
SEEKOR kuda putih tinggi kekar berlari bagai kilat menyusuri tepian sungai. Bentuk sungai yang berliku-liku, seakan-akan bergerak bagai seekor ular naga yang menyusuri lereng dan bukit-bukit di sekitarnya. Oleh karena bentuknya yang mirip dengan ular naga, maka sungai itu dinamakan sungai ular. Kuda itu ditunggangi seorang wanita cantik dengan pakaian serba biru. Wajahnya basah oleh keringat. Sebilah pedang bertengger di punggungnya.
Dia adalah Saka Lintang, anak angkat Geti Ireng, ketua gerombolan Panji Tengkorak. Ditinggalkannya Lembah Tengkorak, setelah se-orang pendekar muda yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti mengobrak-abrik partainya, Panji Tengkorak.
"Hooop...!" Saka Lintang menarik tali kekang kudanya kuat-kuat. Kuda putih meringkik kencang lalu berhenti. Dengan gerakan ringan dan tangkas, Saka Lintang melompat dari kudanya. Ketika kakinya sampai di tanah, segera dijejakkan kakinya hingga tubuhnya melenting ke udara dan hinggap di pohon yang cukup tinggi.
Saka Lintang bertengger pada sebuah cabang pohon, seraya matanya mengawasi bagian hulu sungai. Bibirnya tersenyum ketika sebuah perahu besar dengan layar lebar mulai terlihat. Di ujung tiang layar, berkibar selembar bendera bergamhar bunga melati yang dilingkari rantai. Dari lambang gambar bendera, dapat dipastikan kalau kapal layar itu milik seorang saudagar kaya dari Kadipaten Balungan. Sebuah Kadipaten kecil di wilayah Timur kerajaan Singasari yang berpenduduk cukup makmur.
"Suiiit...!" Saka Lintang bersiul nyaring yang disertai tenaga dalam. Mendengar siul yang bergema itu, serentak dari rimbunan semak-semak tepi sungai bermunculan empat buah perahu berukuran sedang, dikayuh oleh beberapa orang. Saka Lintang segera terjun diiringi gerakan salto beberapa kali, dan hinggap tepat di punggung kudanya.
Gadis itu lantas menghentak tali kekang kudanya, lalu memacu ke arah perahu gerombalannya yang makin dekat. Ketika perahunya yang berwarna biru pekat itu telah menepi, Saka Lintang menarik tali kekang kuda, dan tanpa berpikir banyak dia segera melompat ke udara. Perahu yang telah siap menunggunya itu menerima tubuh Saka Lintang yang hinggap di tengah-tengahnya.
"Ayo, cepat! Kepung kapal layar itu!" teriak Saka Lintang.
Enam orang laki-laki bertubuh kekar segera mengayuh dayung. Perahu itu pun meluncur deras mendekati kapal layar besar. Tiga perahu lain yang berwarna biru pekat pula, bergerak menyerang. Sedangkan di kapal layar besar itu tengah terjadi kesibukan. Beberapa orang telah siap dengan panah yang mengarah pada gerombolan Saka Lintang.
"Awas, panah!" teriak Saka Lintang ketika melihat anak panah meluncur deras.
Saka Lintang pun mencabut pedangnya. Dengan cepat pedang itu telah berputar-putar bagai baling-baling. Anak-anak panah yang meluncur cepat itu rontok seketika tersapu oleh pedang. Layaknya sebuah payung yang melindungi dari serangan hujan. Empat perahu Saka Lintang makin dekat ke arah kapal layar.
Sementara anak-anak panah terus meluncur mencari mangsa. Namun anak buah Saka Lintang mudah saja merontokkannya. Saka Lintang tersenyum melihat keberhasilan anak buahnya itu.
"Serang...!" teriak Saka Lintang nyaring.
Mendengar aba-aba itu serentak anak buah Saka Lintang yang berseragam biru pekat berlompatan ke atas kapal layar. Gerakan mereka sangat ringan dan cepat. Jelas mereka bukan orang-orang sembarangan. Rata-rata mereka memiliki ilmu silat cukup tinggi.
Sementara pertarungan kini bergejolak di atas kapal layar. Saka Lintang mengamuk bagai banteng terluka. Tubuh-tubuh mulai ambruk bergelimang darah menyusul suara jeritan hasil kelebatan pedang Saka Lintang. Memang orang-orang di atas kapal bukan tandingan Saka Lintang dan anak buahnya.
Banyak sudah lawan yang telah berjatuhan. Beberapa lawan malah menyelamatkan diri dengan terjun ke sungai. Dan memang, Saka Lintang dan pasukannya berhasil menguasai kapal layar. Dimasukkan pedangnya kedalam sarung di punggung. Matanya tajam mengawasi sekitar geladak kapal yang penuh oleh darah.
"Buang semua mayat ke sungai!" perintah Saka Lintang.
Anak buah Saka Lintang yang berjumlah kira-kira dua puluh orang itu segera mengerjakan perintahnya. Diseret dan dilemparkan seluruh mayat ke sungai. Sekejap saja permukaan sungai telah berubah warnanya menjadi merah oleh darah.
Seorang laki-laki bertubuh tegap dengan wajah ditumbuhi cambang mendekati Saka Lintang. Sebilah golok besar tergantung di pinggangnya. Dibungkukkan badannya sedikit di depan Saka Lintang yang berdiri angkuh. Kedua tangannya berada di atas pinggang.
"Ada apa, Codet?" tanya Saka Lintang datar.
"Hamba menemukan satu peti berisi perhiasan emas dan perak, Tuan Putri," sahut laki-laki yang dipanggil Codet Memang di pipi kanannya terdapat guratan panjang sehingga menambah seram wajahnya.
"Bagus, pindahkan semua barang berharga ke perahu kita!" perintah Saka Lintang.
"Hoi! Angkat semua yang berharga!" teriak Codet keras. Kesibukan kembali terjadi. "Tuan Putri ingin melihat-lihat?" ujar Codet sambil membungkuk lagi.
Saka Lintang tidak menyahut. Dilangkahkan kakinya dengan angkuh melewati laki-laki tegap dan kasar itu. Codet mengikuti dari belakang. Kapal layar ini tidak terlalu besar. Hanya sebentar saja Saka Lintang telah menelusuri bagian-bagian kapal. Dia sangat terkesan ketika masuk ke sebuah bilik dalam kapal. Bilik itu memang cukup indah, bagaikan peraduan seorang bangsawan.
Saka Lintang menduga, kapal layar ini pasti milik seorang bangsawan kaya. Rasanya tidak mungkin Kadipaten memiliki kapal seindah ini. Tapi kenapa bendera kapal menunjukkan milik saudagar Gantar dari Kadipaten Balungan? Atau mungkin kapal ini telah dijual oleh saudagar itu kepada bangsawan kerajaan?
"Ah! Masa bodoh. Kenapa harus dipiklrkan? Yang penting aku suka kapal ini!" dengus Saka Lintang dalam hati. "Codet!" panggil Saka Lintang.
"Hamba, Tuan Putri," jawab Codet sambil membungkukkan badan.
"Turunkan bendera kapal, ganti dengan bendera kita!" perintah Saka Lintang.
"Hamba siap menjalankan perintah."
"Kemudian kapal ini, bawa pulang!"
Codet berlalu setelah sebelumnya memberi hormat Saka Lintang melangkah memasuki bilik kapal kembali. Mulutnya tak henti-hentinya berdecak kagum. Di dalam bilik ini, Saka Lintang merasa bagai putri raja. Atau paling tidak putri bangsawan. Dijatuhkan tubuhnya ke atas pembaringan yang berlapiskan kain sutra lembut. Sungguh nyaman berada di pembaringan ini.
Saka Lintang tersenyum-senyum sendiri. Selama malang melintang menguasai sungai ular ini, baru sekarang dia mendapat sebuah kapal layar yang mengagumkan. Rasanya sayang kalau kapal ini mesti dibakar seperti yang sudah-sudah. Dia ingin memiliki kapal ini. Dengan kapal ini dia bisa lebih leluasa menjadi penguasa sungai Ular.
"Ha ha ha..., akulah ratu sungai Ular ini! Bidadari sungai Ular....Ha ha ha...!"
Saka Lintang tertawa sambil berteriak-teriak bagai orang glla. Saka Lintang menari-nari berputar mengelilingi bilik kapal. Tawanya belum berhenti. Dihampirinya sebuah meja terbuat dari batu pualam. Matanya memperhatikan guci arak.
"Hem, arak buatan desa Cacah. Sungguh tinggi seleranya," gumam Saka Lintang sambil menuang arak ke dalam gelas perak.
Basah sudah tenggorokannya oleh arak. Kepalanya terangguk-angguk beberapa kali. Arak desa Cacah memang telah terkenal kenikmatannya. Arak ini memang pilihan kaum bangsawan. Harganya hanya terjangkau oleh orang-orang kaya. Tanpa terasa, gelas peraknya telah kosong. Dia telah menenggak habis arak itu. Saka Lintang menoleh ke pintu ketika diketuk dari luar.
"Masuk!" bentak Saka Lintang karena merasa terganggu kenikmatannya. Dia duduk dikursi berukir di samping meja pualam itu.
Codet muncul setelah pintu terbuka. Dia membungkuk sedikit memberi hormat.
"Ada apa lagi?" tanya Saka Lintang kembali memasang sikap angkuh.
"Hamba menemukan seorang wanita bersembunyi di balik tumpukan peti," sahut Codet.
"Hem, siapa dia?" tanya Saka Lintang mengerutkan kening.
__ADS_1
Codet menjentikkan jarinya. Kemudian muncul dua orang laki-laki mengapit seorang wanita muda berusia sekitar tujuh belas tahun. Cantik dan berkulit kuning langsat. Pakaiannya dari sutra halus. Perhiasannya semua dari emas. Wajahnya menyimpan rasa takut yang dalam.
Saka Lintang memberi isyarat agar anak buahnya keluar. Codet menutup pintunya lagi. Saka Lintang kembali mengamati wanita muda itu. Mukanya pucat dan tubuhnya gemetar.
"Siapa kau?" tanya Saka Lintang.
Wanita muda itu tidak menjawab. Tapi berusaha mengangkat kepalanya pelan-pelan. Ketika matanya tertumbuk pada Saka Lintang, tubuhnya seketika mengejang, Ketakutannya kian sangat.
"Kau dengar pertanyaanku, kan? Siapa kau?" dengus Saka Lintang mulai kesal karena wanita itu diam saja.
"Aku..., aku Intan Kemuning," jawab wanita muda itu tergagap, "Aku putri patih kerajaan Galung."
"Oh, rupanya kau putri seorang patih? Tidak seharusnya putri seorang patih kerajaan seperti tikus kena gebuk begitu!"
"Tolong bebaskan aku, aku berjanji tidak akan mengatakan apa-apa pada ayahanda," rengek Intan Kemuning.
"Ha ha ha...!" Saka Lintang tertawa gelak.
Intan Kemuning mulai terisak. Dia sungguh sangat menyesal ikut dengan kapal ini. Padahal orang tuanya sudah melarang. Intan Kemuning telah dibujuk agar pulang bersama-sama saja tewat jalan darat. Tapi Intan Kemuning ingin menikmati perjalanan melalui sungai Ular bersama kapal yang baru dibeli ayahnya untuk pesiar.
Tidak diduga sama sekali, gerombolan perompak membegal kapal itu. Pengawalnya yang berjumlah tidak kurang dari tiga puluh orang tewas semuanya. Sedangkan awak kapalnya mencari selamat dengan terjun sungai. Intan Kemuning yang sehari-harinya tinggal di tembok kebang-sawanan, tidak dapat berbuat apa-apa. Dia tidak pernah belajar ilmu silat. Jadi wajar saja kalau dia begitu ketakutan melihat para perompak mengganas di kapalnya.
********************
Kapal mewah terus melaju menyusuri alur sungai Ular diiringi empat perahu gerombolannya. Masing-masing perahu berisi barang-barang berharga dan djkawal oleh empat orang. Sementara di dalam bilik kapal mewah, Saka Lintang tengah berbaring tengkurap dengan punggung terbuka. Punggung yang terbuka itu terasa nikmat setelah Intan Kemuning memijitinya.
Dia dengan terpaksa harus mengikuti perintah Saka Lintang yang menjadi pemimpin perompak sungai Ular. Perhiasan yang melekat di tubuhnya juga sudah ditanggalkan, Intan Kemuning hanya bisa menerima nasib saja menjadi budak kepala perompak itu.
"Pijatanmu enak juga. Siapa yang mengajari?" tanya Saka Lintang.
"Bibi Emban. Katanya, biar suami betah di rumah, istri harus pintar memijat," sahut Intan Kemuning pelan.
Saka Lintang membalikkan badan dan merapikan pakaiannya kembali. Matanya tajam menatap wajah Intan Kemuning yang tertunduk. Saka Lintang yang hidup dari dibesarkan di lingkungan keras, sangat terkejut mendengar kata-kata Intan Kemuning. Dalam kamus hidupnya, tidak ada istilah perempuan harus tunduk pada kaum laki-laki.
"Kau bilang tadi bahwa kau anak patih. Apa kau tidak pernah belajar ilmu kanuragan?" tanya Saka Lintang.
"Tidak, Ayahanda tidak mengijinkan aku belajar ilmu-ilmu keprajuritan. Beliau menginginkan aku menjadi seorang wanita bangsawan sejati," polos sekali jawaban Intan Kemuning.
"Apa enaknya? Kau akan dijajah laki-laki, tahu!" Saka Lintang jadi terhenyak hatinya. Dia tidak terima kaumnya jadi bulan-bulanan kaum lelaki.
"Aku tidak bisa menentang keinginan Ayahanda."
Intan Kemuning terlonjak kaget. Tubuhnya menggigll ketakutan.
"Mereka tidak akan mengganggumu! Dengan syarat, kau harus turuti kata-kataku!" kata Saka Lintang.
Tidak ada pilihan lain bagi Intan Kemuning kecuali menyanggupi kemauan Saka Lintang. Nasibnya sekarang berada di tangan pemimpin perompak ini. Pikirnya, membangkang sedikit saja bisa-bisa mati konyol! Atau malah dijadikan pemuas nafsu anak buah Saka Lintang...? Intan Kemuning tidak sanggup membayangkannya.
"Aku hidup di lingkungan laki-laki kasar dan brutal. Tapi mereka semua tunduk pada perintahku! Berani menentang dan kurang ajar. Nyawa taruhannya!" jelas Saka Lintang.
"Kau seorang pemimpin perompak, tapi mengapa kau baik padaku?" tanya Intan Kemuning tidak mengerti dengan sikap Saka Lintang.
Saka Lintang tertawa terbahak-bahak. Telinganya terasa dikilik, dirinya dianggap baik. Hidupnya penuh kekerasan. Tangannya selalu dilumuri darah. Kenapa masih ada juga orang yang mengatakan dirinya baik? Apa tidak salah pendengarannya? Masih adakah kebaikan di hatinya? Dia sendiri tidak tahu mengapa tiba- tiba jadi iba melihat Intan Kemuning. Lebih-lebih setelah mendengar penuturannya yang polos itu.
Saka Lintang merasa seolah-olah dialah yang diinjak-injak kaum lelaki setelah mendengar perjalanan hidup Intan Kemuning. Hatinya berontak dan dengan seketika dia ingin segera menjadikan Intan Kemuning seorang wanita yang kuat seperti dirinya. Saka Lintang bangkit dari pembaringannya. Dilangkahkan kakinya mendekati meja. Diraihnya guci arak, lalu dituangkan ke dalam dua gelas perak Satu gelas disodorkan pada Intan Kemuning, segelas lagi buat dirinya.
"Aku tidak biasa minum arak," tolak Intan Kemuning.
"Untuk jadi pengikutku, harus bisa minum arak!" paksa Saka Lintang.
Ragu-ragu Intan Kemuning menerima segelas arak yang disodorkan buatnya. Tangannya gemetar memegang gelas itu. Sebab selama hidupnya, belum pernah dia minum arak! Mencium baunya saja, kepalanya terasa pening.
"Ayo, minum!" paksa Saka Lintang lagi.
Intan Kemuning memejamkan matanya. Sambil menahan napas, diminumnya arak itu sedikit. Saka Lintang tersenyum melihat cara Intan Kemuning minum arak. Tiba-tiba Intan Kemuning terbatuk-batuk dan berdahak beberapa kali. Wajahnya memerah dan matanya berair. Saka Lintang makin tertawa keras.
"Maaf, aku tidak bisa," ucap Intan Kemuning setelah reda batuknya.
"Lama-lama kau akan terbiasa," sahut Saka Lintang kalem.
"Tapi...."
"Di istanaku, semua minum arak! Tidak ada air minum, kecuali sanggup memasaknya sendiri!" potong Saka Lintang.
Intan Kemuning terdiam. Menginjakkan kakinya ke dapur saja tidak pernah, apalagi memasak. Hatinya hanya bisa mengeluh dan menyesali diri. Kenapa harus hidup dengan orang dan lingkungan yang sama sekali asing? Intan Kemuning tidak dapat membayangkan apakah dia bisa hidup dengan cara seperti ini. Saka Lintang menoleh ke pintu setelah diketuk dari luar. Intan Kemuning juga memandang ke arah pintu.
"Masuk!" teriak Saka Lintang.
Codet muncul. "Ada apa?" tanya Saka Lintang.
__ADS_1
"Sebentar lagi kapal sandar, Tuan Putri," iapor Codet.
"Hm, biar saja. Aku dan Intan tetap di sini Kalian bereskan semua barang-barang."
"Hamba laksanakan, Tuan Putri."
"Tunggu!" cegah Saka Lintang melihat Codet akan berbalik. Codet membungkukkan badannya lagi. "Beritahu pada semua anggota, kalau ada yang berani mengganggu Intan Kemuning, akan berurusan denganku! Dia kini jadi adik angkatku!" ujar Saka Lintang keras.
"Hamba, Tuan Putri," Codet membungkuk hormat. Hatinya sedikit diliputi keraguan.
"Pergilah! Laksanakan tugasmu!"
Codet membungkuk lagi, kemudian berbalik Pintu kamar kembali tertutup rapat. Saka Lintang memandang Intan Kemuning yang masih duduk di tepi pembaringan.
"Kau lihat, laki-laki tadi hanya bentuknya saja yang kasar. Nyalinya kecil," Saka Lintang menjentikkan jarinya.
Intan Kemuning hanya menelan ludah saja. Dia selalu ngeri jika lihat tampang laki-laki yang kasar dan kejam. Dia tidak yakin apakah mampu seperti Saka Lintang. Dari sini Intan Kemuning mulai bersimpati pada wanita yang usianya tidak terpaut jauh dari dirinya itu. Saka Lintang, masih muda, cantik, tapi mampu menguasai dan memerintah laki-laki bertampang kasar dan bengis.
Intan Kemuning yang polos, mudah sekali jatuh simpati pada sikap Saka Lintang. Meski dia tadi sempat melihat bagaimana Saka Lintang membantai para pengawal Kadipaten dengan kejam. Namun bayangan kekejaman di wajah Saka Lintang makin sirna dalam pandangan Intan Kemuning. Dia hanya melihat suatu kelembutan dan kebaikan hati dalam diri Saka Lintang sebagai wanita yang tegar.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Seminggu rasanya belum cukup bagi Intan Kemuning untuk menyesuaikan diri di lingkungan para perompak. Di sekelilingnya kecuali Saka Lintang, hanya laki-laki berwajah kasar dan seram. Dan selama seminggu itu Saka Lintang telah memberi dasar-dasar ilmu olah kanuragan. Cukup keras latihan yang diberikan. Hampir-hampir Intan Kemuning tidak sanggup menjalaninya.
Sejak itu pula, Saka Lintang tidak pernah lagi ikut merompak kapal yang lewat di sungai Ular. Pemimpin perompak dipercayakan pada Codet. Hasilnya memang tidak mengecewakan. Codet selalu pulang membawa hasil.
"Kau tidak keluar, Codet?" tanya Saka Lintang melihat Codet tengah bermalas-malasan.
"Hari ini tidak ada kapal yang lewat, Tuan Putri. Mereka takut terhadap Bidadari Sungai Ular!" sahut Codet.
"Kau tidak berolok-olok padaku, Codet?"
"Mana berani hamba mengolok-olok Tuan Putri? Bisa-bisa kepala hamba pisah dari badan."
"Bagus kalau kau tahu!"
Codet melirik Intan Kemuning yang duduk di bangku bawah pohon. Agak jauh memang. Sebuah buku bersampul hitam lusuh berada di tangannya.
"Maaf, Tuan Putri. Apa Tuan Putri tidak salah mengangkat dia jadi adik?" takut-takut Codet bicara sambil ibu jari tangannya diarahkan pada Intan Kemuning.
"Maksudmu.... Intan?" jawab Saka Lintang.
"Benar, Dia itu seorang putri patih. Berbahaya sekali buat kita kalau...."
"Cukup!" sentak Saka Lintang memotong.
"Kau tahu, apa akibatnya menentang kehendakku?"
"Hamba, Tuan Putri," Codet cepat-cepat menghormat.
"Kau kupercaya untuk jadi wakilku. Bukan untuk mengaturku! Paham?!"
"Hamba mengerti," sahut Codet.
"Sekarang pergilah! Dan jangan coba-coba mengusik Intan Kemuning!"
Codet membungkuk lalu pergi. Matanya masih sempat melirik Intan Kemuning. Codet yakin kalau buku itu berisi dasar-dasar ilmu pukulan tangan kosong dan latihan pengerahan tenaga dalam. Dikhawatirkan Intan Kemuning akan jadi duri dalam daging! Codet sendiri dulu adalah seorang begal sebelum dikalahkan Saka Lintang. Kemudian dia berjanji untuk selalu setia dan mengabdi pada gadis itu.
Sepuluh anak buahnya pun ikut dalam gerombolan ini. Dan sekarang jumlah gerombolan ini tidak kurang dari tiga puluh orang. Mereka semua bekas begal yang biasa berkeliaran mencari mangsa di hutan-hutan atau merambah desa-desa. Kehidupan seperti itu memang bukan hal yang asing bagi mereka. Tapi justru baru kali ini mereka tunduk oleh seorang wanita!
Codet menghampiri tiga orang temannya yang duduk melingkar menghadapi rusa panggang. Bau harum menusuk hidung dan membangkitkan selera.
"Kalian ikut aku," kata Codet sambil mencomot sepotong daging rusa.
"Ke mana, Det?" tanya salah seorang.
"Ke desa," jawab Codet.
"Cari apa ke desa?" tanya yang lain.
"Cari hiburan!"
Ketiga orang Itu tertawa seketika. Mereka tahu kalau Codet mengincar Intan Kemuning, tapi takut kepada Saka Lintang. Sebagai pelampiasan nafsunya, dia sering pergi ke desa terdekat. Codet hanya menggerutu saja sambil membayangkan wajah Intan Kemuning. Codet melangkah pergi. Ketiga temannya mengikuti sambil tertawa-tawa.
Tak ada orang yang tak tertarik dengan Intan Kemuning. Semua laki-laki di tempat itu pasti berkhayal dapat menikmati kemulusan tubuhnya. Tapi hanya sekedar berkhayal. Tidak lebih. Mereka takut oleh aturan yang diberikan Saka Lintang. Intan Kemuning memang selalu di bawah lindungan Saka Lintang.
Hal inilah yang selalu mengganggu pikiran Codet. Pikirnya, oleh karena Intan Kemuning putri seorang patih, sudah tentu pihak Kadipaten tidak akan ringgal diam. Apalagi jika nanti Intan Kemuning berkhianat. Ini jelas menyulitkan mereka. Codet menyayangkan pemimpinnya yang tidak menyadari kemungkinan yang akan berakibat fatal!
********************
__ADS_1