
Si Raja Ular langsung melenting ke luar. Dia berdiri tegak di tengah-tengah halaman yang luas dikelilingi tembok tinggi dan tebal. Banulaga, Resi Maespati dan Iblis Selaksa Racun pun sudah berdiri berjajar di belakangnya. Sementara malam terus merayap dengan sinar rembulan yang menerangi, dan halaman rumah Banulaga yang luas itu semakin terang oleh cahaya puluhan obor yang tertancap di beranda rumah dan sekeliling tembok.
"Setan kebarat! Keluar kau!" teriakan si Raja Ular terdengar menggema di keheningan malam di antara dinding-dinding tembok yang tinggi. Raja Ular nampak tidak bisa lagi menahan amarahnya.
Keadaan kembali sunyi. Tak ada sahutan. Sementara satu per satu orang-orang Banulaga mulai melangkah ke luar menuju halaman. Mereka mengambil posisi di belakang tokoh-tokoh sakti itu dengan golok terhunus. Banulaga pun telah siap dengan sepasang golok kembarnya. Hanya Resi Maespati dan Iblis Selaksa Racun yang tak bersenjata. Kedua tokoh sakti ini memang hanya mengandalkan ilmu silat tangan kosong dan kesaktiannya.
Pandangan mata si Raja Ular menebar ke sekeliling dengan tajam, telinganya pun terpasang penuh. Namun beberapa saat lamanya si penantang itu tak menampakkan batang hidungnya. Suasana pun semakin sunyi dan tegang.
"Pendekar Rajawali Sakti, keluar kau! Jangan bersembunyi seperti tikus got!" teriak si Raja Ular keras. Teriakannya yang disertai pengerahan tenaga dalam kembali menggema ke segala penjuru. Beberapa saat kembali hening....
"Aku di sini...!"
Seketika semua menoleh ke atas. Dan sebuah bayangan melayang dari atap, melakukan salto dua kali, lalu meluncur cepat ke tanah. Si Pendekar Rajawali Sakti pun berdiri dengan gagah di hadapan Raja Ular. Gerakannya yang cepat tanpa menimbulkan suara sedikitpun menunjukkan tingkatan ilmunya yang benar-benar tinggi, hingga yang melihatnya terkesima takjub.
"Aku datang untuk menghukum kelaliman kalian!" suara Pendekar Rajawali Sakti terdengar mantap dan berwibawa.
"Setan! Apa kau kira dirimu dewa, heh?!"
"Jangankan dewata... manusia dan binatang sekalipun muak melihat tingkah polah kalian!"
"kebarat! Kurobek mulutmu!"
Si Raja Ular langsung memutar tongkatnya yang berkepala ular cobra. Deru angin semakin mengguruh dahsyat bersamaan tongkat itu berputar. Orang-orang Banulaga yang berada di belakang tokoh-tokoh sakti itu pun mencari tempat berlindung, mereka tak mau menanggung resiko tubuhnya terhempas oleh angin yang semakin kencang bagai topan.
Tubuh Rangga tak bergeming sedikitpun. Bibirnya masih sempat menyunggingkan senyuman yang mengejek, hingga memancing Raja Ular lebih ganas lagi memainkan tongkatnya. Mendadak kedua tangan Pendekar Rajawali Sakti mendorong ke depan, dan seketika dari telapak tangannya yang terbuka meluncur sinar kebiruan.
Blar!... Suara ledakan menggelegar keras begitu sinar kebiruan menghantam tongkat ular yang berputar cepat bagai baling-baling itu, lalu tubuh Raja Ular pun terpental ke belakang. Dia menggeram keras, lalu berteriak nyaring. Tubuhnya meluncur deras dengan ujung tongkat terhunus ke depan.
"Bagus, majulah, biar lebih mudah kupecahkan batok kepalamu!"
Pendekar Rajawali Sakti menggeser kakinya sedikit, lalu memiringkan tubuhnya ke kiri, dan benturan keras pun terdengar ketika tangan kanannya menyampok tongkat berkepala ular itu. Tubuh si Raja Ular terlihat limbung, namun dengan cepat dia menguasai diri.
Raja Ular tercenung sesaat. Selama ini belum ada seorang pun lawannya sanggup menahan tongkat saktinya Tapi kali ini tongkat saktinya tak berarti apa-apa. Pendekar Rajawali Sakti masih mampu berdiri dengan tegar.
"Hmmm... aku harus menggunakan jurus 'Sengatan Cobra Hitam'," gumam si Raja Ular.
Resi Maespati tertegun melihat si Raja Ular membuka jurus 'Sengatan Cobra Hitam'. Dia tahu kalau itu adalah jurus simpanan yang hanya akan dikerahkan kalau si Raja Ular benar-benar menghadapi lawan yang sulit ditandingi.
Rangga sadar kalau jurus yang akan dikeluarkan si Raja Ular kali ini amat berbahaya Dia segera membuka jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali', satu jurus tingkat akhir dari rangkaian jurus Rajawali Sakti. Dalam waktu singkat kedua telapak tangannya berubah merah membara bagai terbakar. Sementara tangan si Raja Ular berubah menjadi hitam kelam dengan matanya semakin bulat mengecil.
"Sss...," si Raja Ular mendesis dengan lidahnya yang bercabang menjulur bagai ular. Dia lalu menyerang Pendekar Rajawali Sakti yang juga sudah siap dengan jurus andalannya. Pertarungan adu kesaktian segera terjadi. Gerakan-gerakan si Raja Ular lebih banyak ke bawah, dia mengegoskan tubuhnya sebelum tiba-tiba melenting menyerang lawannya dari atas.
Rangga yang sudah banyak menghadapi tokoh rimba persilatan tidak kaget lagi dengan jurus yang tengah dikerahkan oleh si Raja ular. Dia selalu lebih dulu menguji kehebatan lawannya sebelum bertindak dan mengetahui kelemahannya, namun dengan tetap waspada tanpa mengendurkan pertahanan diri.
Pendekar Rajawali Sakti tidak menghindar begitu tubuh Raja Ular melenting ke atas, lalu dengan cepat meluruk menyerangnya. Dengan sigap dia menangkap dan menghentakkan tongkat yang menuju ke arah dadanya. Raja Ular pun terkejut, sama sekali tak menyangka Pendekar Rajawali Sakti akan mampu mencegat serangannya. Raja Ular segera berusaha menarik kembali tongkatnya, tapi cekalan tangan lawannya begitu kuat. Kedua tokoh sakti itu saling berhadapan berpegangan tongkat.
"Hsss...!" Raja Ular mendesis keras.
Rangga dapat merasakan ada getaran dan hawa dingin menjalar dari tongkat yang dipegangnya. Dia tahu kalau tongkat lawannya mengandung racun berbahaya yang bekerja sangat cepat dan mematikan. Seketika itu juga dia mengerahkan aji 'Cakra Buana Sukma'. Perlahan-lahan tangannya yang memerah berubah menjadi biru berkilauan. Cahaya biru itu merambat menyelimuti tubuhnya, lalu terkumpul kembali ke tangannya.
"Hsss, ahk!" Raja Ular merasakan ada sesuatu yang menarik-narik di dalam tubuhnya. Satu tarikan yang semakin lama semakin kuat dia rasakan.
Raja Ular terkejut begitu menyadari kalau kekuatan itu mulai menyedot tenaga dalamnya. Raja Ular berusaha menarik tongkatnya, tapi sia-sia, setiap tarikan tangannya semakin menyedot tenaga dalamnya sendiri.
Raja Ular pun segera menghimpun hawa racun yang terkandung di dalam tubuhnya, lalu dia emposkan ke tongkat. Seketika itu juga racun tersedol ke tubuh Pendekar Rajawali Sakti.
"Huh, licik!" dengus Rangga.
Beruntung tubuh Pendekar Rajawali Sakti sudah kebal terhadap segala jenis racun. Tapi untuk menjaga kemurnian aji 'Cakra Buana Sukma', dia mengeluarkan racun yang berada di tubuhnya melalui mulut. Asap hitampun lalu tampak mengepul, dan langsung hilang tersapu angin
__ADS_1
"Edan!" dengus si Raja Ular. Dia seperti tidak percaya melihat kenyataan itu.
"Huh!" Rangga menyemburkan racun dari mulutnya dengan kencang ke wajah Raja Ular.
"Akh!" Raja Ular terkejut.
Buru-buru dia mencoba melepaskan kembali tangannya dari tongkat, tapi tangannya seolah-olah sudah terpatri. Raja Ular segera menyadari kalau tenaga dalamnya tersedot oleh Pendekar Rajawali Sakti. Asap racun yang berasal dari tubuhnya sendiri kini mengepul di depan mukanya.
"Aaakh...!" Raja Ular menjerit melengking. Racun itu berbalik menyerang dirinya sendiri, lalu bekerja dengan cepat melelehkan tubuhnya. Dia menggeliat-geliat meregang nyawa. Pendekar Rajawali Sakti menghentakkan pegangannya pada tongkat. Seketika itu juga tubuh si Raja Ular terjerembab ke tanah.
Tubuh Raja Ular yang sudah tak bernyawa itu kemudian mencair, hingga berubah tinggal tengkorak. Suasana di halaman rumah Banulaga pun dicekam oleh kengerian.
********************
Tidak lama setelah tubuh Raja Ular berubah menjadi tengkorak, mendadak muncul Santika. Lalu menyusul si Manusia Bertopeng Hitam yang sudah berdiri di atas tembok halaman. Tubuh Manusia Bertopeng Hitam itu melenting di udara, lalu mendarat tak jauh dari tubuh Raja Ular yang sudah menjadi tengkorak.
Dendam kesumatnya yang sudah memuncak membuat Banulaga langsung meloncat menyerang Manusia Bertopeng Hitam. Namun lawannya meladeni dengan tenang, dia seperti sudah memperhitungkan kemampuan Banulaga. Sedangkan Iblis Selaksa Racun menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Santika yang belum mendapat lawan, menatap Resi Maespati. Sedikit pun dia tidak gentar kalau terpaksa harus melawan gurunya sendiri.
"Aku sudah menduga, kau pasti masih hidup," kata Resi Maespati tersenyum tipis.
"Hyang Widi masih belum menghendaki nyawaku, Eyang Resi. Dan aku datang bukan sebagai saudara," tenang suara Santika, meski menyiratkan nada permusuhan.
Eyang Resi Maespati tersenyum. Dia masih bisa menangkap kata-kata hormat dari muridnya ini. Meskipun dia seorang Resi yang berjalan pada jalur sesat, tapi jiwa kearifannya masih terlihat jelas. Tokoh sakti inipun tak menghendaki kalau dia harus bertarung dengan Santika. Bagaimanapun Santika adalah murid dan cucunya, meskipun cuma cucu angkat.
"Maaf, jika Eyang Resi tidak senang, aku rela mati di tangan Eyang, bagaimanapun Eyang adalah orang yang telah membimbingku. Aku rela mati demi kebenaran dan keadilan"
"Sama sekali aku tidak menyalahkanmu, Santika. Aku tahu, aku selama ini telah berada di jalan yang sesat. Berhari-hari aku berada di sini, aku terus berpikir, yah, rasanya tidak pantas aku disebut resi. Sebutan itu terlalu suci bagiku. Mungkin dengan perantaraan dirimu, Hyang Widi membuka mata hatiku."
Santika seperti tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Dia tahu benar jalan hidup gurunya selama ini. Dan kata-kata gurunya ini, meluncur perlahan dan teratur bagai seorang yang arif bijaksana tanpa noda dan dosa dunia.
"Aku tidak menyalahkanmu kalau kau tidak mempercayai kata-kataku, Santika. Aku berkata jujur dan keluar dari lubuk hatiku yang selama ini beku tertutup nafsu iblis," lanjut Resi Maespati.
Resi Maespati tersenyum lebar. Dia memaklumi sikap muridnya ini. Perlahan-lahan tangannya merogoh ke balik bajunya yang kumal. Lalu terlihat sebuah badik berlapiskan emas murni tergenggam di tangannya.
Santika tahu itu adalah senjata pusaka kebanggaan dan andalan gurunya. Dengan senjata itu Resi Maespati kebal terhadap semua senjata dan racun. Napas dan hidup Resi Maespati ada pada badik itu.
"Kau tentu tahu kalau aku tidak bisa lepas dari senjata pusaka ini. Nyawaku ada di dalamnya." Resi Maespati menghampiri Santika. Dengan bibir menyunggingkan senyum, Resi Maespati menyodorkan badik itu pada Santika yang masih memandang tak mengerti.
"Terimalah, benda ini lebih bermanfaat jika berada di tanganmu," kata Resi Maespati pelan. Santika pun perlahan-lahan mulai menyadari sikap gurunya, lalu tangannya menjulur menerima badik itu.
Sementara itu, Banulaga yang tengah bertarung dengan Manusia Bertopeng Hitam, sempat memperhatikan apa yang diperbuat oleh Resi Maespati. Dia pun cepat melemparkan jarum-jarum beracun ke arah tubuh Manusia Bertopeng Hitam, dan ketika lawannya tengah berusaha menghindar, dengan cepat dia meloncat ke arah Resi Maespati dan Santika, lalu satu dari sepasang golok kembarnya menyambar tubuh Santika, namun dengan sigap Resi Maespati mendorong tubuh Santika, dan...
Cras!
Resi Maespati yang sudah hilang kesaktiannya, roboh oleh golok Banulaga. Darah langsung menyembur keluar dari dada yang robek dan terbelah lebar.
"Eyang Resi...!" pekik Santika terkejut
Bergegas Santika memburu dan memeluk tubuh yang terkapar mandi darah. Napas Resi Maespati mulai tersengal. Tebasan golok Banulaga yang dalam merobek jantungnya. Sesaat Banulaga sendiri tercenung dia seperti tersadar akan apa yang baru saja terjadi.
"Eyang...," rintih Santika lirih.
"Jangan sedih, Santika. Gunakan badik pusaka itu pada jalan yang benar dan lurus... dan satu lagi pesanku..." Santika cepat tanggap, di dekatkan telinganya pada mulut Resi Maespati, "jaga bagian pusarmu, di situ kelemahanmu...," lalu tubuh Resi Marspati pun terkulai lemah... Dia mati di pelukan muridnya sendiri.
Wajah sedih Santika yang menatap tubuh gurunya perlahan-lahan terangkat. Matanya menatap tajam pada Banulaga.
"Biadat! bangsal'" geram Santika. Seketika Santika melompat menerjang Banulaga yang masih diam terpaku. Terjangan yang cepat disertai amarah itu meluncur deras. Banulaga yang terlambat menyadari, tidak bisa lagi menghindar... tubuhnya terjengkang ke belakang oleh kaki Santika yang mendarat di dadanya.
Santika pun terlihat semakin garang. Dia menggeram sesaat, tangannya menggenggam erat badik pemberian gurunya... dan dia pun melompat kembali ke arah Banulaga...
__ADS_1
"Tunggu...!"
Santika tersentak, badik yang nyaris ia babatkan ke tubuh Banulaga pun tertahan Kemudian terlihat olehnya Manusia Bertopeng Hitam menghampiri.
"Aku tak ingin kau membunuh Banulaga dengan penyesalan, Santika...," si Manusia Bertopeng Hitam berkata dingin, sesaat menatap Santika, lalu menoleh pada Banulaga yang sudah berdiri kembali.
"Siapa kau?" tanya Santika penasaran.
Bret!
Santika dan Banulaga sama-sama terkejut. Orang yang telah membuka topeng hitamnya itu sama sekali tak dikenalnya. Juga bukan Japra yang disebutkan oleh Sadim sebelum kematiannya.
"Aku Sagar," orang itu berkata dingin, lalu matanya menatap Banulaga dan Santika berganti-ganti. "Aku adik angkat Japra.... Ayah dan ibu angkatku mati oleh orang-orang Badaraka," orang itu lalu menarik napasnya dalam-dalam, "...dan bersama Kang Japra aku membunuh ayahmu, Banulaga," orang itu menghentikan ucapannya kembali, lalu menatap tajam pada Banulaga, yang ditatapnya pun menahan geram. "Dan kau, Santika..., kau adalah anak Parti, perempuan yang dimangsa oleh kebuasan Badaraka, ayahmu mati membela kehormatan istrinya... tapi Badaraka mengambilmu sebagai anak angkatnya, dan adikmu...," orang itu seperti tercekat kerongkongannya, lalu mendadak muncul Japra.
"Benar, Santika, Sagar ini adikmu, yang dirawat oleh orang tuaku," kata Japra lirih. Sejenak Santika dan Sagar saling berpandangan...
Dan mendadak mereka dikejutkan oleh Banulaga yang meloncat kabur. Melihat itu, Sagar alias Manusia Bertopeng Hitam segera melemparkan belatinya. Dan...
"Aaakh...!"
Banulaga mengerang panjang... Sebuah belati menancap tepat di tengkuknya, lalu tubuhnya pun berdebum jatuh ke tanah.
********************
Sementara itu Iblis Selaksa Racun yang tengah bertarung dengan Pendekar Rajawali Sakti, langsung gentar begitu menyadari tinggal dia sendiri yang masih hidup. Dia sudah mengerahkan segenap kemampuannya hingga berpuluh-puluh jurus, tapi belum juga mampu membuat lawannya kewalahan. Bahkan Pendekar Rajawali Sakti itu beberapa kali membuatnya berlompatan jungkir balik menghindari kibasan-kibasan goloknya yang cepat.
Beberapa saat lamanya Pendekar Rajawali Sakti hanya memainkan pedangnya dengan cepat, dia merasa belum perlu untuk mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Dan tiba-tiba dia menyadari kalau Iblis Selaksa Racun berusaha mundur mendekati tembok sambil menghindari kibasan goloknya. Tapi Pendekar Rajawali Sakti segera menyodok perut lawannya.
Dugaannya tepat, Iblis Selaksa Racun melentingkan tubuhnya meloncati tembok bangunan itu, tapi sebelum tubuhnya melewati tembok tiba-tiba...
"Aaakh...!" Iblis Selaksa Racun menjerit tertahan. Tubuhnya menabrak tembok sebentar, lalu roboh dengan punggung menganga lebar berlumuran darah segar. Pedang Rajawali Sakti telah menamatkan riwayatnya.
Rangga menarik napasnya pelan, sebentar matanya memandangi tubuh Iblis Selaksa Racun. Dia pun menoleh begitu suara lembut terdengar memanggilnya. Terlihat oleh Rangga, Mega Lembayung dan Pak Karta berjalan mendekat ke arahnya. Di belakangnya menyusul Santika dan dua orang yang tak dikenal oleh Pendekar Rajawali Sakti itu.
Orang-orang Banulaga pun kemudian mendekati Rangga dan kelima orang lainnya, mereka yang berjumlah puluhan berlutut dengan kepala tertunduk.
"Hukuman apa yang pantas untuk mereka?" tanya Santika meminta pendapat.
"Sudah berapa lama mereka mengabdi di sini?" Rangga balik bertanya.
"Sudah cukup lama, sejak aku remaja," sahut Santika.
"Menurutku, mereka urusan kalian yang di sini. Maaf, aku tak mau mencampuri urusan pribadi kalian," kata Rangga tegas.
"Lepaskan saja mereka, biar mereka menentukan jalan hidupnya sendiri...," terdengar suara lembut berwibawa dari arah belakang.
"Kakek...," desis Mega Lembayung begitu menoleh.
"Kalian boleh meninggalkan tempat ini," kata Santika tegas. Tapi orang-orang itu masih tetap bertahan di tempatnya, hingga mengundang geram Santika dan yang lainnya.
"Hm... baik," kata Santika pelan, "kalau kalian masih mau mengabdi padaku... hilangkan sikap pongah kalian, mengerti?!"
Semua kepala yang tertunduk langsung terangkat hampir bersamaan. Bekas orang-orang Banulaga itu lalu membungkuk memberi hormat, dan tanpa diperintah lagi mereka segera mengurus mayat-mayat yang berserakan di halaman rumah.
Santika dan yang lainnya pun terkejut manakala mereka menyadari Pendekar Rajawali Sakti tak lagi berada di tempatnya. Sesaat mereka terdiam, lalu hanya bergumam pelan, sepertinya mengucapkan terima kasih pada Pendekar Rajawali Sakti.
SELESAI
SELANJUTNYA PENGANTIN BERDARAH
__ADS_1