Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Pertarungan Bukit Setan Eps. 07 Bag. 1


__ADS_3

KICAU burung riuh menyambut mentari pagi. Angin bertiup lembut mengusir kabut titik-titik embun bak mutiara berceceran di dedaunan. Pagi yang indah menyegarkan, membuka kehidupan bagi penghuni permukaan bumi. Tapi keindahan pagi ini masih juga dirusak oleh suara teriakan-teriakan melengking dan denting sejata beradu.


Sepertinya suara-suara itu datang dari sebuah padang rumput yang tidak begitu luas di tepian Hutan Pusaran. Tampak dua orang tengah bertarung mengadu jiwa. Sedangkan tiga orang lainnya berdiri tidak begitu jauh dari pertarungan, nampak serius memperhatikan jalannya pertarungan yang sengit dan cepat.


Tiba-tiba salah seorang yang bertarung, melompat keluar dari arena. Dua kali berputar di udara, lalu dengan manis mendarat di tanah. Keringat membasahi wajah dan pakaiannya. Orang itu memegang sebuah golok besar, persis seperti tukang jagal binatang ternak. Dia berdiri di depan tiga orang yang juga masing-inasing menggenggam golok besar yang nampak berat.


Mereka langsung berlompatan membentuk lingkaran, mengurung seorang wanita muda berpakaian hijau yang ketat. Bentuk tubuhnya indah dan ramping mengimbangi raut wajahnya yang cantik. Wanita itu menggoyang-goyangkan kipasnya yang berkilatan tertimpa sinar matahari. Ujung-ujung kipasnya runcing seperti mala pisau, siap membedah lawan. Senyumnya nampak di bibir yang merah menggairahkan.


"Tadi sudah kubilang, kalian Empat Setan Jagal sebaiknya turun bersama-sama," terdengar lembut suara wanita cantik itu.


"Huh! Jangan pongah dulu, Kipas Maut! Kau belum tentu menang melawan kami!" dengus salah seorang yang mengenakan pakaian hitam.


Empat Setan Jagal bisa dikenali namanya satu persatu dari warna pakaiannya. Yang mengenakan pakaian hitam berjuluk Jagal Hitam. Sedangkan yang biru, merah, dan kuning masing-masing disebut Jagal Biru, Jagal Merah dan Jagal Kuning. Mengapa mereka bisa sampai bentrok dengan Kipas Maut?


"Siapa yang mencari kemenangan? Kalian datang ke sini hanya mengganggu istirahatku. Masih bagus aku tidak langsung membunuh kalian tadi malam!" rungut Kipas Maut.


"Setan! Seharusnya kau yang minggat semalam!" dengus Jagal Biru geram.


"Aku khawatir, kalian tidak akan menikmati sinar matahari lagi besok," suara Kipas Maut terdengar tenang, namun menyakitkan telinga.


"Kurobek mulutmu, iblis!" geram Jagal Kuning.


"Silakan kalau kalian bisa. Tak bakal aku mundur barang setapak pun."


Jagal Hitam membentak keras, lalu dengan cepat melompat sambil mengayunkan goloknya yang besar. Deru angin terdengar bersamaan dengan berkelebatnya golok menyambar tubuh Kipas Maut. Hanya sedikit saja perempuan cantik itu memiringkan tubuhnya, sabetan golok Jagal Hitam lewat tanpa mengenai sasaran. Belum sempat Kipas Maut menarik napas lega, datang lagi serangan dari arah samping kanannya. Angin menderu keras bersamaan dengan berkelebatnya sebuah golok mengarah ke kepala.


Kipas Maut merundukkan kepalanya sedikit, dan golok Jagal Kuning lewat di atas kepalanya. Kipas Maut harus berlompatan sambil jumpalitan menghindari serangan Empat Setan Jagal yang datang beruntun bagai air bah. Namun sampai lewat lima jurus, Kipas Maut belum juga mengeluarkan ilmu andalannya.


Tring, Tring!


Dua kali Kipas Maut berhasil menangkis serangan Empat Setan Jagal. Hampir saja golok Jagal Biru dan Jagal Kuning terlepas dari tangan saat membentur kipas baja berwarna keperakan. Namun bibir mereka meringis, merasakan pergelangan tangan menjadi kaku dan kesemutan.


Saat yang bersamaan Jagal Hitam membabatkan goloknya bagai kilat Kipas Maut yang baru saja menangkis serangan dua lawan, terkejut Buru-buru dia melenting, menghindari serangan yang mendadak itu. Jagal Hitam yang serangannya dapat dielakkan, langsung memberi serangan lanjutan yang tidak kalah ganasnya. Terpaksa Kipas Maut mengebutkan kipas bajanya.


Wut, tring! "Akh!"


Kipas Maut terpekik kecil. Langsung dijatuhkan dirinya ke tanah dan bergulingan. Saat kipas bajanya beradu dengan golok Jagal Hitam, tenaga dalamnya tidak dikerahkan dengan penuh. Dia tidak menyangka kalau tenaga dalam Jagal Hitam sangat tangguh dan cukup tinggi.


"Setan!" dengus Kipas Maut Kipas Maut segera bangkit berdiri. Matanya membeliak melihat kipasnya tergeletak di tanah agak jauh. Dia menyesal terlalu menganggap enteng Empat Setan Jagal. Sungguh tidak diduga sama sekali kalau dalam tiga tahun saja Empat Setan Jagal telah pesat kemajuannya. Lebih-lebih Jagal Hitam. Tenaga dalamnya sekarang jauh lebih tinggi.


"Tamat riwayatmu, pencuri buduk!" geram Jagal Hitam.


Secepat kilat Jagal Hitam menerjang sambil mengebutkan goloknya. Kipas Maut melenting ke belakang menghindari golok yang besarnya melebihi tangannya sendiri. Namun belum juga sempat menginjakkan kakinya di tanah. Jagal Merah sudah membabatkan goloknya ke kaki. Kipas Maut menotok ujung golok dengan jari kakinya, sambil melenting kembali ke udara. Keadaan Kipas Maut benar-benar mengkhawatirkan sekali. Serangan-serangan berbahaya datang silih berganti tanpa memberi kesempatan sedikit pun untuk bernapas. Kipas Maut bisa berlompatan menghindari setiap serangan yang mengancam nyawanya.


"Modar...!"


"Akh!"


Kipas Maut cepat melenting keluar dari arena pertarungan. Darah mengucur dari pundak kanan yang tergores ujung golok Jagal Hitam. Sungguh tidak diduga sama sekali ketika dia sedang berkelit menghindari sodokan golok dari Jagal Merah, tiba-tiba saja Jagal Hitam melompat sambil mengibaskan goloknya. Kipas Maut tidak bisa menghindari lagi. Untunglah hanya ujung golok Jagal Hitam saja yang menggores kulit pundak kanannya.


"Bedebah!" Kipas Maut menggeram melihat darah mengucur deras dari pundaknya.


"Jagal Merah, Jagal Biru, Jagal Kuning! Bunuh pencuri itu!" perintah Jagal Hitam.


"Yeaaah...!"


Serentak ketiga orang yang mendengar perintah Itu, melompat seraya mengebutkan goloknya. Jagal Hitam pun langsung melompat menyerang Kipas Maut. Mendapat serangan dari empat penjuru itu, Kipas Maut segera melenting tinggi ke udara. Empat golok melesat dibawah kaki perempuan cantik itu. Serangan Empat Setan Jagal tidak berhenti sampai di situ saja. Begitu Kipas Maut mendarat di tanah, mereka langsung menyerang dengan ganas.


Lagi-lagi Kipas Maut kewalahan menghadapi serangan yang beruntun bagai gelombang air laut menggempur karang. Saat golok Jagal Kuning mengancam kepalanya, mendadak kaki Jagal Merah melayang ke arah dada. Ditambah lagi tangan kiri Jagal Biru yang melayang cepat dari arah belakang.


Pada saat itu, Kipas Maut benar-benar tidak punya kesempatan lagi untuk mengelak. Mungkin dapat dihindari satu serangan, tapi tiga lainnya tak mungkin dihindari lagi. Dan pada saat genting itulah tiba-tiba sebuah bayangan putih berkelebat cepat menghajar Empat Setan Jagal. Keempat orang itu berjumpalitan sebelum berhasil menyerang Kipas Maut


"Monyet buntung!" umpat Jagal Hitam geram.


Kini di samping Kipas Maut telah berdiri seorang pemuda berwajah tampan dengan rambut sebatas bahu. Pemuda berkulit putih itu mengenakan baju rompi warna putih dan sebilah pedang bergagang kepala burung tersembul dari balik punggungnya. Tak salah lagi, pemuda itu adalah Pendekar Rajawali Sakti.


"Anak muda, jangan campuri urusanku!" bentak Jagal Hitam.


"Hm, aku tidak akan mencampuri urusan kalian kalau kalian bertarung secara jantan," tenang dan pelan suara Rangga. Namun kedengaran sangat berwibawa.


"Phuih! Lagakmu sok pahlawan. Kau tahu, siapa kami?" dengus Jagal Merah.


"Siapa pun kalian, yang jelas kalian adalah orang-orang pengecut yang bisanya hanya main keroyok terhadap wanita!" tetap tenang dan lembut suara Rangga.


"Buka telingamu lebar-lebar, anak muda! Kami Empat Setan Jagal!" bentak Jagal Hitam memperkenalkan diri dengan maksud agar pemuda di samping Kipas Maut ketakutan mendengarnya.


Tapi Rangga malah tersenyum tipis mendengar nama itu. Memang dia telah dengar nama Empat Setan Jagal. Empat orang yang malang-melintang di rimba persilatan dan menguasai daerah yang dinamakan Bukit Setan. Rupa-rupanya orang-orang inilah yang selalu merampas dan membunuh dengan kejam siapa saja yang melintasi Bukit Setan.


"Aku memberimu kesempatan, anak muda. Nah! Menyingkirlah dari sini!" kata Jagal hitam.

__ADS_1


"Kalau aku tidak mau?" Rangga jelas-jelas menantang meskipun secara tidak langsung.


"Edan! Kau cari mati rupanya!" umpat Jagal Hitam sengit.


Jagal Hitam langsung memberi isyarat pada yang Iainnya. Serentak Jagal Merah, Jagal Kuning dan Jagal Biru berlompatan mengepung. Golok mereka sudah melintang di depan dada. Pendekar Rajawali Sakti itu hanya melirik memperhatikan setiap gerakan keempat orang itu yang mengepung dari empat penjuru. Bibirnya masih menyunggingkan senyuman tipis.


"Serang...!" teriak Jagal Hitam keras. Seketika Empat Setan Jagal berlompatan sambil mengibaskan goloknya ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Hanya sedikit saja pendekar muda itu menggerakkan tangannya tanpa menggeser kaki, tahu-tahu golok-golok Empat Setan Jagal terpental, lepas dari tangan masing-masing. Rangga menghadapi mereka dengan mengerahkan jurus maut 'Cakar Rajawali'.


Rasa kaget keempat orang itu belum lagi hilang, mendadak Rangga memutar tubuhnya dengan kaki kanan terayun cepat. Buk, buk, buk, buk...!


Empat Setan Jagal langsung terjungkal ke belakang. Kaki kanan Pendekar Rajawali Sakti itu tepat menghantam perut mereka.


"Uhk!" Jagal Hitam merasakan perutnya mual. Susah payah mereka berusaha bangkit berdiri. Belum juga sempat bangun, Pendekar Rajawali Sakti Itu sudah bergerak cepat menjambret punggung baju mereka dan melemparkan jadi satu ke bawah pohon besar yang rindang.


Tubuh-tubuh yang besar dan kekar berjatuhan saling tindih. Mirip empat buah karung beras yang dilemparkan sembarangan ke dalam gudang. Kembali mereka berusaha bangkit, dan gerakan mereka terhenti karena Pendekar Rajawali Sakti sudah menempelkan leher mereka dengan golok masing-masing. Jagal Hitam mengangkat kepalanya. Wajahnya merah padam, merasa malu dan marah karena bisa dikalahkan oleh anak muda hanya dalam satu gebrakan saja.


"Beruntung sekali hari ini aku enggan mencabut nyawa," dingin terdengar suara Rangga.


Jagal Hitam mengkerutkan gerahamnya. Pelan-pelan dia bangun berdiri diikuti yang Iainnya. Rangga melangkah mundur tiga tindak. Dia melemparkan empat golok di tangannya, hingga menancap tepat diujung kaki Empat Setan Jagal.


"Pergi dari sini, cepat!" bentak Rangga keras.


Bergegas Jagal Merah, Jagal Kuning dan Jagal Biru mencabut golok masing-masing. Dengan ogah-ogahan Jagal Hitam juga mencabut goloknya dari tanah. Kedua bola matanya tajam menatap Pendekar Rajawali Sakti dengan penuh rasa dendam. Sepasang rahangnya terkatup rapat menahan geram. Tanpa banyak bicara lagi ke empat orang itu melangkah pergi. Jagal Hitam membalikkan tubuhnya setelah kakinya terayun sekitar sepuluh langkah. Dia berdiri dengan tangan bertolak pinggang. Yang Iainnya juga ikut berhenti di belakang Jagal Hitam.


"Kipas Maut, persoalan kita belum selesai!" teriak Jagal Hitam keras. Selesai berkata, Jagal Hitam cepat berbalik dan berlari kencang diikuti yang Iainnya. Sebentar saja mereka sudah tidak terlihat lagi.


Rangga membalikkan tubuhnya lalu melangkah mendekati Kipas Maut yang baru saja memungut senjata kipasnya. Diselipkan kipas baja sakti itu ke pinggang.


"Kau terluka..."


"Terima kasih!" Kipas Maut memotong cepat sebelum Rangga selesai dengan kalimatnya. Suaranya terdengar ketus dan tampak tidak senang dirinya ditolong.


"Maaf, apakah aku telah menyulitkanmu?" Rangga tidak mengerti dengan sikap gadis ini. Keningnya berkerut pertanda tengah berpikir.


"Banyak!" sahut Kipas Maut ketus.


"Banyak...!?" Rangga terkejut setengah mati. Sungguh mati Pendekar Rajawali Sakti itu tidak mengerti dengan sikap gadis cantik ini. Nyawanya sudah diselamatkan, tapi kelihatan tidak senang. Bahkan katanya malah membuat banyak kesulitan. Kesulitan apa?


"Sebaiknya kau pergi dari sini, atau aku yang pergi " kata Kipas Maut


"Hey...! Tunggu," teriak Rangga, begitu melihat Kipas Maut melangkah pergi.


********************


Pendekar Rajawali Sakti jadi makin penasaran saja. Setiap pertanyaan dijawab ketus oleh Kipas Maut. Dalam sekilas tadi, sempat didengar kata-kata Jagal Hitam yang membuat benaknya terus bertanya-tanya. Rasanya tidak mungkin Empat Setan Jagal keluar dari Bukit Setan kalau tidak ada sesuatu yang sangat penring. Lebih-lebih sampai bentrok dengan gadis ini. Jagal Hitam menyebut gadis ini sebagai pencuri. Apa yang dicuri? Ada persoalan apa antara Kipas Maut dengan Empat Setan Jagal? Macam-macam pertanyaan berkecamuk dibenak Pendekar Rajawali Sakti. Pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa terjawab, karena Kipas Maut bersikap tidak bersahabat dengannya.


Rangga terus melangkah sejajar dengan gadis cantik ini. Meskipun Kipas Maut menggunakan ilmu meringankan tubuh, tapi bagi Pendekar Rajawali Sakti bukanlah hal yang sulit. Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya jauh di atas Kipas Maut.


"Kenapa kau mengikutiku terus?" tanya Kipas Maut ketus. dihentikan langkahnya dan berbalik menghadap Pendekar Rajawali Sakti.


"Kau belum menjawab pertanyaanku," sahut Rangga.


"Dari tadi kau banyak bertanya, sedangkan aku tidak tahu pertanyaan mana yang harus kujawab," dengus Kipas Maut sinis.


"Siapa namamu sebenarnya?" tanya Rangga.


"Sudah kubilang, namaku Kipas Maut!"


"Itu julukanmu."


"Apa bedanya?"


"Tentu berbeda, aku tidak mungkin bisa menolongmu terus-menerus tanpa mengetahui namamu yang sebenarnya."


"Siapa yang butuh pertolonganmu? Tanpa campur tanganmu pun aku juga bisa menghabisi Empat Setan Jagal!"


"Hm, kau hampir mati tadi!" Rangga sengit juga jadinya.


"Aku tadi cuma pura-pura, aku tahu kau datang. Aku hanya ingin melihat kehebatanmu saja. Yaaah, ternyata boleh juga."


"Bedegul!" umpat Rangga dalam hati. "Gadis ini benar-benar keras kepala, angkuh, sombong dan sedikit liar."


"Siapa namamu?" tanya Kipas Maut tiba-tiba.


"Rangga," sahut Rangga.


"Julukanmu?"


"Pendekar Rajawali Sakti."

__ADS_1


"Julukan yang bagus. Sayang, kau hanya bisa mengalahkan cacing-cacing tanah."


Kata-kata Kipas Maut terdengar mengejek, tapi Rangga hanya menghadapinya dengan senyum. Entah kenapa dia menjadi tertarik dengan sikap gadis di depannya ini. Mendadak saja ingatannya jadi terarah pada Saka Lintang, gadis pertama yang ditemuinya setelah keluar dari Lembah Bangkai.


Dalam beberapa hal, Kipas Maut memiliki persamaan dengan Saka Lintang. Baik sikap maupun kecantikan wajahnya. Rangga sepertinya sedang berhadapan dengan gadis yang pertama kali sempat menggetarkan hatinya, dan tewas di tangannya pula. Hanya saja Rangga belum bisa memastikan Kipas Maut berada dalam golongan mana?


"Apa yang kau lamunkan?" tegur Kipas Maut.


"Oh! Tidak," Rangga jadi tergagap. Seketika bayangan Saka Lintang buyar.


"Kau memikirkan kekasihmu?" tebak gadis itu langsung.


"Tidak!" sahut Rangga cepat-cepat, terkejut juga dia mendengar dugaan itu. Tapi dia sendiri tidak tahu apakah dirinya jatuh cinta pada Saka Lintang.


Kipas Maut tersenyum-senyum kecil. Dia melenggang dan menempatkan diri di bawah pohon. Enak sekali gadis itu duduk bersandar pada sebatang pohon rindang yang melindungi kulitnya dari sengatan matahari. Rangga menghampiri dan duduk depannya. Bola matanya sesekali mencuri pandang ke wajah cantik di depannya. Wajah yang putih kemerahan bagai bocah baru lahir tanpa dosa.


"Kau mau menyebutkan namamu, 'kan?" desak Rangga lagi.


"Rupanya kau senang mendesak juga, ya. Baiklah, namaku Pandan Wangi," sahut Kipas Maut menyebutkan nama aslinya.


"Kau ada masalah dengan Empat Setan Jagal?" tanya Rangga lagi merasa mendapat kesempatan.


"Aku tidak tahu," sahut Pandan Wangi atau Kipas Maut. Pundaknya terangkat sedikit.


"Kenapa bentrok dengan mereka?"


"Iseng."


"Edan!" dengus Rangga dalam hati.


Rangga memperhatikan bahu kanan Pandan Wangi yang berdarah. Tangannya terulur hendak memeriksa, tapi gadis itu menepis. Rangga menarik tangannya yang sudah terulur sedikit. Matanya langsung tertuju ke bola mata gadis itu.


"Kau terluka, sepertinya ada racun yang...."


"Akh!"


Belum juga Rangga selesai bicara, mendadak Pandan Wangi memekik tertahan. Seketika wajahnya memucat. Tubuhnya menggigil seperti demam. Rangga segera mendekat, lalu membaringkannya. Pandan Wangi yang memang sudah merasakan dalam tubuhya mengalir racun akibat luka di bahunya, tidak menolak lagi pertolongan Pendekar Rajawali Sakti untuk kedua kalinya. Rupanya golok Jagal Hitam yang melukai bahu kaanannya mengandung racun yang bekerja lambat, tapi sangat berbahaya dan mematikan.


Jari-jari tangar Rangga bergerak cepat menotok beberapa bagian tubuh Pandan Wangi. Kemudian merobek baju di sekitar luka. Pandan Wangi memekik kaget, tapi tubuhnya terasa lemas sehingga tidak bisa berbuat apa apa lagi. Hanya matanya saja yang membeliak lebar.


Rangga mencabut pisau kecil yang terselip di pinggang Pandan Wangi. Baru saja akan digunakan pisau itu, Pandan Wangi mencegah


. "Jangan, pisau itu beracun!"


Rangga mengernyitkan keningnya. Diciumnya ujung mata pisau kecil itu. Keningnya semakin berkerut begitu mengetahui racun yang ada pada pisau di tangannya, sangat dahsyat dan kuat. Rasanya yang terkena tidak akan bisa tahan dalam setengah hari saja. Rangga meletakkan pisau itu di samping.


"Apa yang akan kau lakukan?" pekik Pandan Wangi ketika Rangga membalikkan tubuhnya.


Begitu Pandan Wangi tidur tengkurap, Rangga langsung membeset bajunya. Lagi-lagi Pandan Wangi memekik tertahan. Kini kulit punggung yang putih mulus terbuka lebar. Rangga menggelengkan kepala membuang pikiran-pikiran kotor yang langsung menyergap benaknya. Agak bergetar kedua tangannya ketika menempelkan telapak tangannya ke punggung yang putih mulus itu.


Rangga segera memusatkan perhatian ke tubuh Pandan Wangi melalui telapak tangannya. Asap tipis mulai mengepul dari sela-sela jari tangan Pendekar Rajawali Sakti yang menempel erat di punggung Pandan Wangi. Agak lama juga Rangga menyalurkan hawa murninya.


"Hoek..., hoek!" dua kali Pandan Wangi memuntahkan darah kental kehitaman.


Dari luka di bahu kanannya juga keluar darah berwarna kehitaman. Rangga terus menyalurkan hawa mumi mencoba mengusir racun yang sudah menyebar ke seluruh jaringan jalan darah di tubuh gadis ini. Sedikit saja terlambat menolong, mungkin Pandan Wangi tinggal nama saja.


"Uh! Hhh...!" Rangga mendesah panjang. Tangan yang menempel di punggung terlepas setelah Pandan Wangi memuntahkan darah kental kehitaman untuk ketiga kalinya. Darah yang keluar dari luka di bahu kanan juga sudah berwarna merah segar.


Rangga duduk dengan wajah bersimbah keringat. Dibalikkan lagi tubuh gadis itu, dan jari-jari tangannya segera bergerak melepaskan totokan di tubuh Pandan Wangi. Rangga masih duduk mengatur napasnya. Tampak sekali kalau dia benar-benar lelah menguras hawa murni untuk mengeluarkan racun itu. Tampak gadis ltu menggerak-gerakkan kepalanya sebentar. Kemudian segera bangkit duduk. Mulutnya ternganga saat melihat pakaiannya amburadul tidak karuan. Bagian pundak kanan dan punggungnya sobek. Pandan Wangi buru-buru membenahi sebisa-bisanya.


"Setan! Apa yang telah kau lakukan, heh?" bentak Pandan Wangi sengit.


"Jangan bergerak dulu. Racun di rubuhmu belum semuanya keluar," kata Rangga tidak menanggapi bentakan gadis itu.


"Phuih! Kau sudah berani menyentuh tubuhku. Kau harus mati, Rangga!" dengus Pandan Wangi.


"Duduk saja dulu, bersemadilah sebentar. Tenagamu belum pulih benar," masih tetap tenang dan lembut suara Rangga.


"Kau harus mati, setaaan!" teriak Pandan Wangi.


Pandan Wangi yang bergelar Kipas Maut langsung mencabut kipas saktinya. Kemudian diterjangnya Pendekar Rajawali Sakti dengan ganas. Namun baru juga menggebrak, mendadak kedua kakinya bergetar dan jatuh ke tanah.


"Oh kakiku...," rintih Pandan Wangi merasakan kedua kakinya mendadak jadi lemas.


"Sudah kubilang, racun dalam tubuhmu belum ke luar semua," kata Rangga sambil membantu Pandan Wangi duduk kembali.


Tangannya mengambil kipas baja sakti yang tergeletak di tanah. Kemudian diselipkan lagi di pinggang pemiliknya. Tentu saja Kipas Maut jadi heran juga dengan sikap Rangga. Baru beberapa saat mereka kenal dan bertemu, tapi sudah dua kali Pendekar Rajawali Sakti menolongnya. Apa sebenarnya yang diinginkan pemuda ini? Apakah dia juga menganggap dirinya telah berhasil mengambil Kitab Naga Sewu, seperti yang Iainnya?


Pandan Wangi jadi bertanya-tanya pada dirinya sendiri terhadap sikap Rangga. Dia jadi tidak mengerti apa yang diinginkan Pendekar Rajawali Sakti ini. Kalau bermaksud buruk, tentu dengan mudah Rangga bisa membunuhnya. Apalagi dalam keadaan terluka parah begini. Pandan Wangi benar-benar tidak mengerti jadinya. Kepalanya semakin berdenyut memikirkan sikap Pendekar Rajawali Sakti yang tampan ini.

__ADS_1


********************


__ADS_2