Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Pertarungan Bukit Setan Bag. 3


__ADS_3

Dalam perjalanan, Pandan Wangi dengan gamblang menceritakan tentang Kitab Naga Sewu yang kini jadi rebutan tokoh-tokoh sakti rimba persilatan. Sementara Rangga mendengarkannya dengan penuh perhatian. Gadis itu tidak ragu-ragu kalau Pendekar Rajawali Sakti ini berpihak padanya. Tidak ada yang ditutupi mengenai Kitab Naga Sewu.


"Jadi, siapa sebenarnya yang berhak memiliki kitab itu?" tanya Rangga.


"Tidak seorang pun," sahut Pandan Wangi.


"Tidak seorang pun?" Rangga mengernyitkan alisnya. "Apakah pertapa Eyang Sokalima tidak mempunyai murid?"


Pandan Wangi menggelengkan kepalanya.


"Lantas, kenapa kau terlibat?"


"Aku sendiri tidak tahu. Seminggu yang lalu, aku menolong seorang saudagar yang dirampok di tengah hutan Bukit Setan oleh Empat Setan Jagal. Dan setelah kejadian itu, tersebar kabar kalau Kitab Naga Sewu ada di tanganku. Katanya kucuri dari Bukit Setan."


"Apa kitab itu sebelumnya memang ada di sana?" tanya Rangga lagi.


"Entahlah. Mungkin juga iya! Soalnya Eyang Sokalima menghabiskan sisa hidupnya di puncak bukit itu, sebelum Empat Setan Jagal menempatnya."


"Kau pernah ke puncak Bukit Setan?"


"Pernah, ketika melarikan diri dari kejaran Empat Setan Jagal. Dua hari aku sembunyi di sana."


"Pantas, kau dituduh telah menemukan Kitab Naga Sewu," gumam Rangga.


"Tapi, aku tidak pernah melihat kitab itu!" sangkal Pandan Wangi.


"Aku percaya, tapi sekarang keadaanmu sangat terancam. Kabar tentang Kitab Naga Sewu yang ada di tanganmu sudah tersebar luas. Rasanya sulit untuk mengelak lagi. Mau tidak mau harus kau hadapi semuanya."


"Huh, hanya karena satu kitab saja, jadi saling bunuh!" rungut Pandan Wangi.


"Itulah dunia persilatan. Semua orang seperti sudah gila akan ilmu kesaktian. Tidak peduli nyawa akan melayang, selalu memburu yang lebih tinggi."


"Kau sendiri, apakah tidak tertarik memiliki Kitab Naga Sewu?"


"Aku tidak pernah tertarik dengan sesuatu yang belum pasti kebenarannya."


"Ilmu Naga Sewu sangat dahsyat. Tidak ada seorang pun yang bisa menandinginya. Kalau kitab itu jatuh ke tangan orang jahat, dunia persilatan pasti akan hancur. Lebih-lebih kalau yang menguasai ilmu itu memiliki Pedang Naga Geni! Dapat dipastikan akan merajai seluruh rimba persilatan."


"Pedang Naga Geni...?"


"lya, pedang sakti milik Eyang Sokalima."


"Siapa orang yang memiliki pedang itu?"


"Aku tidak tahu. Kabarnya pedang itu juga lenyap bersama kitabnya. Makanya tokoh-tokoh rimba persilatan jadi saling bunuh hanya untuk menguasai benda-benda pusaka itu."


Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia sudah mengerti sepenuhnya mengenai Kitab Naga Sewu dan Pedang Naga Geni yang kini tengah dicari-cari dan diributkan. Sementara langkah mereka terhenti karena di depan telah menghadang sebuah sungai besar, lagi deras. Rangga mengedarkan pandangannya. Tidak ada satu rakit pun ditepi sungai ini.


Mata Pendekar Rajawali Sakti itu menatap lurus ke sebuah perkampungan di seberang sungai yang kelihatannya ramai. Beberapa perahu tertambat di sana. Sungai ini hanya bagian tengahnya saja yang mengalir deras, sedangkan tepiannya kelihatan tenang.


"Sungai apa ini namanya?" tanya Rangga yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini.


"Sungai Banyu Biru," sahut Pandan Wangi.


"Desa itu?"


"Desa Banyu Biru. Bukit Setan di belakang desa itu," Pandan Wangi menjelaskan sambil menunjuk ke satu arah.


Rangga menatap sebuah bukit yang melatar belakangi desa Banyu Biru. Sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi, namun kelihatan lebat seperti tidak pernah terjamah oleh manusia.


"Sampai kapan di sini terus?" tanya Pandan Wangi kesal melihat Rangga berdiri mematung saja.


"Aku sedang memikirkan rencana untuk mengalihkan perhatian mereka," kata Rangga sambil duduk bersandar di bawah pohon.


"Maksudmu?" tanya Pandan Wangi tetap berdiri.


"Kau mau terus-menerus jadi buronan? Dikejar ke sana kemari seperti tikus?" Rangga malah balik bertanya.


Pandan Wangi tidak mengerti arah pembicaraan Pendekar Rajawali Sakti ini. Dia lalu mendekat dan duduk di depan Rangga. Sinar matanya memancarkan rasa ingin tahu akan rencana di kepala Rangga. Rangga mengemukakan rencana itu. Pandan Wangi mendengarkan dengan penuh perhatian. Wajahnya berseri-seri mendengar rencana pendekar muda dan tampan ini. Entah kenapa, mendadak saja dia jadi mengagumi pemuda yang tidak hanya digdaya, tapi juga memiliki otak yang cerdas.


"Kakang, kau akan ke mana?" tanya Pandan Wangi melihat Rangga beranjak pergi.


"Tunggu saja di sini sampai aku kembali," sahut Rangga sambil memungut kulit kayu yang cukup lebar.


Dilemparkannya kulit kayu itu ke sungai, lalu dengan ringan tubuhnya melayang. Saat mendarat diatas kulit kayu yang terapung, Pendekar Rajawali Sakti Itu meluncur di atas bagai anak panah lepas dari busurnya.


Pandan Wangi memandang hingga terbengong-bengong. Tidak sembarang orang bisa meluncur di atas air hanya dengan menggunakan selembar kulit kayu yang besarnya tidak lebih dari telapak tangan. Suatu pertunjukan ilmu meringankan tubuh yang sempurna sekali. Pandan Wangi yang sudah percaya penuh pada pendekar muda itu, mencari tempat yang enak dan terlindung untuk menunggu. Dia membaringkan tubuhnya di balik semak-semak yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Rangga...," bibirnya menggumamkan nama Pendekar Rajawali Sakti. Gila! Kenapa jadi memikirkan dia? Rungut Pandan Wangi dalam hati. Tapi..., ah! Wajah itu, rasanya sulit untuk dihilangkan dari bayang-bayang mata.


Pandan Wangi gelisah sendiri menunggu kedatangan pendekar muda yang tampan. Pendekar yang tanpa disadari telah merenggut sekeping hatinya. Tidak! Aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Aku ti.... Uh!


Pandan Wangi menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengusir bayang-bayang Rangga yang terus-menerus bermain-main dipelupuk matanya. Semakin dicoba melupakan dan mengusir wajah Rangga yang terus menggoda, semakin jelas tergambar di depan matanya. Pandan Wangi tersiksa sendiri. Begitu tersiksanya, sehingga jadi lelah dan tertidur dalam belaian angin yang lembut.


********************


Rangga menikmati keramaian desa di tepi sungai Banyu Biru. Sepertinya tidak pantas kalau disebut desa. Banyak perahu-perahu besar dan kecil, bersandar dan singgah di desa yang ramai ini. Keramaiannya tidak kalah dengan sebuah kota. Rumah-rumah penduduk juga indah dan besar. Tidak terlalu sulit bagi Rangga mencari rumah makan. Di desa Banyu Biru ini banyak tersebar rumah makan dan penginapan. Pasarnya pun cukup ramai. Berbagai barang diperjual-belikan di sini.


Rangga menghampiri seorang laki-laki tua yang menjajakan pakaian. Macam-macam warna dan ukuran pakaian ada di sini. Pakaian laki-laki, perempuan dan anak-anak terhampar. Laki-laki tua pedagang pakaian itu terbungkuk-bungkuk menerima kedatangan Rangga.


"Mau beli pakaian, Den?" penjaja tua itu menawarkan.

__ADS_1


"Iya, Pak. Tolong ambilkan pakaian perempuan," sahut Rangga.


"Perempuan?" pedagang tua itu mengerutkan keningnya.


"Iya, kenapa?"


"Ah, tidak apa-apa. Tapi rasanya kok aneh. Laki-laki beli pakaian perempuan."


"Buat istri saya, Pak."


"Oh..., memangnya istri Aden ada di mana?"


"Di rumah, jaga anak," jawab Rangga asal saja.


Pedagang tua itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kira-kira sebesar apa istri Aden?" tanyanya.


"Hm...," Rangga celingukan. "Nah, itu! Persis seperti perempuan yang pakai baju kuning itu."


Pedagang tua itu mengarahkan pandangannya ke tempat yang ditunjuk Rangga. Kepalanya kembali terangguk-angguk dengan bibir menyunggingkan senyum.


"Pasti istri Aden cantik," pujinya tulus. Betapa tidak? Wanita yang ditunjuk Rangga seorang wanita cantik dengan bentuk tubuh yang indah mempesona.


"Kalau ada, warnanya putih," kata Rangga.


"Ada..., ada."


Pedagang tua itu mengambil seperangkat pakaian yang diinginkan Rangga, kemudian membungkusnya dengan rapi. Rangga menerima dan membayar sesuai dengan harga yang disebutkan pedagang tua itu. Setelah mengucapkan terima kasih, Rangga berlalu dari situ. Matanya masih sempat melirik wanita berbaju kuning yang masih duduk di kedai makan yang cukup terbuka.


Rangga mengernyitkan alisnya ketika melihat ikat pinggang wanita itu berwarna kuning emas, dan tampaknya terbuat dari logam yang lunak dan tipis. Tanpa disadari, kakinya terayun ke kedai itu. Rangga duduk agak jauh di depan wanita yang menarik hatinya. Dipesannya seguci arak pada pelayan yang datang menghampiri.


"Tuan kenal dengan wanita itu?" tiba-tiba pelayan berbisik setelah meletakkan seguci arak di meja Rangga.


Tentu saja Pendekar Rajawali Sakti itu terkejut. Sungguh mati tidak disadarinya kalau pelayan itu sejak tadi memperhatikan dirinya. Rangga malu sendiri ketika kepergok memandangi seorang wanita cantik yang belum dikenalnya sama sekali.


"Dia juga pendatang seperti Tuan," kata pelayan Itu lagi.


"Kau kenal?" tanya Rangga.


"Semua orang di desa Banyu Biru kenal dia," sahut pelayan itu.


Rangga mengernyitkan keningnya.


"Pelayan...!" tiba-tiba wanita berbaju kuning itu berseru.


"Oh! Sebentar. Sebentar, Tuan," kata pelayan itu.


Bergegas dihampirinya wanita cantik yang berpakaian kuning itu. Rangga memperhatikan saja sambil menuang arak dan meminumnya. Pelayan itu mengangguk-angguk dan terbungkuk-bungkuk di depan perempuan itu yang bicara setengah berbisik.


Kening Rangga makin berkerut ketika pelayan tadi datang kembali padanya. Dia terbungkuk-bungkuk di depan Rangga. Sekilas dari sudut ekor matanya, Rangga menangkap kalau wanita itu juga tengah memandang ke arahnya.


"Aku...?" Rangga seperti tidak percaya.


Wanita itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Rangga membalas dengan anggukan kecil.


"Terima kasih," ucap Rangga sambil bangkit berdiri. Diletakkannya tiga keping uang perak di atas meja.


Pelayan itu membeliak melihat tiga keping uang perak di atas meja. Jelas terlalu banyak untuk membayar satu guci arak. Tiga keping uang perak bisa untuk membayar sepuluh guci arak manis. Rangga tidak mempedulikan pelayan yang bengong seperti kejatuhan bulan, dan terus melangkah menghampiri wanita cantik berbaju kuning.


"Anda memanggilku, Nona?" tanya Rangga sopan.


"Duduklah," sahut wanita itu. Suaranya lembut dan halus.


"Terima kasih."


Rangga duduk di depan wanita cantik itu. Hanya sebuah meja kecil bersegi empat yang membatasi. Wanita itu menuangkan arak ke dalam gelas perak, dan menyodorkan pada Rangga. Bibirnya menyunggingkan senyum manis.


"Maaf, aku tidak biasa minum dengan orang yang belum kukenal," kata Rangga tanpa sedikit pun bermaksud menyinggung.


"Aku Klenting Kuning, dan kau?"


"Rangga."


"Tidak keberatan minum bersamaku, 'kan?"


"Sama sekali tidak."


Rangga meraih gelas perak yang telah terisi arak berbau harum. Hanya sedikit pendekar muda itu meneguk arak harum dan manis. Dia masih belum mengerti dengan sikap Klenting Kuning.


"Kau pendatang di desa Banyu Biru ini?" tanya Klenting Kuning.


"Iya," sahut Rangga singkat.


"Akhir-akhir ini banyak sekali pendatang ke sini," Klenting Kuning bergumam.


Rangga mengedarkan pandangannya berkeliling. Dia baru sadar kalau di sekitar tempat ini memang banyak orang hilir-mudik. Di antara para penduduk, terlihat orang-orang yang kelihatannya pendatang. Dilihat dari cara berpakaiannya serta senjata yang disandang, dapat diketahui kalau mereka bukanlah orang-orang sembarangan. Jelas kalau desa ini telah dipenuhi oleh tokoh-tokoh rimba persilatan.


"Kau juga ingin ke Bukit Setan itu?" tanya Klenting Kuning.


"Bukit Setan...?!" Rangga sampai ternganga saking terkejutnya.


"Kenapa? Kau tampak terkejut sekali mendengar Bukit Setan."

__ADS_1


"Ah, tidak. Aku hanya heran saja, untuk apa mereka datang kesana?"


"Mereka memiliki kepandaian cukup tinggi. Tentu saja tujuannya mencari Kitab Naga Sewu dan Pedang Naga Geni."


"Kenapa harus ke Bukit Setan?" tanya Rangga. Dia makin tertarik ingin mengetahui lebih banyak lagi.


"Tampaknya kau tidak tahu sama sekali tentang Bukit Setan," gumam Klenting Kuning.


"Aku ke sini hanya kebetulan saja singgah," Rangga menjelaskan.


"Kau seorang pendekar?" tanya Klenting Kuning seolah menyelidik.


"Bukan," sahut Rangga.


"Kenapa membawa pedang?"


"Hanya untuk jaga diri."


Klenting Kuning tersenyum penuh arti dan sulit dilebak. Rangga sendiri masih belum tahu maksud wanita cantik ini mengundangnya minum. Benaknya masih bertanya-tanya. Dia jadi teringat akan Pandan Wangi serta rencananya untuk menolong gadis itu dari incaran tokoh- tokoh rimba persilatan yang gila benda pusaka.


"Kau ingin tahu tentang Kitab Naga Sewu dan Pedang Naga Geni?" Klenting Kuning menawarkan.


Tentu saja Rangga gembira mendengar tawaran yang memang sedang ditunggu-tunggu. Dia pun mengangguk pasti. Klenting Kuning kembali tersenyum manis.


"Sebaiknya kita tidak bicara di sini," kata Klenting Kuning.


"Kenapa?"


"Ikut aku," Klenting Kuning tidak menyahuti pertanyaan Rangga.


Rangga yang masih penasaran dengan wanita cantik itu, menurut dan bangkit berdiri. Mata Rangga sempat melirik Klenting Kuning yang melempar dua keping uang emas ke atas meja. Bibirnya tersenyum melihat dua keping uang emas itu jatuh tanpa menimbulkan suara dimeja. Kini mereka melangkah ke Iuar kedai.


********************


Rangga memandangi kamar yang ditata indah, seperti layaknya kamar putri bangsawan. Meja, kursi, dan lemari terbuat dari kayu jati berukir indah. Tempat tidur berlapis kain sutra halus merah muda. Lantai beralaskan permadani berbulu tebal dan Iembut. Rasanya Rangga memasuki sebuah kamar peristirahatan bidadari.


Klenting Kuning menghenyakkan tubuhnya yang indah di atas pembaringan. Sikapnya begitu mempesona, seakan sengaja mengundang pendekar muda itu untuk bercumbu. Rangga duduk dikursi, matanya mamandangi tubuh ramping yang tergolek menantang. Hatinya mulai terasa tidak enak berada dalam kamar bersama seorang wanita cantik dengan tubuh yang menggairahkan.


"Katakan, apa yang kau ketahui tentang Kitab Naga Sewu dan Pedang Naga Geni?" Rangga merasa lidak betah berlama-lama di kamar ini.


"Kenapa harus buru-buru? Kau tidak ingin sedikit bersenang-senang, Rangga?" Iembut merayu suara Klenting Kuning.


Rangga merasa jengah. Dia bangkit berdiri dan berjalan ke pintu.


"Mau ke mana? Pintu itu terkunci," kata Klenting Kuning.


Rangga merasakan dirinya sudah masuk ke dalam perangkap. Di cobanya pintu kamar itu dibuka. Benar, pintu itu telah terkunci. Dengan hati gundah, pendekar muda itu berbalik. Matanya hampir melompat keluar mendapatkan Klenting Kuning kini hampir tidak berpakaian lagi.


Beberapa bagian tubuhnya menyembul menantang. Mendadak dada Rangga terasa sesak, dan napasnya sulit dikendalikan. Klenting Kuning menggerak-gerakkan bibirnya yang merah merekah. Dia beringsut sedikit, membetulkan kain surra merah muda yang menutupi tubuhnya. Dia pun kini turun dari pembaringan, melangkah menghampiri Pendekar Rajawali Sakti itu. Bau harum semerbak tercium saat Klenting Kuning mengayunkan langkahnya.


"Apa yang kau...."


"Ssst...," Klenting Kuning menutup bibir Rangga dengan jari-jari tangannya yang Ientik.


Detak jantung Rangga makin bergemuruh, bagai ombak di pantai menghantam karang. Bau harum semakin menusuk lubang hidungnya. Rangga merasakan kepalanya menjadi berat, dan pandangannya mulai kabur. Klenting Kuning merapatkan tubuhnya. Kedua tangannya melingkar di Ieher pemuda tampan dan gagah itu. Begitu dekat wajah mereka sehingga deru napas Klenting Kuning menerpa hangat di kulit wajah Rangga.


Klenting Kuning mulai menciumi wajah dan leher Rangga. Napasnya mendengus-dengus memburu bagai kuda betina liar. Entah kenapa, Rangga seperti tidak memiliki daya sama sekali. Pikirannya kacau. Bau harum yang menyengat hidung seperti ingin membangkitkan gairah kejantanannya. Laki-laki muda itu kehilangan kesadarannya. Dia menurut saja ketika Klenting Kuning menariknya ke pembaringan.


Mereka duduk di pembaringan. Klenting Kuning menggerak-gerakkan tubuhnya, sehingga kain sutra yang membelit tubuhnya merosot turun. Tampak dua bukit kembar putih menonjol indah. Mata Rangga semakin berkunang-kunang melihat tubuh putih mului menantang di depannya tanpa penutup sama sekali.


"Kraaagh...!" tiba-tiba terdengar suara keras mengaung di telinga Rangga.


"Rajawali Sakti...," desis Rangga seketika.


Begitu terdengar lagi suara berkaok yang nyaring. Rangga langsung melompat dari pembaringan. Tangannya menyambar pakaian dan pedangnya yang sudah terlepas.


"Apa..., apa yang telah kau lakukan?" Rangga seperti baru tersadar dari mimpi.


"Ayolah, sayang. Kenapa bengong di situ?" lembut suara Klenting Kuning merayu.


"Kau...? Oh, tidak!"


Rangga kembali membeliak melihat tubuh indah tergolek dipembaringan tanpa benang sehelai pun menempel di tubuhnya. Bergegas dikenakan kembali pakaiannya, dan disampirkan pedang pusakanya dipunggung. Kesadaran Pendekar Rajawali Sakti berangsur pulih. Suara burung Rajawali Sakti yang merawat dan membimbingnya sejak kecil telah membuka kembali mata dan kesadarannya yang sempat tertutup tadi.


"Rangga...! Kau mau ke mana?" teriak Klentin Kuning melihat Rangga membuka pintu kamar.


"Hih! Rangga mengerahkan tenaga dalam untuk membuka pintu yang terkunci.


"Percuma, Sayang. Pintu itu tidak akan terbuka tanpa seijinku," kata Klenting Kuning.


Rangga membalikkan tubuhnya. Dia langsung memalingkan muka saat melihat tubuh Klenting Kuning yang polos duduk di sisi pembaringan. Mata Pendekar Rajawali Sakti itu berkeliling mencari celah untuk bisa keluar dari kamar yang dipenuhi oleh hawa nafsu birahi.


"Hiya...!" tiba-tiba Rangga berteriak nyaring. Seketika tubuhnya mencelat tinggi ke udara. Pendekar muda itu mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu membumbung menerjang atap. Sekali terjang saja atap kamar yang terbuat dari lempengan baja tipis itu jebol, bersamaan dengan melesatnya tubuh Rangga.


"Rangga...!" teriak Klenting Kuning terkejut.


Bergegas wanita cantik itu mengenakan pakaiannya, lalu tubuhnya melenting menembus atap yang telah jebol. Klenting Kuning bertengger di atas atap. Matanya nyalang memandang ke sekelilingnya. Tidak nampak sedikit pun bayangan Pendekar Rajawali Sakti


"Huh, sial!" rungut Klenting Kuning.


Klenting Kuning melentingkan tubuhnya, lalu turun dengan manis mendarat di tanah. Dia berdiri di depan rumah kecil miliknya. Rumah yang dibangun di atas tanah dan ditata indah, bagai sebuah taman surgawi milik dewa-dewi kahyangan. Klenting Kuning mengedarkan pandangannya kembali berkeliling, masih mengharap dapat melihat bayangan pemuda tampam yang telah menarik hatinya.

__ADS_1


"Rangga..., kau gagah dan tampan sekali. Ke mana pun kau pergi, aku pasti akan mendapatkanmu, gumam Klenting Kuning.


********************


__ADS_2