
Rangga terbangun ketika mendengar suara langkah kaki mendekati mulut goa. Bergegas dia melompat mendekati mulut goa. Tangannya menyingkapkan sedikit semak belukar yang menutupi mulut goa kecil ini.
"Sawung Bulu. Huh, kukira siapa?" dengus Rangga.
Sawung Bulu menyibakkan semak lalu melangkah masuk. Dia kaget juga melihat Rangga berdiri di balik dinding mulut goa. Dilemparkannya dua ekor kelinci ke dekat api unggun yang masih menyala kecil.
"Pagi-pagi sudah dapat kelinci," kata Rangga agak bergumam.
"Aku rasa cukup untuk makan kita bertiga," sahut Sawung Bulu terus melangkah.
Rangga menoleh pada Melati yang tampaknya sudah bangun. Wanita itu masih tetap tergolek, hanya bagian leher ke atas saja yang bisa digerakkan. Pengaruh totokan Pendekar Rajawali Sakti begitu kuat, sehingga tidak bisa lepas kalau tidak ditolong orang lain.
Di dekat api unggun, Sawung Bulu kini sibuk menguliti kelinci-kelinci buruannya, dan memanggangnya di atas api. Bau harum daging kelinci panggang mulai tercium, membuat perut minta segera diisi. Rangga melangkah mendekati Melati, lalu duduk di samping wanita itu.
"Aku yakin perutmu pasti lapar," kata Rangga.
"Huh!" Melati hanya mendengus mencibir.
Rangga hanya tersenyum, lalu bangkit mendekati Sawung Bulu. Bau harum daging kelinci panggang membuat perutnya jadi tidak sabaran. Rangga mencomot daging yang sudah matang. Sawung Bulu membawanya kepada Melati.
"Dari semalam perutmu belum diisi. Nih...," Sawung Bulu menyodorkan sepotong daging yang sudah matang.
Tetapi Melati hanya mendelik saja. Mana mungkin bisa makan dalam keadaan tertotok seperti itu? Perutnya memang lapar sekali, tapi pengaruh iblis yang menguasai jiwanya lebih memilih lapar daripada menerima kebaikan Sawung Bulu.
Sawung Bulu menoleh pada Rangga yang tengah menikmati makan paginya. Sinar matanya menyiratkan agar Rangga mau membebaskan totokan pada tubuh Melati.
"Sudahlah, dia tidak akan mati jika hanya dua tiga hari tidak makan," kata Rangga seperti mengetahui arti tatapan Sawung Bulu.
Sawung Bulu mencuil sedikit daging kelinci, lalu disuapkannya ke mulut Melati. Tetapi wanita itu malah membuang mukanya ke samping. Sinar matanya memancarkan kebencian yang amat sangat. Sawung Bulu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Bahunya terangkat sedikit Kemudian dimakannya sendiri daging panggang itu.
Sebenarnya Sawung Bulu merasa kasihan melihat Melati tersiksa seperti itu. Tapi dia tidak berani mele-paskan totokan ditubuhnya. Dalam keadaan seperti sekarang ini, Melati sangat berbahaya bila terlepas dari pengaruh totokan.
"Kau pasti kenal betul dengan Wratama," kata Rangga yang tiba-tiba ingat dengan kejadian semalam di kedai makan sekaligus tempat penginapan itu.
"Wratama...? Tentu saja aku kenal. Ada apa dengannya?" tanya Sawung Bulu.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin tahu kedudukannya di Desa Pasir Batang."
"Wratama orang kepercayaan Ki Brajananta. Kedudukannya tidak beda dengan wakil kepala desa," Sawung Bulu menjelaskan.
"Dia juga murid Padepokan Pasir Batang?"
"Bukan. Wratama pernah jadi punggawa kerajaan. Entah kenapa dia keluar, lalu belajar ilmu kesaktian pada seorang pertapa di Gunung Kidul. Dia datang ke Desa Pasir Batang sekitar sebelas tahun lalu."
"Ada keluarganya di sana?"
"Wratama masih keponakan Ki Brajananta. Ayahnya adik sepupu Ki Brajananta yang dulu juga menjabat Kepala Desa Pasir Batang."
"Hm, kau tahu nama pertapa itu?" tanya Rangga.
"Kalau tidak salah namanya Eyang Parang Jati. Beliau sudah mangkat sehari setelah Wratama meninggalkannya. Khabarnya dia mangkat setelah menurunkan seluruh llmunya pada Wratama yang jadi pewaris tunggal."
"Kau tahu, sampai di mana tingkat kepandaiannya?" tanya Rangga lagi. Dia semakin tertarik untuk mengetahui latar belakang kehidupan Wratama.
"Sayang sekali, aku belum pernah melihat Wratama menggunakan ilmunya. Dia seperti tidak memiliki satu kepandaian pun."
Rangga tercenung sejenak. Memang kelihatannya Wratama hanya seperti orang biasa yang awam terhadap ilmu olah kanuragan atau ilmu-ilmu kesaktian. Sikap dan pembawaannya tenang, dan tidak banyak bicara. Wratama ibarat pemuda lemah yang biasa hidup bagai seorang pangeran manja dikelilingi puluhan pengawal. Penampilannya pun rapih dan perlente.
Memang tidak ada yang bisa menduga kalau Wratama memiliki ilmu olah kanuragan dan kesaktian. Setiap orang pasti menyangka dia seorang pemuda lemah. Rangga sendiri semula menduga begitu Tapi semuanya pupus setelah dilihatnya langsung Wratama tengah mengerahkan ilmu peringan tubuh. Yang menjadi pertanyaaan sekarang, apa hubungannya Wratama dengan Raja Dewa Angkara?
"Aku akan ke luar sebentar," kata Rangga seraya bangkit berdiri.
"Kau di sini saja, ingat jangan coba-coba membebaskan dia dari totokanku."
Sawung Bulu hanya mengangguk Dia sudah percaya penuh pada kemampuan Pendekar Rajawali Sakti ini Sedikit pun tidak ada lagi keraguan di hatinya.
__ADS_1
********************
Rangga menyebnap dari balik tembok rumah ke tembok rumah lainnya. Gerakannya cepat dan ringan tanpa suara sedikit pun. Sebentar saja sudah terlihat berada di balik tembok rumah Wratama. Matanya tajam mengawasi sekelilingnya. Keadaan sekitar tampak sepi. Sementara matahari sudah tenggelam di belahan bumi bagian barat. Bulan yang menggantikannya hanya mengintip sedikit di balik awan hitam. Rangga melenting ke angkasa. Dua kali salto, kemudian meluruk menuju atap.
"Uts!"
Rangga kembali melenting ke udara ketika ujung kakinya akan menapak atap. Seberkas sinar keperakan meluncur deras menerjang atap. Saat Rangga masih berada di udara, kembah sinar keperakan meluncur deras mengancam dirinya. Lima kilatan sinar keperakan meluncur deras beruntun Rangga berjumpalitan di udara menghindari sinar-sinar keperakan di sekitar tubuhnya. Tangannya berkelebat cepat menangkap satu sinar, lalu dengan cepat meluruk ke atas atap.
"Ruyung perak..," desis Rangga begitu mengetahui sebuah ruyung kecil berada di genggamannya.
Ternyata ruyung perak itu adalah senjata rahasia. Rangga bersalto di udara menghindari sinar-sinar keperakan di sekitar tubuhnya. Tangannya berkelebat cepat menangkap salah satu sinar.
"Ruyung perak!" desis Rangga begitu tahu sebuah ruyung kecil berada di genggamannya dari perak murni.
Rangga mengedarkan penglihatan ke sekelilingnya. Merayapi kegelapan yang menyelimuti sekitarnya. Sekilas dilihatnya sesosok tubuh berpakaian warna gelap ber-kelebat di antara pepohonan. Dengan cepat Rangga melompat meluruk ke arah sosok tubuh yang berkelebat. Begitu cepatnya Pendekar Rajawali Sakti meluruk, tahu-tahu sudah ada di depan orang itu.
"Wratama!" sentak Rangga.
Orang berpakaian gelap itu memang benar Wratama. Dia tampak terkejut ketika melihat Pendekar Rajawali Sakti sudah berdiri menghadang. Tiba-tiba tangannya bergerak cepat, dan dua buah sinar keperakan berkelebat meluncur ke arah Rangga
Tap! Tap!
Rangga menggerakkan tangannya dengan cepat. Dua sinar keperakan kembali meluncur berbalik ke arah si pemiliknya. Wratama melompat menghindari senjatanya sendiri. Dua ruyung perak itu meluruk melewati ujung bawah kakinya, dan menancap ke pohon di belakangnya.
Lemparan Pendekar Rajawali Sakti yang mengerahkan tenaga dalam maha dahsyat membuat pohon yang tertancap ruyung terbelah dua. Suara gemuruh terdengar dari pohon yang terbelah bagai terbelah oleh kampak. Pohon pun tumbang. Wratama yang tidak menyangka akan sehebat itu serangan balik Pendekar Rajawab Sakti, hanya terkesiap saja.
"Hm, rupanya nama besar Pendekar Rajawali Sakti hanya nama kosong!" sinis suara Wratama penuh nada ejekan.
"Kau pantas jadi orang panggung, Wratama. Hebat sekali permainan sandiwaramu," Rangga balas mengejek.
"He he he...!" Wratama tertawa terbahak-bahak.
"Tertawalah sepuasmu. Malam ini kedok busukmu tak akan berguna lagi kau pamerkan!" terasa dingin suara Rangga.
"Hebat..! Ancamanmu sungguh hebat untuk menakut-nakuti bocah ingusan. Tidak kusangka gelandangan hina rendah berani memakai nama pendekar besar. He he he.... Kau pikir dengan memakai nama Pendekar Rajawali Sakti aku akan gentar? Seribu Pendekar Rajawali Sakti datang ke sini, aku tidak akan mundur satu langkah pun!"
Sret! Tiba-tiba Wratama mengeluarkan sebatang tombak kecil dari balik bajunya. Sebatang tombak berwarna hitam pekat dengan ujung runcing berwarna merah. Dari ujung tombak itu memancar sinar bagai api yang siap berkobar-kobar membakar apa saja yang terkena.
Rangga menggeser kakinya ke belakang satu langkah. Dalam Jarak sekitar tiga batang tombak saja sudah terasa pamor tombak itu. Pamor itu memancarkan hawa panas menyengat kulit hingga menembus langsung ke tulang.
"Hh, melihat pamor senjataku saja kau sudah ngeri, pendekar edan!" dengus Wratama mengejek
Rangga hanya tersenyum saja. Segera dikerahkan jurus pembukaan 'Cakar Rajawali'. Seketika saja jari-jari tangannya mengembang keras dan kaku. Bersamaan dengan itu, Rangga pun mengerahkan hawa murni yang disalurkan ke seluruh tubuhnya. Hawa panas dari pamor tombak itu demikian hebat sehingga Rangga harus mengerahkan hawa murni untuk mengimbanginya.
"Keluarkan senjatamu, pendekar edan!" sentak Wratama.
"Hm...," Rangga hanya tersenyum tipis.
"Baik! Jangan katakan aku kejam kalau kau mati tanpa senjata!"
"Tidak pantas kau bersikap ksatria. Keluarkan seluruh akal busukmu yang licik!" dengus Rangga.
"Setan!" geram Wratama.
Dengan cepat Wratama melompat seraya mengeluarkan teriakan keras. Ujung tombak pendeknya berkelebat cepat sehingga yang terlihat hanya kilatan cahaya merah saja. Rangga memiringkan tubuhnya sedikit ke kiri ketika ujung tombak yang berwarna merah menusuk ke arah dadanya. Sinar merah membara berkelebat di depan dada Rangga. Hawa panas terasa menerpa.
Rangga mengangkat tangan kanannya dan menyentil ujung tombak itu. Namun tanpa diduga sama sekali, Wratama menggunakan tenaga sentilan itu untuk memutar tombaknya. Cepat sekali gerakan tombak itu berputar. Rangga sampai terkesiap matanya, lalu dengan cepat dilentingkan tubuhnya berputar ke belakang. Ujung tombak yang memancarkan sinar merah panas itu berkelebat di sekitar tubuh Pendekar Rajawali Sakti yang berputaran ke belakang.
Menyadari lawannya tidak memberi kesempatan Pendekar Rajawali Sakti jadi geram. Ujung jari tangannya menotok ujung tombak yang datang mengarah dada. Ketika ujung tombak sedikit goyang, secepat kilat Rangga melentingkan tubuhnya sejauh dua batang tombak, lalu dengan manis mendarat kembali di tanah. Rangga mengerutkan keningnya sedikit. Rupanya Wratama mengetahui kelemahan jurus Cakar Rajawali, sehingga tidak memberi kesempatan sedikit pun pada Rangga untuk membalas.
"He... he... he...," Wratama terkekeh melihat lawannya seperti kebingungan. Dalam beberapa gebrak saja, Wratama sudah dapat melihat keunggulan dan kelemahan jurus 'Cakar Rajawali'. Dilihatnya bagian dada Rangga selalu kosong. Maka dengan cepat dada itu diincarnya, sementara dibiarkan ujung tombaknya dijadikan sasaran jari-jari yang kaku mengeras bagai baja. Tidak sedikit pun Wratama memberi kesempatan pada Rangga untuk memainkan jari-jari tangannya yang sangat berbahaya.
"Hanya jurus mainan bocah kau pamerkan padaku," ejek Wratama.
"Hmmm...," Rangga bergumam.
__ADS_1
Matanya tetap tajam menatap lawannya. Kedua tangannya direntangkan ke samping. Dia telah siap dengan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Jurus andalan yang kedua dari rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'. Cepat sekali kedua tangan Rangga bergerak mengibas, bagai sepasang sayap seekor rajawali. Dan kini kaki Rangga tidak lagi menapak tanah.
"He... he... he..., permainan sihir yang buruk!" ejek Wratama.
Belum lagi Wratama selesai berkata, mendadak Rangga telah menyerangnya dengan cepat. Wratama pun tidak kalah cepat. Digerak-gerakkan tombaknya ke kanan dan ke kiri menangkis setiap sabetan tangan Rangga. Beberapa kali tombak pendeknya membentur tangan Pendekar Rajawali Sakti itu, tapi sedikit pun tak berpengaruh apa-apa. Bahkan beberapa kali Wratama berhasil membalas serangan yang tidak kalah dahsyatnya.
Pendekar Rajawali Sakti meningkatkan serangannya. Kali ini tubuhnya bagai terbang mencelat ke segala arah sambil mengibaskan kedua tangannya mengincar bagian-bagian tubuh lawan yang mematikan. Wratama masih kelihatan tersenyum mengimbangi. Jurus Pendekar Rajawali Sakti. Tampaknya dia dapat membaca dan mengetahui ke mana arah serangan yang dilancarkan Rangga, sehingga serangan-serangan itu dapat dipatahkan di tengah jalan.
"Edan! Benar benar hebat dia!" dengus Rangga dalam hati.
Menyadari kalau jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega' tidak bisa diandalkan, Rangga segera mencelat tinggi ke udara. Secepat kilat dirubahnya jurus menjadi Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Gerakan Rangga makin cepat, kaki kakinya lincah bergerak meluruk mengincar kepala lawan.
Kali ini Wratama kelihatan mulai kerepotan. Beberapa kali harus jatuh bangun menghindari terjangan kaki Rangga yang bagaikan geledek mengincar kepala. Desiran angin tendangan begitu kuat, sehingga Wratama terpaksa mengerahkan tenaga dalam untuk mengimbangi agar tubuhnya tidak goyah.
Di sekitar tempat pertarungan itu bagai terjadi badai topan. Beberapa pohon sudah bertumbangan terkena sepakan kaki Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan daun-daun berguguran hanya terkena desiran angin sambaran kaki pendekar muda itu. Pendekar Rajawali Sakti bagai bertarung dari segala arah. Sebentar di bawah, sebentar menyerang dari atas. Hal ini membuat Wratama kebingungan menghadapi serangan itu. Sampai saat ini Wratama belum mendapatkan celah kosong kelemahan jurus itu.
"Minggat kau...!" teriak Rangga tiba-tiba.
"Akh!" Wratama terkejut.
Bagaikan kilat Pendekar Rajawali Sakti melesat ke udara, dan meluruk kembali dengan kaki mengarah ke bawah. Kedua kakinya bergerak cepat sehingga yang terlihat hanya bayangannya saja. Wratama sangat terkejut. Cepat-cepat diangkat senjata tombak pendek itu.
Wut! Wut! Wut!
Wratama mengebutkan tombaknya berputar melindungi kepala. Dugaannya, Rangga pasti mengincar kepala. Tapi ternyata meleset. Sulit dilihat dengan mata biasa, tiba tiba saja Rangga sudah berdiri di depannya, dan bagai kilat kaki kanannya menghantam.
"Aaakh...!" Wratama menjerit tinggi. Kaki kanan Pendekar Rajawali Sakti telak mendarat di dada Wratama. Tendangan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa' disertai pengerahan tenaga dalam yang hebat membuat tubuh Wratama terlontar deras ke belakang. Tubuh itu terus meluncur menghantam pohon besar hingga hancur berkeping-keping. Tidak berhenti sampai di situ, tubuh Wratama terus meluncur menumbangkan pohon-pohon lainnya. Tubuh Wratama baru berhenti setelah menghantam sebuah baru besar yang menimbulkan suara gemuruh. Belum lagi tubuh Wratama menyentuh bumi, tiba-tiba Rangga meluruk deras, dan...
"Aaa...!" kembali Wratama menjerit melengking. Tangan Rangga mengibas, bagaikan sebilah pedang, membabat buntung tangan kiri Wratama. Darah muncrat deras dari pangkal lengan yang buntung. Rangga segera merampas tombak dari tangan kanan Wratama, lalu ditekannya dada Wratama dengan lututnya. Ujung tombak menempel ketat di leher Wratama.
"Setan! Bunuh aku!" sentak Wratama berang. Dia tidak lagi peduli dengan rasa nyeri pada pangkal lengannya yang buntung itu.
Rangga hanya tersenyum tipis. Tetapi dalam hati Rangga mengakui kehebatan tenaga dalam Wratama. Seharusnya tubuh tadi akan hancur berkeping-keping terkena tendangan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa' yang dikeluarkan secara penuh oleh Rangga. Rangga sendiri menduga demikian. Pada kenyataannya, Wratama masih hidup. Wratama mencoba menggeliatkan tubuhnya, tapi hanya mampu meringis. Dadanya terasa remuk dan nyeri. Terlebih lutut Rangga semakin kuat menekan dadanya. Ujung tombak mulai menggores kulit lehernya. Darah mulai merembes ke luar dari leher Wratama.
"Ha ha ha...!" tiba-tiba saja Wratama tertawa terbahak-bahak.
Rangga kaget bercampur heran melihat Wratama tertawa tergelak, padahal keadaan jiwanya terancam maut.
"Setan!" dengus Rangga begitu melihat bagian leher yang tergores membiru. Cepat-cepat Rangga membuang tombak pendek hitam yang ujungnya berwarna merah menyala. Dengan cepat ditotoknya beberapa bagian di sekitar leher Wratama yang sudah membiru. Warna biru itu seketika berhenti menjalar.
"Percuma saja. Sebentar lagi aku akan mati! Totokanmu tidak akan berpengaruh apa apa pada racun tombakku." kata Wratama seraya terkekeh.
"Kau memang akan mati, *******! Tapi kau harus diadili seluruh penduduk Desa Pasir Batang dulu!" dengus Rangga.
"He he he..., aku akan mati, tapi kau akan menerima akibatnya dari Raja Dewa Angkara!"
"Huh! Rupanya kau hanya anjing iblis itu!" rungut Rangga.
"Sebentar lagi Desa Pasir Batang akan hancur! Tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi Raja Dewa Angkara!"
Rangga kian geram. Warna biru dari racun tombak hitam itu terus menjalar ke seluruh tubuh Wratama. Rangga segera berdiri dan membiarkan Wratama mengoceh di akhir hidupnya
"Dengar, pendekar bodoh! Kehadiranmu di desa ini hanya sia-sia saja. Raja Dewa Angkara tak dapat dihalangi. Mati pun aku akan tersenyum. Sudah lama aku menginginkan kehancuran desa ini! Aku puas dapat membalas sakit hati ayahku. Aku puas..., ha ha ha...!" Wratama terus mengoceh seperti orang gila.
"Siapa Raja Dewa Angkara?" tanya Rangga.
"Dia raja dari segala raja dewa-dewa di Kahyangan. Dia yang menguasai seluruh manusia di bumi ini!" makin tidak karuan ocehan Wratama.
Rangga akan bertanya lagi, tetapi Wratama telah kejang-kejang Seluruh tubuhnya sudah berwarna biru. Setelah memuntahkan darah kental kehitaman, Wratama diam tak bergerak Mati Rangga mendesah berat.
Ocehan-ocehan Wratama yang kelihatannya ngawur, membuat Pendekar Rajawali Sakti bertanya-tanya. Sepuluh tahun Raja Dewa Angkara merajalela mencengkeram desa-desa di sekitar lereng Gunung Balakambang. Tentu ada maksud tertentu selain menyebarkan pengaruh iblis dengan menghancurkan desa-desa satu persatu Maksud yang terselubung dari segala tindakan iblis Raja Dewa Angkara yang diwujudkan lewat teror!
Rangga bergumam beberapa kali. Dicernanya kembali semua kata kata Wratama tadi. Kata-kata yang kedengarannya tidak beraturan tapi mengandung arti yang dalam meski masih diliputi tanda tanya besar. Kesimpulan Rangga, kejadian yang sudah berlangsung sekitar sepuluh tahun ini berlatar belakang dendam masa lalu.
"Hm..., Sawung Bulu pernah cerita kalau Wratama itu anak bekas kepala desa. Dan dia juga perah jadi punggawa kerajaan. Sedangkan tadi dalam ocehannya, Wratama sempat berkata kalau dia puas telah bisa membalas sakit hati ayahnya. Ada apa di balik semua ini?" Rangga bertanya tanya dalam hati.
__ADS_1
Tiba-tiba Pendekar Rajawali Sakti itu tersentak, lalu secepat kilat melompat meninggalkan tempat itu. Dalam sekejap saja tubuh Pendekar Rajawali Sakti tidak terlihat lagi ditelan kegelapan malam.
********************