Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Rahasia Puri Merah Bag. 7


__ADS_3

Rangga hampir tidak percaya dengan penglihatannya. Rasanya seperti mimpi saja. Beberapa kali digosok-gosok matanya, tapi orang yang berada di depannya ini.... Tidak! Dia tidak mimpi! Ini kenyataan yang benar-benar sedang dihadapinya saat ini.


"Kau... Kau Pandan?" masih terdengar ragu-ragu suara Rangga kedengarannya.


"Iya, aku Pandan Wangi. Memangnya siapa?" lembut sekali suara wanita itu.


Rangga mencoba untuk menegaskan kembali penglihatannya dalam keremangan cahaya bulan. Wanita yang berdiri di depannya benar-benar Pandan Wangi. Gadis manis, kenes, dan nakal yang selama ini selalu bersama-sama dengannya. Gadis yang tanpa disadari telah dicintainya.


Benarkah dia Pandan Wangi? Bukankah gadis itu sudah terjerumus ke dalam jurang yang sangat dalam? Rasanya sulit untuk dipercaya kalau Pandan Wangi masih hidup sampai saat ini. Bahkan Rangga sudah menganggapnya mati di dalam jurang sana. Tapi...


"Kenapa bengong?" tegur Pandan Wangi. Bibirnya tersenyum merekah.


"Oh! Aku..., aku...," Rangga tergagap.


"Kau masih hidup?"


"Yang Maha Kuasa belum menginginkan aku mati, Kakang," sahut Pandan Wangi.


"Tapi...."


"Kau heran? Aku memang jatuh ke dalam jurang. Tapi aku berhasil meraih sebatang akar yang menonjol, dan merayap naik ke tepi. Aku tidak menyalahkanmu kalau menganggap aku sudah mati, Kakang. Jurang itu sangat dalam. Bahkan sepertinya tidak mempunyai dasar. Aku sendiri tidak tahu, mengapa masih bisa hidup sampai sekarang," kata Pandan Wangi.


"Lalu, kenapa kau jadi..."


"Ha ha ha...! Ini hanya penyamaranku saja. Aku ingin tahu, ada apa di balik misteri Puri Merah. Maaf, Kakang. Aku terpaksa seolah-olah memusuhimu. Ini kulakukan semata-mata agar mereka tidak curiga padaku."


Rangga mengerutkan keningnya sedikit. Dia masih belum percaya kalau yang berdiri di depannya benar-benar Pandan Wangi. Benaknya dipenuhi berbagai macam pertanyaan dan rasa keheranan yang membelenggu. Pandangannya menyapu mayat-mayat yang bergelimpangan di sekitarnya. Ada tujuh mayat yang menggeletak dengan tubuh berlumuran darah.


"Orang-orang macam itulah yang seharusnya kita basmi, Kakang. Mereka memang berada di puncak bukit ini, tapi bukan di dalam benteng Puri Merah. Merekalah yang seharusnya menjadi lawanmu, bukan orang-orang Puri Merah," kata Pandan Wangi, seolah-olah bisa membaca jalan pikiran Rangga.


"Apakah mereka anak buah Dewi Sri Tungga Buana?" tanya Rangga menegaskan.


"Ah, rupanya kau sudah tahu juga."


"Ya. Aku sudah menyelidiki keadaan di Puri Merah. Juga permasalahan yang mereka hadapi saat ini."


"Lalu, apa tindakanmu selanjutnya?"


"Aku harus mencari dan menemukan tempat persembunyian Dewi Sri Tungga Buana."


"Kenapa harus susah payah?"


"Apa maksudmu, Pandan?"


"Aku bisa menunjukkan tempatnya."


Lagi-lagi Rangga mengernyitkan alisnya.


"Jangan heran. Selama ini aku telah menyelinap ke sarang mereka, dan menyamar jadi salah seorang anggota mereka. Karena aku memiliki kemampuan di atas mereka, lalu aku dijadikan pemimpin di bawah Dewi Sri Tungga Buana."


"Di mana sarang mereka?" tanya Rangga.


"Ikuti aku!"


Pandan Wangi segera berjalan ke arah Utara. Rangga mengikuti dengan benak masih diliputi berbagai macam pertanyaan. Matanya tetap mengamati setiap gerak langkah Pandan Wangi yang berjalan di depan. Sedikit pun Rangga tidak memperoleh perbedaannya. Hanya yang menjadi pertanyaannya sekarang, Pandan Wangi sekarang tidak menyandang pedang Naga Geni dan Kipas Maut, tapi malah membawa tombak panjang berujung tiga.


Setahu Rangga, Pandan Wangi tidak pernah lepas dari dua senjata mautnya itu. Ke mana pun Pandan Wangi pergi, kedua senjata itu pasti bersamanya. Satu keanehan yang nyata. Dan Rangga belum bisa memperoleh jawabannya sekarang. Pandan Wangi berjalan cepat bagaikan berlari saja. Mau tidak mau Rangga juga mengerahkan ilmu meringankan tubuh untuk mengimbangi langkah Pandan Wangi yang begitu ringan dan cepat.


"Itu sarang mereka!" Pandan Wangi menunjuk sebuah bangunan besar dikelilingi pagar kayu yang tinggi.


Rangga berdiri tegak memandang ke arah yang ditunjuk Pandan Wangi. Ada beberapa orang berjaga-jaga di sekitar bangunan itu. Pakaiannya tidak ada yang aneh. Mereka semua mengenakan pakaian biasa seperti orang kalangan rimba persilatan. Semuanya menyandang senjata yang beraneka ragam bentuknya.


"Maaf, aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini," kata Pandan Wangi.


"Tunggu! Kau akan ke mana?" cegah Rangga.


"Aku harus kembali. Aku tidak ingin penyamaranku terbuka sebelum waktunya," sahut Pandan Wangi lagi.


"Ini topengmu!" Rangga menyerahkan kain hitam penutup kepala yang masih dipegangnya sejak tadi.


Pandan Wangi menerimanya dengan bibir tersenyum manis. Kemudian dikenakannya kembali topeng itu. Rangga tidak lagi mencegah saat Pandan Wangi melompat cepat dan berlarian menuju bangunan itu. Pendekar Rajawali Sakti terus mengamati dari jarak yang cukup jauh dan terlindung. Tampak Pandan Wangi berdiri, tegak di depan pintu gerbang yang dijaga ketat deh empat orang bersenjata tombak.


Pintu gerbang terbuka, dan Pandan Wangi melangkah masuk, tubuh gadis itu lenyap saat pintu ditutup kembali. Tinggal empat orang bersenjata tombak yang masih tetap berjaga di depan pintu gerbang.


********************


Rangga baru saja menjejakkan kakinya di dalam benteng Puri Merah ketika Kandara Jaya berlari-lari menghampirinya. Pendekar Rajawali Sakti itu menunggu sampai Kandara Jaya dekat. Napas putra mahkota itu terengah-engah, seolah-olah baru saja berlari jauh melintasi bukit tinggi. Rangga menunggu sampai Kandara Jaya bisa bernapas tenang.


"Ada apa?" tanya Rangga.


"Aku dapat keterangan tentang Kitri Boga," sahut Kandara Jaya.


"Hm, lalu?"

__ADS_1


"Kitri Boga memang pernah ditawan di sini, tapi sekarang sudah dipindahkan. Katanya, Dewi Sri Tungga Buana menginginkannya untuk dijadikan pelayan."


"Kau tahu, ke mana dia dibawa?" tanya Rangga lagi.


"Aku tidak tahu. Mereka semua tidak ada yang tahu, di mana tempat tinggal Dewi Sri Tungga Buana. Tapi ada yang mengatakan Kitri Boga dibawa ke Kahyangan."


"Kau percaya?"


"Tidak!"


"Bagus! Setiap keterangan yang tidak masuk akal jangan dipercaya dulu kebenarannya."


"Kau sendiri, bagaimana?"


"Aku baru saja menemukan tempat tinggal Dewi Sri Tungga Buana," sahut Rangga.


"Kau...?" Kandara Jaya tergagap.


"Ya. Dan aku ke sini memang sengaja mencarimu. Kita akan ke sana berdua. Kita bisa menyelamatkan Kitri Boga, dan aku akan menyelamatkan Pandan Wangi."


"Pandan Wangi...? Apakah dia masih hidup?" lagi-lagi Kandara Jaya kaget hingga mulutnya ternganga.


"Aku sendiri belum yakin. Entah hanya karena ilusiku saja, atau ada orang yang mirip dengannya. Atau juga dia memang benar-benar masih hidup. Tapi yang jelas, aku sempat bertemu dengannya. Memang ada yang aneh, dan itu harus kuketahui sebelum tengah malam nanti."


"Lalu, bagaimana dengan rencana kita sebelumnya?" Kandara Jaya ingin minta ketegasan.


"Tetap dilaksanakan. Untuk itulah aku perlu bantuanmu."


"Aku selalu siap membantumu, karena aku juga punya kepentingan sendiri dalam masalah ini," kata Kandara Jaya tegas.


"Malam nanti, kuminta kau buat kekacauan di sini," ucap Rangga setengah berbisik.


"Gila!" sentak Kandara Jaya kaget.


"Dengar dulu, Kandara Jaya. Aku belum selesai!"


"Baik, teruskan."


"Kau buat kekacauan di sini dengan mengenakan pakaian serba hitam, dan topeng hitam pula. Kemudian kau lari melalui tembok bagian Utara, lalu menuju ke arah Utara. Aku menunggumu di sana nanti. Setelah itu aku akan melaksanakan rencana kedua. Mungkin waktunya agak bersamaan. Dan kita bisa bertemu di tengah jalan," kata Rangga memaparkan rencananya.


"Terus terang, aku belum mengerti maksudmu," kata Kandara Jaya kebingungan.


"Begini.... Dengan adanya kekacauan di sini, berarti akan mengalihkan perhatian orang-orang Dewi Sri Tungga Buana ke sini. Dengan demikian, aku bisa leluasa memorak-porandakan markas mereka! Tentu saja sambil menyelamatkan Kitri Boga dan Pandan Wangi, kalau memang benar masih hidup atau ditawan di sana."


"Tetap berjalan, tapi waktunya dipercepat"


Kandara Jaya masih juga belum mengerti.


"Kerusuhan itu akan membuat Dewi Sri Tungga Buana marah, sehingga akan mempercepat waktu persembahan. Pada saat itulah rencana semula dijalankan, sementara kau dan Kitri Boga telah aman di seberang jurang. Aku yang akan membereskan mereka bersama sahabatku, rajawali raksasa. Memang agak sedikit menyimpang, tapi ini demi keselamatanmu dan Kitri Boga."


"Dengan membiarkanmu menyabung nyawa seorang diri? Tidak! Bagaimanapun juga aku harus ikut!" tolak Kandara Jaya tegas.


"Percayakan semuanya padaku, Kandara Jaya. Aku tidak bermaksud mengecilkan kemampuanmu. Tapi ini demi kelancaran rencana kita semua!"


Kandara Jaya terdiam.


"Orang-orang Puri Merah sudah menganggap kalau aku Dewa Agung mereka. Dan ini akan kugunakan untuk menumbuhkan kepercayaan mereka bahwa Dewi Sri Tungga Buana itu tidak ada! Percayalah. Mereka pasti akan memberontak, dan membantuku memusnahkan orang-orang Dewi Sri Tungga Buana.


"Rasanya sulit bagiku untuk menerimanya, Rangga," gumam Kandara Jaya.


"Tugasmu juga tak kalah penting, Kandara Jaya. Kau sengaja kutaruh di sana, untuk menjaga kemungkinan jika ada yang melarikan diri. Mereka sangat banyak dan tangguh. Kau bisa membawa prajuritmu untuk berjaga-jaga di sekitar jurang."


"Dan itu bukan berarti aku harus menunggu di seberang, kan?"


"Kau boleh menyeberang kembali bersama prajuritmu dan menghadang siapa saja yang berusaha melarikan diri. Mengerti?"


"Ya, aku mulai mengerti sekarang. Hanya saja, siapa yang akan menghubungi kerajaan untuk membawa para prajurit?"


"Kitri Boga, atau kau sendiri!"


"Bagaimana aku bisa menyeberangi jurang?" tanya Kandara Jaya. Dia sadar kalau kemampuannya tidak mungkin bisa menyeberangi jurang yang sangat lebar itu.


"Akan kusiapkan tambang untuk kau seberangi. Aku yakin tambang itu bisa kau lintasi."


"Kalau begitu, baiklah! Aku setuju dengan rencanamu!" sambut Kandara Jaya.


"Nah! Sekarang kita hanya menunggu hari gelap. Sebaiknya, mulai saat ini jangan menampakkan diri di Puri Merah."


"Lalu, kita akan ke mana?"


"Menunggu di luar batas puri."


Setelah berkata demikian, Rangga cepat melompat melewati tembok batu yang tinggi dan kokoh. Kandara Jaya langsung mengikuti tanpa banyak tanya lagi. Dalam sekejap saja, kedua pemuda itu telah berada kembali di luar tembok tanpa diketahui seorang pun. Rangga segera mengajak Kandara Jaya masuk dalam hutan yang sangat lebat untuk menunggu waktu sambil mematangkan rencana yang sudah ada.

__ADS_1


Hari terus merayap semakin jauh. Dan senja pun mulai merambat mendekati malam. Kabut tipis mulai datang menyelimuti sekitar puncak Bukit Arang Lawu. Matahari perlahan-lahan tenggelam di balik bukit. Suasana remang-remang mulai melingkupi sekitarnya. Udara dingin pun sudah menggerogoti kulit.


Saat itu Kandara Jaya mulai merangkak mendekati benteng Puri Merah. Orang-orang Dewi Sri Tungga Buana telah kembali menjalankan tugas seperti biasa yakni menjaga di sekeliling tembok batu. Menurut rencana. Kandara Jaya baru melancarkan aksi mengacaukan keadaan benteng Puri Merah jika bulan telah berada di atas kepala.


Kandara Jaya mengamati sekitarnya, mencari celah untuk bisa masuk tanpa diketahui para penjaga yang bersenjata lengkap. Dia agak risih juga mengenakan pakaian serba hitam yang diambil Rangga dari salah seorang anggota Dewi Sri Tungga Buana.


Sementara itu di dalam benteng Puri Merah, sepuluh orang berjubah merah tengah berkumpul di tangga puri yang berada di tengah-tengah lingkaran benteng. Mereka adalah Natrasoma dan teman-temannya.


"Dewa Agung telah pergi. Aku tidak tahu lagi, apakah akan kembali atau tidak," kata Natrasoma. pelan suaranya.


"Apakah Gusti Dewa Agung akan membebaskan kita dari pengaruh dan tekanan Dewi Sri Tungga Buana?" tanya salah seorang.


"Aku tidak tahu pasti. Tapi kelihatannya Dewa Agung tidak menyukai tindakan Dewi Sri Tungga Buana."


"Terus terang, aku sudah muak dengan keadaan ini. Rasanya aku ingin berontak!"


"Kita tidak bisa begitu saja melakukannya. Ingat! Pemimpin Agung Puri Merah masih menjadi tawanan mereka. Dan selama beliau masih di tangan mereka, kita tidak bisa berbuat apa-apa."


"Aku rasa kita mampu mengusir mereka."


"Memang. Tapi keselamatan Pemimpin Agung harus kita pikirkan juga. Ingat! Sudah lebih dua puluh orang yang tewas karena kebodohannya. Aku tidak ingin membuang nyawa percuma tanpa perhitungan yang matang."


"Ya..., seharusnya kau mengatakan hal ini pada Dewa Agung. Aku yakin, Gusti Dewa Agung bersedia membantu kita mengusir mereka."


"Sudah! Dan Dewa Agung berjanji akan menghukum Dewi Sri Tungga Buana."


"Benar itu, Natrasoma?"


"Itu janji Dewa Agung! Kita tinggal menunggu waktu yang tepat!"


Perundingan dan percakapan itu terus berlangsung. Mereka berbicara pelan setengah berbisik. Tapi kadang-kadang berhenti jika salah seorang anak buah Dewi Sri Tungga Buana lewat. Dari nada pembicaraannya, jelas kalau mereka sudah menantikan saat yang tepat untuk bebas dari cengkeraman Dewi Sri Tungga Buana.


Malam terus merayap naik semakin larut. Keadaan dalam benteng Puri Merah mulai berangsur sepi. Sedangkan sepuluh orang berjubah merah, mulai meninggalkan bagian puri. Tapi baru saja mereka melangkah beberapa tindak, mendadak....


"Tolong.... Kebakaran...!"


Terlihat api berkobar besar dari bagian Selatan benteng Puri Merah. Beberapa orang berjubah merah berlarian, berusaha memadamkan api yang semakin besar. Belum lagi mereka bisa memadamkan api itu, tiba-tiba terdengar lagi teriakan-teriakan dari arah Timur. Dan terlihat di sana api telah membakar bangunan yang ada. Suasana malam yang semula tenang, mendadak gaduh oleh teriakan-teriakan dan suara-suara perintah untuk memadamkan api yang semakin besar dan merambat ke bangunan-bangunan lainnya.


Suasana kacau itu semakin bertambah dengan munculnya sesosok tubuh hitam berkelebat cepat menghajar orang-orang Dewi Sri Tungga Buana.' Dalam waktu singkat saja, beberapa rubuh bergelimpangan mandi darah. Gerakan sosok tubuh hitam itu sangat cepat dan tiba-tiba. Setiap kali sosok tubuh hitam itu muncul, tidak kurang dari lima nyawa melayang.


"Natrasoma, lihat!" seru salah seorang berjubah merah yang berdiri dekat Natrasoma.


Natrasoma cepat mengalihkan pandangannya kearah yang ditunjuk. Pada saat itu sosok tubuh hitam tengah berkelebat cepat menghajar lima orang yang bersenjata. Begitu cepat gerakannya, sehingga yang terlihat hanya bayangan saja. Tahu-tahu lima orang sudah tergeletak bersimbah darah di tubuhnya. Cepat sekali sosok tubuh itu hilang, bagai ditelan gelapnya malam.


"Mustahil..., tidak mungkin!" Natrasoma menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kau kenal, Natrasoma?"


"Aku tidak percaya! Orang itu berpakaian serba hitam. Mustahil kalau pengawal khusus Dewi Sri Tungga Buana yang melakukan ini semua," gumam Natrasoma tidak percaya.


Tidak ada lagi yang bersuara. Semuanya diam membisu. Sementara itu, api terus berkobar melahap bangunan-bangunan yang berdiri mengelilingi Puri Merah. Sebagian besar orang berjubah merah mengamankan puri. Sebagian lagi berusaha memadamkan api yang terus berkobar ganas.


Kesibukan lain terlihat pada orang-orang yang berpakaian seperti tokoh rimba persilatan. Mereka disibukkan dengan sosok hitam yang muncul secara tiba-tiba dan menghilang pun secara tiba-tiba pula. Sudah tidak terhitung lagi, berapa orang yang bergelimpangan tanpa nyawa. Sosok tubuh hitam itu menghilang setelah membabat mati lima orang lagi. Sementara pada saat itu kobaran api mulai dikuasai.


"Apakah ini janji Dewa Agung...?" Natrasoma bertanya-tanya dalam hari.


Natrasoma mengelilingi bangunan-bangunan yang tinggal puing-puing saja. Asap masih mengepul dari bara api yang menyala. Sesekali api kembali berkobar dari bara api yang tertiup angin. Tapi dengan cepat berhasil dipadamkan. Natrasoma mengangguk-anggukkan kepalanya. Bangunan-bangunan yang terbakar adalah tempat orang-orang Dewi Sri Tungga Buana beristirahat Tidak satu pun tempat tinggal orang-orang Puri Merah yang terkena api.


"Sembah puji bagi Dewa Agung...," desah Natrasoma pelan.


"Apa yang kau gumamkan, Natrasoma?"


"Oh!" Natrasoma terkejut. Seorang berjubah merah tiba-tiba telah berdiri di sampingnya.


"Aku bersyukur dengan kejadian ini," sahut Natrasoma.


"Hm..., kau bersyukur dalam keadaan seperti ini?''


"Ya, coba kau lihat! Bukankah Dewa Agung telah memenuhi janjinya? Dan aku yakin kalau Gusti Dews Agung baru saja memberi peringatan dengan membakar habis bangunan-bangunan tempat peristirahatan mereka."


"Mungkin juga. Tapi mengapa Gusti Dewa Agung tidak membantai habis mereka?"


"Dewa Agung pasti punya kebijaksanaan lain. Aku yakin suatu saat nanti, mereka akan angkat kaki dari tempat yang kita cintai ini."


Tidak ada sahutan sama sekali. Natrasoma menoleh, dan...


"Hey!"


Natrasoma benar-benar kaget setengah mati. Orang yang diajaknya bicara tadi ternyata telah menghilang entah ke mana. Dia celingukan mencari-cari tapi nihil. Di tempat ini begitu banyak orang berjubah merah dengan potongan dan corak yang sama persis. Perbedaannya hanya pada kalung yang dipakai masing-masing orang yang berjubah merah. Dan itu sama sekali tidak diperhatikan oleh Natrasoma.


"Ah, aku yakin. Itu tadi pasti Dewa Agung yang menyamar," gumam Natrasoma. "Untung tadi aku tidak salah bicara...."


********************

__ADS_1


__ADS_2