
"Suiiit..!"
Satu siulan panjang melengking tinggi menggema memecah kesunyian tepian jurang Bukit Arang Lawu. Suara itu jelas mengandung tenaga dalam yang sempurna dan bernada aneh. Siulan itu datang dari seorang laki-laki muda berwajah tampan dengan pedang bergagang kepala burung di punggung. Baju rompi putih berkibar-kibar dipermainkan angin.
"Khraghk!"
Terdengar suara nyaring serak dari angkasa. Pemuda yang tidak lain adalah Pendekar Rajawali Sakti itu menengadahkan kepalanya memandang titik di angkasa. Semakin lama titik itu semakin kelihatan jelas bentuk dan rupanya. Itulah burung rajawali raksasa tunggangan sekaligus guru dari Rangga si Pendekar Rajawali Sakti. Burung rajawali raksasa itu mendarat tepat di depan Rangga.
"Aku perlu bantuanmu untuk menuruni jurang ini, Rajawali Sakti," kata Rangga.
"Khraghk!"
Rangga melompat naik ke punggung burung raksasa itu. Tanpa diperintah lagi, burung rajawali sakti itu mengepakkan sayap-sayapnya yang lebar. Tubuhnya melayang dan berputar beberapa kali di atas jurang yang besar dan dalam. Begitu dalamnya jurang ini, sehingga dasarnya tidak kelihatan. Hanya kabut tebal yang menutupi jurang itu.
"Turun sampai ke dasar, Sahabat!" kata Rangga.
Rangga merasakan udara di dalam jurang ini begitu lembab dan dingin. Semakin masuk ke dalam, semakin gelap dan berkabut tebal. Rangga mengerahkan aji 'Tatar Netra' yang diperolehnya dari buku peninggalan Pendekar Rajawali yang hidup ratusan tahun yang lalu. Dengan ajian tersebut dia bisa melihat jelas bagaikan melihat di bawah cahaya matahari.
"Hup!" Rangga segera melompat turun dari punggung rajawali raksasa begitu sampai di dasar jurang. Sebentar dia mengamati keadaan. Rongga dasar jurang ini sangat luas, dan di tengah-tengahnya mengalir sungai yang sangat deras. Airnya berwarna merah bagai darah. Tulang-tulang tengkorak manusia dan binatang berserakan.
"Terima kasih, Rajawali Sakti. Kau bisa kembali sekarang," kata Rangga seraya menepuk-nepuk leher burung raksasa itu.
"Khraghk!"
Burung rajawali raksasa itu mengepakkan sayapnya, dan kembali membumbung tinggi meninggalkan dasar jurang ini. Rangga kemudian mengedarkan pandangannya berkeliling. Hidungnya kembang kempis mencium bau busuk yang sangat menyengat. Bau busuk itu datang dari mayat-mayat yang bergelimpangan di sekitar dasar jurang ini. Rangga memperhatikan mayat-mayat itu.
"Hm..., semuanya perempuan," gumam Rangga mendesah.
Rangga meneliti satu per satu mayat-mayat itu. Dia berusaha keras untuk menahan bau busuk yang semakin menyengat memualkan. Sudah semua mayat dia periksa, dan desahnya terdengar panjang.
"Ada beberapa yang berbaju biru, tapi tidak ada satu pun dari mereka Pandan Wangi. Ah..., di manakah kau sekarang, Pandan...," desah Rangga bergumam.
Jelas sekali dia melihat Pandan Wangi masuk ke dalam jurang ini dua kali. Yang pertama karena kesalahannya menyuruh gadis itu menyeberang lebih dulu, dan yang ke dua Pandan Wangi sengaja diceburkan oleh orang-orang Puri Merah atas perintah Dewi Sri Tungga Buana. Tapi, di antara mayat-mayat ini..., tidak satu pun ada Pandan Wangi.
"Hsss...!"
Rangga tersentak kaget ketika mendengar suara mendesis yang keras dari arah belakang. Begitu dia berbalik, kedua matanya terbelalak dan mulutnya ternganga lebar. Hampir dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Oh...."
********************
"Ya, Tuhan..., apakah aku sedang berhadapan dengan penguasa dasar jurang ini?" desah Rangga pelan.
Di hadapan Rangga menjulur seekor ular yang besar sekali. Lingkar tubuhnya lebih besar dari pohon beringin tua. Kepalanya bertanduk dengan mahkota di tengah-tengahnya. Lidahnya yang bercabang menjulur-julur ke luar. Matanya bagai bola api menatap tajam pada Rangga. Sebagian tubuhnya terendam air sungai berwarna merah. Tampak sepasang kaki menyembul ke luar ketika kepala ular besar itu terangkat naik.
"Hosss...!"
"Heh! Hooop.,.!"
Rangga kaget bukan main ketika tiba-tiba ular raksasa itu menyerangnya. Secepat kilat Rangga menghindar dengan melompat ke belakang. Moncong sebesar gentong itu menyeruduk tanah yang dipijak Rangga tadi. Ular raksasa itu mendesis marah melihat calon mangsanya luput dari terkaman.
Byar!
"Hih!" Rangga. membanting dirinya ke tanah dan bergulingan menghindari semburan api yang ke luar dari mulut ular raksasa itu. Bukan alang kepalang kagetnya dia melihat batu sebesar kerbau hancur jadi debu kena semburan api itu. Rangga bergegas bangun, dan langsung siap untuk menerima serangan yang berikutnya.
Dan ketika kepala ular raksasa itu menyerang dengan cepat, seketika itu pula tubuh Rangga melenting ke udara, lalu bagaikan kilat dia menukik seraya mengerahkan jurus 'Rajawali Menyambar Mangsa'. Pukulan dan tendangan Pendekar Rajawali Sakti itu telak dan beruntun menghantam kepala ular raksasa itu.
"Edan!" rungut Rangga.
Ular raksasa itu hanya menggeram sedikit, dan langsung berbalik menyerang lagi. Rangga mengubah jurusnya jadi jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Kedua tangannya terentang bagai sepasang sayap, dan kakinya bergerak lincah menghindari setiap serangan ular raksasa itu. Beberapa kali tangannya menyambar menghantam tubuh dan kepala ular itu, namun sama sekali tidak berpengaruh. Bahkan binatang raksasa itu semakin buas saja.
'"Pukulan Maut Paruh Rajawali'," desis Rangga. Seketika itu juga kedua tangan Rangga jadi merah membara. Dan dengan kecepatan bagai kilat, dia menghantamkan pukulannya ke tubuh ular raksasa itu.
"Yeaaah...!"
Glarrr!
Suara ledakan keras terdengar begitu kedua tangan Rangga mendarat telak di bawah kepala ular raksasa itu.
"Akh!" Rangga memekik tertahan.
Seluruh tubuhnya bergetar hebat, dan dia terpental beberapa depa jauhnya. Ular raksasa itu tetap tidak kurang suatu apapun. Pendekar Rajawali Sakti itu terperangah hampir tidak percaya. Batu cadas sebesar bukit bisa hancur oleh pukulan mautnya itu, tapi ular raksasa ini... terluka saja dia tidak.
"Huh! Terpaksa...," desah Rangga mendengus.
Sret! Cahaya biru menyebar terang ketika Pendekar Rajawali Sakti itu mencabut pedang dari warangkanya. Rangga berdiri tegak dengan pedang Rajawali Sakti menyilang di depan dada. Matanya sedikit menyipit melihat ular raksasa itu bergerak mundur. Kepalanya miring ke kiri dan ke kanan beberapa kali. Sepertinya dia silau melihat cahaya yang terpancar dari pedang itu.
"Anak muda, siapa kau? Dari mana kau peroleh Pedang Rajawali Sakti itu?"
"Heh! Kau...."
********************
Bukan main terkejutnya Rangga mendengar ular raksasa itu bisa berbicara seperti manusia. Pendekar Rajawali Sakti itu sampai terlonjak ke belakang sejauh dua batang tombak. Paras wajahnya diliputi keheranan bercampur ketidakpercayaan.
"Kau.... Kau bisa bicara?" tanya Rangga tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
"Apa telingamu sudah tuli, heh?!" bentak ular raksasa itu.
"Tidak..., aku tidak bermimpi. Dia benar-benar bicara," Rangga seperti orang *****.
__ADS_1
"Jangan berlagak bodoh, anak muda! Dari mana kau peroleh pedang pusaka keramat itu?"
Rangga memandang pedang di tangannya. Kemudian dia memasukkan kembali ke warangkanya di punggung. Cahaya biru langsung lenyap tak berbekas. Tapi sikapnya masih tetap waspada, meskipun diliputi rasa tidak percaya dan keheranan yang amat sangat. Baru kali ini dia bertemu dengan seekor ular raksasa aneh yang bisa bicara. Rangga baru menyadari kalau binatang itu adalah seekor naga bermahkota.
Sungguh sulit dipercaya. Rangga sering mendengar cerita tentang naga, dan dia tidak pernah mau percaya dengan cerita dongeng rakyat itu. Tapi sekarang..., naga dalam dongeng itu kini ada di depannya. Dan semua itu bukanlah mimpi, tapi kenyataan yang di luar kemampuan akalnya.
"Kenapa bengong? Apa kau mendadak jadi dungu?!" bentak naga raksasa itu.
"Heh...!" Rangga masih juga tersentak kaget. "Kau..., kau mengetahui pedangku...?"
"Dari mana kau peroleh? Kau mencuri?"
"Dari guruku," sahut Rangga setelah menenangkan dirinya.
"Jangan main-main, anak muda! Pemilik pedang itu sudah muksa sebelum nenek moyangmu lahir!"
"Mau percaya atau tidak, terserah! Aku bicara benar."
"Kau memang menguasai jurus-jurus Rajawali Sakti, tapi aku belum mau percaya sebelum kau perlihatkan penguasaan pedang pusaka itu."
"Untuk apa? Kau tidak akan percaya."
"Cabut pedang itu! Tunjukkan padaku," perintah naga raksasa itu.
Kaget juga Rangga dibuatnya. Suara bentakan itu keras dan menggelegar, namun terdengar sangat berwibawa. Perlahan-lahan Rangga mencabut pedang Rajawali Sakti dari warangkanya. Dia pun segera membuka jurus 'Pedang Pemecah Sukma'. "Hm, rupanya kau juga telah mempelajari jurus 'Pedang Pemecah Sukma'. Bagus! Serang aku!" kata naga raksasa itu.
"Hey! Kau tahu jurus itu?" Rangga tersentak kaget.
"Jangan banyak bacot! Serang aku!" bentak naga raksasa itu.
"Baik, demi kebenaran, aku tidak akan sungkan-sungkan," Rangga menjawab tantangan itu.
Tanpa banyak bicara lagi, Pendekar Rajawali Sakti itu segera melancarkan serangan-serangan ke tubuh naga raksasa itu. Beberapa kali pedangnya menyabet tubuh naga itu, tapi setiap kali mata pedangnya membentur tubuh naga itu, Rangga merasakan tangannya jadi bergetar kesemutan.
"Huh! Cuma sampai di situ kau mencuri ilmu warisan keramat!" dengus naga itu.
"Aku bukan pencuri! Terimalah ilmu pamungkasku!" rungut Rangga panas dikatakan pencuri.
Rangga melintangkan pedangnya di depan dada. Dia menempelkan telapak tangan kirinya ke mata pedang. Perlahan-lahan dia menggosok mata pedang itu. Cahaya biru bergumpal-gumpal di ujung pedang.
"Aji 'Cakra Buana Sukma'...!" teriak Rangga menggelegar. "Hiyaaa...!" Glarrr...! Suara ledakan dahsyat terdengar bagai guntur di angkasa. Rangga hampir saja menarik kembali ajiannya melihat naga raksasa itu diam saja, tapi terlambat. Aji 'Cakra Buana Sukma' sudah lebih dulu menghantam naga itu.
"Hah..!" Rangga melongo melihat naga itu tetap utuh. Hampir dia tidak percaya kalau aji pamungkasnya tidak berarti sama sekali pada binatang melata raksasa itu.
"Gila! Apakah dia dewa yang turun ke mayapada ini...?" gumam Rangga setengah tidak percaya.
"Kau tidak sepenuh hati melepaskan aji 'Cakra Buana Sukma', Anak Muda," kata naga itu.
Rangga tidak menyahuti. Dia memang tidak mengerahkan tenaga penuh, tapi walaupun begitu, belum ada yang bisa menandingi aji 'Cakra Buana Sukma'. Rangga seperti pasrah jika dia harus mati di dasar jurang ini. Dia yakin kalau naga ini bukanlah sembarangan ular. Tidak ada lagi yang dia miliki, semuanya sudah terkuras, dan naga itu masih tetap segar tanpa cidera sedikit pun.
"Tidak!" sahut Rangga tegas.
"Ha ha ha...!"
Begitu banyak yang ditanyakan naga raksasa itu, dan Rangga menjawabnya dengan gamblang tanpa ada yang ditutupi atau ditambahkan. Semakin banyak Rangga membuka diri, semakin yakin naga itu kalau Rangga adalah pewaris tunggal yang syah ilmu-ilmu Pendekar Rajawali yang hidup ratusan tahun lalu.
"Hm..., jadi yang mengajarkanmu jurus-jurus Rajawali Sakti itu adalah burung rajawali raksasa?" gumam naga raksasa itu seperti bertanya untuk dirinya sendiri.
"Benar, dan aku memperdalamnya dari membaca buku peninggalan Guru Pendekar Rajawali" sahut Rangga.
"Ratusan tahun aku hidup di dasar jurang ini. Belum ada satu pun manusia yang bisa keluar hidup-hidup dari sini. Aku percaya kau murid tunggal sahabatku. Hanya burung rajawali raksasa sajalah yang mampu ke luar masuk jurang ini," kata naga raksasa itu.
"Kau sahabat guruku...?" Rangga seperti tidak percaya.
"Benar! Ratusan tahun yang lalu aku dikenal dengan nama Satria Naga Emas. Aku dan Pendekar Rajawali adalah dua sahabat yang tidak terkalahkan. Kami jadi jemu dan mengasingkan diri hingga muksa."
Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia memang pernah membaca dalam satu buku tentang Satria Naga Emas yang menjadi sahabat kental Pendekar Rajawali. Tidak diduga sama sekali, sekarang dia berhadapan muka dengan sahabat gurunya yang hidup ratusan tahun lalu. Sesaat Rangga mengernyitkan keningnya ketika tubuh naga raksasa itu mengepulkan asap tipis.
Asap itu semakin lama semakin menebal dan menyelimuti tubuh naga raksasa itu hingga lenyap dari pandangan. Rangga melompat mundur ketika air sungai berwarna merah darah itu bergolak mendidih memperdengarkan suara gemuruh yang amat dahsyat. Dan bersamaan dengan lenyapnya asap yang menyelimuti tubuh naga raksasa itu, di tengah-tengah sungai muncul sebuah bangunan megah bagai istana. Bangunan itu seluruhnya berwarna merah darah, dan atapnya berkilau bagai bermandikan mutiara.
"Heh...!" Rangga tersentak ketika tubuh naga itu berubah wujud jadi seorang manusia tampan mengenakan pakaian indah bersulamkan benang-benang emas berkilauan. Wajahnya yang putih bersih bercahaya. Sinar matanya tajam, namun mengandung kewibawaan dan kearifan. Rambutnya yang panjang lebat tergelung ke atas kepala.
Pendekar Rajawali Sakti itu makin ternganga saat melihat pintu istana merah itu terbuka. Dari dalam muncul beberapa orang laki-laki dan perempuan. Semuanya mengenakan pakaian indah bersulam benang emas. Tampan-tampan dan cantik-cantik paras wajahnya. Kulitnya juga putih bersih bagai orang-orang dari keluarga bangsawan. Orang-orang itu langsung membentuk lingkaran dan berlutut di depan laki-laki tampan jelmaan ular naga raksasa.
"Si..., siapa kau...?" tanya Rangga tergagap.
"Akulah Satria Naga Emas, raja dari segala ular-ular di dunia ini," sahut Satria Naga Emas. Suaranya dalam dan berwibawa.
"Oh...!" Rangga langsung berlutut memberi hormat.
"Bangunlah, kau tamu kehormatanku. tidak sepantasnya kau berlaku sungkan begitu," kata Satria Naga Emas.
Rangga bangkit dari berlutut. Kepalanya tetap tertunduk. Sepertinya dia tidak sanggup membalas tatapan mata raja ular itu. Tatapan matanya begitu dalam, dan memiliki daya kekuatan yang amat dahsyat.
"Kau murid tunggal sahabatku, Rangga, Aku senang bertemu denganmu, dan itu berarti aku bisa memenuhi janjiku pada Pendekar Rajawali sebelum kami berpisah untuk mempersiapkan diri dalam pemuksaan dari mayapada ini," kata Satria Naga Emas itu lagi.
"Janji...? Janji apa?" tanya Rangga.
"Aku dan Pendekar Rajawali punya satu janji. Jika salah satu diantara kami memperoleh pewaris lebih dulu, maka ia akan menjadi pewaris tunggal dua aliran ilmu. Yaitu ilmu-ilmu Rajawali Sakti dan ilmu-ilmu Naga Emas. Itu berarti kau juga adalah muridku," Satria Naga Emas menjelaskan.
Betapa gembiranya hati Rangga mendengar kata-kata itu. Tapi dia tidak mau menunjukkan dirinya senang akan mendapatkan ilmu kepandaian lagi. Dia teringat dengan salah satu kalimat yang pernah dibacanya dalam buku gurunya. Di situ tertera bahwa dirinya tidak diperkenankan mempelajari ilmu kesaktian lain selain ilmu-ilmu Rajawali Sakti. Kalau hal ini sampai dilanggar, maka dia harus berhadapan dengan burung rajawali raksasa bukan sebagai sahabat, tapi sebagai musuh yang harus dibinasakan.
__ADS_1
Teringat dengan kata-kata yang tertulis di dalam buku gurunya itu, Rangga buru-buru menjura memberi hormat. Kemudian tangan kanannya menyilang di dada dengan sikap tegak dan mata tajam memandang Satria Naga Emas.
"Maaf, bukannya aku menolak. Aku bukan seorang murid yang haus akan ilmu kesaktian. Aku tidak mau jadi pengkhianat dengan mencampur dua aliran ilmu," kata Rangga tegas.
"Ha ha ha...," Satria Naga Emas tertawa terbahak-bahak. "Apa lagi yang dikatakan Pendekar Rajawali padamu?"
"Tidak ada," sahut Rangga.
"Suiiit...!" tiba-tiba Satria Naga Emas bersiul nyaring melengking.
Rangga terkejut mendengar suara siulan itu. Belum lagi hilang rasa terkejutnya, dari atas muncul seekor burung rajawali raksasa. Tentu saja Rangga mengenali burung itu. Cepat sekali burung rajawali raksasa itu mendarat dan langsung hinggap di samping Satria Naga Emas.
"Tanyakan sendiri pada wakil gurumu ini, apakah aku pantas menjadi Paman Gurumu atau tidak," kata Satria Naga Emas.
Rangga memandang burung rajawali raksasa itu. Kepala burung itu terangguk-angguk beberapa kali, sepertinya dia mengerti kata-kata yang diucapkan Satria Naga Emas dan pandangan mata Rangga. Burung Rajawali Raksasa itu menjulurkan kepalanya ke arah Rangga, dan mendesak-desakkan kepalanya ke dada pemuda itu.
"Baiklah," desah Rangga. "Aku harus memanggilmu apa?"
"Paman Guru."
Rangga kembali menjura hormat.
"Ha ha ha..., hebat! Ternyata Pendekar Rajawali juga mengajarkan tata sopan santun padamu. Bagus aku suka, kau memang pantas menjadi pewaris tunggal dari dua pendekar digdaya tanpa tanding," Satria Naga Emas tertawa terbahak-bahak kesenangan. "Mari, selama kau mempelajari ilmu-ilmu Naga Emas, kau tinggal di istanaku. Juga sahabatmu ini tinggal bersamaku di sini."
"Terima kasih," ucap Rangga.
"Mari...."
********************
Rangga tidak ingat, berapa lama dia berada di istana Satria Naga Emas. Selama itu pula dia selalu digembleng dalam beberapa jurus dan ilmu kesaktian. Burung rajawali raksasa selalu menunggui dan memberi petunjuk pada Pendekar Rajawali Sakti itu. Satria Naga Emas juga gembira, karena Rangga cepat sekali menangkap maksud-maksudnya.
Selama berada di istana Satria Naga Emas di dasar jurang ini, Rangga selalu saja teringat dengan Pandan Wangi. Perasaan bersalah masih menyelimuti dirinya yang telah menyuruh gadis itu melompati jurang besar ini. Seharusnya dia tahu kalau gadis itu belum mencapai tahap kesempurnaan dalam ilmu meringankan tubuh. Setiap kali ada kesempatan sendiri, Rangga selalu merenung memikirkan Pandan Wangi, dan rupanya ini diperhatikan oleh Satria Naga Emas maupun burung rajawali raksasa. "Kau melamun lagi, Rangga," tegur Satria Naga Emas ketika memergoki Rangga tengah melamun seorang diri.
"Oh!" Rangga buru-buru menjura memberi hormat.
"Apa yang membuatmu melamun?" tanya Satria Naga Emas berwibawa suaranya.
"Tidak apa-apa, Paman Guru," sahut Rangga.
"Hm, sejak pertama kali kau turun ke dasar jurang istanaku, aku sudah menduga kalau kau sengaja turun dengan satu tujuan. Kau mencari seseorang?" tebak Satria Naga Emas.
Rangga terkejut bukan main mendengar tebakan yang tepat itu. Tanpa disadari kepalanya terangguk membenarkan.
"Tentunya sangat istimewa sekali, sehingga kau tidak bisa melupakannya," sindir Satria Naga Emas.
"Maaf, Paman Guru. Bukannya istimewa, tapi aku merasa bersalah karena menyuruhnya melompati jurang ini. Padahal aku tahu kalau ilmu meringankan tubuhnya belum mencapai taraf sempurna. Aku tetap merasa bersalah kalau belum menemukannya dalam keadaan hidup atau mati."
"Bagaimana ciri-cirinya?" tanya Satria Naga Emas.
"Wanita, berkulit kuning langsat, mengenakan baju biru dengan senjata pedang dan kipas," Rangga menyebutkan ciri-ciri Pandan Wangi atau si Kipas Maut.
"Memang banyak wanita-wanita yang terjun ke jurang ini. Kalau tidak tersangkut akar pohon, bisa juga langsung ke dasar. Itu juga ada yang jatuh di tepian sungai, dan ada juga yang tercebur ke sungai," Satria Naga Emas menjelaskan. Rangga diam termenung.
"Aku tidak pernah peduli dengan mereka yang jatuh ke jurang ini, dan semuanya pasti sudah tewas. Rakyatku saja yang senang, karena mereka tidak perlu susah-susah lagi mencari makanan. Di sekitar jurang sudah banyak makanan yang tersedia," sambung Satria Naga Emas lagi.
Rangga tetap diam. Dia bisa memaklumi, karena rakyat Satria Naga Emas semuanya terdiri dari bangsa ular. Dan kebanyakan dari mereka adalah ular-ular siluman yang bisa merubah ujud jadi manusia. Itu pun hanya bisa terlihat oleh orang-orang tertentu saja yang memang diperlihatkan, atau punya kemampuan untuk berhubungan dengan bangsa siluman.
"Mungkin temanmu itu jatuh dan tercebur ke Sungai Merah. Kalau memang jatuh ke sungai, pasti dia hanyut," kata Satria Naga Emas lagi.
"Ke mana Sungai Merah bermuara?" tanya Rangga
"Sebelah Timur Hutan Ganda Mayit, tepatnya di sebuah lembah yang diberi nama Lembah Ular. Di sana rakyatku tinggal," Satria Naga Emas menceritakan.
"Aku harus ke sana...," gumam Rangga mendesah tanpa sadar.
"Percuma saja, Rangga. Di sana sungai itu bercabang dan terus mengalir jauh ke seluruh penjuru daerah Timur ini. Sudah banyak mayat-mayat yang jatuh ke jurang ini ditemukan di sebuah desa yang jauh letaknya dari tempat ini. Mungkin temanmu terbawa arus sungai ini, Rangga."
Pendekar Rajawali Sakti itu kembali terdiam. Dia juga pernah mendengar tentang orang-orang yang dijatuhkan ke dalam jurang ini, dan kembali ditemukan terapung di sungai yang cukup jauh letaknya dari jurang Hutan Ganda Mayit ini.
"Rangga, bagaimana dengan ilmu pamungkas yang kau pelajari terakhir ini?" tanya Satria Naga Emas mengalihkan pembicaraan.
"Aku sudah menyempurnakannya, Paman Guru. Juga ilmu 'Sembilan Langkah ajaib' dan ilmu-ilmu lainnya," sahut Rangga.
"Bagus! Aji 'Batara Naga' adalah ilmu pamungkas pertama yang harus kau kuasai penuh, dan itu berarti kau telah menguasai sepertiga dari ilmu Naga Emas. Tapi ingat, ilmu pamungkas aji 'Batara Naga' itu hanya boleh kau pergunakan dalam keadaan terdesak saja, sama seperti halnya kau menggunakan aji 'Cakra Buana Sukma'," pesan Satria Naga Emas.
"Terima kasih, Paman Guru."
"Besok, saat matahari terbit, kau bisa meninggalkan istanaku ini. Rajawali raksasa akan membawamu kembali ke luar dari jurang ini," kata Satria Naga Emas.
Rangga menjura memberi hormat.
"Dengan sepertiga ilmu Naga Emas, kau sudah sulit mencari lawan yang seimbang. Aku tidak tahu, apakah dengan sedikit ilmu dari Rajawali Sakti kau sudah menjadi seorang yang digdaya atau belum. Mudah-mudahan sedikit ilmuku bisa membuatmu jadi seorang pendekar yang tangguh dan digdaya," Satria Naga Emas memberi wejangan lagi.
"Aku akan mempergunakan sebaik-baiknya, Paman Guru," janji Rangga.
"Bagus! Jika kau memerlukan sesuatu, dimanapun kau berada rakyatku akan senang membantumu."
"Terima kasih."
"Nah! Sekarang beristirahatlah, besok pagi kau boleh meninggalkan tempat ini. Mudah-mudahan kau bisa menemukan kembali temanmu itu."
__ADS_1
Rangga kembali menjura hormat.
********************