
Suasana di Kadipaten kerajaan Galung tengah dirundung duka. Sudah seminggu ini Patih Giling Wesi memerintahkan prajurit-prajurit pilihan untuk mencari kapal layar yang membawa putrinya. Sampai saat ini mereka belum memperoleh kabar berita sama sekali. Di Pendopo Kepatihan, Patih Giling Wesi seperti orang kebingungan. Melangkah hilir mudik dengan hati diselimuti kegelisahan. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Matanya memandang ke depan Pendopo. Seorang tamtama berjalan tergopoh-gopoh menuju Pendopo.
"Tamtama, ada apa?" tanya Patih Giling Wesi setelah tamtama itu mendekat memberi hormat.
"Hamba menerima Iaporan dari beberapa telik sandi, Gusti Patih," jawab tamtama itu.
"Cepat laporkan!"
"Beberapa telik sandi yang hamba kirim untuk mencari keterangan tentang Putri Intan Kemuning, telah kembali pagi tadi. Dilaporkan bahwa kapal yang membawa Putri Intan Kemuning dirampok gerombolan Bidadari Sungai Ular," tamtama itu menuturkan dengan sikap hormat.
"Bedebah!" geram Patih Giling Wesi murka. Gerahamnya sampai bergemerutuk dengan wajah merah padam.
"Gerombolan Bidadari Sungai Ular sangat ganas, Gusti Patih. Tidak peduli kapal siapa yang akan jadi sasaran," lanjut tamtama itu lagi.
"Kumpulkan prajurit pilihan, kita berangkat sekarang juga ke sungai Ular!" perintah Patih Giling Wesi.
"Sendika, Gusti Patih," tamtama itu memberi hormat, lalu melangkah mundur.
Patih Giling Wesi bergegas masuk ke kamar pribadinya. Istrinya terheran-heran melihat wajah suaminya yang merah padam. Dan betapa terkejutnya istri Patih Giling Wesi ketika suaminya mengambil pedang pusaka. Telah lama patih itu tidak menyentuhnya lagi.
"Kang Mas...."
Patih Giling Wesi menoleh. Dia baru sadar kalau istrinya, Rara Angken, berada di kamar ini. Pikirannya terpusat penuh pada keselamatan putri mereka, sehingga tak sadar kalau istrinya sejak tadi memperhatikan tingkah lakunya.
"Untuk apa pedang itu?" tanya Rara Angken. Nada suaranya bergetar penuh kecemasan.
"Aku akan mencari Intan Kemuning," sahut Patih Giling Wesi.
"Tapi mengapa harus membawa pedang pusaka?"
"Beberapa telik sandi melaporkan kalau kapal yang membawa Intan Kemuning dirampok oleh Gerombolan Bidadari Sungai Ular."
"Oh...!" Rara Angken menekap mulutnya.
"Berdoalah pada Hyang Widi untuk keselamatan anak kita," lembut suara Patih Giling Wesi.
"Intan, anakku...," Rara Angken tak kuasa lagi menahan air matanya.
"Dinda Rara Angken, tidak ada gunanya kau menangis. Berdoalah agar anak kita selamat. Perompak itu memang ganas, tapi firasatku mengatakan bahwa Intan Kemuning masih hidup. Tenangkan hatimu. Aku berjanji akan membawa kembali anak kita," ujar Patih Giling Wesi sambil mengelus-elus kepala dan bahu istrinya.
Rara Anken masih terisak. Air matanya menganak sungai di pipi.
"Aku pergi, Dinda," pamit Patih Giling Wesi setelah menarik napas panjang.
"Kang Mas...," lirih suara Rara Angken.
Pedih hati Patih Giling Wesi melihat istrinya menangis. Namun kakinya melangkah tegap, terayun ke luar kamar. Sementara sekitar lima puluh prajurit bersenjata lengkap sudah berbaris menunggunya di depan Pendopo. Seorang prajurit menuntun seekor kuda hitam tinggi kekar ketika Patih Giling Wesi tiba di depan Pendopo. Tanpa banyak basa-basi lagi, patih yang terkenal pemberani itu segera melompat ke punggung kuda dengan gerakan yang lincah.
Para prajurit bergegas menaiki kudanya masing-masing. Patih Giling Wesi segera memacu kudanya dengan cepat diikuti oleh pasukannya. Derap langkah kuda terdengar bergemuruh meninggalkan kepulan debu bergulung-gulung. Kepatihan kembali sepi setelah mereka ke luar dari benteng diiringi oleh mata beberapa penjaga yang terkesima.
"Hiya...! Hiya...!" Patih Giling Wesi menggeprak kudanya agar lebih kencang lagi. Kuda hitam mengkilat itu mendengus-dengus berlari bagai anak panah melesat cepat. Kuda Patih Giling Wesi memang kuda pilihan. Tidak heran kalau para prajuritnya tertinggal di belakang. Padahal mereka telah memacu kudanya secepat mungkin.
Sebuah jalan desa yang kanari kirinya berdiri rumah penduduk, mereka lewati. Semua orang yang berada di jalan segera menepi. Mereka terheran-heran melihat banyak prajurit yang sudah terkenal kedigjayaannya seperti akan perang. Tiba kini sebuah kedai mereka lewati. Semua orang dalam kedai menoleh. Tetapi yang terlihat hanya kepulan debu saja.
Di antara pengunjung kedai, duduk tenang seorang pemuda tampan yang tengah menghadapi guci arak. Pemuda itu tidak merasa terganggu oleh ulah prajurit kepatihan yang memacu kuda dengan cepat itu. Padahal banyak orang dalam kedai bertanya-tanya dan menduga-duga. Pemuda itu mengenakan baju rompi putih yang lusuh. Di punggungnya bertengger sebilah pedang dengan gagang berbentuk kepala burung rajawali. Dia adalah Rangga, Pendekar Rajawali Sakti.
"Seperti akan perang saja prajurit-prajurit itu," terdengar suara dari meja tidak jauh dari tempat duduk Rangga.
Rangga melirik ke arah suara itu. Dua anak muda duduk menghadapi empat guci arak. Dari pakaiannya dapat ditebak kalau mereka anak seorang bangsawan kaya. Atau paling tidak anak saudagar.
"Tidak biasanya, Patih Giling Wesi ikut serta. Pasti ada sesuatu yang gawat," sahut temannya.
"Mereka mencari putri Intan Kemuning!"
Semua orang di kedai terdongak dan menatap arah suara yang datang tiba-tiba itu. Ternyata seorang kakek tua mengenakan baju compang-camping dengan tongkat merah menyangga tubuhnya. Kakek tua itu bersandar pada tiang kedai. Dari tongkat dan pakaiannya semua orang tahu dia adalah Pengemis Sakti Tongkat Merah. Tapi jarang yang tahu kalau nama sebenamya adalah Aki Lungkur. Hanya tokoh-tokoh tertentu saja yang tahu nama aslinya.
"Kakek gembel! Kau jangan bicara sembarangan!" bentak salah seorang dari dua pemuda tadi.
"He he he...," Aki Lungkur atau si Pengemis Sakti Tongkat Merah itu hanya terkekeh saja. Dia tahu siapa dua pemuda congkak itu.
Mereka putra-putra para punggawa kerajaan. Yang memakai baju berwarna merah, bernama Hanggara. Sedangkan yang berpakaian warna hijau bernama Rangkasa. Mereka hanya pemuda-pemuda yang besar mulut tanpa nyali sedikit pun. Dan semua orang tahu siapa Intan Kemuning. Bunga Kepatihan yang menjadi incaran dan impian putra-putra bangsawan dan punggawa kerajaan. Memang, hilangnya Intan Kemuning belum tersebar luas kecuali para prajurit pilihan.
"Kecongkakanmu melebihi tingginya gunung, tapi matamu buta! Kau tidak bisa melihat kejadian di sekelilingmu!" Aki Lungkur bergumam.
Merah padam wajah kedua pemuda itu. Jelas ucapan Pengemis Sakti Tongkat Merah tertuju pada mereka.
"Tanyakan pada Gusti Rara Angken. Kalau kata-kataku salah, kalian boleh memancung leherku. Tapi, kalau aku benar maka aku minta kalian membebaskan putri Intan Kemuning dari sarang Bidadari Sungai Ular!"
Setelah selesai kata-katanya, Aki Lungkur dengan cepat melompat dan hilang dari pandangan mata. Suara menggumam terdengar bagai lebah ditepuk sarangnya. Hanggara dan Rangkasa saling berpandangan. Kata-kata kakek tua tadi bisa jadi ada benamya tetapi patut dipertanyakan pula. Rasanya sulit dipercaya bila putri seorang patih yang terkenal dengan julukan Singa Medan Laga bisa ditawan oleh gerombolan Bidadari Sungai Ular.
Semua orang tahu kalau hal itu benar-benar terjadi, maka gerombolan perompak itu bukan saja berhadapan dengan para prajurit tetapi juga dengan tokoh-tokoh sakti dunia persilatan. Patih Giling Wesi mempunyai banyak sahabat dari tokoh-tokoh rimba persilatan. Maka kalau berita itu sampai tersebar luas, bukan tidak mungkin mereka akan membantu Patih Giling Wesi.
Tanpa diketahui orang-orang di kedai, rupanya dua orang gerombolan Bidadari Sungai Ular ada pula di kedai itu. Mereka mendengar pembicaraan Aki Lungkur dan segera angkat kaki ketika kakek tua itu menghilang.
"Kita harus laporkan segera pada Tuan Putri," bisik salah seorang.
"Benar, Kakang Badil," sahut temannya.
"Pacu kudamu dan kita ambil jalan pintas, Adi Gering!"
__ADS_1
Mereka pun memacu kudanya dengan cepat. Dan kini keadaan kedai menjadi sunyi. Satu persatu pengunjung kedai berlalu pergi dari tempat itu. Bahkan dua pemuda congkak sudah sejak tadi meninggalkan kedai. Tinggal Rangga sendirian masih duduk menghadapi mejanya. Seorang pelayan tua sekaligus pemilik kedai menghampiri.
"Tambah lagi araknya, Tuan?" Pak Tua menawarkan.
"Tidak, duduklah di sini. Aku perlu teman ngobrol" sahut Rangga. Pak Tua itu duduk di depan Rangga.
********************
Matahari hampir condong ke Barat. Dua ekor kuda berpacu memasuki hutan di kaki lereng bukit Guntur. Penunggang kuda itu adalah Badil dan Gering, dua orang dari gerombolan Bidadari Sungai Ular. Penuh dengan kesigapan, mereka melompat turun setelah kuda yang mereka tunggangi berhenti di depan rumah terbuat dari kayu. Inilah markas gerombolan Bidadari Sungai Ular. Dengan tergesa-gesa Badil menghampiri pintu dan mengetuknya dengan keras. Ketika pintu terbuka, kedua tangan Saka Lintang telah berada di pinggang.
"Ada apa?" tanya Saka Lintang angkuh.
"Kami punya berita penting, Tuan Putri," kata Badil segera membungkukkan badannya.
"Katakan cepat!"
"Menyangkut..., Intan...," Badil setengah berbisik Matanya menerobos ke dalam.
Saka Lintang mengerutkan keningnya. Dia melangkah dua tindak.
"Tadi hamba berdua minum-minum di kedai Pak Tua. Di situ hamba melihat serombongan prajurit berkuda dipimpin langsung oleh Patih Giling Wesi," jelas Badil ketika Saka Lintang telah berada di luar rumah.
"Lalu?" desak Saka Lintang sudah bisa menebak
"Di situ juga ada Pengemis Sakti Tongkat Merah. Si gembel Itu tahu kalau Intan Kemuning ada di sini. Dia yang menyebar kabar itu, Tuan Putri," lanjut Badil.
"Kau takut?" cibir Saka Lintang.
"Tidak!" sahut Badil dan Gering bersamaan.
"Kalau begitu, siapkan semua yang ada. Sambut kedatangan mereka!" perintah Saka Lintang tegas.
"Jumlah mereka banyak, Tuan Putri," kata Gering.
"Mereka hanya tikus!" bentak Saka Lintang. Dia mendengar nada cemas pada suara Gering.
"Hamba laksanakan, Tuan Putri," cepat-cepat Gering membungkuk. Dia tahu gelagat kalau Saka Lintang sudah membentak keras.
Ketika kedua orang itu telah pergi, Saka Lintang bergegas masuk ke kamar kembali. Dia menghampiri Intan Kemuning yang menunggu di balai tengah-tengah ruangan.
"Ada apa Kakak Lintang?' tanya Intan.
"Ada tikus yang mencoba masuk," jawab Saka Lintang lalu duduk di balai berhadapan dengan Intan Kemuning.
"Tikus...?" Intan Kemuning belum mengerti.
Intan Kemuning mulai mengerti. Yang dimaksud tikus tentulah orang. Bukan tikus sebenarnya. Kadang-kadang dia harus berpikir lebih dulu untuk dapat mengerti. Itulah Saka Lintang. Bukan hanya kata-katanya saja yang sulit dimengerti. Sikapnya pun demikian. Kadang-kadang kasar, kadang-kadang lembut. Tapi di balik kekasarannya, Intan Kemuning dapat melihat suatu pelampiasan kekesalan pada Saka Lintang.
Sebenarnya ingin sekali Intan bertanya. Tapi setiap kali akan bertanya, di saat itu pula niatnya diurungkan. Dia takut Saka Lintang tersinggung. Intan Kemuning harus bisa menjaga diri dan berbuat apa saja yang dikehendaki Saka Lintang.
"Mengapa kau memandangiku begitu?" tanya Saka Lintang risih dipandangi terus.
"Tidak..., tidak apa-apa," sahut Intan Kemuning tergagap. "Aku..., aku heran saja."
"Apa yang kau herankan?" tanya Saka Lintang.
"Kakak Lintang," pelan suara Intan Kemuning.
"Aku...? Ha ha ha...!" Saka Lintang tertawa gelak.
Intan Kemuning makin bingung melihat Saka Lintang tertawa terbahak-bahak. Padahal kata-katanya tidak ada yang lucu. Kenapa dia sampai tertawa gelak seperti itu? Namun dalam tawa itu, Intan Kemuning menangkap semacam kegetiran yang ditutup-tutupi di wajah Saka Lintang.
"Sudahlah, tidak usah memikirkan aku! Yang penting, sekarang giatlah berlatih. Aku lihat jurus-jurus pukulan tangan kosongmu sudah mantap. Perdalamlah lagi agar lebih sempurna," ujar Saka Lintang setelah reda tawanya.
Intan Kemuning hanya mengangguk.
"Nah, berlatihlah sekarang!" perintah Saka Lintang.
"Kakak Lintang mau ke mana?" tanya Intan Kemuning ketika Saka Lintang turun dari balai.
"Ke luar! Aku akan kembali lagi jika kau sudah selesai berlatih," sahut Saka Lintang. "Ingat, setelah kau selesai latihan tenaga dalam, bersemadilah!"
Intan Kemuning mengangguk kembali. Saka Lintang melangkah dan menoleh sebentar pada Intan Kemuning. Bibirnya tersungging melihat Intan Kemuning mulai berlatih. Sebentar matanya mengawasi keadaan sebelum menutup pintu, lalu keluar. Saka Lintang melenting tinggi lalu membuat gerakan berputar beberapa kali di udara dan hinggap dengan manis di atap rumah.
Pandangannya berkeliling. Bibirnya tersenyum melihat anak buahnya telah siap menanti datangnya para prajurit kepatihan. Mata Saka Lintang menatap lurus ke depan. Tampak sekitar sepuluh orang berjalan menuju sungai Ular dipimpin oleh Codet. Di belakang mereka, berjalan sepuluh orang dipimpin oleh Badil dan sepuluh orang lagi dipimpin oleh Gering. Lima belas orang berjaga-jaga di markas mereka.
Saka Lintang sedikit kagum pada Codet yang pandai mengatur anak buahnya. Dengan gerakan indah, Saka Lintang melompat turun. Saat kakinya mendarat di tanah, kembali dilentingkan tubuhnya dan hinggap di atas punggung kudanya. Segera dia menggebrak kudanya lalu melesat cepat menuju ke sungai Ular yang tidak jauh dari lereng bukit Guntur markas Saka Lintang sekarang ini.
Sungai Ular memang indah dipandang, namun menyimpan keganasan yang luar biasa. Sebentar saja Saka Lintang telah sampai di sungai Ular mendahului anak buahnya. Matanya yang bulat bening memandang sekitar sungai yang tenang. Setenang sikapnya saat ini.
Codet menggerak-gerakkan tangannya ke atas ketika mereka telah sampai di sungai itu. Dengan seketika anak buahnya berpencar masuk ke dalam semak-semak dan ke balik bongkahan-bongkahan batu. Kini di tepi sungai tersisa empat orang. Mereka semua memang terlatih baik dalam menguasai daerah sekitar sungai Ular. Maka dalam sekejap saja tidak ada orang yang terlihat. Mereka bagaikan lenyap ditelan bumi. Pandai menyamarkan diri dengan alam!
"Dengar...!" seru Saka Lintang tiba-tiba.
"Suara kuda," gumam Codet.
"Hm, siapa dia," gumam Saka Lintang.
Suara kaki kuda kuda makin jelas terdengar. Saka Lintang mengerutkan keningnya. Dia hanya mendengar langkah dari satu ekor kuda saja. Matanya langsung melirik Badil.
__ADS_1
"Hamba akan menyongsong, Tuan Putri!" ujar Badil mengerti maksud lirikan Saka Lintang.
Badil dengan cepat melompat ke kudanya. Segera digebahnya kuda itu. Dengan cepat kuda yang ditunggangi Badil sudah tidak terlihat lagi. Lenyap di balik rimbunan pepohonan. Badil memacu kudanya menuju arah datangnya suara kaki kuda. Tiba-tiba ditarik tali kekang kudanya dan seketika tubuhnya melontar tinggi. Kakinya dengan sigap hinggap di sebuah batang pohon yang tinggi. Matanya dengan seksama berkeliling. Tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada seekor kuda yang ditunggangi seorang pemuda. Tampak dua bilah pedang bertengger di punggungnya.
"Kala Srenggi," desis Badil mengenali penunggang kuda itu.
Badil menunggu beberapa saat sampai Kala Srenggi mendekat. Kemudian dia meloncat turun ketika Kala Srenggi tepat di bawah pohon yang dinaiki Badil. Kala Srenggi dengan tangkas melompat dari kudanya ketika merasakan ada penyerang gelap dari atas. Pedang Badil segera membabat namun luput. Dia kecewa. Padahal dia yakin penunggang kuda itu akan pecah kepalanya tersambar pedang. Yang didapati hanya tempat kosong saja.
""Licik!" dengus Kala Srenggi ketika kakinya menjejak di tanah.
"Kau juga lebih licik dariku, Kala Srenggi," balas Badil.
"Siapa kau?' tanya Kala Srenggi yang heran melihat penyerang gelapnya tahu tentang dirinya.
"Aku Badil. Macan Gunung Sinai!" sahut Badil angkuh.
"Hm..., Macan Gunung Sinai sampai nyasar ke bukit Guntur," gumam Kala Srenggi mencibir.
"Ada urusan apa kau datang ke sini?" tanya Badil.
"Aku hanya lewat," jawab Kala Srenggi acuh.
"Tidak seorang pun diijinkan masuk ke bukit Guntur!"
"He! Sejak kapan aku...."
Kala Srenggi belum menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Badil telah menyerang dengan cepat. Kala Srenggi agak kewalahan menghindari serangan-serangan pedang Badil yang cepat dan berbahaya. Macan Gunung Sinai memang bukan nama kosong, dan Kala Srenggi tahu itu. Dengan cepat dia bersalto di udara. Tangannya segera menarik pedang kembarnya.
Sret! Traaang! Dua pedang berbenturan di udara. Pijaran api akibat benturan pedang berlompatan bersamaan dengan terpentalnya dua orang itu. Mereka memang bukan orang sembarangan. Tanpa kesulitan apa-apa, kaki mereka telah menjejak di tanah dengan lincah. Dua orang itu sama-sama kaget dan sama-sama merasakan kesemutan setelah pedang mereka beradu. Kini mereka sama-sama menyiapkan jurus-jurus selanjutnya.
Sambil berteriak nyaring, mereka kembali terlibat dalam pertarungan sengit. Masing-masing ingin segera menjatuhkan. Namun sampai lima jurus berlalu, belum ada yang terdesak. Memasuki jurus selanjutnya masih tetap seimbang. Beberapa kali ujung pedang mereka hampir menemui sasaran satu sama lain. Namun semuanya masih dapat dihindari.
Hingga pada suatu ketika, Kala Srenggi melompat mundur sejauh dua tombak sambil memasukkan pedang kembar ke sarung di punggungnya. Kini dikeluarkannya 'Aji Racun Merah'.
Melihat lawan tengah mengerahkan ilmu andalan, Badil pun tak ketinggalan dengan ilmu andalannya pula. Mereka sudah saling berhadapan siap menyerang dengan kesaktian masing-masing.
"Hiya...!"
"Hiya...!"
Kedua orang itu melompat berbarengan. Kini kedua telapak tangan mereka bertemu di udara. Ledakan keras terjadi, disusul dengan terpentalnya dua tubuh. Kala Srenggi jatuh bergulingan di tanah beberapa depa. Sedangkan Badil tidak kalah parah. Dari hidung dan mulutnya ke luar darah.
"Uhk!" Badil memuntahkan darah merah kehitaman. Sambil menahan rasa sakit di dadanya, Badil berusaha bangkit. Tubuhnya sempoyongan. Sementara Kala Srenggi juga berusaha berdiri. Dari sudut bibimya mengalir darah segar. Tangan kirinya menghitam terkena ajian 'Macan Gunung' yang dilepaskan Badil.
"Setan! Salah satu di antara kita harus ******!" geram Kala Srenggi.
"Huh!" Badil hanya mendengus.
Badil sadar kalau tubuhnya telah dialiri 'Racun Merah' dan hidupnya tak akan bertahan lebih lama lagi. Kala Srenggi pun demikian. Dia terluka parah. Mereka sama-sama kepalang basah. Kembali ajian masing-masing mulai mengarah satu sama lain.
"Berhenti!" tiba-tiba suara bentakan melengking nyaring.
Namun terlambat! Kedua orang itu sudah kembali melompat dan beradu di udara. Kala Srenggi lagi-lagi bergulingan di tanah. Dari mulutnya menyembur darah kental kehitaman. Dia berusaha bangun, tetapi malah jatuh dan tak bergerak sama sekali. Mati. Kedua tangannya seperti hangus terbakar. Di pihak Badil, lebih mengerikan. Dia tergeletak dengan dada pecah. Darah bersimbah membasahi tubuhnya. Badil tewas seketika setelah tubuhnya terbanting di tanah.
Sebuah bayangan biru berkelebat dan mendarat di tengah-tengah arena pertarungan tadi. Dia adalah Saka Lintang, kemudian disusul oleh Codet dan Gering. Kedua orang itu terkejut melihat Badil tewas dengan dada pecah. Saka Lintang malah tenang-tenang saja.
"Hm, Kala Srenggi," gumam Saka Lintang. Gadis itu mengayunkan langkahnya mendekati mayat Kala Srenggi. Sebentar diamati dan dengan ujung kakinya dibalikkan tubuh Kala Srenggi. Tampak di bagian dadanya hangus terbakar. Tidak ada luka di tubuhnya. Juga tidak ada tanda-tanda Kala Srenggi masih hidup.
Saka Lintang mengambil ranting, lalu menekan dada Kala Srenggi dengan ranting. Terkejut juga Saka Lintang ketika melihat dada Kala Srenggi yang mendadak ambrol setelah tersentuh ranting. Bagai ditiup angin saja! Dada Itu kini berlubang besar tembus sampai ke punggung. Sungguh dahsyat ajian 'Macan Gunung' yang dilepaskan Badil.
"Bagaimana?" tanya Saka Lintang menoleh pada dua anak buahnya.
"Mati," sahut Codet. "Kuburkan kedua mayat ini," perintah Saka Lintang.
"Tidak ada waktu, Tuan Putri. Sebentar lagi gelap," sahut Codet.
"Kalau begitu, tinggalkan saja di sini!"
Tanpa banyak bicara, mereka meninggalkan dua sosok mayat yang tergeletak di tanah. Sungguh tragis nasib mayat-mayat itu. Tak ada seorang pun yang sedia menguburkannya. Tetapi untungnya, Gering yang setiap hari selalu bersama-sama dengan Badil merasa tidak tega juga terhadap mayat temannya itu. Dia kembali lagi lantas menggali tanah.
Saka Lintang hanya melirik, kemudian melanjutkan langkahnya. Toh tadi dia juga sudah memerintahkan untuk mengubur mayat itu. Kini malah Codet yang bimbang. Dia hanya berdiri dengan pandangan berganti-ganti dari Saka Lintang ke arah Gering yang tengah menggali dengan pedangnya.
"Tuan Putri...," agak bergetar suara Codet. Saka Lintang membalikkan tubuhnya. "Tidakkah...."
"Bantu dia!" potong Saka Lintang cepat sambil menunjuk pada Gering. Tanpa menghiraukan Codet lagi, Saka Lintang melangkah cepat.
Codet bergegas menghampiri Gering dan membantu menguburkan mayat Badil.
"Terima kasih," ucap Gering.
"Tuan Putri yang memerintahku," sahut Codet.
Gering menatap Saka Lintang yang hanya terlihat bayangan bajunya saja di antara pepohonan. Sampai selesai menguburkan Badil, mereka belum bicara. Gering menatap mayat Kala Srenggi.
"Biarkan saja dia jadi santapan anjing hutan!" kata Codet Gering mengangkat bahunya.
Mereka memang tidak pernah mengurus mayat musuh. Kini dengan hati lega, mereka tinggalkan tempat itu. Meninggalkan salah seorang teman yang kini terbaring di dalam tanah.
********************
__ADS_1