
Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sangat sempurna, Rangga berhasil menyelinap masuk ke balik pagar kayu yang mengelilingi bangunan besar di bagian Utara puncak Bukit Arang Lawu. Beberapa orang penjaga tampak berkumpul mengelilingi api unggun. Rangga memutar lewat belakang, tapi seorang penjaga berpakaian serba hitam memergokinya. Cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti itu bertindak Tanpa bersuara sedikit pun, tangannya bergerak cepat menghantam dada orang itu. Seketika itu juga orang yang berpakaian serba hitam ambruk dengan dada remuk.
"Hhh, dua orang menjaga pintu," desah Rangga dalam hati.
Tangan Pendekar Rajawali Sakti itu memungut dua batang ranting kecil. Dengan mengerahkan tenaga dalam yang sempurna, dilemparkannya dua batang ranting itu ke arah dua penjaga pintu belakang. Ranting-ranting itu tepat menancap di leher.
Akibatnya, dua penjaga itu langsung ambruk tanpa merintih lagi. Darah segar segera merembes dari leher yang tertembus ranting. Bagai kijang yang lincah, Rangga melompat ringan mendekati pintu. Pelan-pelan dibukanya pintu itu, lalu melangkah masuk. Sebentar Rangga mengerjap-ngerjapkan matanya, membiasakan diri dalam kegelapan yang menyelubunginya begitu masuk ke dalam.
Pendekar Rajawali Sakti itu mulai melangkah perlahan-lahan dan hati-hati. Rupanya dia masuk ke sebuah lorong sempit dan gelap. Tapi lorong itu tidak panjang. Sebentar saja dia telah berada di ujung lorong.
"Pintu lagi...," gumam Rangga.
Perlahan-lahan sekali Rangga membuka pintu yang terbuat dari kayu jati tebal ini. Suara berderit kecil terdengar saat pintu didorong pelan-pelan. Sinar terang menyilaukan menerobos saat daun pintu terbuka agak lebar. Rangga segera masuk ke kamar itu.
"Ruangan apa ini?" tanya Rangga dalam hati.
Tampak di depan Rangga terdapat ruangan indah dan luas. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah ranjang besar beralaskan kain sutra halus berwarna merah muda. Pada salah satu sudut ruangan, terdapat beberapa peti. Salah satu peti tampak terbuka tutupnya. Mata Pendekar Rajawali Sakti itu sedikit menyipit memperhatikan isi peti itu. Ternyata peti itu berisi bermacam-macam benda dari emas dan perak dengan berbagai bentuk dan ukurannya. Semuanya menumpuk jadi satu.
"Ada orang datang," desah Rangga dalam hati.
Telinga Rangga yang peka dan tajam segera dapat mendengar suara langkah halus mendekat. Sebentar Pendekar Rajawali Sakti itu mengamati sekeliling kamar itu, kemudian melompat ringan ke atas. Rangga nangkring pada salah satu balok yang melintang menyangga atap kamar.
Tidak lama berselang, pintu kamar itu terbuka. Dan muncullah seorang wanita cantik mengenakan pakaian ketat berwarna merah, serta bersulamkan benang emas. Kulitnya yang putih mulus, sangat kontras dengan pakaian yang dikenakannya. Wanita itu menghampiri pembaringan, lalu duduk di tepinya.
"Diakah yang bernama Dewi Sri Tungga Buana?" tanya Rangga dalam hati di tempat persembunyiannya.
Belum sempat pertanyaan itu terjawab, muncul lagi dua orang dengan pedang tersampir di pinggang. Mereka menggiring seorang pemuda tampan. Wajah pemuda itu kelihatan pucat. Keadaannya lemah sekali. Salah seorang yang menggiringnya, mendorong hingga pemuda itu jatuh tersuruk di lantai.
"Maaf, Dewi Sri Tungga Buana," kata salah seorang seraya membungkukkan badan.
"Hm. Ada apa, Sokapitu?"
"Ada berita buruk yang hendak hamba sampaikan."
"Katakan."
"Benteng Puri Merah terbakar, dan beberapa orang kita mati terbunuh."
"Apa...?!" Dewi Sri Tungga Buana terlonjak kaget.
"Menurut keterangan yang hamba peroleh, yang melakukan semua ini adalah orang berpakaian serba hitam, mirip dengan para pengawal khusus kita."
"Apakah orang-orang Puri Merah memberontak?"
"Sampai saat ini belum."
"Kurang asar! Kirim tambahan kekuatan dari pengawal khusus. Umumkan, malam ini juga harus diadakan korban persembahan! Aku ingin Pemimpin Agung Puri Merah menjadi korban malam ini juga!"
"Baik, Dewi Sri Tungga Buana."
Dua orang berpakaian hitam itu segeia keluar dari dalam kamar Dewi Sri Tungga Buana memandang tajam pada Kitri Boga yang tetap duduk di lantai. Wanita cantik itu mendekat, lalu menjambak rambut pemuda tampan putra Maha Patih Kerajaan Mandaraka
"Dengar, Kitri Boga. Aku tidak segan-segan membunuhmu jika kau tetap bungkam! Katakan, berapa orang teman-temanmu yang ada di puncak Bukit Arang Lawu ini?" tanya Dewi Sri Tungga Buana disertai ancaman.
Kitri Boga tetap bungkam.
"Aku tahu kau dari Kerajaan Mandaraka. Kau kira mudah menghancurkan Dewi Sri Tungga Buana?! Jangan mimpi, anak muda! Rajamu saja belum tentu mampu menandingi kesaktianku! Kau sendiri telah merasakan, betapa indahnya mengalami kekalahan!"
Tetap saja Kitri Boga membisu.
"Baiklah kalau kau tetap bungkam. Tapi, dengar dulu. Malam ini juga, kau akan mati di dasar jurang seperti wanita tawanan yang menjadi temanmu itu! Dia memang *****!"
Sementara Rangga di tempat persembunyiannya hanya bisa menahan marah. Dia tahu kalau yang dimaksud Dewi Sri Tungga Buana itu adalah Pandan Wangi.
"Tapi, bukankah Pandan Wangi masih hidup? Bukankah yang menunjukkan sarang Dewi Sri Tungga Buana adalah Pandan Wangi?" Rangga hanya mampu bertanya-tanya dalam hati.
"Seorang temanmu memang beruntung. Dia dianggap dewa oleh manusia-manusia ****** Puri Merah. Tapi itu tidak menjamin bahwa kau dapat bebas dari kematian, juga dewa gadungan itu. Aku tidak pernah mundur meskipun dia benar-benar seorang dewa yang menyamar!" lanjut Dewi Sri Tungga Buana, dingin dan datar suaranya.
Dewi Sri Tungga Buana mencampakkan tubuh Kitri Boga begitu saja dengan kesal. Pada saat yang bersamaan, pintu diketuk dari luar. Wanita cantik itu menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat. Kakinya terayun menuju pembaringan, lalu duduk menjuntai.
"Masuk...!" keras suara Dewi Sri Tungga Buana terdengar.
Pintu terbuka perlahan. Seorang laki-laki muda berbaju serba hitam pun segera muncul. Di tangan kanannya tergenggam sebatang tombak berujung tiga. Laki-laki muda itu membungkukkan tubuhnya sedikit, lalu melangkah maju satu tindak.
"Ada apa?" tanya Dewi Sri Tungga Buana.
"Kereta telah siap. Apakah Dewi telah siap berangkat sekarang?"
"Tunggu di luar!"
Laki-laki muda itu membungkuk lagi, kemudian berbalik. Tangannya menarik daun pintu seraya melangkah ke luar. Dewi Sri Tungga Buana bangkit, menghampiri Kitri Boga yang tetap terduduk di lantai dengan kepala tertunduk lemas.
"Kau masih kuperlukan malam ini. Dan sebaiknya kau tidur dulu!" kata Dewi Sri Tungga Buana.
Cepat sekali jari-jari tangan yang lentik itu bergerak, sehingga dalam sekejap saja tubuh Kitri Boga terguling roboh ke lantai. Dewi Sri Tungga Buana tersenyum manis, lalu melangkah ke luar.
Sedangkan Rangga yang berada di palang atap, menunggu sampai beberapa saat. Pendekar Rajawali Sakti itu melayang turun setelah tidak lagi terdengar langkah kaki kuda yang semakin jauh menghilang. Suasana sepi menyelimuti keadaan sekitarnya. Samar-samar tadi dia mendengar kalau Dewi Sri Tungga Buana memerintahkan para pengawal khususnya untuk ikut sebagian. Dan tentunya sebagian lagi menjaga tempat ini.
__ADS_1
********************
Rangga memeriksa keadaan tubuh Kitri Boga. Jari-jari tangannya bergerak menotok di beberapa tempat. Kitri Boga menggeleng-gelengkan kepalanya. Suara rintihan terdengar lirih keluar dari bibir yang pucat. Rangga membantu pemuda itu berdiri setelah seluruh kekuatan totokan Dewi Sri Tungga Buana hilang.
Pendekar Rajawali Sakti itu membawa Kitri Boga duduk dipembaringan, kemudian diletakkan kedua tangannya di punggung pemuda itu. Rangga mencoba memulihkan kekuatan dan kesadaran Kitri Boga dengan menyalurkan hawa murni ke dalam tubuh pemuda itu. Pelahan-lahan warna pucat di wajah Kitri Boga berganti memerah ketika hawa murni yang disalurkan Rangga mulai menyusup ke dalam jalan darahnya.
"Ohhh...!" Kitri Boga menggeliat.
Rangga menghentikan penyaluran hawa murni ke dalam tubuh Kitri Boga setelah keadaan tubuh pemuda itu kembali normal. Pendekar Rajawali Sakti itu kemudian berpindah duduk di depan pemuda itu. Kitri Boga tersenyum seakan-akan ingin mengucapkan terima kasih, meskipun belum kenal dengan penolongnya.
"Aku Rangga. Aku datang untuk membebaskanmu. Kandara Jaya telah menunggumu di luar," kata Rangga sambil memandangi wajah pemuda itu.
"Kau pasti yang disangka dewa oleh orang-orang Puri Merah."
"Sebaiknya kita cepat ke luar dari tempat ini. Tidak ada waktu lagi untuk banyak bicara," sergah Rangga.
Kitri Boga segera beranjak bangun. Diikutinya langkah kaki Pendekar Rajawali Sakti itu yang kembali melewati lorong. Rangga mengamati keadaan di sekitarnya sebelum keluar dari lorong tempat waktu masuk tadi. Tanpa menunggu waktu lagi, dia melesat keluar diikuti Kitri Boga yang benar-benar telah pulih kembali.
"Cepat pergi ke arah Selatan. Kau akan bertemu Kandara Jaya di perjalanan, lalu segeralah menuju ke arah jurang. Kandara Jaya sudah tahu apa yang akan dikerjakannya," kata Rangga memerintah.
"Kau sendiri?" tanya Kitri Boga.
"Aku punya tugas sendiri, cepat! Tidak ada waktu lagi untuk menjelaskan kepadamu. Kandara Jaya yang akan menjelaskannya nanti."
Kitri Boga segera melompat tinggi melewati pagar kayu. Dia langsung menuju ke arah yang ditunjuk Rangga. Sementara itu, Pendekar Rajawali Sakti dengan sigap melenting tinggi ke atas atap bangunan besar. Dengan indah sekali, dia melenting lagi turun ke bawah. Lima orang penjaga terkejut, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan kecepatan tinggi, Rangga menghajar mereka hingga roboh tak berkutik lagi.
"Huh! Tempat ini harus dimusnahkan!" dengus Rangga.
Tangan Pendekar Rajawali Sakti itu lalu menyambar obor dan melemparkannya ke atas atap. Seketika itu juga api berkobar melahap atap bangunan besar itu. Rangga segera berlompatan cepat ketika beberapa orang berpakaian hitam berdatangan. Tanpa menunggu lama lagi, Pendekar Rajawali Sakti menghajar orang-orang berpakaian hitam yang menjaga bangunan ini. Mereka memang bukan lawan Pendekar Rajawali Sakti. Sehingga tidak heran kalau dalam waktu singkat dua puluh orang penjaga tewas dengan tubuh remuk.
Pendekar Rajawali Sakti berdiri tegak memandangi mayat-mayat yang bergelimpangan di sekitarnya. Sementara itu api terus membesar, menghanguskan bangunan yang besar itu. Rangga kembali melompat melewati pagar kayu yang tinggi. Setelah menjejakkan kaki di tanah, dihancurkannya pagar kayu itu dengan mengerahkan pukulan jarak jauh. Suara ledakan menggelegar bersamaan dengan hancurnya benteng kayu.
"Rangga...!"
"Hey!" Rangga terkejut mendengar suara panggilan dari arah belakang.
Kandara Jaya dan Kitri Boga berdiri berdampingan memandang ke arahnya. Rangga melangkah menghampiri dua orang itu. Dia berdiri tegak memandang wajah mereka satu per satu.
"Kenapa kalian tidak pergi?" tanya Rangga.
"Ada yang ingin kusampaikan padamu," sahut Kitri Boga. "Kata Gusti Kandara Jaya, kau punya adik yang tercebur di jurang?" sambungnya.
"Benar! Apakah dia masih hidup? Di mana dia sekarang?"
"Aku tidak tahu di mana dia sekarang. Tapi aku yakin kalau dia masih hidup," kata Kitri Boga pasti.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, Rangga. Memang aku melihat ada seorang gadis cantik mengenakan pakaian biru dengan pedang di punggung dan kipas di pinggang. Gadis itu dalam keadaan pingsan. Tapi, sayang, Dewi Sri Tungga Buana memerintahkannya untuk rnenceburkannya ke dalam jurang. Aku tidak tahu apakah Natrasoma dan sembilan orang lainnya melakukan perintah itu."
Rangga masih belum percaya penuh. "Aku berani sumpah! Sejak aku ditawan mereka, dan dipindahkan ke sini. Aku selalu menguping pembicaraan mereka. Aku juga menyelidiki siapa sebenarnya Dewi Sri Tungga Buana. Aku memang dalam penjagaan ketat, tapi aku masih mendengar apa yang dibicarakan mereka."
Rangga diam termenung. Pandangannya langsung tertuju pada Kandara Jaya. Pangeran muda itu membalas dengan pandangan mata yang sukar dilukiskan. Rangga tidak tahu lagi harus bilang apa. Semuanya sudah terjadi. Dia jelas sekali melihat kalau sepuluh orang berjubah merah menceburkan Pandan Wangi ke dalam jurang! Tapi...
"Dewi Sri Tungga Buana sebenarnya putri tunggal dari pemimpin Puri Merah yang terdahulu. Keluarga mereka dibuang karena menentang kebijaksanaan Raja Balaraga," lanjut Kitri Boga.
"Hm, jadi dia mau merebut kembali Puri Merah?" gumam Rangga.
"Benar. Dia juga dendam pada setiap gadis yang selalu mengolok-olok dirinya ketika masih bersama keluarganya yang terbuang dari Puri Merah."
Rangga termenung beberapa saat. Kini sudah jelas persoalannya, kenapa wanita cantik itu sangat benci kepada orang-orang Puri Merah dan juga kepada wanita-wanita yang tak bersalah. Bagaimanapun juga, dia tidak menyukai cara wanita itu melampiaskan dendamnya.
"Kitri Boga, bagaimana Pandan Wangi bisa sampai ke sini?" tanya Rangga.
"Aku tidak tahu persis. Tapi kalau tidak salah dengar, mereka menemukannya terapung di sungai," sahut Kitri Boga.
"Sungai...?"
"Ya! Aku lihat memang pakaiannya basah," sambung Kitri Boga.
"Kitri Boga, terus terang aku masih belum mengerti tentang kehadiran Pandan Wangi yang menunjukkan tempat ini," kata Rangga.
"Jadi..., Dewi Sri Tungga Buana menemuimu?" Kitri Boga sedikit terkejut.
"Bukan dia, tapi...."
"Aku mengerti sekarang," potong Kitri Boga.
"Maksudmu?" Rangga tidak mengerti.
"Dewi Sri Tungga Buana menyamar jadi Pandan Wangi dan dia sengaja menemuimu."
"Untuk apa?" tanya Rangga.
"Untuk memancingmu ke sini, sementara dia ke Puri Merah."
"Kalau begitu...!"
Rangga langsung melompat cepat dan menghilang di kegelapan malam. Begitu cepatnya Pendekar Rajawali Sakti itu menghilang, sehingga Kandara Jaya dan Kitri Boga jadi terbengong琤engong. Meskipun Kandara Jaya sering berhadapan dengan tokoh-tokoh rimba persilatan, tapi dia masih juga takjub melihat gerakan dan ketinggian ilmu Rangga. Sulit baginya mengukur sampai di mana tingkat kepandaian Pendekar Rajawali Sakti itu.
__ADS_1
"Kandara Jaya! Tetap laksanakan rencana semula!" terdengar suara Rangga bergema.
"Hebat!" puji Kandara Jaya tulus.
Entah di mana Pendekar Rajawali Sakti itu berada, tapi suaranya bisa terdengar begitu jelas. Seakan-akan suara itu sangat dekat sekali. Betapa sempurnanya ilmu yang dimiliki Pendekar Rajawali Sakti itu. Kandara Jaya segera mengajak Kitri Boga untuk melaksanakan semua rencana yang sudah dimatangkan Rangga. Kitri Boga yang sudah diberitahu tentang semua rencana itu segera berlompatan mengikuti pangeran muda itu. Lompatan mereka cepat karena mengerahkan ilmu lari cepat. Dalam waktu sekejap mata, tubuh mereka sudah hilang ditelan kegelapan malam.
Sementara pada waktu yang sama, di dalam benteng Puri Merah sedang terjadi kesibukan mendadak. Dewi Sri Tungga Buana berdiri anggun di tengah-tengah tangga puri yang berwarna merah menyala dengan patung laki-laki muda gagah menunggang burung rajawali raksasa di puncaknya.
Tampak pada altar, seorang laki-laki tua dengan wajah penuh luka dan keriput, telentang di atas altar batu dengan kedua tangan dan kakinya terikat. Empat orang gadis cantik juga terikat di tiang dekat altar batu. Seluruh orang berjubah merah berdiri berjajar memandang sayu pada laki-laki tua berjubah merah yang tak berdaya di atas altar batu persembahan.
"Setiap kata yang kuucapkan tidak akan pernah ditarik kembali! Kalian semua sudah berani memberontak! Aku tidak akan menarik lagi janjiku! Sekali kalian memberontak, maka pemimpin kalian harus jadi korban persembahanku!" lantang suara Dewi Sri Tungga Buana.
Tidak ada satu suara pun terdengar. Semua orang yang ada di sekitar puri itu terdiam dengan kepala tertunduk. Tidak kurang lima puluh orang berpakaian serba hitam berjaga-jaga dengan tombak bermata tiga di tangan. Ditambah lagi dengan orang-orang berjubah merah.
"Laksanakan...!" perintah Dewi Sri Tungga Buana keras dan lantang.
Lima orang berpakaian serba hitam melangkah maju mendekati altar. Semua memegang golok besar berkilat. Satu orang mendekati altar batu, dan empat orang lainnya mendekati gadis-gadis yang terikat di tiang. Tepat ketika mereka telah mengangkat golok, tiba-tiba....
"Khraaagh...!"
Sebuah bayangan hitam dan besar melayang di udara bersamaan dengan terdengarnya suara keras dan nyaring memekakkan telinga. Makin dekat, bayangan hitam itu makin jelas terlihat bentuknya. Seekor burung rajawali raksasa dengan penunggang seorang pemuda tampan. Gagang pedang berbentuk kepala burung menyembul dari balik punggungnya. Pada saat yang kritis itu, Rangga muncul dengan burung rajawali raksasa.
"Dewa Agung datang...!"
Orang-orang berjubah merah serentak menjatuhkan diri berlutut. Dewi Sri Tungga Buana dan orang-orangnya terperanjat melihat datangnya seekor burung rajawali raksasa yang ditunggangi seorang laki-laki muda dan tampan. Burung rajawali raksasa itu mendarat tepat di tengah-tengah lingkaran manusia berjubah merah yang berlutut dengan kedua tangan menempel di tanah.
"Hup!"
Rangga melompat bagai kapas ditiup angin. Gerakannya ringan dan indah, tahu-tahu sudah berdiri di altar batu. Dan secepat kilat dicabutnya pedang Rajawali Sakti dari warangkanya. Sinar biru berkilau memancar, dan berkelebat cepat memutuskan tambang yang mengikat Pemimpin Agung Puri Merah. Setelah itu, Rangga membebaskan empat orang gadis yang terikat di tiang.
Begitu cepatnya tindakan Rangga, tahu-tahu ia sudah kembali duduk di punggung rajawali raksasa. Dan pedang pusaka pun juga sudah masuk lagi ke dalam warangkanya. Semua yang ada di situ bagai tersihir, berdiri takjub dengan mata tidak berkedip. Tidak terkecuali Dewi Sri Tungga Buana. Wanita cantik itu bengong bagai tidak percaya dengan yang dilihatnya.
"Petualanganmu sudah berakhir, Dewi Sri Tungga Buana. Dan aku akan menghukum sesuai dengan perbuatanmu yang tercela!" suara Rangga terdengar agung dan berwibawa.
"Tidak! Kau bukan dewa. Kau penyihir!" geram Dewi Sri Tungga Buana.
"Tidak ada waktu untuk berdebat. Aku akan membawamu kembali ke kahyangan. Biar para dewa yang akan memutuskan hukuman untukmu!"
"Adya Bala...! Serang! Bunuh orang gila itu!" perintah Dewi Sri Tungga Buana.
Anak buah Dewi Sri Tungga Buana serentak bergerak hendak menyerbu. Tapi Rangga dengan cepat melontarkan beberapa pukulan jarak jauh jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tahap terakhir. Sepuluh orang langsung terjungkal dengan tubuh hangus terkena pukulan maut itu.
Mereka yang selamat merasa ngeri, lalu menghentikan gerakannya setelah melihat sepuluh orang tergeletak terkena sinar-sinar merah yang meluncur dari telapak tangan Rangga. Mereka menjadi bimbang dan ragu. Sedangkan Dewi Sri Tungga Buana menggeram marah.
"Kalian orang-orang Puri Merah, bangkitlah! Hadapi segala bentuk kejahatan. Hadapi siapa saja yang ingin membelenggu. Wanita itu bukan Dewi Sri Tungga Buana, dan mereka juga bukan para prajurit kahyangan. Mereka adalah manusia biasa yang juga bisa mati!" Rangga membangkitkan semangat orang-orang Puri Merah.
"Kubunuh kalian semua jika berani menentang!" bentak Dewi Sri Tungga Buana melihat orang-orang berjubah merah mulai bangkit berdiri.
"Jangan hiraukan ancamannya! Aku akan melindungi kalian semua!" lantang suara Rangga.
"Setan! Kubunuh kau, tukang sihir buduk!" geram Dewi Sri Tungga Buana.
"Kematianmu sudah tiba, perempuan liar!"
"Lenyap kau, setaaan...!" teriak Dewi Sri Tungga Buana seraya menghentakkan tangannya ke depan.
"Hih! Yeaaah...!"
Sambil berdiri di punggung rajawali raksasa, Rangga langsung mengeluarkan aji 'Cakra Buana Sukma'. Dari dua telapak tangannya yang terbuka, meluncur sinar biru berkilau menahan sinar keperakan yang memancar dari tangan Dewi Sri Tungga Buana.
"Khraaaghk...!"
Pendekar Rajawali Sakti itu melenting dan menjejakkan kakinya di tanah dengan manis. Tapi sinar biru yang memancar dari tangannya tetap membendung cahaya keperakan yang memancar dari tangan Dewi Sri Tungga Buana.
"Khraaaghk...!"
Burung rajawali raksasa itu mengepakkan sayapnya, lalu menyambar beberapa orang berpakaian serba hitam. Melihat Dewa Agung dan tunggangannya murka, orang-orang berjubah merah serentak bergerak menyerang orang-orang Dewi Sri Tungga Buana. Seketika itu juga pecahlah pertempuran. Denting senjata dan teriakan teriakan membangkitkan semangat bercampur menjadi satu dengan pekikan kemati-an. Malam yang semula hening, berubah hiruk-pikuk oleh suara-suara pertempuran.
Sementara itu Rangga terus melangkah maju perlahan-lahan. Sedangkan Dewi Sri Tungga Buana tampak berkeringat. Wajahnya mulai memerah karena mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menandingi aji 'Cakra Buana Sukma'. Sedikit demi sedikit cahaya keperakan terdesak oleh sinar biru.
"Uhk! Akh...!" Dewi Sri Tungga Buana menggeliat.
Wanita itu merasakan tenaganya semakin terkuras, dan dadanya mulai terasa sesak. Keringat dingin semakin deras mengucur dari pori-pori tubuhnya.
"Hiya...!" tiba-tiba Rangga berteriak nyaring dan melengking.
Seketika itu juga tubuhnya melenting ke udara, lalu secepat kilat menghantamkan pukulan jarak jauhnya ke arah dada Dewi Sri Tungga Buana.
"Aaakh...!" jerit melengking terdengar dari mulut Dewi Sri Tungga Buana.
Wanita yang sudah kehabisan tenaga itu tidak mampu lagi menghindar dari hantaman Pendekar Rajawali Sakti. Begitu kerasnya, sehingga dadanya hancur berantakan menyemburkan darah merah kehitaman.
"Lari..., lari..., lari...!"
Melihat pemimpinnya mati, anak buah Dewi Sri Tungga Buana langsung berlarian berusaha menyelamatkan diri. Tapi orang-orang yang berjubah merah tidak membiarkan begitu saja. Mereka segera mengejar dan membabat mati yang tertangkap.
Rangga hanya memandangi saja dari jarak jauh. Dan tiba-tiba saja di benaknya terbersit misteri tentang keberadaan Pandan Wangi. Benarkah Pandan Wangi masih hidup? Lalu, siapa yang diceburkan ke jurang oleh orang-orang Puri Merah? Benarkah yang dikatakan Kitri Boga kalau dia melihat Pandan Wangi yang akan diceburkan ke jurang? Kalau bukan, siapakah gadis itu?
__ADS_1
Untuk mendapatkan jawaban itu, ikuti kisah selanjutnya dalam episode ASMARA MAUT