Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Pengantin Berdarah Bag. 5


__ADS_3

Apa yang menjadi firasatnya selama dua hari ini, sekarang menjadi kenyataan. Orang-orang Wira Perakin telah membumi hanguskan rumahnya dan tega pula menyiksa istrinya. Semua itu dia ketahui dari penjaga kamar tahanan di mana kini dia berada, yang terus mencoba menjatuhkan mentalnya dan memancing agar dia mau menunjukkan di mana anak gadisnya kini berada.


Ki Sukirah menarik napas panjang, lalu berjalan mondar-mandir di kamar tahanannya yang pengap dan sempit. Dia memandangi kamar kecil yang terbuat dari dinding baru itu. Hanya lubang kecil pada pintu, dan dua orang penjaga bersenjata selalu berjaga-jaga di depan pintu. Tidak ada sedikit pun celah untuk meloloskan diri.


Pintu kamar itu terbuka pelahan-lahan Ki Sukirah berdiri tegak, menanti siapa yang datang. Dia sudah pasrah dengan apa yang akan teijadi pada dirinya, walau harus mengorbankan nyawa sekalipun! Akhir-akhir ini dia baru sadar, bahwa putrinya berada di jalan yang benar! Dan memang lebih baik mati daripada harus menyerahkan kehormatan pada si Tua bangka itu!


Pintu kamar semakin terbuka lebar. Wira Perakin melangkah masuk, diikuti oleh Arya Mahesa dan Cakala Pati. Sedang dua orang lainnya, Antasuro dan Galang Gembul menunggu di luar pintu ber sama dua orang penjaga bersenjata tombak.


"Sukirah, aku masih bisa bersabar padamu. Kuberi kau kesempatan untuk hidup sekali lagi," kata Wira Perakin datar suaranya.


"Hm...," Ki Sukirah cuma bergumam sambil menarik napas panjang. Dia sudah bisa menduga apa yang akan dikatakan Wira Perakin padanya. Dia tahu maksud terselubung dari kesempatan yang diberikan saat ini.


"Hari ini juga kau kubebaskan, tapi kau harus mencari di mana anak dan istrimu berada. Juga tiga anak muda yang telah membunuh orang-orangku," lanjut Wira Perakin.


Ki Sukirah bersyukur dalam hati, karena anak dan istrinya masih selamat. Hanya saja dia tidak mengerti tentang tiga anak muda yang barusan disebutkan Wira Perakin. Tapi bagaimanapun dia merasa lega, hatinya ter-senyum penuh kemenangan.


"Penjaga...!" panggil Wira Perakin.


"Hamba, Gusti," seorang penjaga segera menghamplrinya.


"Buka rantai itu!"


"Hamba laksanakan, Gusti."


Penjaga itu segera melaksanakan perintah majikannya. Dia membuka rantai rantai yang mengikat tangan dan kaki Ki Sukirah. Setelah itu dia kembali ke luar. Ki Sukirah mengurut-urut pergelangan tangannya yang terasa pegal oleh rantai yang membelitnya selama tiga hari ini.


"Kau bebas sekarang, Sukirah. Tapi ingat, kau harus menemukan istri dan anakmu. Bawa mereka padaku. Juga tiga anak muda yang telah berani melawan kekuasaanku!" tegas kata-kata yang keluar dari mulut Wira Perakin.


Ki Sukirah tidak menyahut, dia hanya menganggukkan kepalanya. Dia tahu benar arti kebebasan yang akan dinikmatinya. Kebebasan yang akan menyebabkan nyawa-nya melayang jika tak menemukan dan menyerahkan anak gadisnya, juga tiga anak muda yang dia sendiri merasa tak mengenalnya. Ki Sukirah hanya pasrah, tapi hatinya masih berharap, semoga tiga anak muda yang disebutkan tadi bisa menjadi dewa penolong bagi keluarganya.


"Nah! Kau boleh keluar sekarang," kata Wira Perakin lagi.


Ki Sukirah melangkahkan kakinya keluar dari kamar tahanan yang pengap dan sempit itu. Kakinya terus terayun tanpa menoleh lagi. Dua orang penjaga mengawalnya sampai di pintu gerbang.


"Kenapa kau bebaskan orang itu, Kakang Wira Perakin?" tanya Cakala Pati.


"Itu cuma pancingan saja," sahut Wira Perakin tenang.


"Maksudmu?" tanya Antasuro yang sudah mendekat, bersama Galang Gembul.


"Aku berharap tiga pendekar yang membantu keluarga Sukirah muncul, dan mengira orang tua itu masih berada di sini."


"Kalau mereka tahu Sukirah sudah dibebaskan?" celetuk Cakala Pab lagi.


"Kita bisa menguntitnya, ke mana mereka membawa Sukirah pergi. Aku yakin, mereka pasti membawa ke tempat persembunyian anak dan istrinya."


"Kalau begitu, kau harus sebarkan beberapa orang untuk mengawasinya," sambung Antasuro yang sudah bisa mengerti tujuan Wira Perakin.


"Semuanya sudah kupikirkan. Setiap langkahnya selalu diawasi oleh orang-orangku!" sahut Wira Perakin sombong.


"Tidak disangka, otakmu cerdas juga, Kakang," puji Galang Gembul.


"He... he... he...," Wira Perakin terkekeh senang.


"Asal saja kau jangan lupa, Kakang...," kata Galang Gembul lagi.


"Beres, kalau semuanya sudah selesai, kalian berempat pasti bisa ikut menikmati kemulusan tubuh Wulan."


Lima orang itu lalu tertawa terbahak bahak sambil keluar dari pintu kamar tahanan. Otak mereka yang hanya diisi oleh kenikmatan duniawi, sudah membayangkan kemulusan tubuh Wulan saja. Tubuh yang sudah mereka incar berulang kali!


********************


Ki Sukirah terus melangkahkan kakinya menyusuri jalan berdebu menuju ke rumahnya. Bagi yang melihatnya, langkah kaki Ki Sukirah sepertinya langkah yang sia-sia. Karena semua orang tahu kalau rumahnya kini tinggal reruntuhan puing berdebu. Tapi Ki Sukirah tak peduli, sepotong perasaan dan hatinya seperti masih tertinggal di sana. Dan dia terus melangkahkan kakinya... tak peduli lagi dengan ancaman Wira Perakin untuk mencari anak dan istrinya.


Pikiran dan otak tua Ki Sukirah tak menyadari kalau dirinya terus diikuti ke mana saja kakinya melangkah. Ki Sukirah terus saja melangkah. Dia tertegun melihat rumah-nya yang tinggal puing puing hitam habis terbakar. Tak ada lagi asap yang mengepul, seperti hati dan perasaannya yang mati dan tak punya harapan lagi untuk melanjutkan perjalanan hidupnya.


Jauh dari tempat Ki Sukirah berdiri, tampak Rangga dan Pandan Wangi sedang memperhatikan laki-laki tua yang sedang dirundung malang itu.


"Kau yakin, laki-laki itu Ki Sukirah?" tanya Pandan Wangi.


"Ya, aku pemah melihatnya sekali. Bahkan sempat menolongnya waktu itu," sahut Rangga.


"Aku tidak mengerti, kenapa Wira Perakin membebaskannya," gumam Pandan Wangi.


"Manusia licik seperti Wira Perakin punya seribu satu cara untuk memenuhi nafsunya," sahut Rangga pelan.


Pandan Wangi mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia melihat beberapa orang dengan jarak terpisah juga tengah mengawasi Ki Sukirah. Meskipun mereka tampak seperti penduduk biasa, namun mata gadis itu cukup jeli untuk mengetahui ada senjata tersembul di balik baju mereka.


"Kau benar, Kakang. Ki Sukirah tidak dilepaskan begitu saja," kata Pandan Wangi.


"Kau melihat mereka juga, Pandan?"


"Ya, mereka semua bersenjata."


"Kalau begitu, kau awasi mereka dari sini."


"Kau mau ke mana?"

__ADS_1


"Memancing mereka."


Rangga terus melangkah tenang menuju ke arah Ki Sukirah yang masih berdiri mematung memandangi puing-puing rumahnya. Pandan Wangi mengamati sekitar dua puluh orang yang menyebar di berbagai tempat. Tampak pula olehnya seorang laki-laki tua mengenakan jubah kuning gading turut mengawasi Ki Sukirah. Dari jarak yang agak jauh terlihat gambar seekor kala hitam di tangan kanannya.


Sementara itu Rangga semakin dekat dengan Ki Sukirah. Kewaspadaannya pun tak pernah lepas pada orang-orang yang tengah mengawasinya Rangga berdiri di belakang Ki Sukirah, tangannya menepuk lembut pundak lelaki tua itu.


"Oh!" Ki Sukirah terkejut.


"Ssst ," Rangga memberi isyarat untuk bersikap biasa.


Ki Sukirah mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Begitu matanya melihat laki-laki tua berjubah kuning gading, langsung dia mengerti isyarat Rangga. Dia kenal laki-laki itu, dialah Galang Gembul. Tidak jauh dari Galang Gembul, tampak Kebo Rimang dan Demung Pari.


"Kau dijadikan pancingan oleh mereka, Ki. Sebaiknya jalan terus menuju hutan, biar di sana aku membereskan mereka," bisik Rangga pelahan.


"Bagaimana keadaan istri dan anakku?" tanya Ki Sukirah.


"Mereka baik-baik saja," sahut Rangga.


"Oh, syukurlah," desah Ki Sukirah lega.


"Mari aku antar kau mencari anak dan istrimu," kata Rangga sengaja agak keras, untuk memancing reaksi orang-orang yang tengah menguntit.


"Apakah jauh dari sini?" tanya Ki Sukirah juga dengan suara sedikit keras.


"Cukup jauh juga, mereka di tempat yang aman."


Ki Sukirah tersenyum lebar, dia melangkah di samping Pendekar Rajawali Sakti itu. Perasaannya benar-benar tenang sekarang, dia yakin kalau istri dan anaknya dalam keadaan selamat dan tenang di tempat yang aman. Dia juga tahu kalau Rangga sekarang bukan mengajak ke tempat istri dan anaknya berada.


Pancingan Rangga memang tepat. Orang-orang suruhan Wira Perakin mengikuti ke mana Ki Sukirah dan Rangga pergi. Sedangkan Pandan Wangi juga mulai mengikuti dari jarak yang cukup jauh.


Selama dalam perjalanan, Rangga terus berbicara dengan suara agak keras. Ki Sukirah menanggapi semua pembicaraan Pendekar Rajawali Sakn ini dengan mimik serius. Padahal pembicaraan itu untuk memancing mereka yang terus mengikuti. Rangga tersenyum dalam hati karena akalnya cukup mengena tanpa hambatan sedikit pula.


********************


Matahari sudah condong ke Barat ketika Rangga dan Ki Sukirah memasuki hutan. Mereka terus berjalan semakin masuk ke dalam hutan yang lebat. Hingga pada saat yang tepat, secepat kilat Rangga menyambar tubuh Ki Sukirah. Begitu cepatnya Pendekar Rajawali Sakti itu bergerak, sehingga tahu tahu sudah lenyap dari pandangan mata para penguntitnya.


Melihat buruannya hilang, Galang Gembul langsung melompat cepat. Kebo Rimang dan Demung Pari juga berbuat sama Mereka benar-benar kaget, karena Rangga dan Ki Sukirah menghilang tanpa seorang pun di antara mereka melihatnya!


"Kurang asar! Ke mana mereka pergi?" geram Galang Gembul.


Sementara itu, sekitar dua puluh orang lainnya sudah sampai di tempat Galang Gembul berada. Mereka semua juga kebingungan, karena orang yang mereka kuntit men-dadak hilang tak berbekas. Galang Gembul memberi perintah untuk mencari di sekitar tempat mereka berdiri.


"Jangan-jangan ini cuma jebakan saja, Gusti," kata Kebo Rimang menduga-duga


"Hm...," Galang Gembul menggumam tak jelas.


Galang Gembul tersentak begitu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tempat di mana mereka berada dikelilingi batu baru yang curam. Segera dia menyadari kalau mereka sengaja digiring dan dijebak.


Mendadak terdengar suara gemuruh. Lalu disusul dengan bergetarnya tanah yang mereka pijak. Dan belum lagi mereka sempat berpikir, di sekeliling mereka telah ber-guguran baru batu dari atas tebing. Begitu cepatnya kejadian itu berlangsung, hingga Galang Gembul tak sempat lagi memberi peringatan. Batu-batu berguguran menghujani orang-orang yang berada di bawahnya.


Jerit kematian menggema saling bersambut dengan suara gemuruh batu batu yang meluncur dari atas tebing. Galang Gembul berlompatan menghindari batu batu itu. Kebo Rimang dan Demung Pari juga tak kalah sibuknya. Mereka langsung mengeluarkan senjatanya masing masing menghalau setiap batu yang meluncur ke arah mereka.


Akibatnya sungguh mengerikan Semua pengikut dan kaki tangan Wira Perakin tewas mengenaskan. Mayat-mayat mereka menggeletak mengerikan. Mereka tewas dengan kepala dan tubuh yang tertindih batu batu. Tinggal Galang Gembul, Kebo Rimang dan Demung Pari yang masih bertahan. Ketiga orang itu pun tampak kepayahan.


"Setan...!" Galang Gembul memaki keras.


Muka laki-laki yang benubah kuning gading itu merah padam melihat dua puluh orang-orangnya tewas tanpa mampu membalas. Sementara Kebo Rimang dan Demung Pari semakin waspada dengan senjata di tangan. Suasana di tempat itu mendadak sepi.


"Keluar kau, Setaaan...!" teriakan Galang Gembul menggema keras.


"Tidak perlu berteriak-teriak, Kakek Tua! Aku di sini!" sahut sebuah suara bernada tenang.


Galang Gembul, Kebo Rimang dan Demung Pari ter-sentak kaget. Tahu tahu Rangga sudah berdiri di atas sebuah batu besar. Di samping Pendekar Rajawali Sakti itu, berdiri Pandan Wangi dengan kipas baja putihnya di tangan.


"Dia yang selalu menolong Ki Sukirah, Gusti," ucap Kebo Rimang memberitahu.


"Hm..., jadi kau rupanya yang telah membunuh orang-orangku, heh!" dengus Galang Gembul.


"Benar!" sahut Rangga tenang. Nada suaranya mengandung tantangan yang menyakitkan.


"Kurang asar! Kau sudah bosan hidup rupanya. Setan!" geram Galang Gembul sengit.


"Kita lihat saja siapa yang bosan hidup...?"


"Monyet! Hiyaaa...!"


Galang Gembul tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dia langsung melompat menerjang Rangga. Pertarungan sengit pun tak bisa dihindari lagi. Rangga melayani serangan Galang Gembul dengan jurus-jurus andalannya. Sedangkan Galang Gembul sudah menghunus senjatanya yang berupa golok besar berwarna hitam pekat.


Wut, wut, wut!


Galang Gembul semakin bernafsu, setiap serangannya dimentahkan di tengah jalan oleh Rangga. Sudah hampir seluruh kemampuannya dia kerahkan, tapi belum juga dia bisa menyentuh tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu. Galang Gembul jadi semakin kalap dan merasa dipermainkan, dia pun segera mengeluarkan ilmu kesaktiannya yang terdahsyat!


"Hih.. !" Rangga terkesiap juga melihat ilmu itu.


Secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti itu mengerahkan aji 'Cakra Buana Sukma'. Satu ajian andalannya yang digunakan terhadap lawan tangguh. Sekejap saja kedua tangan Rangga memancarkan cahaya biru menyilaukan mata.


"Aji 'Cakra Buana Sukma'!" teriak Rangga.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, tubuh Galang Gembul melompat cepat meluruk ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Tangan Rangga terangkat naik, dan menerima kedua tangan Galang Gembul yang menjulur ke depan.


Ledakan keras terdengar begitu kedua tangan itu saling beradu Rangga tidak bermain-main lagi, dia langsung mengerahkan tingkat akhir dan aji 'Cakra Buana Sukma'. Tubuh Galang Gembul terpental kencang ke belakang begitu kedua tangannya membentur tangan Rangga. Sedang Pendekar Rajawali Sakti itu tetap berdiri tegak tak bergeming sedikit pun.


Galang Gembul meluncur deras membentur dinding batu cadas dengan keras. Begitu kerasnya, hingga dinding batu itu bergetar dan berguguran! Tak ampun lagi, batu-batu yang berguguran itu menimpa tubuh Galang Gembul, hingga seluruh tubuhnya tak ada yang terlihat lagi. Galang Gembul tewas seketika


"Mau lari ke mana kau! Hiyaaa...!" bentak Pandan Wangi yang sejak tadi mengawasi Kebo Rimang dan Demung Pari.


Kebo Rimang terkejut setengah mati, buru-buru dia mengibaskan pedangnya ke arah bayangan biru yang menerjangnya. Namun Kebo Rimang jadi tersentak begjtu pedangnya beradu dengan benda keras bertenaga dahsyat. Tangan Kebo Rimang bergetar hebat, dan pedangnya nyaris terlepas dari tangan.


Belum sempat dia menyadari apa yang barusan terjadi, mendadak sebuah tendangan geledek menghantam dadanya. Kebo Rimang mengeluh pendek, dan tubuhnya sempoyongan terdorong ke belakang. Laki-laki bertubuh tinggi besar itu langsung menjatuhkan dirinya begitu datang serangan berikutya yang sangat cepat bagai kilat.


Bret!


"Akh...!" Kebo Rimang memekik tertahan.


Tanpa diduga sama sekali, kipas baja putih milik Pandan Wangi merobek bahu kiri Kebo Rimang. Darah bercucuran dari luka yang panjang dan dalam di bahu kiri. Kebo Rimang meringis merasakan perih pada bahunya yang terluka. Pandan Wangi berdiri tegak dengan kipas baja putih terbuka di depan dada.


"Kau lebih baik mati, Setan!" geram Pandan Wangi sengit.


Pandan Wangi lalu berteriak nyaring dan bergerak cepat seraya mengebutkan kipas saktinya. Kebo Rimang hanya bisa mendelik. Mendadak dia merasakan sesuatu yang sangat sangat keras menusuk tubuhnya. Tanpa sempat bersuara sedikit pun, Kebo Rimang langsung tewas saat itu juga.


Pandan Wangi berdiri sejenak memandang tubuh Kebo Rimang yang tergeletak tanpa nyawa itu. Dia baru menoleh ketika merasakan tepukan lembut di pundaknya.


"Kenapa kau biarkan satunya lolos?" tanya Pandan Wangi.


"Biar dia memberitahu pimpinannya," sahut Rangga tenang.


"Huh! Tanganku rasanya gatal jika melihat kejahatan di depan mata," dengus Pandan Wangi.


"Tapi tidak seharusnya kau berlaku begitu sadis."


"Orang-orang seperti mereka tidak perlu dikasih hati."


Rangga cuma tersenyum. Belakangan ini dia memang lebih arif pada lawannya, seringkali dia membiarkan lawan-nya pergi jika dianggapnya sudah tak berdaya menghadapi dirinya. Kecuali kalau lawannya benar-benar telah berbuat kejahatan di luar batas.


"Bagaimana kedaan Ki Sukirah?" tanya Pandan Wangi.


"Mereka sudah berkumpul di gubuk Dimas," sahut Rangga.


"Begitu cepat..?!" Pandan Wangi merasa heran.


"Tidak jauh lagi dari sini, kan?"


Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. Dia seolah baru tahu siapa Rangga. Jarak dari tempat mereka berada sekarang sebenamya cukup jauh dan harus melewati tebing-tebing berbaru untuk mencapai gubuk Dimas. Tapi bagi Rangga hal itu bukanlah menjadi soal.


"Ayo...." ajak Rangga.


Baru saja mereka hendak melangkah, mendadak muncul Dimas dari balik tebing batu yang tinggi. Rangga dan Pandan Wangi mengurungkan niatnya untuk meninggalkan tempat itu. Dimas menghampiri kedua pendekar muda itu. Tiba-tiba ia sangat terkejut melihat gambar kala hitam pada salah satu sosok mayat itu! Gambar yang mengingatkannya kembali pada peristiwa yang menimpa kakak perempuannya lima belas tahun yang lalu. Dimas seolah tak percaya pada penglihatannya, matanya terus menatap mayat Galang Gembul.


"Rupanya mereka ada di sini!" Dimas seperti ber-gumam. "Huh! Wira Perakin, rupanya kau dalang dari semua ini!" geram Dimas seraya bangkit berdiri.


"Dimas...," panggil Pandan Wangi pelan.


Dimas menoleh, memandang kedua pendekar yang berdiri di dekatnya. Sinar matanya begitu tajam dan berapi-api. Api dendam yang bersemayam bertahun-tahun di hatinya, kini kembali berkobar begitu melihat salah seorang yang memperkosa dan membunuh kakaknya ternyata ada di sini!


"Ada apa denganmu, Dimas?" tanya Pandan Wangi.


"Sekarang saatnya biar aku yang membunuh mereka!" dengus Dimas sedikit tersengal.


Pandan Wangi memandang Rangga tak mengerti. Keduanya lalu hampir berbarengan menoleh ke arah Dimas. Pelahan-lahan keduanya mendekat. lalu mengajak Dimas untuk menjauhi tempat itu.


Mulanya Dimas merasa enggan, tapi teringat akan jasa Rangga dan Pandan Wangi, akhirnya dia pun menceritakan semuanya. Menceritakan tentang nasib kakak perempuannya yang malang. Menceritakan tentang nasib Ki Sukirah dan keluarganya. Dan mengungkapkan dendam kesumat-nya pada orang-orang yang telah menoreh luka panjang di hatinya.


"Hm..., kalau memang orang itu salah seorang yang membunuh kakakmu berarti masih ada empat orang lagi," kata Rangga setengah bergumam.


"Ya, dan aku yakin mereka ada hubungannya dengan si tua bangka Wira Perakin," sahut Dimas.


"Bagaimana kalau kita kembali ke desa?" usul Pandan Wangi.


"Untuk apa?" tanya Rangga.


"Membantu Dimas mencari orang-orang itu." sahut Pandan Wangi.


"Apa benar mereka pasti di sana?"


"Paling tidak, kita bisa menyelesaikan persoalan Wira Perakin!"


"Bagaimana, Dimas?" Rangga meminta pendapat pada yang berkepentingan.


"Aku percaya saja pada kalian berdua," sahut Dimas mulai tenang.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi?" sergah Pandan Wangi segera.


"Ya, kalau mau bergerak memang harus cepat!" timpal Rangga sambil beranjak pergi. Dan tiga orang pemuda itu pun segera berjalan beriringan menuju sasaran yang mereka cari!


********************

__ADS_1


__ADS_2