Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Iblis Lembah Tengkorak bag 5


__ADS_3

Di lereng bukit Cubung, siang itu mendung. Awan hitam bergulung-gulung di angkasa menutupi cahaya matahari. Angin berhembus keras merontokkan dedaunan. Tampaknya sebentar lagi akan turun hujan lebat.


Keadaan alam yang tak menguntungkan itu, tidak menghalangi seorang penunggang kuda untuk memacu dengan cepat mejintasi lereng bukit Cubung. Penungggang kuda itu laki-laki tampan dan gagah. Dilihat lari dua buah pedang kembar di punggungnya, penunggang kuda itu tak lain dari Kala Srenggi.


"Berhenti...!"


Kala Srenggi terkejut mendengar bentakan yang keras. Seketika dia menarik tali kekang kudanya. Kuda hitam itu meringkik sambil mengangkat dua kaki depannya, lalu berhenti. Kala Srenggi mengedarkan pandangannya. Tak ada seorang pun terlihat di sekitar situ. Kala Srenggi yakin pasti orang yang membentak itu mempunyai kepandaian yang tinggi. Segera dia waspada.


"Siapa pun adanya, keluar! Jangan seperti tikus busuk bersembunyi dalam got!" Teriak Kala Srenggi dibarengi penyaluran tenaga dalam yang besar sehingga menggema ke seluruh bukit.


Begitu hebatnya tenaga dalam yang dimiliki Kala Srenggi, sehingga hembusan angin berhenti seketika. Matanya kembali beredar ke sekelilingnya.


"He he he..., ternyata Si Samber Nyawa hanya mengandalkan bacot!" terdengar suara ejekan menggema.


"Monyet buntung! Kalau punya nyali, keluar!" Kala Srenggi panas.


"Sejak tadi aku di sini, Kala Srenggi."


Rasa terkejut Kala Srenggi bagai disengat ribuan tawon. Dia cepat melompat dari punggung kudanya. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba telah berdiri seorang kakek di atas batu besar. Kala Srenggi tahu kalau kakek itu seorang tokoh sakti yang bernama Empu Danuraga, atau biasa dijuluki Si Gila Pembuat Pedang.


Empu Danuraga seorang tokoh tua yang sangat disegani. Meskipun sikap dan tingkat lakunya ugal-ugalan, tetapi dia termasuk tokoh aliran putih. Banyak tokoh hitam yang tunduk dan tewas di tangannya. Caranya berdiri di atas batu itu juga seperti bocah. Dia bertumpu pada sebatang pedang hitam jengat dan sebelah kakinya ditekuk bersilang.


"Ada urusan apa kau menghalangi jalanku, Kakek tua?" Tanya Kala Srenggi dingin.


"He he he..., aku hanya minta ditemani," sahut Empu Danuraga. Tangannya menimang-nimang pedang hitam, bagai menimang boneka.


"Aku tak sempat menemanimu. Ada urusan yang lebih penting!" Kala Srenggi melompat ke punggung kudanya.


Namun belum sempat duduk, tiba-tiba sepotong ranting kering meluncur cepat ke arahnya. Kala Srenggi dengan cepat berkelit Dengan ujung jari, disentilnya ranting itu. Tubuh Kala Srenggi lalu bersalto di udara, kembali turun dengan manis.


"He he he..., Samber Nyawa ternyata bukan hanya nama kosong," lagi-lagi Empu Dahuraga mengejek.


"Empu gila!" bentak Kala Srenggi gusar. "Aku tidak ada urusan denganmu. Mengapa kau halangi jalanku?"


"Tidak ada urusan katamu? He he he.... Rupanya kau sudah pikun, Kala Srenggi. Aku sengaja meninggalkan gubukku untuk mencarimu. Kau berhutang nyawa pada cucuku!"


"Jangan mencari-cari perkara, Empu Danuraga! Aku tidak kenal dengan cucumu!"


Empu Danuraga mendengus sambil menghentakkan pedang hitamnya ke atas batu. Dengan cepat dia melompat ke arah Kala Srenggi. Batu yang terkena hantaman pedang hitam tadi berderak, lalu hancur luluh seperti tepung. Kala Srenggi terperanjat melihat kehebatan kakek tua itu.


Kala Srenggi melihat jelas kalau pedang tadi hanya dihentakkan satu kali. Hentakannya pun biasa saja, namun hasilnya sangat mengejutkan. Batu sebesar kerbau hancur jadi serpihan! Sungguh luar biasa tenaga dalam dan pedang hitam Empu Danuraga. Tidak mustahil pedang hitam itu merupakan senjata pusaka ampuh dan dahsyat.


"Tiga tahun bukan waktu yang lama, Kala Srenggi," dengus Empu Danuraga geram. "Apa kau sudah lupa dengan peristiwa tiga tahun yang lalu di Padepokan Banyu Larang?"


Tentu saja Kala Srenggi tidak lupa. Padepokan Banyu Larang adalah tempat pertama dia menunaikan tugas yang diberikan oleh Geti Ireng. Seluruh murid-murid di Padepokan itu dibabatnya, karena tidak bersedia mengakui Panji Tengkorak sebagai partai terbesar dan induk seluruh partai.


Ada seorang anak muda yang menjadi tamu Padepokan Banyu Larang, terbunuh oleh Kala Srenggi. Apakah pemuda yang mencoba membunuhnya itu cucu Empu Danuraga? Dilihat dari jurus dan kesaktiannya, memang mirip dengan jurus silat Empu Danuraga.


"Kau membunuh seorang utusan pribadiku! Kau tahu, siapa tamu yang kau bunuh di Padepokan Banyu Larang?" geram Empu Danuraga. Matanya tajam menatap Kala Srenggi.


"Aku tidak perduli siapa dia!" sahut Kala Srenggi getir.


"Dia cucuku!"


Kala Srenggi tak terkejut lagi. Sudah diduganya sejak semula kalau anak muda itu adalah cucu Empu Danuraga.


"Hutang pati bayar pati, hutang nyawa bayar nyawa!" lanjut Empu Danuraga lalu bersiap-siap menyerang Kala Srenggi.


Kala Srenggi segera bersiap-siap pula. Dia sudah mendengar tentang kehebatan tokoh tua ini, maka dengan segera dicabut pedang kembarnya. Mata pedang yang keperakan itu bersinar menyilaukan tertimpa cahaya matahari yang telah kembali bersinar. Disilangkan kedua pedang di depan dada. Kaki kanannya ditekuk ke depan sedikit. Itulah pembukaan jurus 'Pedang Kembar'. Jurus dahsyat yang jadi salah satu andalan Kala Srenggi.


"He he he...!" Empu Danuraga terkekeh melihat pembukaan jurus 'Pedang Kembar'. "Mainan bocah ingusan jangan kau pamerkan di hadapanku."


"Rasakan pedang kembarku, kakek sinting!" Kala Srenggi segera menerjang dengan jurus-jurus ampuhnya.


Empu Danuraga terkekeh sambil berkelit sedikit ke kiri dan ke kanan, menghindari sabetan dan tusukan pedang kembar.


Jurus 'Pedang Kembar' yang dimainkan Kala renggi memang hebat. Gerakannya cepat sehingga bentuk pedangnya tidak nampak lagi. Yang terlihat hanya seberkas sinar kembar berkelebatan mengurung Empu Danuraga. Namun begitu, Empu Danuraga tenang saja. Bahkan kedua kakinya tidak bergeser sedikit pun. Suara tawanya terus terdengar.


"Setan tua! Jangan katakan aku kejam jika kau ****** di ujung pedangku!" dengus Kala Srenggi melihat lawannya hanya berkelit saja.


"Sudah kukatakan, pedangmu hanya mainan bocah ingusan!" ejek Empu Danuraga.


Wut! Kala Srenggi merobah serangannya. Kali ini digunakannya jurus 'Dua Mata Pedang Maut'. Jurus ini lebih hebat lagi. Kala Srenggi bahkan hanya terlihat baya-ngannya saja. Melompat ke segala penjuru dengan kedua pedang menyambar-nyambar.


Trang...! Kali ini Empu Danuraga terpaksa menggunakan pedang hitamnya untuk menangkis serangan lawan. Dalam hati dia mengagumi jurus-jurus yang dimainkan Kala Srenggi. Pijaran api memercik ketika pedang mereka berbenturan.


Di pihak Kala Srenggi, dia juga mengakui kehebatan kakek ini. Tangannya selalu terasa kesemutan jika salah satu pedangnya membentur pedang Empu Danuraga. Tapi berkat ketrampilannya memainkan dua pedang yang dibarengi pengerahan tenaga dalam, Kala Srenggi masih mampu melakukan serangan-serangan berbahaya.


Lima belas jurus telah berlalu. Belum ada seorang pun kelihatan terdesak. Empu Danuraga sendiri sudah membuka serangan berbahaya dengan jurus-jurus andalannya. Kini dua puluh jurus berlalu, namun belum juga ada yang terdesak.


Merasa tidak mungkin mengalahkan Empu Danuraga dengan ilmu pedang, Kala Srenggi melompat keluar pertarungan sejauh dua tombak. Segera kakinya melebar. Kedua tangannya menjulur ke atas. Kedua tangan itu pelan-pelan turun menekuk sejajar ketiak. Kala Srenggi membuka 'Ajian Tapak Beracun'.


"Tunggu!" sentak Empu Danuraga tiba-tiba.


"Kau takut dengan Ajian Tapak Beracunku!" ejek Kala Srenggi.


"Meski kau gunakan nama lain untuk ajianmu itu aku bisa kenali kalau ajian itu adalah gerakan 'Aji Racun Merah'! Ada hubungan apa kau dengan Setan Racun Merah?"

__ADS_1


"Apa pedulimu dengan tua bangka ***** itu?" Dengus Kala Srenggi.


"Apa hubunganmu dengan Setan Racun Merah?" Desak Empu Danuraga.


"Ha ha ha....'"Kala Srenggi hanya tertawa.


Empu Danuraga mengkeretkan gerahamnya. Sinar matanya tajam menatap Kala Srenggi. Hampir sepuluh tahun dia tidak pernah mendengar kabar Setan Racun Merah. Dan sekarang, tiba-tiba saja jurus ampuh itu diperagakan Kala Srenggi. Walau dengan nama lain, tetapi Empu Danuraga masih bisa mengenali dengan baik. Lebih-lebih ketika melihat kedua telapak tangan Kala Srenggi memerah seperti terbakar.


"Kau memiliki 'Aji Racun Merah', tentunya kau kenal baik dengan Setan Racun Merah. Katakan, di mana dia sekarang?" Dingin suara Empu Danuraga.


"Dia sudah mati!" Kala Srenggi datar.


"Edan! Jangan main-main, Kala Srenggi!" Empu Danuraga gusar merasa dipermainkan.


"Siapa yang main-main? Dia sudah mati setelah menurunkan 'Aji Racun Merah' padaku!"


"Jadi... kau muridnya?"


"Kalau benar, kau mau apa?"


"Setan busuk!" dengus Empu Danuraga geram. "Sepuluh tahun aku menunggu, ternyata dia sudah mati! Huh, sia-sia semua yang kulakukan selama sepuluh tahun!"


Kala Srenggi mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti kenapa Empu Danuraga seperti menyesali kematian Setan Racun Merah. Adakah hubungan istimewa antara dua orang itu?


"Di mana dia dikuburkan?" Tanya Empu Danuraga lagi.


"Untuk apa kau ketahui?" Balas Kala Srenggi.


"Aku harus tahu kuburnya!"


"Tidak seorang pun boleh tahu!"


"Setan alas!" Geram Empu Danuraga.


Kala Srenggi terkejut setengah mati melihat perubahan paras Empu Danuraga. Seluruh wajah kakek itu mendadak menjadi hitam legam bagai arang. Tanpa disadari, Empu Danuraga mengerahkan 'Aji Klabang Geni'. Satu ajian yang sangat dahsyat dan sulit dicari tandingannya.


Tiba-tiba saja Kala Srenggi teringat pesan Setan Merah sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir. Dia harus menghindari bentrokan dengan Empu Danuraga. Lebih-lebih jika kakek ini sudah mengerahkan 'Aji Klabang Geni' Tidak mungkin Kala Srenggi dapat menandingi meski menggunakan 'Aji Racun Merah' sekalipun.


"Baiklah!" gumam Kala Srenggi sambil menarik kembali ajiannya itu. "Kuburan Setan Racun Merah ada di puncak Gunung Cupu!"


Empu Danuraga hanya mendengus pendek, lalu membalikkan tubuhnya. Wajahnya kembali seperti biasa. Sinar matanya mulai redup. Namun tidak mengurangi ketajamannya.


"Setan Racun Merah sudah mati, untuk apa kau menanyakan kuburannya?" Tanya Kaja Srenggi ingin tahu.


"Aku ingin membuktikan ucapanmu!" Sahut Empu Danuraga datar.


"He he he...!" Empu Danuraga terkekeh. "Apakah kau akan membela gurumu?"


"Tanpa Setan Racun Merah, antara kita sudah punya urusan."


"Kau akan tahu nanti, Kala Srenggi!"


"Hey...!"


Empu Danuraga mencelat bagai kilat Sekejap saja tubuh Empu Danuraga lenyap dari pandangan mata. Kala Srenggi tidak mungkin mengejar meski dia tahu ke arah mana kakek itu pergi.


"Kelak aku akan mencarimu, Kala Srenggi. Persoalan kita belum selesai!" tiba-tiba suara Empu Danuraga bergema.


Kala Srenggi terkejut Dia tahu itu suara Empu Danuraga. Suara yang dihembuskan dengan jelas tanpa diketahui ujudnya. Sungguh suatu ilmu yang hebat Lama juga Kala Srenggi mematung. Kata-kata Empu Danuraga tidak bisa dianggap main-main. Entah kapan, pasti dia akan mencari dan menuntut balas atas kematian cucunya.


"Hhhh...!" Kala Srenggi menarik napas panjang.


Terselip rasa sesal membiarkan seorang murid Padepokan Banyu Larang lolos. Sebenarnya bisa saja dikejar, tapi Kala Srenggi terlalu sibuk menghadapi ketua Padepokan itu. Tentu orang yang lolos itulah yang memberitahu Empu Danuraga tentang peristiwa di Banyu Larang.


Kala Srenggi menghembuskan napasnya dalam-dalam. Sudah kepalang basah, pesan Setan Racun Merah terpaksa dilanggamya. Toh ini bukan kesengajaan. Jika pada akhirnya harus bentrok dengan Empu Danuraga, dengan terpaksa harus dihadapinya walau Setan Racun Merah sendiri tak mampu mengalahkan Empu Danuraga. Apalagi dirinya?


Kala Srenggi dengan sigap melompat ke punggung kudanya. Segera kuda itu melesat setelah Kala Srenggi menggepraknya. Debu-debu beterbangan diterjang kaki-kaki kuda yang bagaikan terbang itu.


********************


Di depan sebuah kedai satu-satunya di dukuh Giring, Kala Srenggi menghentikan kudanya. Seperti ingin memamerkan ilmu ringan tubuhnya, dia melompat dengan indah dari punggung kuda. Dengan langkah tegap dan pandangan lurus kedepan, dia memasuki kedai itu.


Matanya langsung tertuju pada Saka Lintang dan tiga orang laki-laki berwajah kasar. Mereka duduk menghadapi meja yang penuh dengan makanan. Kala Srenggi segera menghampiri dan duduk di antara mereka. Ketiga laki-laki yang bersama Saka Lintang adalah pengawal pribadi gadis ini. Julukan mereka Tiga Serangkai Rantai Baja.


"Kau terlambat, Kala Srenggi," kata Saka Lintang, Kembang Lembah Tengkorak. Suaranya datar tanpa tekanan sedikit pun. Bicaranya pun tanpa menoleh karena sibuk dengan makanannya.


"Ada hambatan kecil," sahut Kala Srenggi sambil menuang arak ke dalam gelas bambu.


"Aku tidak peduli dengan alasanmu, aku perlu laporanmu!" Masih datar suara Saka Lintang.


"Gagal," pelan suara Kala Srenggi.


Brak...! Gebrakan Saka Lintang membuat meja bergetar yang digebraknya bergetar dan pecah jadi dua. Seluruh makanan dan minuman yang ada di atasnya, berantakan bersamaan dengan tergulingnya meja itu. Tiga laki-laki yang duduk didepan Saka Lintang melompat.


Beberapa pengunjung kedai segera lari ke luar keta-kutan. Bagi pengunjung yang bernyali besar, tetap duduk tenang di meja masing-masing.


"Semua bukan salahku, tapi ini!" Kala Srenggi sengit. Dijambretnya kalung berkepala tengkorak yang melilit lehernya.

__ADS_1


Melihat kalung yang menjuntai di tangan Kala Srenggi, pengunjung kedai yang masih bertahan, segera ambil langkah seribu. Mereka tidak ingin berurusan dengan kelompok Panji Tengkorak. Kalung itu merupakan tanda keanggotaan Panji Tengkorak.


"Geti Ireng menginginkan Kadipaten Karang Setra. Dan kau menugaskan aku menyelusup ke benteng Kadipaten. Pekerjaan itu memang mudah, tapi dengan benda ini apa jadi gampang? Mereka semua kenal tanda ini, Lintang!" Kala Srenggi mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Lihat! Semua orang lari ketakutan melihat kalung ini!"


Saka Lintang juga mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang kini sepi. Matanya tertumbuk pada salah satu meja di sudut. Ternyata masih ada beberapa orang yang masih bertahan di kedai ini. Ada lima orang yang masih duduk melingkari meja. Mereka seperti tak peduli dengan keadaan kedai.


"Simpan kalung itu, dan segera temui ayah!" Kata Saka Lintang. Matanya masih menatap ke arah sudut ruangan.


"Di mana Geti Ireng?" Tanya Kala Srenggi.


"Di penginapan Mawar Jingga."


Kala Srenggi memakai kembali kalungnya kemudian melangkah ke luar kedai. Penginapan Mawar Jingga berada di perbatasan antara dukuh Giring dengan dukuh Merang. Geti Ireng selalu menggunakan penginapan itu jika ke luar dari Lembah Tengkorak.


Baru saja Kala Srenggi ke luar, dia kembali la dan berdiri didepan pintu. Mukanya merah pada seperti menahan marah.


"Ada apa?" Tanya Saka Lintang.


Kala Srenggi tak menyahut. Dilemparkannya sebuah ruyung ke arah Saka Lintang. Dengan tangkas gadis itu menangkapnya. Ruyung itu terbungkus selembar daun lontar yang diikat dengan pita merah.


Saka Lintang mendelik setelah mengetahui isinya Daun lontar itu bertuliskan sebaris kalimat, "Kalian anggota Panji Tengkorak, harus ****** di tangan kami!" Saka Lintang segera menatap kelima orang yang masih acuh di sudut.


"Kurang ajar!" desis Saka Lintang seraya meremas daun lontar hingga remuk.


Tiga serangkai Rantai Baja segera mengarahkan pandangannya ke sudut. Kala Srenggi juga menatap ke arah yang sama. Tiba-tiba tatapannya terganggu oleh suara desis kuda yang ada di luar. Betapa terkejutnya Kala Srenggi ketika melihat kudanya telah mati. Dan yang paling membuatnya geram adalah kematian kudanya yang disebabkan oleh ruyung yang menancap di leher. Ruyung itu kecil, tapi sanggup membunuh kuda tanpa menimbulkan suara sedikit pun.


"Kala Srenggi, cepat temui ayah! Biar aku yang nembereskan tikus-tikus ini!" Seru Saka Lintang.


"Tidak!" dengus Kala Srenggi gusar. "Nyawa kudaku harus ditebus dengan seribu nyawa!"


Kala Srenggi menatap Saka Lintang, Gadis itu memperhatikan ruyung pembunuh kuda yang masih di genggaman tangannya. Dia tadi tak melihat bercak darah yang masih baru pada ruyung itu. Tak disangka benda sekecil ini bisa menewaskan seekor kuda.


Kelima orang yang berada di sudut kedai berdiri. Mereka segera menuju ke pintu keluar tanpa mempedulikan empat orang yang dilanda geram. Langkah kelima orang itu terhenti ketika Tiga Serangkai Rantai bajaa melompat menghadang.


"Maaf, kami mau keluar," kata salah seorang dengan sopan.


"Sebelum kuijinkan keluar, sebutkan dulu nama dan dari mana asal kalian!" dengus salah seorang dari Tiga Serangkai Rantai Baja yang bernama Matsyabaja. Yang dua orang lagi bernama Bayubaja dan Wratbaja.


"Aku yang tertua bernama Langlang Pari, dan keem-pat adikku bernama, Baga Pari, Tatra Pari, Kanta Pari, dan Dadap Pari," sahut Langlang Pari memperkenalkan yang lainnya. Mereka lima bersaudara.


Kala Srenggi segera melompat ke depan. Wajahnya makin merah membara. Matanya menyala-nyala tajam dengan geraham gemerutuk menahan amarah Tidak salah lagi, lima orang yang berada di depannya kini adalah Lima Pari Emas. Andalan mereka adalah senjata rahasia berupa ruyung yang sangat kecil Biasanya ruyung itu mengandung racun yang mematikan. Pantas saja kalau kudanya mati seketika menimbulkan suara.


Sebenarnya bukan ruyung kecil itu saja ya menjadi andalan mereka berlima. Mereka juga ahli ilmu pedang, di samping aji-aji kesaktian lainnya yang tidak bisa dianggap remeh.


"Kalian harus bayar nyawa kudaku!" Geram Kala Srenggi.


"Berapa harga kudamu?" Tanya Langlang Pari acuh.


"Setan! Nyawa kalian berlima belum cukup mengganti kudaku!"


"Apakah kudamu lebih berharga dari nyawamu sendiri?"


Kala Srenggi tidak dapat lagi menahan amarahnnya Segera dicabutnya pedang kembarnya.


Sret! "Keluarkan senjata kalian!" bentak Kala Srenggi lalu membuka jurus 'Pedang Kembar'.


Tiga Serangkai Rantai Baja pun telah siap dengan senjata masing-masing, berupa rantai baja murni ber-kepala bola berduri. Mereka berlompatan mengurung Lima Pari Emas. Hanya Saka Lintang saja yang tetap tenang berada di tempatnya. Matanya malah mengamati ruyung di tangannya.


"****** kau!" bentak Kala Srenggi seraya menyerang Langlang Pari dengan jurus Pedang Kembar'.


Langlang Pari berkelit menghindari serangan dahsyat itu. Bersamaan dengan itu, Tiga Serangkai Rantai Baja pun telah menyerang tiga dari Lima Pari Emas.


Pertempuran satu lawan satu berlangsung sengit di dalam kedai. Dalam sekejap saja keadaan kedai menjadi berantakan. Masing-masing menggunakan jurus andalan dan berusaha menjatuhkan lawan secepatnya. Tetapi mereka semua adalah tokoh-tokoh yang punya nama dalam rimba persilatan. Yang terlihat kini hanya bayang-bayang yang berkelebat ke setiap arah.


Saka Lintang yang tengah mengamati ruyung kecil tiba-tiba terkejut. Dia merasakan sambaran angin me-lesat ke arahnya. Dengan sigap gadis ini melenting ke udara sehingga desiran angin hanya lewat di bawah kakinya. Ternyata desiran itu berasal dari sebuah ruyung yang dilepaskan oleh Tatra Pari yang belum kebagian lawan.


pengecut!" dengus Saka Lintang geram.


Secepat kilat ruyung yang berada di tangannya dilemparkan ke arah Tatra Pari. Dengan sigap pula Tatra Pari menangkap kembali ruyung yang meluncur deras itu dengan jari dan memasukkannya ke dalam jubah. Tatra Pari segera melesat menerjang Saka Lintang.


Rupanya Tatra Pari tidak main-main lagi. Dia pun melompat sambil mencabut pedang yang menempel di punggungnya. Pedang terhunus itu telah mengarah ke arah Saka Lintang, tiba-tiba...


Tring! Betapa terkejutnya Tatra Pari ketika merasakan pedangnya membentur benteng baja yang kokoh. Tangannya terasa kesemutan. Didaratkan kakinya ke tanah. Tanpa diketahui dari mana datangnya, tiba-tiba di depan Saka Lintang telah berdiri seorang laki-laki berkepala gundul berjubah kuning.


"Biar aku yang memberi pelajaran pada bocah telengas ini, Saka Lintang," kata laki-laki gemuk berkepala gundul yang tak lain Pendeta Murtad dari Selatan.


Saka Lintang hanya mengangguk. Sebagai putri Ketua Panji Tengkorak, dia harus bisa bersikap sebagai pemimpin yang dapat menunjukkan kewibawaan diri agar disegani lawan maupun kawan.


"Hm, rupanya Pendeta Murtad dari Selatan sudah jadi anjing Geti Ireng," Dengus Tatra Pari bergumam.


"Jangan banyak omong, bocah setan! Keluarkan seluruh kesaktianmu!" Balas Pendeta itu yang mem-punyai nama asli, Pradya Dagma.


"Menghadapimu cukup dengan ini!" kata Tatra Pari sambil mengepalkan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya memasukkan pedang ke dalam sarungnya di punggung.


"Sombong! Jangan katakan aku kejam membunuh tanpa senjata!" Geram Pradya Dagma merasa terhina.


"Silakan."

__ADS_1


********************


__ADS_2