Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Rahasia Puri Merah Bag. 3


__ADS_3

Pagi-pagi sekali prajurit Kerajaan Mandaraka berangkat meninggalkan lereng Bukit Arang Lawu. Kepergian mereka dipimpin Punggawa Karpatala dengan diiringi pandangan mata Pangeran Kandara Jaya. Sebenarnya, Karpatala berat meninggalkan Pangeran Kandara Jaya seorang diri di bukit yang penuh bahaya ini. Tapi, kata-kata dan tekad pangeran muda itu sulit untuk dibelokkan lagi.


Prajurit yang jumlahnya sudah berkurang itu berjalan cepat menuruni lereng bukit, kembali ke Kerajaan Mandaraka. Pemuda pewaris tahta kerajaan itu berdiri tegak dengan tangan memegang ujung gagang pedang yang tergantung di pinggang, memandangi kepergian prajuritnya.


"Aku harus segera ke puncak bukit itu," gumam Kandara Jaya perlahan.


Kandara Jaya segera mengayunkan kakinya cepat-cepat mendaki lereng menuju puncak. Pangeran muda itu berjalan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh. Begitu ringan kakinya bergerak, sehingga seperti tidak menyentuh tanah sama sekali. Kandara Jaya terus melangkah merambah hutan dan tebing batu terjal. Kadang-kadang harus melompati sungai dan jurang kecil yang menghadang.


Langkahnya mendadak terhenti ketika telinganya yang tajam mendengar suara langkah orang lain dari arah samping. Kandara Jaya segera melompat ke atas batu besar, dan berlindung di baliknya. Telinganya bergerak-gerak mendengarkan suara langkah kaki yang makin jelas dan dekat. Suara langkah kaki tanpa disertai dengan pengerahan ilmu meringankan rubuh, tentu saja sangat mudah untuk didengarkan.


Tidak lama kemudian, dari balik lebatnya pepohonan muncul dua orang laki-laki dan perempuan. Mereka adalah Rangga dan Pandan Wangi. Kedua pendekar muda itu berjalan santai sambil bercakap-cakap. Tidak ada yang penting dalam percakapan mereka, bahkan tidak jarang diselingi canda dan tawa yang lepas bergerai.


"Pandan...," bisik Rangga tiba-tiba.


"Ada apa?" tanya Pandan Wangi ikut berhenti melangkah.


"Aku merasakan tarikan napas halus di sekitar sini," kata Rangga pelan setelah berbisik.


Pandan Wangi memiringkan kepalanya sedikit. Dicobanya untuk mendengarkan suara tarikan napas halus yang dikatakan Rangga tadi. Tapi, meskipun sudah mengerahkan ilmu pembeda gerak dan suara, tetap saja tidak mendengar suara apa-apa kecuali hembusan angin dan suara detak jantungnya sendiri.


"Kau mendengarnya, Pandan?" tanya Rangga.


"Tidak," sahut Pandan Wangi.


"Hanya satu, tapi kurasa dia memiliki ilmu yang sangat tinggi. Tarikan napasnya begitu halus, hampir aku tidak mendengarnya," gumam Rangga pelan sekali.


"Apa itu bukan tarikan napasmu sendiri, Kakang?" Pandan Wangi tidak yakin, karena tidak mendengar apa-apa.


"Aku bisa membedakan antara diriku, kau, dan orang lain. Hati-hatilah, orang itu sangat tinggi ilmunya."


Rangga melangkah tiga tindak ke depan. Kepalanya dimiringkan ke kanan dan ke kiri perlahan-lahan. Ilmu pembeda gerak dan suara yang dimilikinya sudah mencapai tahap kesempurnaan. Baginya, suara sehalus apa pun sangat mudah ditangkapnya. Jadi, tidak heran kalau dia mampu mendengar sesuatu yang tidak dapat didengar orang lain, meskipun juga memiliki ilmu pembeda gerak dan suara.


"Kisanak, aku tidak bermaksud buruk padamu. Dan aku juga tidak mengganggumu jika kau tidak memiliki niat buruk pada kami," kata Rangga. Suaranya terdengar kecil, namun menggema ke segala penjuru. Rangga mengerahkan tenaga dalam yang sempurna sekali.


Tak ada sahutan sedikitpun. Keadaan di sekitar tempat itu tetap sunyi. Hanya desir angin yang menyahuti kata-kata Pendekar Rajawali Sakti itu.


"Baiklah. Aku tahu di mana kau bersembunyi. Kalau kau tidak ingin menampakkan diri, aku juga tidak akan mengganggu tempat persembunyianmu," kata Rangga lagi.


Rangga menjentikkan jarinya, mengajak Pandan Wangi meninggalkan tempat itu. Pandan Wangi mengikuti, dan berjalan di samping Rangga. Kedua pendekar muda itu terus melangkah biasa tanpa menoleh sedikitpun. Namun Rangga tahu kalau orang yang berlindung di balik batu besar itu tengah mengawasinya.


Pangeran Kandara Jaya baru keluar dari persembunyiannya setelah Rangga dan Pandan Wangi tidak terlihat lagi. Dia menatap arah dua pendekar tadi berlalu. Sama sekali tidak dikenalinya dua anak muda yang mungkin sebaya dengannya tadi. Tapi diakui, kalau yang laki-laki sungguh luar biasa ilmunya. Persembunyiannya dapat diketahui meskipun ia sudah mengerahkan ilmu meringankan tubuh dan pengatur pernapasan dengan sempurna sekali. Kandara Jaya mendesah panjang dan berat Untuk beberapa saat dia masih berdiri.


"Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya, jika orang itu salah seorang kelompok Puri Merah," gumam Kandara Jaya pelan.


"Dugaanmu salah, sobat!"


"Heh!" Kandara Jaya terkejut setengah mati. Begitu kagetnya, sehingga ia terlonjak dan langsung berbalik. Di atas batu tempatnya berlindung tadi, kini sudah berdiri Pendekar Rajawali Sakti. Kandara Jaya keheranan bukan main. Kehadiran pendekar itu tidak diketahuinya sama sekali. Tangannya bergerak perlahan menyentuh gagang pedang yang tergantung di pinggang.


"Hup!"


Rangga melompat turun dan berdiri tegak sejauh satu batang tombak di depan Kandara Jaya. Bibirnya menyunggingkan senyum ramah penuh persahabatan. Kandara Jaya menggeser kakinya ke samping, saat Pandan Wangi muncul dari arah perginya tadi.


"Siapa kalian?" tanya Kandara Jaya.


"Aku Rangga, dan itu adikku, namanya Pandan Wangi. Cantik dan lembut, tapi sedikit nakal dan judes," Rangga memperkenalkan diri.


"Kakang!" Pandan Wangi mendelik.


"Siapakah Kisanak ini?" tanya Rangga tidak mempedulikan Pandan Wangi yang mendelik dengan wajah merah.


"Aku Kandara Jaya," katanya memperkenalkan diri.


"Apakah kau seorang pangeran?" selidik Pandan Wangi yang sudah menghampiri Rangga, dan berdiri di sampingnya.


"Bukan, aku hanya seorang pengembara biasa," sahut Kandara Jaya menyembunyikan identitas yang sebenarnya.

__ADS_1


"Hm..., kelihatannya kau seorang putra raja. Atau paling tidak putra bangsawan yang kesasar," gumam Pandan Wangi. Pandangan matanya penuh selidik ke arah pakaian yang dikenakan Kandara Jaya.


Pangeran Kandara Jaya agak terperanjat juga dengan kata-kata Pandan Wangi. Penilaian gadis itu memang tepat. Tapi Kandara Jaya tidak ingin seorang pun tahu tentang dirinya yang sebenarnya. Lebih-lebih pada orang asing yang belum dikenalnya sama sekali. Kandara Jaya harus selalu waspada pada siapa saja yang ditemui di Bukit Arang Lawu ini.


"Baiklah, aku bisa memaklumi kalau kau enggan menyebutkan siapa dirimu yang sebenarnya. Tapi, boleh kutahu, untuk apa kau berada di sini?" Rangga menyelak pembicaraan Pandan Wangi yang terus tidak percaya pada Kandara Jaya.


"Kalian juga mengapa berada di Bukit Arang Lawu ini?" Kandara Jaya malah balik bertanya.


"Aku sedang mengejar orang-orang berkuda yang membantai habis satu desa kemarin," jawab Rangga terus terang.


"Satu desa...!?" Kandara Jaya terlonjak kaget.


"Benar. Tampaknya kau kaget, mengapa?" selidik Pandan Wangi.


"Oh, tidak. Tidak apa-apa. Aku juga terkejut mendengar satu desa dibantai," sahut Kandara Jaya sedikit gugup.


Kandara Jaya jadi sedikit gelisah mendengar hal itu. Sedangkan sampai pagi tadi dia dan prajuritnya masih berkemah di lereng bukit ini. Rasanya sulit dipercaya kalau gerombolan Puri Merah bisa turun bukit dan membumihanguskan satu desa. Bagaimana mungkin bisa terjadi? Mereka jalan dari mana? Atau ada kelompok lain? Macam-macam pertanyaan berkecamuk di benak Kandara Jaya. Pertanyaan-pertanyaan yang sulit terjawab.


Putra Mahkota Kerajaan Mandaraka itu memandangi Rangga dan Pandan Wangi penuh selidik. Dia masih belum percaya kalau kedua orang muda itu bukan anggota gerombolan Puri Merah. Kandara Jaya memberikan beberapa pertanyaan yang dijawab Rangga dengan terus terang dan jujur. Semua pertanyaan Kandara Jaya menyangkut perihal pembantaian di desa yang telah diceritakan Rangga.


Mendengar jawaban-jawaban yang bernada jujur dan berterus terang, Kandara Jaya jadi bimbang juga. Lebih-lebih lagi melihat penampilan Rangga dan Pandan Wangi yang bersikap sopan dan penuh persahabatan. Gerombolan Puri Merah adalah orang-orang yang kejam dan berpenampilan sadis. Benarkah mereka bukan dari Puri Merah? Pertanyaan itu selalu menggelayut di benak Kandara Jaya.


********************


Pada saat itu Lawawi Girang dan Kitri Boga telah tiba di puncak Bukit Arang Lawu. Mereka hampir tidak percaya melihat puncak bukit bagaikan sebuah benteng dengan tembok-tembok dari batu alam membentuk lingkaran bagai cincin raksasa. Dinding batu alam itu dikelilingi padang rumput yang luas, bagai permadani terhampar. Satu pemandangan indah, tapi memiliki suasana yang mengandung misteri.


"Aku tidak yakin mereka bersarang di sini," kata Kitri Boga setengah bergumam.


"Hm...," Lawawi Girang hanya bergumam. Pandangan matanya terus berkeliling.


"Keadaannya sungguh sepi. Tidak ada tanda-tanda seorang pun pernah ke sini," Kitri Boga bersuara pelan.


"Tapi kita harus waspada. Suasana tenang belum tentu...," Lawawi Girang tidak melanjutkan kata-katanya.


Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja mereka telah dikepung tidak kurang dari sepuluh orang berjubah merah. Semuanya menghunus sebatang tombak bermata tiga. Dari ujung kepala sampai ujung kaki tertutup jubah merah. Hanya tangan dan sedikit wajah yang terlihat.


Sret!


Lawawi Girang langsung menghunus pedangnya. Kitri Boga juga telah mengeluarkan pedangnya yang tergantung di punggung. Mereka berdiri saling beradu punggung. Sedangkan orang-orang berjubah merah itu, hanya berdiri tegak tanpa bergeming sedikit pun.


"Hati-hati, mereka pasti bukan manusia sembarangan," bisik Lawawi Girang.


"Ya," sahut Kitri Boga.


"Jangan beri. kesempatan. Bunuh, selagi mampu!"


Kitri Boga tidak sempat menyahut, karena tiba-tiba saja terdengar suara bentakan keras. Seketika itu juga sepuluh orang berjubah merah serentak membuat gerakan-gerakan dengan tombak bermata tiganya. Dan bagaikan dikomando saja mereka berlompatan, meluruk ke arah sasaran yang dikepungnya.


Kitri Boga dan Lawawi Girang saling beradu punggung untuk menghadapi orang-orang berjubah merah itu. Lawan-lawannya menyerang sangat cepat dan silih berganti Seperti dikomando saja, mereka berlompatan dan meluruk ke arah sasaran yang dikepungnya dengan sangat teratur!


Pertempuran tidak terhindarkan lagi. Orang-orang berjubah merah itu menyerang sangat cepat dan salingi bergantian. Dan kini mereka berhasil memisahkan, Lawawi Girang dan Kitri Boga, sehingga satu harus melawan lima orang. Lawawi Girang cemas juga karena terpisah dengan Kitri Boga.


"Awas...!" teriak Lawawi Girang ketika melihat salah seorang yang mengeroyok Kitri Boga melemparkan seutas tambang dari balik lengan bajunya yang besar.


Pada saat yang bersamaan Lawawi Girang jadi lengah, maka sebuah tendangan keras pun mendarat telak di dadanya. Lawawi Girang terpental ke belakang. Belum juga sempat mengatur posisi tubuhnya satu tusukan tombak bermata tiga mengarah tubuhnya. Lawawi Girang mengayunkan pedang, menangkis tombak yang mengarah dadanya.


Tring!


Lawawi Girang terkejut, karena pedangnya tersangkut pada ujung tombak yang bercabang tiga itu. Dan pada saat akan melepaskannya, mendadak orang yang memegang tombak itu menyentak dengan kuat.


"Akh!" Lawawi Girang terkejut Pedangnya terlepas.


Pada saat yang bersamaan, salah seorang melompat seraya memutar tombaknya dengan cepat. Lawawi Girang memekik keras ketika tombak menghantam kepalanya. Belum hilang rasa sakit di kepalanya, tiba-tiba ujung mata tombak meluncur deras dari arah depan.


Lawawi Girang tidak bisa mengelak lagi. Ujung tombak bermata tiga itu cepat menghunjam dadanya.

__ADS_1


"Aaakh...!"


"Paman...!" teriak Kitri Boga melihat Lawawi Girang ambruk dengan dada koyak.


Kitri Boga lengah, pada saat itu pula satu pukulan telak bersarang di punggungnya. Pemuda itu pun tersuruk jatuh mencium tanah berumput. Belum lagi sempat berdiri, tiga orang berjubah merah melemparkan tambang ke arahnya. Kitri Boga tidak dapat lagi menghindar. Tiga tambang cepat membelit tubuhnya. Pedang perak murni kesayangannya, jatuh di tanah dekat kakinya.


Tiga orang berjubah yang memegangi tambang, secara bersamaan menyentakkan tambang itu. Dan bagai segumpal kapas dalam karung, tubuh Kitri Boga terangkat naik, langsung berdiri. Tiga orang itu berputar cepat mengelilingi Kitri Boga, sehingga tambang semakin rapat membelit tubuhnya. Kitri Boga benar-benar tidak berdaya lagi sekarang.


"Bawa dia! Yang Mulia akan senang menerima hadiah ini!" perintah salah seorang dari mereka yang berjubah merah.


Tiga orang langsung menghampiri dan menggotong tubuh Kitri Boga. Pemuda itu meronta-ronta berusaha melepaskan diri, tapi sia-sia saja. Ikatan yang membelenggu seluruh tubuhnya begitu kuat.


Merasa tidak ada gunanya meronta-ronta, Kitri Boga diam dan pasrah. Matanya mengawasi jalan yang ditempuh gerombolan yang membawanya. Mereka menuju dinding batu yang menyerupai benteng itu.


Kitri Boga membeliak lebar, karena dinding batu yang besar dan kokoh itu bergeser mirip sebuah pintu gerbang. Orang-orang berjubah merah itu terus saja melangkah ke dalam. Dan dinding batu itu kembali bergerak menutup, mengeluarkan suara gemuruh bagai terjadi gempa. Dan suasana di sekitar pertempuran tadi menjadi sepi. Tidak ada yang bisa dilihat lagi, kecuali mayat Lawawi Girang saja yang tergeletak dengan dada koyak bersimbah darah.


********************


Siang itu matahari bersinar terik sekali. Sinarnya panas menyengat, menerobos jari-jari besi pada dinding batu yang berlubang, menghangatkan ruangan kecil. Ruangan itu hanya berisi sebuah dipan kayu yang terletak di pojok. Di atas dipan, Kitri Boga tergeletak tak sadarkan diri. Sinar matahari yang menghangati wajahnya, membuat pemuda itu menggelinjang.


Perlahan-lahan Kitri Boga mengerjap-ngerjapkan matanya. Kepalanya digeleng-gelengkan, berusaha menghilangkan rasa pening yang menyerang kepalanya. Kitri Boga langsung tersentak bangun dan terduduk.


"Oh! Di mana aku?" keluh Kitri Boga lirih.


Kitri Boga berusaha mengingat-ingat kejadian yang dialaminya. Sepasang bola matanya beredar memandangi ruangan yang kecil berdinding batu ini. Hanya ada satu pintu tertutup rapat dan jendela kecil berjeruji besi. Perlahan-lahan Kitri Boga mulai teringat kembali, apa yang telah terjadi pada dirinya.


Ya.... Dia sudah sampai di puncak Bukit Arang Lawu bersama Lawawi Girang. Dan mereka diserang sepuluh orang berjubah merah. Lawawi Girang tewas, dan dia diikat lalu dibawa ke markas mereka.


Sampai di situ Kitri Boga tidak ingat apa-apa lagi. Begitu dibawa masuk, salah seorang yang membawanya memukul bagian belakang kepalanya. Saat itu juga dia pingsan. Dan tahu-tahu sudah berada di kamar kecil bagai penjara ini. Kitri Boga kaget bukan main, karena semua senjatanya sudah lucut dari badan.


"Ah, apakah ini Puri Merah?" Kitri Boga bertanya-tanya dalam hati.


Kitri Boga beranjak turun dari dipan. Kakinya melangkah mendekati jendela kecil satu-satunya di ruangan ini. Lubang jendela itu pas dengan kepalanya. Tampak beberapa orang berpakaian serba merah memegangi tombak bercabang tiga pada ujungnya, tengah berjaga-jaga. Kitri Boga agak menyipit matanya melihat ada semacam kerangkeng besar berisi wanita-wanita muda.


Di sekitarnya terdapat beberapa orang berjubah merah. Tidak jauh dari situ, terdapat beberapa tonggak kayu terpancang. Disebelahnya ada altar batu besar. Kitri Boga tersentak ketika matanya beralih ke arah kiri. Di sana terdapat tumpukan tulang tengkorak manusia menggunung dari dalam lubang besar. Kembali matanya beralih pada kerangkeng berisi wanita-wanita muda, altar, serta beberapa tonggak kayu.


"Tempat apa sebenarnya ini?" tanya Kitri Boga berbisik.


Kitri Boga berbalik, bersandar pada dinding batu di bawah jendela kecil. Benaknya berputar memikirkan semua yang dilihatnya baru saja. Macam-macam pertanyaan berkecamuk di kepalanya, namun tidak satu pun yang terjawab. Matanya beralih memandang pintu ketika terdengar suara rantai dan kunci dibuka. Pintu besi itu perlahan-lahan terkuak mengeluarkan suara gaduh.


Tiga orang berjubah merah melangkah masuk ketika pintu itu terbuka penuh. Dua orang lagi hanya berdiri saja di samping pintu. Tiga orang itu mendekati Kitri Boga, yang dua serentak menempelkan ujung tombak ke tubuh pemuda itu.


"Ikut kami, dan jangan banyak tingkah!" kata orang yang berdiri di depan Kitri Boga.


"Ke mana?" tanya Kitri Boga.


"Jangan banyak tanya, ikut!" bentak orang itu seraya berbalik.


Kitri Boga terpaksa menurut, karena salah seorang mendorongnya dengan tekanan tombak. Kitri Boga mencoba melihat wajah-wajah orang berjubah merah yang menggiringnya, tapi hanya seraut bentuk hitam saja yang tampak. Seluruh kepala tertutup kain merah yang menyaru dengan jubah panjang mengurung seluruh tubuhnya.


Mereka membawa Kitri Boga melalui lorong yang panjang dan berliku. Lorong ini bagai sebuah goa, dengan beberapa obor sebagai penerangan yang menempel di dinding dalam jarak tertentu. Mereka terus berjalan menyusuri lorong. Beberapa pintu terdapat di samping kiri dan kanan lorong yang dijaga dua orang berjubah merah di tiap pintu. Kitri Boga yakin kalau pintu-pintu itu merupakan pintu kamar tahanan seperti yang tadi di tempatinya.


Tiga orang berjubah merah itu membawa Kitri Boga sampai di luar. Pemuda itu terus digiring ke arah beberapa tonggak kayu yang dilihatnya tadi dari ruang tahanan. Kitri Boga diikat pada salah satu tonggak. Pemuda itu melihat ke arah kerangkeng yang berisi beberapa perempuan muda. Perempuan-perempuan itu memandang lesu tanpa semangat hidup.


"Tunggu! Apa maksudmu membawaku ke sini?" cegah Kitri Boga ketika orang yang menggiringnya akan berlalu.


"Sudah kukatakan, diam! Hih!" Buk!


"Hugh!"


Kitri Boga sedikit merunduk ketika kepalan tangan orang itu masuk ke perutnya. Seketika saja perutnya terasa mual. Matanya jadi berkunang-kunang, dan penglihatannya kabur. Orang-orang berjubah merah itu terus saja berlalu meninggalkannya sendirian terikat pada tiang.


"Uh! Sial," dengus Kitri Boga. "Pasti Kakang Kandara Jaya sudah gelisah menantiku. Mudah-mudahan saja dia benar-benar menyusul ke sini."


Wajah Kitri Boga mulai berkeringat, sinar matahari begitu terik berada tepat di atas kepala. Tapak kakinya mulai terasa panas bagai berada di atas bara api. Di sekitarnya memang terdiri dari hamparan pasir dan batu-batu kerikil, sehingga udara di sekelilingnya begitu panas menyengat. Kitri Boga memejamkan matanya. Dia bersemadi berusaha untuk menyalurkan hawa murni, menahan sengatan matahari yang begitu terik dan panas.

__ADS_1


"Heeeh, sampai kapan aku berada di sini...?"


********************


__ADS_2