Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Iblis Wajah Seribu Bag. 2


__ADS_3

Matahari pagi belum lagi merayap naik menyinari bumi, ketika kuda yang ditunggangi Arya Duta berpacu cepat meninggalkan rumah kediaman Adipati Karang Asem. Di sepanjang jalan yang dilaluinya, belum terlihat seorang penduduk pun memulai kesibukannya. Arya Duta terus memacu kudanya dengan kencang ke arah Barat dari Kadipaten Karang Asem.


Ketika dia hendak melewati perbatasan, Arya Duta menghentikan laju kudanya. Telinganya mendengar langkah-langkah kaki kuda yang mengikuti dari belakang. Arya Duta memalingkan kepalanya ke belakang. Tampak dua ekor kuda berpacu cepat semakin mendekat.


"Ada apa Paman berdua menyusulku?" tanya Arya Duta setelah kedua penunggang kuda itu berada di dekatnya.


"Maaf, hamba berdua diperintahkan Gusti Panglima untuk mendampingi Gusti Arya Duta," sahut Balungpati penuh hormat.


"Keamanan Kadipaten Karang Asem lebih penting daripada ikut bersamaku." kata Arya Duta. Nadanya jelas tidak menyetujui perjalanannya diikuti oleh siapapun.


"Tapi, Gusti...," Welut Putih hendak menjelaskan.


"Tidak perlu dijelaskan, Paman Welut Putih. Kalian berdua tentu serba salah. Tapi baiklah, karena perintah ini datangnya dari Panglima tertinggi Kerajaan Limbangan, aku tidak bisa menolaknya lagi," sergah Arya Duta.


"Terima kasih, Gusti." ucap Balungpati.


Arya Duta kemudian menggebah kudanya pelan-pelan, Balungpati dan Welut Putih segera mengikuti. Ketiga kuda itu pun akhirnya berpacu cepat meninggalkan perbatasan Kadipaten Karang Asem.


Sementara matahari mulai menampakkan cahayanya di ufuk Timur. Sinarnya yang kemerahan membias indah memantul dari pucuk-pucuk pohon.


"Kau tahu, apa yang menjadi tugas kita, Paman Balungpati?" tanya Arya Duta ketika mereka menjalankan kudanya pelan-pelan meniti bukit terjal.


"Mencari Pendekar Rajawali Sakti, Gusti," sahut Balungpati.


"Kau tahu, di mana pendekar itu biasanya tinggal?"


Balungpati tidak langsung menjawab. Matanya memandang Welut Putih yang memacu kudanya di samping kiri Arya Duta. Welut Putih menggelengkan kepalanya.


"Kami tidak tahu, Gusti," kata Balungpati.


Mereka berdua memang pernah mendengar nama itu, tapi tidak pernah bertemu langsung.


Mereka kembali terdiam beberapa saat lamanya. Mereka seperti tengah menelusuri jalan pikiran masing-masing. Tak seorang pun dari mereka bertiga yang mengetahui, ke mana harus memulai pencariannya. Mencari tokoh rimba persilatan bukanlah pekerjaan ringan, dan bukannya tidak mungkin akan menemui banyak rintangan.


Bagi kaum rimba persilatan, alasan tidaklah penting. Sulit memastikan siapa kawan dan siapa lawan. Yang jelas siapa yang dekat dengan lawan, dia pasti juga lawan.


********************


Sementara itu di suatu tempat yang berlembah dan berbukit, tampak Rangga alias si Pendekar Rajawali Sakti tengah duduk di atas sebuah batu di pinggir sungai. Air sungai mengalir lembut memantulkan pernik-pernik sinar matahari. Seutas tali yang mengikat bambu kecil ter-genggam di tangannya. Pandangannya tidak lepas dari seutas tali yang mengambang di permukaan air.


"Ugh, lama banget. Dari tadi cuma dapat dua ekor!" gumamnya mengeluh seraya melirik dua ekor ikan dalam wadah anyaman bambu.


"Banyak ikan yang kau dapatkan, Kakang?" sebuah teguran lembut tiba-tiba terdengar dari arah belakang.


Rangga menoleh dan cemberut begitu dilihatnya Pandan Wangi tengah menuju ke arahnya. Dia menenteng hampir sepuluh ekor ikan yang besar-besar di tangan. Dalam hati, Rangga mengakui kalah pintar dengan Pandan Wangi yang dalam waktu yang bersamaan bisa mendapatkan ikan lebih banyak dari yang didapatkannya.


"Mana hasilmu?" tanya Pandan Wangi setelah dekat


"Tuh...!" Rangga menunjuk dengan bibirnya.


Pandan Wangi tertawa terpingkal-pingkal seperti mengejek melihat ke dalam wadah anyaman bambu. Di dalam wadah itu hanya terdapat dua ekor ikan kecil-kecil. Sementara Rangga hanya menggerutu kecil. Tahu kalau hasilnya akan begini. lebih baik kupakai tombak saja dari tadi, rutuknya dalam hati.


"Aku buat api dulu, ya?" kata Pandan Wangi seraya meletakkan ikan hasil pancingannya di wadah Rangga. Lalu segera dia berlari ringan menuju ke pinggir hutan untuk mencari kayu bakar.


"Jangan jauh-jauh, Pandan!" seru Rangga.


"Iya, Kakang. Pancing terus biar banyak, ha ha ha...!" sahut Pandan Wangi seraya tertawa mengejek.


"Sialan!" rutuk Rangga sengit.


Rangga kembali menekuni pancingnya. Sebentar-sebentar matanya melirik ikan di dalam wadah, lalu berganti ke tepi hutan di mana tubuh Pandan Wangi lenyap dalam pandangannya. Pendekar Rajawali Sakti itu akhirnya kesal sendiri. Sudah cukup lama dia menunggu, tapi tak seekor ikan pun mau menyentuh umpannya. Dia lalu bangkit berdiri dan membuang pancingannya dengan kesal ke dalam sungai.


"Huh, sudah tahu aku tidak bisa mancing, malah diajak!" gerutu Rangga dalam hati.


Kaki Pendekar Rajawali Sakti itu kemudian melangkah hendak menuju ke tepi hutan. Dia baru menyadari kalau Pandan Wangi sudah terlalu lama pergi kalau hanya untuk mencari kayu bakar sekadarnya. Namun baru beberapa langkah dia berjalan, mendadak terlihat Pandan Wangi berlari-lari menghampiri. Wajahnya seperti orang kebingungan.


"Ada apa?" tanya Rangga begitu Pandan Wangi sudah ada di dekatnya.


"Aku lihat dua orang berkuda menuju kemari." sahut Pandan Wangi masih sedikit terengah napasnya.


"Kau bisa mengenalinya?"


"Tidak, Kakang. Tapi kelihatannya mereka seperti prajurit Kerajaan Limbangan."


"Ah, biarkan saja mereka, Pandan. Yang penting mereka tidak mengganggu kita," kata Rangga kemudian.


Kedua sejoli itu lalu berjalan melangkah kembali ke tepian sungai. Namun tiba-tiba saja terlihat oleh mereka dua orang berkuda muncul ke luar dari hutan. Benar dugaan Pandan Wangi, Rangga mengenali kedua orang itu dari sabuknya yang bersulam bunga melati. Sulaman itu menandakan kalau mereka prajurit dari Kerajaan Limbangan.


Kedua prajurit berkuda itu menghentikan lari kudanya di depan Rangga dan Pandan Wangi. Mereka lalu melompat turun dari punggung kudanya masing-masing. Dengan langkah tegap, salah seorang dari mereka menghampiri Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi yang berjuluk si Kipas Maut.


"Maaf, Kisanak. Boleh aku bertanya?" suara prajurit itu terdengar sopan dan ramah.


"Silakan." sahut Rangga juga sopan.


"Apa Kisanak melihat tiga orang berkuda melintasi jalan ini?" tanya prajurit itu langsung. Dari tanda pangkat yang dikenakannya, jelas kalau dia seorang punggawa.


Rangga memandangi Pandan Wangi. Kemudian menggeleng hampir berbarengan. Sejak pagi tadi, mereka memang tidak melihat seorang pun melintas di sini. Bahkan sudah hampir satu purnama mereka belum melihat orang lain selain mereka berdua yang datang ke hutan ini.

__ADS_1


"Hm, apakah Kisanak berdua tinggal di sekitar hutan ini?" tanya prajurit yang berpangkat punggawa itu lagi.


"Iya," sahut Rangga


"Maaf, apakah Paman berdua dari Kerajaan Limbangan?" tanya Pandan Wangi ingin memastikan.


"Benar, kami prajurit dari Limbangan. Aku bernama Garulungan, dan temanku ini Paringgan. Kami adalah para punggawa yang ditugasi menyusul Wakil Panglima Lohgender yang bernama Gusti Arya Duta. Beliau didampingi dua orang kepala pasukan dari Kadipaten Karang Asem," Garulungan menjelaskan.


"Kadipaten Karang Asem tidak jauh dari sini. Cuma setengah hari perjalanan berkuda," gumam Pandan Wangi.


"Benar, Nini. Dan kami juga baru dari sana sebelum mendapat tugas dari Gusti Panglima Lohgender," sahut Garulungan.


"Ada keperluan apa Tuan Punggawa mencarinya?" tanya Rangga berlaku sopan pada punggawa Kerajaan Limbangan ini.


"Kami mendapatkan tugas menyampaikan sesuatu pada Gusti Arya Duta dari Panglima Lohgender," sahut Garulungan lagi.


"Sayang sekali, sejak pagi tadi tidak ada orang yang lewat di sini. Kecuali Tuan Punggawa berdua," ujar Rangga.


"Gusti Arya Duta bersama Balungpati dan Welut Putih sudah meninggalkan Kadipaten Karang Asem tujuh hari yang lalu. Mereka bertiga tengah menjalankan tugas khusus dari Gusti Panglima Lohgender." Paringgan ikut nimbrung menjelaskan.


Rangga dan Pandan Wangi menatap punggawa yang sudah berdiri di samping temannya itu. Kelihatannya Paringgan lebih muda daripada Garulungan.


"Oh! Tentunya mereka sudah terlalu jauh dari sini," kata Rangga.


"Apakah Kisanak dan Nini tidak melihat pada tujuh hari yang lalu?" tanya Garulungan setengah mendesak.


"Tidak," sahut Rangga tegas.


"Terima kasih, kalau begitu kami mohon diri." ucap Garulungan agak kecewa.


Selesai berkata begitu, Garulungan langsung melompat ke punggung kudanya. Paringgan juga melakuan hal yang sama. Kuda mereka meringklk kecil mendengus-dengus sambil menghentak-hentakkan kaki depannya.


"Tunggu dulu, Tuan Punggawa!" seru Rangga mencegah begitu Garulungan mau menggebah kudanya.


Garulungan tidak jadi menggebah kudanya. Dia menatap sedikit tajam pada Rangga yang berdiri agak ke depan dari Pandan Wangi.


"Boleh kami tahu, tugas apa yang tengah diemban oleh Gusti Arya Duta?" tanya Rangga.


"Gusti Panglima menugaskannya untuk mencari Pendekar Rajawali Sakti," sahut Garulungan.


"Jika kisanak tahu atau melihat pendekar itu, tolong katakan kalau Gusti Panglima Lohgender menunggunya di Kadipaten Karang Asem!" sambung Paringgan.


Kedua punggawa Kerajaan Limbangan itu langsung menggebah kudanya. Rangga yang mendengar nama julukannya disebut, terperangah kaget. Dia baru tersadar setelah tangan Pandan Wangi menyikut iganya. Rangga lalu mengarahkan pandangannya ke arah hutan. Tapi dua orang punggawa itu sudah lenyap di balik lebatnya Hutan Tarik ini.


Rangga mengalihkan pandangannya pada Pandan Wangi. Beberapa saat lamanya mereka saling pandang dan terdiam membisu Pandan Wangi sendiri sempat kaget juga mendengar nama Pendekar Rajawali Sakti disebut tadi. Dia tidak mengerti, dengan tugas yang diemban Arya Duta dari Panglima tertinggi Kerajaan Limbangan.


"Bukan pihak kerajaan, Kakang. Tapi Panglima Lohgender," ralat Pandan Wangi.


"Sama saja,” dengus Rangga.


"Tidak! Sekarang Panglima Lohgender ada di Kadipaten Karang Asem. Tentu bukan tugas kerajaan. Barangkali saja dia punya urusan pribadi denganmu, Kakang."


"Rasanya tidak mungkin. Pandan. Ketemu langsung saja belum pernah."


"Hm... kalau begitu, kira-kira urusan apa, ya...?


"Entahlah," Rangga mendesah malas.


"Apa tidak sebaiknya kita pergi saja ke Kadipaten Karang Asem, Kakang?" Pandan Wangi mengusulkan.


"Kau sudah menamatkan Kitab Naga Sewu?" Rangga malah balik bertanya.


"Sudah tiga hari yang lalu," sahut Pandan Wangi.


"Kalau begitu, kita berangkat sekarang!" seru Rangga.


"Sebentar, Kakang. Bukankah kau ingin makan ikan bakar?" Pandan Wangi mengingatkan.


"Oh. iya.... ya. Aku lupa. Cepat Pandan, lapar juga nih perut!"


Pandan Wangi tersenyum lebar, lalu melangkah sambil membawa ranting-ranting kering menuju ke arah sebuah goa yang cukup besar dan bersih. Di goa itu mereka tinggal selama berada di Hutan Tarik ini. Rangga mengikutinya dari belakang. Dia membuang jauh-jauh pikiran tentang Panglima Lohgender yang sedang menunggunya di Kadipaten Karang Asem, dan Arya Duta yang saat ini tengah mencarinya. Dia membayangkan ikan bakar olahan Pandan Wangi yang tentunya sangat nikmat, apalagi makannya bersama gadis cantik itu.


********************


Sementara di tempat yang jauh di seputar Hutan Tarik, Arya Duta dan dua orang pendampingnya dari Kadipaten Karang Asem tengah beristirahat melepaskan lelahnya. Memasuki hari ketujuh pencariannya, mereka belum mendapatkan titik terang untuk menemukan Pendekar Rajawali Sakti. Arya Duta duduk bersandar di sebuah pohon rindang dengan wajah lesu menyimpan keputus-asaan.


Sementara Balungpati dan Welut Putih duduk menghadapi api unggun yang membakar tiga ekor kelinci. Bau harum daging kelinci bakar menyeruak hidung. Balungpati mengambil satu dan menyerahkannya pada Arya Duta. Anak angkat Panglima Lohgender itu menerimanya dengan malas. Lalu memakan pelan-pelan tanpa ada gairah.


"Apa sebaiknya kita kembali saja, Gusti?" Balungpati mengusulkan.


"Tidak mungkin, Paman. Ayahanda Lohgender tidak akan menerima kita dengan tangan kosong," sahut Arya Duta.


"Lalu, sampai kapan kita harus berada di Hutan Tarik ini, Gusti?" tanya Welut Putih.


Nada suaranya jelas menyiratkan kebosanan.


"Entahlah, aku sendiri tidak tahu," sahut Arya Duta mendesah.

__ADS_1


"Gusti Arya Duta kelihatan putus asa," Balungpati berkata pelan, seperti untuk dirinya sendiri.


"Tidak..., tapi mungkin juga, Paman," sahut Arya Duta tanpa kepastian. Matanya lalu silih berganti menatap Balungpati dan Welut Putih. "Aku sedang memikirkan arah kita selanjutnya..., mungkin lebih baik kita lupakan saja soal Pendekar Rajawali Sakti itu. Bagaimana pendapat Paman berdua?"


Kedua pendamping Arya Duta itu saling berpandangan sesaat. "Maksud Gusti?" tanya Balungpati.


"Aku lebih suka mencari sarang pengacau-pengacau itu," sahut Arya Duta.


"Pekerjaan bunuh diri, Gusti!" selak Welut Putih.


"Itu lebih baik daripada melakukan pekerjaan yang belum tentu ada hasilnya, Paman."


Balungpati dan Welut Putih tidak menyanggah. Keduanya hanya saling pandang sesaat, lalu suasana di antara mereka pun kembali hening tak bersuara. Balungpati dan Welut Putih memang tidak bisa menyalahkan Arya Duta. Tugas yang diembannya dari Panglima Lohgender memang nyaris tak masuk akal. Kehidupan kasar dan keras penuh pengembaraan dari kaum persilatan membuat mereka tidak bisa berharap banyak untuk dapat menemukan Pendekar Rajawali Sakti.


Suasana hening sepi itu tiba-tiba pecah oleh suara gemerisik dari ranting dan dedaunan yang terinjak kaki. Suara langkah-langkah kaki itu semakin dekat dan jelas terdengar. Arya Duta dan dua orang pendampingnya segera bangkit berdiri.


"Sembunyi!" seru Arya Duta berbisik.


Seketika ketiga orang itu berlompatan masuk ke dalam semak belukar. Tak berapa lama kemudian, dua sosok tubuh berpakaian serba hitam tampak terlihat mendekat ke depan bara api yang masih menyala mengepulkan aroma harum daging kelinci bakar. Salah seorang lalu membungkuk. Sebentar dia mengamati daging-daging kelinci yang masih tersisa. Orang itu kemudian mengedarkan pandangannya berkeliling.


"Hmmm..., ada tikus masuk ke sini, Kakang Pekik," dengusnya bergumam.


"Benar. Hati-hatilah, Adi Jaran!" sahut orang yang dipanggil Pekik.


"Mungkin mereka telik sandi dari Kadipaten Karang Asem, Kakang," Jaran kembali bergumam pelan.


"Mungkin, akhir-akhir ini memang banyak telik sandi berkeliaran di sekitar hutan ini."


"Kalau begitu, kita harus...."


Pekik buru-buru mendekap mulut Jaran. Telinga Pekik yang tajam, cepat dapat mendengar suara gemerisik ranting dan dedaunan dari arah semak belukar. Lalu dengan cepat dia mengebutkan tangannya ke kanan. Seberkas sinar kehijauan meluncur deras ke arah semak di sebelah kanannya. Seketika itu juga tiga sosok tubuh berlompatan ke luar dari semak. Pekik dan Jaran pun langsung mencabut pedangnya. Arya Duta berdiri tegak didampingi oleh Balungpati dan Welut Putih di kiri dan kanannya.


"Huh! Rupanya benar dugaanmu, Adi Jaran. Kita kedatangan tiga tikus dari Kadipaten Karang Asem," dengus Pekik.


"Kalianlah yang menggerogoti lumbung kami!" bentak Balungpati sengit.


"Ha... ha... ha..., mana ada tikus punya lumbung?" Jaran tertawa terbahak-bahak.


Seketika itu juga Welut Putih melompat menerjang dengan satu teriakan nyaring. Balungpati pun segera mengikuti. Pertarungan satu lawan satu tak terelakkan lagi. Welut Putih mengirimkan jurus-jurus mautnya ke arah Jaran yang telah siaga dengan pedang andalannya. Sementara Balungpati mulai mencecar Pekik dengan gerakan-gerakan sapuan tangannya yang gesit dan cepat.


Arya Duta mengamati pertarungan yang semakin seru itu dari jarak hanya beberapa batang tombak. Sret..! Welut Putih langsung mencabut goloknya, dan mengibaskannya dengan cepat ke arah lawannya. Namun dengan cepat sekali Jaran mengelakkannya sambil menyodokkan ujung pedangnya ke arah perut. Welut Putih menggeser kakinya ke samping, dan sambil menjatuhkan diri, dia meng-egoskan kakinya dengan kuat menyampok kaki kiri lawan. Jaran yang tidak menduga, langsung terjungkal. Tubuhnya terbanting keras ke tanah dengan muka lebih dulu mencium tanah. Welut Putih tidak tinggal diam, segera dia meloncat bangkit. Tubuhnya langsung melayang di udara sesaat, kemudian kedua kakinya menghajar punggung Jaran beberapa kali.


Bug...!


"Aaakh...!" Darah segar pun muncrat dari mulut Jaran yang hanya bisa memekik tertahan.


Sebentar kepalanya terangkat, lalu terkulai jatuh ke tanah begitu golok Welut Putih membabat lehernya. Hanya sebentar saja Jaran sanggup menggelepar, kemudian diam tak berkutik lagi. Dari mulut dan lehernya mengucur darah segar. Welut Putih segera melangkah menjauhi mayat lawannya.


"Paman Balungpati, gunakan senjata!" teriak Arya Duta tiba-tiba.


Welut Putih segera menoleh ke arah pertarungan antara Balungpati dengan Pekik. Balungpati yang memang terlihat sudah terdesak itu, langsung mencabut pedangnya. Kini pertarungan kembali berlangsung seimbang.


Tring!


Dua pedang beradu di angkasa. Percikan bunga api ber-pijar dari dua senjata yang beradu keras itu. Tampak Pekik melompat mundur dengan mulut menyeringai. Tangan kanannya tampak gemetar dan memerah saga. Dia kalah kuat beradu tenaga dengan lawannya.


"Maling kau, setaaan...!" teriak Balungpati keras.


Saat itu juga Balungpati melompat bagai kilat sambil mengibaskan pedangnya. Serangan Balungpati yang cepat membuat Pekik terperangah. Buru-buru dia mengangkat pedangnya untuk menangkis.


Tring!


"Akh!" Pekik memekik tertahan.


Pedang di tangannya terlontar, mencelat jauh ke udara. Pada saat itu juga, Balungpati memutar pedangnya, dan... Cras!


"Aaa...!"


Tubuh Pekik sempoyongan diiringi oleh erangan panjang, lalu roboh ke tanah dengan darah segar muncrat dari dadanya yang robek terbabat pedang. Balungpati memandangi tubuh lawannya sesaat, kemudian memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarungnya di pinggang. Sesaat kemudian Balungpati berbalik menghadap pada Arya Duta dan Welut Putih yang berdiri di samping pemuda itu.


"Aku yakin, mereka adalah para pengacau di Kadipaten Karang Asem," kata Arya Duta.


"Benar, Gusti," sahut Balungpati. "Hanya saja mereka cuma cecunguk."


"Dan yang pasti, sarang mereka ada di sekitar Hutan Tarik ini," sambung Welut Putih.


"Hm..., kita sudah melacak hutan ini selama tujuh hari. Tapi tidak ada tanda-tanda kalau dijadikan sarang pengacau," gumam Arya Duta pelan. "Bagaimana pendapatmu, Paman Balungpati?"


"Sebaiknya jelajahi lagi hutan ini. Kalau memang sarang mereka di sini, kita bisa melaporkannya pada Gusti Panglima Lohgender," sahut Balungpati.


"Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang juga," ajak Arya Duta.


"Baik, Gusti," hampir berbarengan Balungpati dan Welut Putih menyahuti.


Ketiga orang itu pun segera melanjutkan perjalanan, menjelajahi kembali Hutan Tarik ini. Arya Duta kini punya semangat lagi setelah yakin akan menemukan sarang pengacau itu. Untuk sesaat dia bisa melupakan tugas utamanya, mencari Pendekar Rajawali Sakti.


********************

__ADS_1


__ADS_2