Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Iblis Lembah Tengkorak bag 9


__ADS_3

Di bangsal rumah yang paling besar di Lembah Bangkai, Saka Lintang tengah hanyut oleh perasaan malu dan marah. Dia benar-benar kecewa dengan sikap Rangga. Namun rasa cintanya yang menggebu dapat mengalahkan amarah dan rasa malunya. Dalam hati dia bertekad akan memiliki Rangga sepenuhnya.


Ketampanan dan kegagahan Rangga membuat Saka Lintang mabuk kepayang. Dia tidak peduli lagi dengan kedudukannya sebagai orang kedua di Panji Tengkorak. Pikirannya selalu tertuju pada pendekar tampan yang telah menancapkan panah cinta di hatinya.


"Lintang...."


Saka Lintang menoleh setelah mendengar suara panggilan dari belakang. Kala Srenggi sudah berdiri di balik punggungnya. Saka Lintang menjauh dan berbalik.


"Mau apa kau ke sini?" Tanya Saka Lintang ketus. Dia tahu kalau Kala Srenggi selalu berusaha men-dekatinya.


"Aku ingin bicara padamu," sahut Kala Srenggi memasang senyum yang menawan.


"Tentang apa?"


"Tentang kita."


Saka Lintang mengerutkan keningnya. Bagi Saka Lintang, senyum Kala Srenggi seperti seringai serigala liar kelaparan. Sedang bagi Kala Srenggi, melihat Saka Lintang bagai melihat bidadari turun dari kahyangan. Bukan rasa cinta yang ada di hati, tetapi nafsu birahi yang berkobar-kobar.


"Sejak pertama aku melihatmu, rasanya aku tidak bisa hidup tanpa kau, Lintang," Kala Srenggi meng-obral rayuannya.


"Oh..., apakah kau pantas denganku?" Cibir Saka Lintang.


"Kenapa tidak? Aku toh tidak terlalu jelek untukmu.


"Tapi kau tidak bisa menandingiku!"


"Lintang!" Merah padam wajah Kala Srenggi.


"Kalahkan aku dulu, baru kau boleh berkata begitu padaku!"


Kala Srenggi menelan ludahnya. Terasa pahit. Mana mungkin Saka Lintang dapat dikalahkan. Ilmu silatnya di bawah gadis ini. Kala Srenggi pernah merasakan jurus 'Tarian Bidadari' dan dia tak ingin merasakannya lagi.


"Bukankah cinta tidak mengenai tingkat kepan-daian, Lintang," kata Kala Srenggi lagi.


"Siapa bilang? Bagiku, laki-laki yang ingin memilikiku, tingkat kepandaiannya harus lebih daripada aku!" tetap ketus suara Saka Lintang.


"Seperti Pendekar Rajawali Sakti itu?!" Kala Srenggi mendongkol.


Saka Lintang terkejut. Dia tidak menyangka kala Kala Srenggi tahu dirinya tengah kasmaran. Nada suara Kala Srenggi memberi isyarat kalau dia tengah cemburu.


"Pendekar Rajawali Sakti musuh ayahmu, musuh Panji Tengkorak. Berarti juga musuhmu, Lintang. Bagaimana mungkin kau bisa mengharapkan dia!" Kala Srenggi coba beri pengertian.


"Dia bukan musuhku. Aku tidak pernah bermusuhan dengan Pendekar Rajawali Sakti!" dengus Saka Lintang.


"Mana mungkin dia bukan musuhmu, sedang kau putri ketua Panji Tengkorak."


"Apa urusanmu?"


"Jelas ada urusannya denganku. Geti Ireng menginginkan aku untuk menikahimu. Dan aku tidak rela jika Pendekar Rajawali Sakti merebutmu dari tanganku!"


"Gila! Siapa sudi menikah denganmu? Kau boleh merangkak di bawah kakiku, tapi jangan harap aku dapat jadi milikmu!"


Kala Srenggi makin merah mukanya. Kata-kata Saka Lintang telah menghina dan merendahkan dirinya. Sungguh panas telinga Kala Srenggi mendengar ucapan Saka Lintang itu. Darahnya segera mendidih, bergolak penuh kemarahan.


"Dengar, Saka Lintang. Penghinaanmu tidak akan kulupakan. Sekarang kedudukanmu masih kuat. Tapi nanti, setelah kau lepas dari Geti Ireng.... Kau akan menyesal!" Kala Srenggi mengancam penuh kemarahan.


"Heh, main ancam segala rupanya." Cibir Saka Lintang mengejek.


"Huh! Dasar anak pungut tidak tahu diri!" Dengus Kala Srenggi geram.


Setelah berkata demikian, Kala Srenggi melompat ke luar dari bangsal rumah besar.


"Hey!" Saka Lintang terkejut setengah mati mendengar kata-kata terakhir Kala Srenggi.


Saka Lintang segera melompat ke luar, namun Kala Srenggi sudah tak terlihat lagi. Saka Lintang celingukan, lalu melompat ke atap. Matanya yang tajam memandang ke sekeliling, namun Kala Srenggi benar-benar tidak terlihat lagi.


"Anak pungut..," gumam Saka Lintang berulang-ulang.


Benarkah dia anak pungut? Anak pungut Geti Ireng? Lalu siapa orang tuanya yang sebenarnya?


********************


Setelah didesak, Emban Girika akhirnya menceritakan asal usul Saka Lintang. Wanita gemuk itu yang mengurus Saka Lintang sejak kecil.


"Saya diperintah merawat Nini Lintang ketika masih berusia satu tahun. Waktu itu Panji Tengkorak masih partai kecil. Gusti Geti Ireng masih mencari pengaruh dan kekuatan. Dia mengembara dari satu dusun ke dusun yang lain. Beliau tidak bisa mengurus Nini Lin-tang, maka sayalah yang diperintah merawat Nini di lembah ini," kata Emban Girika.


"Lalu siapa orang tua saya sebenarnya?" Tanya Saka Lintang tidak sabar.


"Sabar dulu, Nini. Saya akan ceritakan dari awalnya," Emban Girika menarik napas panjang sebentar. "Ketika itu Gusti Geti Ireng memasuki desa Kali Anget Di desa itu beliau mendapat perlawanan sengit Kepala Desa. Namun Kepala Desa itu akhirnya di bunuh bersama istri dan anak-anaknya. Hanya satu yang selamat, seorang bocah perempuan berumur satu tahun."


"Anak perempuan itu saya kan, Bi?" Celetuk Saka Lintang makin tidak sabar.


"Benar. Gusti Geti Ireng membawa anak perempuan itu, karena kedua istrinya tidak mempunyai anak sampai meninggal!"

__ADS_1


"Apakah dibunuh ayah juga?"


"Ya, kedua istri Gusti Geti Ireng ingin melarikan diri. Mereka tidak tahan melihat Gusti Geti Ireng begitu kejam membunuh siapa saja yang berani menentangnya."


Saka Lintang gemetar seluruh tubuhnya. Berbagai perasaan berkecamuk di dadanya. Dia tidak tahu, apakah harus marah, kecewa, atau berterima kasih pada ayah angkatnya yang telah merawat dan mendidiknya hingga menjadi seorang wanita yang berilmu.


Tetapi laki-laki itu juga yang membunuh seluruh keluarganya. Saka Lintang tidak tahu apakah dia harus membalas kematian orang tua dan saudara-saudaranya? Apakah akan dilupakan saja kejadian itu? Orang yang selama ini dianggap ayahnya sekaligus pelindung yang menyayangi dan dihormatinya itu, ternyata pembunuh keluarganya. Haruskah dia tinggal diam?


Saka Lintang merasa menyesal, kenapa dia harus mengetahui semua ini. Seharusnya dia tidak perlu tahu, sehingga tidak dituntut untuk berbakti kepada orang tuanya. Bakti seorang anak yang orang tuanya dibunuh laki-laki yang kini jadi ayah angkatnya. Haruskah menuntut balas?


"Tidaaak...!" Saka Lintang menjerit sekuat-kuatnya.


"Nini..., Nini Lintang...," Emban Girika jadi ketakutan melihat Saka Lintang mengamuk memporak-porandakan kamarnya.


"Tidak! Dia bukan pembunuh orang tuaku. Tidak...!" jerit Saka Lintang sambil meloloskan pedangnya.


Dengan sekali tebas saja, tiang tempat tidur patah jadi dua. Pembaringan yang beralaskan kain sutra halus itu pun ambruk disertai suara gemuruh. Belum juga puas, Saka Lintang membabatkan pedangnya ke sana kemari seperti kesetanan. Lalu dia jatuh terduduk menunduk lemas. Isaknya terdengar memilukan.


Batin gadis itu tergoncang hebat. Sulit baginya menerima kenyataan yang menyakitkan ini. Saka Lintang merasa hidupnya tiada berguna lagi. Semua orang akan mengejek dan menertawakan dirinya.


"Gusti Yang Agung, betapa berat cobaan yang kau berikan padaku!" Saka Lintang menangis terisak menyesali hidupnya. "Mengapa aku tidak sekalian dibunuh saja, Bi. Kenapa Geti Ireng mengambilku sebagai anak? Kenapa, Bi...?"


"Tabahlah, Nini. Semua ini sudah kehendak Sang Hyang Widi. Nini harus menerima kenyataan dengan hati lapang," kata Emban Girika juga tidak kuasa menahan air matanya.


"Percuma saya. hidup, Bi."


"Nini jangan berkata begitu. Gusti Geti Ireng memang telah membunuh orang tua dan saudara-saudaramu. Tapi Gusti Geti Ireng juga telah merawat mendidik, dan membesarkan Nini sampai menjadi wanita berilmu sekarang ini. Bagaimanapun juga Nini berhutang budi padanya."


"Tapi dia membunuh keluargaku, Bi!"


"Memang kewajiban seorang anak menjunjung tinggi martabat orang tuanya. Hanya masalahnya sekarang, pembunuhnya justru ayah angkat Nini sendiri."


"Katakanlah, Bi. Apa yang harus saya lakukan?" Saka Lintang kelihatan putus asa.


Emban Girika tidak menjawab. Memang serba sulit untuk menjawabnya. Dia bersedia tinggal di lembah ini karena merasa kasihan melihat Saka Lintang kecil yang masih memerlukan kasih sayang seorang ibu. Dia juga membenci Geti Ireng yang telah membunuh seluruh keluarganya.


Kedudukan Emban Girika di lembah ini tidak ubahnya seperti tawanan. Bisa dikatakan dia adalah budak. Emban Girika hanya bisa menerima nasib. Dia tidak mungkin mampu mengalahkan Geti Ireng yang sakti. Dia sadar tak mampu melawan karena hanya seorang wanita desa yang lemah tidak mengerti ilmu silat dan kesaktian apapun.


Pada saat mereka terdiam, di luar terdengar suara-suara ribut. Suara senjata beradu dan jeritan melengking, saling menyusul. Saka Lintang terdongak, lalu melompat keluar menembus dinding yang terbuat dari potongan kayu papan.


"Nini Lintang...!" Emban Girika bergegas ke luar.


Apa sebenarnya yang terjadi?


"Pradya Dagma! Mana Kala Srenggi?" suara Geti Ireng atau Iblis Lembah Tengkorak menggelegar di tengah-tengah suara pertempuran.


"Dia kabur!" Sahut Pradya Dagma sambil terus mengebutkan tasbih mutiara saktinya.


"Pengecut! Kupecahkan kepalanya nanti!" geram Geti Ireng.


Pertempuran terus berlangsung. Korban dari kedua belah pihak mulai berjatuhan. Darah mengalir membasahi Lembah Tengkorak ini. Mayat-mayat bergelimpangan tak tentu arah. Sebentar saja pemandangan lembah ini kian mengerikan. Bau anyir darah menyebar terbawa angin.


"Geti Ireng!"


Geti Ireng menoleh. Tiba-tiba saja seorang tokoh tua berjubah putih melompat ke depan. Tokoh tua ini adalah Begawan Pasopati, guru besar dari partai Teratai Putih. Tongkat galian asam dengan cincin emas berbentuk kepala naga diacungkan ke depan. Matanya tajam menatap Geti Ireng yang tegak meng-genggam tongkat berkepala tengkorak.


"Hm, Begawan Pasopati. Rupanya kau ikut ambil bagian juga dalam kerusuhan ini." gumam Geti Ireng dingin.


"Kerusuhan terakhir dari sepak terjangmu!" balas Begawan Pasopati tidak kalah dinginnya.


"Ha ha ha...! Akan kulihat, sampai di mana nama kosongmu!" ejek Geti Ireng.


"Tahan seranganku!" pekik Begawan Pasopati segera melompat menyerang.


Geti Ireng mengerutkan keningnya sedikit. Rupanya Begawan tua ini langsung mengeluarkan jurus 'Naga Menggempur Gunung'. Geti Ireng tahu kehebatan jurus ini. Makanya dia tak sungkan lagi meladeninya. Dikeluarkannya jurus Tongkat Maut' yang menjadi andalannya dibarengi dengan 'Aji Sangkala Bayu'. Dengan ajian ini tubuh Geti Ireng bergerak seringan kapas. Gerakannya semakin cepat dan lincah.


Menyadari lawan telah menggunakan ajiannya, Begawan Pasopati segera merapal aji pamungkasnya. 'Aji Batara Karang'. Sekejap saja seluruh tubuh Begawan ini bercahaya menyilaukan mata.


"Setan! Kau licik, Begawan Pasopati!" dengus Geti Ireng. Cahaya menyilaukan yang terpancar dari tubuh Begawan itu membuat mata jadi perih. Geti Ireng tidak dapat melihat jelas di mana Begawan Pasopati berada.


Merasa keadaannya tidak menguntungkan. Geti Ireng segera melompat tinggi sambil memekik nyaring. Lalu dengan cepat dia meluncur ke bawah dengan ujung tongkatnya terarah ke kepala Begawan itu.


"Awas, Eyang...!"


Begawan Pasopati menjatuhkan tubuhnya sambil mengebutkan tongkat ke udara. Serangan Geti Ireng luput. Hampir saja tongkat Geti Ireng mengenai Begawan itu kalau tidak cepat-cepat berkelit di udara.


"Saka Lintang! Lancang kau!" dengus Geti Ireng mengetahui peringatan itu datang dari putrinya sendiri.


"Hentikan semua kekejamanmu, Geti Ireng!" keras sekali suara Saka Lintang.


"He! Sejak kapan kau berani membentak ayahmu?!" Geti Ireng terkejut heran.


"Sejak aku tahu, kau bukan ayahku!"

__ADS_1


Geti Ireng terlonjak kaget sampai melompat dua tombak.


"Dari mana kau tahu?" Tanya Geti Ireng menahan napas.


"Kala Srenggi!"


"Setan alas! Bocah itu harus ******!" jerit Geti Ireng kalap.


Setelah berkata demikian, Geti Ireng segera melompat tinggi ke udara.


"Geti Ireng, jangan lari kau!" teriak Begawan Pasopati seraya menggenjot tubuhnya ke udara.


Namun baru saja dia melesat, tiba-tiba Geti Ireng melempar jarum-jarum beracunnya. Begawan Pasopati tersentak. Dengan cepat diputar-putar tongkatnya bagai baling baling untuk menangkis serangan gelap itu.


Jarum-jarum berpentalan terkena sambaran tongkat. Malangnya, jarum-jarum itu menyambar orang-orang yang tengah bertempur di bawah. Jerit kesakitan terdengar dari beberapa orang yang terkena. Senjata rahasia jarum beracun itu sangat ampuh. Dalam sekejap orang yang terkena akan mati. Tubuhnya membiru dan kaku.


"Kejam! Semua dewa mengutukmu, Geti Ireng!" ge-ram Begawan Pasopati. Giginya gemerutuk menahan amarah. Tidak sedikit murid-muridnya yang terkena sambaran jarum-jarum beracun itu.


"Aku tidak ada urusan denganmu, Begawan Pasopati!" seru Geti Ireng, kembali melenting dengan meminjam landasan daun yang melayang dihembus angin.


Ketika tubuh Geti Ireng meluncur satu tombak, tiba-tiba sebuah bayangan cepat menghadangnya. Geti Ireng tersentak kaget Dengan cepat dia mluncur ke bawah sambil berlompatan beberapa kali di udara.


Baru saja kakinya menjejak tanah, bayangan itu kembali menyerang. Gerakannya sangat cepat sehingga sulit diikuti mata. Geti Ireng kewalahan hingga jatuh bangun menghindari serangan cepat yang beruntun.


"Demit busuk! Siapa kau?" teriak Geti Ireng kesal.


"Aku Pendekar Rajawali Sakti!"


Bersamaan dengan terdengamya suara itu, tiba-tiba di hadapan Geti Ireng telah berdiri seorang pemuda tampan dengan pedang bergagang kepala burung rajawali. Begawan Pasopati tersenyum melihat kedatangan pendekar muda itu. Dia sudah pernah bertemu ketika pendekar itu berkunjung di kediamannya.


Saka Lintang yang melihat kemunculan pendekar itu menjadi berseri-seri. Dia berharap pendekar itu tahu kalau dirinya benar-benar membenci Panji Tengkorak. Saka Lintang berusaha menarik simpati Pendekar Rajawali Sakti dengan membantu tokoh-tokoh aliran putih membasmi Panji Tengkorak. Dia memekik keras membabati orang-orang Panji Tengkorak.


Tentu saja perbuatan Saka Lintang sangat mengejutkan semua anggota Panji Tengkorak. Mereka tidak mengerti dengan sikap Saka Lintang yang tiba-tiba memusuhi mereka. Tapi sikap Saka Lintang mendapat sambutan hangat dari tokoh-tokoh golongan putih. Mereka tahu sepak terjang gadis itu liar dan kejam.


"Minggir semua! Biar kuhabisi mereka!" teriak Saka Lintang.


"Minggir!" perintah Begawan Pasopati memberi kesempatan pada Saka Lintang. Dia sudah mengerti duduk persoalannya. Sebab Begawan Pasopati tadi telah mendengar sedikit pembicaraan Saka Lintang dengan Geti Ireng.


Mendengar perintah dari Begawan Pasopati, seluruh murid-murid Teratai Putih dengan cepat berlompatan ke luar arena. Tidak ketinggalan tokoh-tokoh golongan putih lain bersama murid-muridnya mengikuti petunjuk Begawan Pasopati.


"Lintang! Sudan gila, kau!" bentak Geti Ireng.


"Arwah ayah ibuku akan mengutuk kalau Panji Tengkorak belum musnah di tanganku!" sahut Lintang keras dan lantang.


"Lintang, aku ayahmu. Aku yang membesarkanmu!"


"Tidak! Kau bukan ayahku, kau pembunuh ayah ibuku! Aku memang berhutang budi padamu, tapi kau juga berhutang nyawa padaku. Bahkan, seluruh nyawa anggota Panji Tengkorak belum cukup menebus nyawa keluargaku!"


Merah padam muka Geti Ireng. Rahasia yang selama ini ditutup-tutupinya, akhirnya terbongkar juga. Rahasia ini bocor karena ulah Kala Srenggi. Geti Ireng benar-benar murka. Dia belum puas kalau belum mematahkan batang leher Kala Srenggi dan meng-hirup darahnya.


"Demi balas budiku, aku tidak akan membunuhmu. Aku hanya ingin melenyapkan seluruh anggota Panji Tengkorak," kata Saka Lintang lagi.


Semua anggota Panji Tengkorak yang terdiri dari tokoh-tokoh golongan hitam terkejut bergetar. Mereka semua tahu siapa Saka Lintang. Apalagi rata-rata mereka sudah pernah merasakan kehebatan gadis ini.


"Bersiaplah kalian semua menghadapi ajal!" dengus Saka Lintang.


Setelah berkata demikian, Saka Lintang berteriak nyaring. Tanpa basa-basi lagi, pedangnya berkelebat Cepat mencari mangsa. Saka Lintang segera mengeluarkan jurus pedang andalannya yang dibarengi dengan jurus 'Pukulan Geledek' yang sangat dahsyat. Beberapa tokoh anggota Panji Tengkorak berusaha membendung serangan Saka Lintang, namun hanya beberapa gebrak saja, tiga orang tersungkur mandi darah.


"Lintang, berhenti!" teriak Geti Ireng.


"Tidak, sebelum semua anggota Panji Tengkorak musnah!" sahut Saka Lintang terus mengamuk.


"Bocah gila! Kubunuh kau!" geram Geti Ireng murka.


Bersamaan dengan habisnya kalimat itu, Geti Ireng menggenjot tubuhnya menuju ke arah Saka Lintang yang tengah merubah jurusnya dengan 'Tarian Bidadari'. Namun belum sempat Geti Ireng sampai, sebuah bayangan kembali menahannya. Terpaksa Geti Ireng bersalto di udara dan turun lagi ke tanah.


"Kau masih punya persoalan denganku, Geti Ireng," kata Rangga tegas.


"Aku tidak punya urusan denganmu. Minggir!" sentak Geti Ireng.


"Urusan lama belum terselesaikan!" dingin suara Rangga.


"Siapa kau?" Tanya Geti Ireng.


"Aku Rangga, bocah kecil yang kau lemparkan ke dalam jurang Lembah Bangkai!"


Lagi-lagi Geti Ireng tersentak kaget. Sungguh di luar dugaan, hari ini dia menghadapi persoalan-persoalan yang terjadi karena peristiwa puluhan tahun yang lalu. Persoalan-persoalan yang telah terlupakan. Bocah kecil yang dilemparnya ke jurang dulu, kini tiba-tiba datang untuk menuntut balas atas kematian kedua orang tuanya. Padahal pikirnya, bocah itu telah mati dilumat oleh baru cadas dasar jurang Lembah Bangkai!


"Ha ha ha...!" Geti Ireng tertawa terbahak-bahak Tawanya sangat keras karena dibarengi oleh penya-luran tenaga dalam yang sempurna.


Betapa sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki Geti Ireng hingga membuat gendang telinga sakit karena tawanya itu. Beberapa orang yang kemampuan ilmunya masih rendah, kesakitan sambil memegang kedua telinga. Dari mata dan telinga, darah segar mengalir. Mereka berguling-guling di tanah menahan rasa sakit Tokoh-tokoh yang berilmu tinggi pun harus mengerahkan tenaga dalamnya untuk meredam suara tawa itu.


Saka Lintang yang tengah kalap, segera menghentikan pertarungannya. Cepat-cepat disalurkan hawa murni ke bagian telinganya. Dirapalkannya 'Aji Pemecah Suara'. Ajian ini telah diajarkan oleh Geti Ireng sendiri untuk menangkal lawan yang bisa mengeluarkan suara keras. Terbukti suara Geti Ireng hanya terdengar biasa di telinga Saka Lintang. Memang ampuh ajian ini.

__ADS_1


Kesempatan ini tidak disia-siakan. Gadis itu dengan cepat mengayunkan pedangnya menyerbu anggota Panji Tengkorak yang sibuk menahan serangan suara tawa Geti Ireng.


__ADS_2