Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Sepasang Walet Merah Bag. 2


__ADS_3

Tiba-tiba saja Klabang Hijau melesat ke udara. Setelah berputar satu kali, dalam keadaan masih di atas, disentakkan tangan kanannya Sepasang Walet Merah tahu betul kalau Klabang Hijau tengah mengeluarkan jurus Kala Wisa yang sangat berbahaya.


Tidak semua tokoh mampu menandingi jurus 'Kala Wisa' termasuk Sarmapala yang hanya mengandalkan ilmu kanuragan dan sedikit menguasai ilmu kesaktian lainnya. Dapat dipastikan jika Kala Wisa menghantam Sarmapala, dia pasti tewas seketika dengan tubuh membiru. Pukulan jarak jauh Kala Wisa memiliki gelombang racun yang sangat mematikan.


Cras!


Pada detik yang sangat kritis dan mendebarkan itu, tiba-tiba saja sebuah bayangan berkelebat cepat memapak serangan Klabang Hijau.


"Setan belang! Siapa berani mencampuri urusanku?!" umpat Klabang Hijau gusar, karena serangannya patah di tengah jalan.


"Tidak kusangka, nama besar Klabang Hijau ternyata hanya untuk menakut-nakuti bocah kemarin sore," terdengar suara serak dan parau.


Semua mata langsung tertuju pada arah suara tadi. Tampak seorang perempuan tua berambut putih seluruhnya, berdiri di atas batu besar sebesar kerbau. Orang mengenalinya dari sabuk hitam yang melilit pinggangnya. Namanya, Nenek Sumbing.


"Tidak ada gunanya kalian mengadu nyawa di sini," kata Nenek Sumbing lagi. Suaranya tetap terdengar serak dan parau.


"Ha ha ha..., ternyata mulutnya yang somplak mampu juga memberi nasihat," Sarmapala tertawa mengejek.


Nenek Sumbing hanya tersenyum. Bibirnya yang telah sobek bagian atas semakin jelek dipandang. Senyuman itu juga lebih mirip seringaian. Gigi-giginya yang hitam mencuat ke luar.


"Kau datang ke desa ini tentunya bermaksud ke Bukit Batok. Aku rasa langkahmu hanya untuk mengantar nyawa saja, anak muda," tenang Nenek Sumbing berkata.


Merah padam wajah Sarmapala ketika mendengar ucapan Nenek Sumbing yang bernada tenang itu, namun membuat panas telinga. Jelas kalau perempuan tua itu meremehkan dirinya.


"Nenek jelek! Semua orang tahu kalau Cupu Manik Tunjung Biru milik siapa saja yang berhasil mendapatkannya. Pusaka itu bukan hanya milik kalian kaum rimba persilatan!" kata Sarmapala keras dengan nada gusar.


Kata-kata yang diucapkan lantang dan keras, membuat Sepasang Walet Merah yang sejak tadi mengamati mereka, menjadi tersentak kaget. Ternyata berita tentang pusaka Cupu Manik Tunjung Biru sudah tersebar begitu luas. Bukan hanya tokoh-tokoh rimba persilatan saja yang ingin memilikinya, tetapi orang-orang kerajaan seperti Sarmapala ini pun juga tertarik.


"Rasanya tidak ada gunanya berdebat di sini. Kalau kau punya nyali, kita dapat saling mengadu nyawa nanti di Goa Larangan Bukit Batok," kata Nenek Sumbing seraya mencelat tinggi dan lenyap di antara rumah-rumah penduduk.


"Perhitungan kita belum selesai, Klabang Hijau," Sarmapala langsung menatap Klabang Hijau. Dia tidak peduli lagi dengan Nenek Sumbing yang entah sudah pergi ke mana.


"He he he...," Klabang Hijau terkekeh, kemudian dibalikkan tubuhnya, lalu melangkah.


"Hey, tunggu! Kau tidak bisa pergi begitu saja sebelum salah satu di antara kita mati!" teriak Sarmapala lantang.


"Percuma aku melayanimu. Buang-buang tenaga saja," dengus Klabang Hijau terus saja berlalu.


Dengan kemarahan memuncak, Sarmapala berteriak nyaring sambil melompat membabatkan pedangnya. Namun ketika mata pedangnya hampir menyentuh tubuh Klabang Hijau, sekejap saja sasarannya telah melompat tinggi dan telah hinggap di atas genteng rumah penginapan.


"Kutunggu kau di Goa Larangan Bukit Batok," kata Klabang Hijau sambil melompat dan hilang di antara pepohonan.


"Pengecut!" umpat Sarmapala geram. Sambil bersungut-sungut, Dihampirinya kudanya yang ditambatkan di depan rumah penginapan. Setelah melompat ringan ke punggung kuda putih tunggangannya, kuda itu pun melesat bagai anak panah lepas dari busur ketika digebah tali kekangnya.


Sepasang Walet Merah yang sejak tadi memperhatikan, hanya diam saja melihat kejadian itu. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Sebentar saja keadaan di depan rumah penginapan kembali sunyi lengang. Sementara senja telah semakin merayap menjelang malam. Suasana gelap mulai menyelimuti desa itu.


"Mereka pasti menuju makam Eyang Resi," gumam Jaka.


Wulan hanya memandang Jaka tanpa bicara.


"Kau dengar kata-kata Nenek Sumbing tadi, Wulan?" tanya Jaka.


"Ya," sahut Wulan.


"Mereka menyangka Cupu Manik Tunjung Biru ada di Goa Larangan Bukit Batok. Dan kau tahu di dalam goa itu Eyang Resi Suralaga dimakamkan. Apakah kita hanya berdiam diri saja?"


"Aku tidak rela makam eyang diobrak-abrik tangan-tangan kotor!" dengus Wulan geram.


Tanpa banyak bicara lagi, mereka melompat ke punggung kuda masing-masing. Secepat kilat digebah kuda tunggangan mereka, kembali ke Bukit Batok. Sepasang Walet Merah kini semakin yakin bahwa benda pusaka yang tengah diperebutkan dan dicari-cari tokoh-tokoh rimba persilatan adalah milik Eyang Resi Suralaga.


Benda pusaka yang bernama Cupu Manik Tunjung Biru kini jadi rebutan setelah pemiliknya meninggal dunia. Eyang Resi Suralaga memang tidak pernah cerita panjang lebar mengenai hal itu. Tetapi kata-kata terakhirnya yang merupakan teka-teki, kini hampir terungkap. Bahkan sekarang jadi permasalahan serius.


Sepasang Walet Merah belum tahu, apa manfaat pusaka itu bagi orang lain. Mereka sampai rela mengadu nyawa hanya untuk memperebutkan sebuah cupu yang belum ketahuan bentuk dan khasiatnya. Bagi Sepasang Walet Merah cupu itu sangat bermanfaat. Tapi bagi orang lain? Ini yang menjadi pertanyaan.


********************


Bukit Batok tampak berdiri angkuh terselimuti kabut tebal yang bergerak tertiup angin. Bukit yang semula tidak dikenal, kini mendadak jadi pusat perhatian. Setiap hari selalu saja ada yang pergi ke sana. Tujuan mereka hanya satu. Cupu Manik Tunjung Biru.


Kini Goa Larangan Bukit Batok ramai oleh tokoh-tokoh rimba persilatan baik dari golongan putih maupun hitam. Mereka datang sendiri-sendiri, dan ada pula yang bersama murid-muridnya. Bahkan terlihat pula serombongan prajurit-prajurit kerajaan yang dibagi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok dipimpin seorang punggawa atau pembesar kerajaan.


Walaupun maksud memiliki Cupu Manik Tunjung Biru berlainan, tapi yang jelas orang-orang dari segala penjuru telah berdatangan ke Bukit batok. Tempat itu kini seperti akan diadakan pesta saja. Bahkan ada beberapa kelompok orang yang hanya memiliki kepandaian pas-pasan ikut hadir. Mereka rata-rata hanya ingin melihat saja tokoh-tokoh tingkat tinggi saling bertarung untuk memperebutkan benda yang bukan miliknya.


"Tidak kusangka, Cupu Manik Tunjung Biru punya daya tarik luar biasa," gumam seorang pemuda sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Pemuda itu bertubuh kurus jangkung. Sepasang matanya bulat cekung, masuk ke dalam di antara dua pipinya yang kempot. Namun masih juga terlihat garis-garis ketampanannya dengan kulit yang kuning langsat. Pakaiannya rapi perlente bagai seorang pangeran. Di sampingnya berdiri seorang pemuda dengan bentuk tubuh dan wajah yang sama. Pakaiannya pun persis sama. Sulit membedakan kalau mereka berdampingan bersama. Mereka dikenal dengan julukan si Setan Kembar.


"Kau lihat, Adik Sencaki. Pihak kerajaan ternyata berminat juga dengan Cupu Manik Tunjung Biru," kata pemuda itu lagi yang bernama Sencaka.


"Ya, mereka datang secara terbuka," sahut Sencaki. Matanya meneliti keadaan sekitar. Sepertinya tempat ini tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.


Di balik pepohonan, batu-batu, bahkan di pucuk-pucuk pohon sudah dihuni tokoh-tokoh rimba persilatan yang selalu mengincar kesempatan untuk menembus Goa Larangan.


Tiba-tiba mata Sencaki yang tajam menangkap sepasang anak muda berpakaian serba merah tengah duduk di atas punggung kuda. Memang agak jauh dari tempat ini, tapi jelas kalau mereka tengah mengawasi keadaan sekitarnya.


"Bukankah itu Sepasang Walet Merah?" Sencaki seperti bertanya pada diri sendiri.


"Benar. Rupanya kau melihat juga," sahut Sencaka.


"Kelihatannya mereka tenang-tenang saja, Kakang," kata Sencaki tidak mengalihkan perhatian pada Sepasang Walet Merah.


"Mungkin cupu itu telah berada di tangannya," sahut Sencaka menebak.


"Kalau begitu, untuk apa kita berada di sini? Bukankah lebih baik merebut cupu itu dari tangan mereka?'


"Jangan terburu nafsu. Lihat dulu perkembangan. Biarkan orang-orang dungu itu saling bunuh! Dengan demikian, rintangan kita berkurang."


Sencaki mengangguk-anggukkan kepalanya. Matanya tetap tidak berkedip mengawasi Sepasang Walet Merah yang berada di puncak bukit. Dari puncak itu memang bisa terlihat jelas keadaan di sekitar Goa Larangan.


"Aku yakin Sepasang Walet Merah tidak rela tempat ini dijadikan ajang pertempuran," gumam Sencaki.


"Mereka juga harus berpikir dua kali untuk langsung turun tangan. Kau lihat saja di situ. Ada Nenek Sumbing, Klabang Hijau, Pendekar Mata Elang, dan hampir seluruh tokoh sakti tumplek di tempat ini. Kita sendiri belum tentu mampu menandingi salah satu di antara mereka."


"Jadi, menurutmu bagaimana, Kakang?"

__ADS_1


"Diam di sini sambil mengamati perkembangan. Dan kau jangan lepas mengawasi setiap gerak Sepasang Walet Merah."


Sencaki mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia mengerti maksud kakak kembarnya ini. Dalam keadaan seperti ini, memang bukan tenaga dan kesaktian yang diperlukan, tapi kelicikan dan kecerdikan lah yang bermain. Siapa yang lebih cerdik, dia yang berhasil mendapatkan Cupu Manik Tunjung Biru.


Tapi bukan si Setan Kembar saja yang punya pikiran seperti itu. Tidak jauh dari mereka, juga terlihat lima orang bertubuh kekar dengan golok tersampir di punggung. Mereka lebih di kenal dengan sebutan Lima Golok Neraka.


"Rasanya aku sudah tidak sabar lagi," gumam salah seorang dari Lima Golok Neraka yang mengenakan baju berwarna kuning.


"Sabar, Baga Kuning. Kita datang ke sini untuk mendapatkan Cupu Manik Tunjung Biru. Bukan untuk mengantarkan nyawa sia-sia!" kata seorang lagi yang mengenakan baju biru.


Memang kelima orang itu dapat dikenal namanya dari pakaian yang dikenakan. Warna yang berbeda merupakan ciri khas dari nama mereka.


"Lalu sampai kapan kita harus menunggu? Rasanya tanganku sudah gatal," sembur Baga Ungu.


"Ingat, Baga Ungu, Baga Kuning, dan kalian semua. Keadaan seperti ini sudah kita duga sebelumnya. Dan cara yang terbaik bukan dengan jalan adu otot dan ilmu kesaktian, tapi!" kata Baga Biru sambil telunjuknya diketuk-ketukkan ke keningnya sendiri. Memang, adik-adiknya sudah tidak sabaran lagi untuk mendapatkan benda pusaka itu.


"Lalu bagaimana menurut pikiranmu?" tanya Baga Putih.


Baga Biru tidak segera menjawab. Dia sendiri tengah memikirkan cara terbaik agar dapat memenangkan persaingan ini tanpa terlalu menguras tenaga. Masalahnya, yang datang ke Bukit Batok ini bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka rata-rata memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Jadi tidak mungkin menghadapi mereka semua dengan mengandalkan ilmu olah kanuragan dan kesaktian.


Langkah yang terpenting sekarang adalah dapat menjaga emosi, dan mencari yang tepat tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga. Tentu saja hal ini membutuhkan kerja otak yang berat. Kecerdikan lebih berperan untuk memenangkan persaingan ini.


Pada saat Baga Biru memeras otak, tiba-tiba terdengar ribut-ribut yang disusul suara jerit kematian. Tampak satu pasukan berseragam prajurit kerajaan porak-poranda bagai diterjang banteng liar yang mengamuk. Beberapa mayat terlihat bergelimpangan dengan dada tertembus batang panah.


"Ada apa?" tanya Baga Biru.


"Ada orang gila membantai prajurit kerajaan," sahut Baga Kuning.


Mata Baga Biru membeliak melihat anak-anak panah datang bagai hujan membantai para prajurit itu. Bukan hanya satu kelompok pasukan saja yang mengalami hal ini Kelompok-kelompok lain pun ikut kacau dengan datangnya hujan panah secara tiba-tiba itu. Jerit melengking disertai tumbangnya beberapa tubuh manusia mewarnai keadaan Bukit Batok.


Semua orang yang ada di situ langsung memusatkan perhatian pada kejadian yang datang secara tiba-tiba itu. Terlihat beberapa prajurit yang masih hidup berusaha menyelamatkan diri. Namun karena derasnya anak panah yang datang, seperti tak ada kesempatan lagi buat mereka untuk meloloskan diri. Satu dua anak panah dapat mereka hindari, tapi anak panah berikutnya berhasil menembus tubuh mereka.


Malang benar nasib mereka. Siapakah orang yang begitu tega dan kejam membantai puluhan orang tanpa diberi kesempatan sedikit pun untuk balas menyerang? Anak-anak panah itu bagai datang dari segala penjuru. Hanya mata yang telah terlatih baik saja yang dapat melihat kalau anak panah itu datang dari satu arah.


Kini jeritan kematian yang menyayat itu sebentar saja sudah tidak terdengar lagi. Yang ada hanya tubuh-tubuh bergelimpangan tidak tentu arah. Darah membanjiri rerumputan. Bau anyir darah mulai tercium dibawa angin.


"Ha ha ha..., ****** kalian semua anjing-anjing Pasirwatu!" terdengar suara menggelegar bersamaan dengan berhentinya hujan panah.


Terlihat seorang laki-laki muda dengan tubuh tinggi tegap berdiri di atas sebuah batu besar yang bertumpuk-tumpuk. Di tangan kanannya tergenggam sebuah busur. Sedangkan di pinggangnya tergantung sebuah kantong anak panah yang telah kosong. Pongah sekali lagaknya sambil berdiri membelakangi matahari.


Matanya tajam memandangi mayat-mayat prajurit Kerajaan Pasirwatu. Mendadak dibuangnya busur, dan dengan gerakan lincah, kedua tangannya mencabut tombak pendek bermata tiga yang terselip di pinggang. Dialah Rakawigirang.


Rakawigirang membantai habis prajurit Pasirwatu memang ada alasannya. Lima tahun lalu putri Kerajaan Pasirwatu pernah disayembarakan. Ternyata pemuda bernama Rakawigirang ini ikut pula dalam sayembara itu. Tapi dia dapat dikalahkan oleh putri yang disayembarakan itu. Memang putri itu seorang yang digdaya. Rupanya dari peristiwa itu Rakawigirang memendam dendam.


"Siapa yang akan membela anjing-anjing Pasirwatu? Tunjukkan muka!" teriak Rakawigirang pongah menantang.


"Rakawigirang, tingkahmu sungguh menjijikkan!" suara balasan terdengar menggeram, disusul munculnya seorang laki-laki muda berpakaian ketat serba putih.


"Oh, rupanya masih ada juga tikus busuk Pasirwatu," Rakawigirang tersenyum sinis melihat Sarmapala muncul.


Sarmapala, salah seorang abdi utama dengan jabatan kepala pasukan prajurit Kerajaan Pasirwatu. Hatinya murka melihat pembantaian brutal yang dilakukan Rakawigirang. Lebih-lebih kata-kata yang terlontar dari mulut Rakawigirang sangat menyakitkan telinga.


"Kurobek mulutmu, Rakawigirang!" geram Sarmapala.


"Menghadapimu tidak perlu menggunakan senjata!"


Rakawigirang segera menyelipkan kembali dua tombak bermata tiga ke pinggangnya, lalu melesat ke udara dan bersalto dua kali. Dengan manis kakinya menjejak tanah sejauh lima langkah di depan Sarmapala.


"Kau datang ke sini tentu ingin mencari Cupu Manik Tunjung Biru, bukan? Nah, sebelum itu hadapi aku dulu!" kata Rakawigirang pongah.


"Bersiaplah!" dengus Sarmapala enggan bertele-tele.


Bibirnya belum lagi kering mengucapkan kata-kata itu, Sarmapala langsung membuka jurus-jurus tangan kosong. Sedangkan Rakawigirang tampak berdiri tenang dengan mata tajam mengawasi setiap kembangan jurus tangan kosong Sarmapala. Bibirnya tersungging senyuman tipis. Dia sudah tidak aneh lagi menghadapi jurus-jurus itu, karena telah pernah berhadapan sewaktu melawan putri Rasmala dari Kerajaan Pasirwatu lima tahun lalu. Tentu saja Sarmapala juga mendapatkan sumber yang sama.


Seandainya putri sombong itu ada di sini, belum tentu dapat mengalahkan Rakawigirang lagi. Selama lima tahun Rakawigirang memperdalam ilmu-ilmunya. Apalagi kini dia mempelajari ilmu baru yang lebih dahsyat dan dapat diandalkan.


"Tahan serangan!" teriak Sarmapala tiba-tiba.


Bersamaan dengan itu, kaki Sarmapala bergerak cepat melompat menerjang Rakawigirang Masih dalam posisi di atas tanah, digerakkan kakinya dengan cepat ke arah bagian-bagian tubuh lawan.


Rakawigirang yang sudah mengetahui gerakan-gerakan itu sebelumnya, hanya memiringkan tubuhnya sedikit ke kiri dan ke kanan menghindari sabetan kaki lawan yang beruntun. Tidak sedikit pun digeser kakinya.


Serangan pertama Sarmapala gagal total. Segera dibukanya serangan baru dengan jurus kedua. Kali ini tubuh Sarmapala dimiringkan ke kanan. Sebelah kakinya menekuk. Dengan cepat, tangan kanannya menyambar kepala lawan.


Pembahan serangan yang cepat dan mendadak itu tidak diduga sebelumnya oleh Rakawigirang. Dia kaget, lalu cepat-cepat menundukkan kepala. Tapi tanpa diduga sama sekali, kaki kanan Sarmapala yang tertekuk bergerak cepat menendang ke depan.


"Setan!" dengus Rakawigirang sengit.


Jarak mereka begitu dekat dan tidak mungkin Rakawigirang mengelak. Terpaksa diayunkan tangannya memapak tendangan itu.


Buk!


Benturan keras terjadi antara tangan dan kaki. Seketika itu juga Rakawigirang melompat dua kali ke belakang. Bibirnya meringis menahan sakit yang amat sangat pada tangannya.


"**** buntung, keluarkan senjatamu!" umpat Rakawigirang sambil meringis. Untung tulang tangannya tidak patah. Hanya memar sedikit.


"Sudah kubilang, menghadapimu tidak perlu menggunakan senjata," sahut Sarmapala dingin.


"Setan! Jangan menyesal kalau kau mati di ujung senjataku!" geram Rakawigirang sambil mencabut tongkat pendek berujung tiga dari pinggangnya.


"Ha ha ha..., anak kecil pun tidak akan gentar melihat mainanmu!" ejek Sarmapala.


"Hiyaaa...!" Rakawigirang tidak lagi bisa menahan amarahnya. Langsung saja dia melompat dengan dua senjata di tangan terhunus ke depan.


Sarmapala melesat tinggi ke udara menghindari terjangan yang bagai banteng mengamuk itu. Ujung senjata Rakawigirang meleset beberapa rambut di bawah kaki Sarmapala. Dua kali dia bersalto di udara, lalu mendarat di belakang Rakawigirang.


"****** kau!" bentak Rakawigirang.


Dengan cepat tubuhnya berputar. Satu ujung tombak itu mengancam perut sedangkan tombak lainnya mengarah ke leher. Sarmapala yang baru saja mendarat ke tanah, segera melenting ke belakang beberapa tombak menghindari serangan yang begitu cepat


"Setan!" dengus Sarmapala. "Lima tahun begitu pesat kemajuannya."


Belum lagi Sarmapala bernapas sedikit, telah datang lagi serangan selanjutnya. Sarmapala hanya bisa berkelit dan melompat menghindari setiap serangan lawan. Namun sampai lewat lima jurus, Rakawigirang belum menyentuhkan ujung senjatanya ke tubuh Sarmapala. Gerakan Sarmapala benar-benar cepat berkelit menghindari setiap serangan beruntun lagi berbahaya.

__ADS_1


Namun setelah lewat sepuluh jurus, kelihatan Sarmapala mulai terdesak. Beberapa kali harus jatuh bangun menghindari senjata lawan yang nyaris menikam tubuhnya. Rakawigirang benar-benar tidak memberi kesempatan pada lawan untuk bernapas. Dia mendesak terus dengan jurus-jurus mautnya.


Bret!


Tiba-tiba saja ujung senjata Rakawigirang berhasil merobek baju Sarmapala. Bukan main terkejutnya pemuda itu. Cepat-cepat dia melompat tinggi ke udara, dan menarik pedangnya.


"Bagus! Aku sungkan membunuh lawan tanpa memegang senjata!" seru Rakawigirang.


Sebenarnya Sarmapala enggan menggunakan senjata. Tetapi karena serangan-serangan lawan sangat berbahaya, terpaksa dikeluarkan juga senjatanya. Mau tidak mau dia harus menahan malu karena telah meremehkan lawan tadi.


Kini pertarungan mulai berjalan seimbang. Sarmapala tidak lagi harus jatuh bangun menghindari serangan. Bahkan kini serangan-serangannya kelihatan mengganas. Sebentar saja telah dua puluh jurus terlewati. Namun sejauh ini belum ada yang kelihatan terdesak.


"Awas kepala!" teriak Sarmapala tiba-tiba. Dengan cepat disabetkan pedangnya ke arah kepala lawan. Begitu cepatnya sabetan pedang Sarmapala membuat Rakawigirang tidak punya pilihan lain. Dengan cepat pula diangkatnya satu senjatanya untuk melindungi kepala.


Trang!


Dua senjata beradu keras sehingga menimbulkan pijaran bunga api. Tangan Rakawigirang pun sampai-sampai bergetar hebat. Belum lagi hilang rasa kagetnya tiba-tiba saja Sarmapala memutar pedangnya dan...


Bret!


"Akh!" Rakawigirang memekik tertahan.


Darah mengucur dari perut yang sobek tergores ujung pedang Sarmapala. Cepat-cepat Rakawigirang melompat dua depa ke belakang. Dia meringis menahan perih yang menyayat perutnya. Darah terus merembes membasahi bajunya.


"Setan!" geram Rakawigirang sengit.


"Melawan Gusti Putri saja kau tak mampu, apalagi melawan aku...?" Sarmapala mengejek.


Rakawigirang mendengus geram. Setelah menotok beberapa jalan darah sekitar perutnya, dia kembali menyerang dengan ganas. Sarmapala kini tidak sungkan-sungkan lagi. Ditandinginya Rakawigirang dengan jurus-jurus pedang mautnya. Pertarungan kembali berlangsung seru.


Tepat pada jurus yang kelima puluh, Sarmapala merubah jurusnya. Ditarik pedangnya ke samping, seakan-akan memberikan kebebasan lawan untuk menikam tubuhnya yang kosong. Hal ini dimanfaatkan oleh Rakawigirang yang sudah kalap dibalut amarah.


Dengan cepat ditusukan kedua senjatanya ke arah perut dan dada. Semua orang melihat pasti akan menyangka Sarmapala sengaja bunuh diri dengan membuka jurus pertahanannya. Namun apa yang terjadi selanjutnya?


Trang! Trang!


Tepat pada saat ujung-ujung senjata Rakawigirang hampir mencapai sasaran, mendadak Sarmapala mendoyongkan tubuhnya ke belakang. Dalam keadaan doyong ke belakang itu, tangan Sarmapala yang semula terentang, tiba-tiba bergerak cepat mengarahkan pedangnya dari bawah ke atas.


"Akh" pekik Rakawigirang terkejut


Rakawigirang tidak mungkin menarik senjatanya lagi. Dengan bebas Sarmapala memapak Dua senjata tombak pendek bermata cabang tiga itu pun terpental ke udara. Belum lagi hilang rasa kagetnya, secepat kilat Sarmapala membuat setengah putaran pada pedangnya. Dan....


"Aaaa...!" Rakawigirang menjerit melengking


Ujung pedang Sarmapala berhasil menembus tepat dada Rakawigirang hingga tembus ke punggung. Sambil mendengus, Sarmapala mengayunkan kakinya menendang tubuh lawan yang telah tertembus pedang. Rakawigirang pun terlontar ke belakang bersamaan dengan tertariknya pedang keluar dari tubuhnya. Darah segar menyembur dari tubuh Rakawigirang.


Rakawigirang menggeletak tidak bernyawa lagi. Sarmapala berdiri tegak menatap tubuh lawannya yang telah menjadi mayat. Setelah membersihkan mata pedang dari noda darah, dimasukkannya pedang itu ke sarungnya di punggung.


********************


Sarmapala melangkah ringan. Matanya mengamati ke sekeliling. Dia tahu benar kalau di sekitarnya bersembunyi tokoh-tokoh rimba persilatan baik dari golongan hitam maupun putih. Dan tentunya mereka telah menyaksikan pertarungan tadi. Tapi sepertinya Sarmapala tidak peduli. Langkahnya terus terayun menuju ke Goa Larangan.


Tetapi baru saja kakinya melangkah sekitar tiga tombak, tiba-tiba di depannya meluncur sebuah bayangan berwarna hijau, yang kemudian berhenti di depannya. Ternyata bayangan itu adalah Klabang Hijau yang telah berdiri angker dengan sikap menantang.


"Belum saatnya kau melangkah ke sana, anak setan," kata Klabang Hijau dingin.


"Hm, rupanya Klabang Hijau masih juga penasaran," gumam Sarmapala.


"Aku belum puas kalau belum mematahkan lehermu!"


"Silakan kalau kau mampu."


"Bersiaplah untuk mati, anak setan! Arwah cucuku yang kau nodai belum puas kalau kau belum ****** di tanganku!"


Setelah berkata demikian, Klabang Hijau segera mengerahkan aji Kala Wisa. Sarmapala yakin kalau lawannya kali ini tidak main-main lagi untuk menggunakan kesaktiannya. Makanya dia pun tidak menganggap remeh, segera disiapkan aji Guntur Geni, ajian yang cukup dahsyat.


Dua orang memiliki persoalan pribadi sudah siap-siap dengan ilmu kesaktian masing-masing. Dan sebenarnya Klabang Hijau ke Bukit Batok ini hanya untuk menemui Sarmapala. Klabang Hijau tahu betul kalau manusia satu ini sangat gila akan benda-benda pusaka yang memiliki kekuatan tinggi. Selain itu, Sarmapala juga gemar mempelajari ilmu-ilmu kesaktian. Tidak heran kalau dia selalu meninggalkan tugas-tugasnya sebagai kepala pasukan kerajaan hanya karena ingin memenuhi ambisinya.


Klabang Hijau tidak pernah tertarik dengan Cupu Manik Tunjung Biru. Dia tahu kalau benda pusaka itu milik Eyang Resi Suralaga yang mangkat beberapa tahun lalu. Klabang Hijau pun tahu kalau mendiang tokoh tua itu memiliki cucu perempuan dan seorang murid laki-laki yang diangkat menjadi cucunya. Jadi sudah pasti kalau Cupu Manik Tunjung Biru harus jatuh ke tangan cucu-cucunya sebagai pewaris yang sah.


"Aji 'Kala Wisa'!"


"Aji 'Guntur Geni'!"


Dua teriakan keras terdengar hampir bersamaan waktunya, disusul dengan melesatnya dua tubuh lengkap dengan kesaktian masing-masing. Klabang Hijau meluncur deras dengan kedua telapak tangan terbuka ke depan. Sedangkan Sarmapala melompat dengan kedua tangan terkepal ke depan. Hingga pada satu titik di udara, dua pasang tangan bertemu.


Blar!


Ledakan keras terjadi diikuti berpencarnya bunga api yang berwarna-warni ke segala arah. Dia bergulingan beberapa tombak.


Sementara itu Sarmapala tidak kalah jauhnya terpental. Punggungnya sampai menghantam sebuah batu besar hingga hancur berkeping-keping. Debu mengepul dari batu yang hancur itu. Sarmapala menggeletak di antara batu-batuan yang berserakan terlanggar tubuhnya. Dari mulut, hidung, dan telinga keluar darah kental kehitaman. Pelan-pelan dia berusaha bangkit berdiri. Tetapi baru saja bangun sedikit, dari mulutnya kembali memuntahkan darah kental kehitaman. Sarmapala berusaha duduk, dan segera mengambil sikap bersemedi.


Lain halnya dengan Klabang Hijau. Setelah bergulingan di tanah beberapa kali, dengan cepat dia langsung mengambil posisi bersemedi. Dari sudut bibirnya juga mengalir darah kental kehitaman. Namun keadaannya tidak separah Sarmapala.


Dengan menyalurkan hawa mumi ke seluruh tubuh, tidak lama kemudian tenaga Klabang Hijau telah pulih kembali. Masih dalam posisi bersila, tubuhnya terangkat naik dan bergerak ke depan menghampiri Sarmapala yang telah membuka matanya.


"Edan!" dengus Sarmapala ketika lawannya sudah kembali menyerang dengan posisi bersila.


Dengan cepat ditarik tangan kirinya ke atas, lalu perlahan-lahan turun, tangan kanannya menyilang di dada dengan telapak tangan terbuka. Perlahan-lahan tubuhnya juga terangkat naik.


Wush!


Klabang Hijau mengebut dua tangannya ke depan ketika jaraknya dengan Sarmapala sudah dekat. Dan bersamaan dengan itu, Sarmapala mendorong dua telapak tangannya ke depan. Kembali dua pasang telapak tangan bertema Namun kali ini tidak diiring dengan ledakan. Mereka sama-sama mendorong rapat. Tubuh mereka juga berada sejauh batang anak panah di atas tanah.


Perubahan mulai terlihat pada wajah kedua orang itu. Tegang sekali. Asap putih mengepul dari telapak tangan yang menyatu rapat. Dua tubuh yang masih mengambang di atas tanah itu perlahan-lahan bergerak berputar. Semakin lama putaran itu semakin cepat. Yang terlihat kini hanya berupa bayangan berputar pada satu titik.


"Aaaa...!" tiba-tiba terdengar teriakan memilukan.


Sejurus kemudian, tampak satu tubuh terpental dari lingkaran yang berputar cepat. Ternyata itu adalah tubuh Sarmapala. Dia menggelepar-gelepar sebentar, lalu diam tak bergerak lagi. Seluruh tubuhnya hangus bagai terbakar.


Sementara Klabang Hijau telah duduk di tanah masih dengan sikap bersemedi. Kedua tangannya menyatu rapat di depan dada. Terlihat dari pergelangan tangan hingga telapak berwarna merah bagai darah. Agak lama dia bersemedi, sampai berangsur-angsur warna merah di tangannya memudar, dan hilang sana sekali. Klabang Hijau membuka matanya, lalu menarik napas dalam-dalam sebentar, dan bangkit berdiri. Matanya sempat melihat mayat Sarmapala yang hangus menggeletak di tanah.


"Sungguh hebat aji Guntur Geri," gumam Klabang Hijau memuji kesaktian lawannya yang telah tewas.

__ADS_1


********************


__ADS_2