
Tiga purnama hampir menjelang. Sementara itu di Lembah Bangkai Pendekar Rajawali Sakti tengah menguji ilmu yang baru dipelajari dari kitab yang diberikan burung rajawali raksasa Dia puas melihat hasil dari ilmu pedang Pemecah Sukma . Dengan pedang rajawali sakti dia dapat menghancurkan batu karang sebesar gunung sekalipun hanya dengan menggoreskan ujungnya saja.
Kehebatan pedang itu adalah mampu membabat benda tanpa memperlihatkan bekas sabetan. Tapi di dalam benda itu hancur. Rangga sudah mencobanya pada sebatang pohon besar. Dari luar pohon itu nampak habis ditebas tapi tidak berapa lama kemudian daun-daunnya berguguran semua, dan seluruh batangnya menjadi kering seperti habis terbakar saja.
Kini Pendekar Rajawali Sakti itu tengah memusatkan seluruh konsentrasinya pada ilmu Cakra Buana Sukma . Kedua bola matanya lurus menatap pohon ara yang besar dan tinggi. Perlu tiga orang dewasa untuk bisa melingkari batang pohon itu dengan tangan saling bertaut. Tangan kanannya menggenggam pedang sampai ke ujung. Kemudian kembali lagi dan berhenti tepat di tengah-tengah.
“Cakra Buana Sukma ...!” teriak Rangga keras.
Seketika itu juga dari seluruh batang pedang yang memancarkan sinar biru berkilau sinar itu berkumpul jadi satu. Secepat kilat sinar itu menggumpal menerjang lurus ke depan. Seleret sinar biru memanjang membentur pohon ara yang tinggi besar itu. Seluruh pohon itu diliputi sinar biru dari pangkal akar sampai ke puncaknya.
“Yeaaa,” Rangga berteriak nyaring melengking.
Suara ledakan dahsyat terdengar, bersamaan dengan hancurnya pohon itu. Dan sinar biru yang menggumpal berleret panjang pun lenyap. Kini Pedang Rajawali Sakti kembali seperti biasa memancarkan cahaya biru berkilau.
“Kraaargh!” burung rajawali raksasa mengibas-ngibaskan sayapnya sambil melonjak-lonjak.
Rangga menoleh sambil tersenyum. Kepala burung itu terangguk-angguk dengan bola mata bulat berbinar-binar. Rangga memasukkan pedang pusaka ke dalam sarungnya. Dia melangkah dengan bibir tersungging senyuman menghampiri burung raksasa itu. Tangannya terkembang dan kepala rajawali itu menyorong ke depan. Pendekar Rajawali Sakti memeluk kepala burung rajawali itu dengan penuh kasih sayang.
“Bagaimana penilaianmu?” tanya Rangga setelah melepaskan pelukannya.
Burung rajawali raksasa itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Rangga tersenyum puas karena burung. sakti itu telah menyatakan kepuasannya melihat dua ilmu dahsyat telah dapat dikuasai Rangga dalam waktu kurang dari tiga purnama.
“Sebaiknya aku segera keluar dan lembah ini,” kata Rangga.
“Argh!” Rajawali itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dia merendahkan tubuhnya dengan menekuk kedua kakinya. Rangga dengan sigap melompat ringan dan hinggap di punggung rajawali raksasa itu. Sekejap saja burung itu mengepakkan sayapnya. Melesat terbang tinggi ke angkasa sambil berkaokan. Rangga memandang ke bawah yang terlihat hanya permukaan bumi yang hijau dan berbukit-bukit.
“Agak rendah sedikit Rajawali,” teriak Rangga.
“Argh!”
Rajawali raksasa itu merendahkan terbangnya. Kini Rangga dapat melihat ke bawah lebih jelas lagi. Sinar matahari sore seperti berada tepat di punggungnya. Hangat dan indah dipandang mata. Rangga mengernyitkan alisnya saat melihat Desa Jatiwangi berada tepat di bawahnya. Tampak desa itu kelihatannya sepi seperti tidak berpenduduk saja.
“Turun di tepi hutan itu Rajawali!" teriak Rangga sambit menunjuk Hutan Gading.
“Argh!”
Rajawali raksasa menukik menuju ke Hutan Gading yang ditunjuk Rangga. Ringan sekali tubuh Pendekar Rajawali Raksasa itu melompat turun dari punggung burung raksasa setelah mendarat di tepian Hutan Gading yang sepi. Rangga sebentar mengamati sekitarnya.
''Terima kasih. Kau boleh kembali,” kata Rangga.
“Argh!”
Rangga menepuk-nepuk kepala Rajawali yang merunduk ke depan. Kemudian burung raksasa itu kembali melesat ke angkasa memperdengarkan suaranya yang serak melengking tinggi. Rangga mengamati kepergian burung raksasa itu sampai hilang di balik awan. Kembali dia mengamati ke sekelilingnya. Matanya langsung menatap ke arah Desa Jatiwangi yang kelihatan jelas dari tempat tinggi seperti ini.
“Aku harus ke desa itu. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa di sana,” gumam Rangga.
Namun baru saja hendak melangkah mendadak telinganya yang tajam mendengar langkah kaki orang. Langkah kaki yang masih terdengar jauh. Rangga celingukan sebentar kemudian tubuhnya melesat ringan. Dalam sekejap saja sudah nangkring di atas pohon. Matanya langsung menatap lurus ke arah suara langkah kaki yang semakin dekat terdengar.
Tampak seorang berjalan ke arahnya. Pakaiannya serba putih. Dan tidak ada satu senjata pun tampak di tubuhnya. Dia berjalan pelan satu-satu namun jelas kalau orang itu menggunakan ilmu meringankan tubuh. Meskipun begitu telinga Rangga yang sudah terlatih baik masih juga dapat mendengar suara langkahnya yang ringan hampir tidak menapak tanah.
“Bayangan Malaikat...,” gumam Rangga begitu mengenali orang yang berjalan ke arahnya.
Memang benar orang itu adalah Bayangan Malaikat. Dia berjalan sendirian menuju ke tepi Hutan Gading. Rangga memperhatikan terus setiap gerak langkah Bayangan Malaikat dari atas pohon.
“Mau apa dia ke Hutan Gading?” pikir Rangga dalam hati.
Bayangan Malaikat berjalan melewati pohon yang di atasnya bertengger Pendekar Rajawali Sakti. Tanpa sadar kalau dirinya diamati sejak tadi. Bayangan Malaikat terus berlalu menembus Hutan Gading.
Rangga yang tadi penasaran ingin tahu maksud Bayangan Malaikat ke hutan yang sangat ditakuti sel penduduk desa di sekitarnya. Dia melompat ringan dari satu pohon ke pohon lainnya. Tidak sedikitpun suara yang ditimbulkan. Gerakan Pendekar Rajawali Sakti sungguh ringan bagal kapas.
Pendekar Rajawali Sakti mengerutkan keningnya. Bayangan Malaikat berlompatan menyelinap dan balik pohon satu ke pohon lainnya. Sepertinya dia takut terlihat oleh siapa pun. Tentu saja kelakuan Bayangan Malaikat ini semakin menarik perhatian Rangga. Terus saja dibuntutinya dari atas pohon. Matanya tajam bagai mata rajawali mengamati setiap gerakan Bayangan Malaikat
“Berhenti...?” Rangga jadi bertanya tanya saat melihat Bayangan Malaikat berhenti di tengah hutan. Mata Pendekar Rajawali Sakti memandang ke sekelilingnya. Tidak ada seorang pun yang terlihat di sekitar tempat ini. Bayangan Malaikat juga berdiri di balik sebuah batu besar memandang ke depan. Matanya lurus menatap sebuah gundukan tanah di bawah pohon rindang.
“Kuburan siapa itu?” tanya Rangga dalam hati.
Belum juga Rangga bisa menjawab matanya langsung melihat pada Bayangan Malaikat. Orang berpakaian serba putih itu melangkah menghampiri gundukan tanah yang dikelilingi batu-batuan yang bertata rapi. Sebentar dia berdiri mematung di samping kuburan lalu berlutut.
“Dewa Pedang Emas sudah tiba saatnya untuk membalas sakit hatimu. Malam nanti di tempat ini Ki Rangkuti akan menyabung nyawa membela kehormatan keluarganya. Aku juga tidak akan tinggal diam untuk membalaskan dendam hatimu,” bisik Bayangan Malaikat pelan.
“Dewa Pedang Emas... ?!” Rangga terkejut. “Siapa yang membunuhnya?” Pendekar Rajawali Sakti segera melayang turun dan hinggap di belakang Bayangan Malaikat. Tentu saja kedatangan Pendekar Rajawali Sakti yang tiba-tiba itu membuat Bayangan Malaikat kaget bukan main. Dia sampai terlompat sejauh dua batang tombak Bayangan Malaikat menarik napas panjang begitu mengetahui siapa yang datang.
“Maaf, aku mengejutkanmu Paman,” ucap Rangga
“Ah, tidak,” sahut Bayangan Malaikat seraya melangkah mendekat
“Apakah ini makam Dewa Pedang Emas?” tanya Rangga menatap kuburan di depannya.
“Benar,” sahut Bayangan Malaikat.
“Bagaimana kejadiannya? Kenapa sampai dikuburkan di Hutan Gading ini?”
“Dia bertarung dengan manusia liar Buto Dungkul tiga purnama yang lalu,” Bayangan Malaikat menceritakan.
Rangga Mendengarkan cerita Bayangan Malaikat dengan penuh perhatian. Tidak sedikitpun memotong cerita itu sampai selesai. Diceritakan pula kalau tengah malam nanti akan terjadi pertarungan antara Ki Rangkuti melawan Buto Dungkul.
Pendekar Rajawali Sakti kini semakin mengerti duduk persoalannya. Bukan saja Buto Dungkul yang akan dihadapi Ki Rangkuti nanti tapi juga Ular Betina yang telah berhasil membawa lari Sekar Telasih.
Rangga memang belum pernah bertemu dengan Buto Dungkul tapi mendengar cerita Bayangan Malaikat dia sudah bisa memperkirakan seperti apa orang yang bernama Buto Dungkul itu.
“Hm.. jadi Paman ke sini mendahului Ki Rangkuti?” gumam Rangga seolah bertanya dalam hati
“Benar. Aku hanya ingin mencegah terjadinya kecurangan. Mereka orang-orang yang licik dan curang. Aku yakin, Dewa Pedang Emas bisa tewas karena kecurangan. Rasanya kalau baru menghadapi Buto Dungkul saja Dewa Pedang Emas tidak sampai tewas. Pasti ada campur tangan Ular Betina,” suara Bayangan Malaikat terdengar penuh rasa benci dan dendam.
“Di mana pertarungan itu dilaksanakan?” tanya Rangga.
“Di sini!”
********************
Pada saat yang sama di tempat tinggal Buto Dungkul Nyi Rongkot menikmati angin sejuk di depan goa Sementara di dalam goa yang sangat tersembunyi, Sekar Telasih duduk beralaskan daun-daun kering. Agak jauh di depannya, manusia liar Buto Dungkul asyik menikmati daging menjangan bakar.
Keadaan Sekar Telasih tidak kekurangan satu apa-apa. Hanya raut wajahnya saja yang tidak mencerminkan kegembiraan. matanya sayu tanpa sinar gairah kehidupan. Hatinya terpukul sekali manakala mengetahui dirinya bukan anak Ki Rangkuti tapi anak perempuan iblis yang berjuluk Ular Betina. Dan sekarang nasibnya ditentukan dengan pertarungan antara ayah angkatnya dengan Buto Dungkul.
Sekar Telasih bergidik begitu matanya melirik Buto Dungkul yang lebih mirip raksasa daripada manusia. Haruskah dia mendampingi hidup laki-laki menyeramkan ini? Hidup terpencil di dalam hutan rimba yang ganas? Sungguh tidak terpikirkan sama sekali dalam hidupnya. Sekar Telasih membenci Nyi Rongkot yang membawa dirinya untuk diserahkan pada manusia yang menyeramkan ini. Kalau saja dia mampu, ingin rasanya membunuh kedua orang itu. Bahkan kalau mungkin melarikan diri.
“Lari...!” sentak Sekar Telasih dalam hati. “Lari.... Aku harus bisa lari dari tempat ini. Tapi bagaimana caranya?”
Sekar Telasih memutar otak, mencari cara untuk bisa meloloskan diri dari tempat kotor ini. Bibirnya yang selalu merah merekah menyunggingkan senyum begitu matanya melirik Buto Dungkul. Satu rencana mendadak mengalir begitu saja dalam benaknya.
“Raksasa ini memang kuat dan sakti tapi aku yakin dia bodoh. Tindakannya hanya mengandalkan kekuatan tanpa mampu berpikir,” gumam Sekar Telasih dalam hati.
Sekar Telasih bangkit berdiri. Mata Buto Dungkul menatapnya tidak berkedip. Dalam pandangannya gadis itu bagaikan bidadari baru turun dan kahyangan. Dada Buto Dungkul berdebar-debar ketika Sekar Telasih tersenyum manis padanya lebih-lebih saat gadis itu melangkah menghampiri.
“Kakang...,” lembut sekali suara Sekar Telasih.
“Kau... kau memanggilku cah ayu?” Buto Dungkul seperti tidak percaya dengan pendengarannya.
“Iya memangnya aku bicara dengan siapa?” makin manis senyum Sekar Telasih
“He he he...,” Buto Dungkul gembira karena Sekar Telasih bersedia bicara dengannya. Lama sekali ditunggu-tunggu saat seperti ini.
“Sudah berapa lama aku di sini ya?” Sekar Telasih seperti bertanya pada dirinya sendiri.
“Hampir tiga purnama Dan besok kau sudah jadi milikku sepenuhnya,” sahut Buto Dungkul gembira.
“Rasanya lama ya menunggu sampai besok...”gumam Sekar Telasih.
“Mak.. maksudmu?" Buto Dungkul jadi tergagap. Dia menelan ludahnya menahan napsu birahi. .
“Yaaah... kenapa harus menunggu sampai besok? Kenapa tidak sekarang saja?"
“Apa... ?”
“Aku bersedia jadi istrimu, Kakang.”
__ADS_1
“Kau... kau mau ja...,” saking nafsunya Buto Dungkul jadi susah bicara. ...
“Iya sekarang juga aku bersedia jadi istrimu.”
Begitu gembiranya Buto Dungkul sampai dia lompat dan menubruk Sekar Telasih. Gadis itu menjerit kecil. Dia tidak mampu lagi melepaskan pelukan manusia liar itu. Sekar Telasih meronta coba melepaskan diri.
“Tunggu Kakang. Jangan kasar begini, ah!” rajuk Sekar Telasih manja.
“He he he... aku senang kau mau jadi istriku. Aku gembira!”
“Iya tapi jangan begini dong sakit!”
Buto Dungkul melepaskan pelukannya. Matanya liar menatap wajah Sekar Telasih yang cantik memerah saga. Rasanya sudah tidak sabar lagi menunggu sampai besok. Sambil menahan rasa jijik dan takut.
Sekar Telasih berusaha sekuat tenaga untuk tetap tersenyum dan berlaku manis. Dia tidak ingin rencana yang memenuhi benaknya jadi berantakan.
“Kau ingin merasakan tubuhku, kan?” pancing Sekar Telasih.
“He he he...,” Buto Dungkul terkekeh.
“Jangan!” Sekar Telasih mencegah tangan Buto Dungkul yang mau menjambret bajunya.
“Kau tadi menawarkan kenapa sekarang menolak?, Buto Dungkul tidak sabaran
“Maksudku jangan di sini.”
“Kenapa?”
“Ada ibu,” Sekar Telasih menekan suaranya.
Hatinya perih menyebut ibu pada Nyi Rongkot. Sungguh mati dia tidak ingin mengakui sedikitpun perempuan yang melahirkan dirinya.
“He he he. kau malu?”
Sekar Telasih mengangguk.
“Lalu di mana?”
“Cari tempat yang aman dan tenang. Aku suka tempat di pinggir sungai. Kau tahu tempatnya?”
Si manusia liar Buta Dungkul terkekeh kesenangan. Kembali dia memeluk tubuh ramping gadis itu dan memutar-mutarnya sambil tertawa gembira. Sekar Telasih memekik-mekik minta diturunkan. Dia ngeri berada dalam pelukan manusia raksasa ini.
“Ayo kita ke tempat yang kau inginkan!” ajak Buto Dungkul setelah menurunkan tubuh gadis itu.
Sekar Telasih tersenyum. Dibiarkannya saja tangannya digenggam manusia raksasa itu. Mereka kemudian melangkah ke luar goa. Nyi Rongkot mengerutkan keningnya melihat Sekar Telasih kelihatan berseri-seri berjalan bergandengan tangan dengan Buto DungkuI. Mereka seperti tidak melihat dirinya yang berdiri menatap penuh keheranan.
“Buto Dungkul akan ke mana kau?” teriak Nyi Rongkot
“He he he... bersenang-senang!” sahut Buto Dungkul terus saja melangkah.
Sekar Telasih tidak sedikitpun menoleh. Dia terus melangkah di samping manusia raksasa ini. Langkah kakinya agak cepat dan sedikit berlari mengimbangi langkah kaki Buto Dungkul yang lebar-lebar. Mereka terus berjalan menembus kelebatan Hutan Gading.
Dalam benak Sekar Telasih terus berputar mengatur rencana untuk bisa membodohi si manusia liar ini. Sampai pada jalan yang sulit dan agak menanjak, Sekar Telasih membiarkan dirinya dipondong. Sama sekali dia tidak memandang wajah seram yang memondongnya. Gadis itu minta diturunkan ketika sampai pada sebuah sungai yang jernih dengan airnya yang tenang mengalir. Tidak jauh dari tempat itu terlihat sebuah air terjun kecil mengalunkan lagu indah memercik.
“Aku mau mandi dulu, biar segar,” kata Sekar Telasih sambil melangkah mendekati tepian sungai.
Buto Dungkul mengikutinya dari belakang. Bibirnya menyeringai dengan bola mata liar melalap tubuh ramping gadis itu. Sejak keluar dari goa tadi dia sudah tidak lagi bisa menahan diri. Tapi dia tidak ingin gadis cantik itu jadi takut dan membencinya lagi. Dia harus bisa menahan diri sampai Sekar Telasih benar-benar rela menyerahkan diri dan tubuhnya.
“Kau mau mandi Kakang?” Sekar Telasih menawarkan.
“He he he...” Buto Dungkul terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Huh! Pantas badanmu bau mungkin telah bertahun-tahun tidak pernah kena air,” dengus Sekar Telasih dalam hati.
Sekar Telasih berdiri di atas batu yang menjorok ke sungai. Sebentar dipandanginya arus sungai yang tenang dan tidak terlalu keras. Kemudian dia menoleh pada Buto Dungkul yang berdiri agak jauh.
“Selamat tinggal, orang jelek!” dengus Sekar Telasih pelan.
Seketika tubuhnya melayang dan terjun ke dalam sungai. Tubuh gadis itu terus masuk ke dalam air. Buto Dungkul berlari mengejar. Dia berlutut di atas batu tempat Sekar Telasih tadi berdiri. Kepalanya menjulur melihat sungai yang menelan tubuh ramping gadis cantik itu.
“Jangan-jangan dia.... Ah! Tidak, tidak mungkin dia bunuh diri!” Buto Dungkul bergumam sendirian.
Dia berdiri bertolak pinggang memandangi sekitar sungai di depannya. Dari ujung sampai ke ujung lainnya tidak terlihat adanya Sekar Telasih. Kecemasan dalam diri Buto Dungkul semakin menjadi-jadi. Dia berlarian menyusuri tepian sungai. Namun tidak juga menemukan gadis itu.
“Celaka! Nyi Rongkot harus tahu Bodoh! Kenapa aku membiarkannya mandi di sini? Kenapa tidak di dalam goa saja? Aku bisa mengambilkan air sebanyak yang diperlukan. Bodoh!” Buto Dungkul memaki-maki dirinya sendiri.
Bergegas dia berlari kencang menerjang lebatnya hutan kembali menuju goa tempat tinggalnya selama ini. Suaranya menggelegar bagai guntur memanggil-manggil Nyi Rongkot Belum juga mencapai goa, tiba-tiba Nyi Rongkot sudah muncul di depannya.
“Ada apa? Kelihatannya kau kebingungan,” tanya Nyi Rongkot
“Anakmu...,” sahut Buto Dungkul.
“Ada apa dengan Sekar?”
“Dia hilang di sungai.”
Nyi Rongkot langsung melompat cepat begitu mendengar Sekar Telasih hilang di sungai Buto Dungkul langsung berlari mengikuti. Dalam waktu yang singkat saja mereka sudah mencapai tepian sungai. Dua pasang mata beredar mencari kalau-kalau melihat tubuh Sekar Telasih.
“Bagaimana mungkin bisa terjadi?” tanya Nyi Rongkot.
Buto Dungkul menceritakan semuanya mulai dari dalam goa sampai ke tepian sungai ini. Sedikit pun dia tidak merasakan dirinya bersalah namun dalam nada suaranya terdengar nada kecemasan Buto Dungkul cemas kalau-kalau Sekar T elasih tewas terbawa arus sungai. Dia tidak mau gadis itu mati sebelum sempat dijamah dan dinikmatinya.
“Bodoh!” geram Nyi Rongkot begitu Buto Dungkul selesai bercerita.
“Lho...!” tentu saja Buto Dungkul terkejut melihat Nyi Rongkot kelihatan begitu marah sekali.
“Dasar otak udang! Dia menipumu ******!” dengus Nyi Rongkol
“Apa... ?!”
“Dia pura-pura baik padamu supaya bisa keluar dari goa. Rupanya dia tahu kalau kau tidak bisa berenang. Makanya mengajakmu ke sini. Huh! Aku tidak mau tahu lagi, kau harus mencarinya sendiri kalau masih menginginkan Sekar Telasih!” sungut Nyi Rongkol.
“Setaaan...!” Buto Dungkul meraung keras dan menggelegar.
Dia benar-benar marah sekarang karena telah ditipu mentah-mentah oleh seorang gadis cantik. Buto Dungkul mengamuk membabi-buta menghajar batu-batu dan pohon-pohon di sekitar sungai dengan gadanya.
“Sekar Telasih tidak ketemu kalau ngamuk begitu!” kata Nyi Rongkot.
“Akan kubunuh dia Rongkot! Kubunuh dia...!”
********************
Malam semakin larut. Sekitar Hutan Gading telah terselimuti kabut tebal. Angin bertiup agak keras menyebarkan hawa dingin menusuk tulang. Sebelum tengah malam tadi Ki Rangkuti telah berdiri tegak menanti datangnya Buto Dungkul. Sementara, agak jauh dari tempat itu tampak Bayangan Malaikat dan Pendekar Rajawali Sakti bersembunyi di balik batu besar. Mata mereka tetap tertuju pada Ki Rangkuti yang tidak menyadari kalau tengah diawasi oleh sahabatnya.
Tepat ketika bulan berada di atas kepala Buto Dungkul datang bersama Nyi rongkot. Mereka berdiri sejauh kira-kira dua batang tombak di depan Ki Rangkuti. Laki-laki tua berpakaian serba putih itu mengerutkan keningnya karena dua orang itu tidak membawa Sekar Telasih
“Mana anakku?” tanya Ki Rangkuti.
“Anak setan itu telah kabur!” dengus Nyi rongkot.
“Rongkot!” bentak Ki Rangkuti geram “Kalau terjadi apa-apa terhadap Sekar Telasih aku bersumpah akan membunuhmu!”
“Hik hik hik... Kau akan mati sebelum membunuhku, Rangkuti."
"Setan alas! Iblis!" gerarn Ki Rangkuti.
Seketika itu juga Ki Rangkuti melompat bagai kilat seraya mencabut pedang yang tergantung di pinggang. Seleret cahaya keperakan melesat cepat membentuk lingkaran panjang menusuk ke arah Nyi Rongkot.
Serangan mendadak itu dengan cepat dielakkan Ular Betina. Dia hanya memiringkan sedikit tubuhnya sehingga tusukan pedang Ki Rangkuti hanya menemui tempat kosong.
Bersamaan dengan itu Buto Dungkul mengayunkan gadanya bagai geledek. Ki Rangkuti membuang dirinya dan bergulingan di tanah. Bergegas dia bangkit berdiri. Gada besar penuh duri menghantam tanah sampai bergetar seperti terjadi gempa.
“Kau berurusan denganku, Rangkuti!” bentak Buto Dungkul menggelegar suaranya.
Bersamaan dengan menghilangnya suara bentakan itu, Buto Dungkul kembali mengayunkan gadanya dengan kekuatan penuh. Ki Rangkuti melompat ke samping sambil mengibaskan pedangnya menghantam pergelangan tangan Buto Dungkul yang menggenggam gada. Gerakan Buto Dungkul yang lambat tidak mungkin menghindari sabetan pedang itu. Deras sekali sabetan pedang Ki Rangkuti itu namun pedang itu malah terpental lagi seperti membabat karet kenyal.
Ki Rangkuti melompat mundur. Tangannya seketika terasa kaki kesemutan. Benar-benar kebal manusia liar ini.
__ADS_1
"Ha ha ha... keluarkan semua senjatamu Rangkuti!" Buto Dungkul tertawa jumawa.
Ki Rangkuti segera mengeluarkan ilmu Pukulan Karang Baja setelah membuang pedangnya yang gompal. Ki Rangkuti berteriak nyaring dan segera mengirimkan serangan dengan ilmunya itu. Tetapi Buto Dungkul malah tetap berdiri tegak membiarkan tubuhnya jadi sasaran. Dia begitu yakin dengan ilmu kebal yang dimilikinya.
"Modar!” bentak Ki Rangkuti menggelegar.
Satu ledakan keras terjadi begitu kedua tangan Ki Rangkuti membentur dada Buto Dungkul. Tubuh Ki Rangkuti terpelanting sejauh dua batang tombak. Sedangkan Buto Dungkul masih berdiri tegak tertawa terbahak-bahak Laki-laki tua yang masih kelihatan gagah itu segera bangkit berdiri. Matanya membeliak lebar menyaksikan lawan tidak mempan dengan ilmu Pukulan Karang Baja yang sudah disempurnakan selama tiga bulan ini.
“Ambil pedangmu," tiba-tiba telinga Ki Rangkuti mendengar suara bisikan halus namun jelas.
Ki Rangkuti menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada yang terlihat, kecuali Nyi Rongkot yang berdiri agak jauh. Rasanya kalau Ular Betina yang membisikinya, tidak mungkin Masih dalam kebingungan datang lagi suara bisikan halus.
"Jangan buang waktu. Ambil pedangmu gunakan ilmu peringan tubuh. Arahkan sasaran pada mata dan ubun-ubun.”
"Siapa pun orangnya, pasti bermaksud baik,” bisik Ki Rangkuti.
Segera dia melompat dan menyambar pedangnya yang menggeletak di tanah. Dengan menggunakan ilmu peringan tubuh, segera dilakukan serangan disertai jurus-jurus pedang yang cepat ke arah mata dan ubun-ubun Buto Dungkul.
Tampaknya serangan Ki Rangkuti ini membuat Buto Dungkul menjadi kelabakan. Setengah mati dia berusaha melindungi daerah mata dan ubun-ubunnya dari serbuan yang cepat bagai kilat. Memang sulit juga bagi Ki Rangkuti untuk dapat menancapkan pedangnya ke mata dan ubun-ubun lawan. Gada besar penuh duri selalu menghalau setiap kali ujung pedang Ki Rangkuti menuju sasaran.
Sementara itu Nyi Rongkot rupanya juga mendengar bisikan halus yang diterima Ki Rangkuti. Dia segera mengerahkan ilmu pemecah suara dan pembeda gerak. Dalam sekejap saja dia telah bisa mengetahui ada orang lain di sekitar tempat ini. Mendadak tubuhnya mencelat ke arah batu besar tempat Bayangan Malaikat dan Pendekar Rajawali Sakti bersembunyi.
Bersamaan dengan itu, Pendekar Rajawali Sakti juga melompat ke arah Nyi Rongkot. Satu benturan keras terjadi di udara. Dua tokoh sakti itu terlontar dan jatuh ke tanah bergulingan. Mereka segera bangkit berdiri berhadapan. Melihat Pendekar Rajawali Sakti telah berhadapan dengan lawannya, Bayangan Malaikat pun melompat keluar.
“Bantu Ki Rangkuti Paman," kata Rangga agak keras. "Pusatkan perhatian pada mata dan ubun-ubun Buto Dungkul!
“Setan! Rupanya kau yang membisiki Rangkuti!” geram Nyt Rongkot.
“Dan kau lawanku iblis betina!” dengus Rangga.
"Phuih!"
Nyi Rongkot langsung memutar tongkat ular saktinya. Sinar merah segera bergulung-gulung, lalu dengan cepat dihantamkan ujung tongkatnya ke tanah. Seketika itu juga tongkat berubah menjadi ular berwarna merah menyala.
"Naga Merah...!" Nyi Rongkot berteriak keras.
Bersamaan dengan itu tangannya menuding ular yang meliuk-liuk di tanah. Dari ujung jarinya meluncur sinar merah yang langsung membungkus ular itu. Dalam sekejap saja ular itu berubah menjadi seekor naga merah. Rupanya Nyi Rongkot langsung mengeluarkan ilmu andalannya setelah tahu siapa yang dihadapinya kini. Dia tidak lagi memandang enteng Pendekar Rajawali Sakti.
Rangga segera mencabut pedang saktinya. Sinar biru berkilau langsung memancar menerangi sekitarnya. Secepatnya dikerahkan ilmu pedang Pemecah Sukma. Sinar biru pedang itu segera bergulung-gulung menjadi satu. Sementara itu jelmaan ular naga yang sebesar pohon kelapa telah menyerang bagai kilat.
Rangga menghunus pedangnya sehingga sinar biru berkelebat cepat menghajar ular naga itu. Tampak ular naga merah seperti diselimuti sinar biru yang berkilau di seluruh tubuhnya. Naga itu menggeliat-geliat seraya menyemburkan api dari mulutnya.
“Yeaaah...!" Nyi Rongkot berteriak melengking dengan tubuh melenting sambil mengirimkan pukulan Naga Merah ke arah Pendekar Rajawali Sakti.
"Hup!"
Rangga mengangkat tangan kirinya yang tergulung sinar biru. Begitu disentakkan tangannya, sinar biru langsung meluncur cepat ke arah Ular Betina yang berada di udara. Dari kedua telapak tangannya yang memerah juga meluncur sinar merah. Dua sinar bertemu di udara dan saling mendorong. Pelan-pelan tubuh Nyi Rongkot turun dan menjejak tanah kembali. Jarak mereka tinggal satu tombak lagi.
“Cakra Buana Sukma...!” teriak Rangga yang merasa kewalahan juga menghadapi dua makhluk maut ini.
Seketika itu juga Rangga menempelkan telapak tangan kirinya ke batang pedangnya lalu digosok-gosokkan dan berhenti di tengah-tengah pedang. Sinar biru kini semakin banyak menggumpal menyelimuti tubuh ular naga merah. Sedangkan dari telapak tangan kiri yang menempel pada tengah-tengah pedang, keluar sinar biru yang makin menggumpal ke arah sinar merah milik Ular Betina.
******************
Agak lama juga kedua tokoh sakti itu mengadu kekuatan. Namun sedikit demi sedikit sinar merah mulai terdesak. Seluruh tubuh dan wajah Ular Betina telah basah oleh keringat. Tangan dan kakinya mulai bergetar menahan ilmu Cakra Buana Sukma.
Pelan-pelan Rangga mulai merenggangkan telapak kiri dengan pedangnya. Kemudian ujung pedang yang terus mengeluarkan sinar biru mengarah pada naga merah yang menggeliat-geliat dan terus menyemburkan api dari mulutnya.
“Yeah!” tiba-tiba Rangga berteriak nyaring.
Seketika dikebutkan pedangnya ke atas. Ular naga merah sebesar pohon kelapa itu terangkat, melayang deras mengikuti tarikan pedang Pendekar Rajawali Sakti. Secepat kilat Rangga mengerahkan ilmu pedang Pemecah Sukma. Pedang pusaka itu dikebutkan dan...
Cras!
“Aaaargh... !”
Ular naga merah meraung menggelegar. Dengan keras tubuhnya terbanting ke tanah. Sebentar menggelepar-gelepar lalu diam tidak bergerak lagi. Perlahan-lahan naga merah itu berubah wujud kembali keasalnya. Kini yang menggeletak di tanah hanya sebatang tongkat berbentuk ular.
Rangga langsung menempelkan kembali pedangnya ke telapak tangan kiri. Kakinya mulai terayun melangkah mendekati Nyi Rongkot. Si Ular Betina yang mulai kejang-kejang kini tersentuh sinar biru pada telapak tangannya. Perlahan-lahan sinar biru menyelimuti seluruh tangan. Kaki Pendekar Rajawali Sakti terus melangkah semakin dekat.
“Aaakh...!” Nyi Rongkot menjerit keras ketika seluruh tubuhnya terselimuti sinar biru.
Tepat ketika tinggal selangkah lagi dengan cepat Pendekar Rajawali Sakti mengelebatkan pedangnya. Tanpa ampun lagi pedang pusaka Rajawali Sakti itu menghantam dada Ular Betina. Rangga langsung melompat ke belakang. Dia mencabut kembali ilmu Cakra Buana Sukma yang dipadukan dengan ilmu Pedang Pemecah Sukma. Begitu pedang Rajawali Sakti masuk dalam sarungnya sinar biru langsung hilang dari pandangan.
Tubuh Ular Betina menggeletak di tanah dekat tongkatnya yang telah menjadi tepung. Rangga berdiri memperhatikan tubuh Nyi Rongkot yang mulai lumer. Perlahan tapi pasti tubuh perempauan tua itu menjadi onggokan abu hitam. Pendekar Rajawali Sakti menarik napas panjang. Matanya langsung beralih pada Ki Rangkuti dan Bayangan Malaikat yang tengah berhadapan dengan si manusia liar Buto Dungkul. Tampaknya pertarungan masih berjalan seimbang.
Secepat kilat dia melompat sambil merentangkan kedua tangannya. Pendekar Rajawali Sakti kini mengerahkan jurus Sayap Rajawali Membelah Mega. Sedangkan Ki Rangkuti dan Bayangan Malaikat langsung melompat mundur. Rangga segera menyerang dengan jurus andalannya dengan cepat ke arah Buto Dungkul.
“Grrr...!” Buto Dungkul menggeram berat.
Gadanya yang penuh duri tajam berkelebatan mengincar tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Namun gerakan pendekar muda ini sangat lincah. Tidak sedikitpun gada itu dapat menyentuh tubuhnya. Bahkan beberapa kali tangan Rangga berhasil bersarang telak di tubuh manusia liar itu.
Buto Dungkul beberapa kali terjajar sambil menggeram marah. Kedua bola matanya makin merah menyala. Tiba-tiba Rangga melenting tinggi ke udara lalu dalam sekejap merubah jurusnya menjadi Rajawali Menukik Menyambar Mangsa. Kedua kaki Rangga bergerak cepat dan berputar.
“Aaargh!” Buto Dungkul meraung keras.
Dua kali kaki Rangga menghantam kepala si manusia liar itu. Dan begitu kakinya menjejak tanah tangan kanannya meluruk ke depan sambil melompat. Rangga kembali merubah jurusnya jadi Cakar Rajawali . Jari-jari tangannya menegang keras dan kaku.
Buto Dungkul yang masih merasakan sakit pada kepalanya tidak bisa lagi mengelak Dua jari tangan Pendekar Rajawali Sakti langsung mencoblos matanya. Lagi-lagi Buto Dungkul meraung keras. Dua biji mata mencelat keluar bersamaan dengan ditariknya kembali jari-jari Pendekar Rajawali Sakti. Kaki Rangga langsung melayang deras menghantam dada Buto Dungkul. Tubuh Rangga melambung tinggi ke udara.
Kembali diubah jurusnya menjadi Pukulan Maut Paruh Rajawali. Tangan kanan Rangga terkepal meluruk ke arah ubun-ubun kepala si manusia liar Buto Dungkul.
Prak!
Buto Dungkul meraung keras. Tubuhnya limbung beberapa saat. Batok kepalanya hancur. Keras sekali tubuh si manusia raksasa itu terbanting ke tanah. Sebentar berkelejotan lalu diam tak bergerak-gerak lagi.
Rangga berdiri mematung memandangi tubuh Buto Dungkul yang menggeletak tak bernyawa lagi. Dia menoleh begitu mendengar langkah-langkah kaki menghampiri. Rangga membalikkan tubuhnya. Kedua orang itu berdiri dengan jarak sekitar setengah batang tombak lagi.
“Terima kasih, kau te...,” belum habis Ki Rangkuti menyelesaikan ucapannya tiba-tiba terdengar suara panggilan keras.
“Ayah...!”
Hampir bersamaan mereka menoleh. Tampak seorang gadis berlari-lari dengan pakaian tidak karuan.
“Sekar Telasih...!” seru Ki Rangkuti.
Laki-laki tua yang tegap itu langsung berlari menyongsong anak angkatnya. Mereka bertemu dan berpelukan hangat. Bayangan Malaikat menyaksikannya dengan mata berkaca-kaca. Mereka sampai lupa pada Pendekar Rajawali Sakti. Ketika sadar, tidak lagi mereka dapati pendekar muda digdaya di tempatnya.
“Ke mana dia?” tanya Ki Rangkuti.
Bayangan Malaikat juga kebingungan tidak tahu harus menjawab apa. Dia sendiri sampai tidak memperhatikan dan tidak mengetahui kapan Pendekar Rajawali Sakti itu pergi.
“Siapa Ayah?” tanya Sekar Telasih.
“Pendekar Rajawali Sakti,” sahut Ki Rangkuti.
“Aku yakin dia tidak memerlukan ucapan apa-apa. Hm, benar-benar seorang pendekar sejati,” kata Bayangan Malaikat agak bergumam.
“Apakah dia yang membunuh kedua orang itu?” tanya Sekar Telasih.
“Ya, nanti Ayah ceritakan.”
Tanpa banyak bicara lagi mereka kemudian melangkah pergi meninggalkan Hutan Gading ini. Dalam perjalanannya Sekar Telasih menceritakan bagaimana ia bisa meloloskan diri. Dia tidak tahu jalan pulang lalu mendengar suara pertarungan serta melihat kilatan-kilatan sinar saling sambar. Sayang sekali kedatangannya setelah pertarungan selesai jadi tidak bisa menyaksikan.
“Ayah mau menceritakan semuanya kan?” desak Sekar Telasih.
“Tentu tapi tidak di sini.”
“Janji?”
“Janji!”
Sekar Telasih tersenyum manis. Kakinya terayun ringan bagai tidak memiliki beban apa-apa lagi. Dia seperti baru terbebas dari sebuah belenggu yang hampir menghancurkan seluruh hidupnya. Sedangkan Ki Rangkuti masih memikirkan Pendekar Rajawali Sakti yang datang dan pergi secara misterius. Namun hatinya dengan tulus mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya.
SELESAI
EPISODE BERIKUTNYA PRAHARA GADIS TUMBAL
__ADS_1