakan perintah junjungannya, dia sudah disibukkan dengan lima orang yang menyerang ganas.
Adipati mendengus geram, prajurit mulai kocar-kacir, keadaannya sendiri sudah sangat kewalahan menghadapi iblis itu.
Dua puluh mayat Karang Setra telah bergelimpangan, mereka kini tinggal sepuluh orang termasuk Gajah Rimang, sementara dari gerombolan Iblis Lembah Tengkorak hanya tujuh orang saja tergeletak tak bernyawa.
"Aaaakh..." Tiba-tiba Gajah Rimang memekik keras.
Tubuhnya terhuyung-huyung dengan darah mengucur
dari tangannya yang telah buntung. Belum sempat
Gajah Rimang menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba
saja seorang dari pengeroyoknya menghunus pedang
dengan kecepatan yang luar biasa, dan tepat
menembus jantung Gajah Rimang. Prajurit Karang
berdiri. Ketika pedang itu ditarik, tubuhnya segera
ambruk tak berkutik.
'Keparat!" Dengus Adipati saat mengetahui Gajah
Rimang tewas.
Adipati menjadi lengah.
Dan kelengahan itu tidak disia-siakan lblis Lembah Tengkorak yang berakibat fatal
buat Adipati. Lal... "Akh!
"Kakang...!" jerit Tunjung Melur memilukan.
Adipati Karang Setra terhuyung-huyung sambil mendekap dadanya yang koyak berlumuran darah.
Memang, begitu cepat serangan itu sehingga sulit bagi Adipati menghindari ujung tongkat lblis Lembah Tengkorak. Perhatiannya memang terpecah saat itu.
"Dinda, lari.!" teriak Adipati yang teringat akan
keselamatan anak istrinya.
"Kakang... kau terluka," bergetar suara Tunjung Melur.
"Jangan hiraukan aku! Cepatlah lari. Selamatkan anak kita!" perintah Adipati Karang Setra.
Tunjung Melur belum sempat berbuat apa-apa, ketika tiba-tiba blis Lembah Tengkorak melompat kearahnya. Melihat keselamatan istrinya terancam,
Adipati dengan sisa-sisa tenaga menggenjot tubuhnya menghalangi Iblis Lembah Tengkorak. Benturan diudara tak terhindarkan lagi.
Bersamaan dengan terdengarnya jeritan yang
menyayat, tubuh Adipati Karang Setra ambruk ke
tanah. Sebentar dia meregang nyawa, lalu diam tak
bergerak dengan leher yang koyak, hampir putus. Dada dan perutnya berlubang besar mengeluarkan darah segar.
"Kakang...!"Tunjung Melur histeris.
Sambil menggendong putranya, dia berlari menghambur kearah suaminya yang sudah tak bernyawa lagi. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti karena dengan cepat Iblis
Lembah Tengkorak sudah menghadang di depannya.
Bibir lblis itu menyeringai dengan mata liar penuh
nafsu menatap keelokan tubuh Tunjung Melur.
"He he he... Cantik, cantik sekali." bibir lbis Lembah
Tengkorak makin menyeringai lebar. Liurnya tertahan.
"Oh.Tunjung Melur tersentak. Wajahnya makin
__ADS_1
pucat. Perlahan Tunjung Melur melangkah mundur.
Tangannya kian erat memeluk putranya. Anehnya,
Rangga sedikit pun tak menangis. Dia malah
menatap tajam pada laki-laki kasar berpakaian serba hitam yang ada di depannya itu. Nalurinya mengatakan bahwa laki-laki itu bukan orang baik-baik.
Menyadari gelagat yang tak menguntungkan itu,
Tunjung Melur segera berbalik dan berlari sekuat-
kuatnya. Iblis Lembah Tengkorak terkekeh sambil
berjalan dengan mengerahkan ilmu peringan tubuhnya.
Meski Tunjung Melur sudah berlari sekuat tenaga, tapi jarak antara dia dengan iblis itu kian dekat saja.
Tunjung Melur terus berlari menerobos semak dan
pepohonan. Dia justru tak menyadari kalau arah larinya itu mendekati jurang.
Iblis Lembah Tengkorak tersenyum menang, karena dia kenal betul daerah ini
seperti dia mengenal dirinya sendiri.
"Oh!" Tunjung Melur terkejut setelah menyadari di
depannya terdapat jurang yang menganga lebar, siap untuk menerkam. Begitu dalamnya sehingga dasar jurang tidak terlihat.
"He he he." kembali lblis itu terkekeh. "Mau ke mana,
Cah Ayu?"
"Oh, tolooong..!"jerit Tunjung Melur sekuat-kuatnya.
"Tak seorang pun yang dapat menolongmu, Cah Ayu," lblis Lembah Tengkorak makin lebar menyeringai.
Sengaja Iblis Lembah Tengkorak mendekat perlahan
agar Tunjung Melur makin ketakutan. Tanpa
disadarinya, Tunjung Melur melangkah mundur.
Padahal... satu langkah lagi saja tubuhnya akan
terjerumus ke dalam jurang!
Saat kaki Tunjung Melur akan melangkah mundur,
dengan cepat Iblis Lembah Tengkorak melompat
sambil mengerahkan ilmu peringan tubuhnya meraih pinggang Tunjung Melur. Wanita itu terkejut luar biasa.
Tanpa dapat dicegah lagi, mereka jatuh terguling
menjauhi bibir jurang.
Rangga yang berada digendongannya terlepas, dan jatuh mendekati bibir jurang.
"Rangga..!" jerit Tunjung Melur saat melihat putranya terguling mendekati jurang.
Tubuh kecil itu terus berguling, dan untunglah sebuah pohon besar yang tumbuh di bibir jurang menahannya. Dengan sekuat tenaga, Tunjung Melur berontak lalu berlari mengejar anaknya.
Tetapi dengan sigapnya, Iblis Lembah Tengkorak menarik kain wanita itu.
"Auw." Tunjung Melur memekik tertahan. Kain penutup tubuhnya sobek terjambret Tangan Tunjung Melur segera menutupi tubuhnya yang terbuka itu.
"He he he.." Iblis Lembah Tengkorak terkekeh melihat tubuh putih mulus di depannya.
Seketika gairah nafsunya bergejolak. Tanpa membuang waktu lagi, Iblis Lembah Tengkorak memburu Tunjung Melur yang telah sampai di dekat Rangga.
"Akh, lepaskan!" pekik Tunjung Melur ketika tangan Iblis Lembah Tengkorak memeluk pinggangnya.
Sekali lagi mereka bergulingan. Tampaknya kali ini Iblis itu tak akan melepaskannya lagi. Nafsunya kian tak terkendalikan. Dengan buas direjang dan diciuminya tubuh Tunjung Melur. Rangga yang menyaksikan hal itu segera bangkit dari jatuhnya.
Tanpa menghiraukan tubuhnya yang kecil dan sakit yang sangat, Rangga menubruk sambil memekik tinggi. Tangannya yang kecil dihantamkan ke punggung laki-laki yang tengah merejang ibunya. Hantaman itu memang tidak berarti apa-apa bagi Iblis Lembah Tengkorak, namun cukup merepotkan.
"Bocah setan!" dengus Iblis itu kesal karena merasa terganggu. Iblis Lembah Tengkorak menyentakkan tangannya.
Dengan seketika tubuh kecil itu melayang deras dan menghantam pohon di pinggir jurang.
"Rangga..!" jerit Tunjung Melur.
Ingin rasanya Tunjung Melur menghambur dan memeluk putranya, tapi tangan Iblis Lembah Tengkorak terlampau kuat memeluknya.
Tunjung Melur terus meronta-ronta sambil menjerit- jerit berusaha melepaskan diri.
Semakin kuat dia meronta, Iblis itu makin bergairah. Rontaan itu dianggap sebagai geliatan yang menggairahkan. Jeritannya terdengar bagai rintihan kenikmatan. Tak ada yang menolong. Tak ada yang menyaksikan kecuali sepasang mata bulat bocah kecil itu.
Tatapannya penuh perasaan. Walau tak mengerti apa yang dilakukan oleh Iblis itu terhadap ibunya, namun nalurinya mengatakan bahwa ibunya menjadi korban manusia berhati binatang.
"Ibu..." rintih Rangga sambil berusaha bangun.
Dicobanya untuk berdiri, tapi tubuhnya terasa lemas. Hentakan tangan Iblis itu seakan-akan meremukkan tulang-tulangnya.
Untungnya dengan Ilmu kanuragan yang dimilikinya, benturan keras dengan pohon besar itu secara reflek dapat sedikit tertahan.
Sementara itu Tunjung Melur sudah tak berdaya lagi. Dia hanya dapat menangis dan merintih akibat digagahi oleh Iblis Lembah Tengkorak.
"He he he...!" tawa Iblis Lembah. Tengkorak penuh kemenangan.
Tubuh putih mulus itu tergolek di rerumputan. Titik-titik air mata mengalir membentuk anak sungai di pipinya. Hati Tunjung Melur kian hancur karena telah ternoda. Sementara itu Rangga berusaha merayap mendekati ibunya yang kini tanpa benang sehelai pun di tubuhnya.
"Ibu.," rintih Rangga. Tangannya menggapai-gapai berusaha meraih ibunya.
"Hui Anak ini bisa jadi duri!" dengus Iblis Lembah Tengkorak.
"Jangan...!" pekik Tunjung Melur ketika melihat Iblis itu menggerakkan tongkatnya.
Dengan sisa-sisa tenaganya, Tunjung Melur berusaha menghalangi tongkat yang terarah kepada anaknya itu. Dan betapa malangnya nasib Tunjung Melur ketika dengan cepat tongkat berkepala tengkorak itu menghantam kepalanya.
Dia tewas seketika. Rangga terbelalak. Matanya tajam mengarah pada laki-laki yang telah membunuh kedua orang tuanya.
"Setan cilik!" dengus Iblis Lembah Tengkorak merasa mendapat tantangan dari sorot mata yang tajam penuh kebencian. Dengan kemarahan yang memuncak, ditendangnya tubuh Rangga dengan kuat.
Tendangan yang disalurkan dengan tenaga dalam itu, membuat tubuh kecil itu meluncur deras masuk ke dalam jurang. Tanpa teriakan dan tanpa terhindari lagi.
__ADS_1
Iblis Lembah Tengkorak memang pantas geram, karena niatnya untuk memiliki wanita cantik itu gagal total. Kematian Tunjung Melur di luar dugaannya sama sekali.
Iblis Lembah Tengkorak melompat bagai kilat meninggalkan tempat yang kini berubah menjadi sepi dan seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa...