Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Iblis Wajah Seribu Bag. 8


__ADS_3

"Menyingkir, Panglima. Pedang itu sangat berbahaya!" seru Rangga saat melihat Panglima Lohgender mau menghampiri.


"Apa yang terjadi?" tanya Panglima Lohgender mengurungkan langkahnya.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, cepat menyingkir!" sahut Rangga.


Pada saat itu, Pandan Wangi sudah melompat menerjang. Rangga mengangkat pedangnya, dan langsung mengadunya dengan pedang Naga Geni. Dua senjata sakti beradu keras di udara. Percikan bunga api memercik indah disertai suara ledakan keras menggelegar.


Rangga segera mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Tubuhnya melenting deras ke udara, lalu menukik seraya memutar pedangnya dengan cepat. Pandan Wangi juga memutar pedangnya di atas kepala.


Tring!


Rangga sengaja membabat ujung pedang gadis itu, lalu tangannya dengan cepat sekali menjambret sarung pedang Naga Geni yang menempel di punggung Pandan Wangi. Bagaikan kilat, tubuh Rangga kembali melenting ke udara. Kembali dia menukik tajam sambil mengarahkan sarung pedang di tangannya ke ujung pedang Naga Geni.


Slap!


Cahaya merah langsung hilang begitu pedang Naga Geni masuk ke dalam warangkanya. Dan Rangga juga segera memasukkan pedang pusakanya ke dalam warangkanya di punggung. Pandan Wangi jatuh terduduk lemas dengan pedang menggeletak di tanah. Wajahnya jadi pucat pasi. Rangga menghampiri dan memungut pedang yang menggeletak di tanah.


"Ini pedangmu," kata Rangga sambil menyerahkan pedang itu.


Pandan Wangi mengangkat kepalanya memandang Rangga. Perlahan-lahan dia berdiri, dan menggelengkan kepalanya lemah beberapa kali. Dua kali dia hampir mati oleh pengaruh pedang Naga Geni itu.


"Kau takut?" tanya Rangga.


"Aku tidak bisa menggunakan pedang itu, Kakang." ucap Pandan Wangi lirih.


"Kau harus bisa Pandan. Kau harus menaklukkan pengaruh pedang ini " Rangga memberi semangat.


Pandan Wangi kembali menggeleng lemah.


"Kalau kau tidak mau memilikinya. Lalu siapa yang akan memiliki pedang ini?"


"Terserah padamu, Kakang. Atau kau saja yang memilikinya. Kau bisa menaklukkan pedang itu."


"Tidak mungkin. Pandan. Aku sudah memiliki senjata. Dan kedua senjata ini sangat berlawanan, tidak mungkin bisa bersatu."


"Tapi aku tidak sanggup lagi menggunakannya. Pedang itu liar sekali, dia bisa membunuh siapa saja yang memegangnya. Tenagaku tersedot, aku tidak bisa mengendalikannya, Kakang," keluh Pandan Wangi.


"Kau belum sepenuhnya menguasai ilmu 'Naga Sewu'. Aku yakin, kalau kau sudah sempurna menguasai ilmu itu, pasti kau bisa menaklukkan pedang ini. Pedang Naga Geni hanya bisa dipergunakan oleh orang yang menguasai ilmu 'Naga Sewu' dengan sempurna," Rangga menjelaskan.


Pandan Wangi menatap Rangga.


"Seperti juga halnya Pedang Rajawali Sakti, harus digunakan dengan jurus-jurus Rajawali Sakti. Tidak akan ada seorangpun yang bisa menggunakan Pedang Rajawali Sakti kalau tidak menguasai dengan sempurna jurus-jurus Rajawali Sakti," lanjut Rangga.


"Apa mungkin aku bisa menguasai ilmu 'Naga Sewu'. Kakang?" tanya Pandan Wangi kembali bangkit semangatnya.


"Kenapa tidak? Kau sudah menguasai dasar-dasarnya, kau tinggal memperdalam dan menyempurnakannya. Yang penting sekarang, kitab Naga Sewu masih ada di tanganmu. Pelajari lagi kitab itu dan sempurna kan jurus-jurus 'Naga Sewu'," Rangga terus mendorong semangat Pandan Wangi yang hampir padam.


"Berapa lama?"


"Tergantung dari kesungguhanmu, Pandan."


Pandan Wangi tidak lagi menolak ketika Rangga menyodorkan Pedang Naga Geni yang sudah aman tersimpan diwarangkanya. Gadis itu mengenakan kembali pedang pusaka itu ke punggungnya. Rangga tersenyum dan menoleh menatap Panglima Lohgender dan beberapa prajurit yang menyertainya.


"Aku akan mengantarkanmu ke suatu tempat agar kau tenang menyempurnakan jurus-jurus 'Naga Sewu'," kata Rangga setengah berbisik.

__ADS_1


"Kau sendiri?" tanya Pandan Wangi yang sudah bisa menangkap maksud Rangga.


"Aku akan meneruskan perjalanan panjang ini." sahut Rangga.


"Jadi kita berpisah?"


"Kelak kita akan bertemu lagi, dan kau sudah menjadi seorang pendekar wanita yang tangguh," sahut Rangga tetap membesarkan hati gadis itu.


"Oh, Kakang..." desah Pandan Wangi terharu.


Kalau saja tidak ada orang lain di sekitar tempat itu, mau rasanya Pandan Wangi memeluk pemuda tampan yang sudah menggores relung hatinya ini. Pandan Wangi hanya bisa menatap dalam-dalam dengan berbagai macam perasaan yang sukar dilukiskan. Mereka menghampiri Panglima Lohgender yang menunggu dengan jarak agak jauh.


********************


"Apa yang terjadi?" tanya Panglima Lohgender.


"Pandan Wangi tidak bisa mengendalikan pedangnya," sahut Rangga.


Panglima Lohgender memandang Rangga dan Pandan Wangi bergantian. Dia masih belum mengerti dengan penjelasan singkat itu. Dia sudah banyak makan asam garamnya dunia persilatan, tapi belum pernah menemukan hal seperti ini, sebuah senjata ampuh mampu mengacaukan kendali pemiliknya.


"Pedang itu bernama Naga Geni, dia baru saja kehilangan pemiliknya. Dan Pandan Wangi adalah ahli waris tunggalnya. Tapi dia belum bisa menguasai senjata itu, harus perlu waktu untuk bisa bersama-sama sejalan dengan Pedang Naga Geni." Rangga mencoba menjelaskan.


"Apakah pedang itu berbahaya?" tanya Panglima Lohgender.


"Ya, sangat berbahaya sekali jika orang berwatak jahat yang memilikinya. Pedang itu punya hawa dan pengaruh membunuh yang sangat dahsyat, sulit untuk menaklukkannya, jika tidak dibarengi dengan jurus-jurus yang sesuai."


Panglima Lohgender ingin bertanya lagi, tapi pertanyaan yang sudah sampai ditenggorokan tidak jadi ke luar, karena salah seorang prajuritnya berlari-lari dengan napas terengah-engah.


"Gusti Panglima..." prajurit itu langsung membungkuk hormat.


"Gusti Arya Duta..."


Rangga yang mendengar itu langsung melompat masuk ke dalam gubuk kecil di antara gundukan batu berbukit Pandan Wangi juga segera mengikuti, disusul oleh Panglima Lohgender. Betapa terkejutnya Panglima Lohgender begitu melihat Arya Duta tergolek dengan dada berlumuran darah.


Pandan Wangi langsung memalingkan mukanya. karena Arya Duta tidak mengenakan pakaian sepotongpun. Rangga segera memungut kain yang teronggok di lantai gubuk kecil ini, dan menutupi tubuh Arya Duta. Panglima Lohgender tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya memandang Rangga dengan mata sedikit berkaca-kaca.


"Maaf, aku terlambat menolongnya. Dia mati di tangan si Iblis Wajah Seribu," kata Rangga pelan.


Panglima Lohgender tidak berkata apa-apa lagi. Dia langsung melangkah ke luar dengan wajah terselimut duka. Terlebih lagi ada salah seorang prajurit yang lolos dan menceritakan semua peristiwa atas meninggalnya Braja Duta bersama para pengawal lainnya. Panglima Lohgender merasa terpukul sekali dengan kematian kedua anak angkatnya, yang sangat dipercayai dan diandalkannya.


Dua orang prajurit segera masuk ke dalam. Mereka segera merawat jenazah Arya Duta. Tanpa menunggu lama, mereka segera memakamkan mayat Arya Duta. Setelah itu Rangga segera mengajak Pandan Wangi meninggalkan Kadipaten Karang Asem.


********************


Suasana di Kadipaten Karang Asem sudah kembali normal. Panglima Lohgender juga akan meninggalkan kadipaten itu keesokan harinya bersama sisa-sisa prajurit yang masih hidup. Sedangkan Rangga dan Pandan Wangi telah jauh meninggalkan perbatasan kadipaten itu. Dalam perjalanan, Rangga heran dengan perangai Pandan Wangi yang tiba-tiba berubah menjadi pendiam. Ia tidak tahu, apa yang sedang dipikirkan gadis itu.


"Apa yang kau pikirkan, Pandan?" tanya Rangga.


"Tidak ada," sahut Pandan Wangi.


"Kau masih memikirkan Pedang Naga Geni?" tebak Rangga.


"Mungkin," sahut Pandan Wangi mendesah.


"Aku akan mengantarkanmu sampai kepantai. dari sana kau bisa langsung menuju ke Pulau Karang. Aku yakin, dalam waktu tidak lama kau sudah bisa menguasai pedang itu," kata Rangga.

__ADS_1


Pandan Wangi tidak menjawab. Dia tetap melangkah pelan-pelan dengan kepala tertunduk. Jelas sekali kalau sikapnya ini jauh berubah dari sebelumnya. Belum pernah Rangga melihat Pandan Wangi diam begitu.


"Terus terang saja, Pandan. Apa yang menyusahkan pikiranmu?" desak Rangga tidak tahan melihat sikap Pandan Wangi begitu.


Pandan Wangi menghentikan langkahnya. Dia menatap Rangga dalam-dalam. Sepertinya ada yang hendak dikatakan, tapi terasa sulit mengucapkannya. Hanya tatapan matanya saja yang banyak bicara.


"Kau memikirkan Klenting Kuning..?" tanya Rangga menebak dengan suara agak ditahan.


Pandan Wangi tampak tersentak. Buru-buru dia memalingkan mukanya menatap ke arah lain. Pelan-pelan kakinya kembali terayun melangkah. Sementara matahari sudah semakin tinggi mencapai atas kepala.


"Kau cemburu pada perempuan yang sudah jadi mayat itu?" tebak Rangga lagi.


"Tidak!" sahut Pandan Wangi tegas. Namun dari nada suaranya jelas-jelas tertahan.


"Lalu?" desak Rangga.


"Berapa lama lagi kita sampai di Pantai Utara?" Pandan Wangi mengalihkan pembicaraan. Sepertinya dia segan membicarakan Klenting Kuning.


"Menjelang senja nanti baru sampai," sahut Rangga maklum.


"Kita menginap di mana?"


"Terserah, tapi kalau kau mau, bisa langsung menyeberang. Perjalanan ke Pulau Karang tidak berbahaya. Pulau itu jadi tempat persinggahan para nelayan."


Pandan Wangi mendesah berat. Sebenarnya dia tidak ingin berpisah dengan Pendekar Rajawali Sakti ini, tapi demi kesempumaan ilmunya, dia harus bisa menekan perasaannya. Segala sesuatu memang membutuhkan pengorbanan, dan Pandan Wangi menyadari kalau dirinya harus berkorban demi masa depannya sendiri. Dia tidak ingin menyandang senjata tanpa dapat mempergunakannya. Pedang Naga Geni sangat dahsyat, dan pengaruhnya sungguh luar biasa.


"Kakang...," Pandan Wangi menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya Rangga.


"Ah, tidak...," Pandan Wangi mendesah. Kembali dia melangkah.


"Ada apa, Pandan. Katakan saja."


"Kau tidak terpikir untuk masa depan, Kakang?" tanya Pandan Wangi pelan.


"Mungkin, tapi sekarang ini aku belum memikirkannya. Entah kalau nanti," sahut Rangga merasa aneh dalam nada pertanyaan itu.


"Sampai kapan kau akan mengembara?"


"Mungkin sampai aku tidak sanggup lagi melakukannya."


"Kau tidak ingin kembali ke tanah kelahiranmu?"


Rangga tidak segera menjawab. Perlahan dia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan-pelan juga. Dia memang rindu dengan tanah kelahirannya, tapi dia tidak tahu letak yang pasti, di mana Kerajaan Karang Setra? Entah, bagaimana keadaannya sekarang ini. Dua puluh tahun dia tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di sana. Setelah peristiwa mengerikan di Lembah Bangkai, tepatnya di tepi Danau Cubung.


"Satu saat nanti..." desah Rangga pelan, seperti untuk dirinya sendiri.


"Pasti, Kakang." sahut Pandan Wangi.


Rangga hanya tersenyum saja. Mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke Utara. Rangga melangkah pelan-pelan dengan kenangan kembali pada dua puluh tahun lalu. Dia jadi teringat dengan kedua orang tuanya yang tewas terbunuh. Sementara Pandan Wangi berjalan santai di sampingnya. Dia juga sibuk dengan pikirannya sendiri.


SELESAI


EPISODE BERIKUTNYA MANUSIA BERTOPENG HITAM

__ADS_1


__ADS_2